PERPUSTAKAAN DALAM KONSEP PENDIDIKAN ISLAM
Universitas Islam Indonesia
Abstrak
Perpustakaan dalam konsep pendidikan Islam adalah sebagai pendukung sumber-sumber rujukan terkait dengan aspek-aspek pembekalan dan pengajaran Islam, dakwah, etika sosial, interaksi social dan pembinaan umat menuju rahmatan lil’alamin dimanapun tempat kita berada. Aspek-aspek yang terkait dalam konsep tersebut adalah Pendidikan Islam, Masjid, dan Pesantren. Pendidikan Islam merupakan pendidikan yang berkesadaran dan bertujuan. Konsep pendidikan dalam Islam adala: Pertama, pendidikan merupakan kegiatan yang harus memiliki tujuan, sasaran dan target yang jelas. Kedua, Pendidik yang sejati dan mutlak adalah Allah SWT, Dialah Pencipta fi trah, Pemberi bakat, Pembuat berbagai sunnah perkembangan, peningkatan, dan interaksi fi trah sebagaimana Dia pun mensyariatkan aturan guna mewujudkan kesempurnaan, kemaslahatan dan kebahagiaan fi trah tersebut. Ketiga, pendidikan menuntut terwujudnya program berjenjang melalui peningkatan kegiatan pendidikan dan pengajaran selaras dengan perkembangan anak. Keempat, peran seorang pendidik harus sesuai dengan tujuan Allah SWT yang menciptakanNya. Masjid dalam pengertian sehari-hari, masjid merupakan bangunan tempat shalat kaum Muslim. Tetapi, karena akar katanya mengandung makna tunduk dan patuh, hakikat masjid adalah tempat melakukan segala aktivitas yang mengandung kepatuhan kepada Allah semata. Karena itu Al-Quran sural Al-Jin (72): 18, misalnya, menegaskan bahwa, “Sesungguhnya masjid-masjid itu adalah milik Allah, karena janganlah menyembah selain Allah sesuatu pun”. Rasul Saw. juga bersabda, “Telah dijadikan untukku (dan untuk umatku) bumi sebagai masjid dan sarana penyucian diri” (HR Bukhari dan Muslim melalui Jabir bin Abdullah). Sedangkan Pesantren adalah lembaga keagamaan yang memberikan pendidikan dan pengajaran serta mengembangkan dan menyebarkan ilmu agama Islam, juga pesantren sebagai suatu lembaga pendidikan Islam Indonesia yang bersifat tradisional untuk mendalami ilmu agama Islam dan mengamalkannya sebagai pedoman hidup keseharian. Perpustakaan dalam konsep Pendidikan Islam dapat sebagai supporter demi keberhasilan aspek-aspek pembekalan dan pengajaran Islam, dakwah, etika sosial, interaksi sosial dan pembinaan umat menuju rahmatan lil’alamin terkait dalam konsep Pendidikan Islam
Keywords:
pendidikan Islam
· perpustakaan
Introduction
Pada umumnya perpustakaan yang berkembang di Indonesia kurang lebih sama dengan yang berkembang di negara-negara lain. Sebab perpustakaan merupakan suatu yang bersifat universal (dimanapun keberadaannya, perpustakaan adalah sama). Sehingga lahirlah jenis-jenis perpustakaan, diantaranya: Perpustakaan Nasional RI, perpustakaan daerah, perpustakaan umum, perpustakaan perguruan tinggi, perpustakaan sekolah dan perpustakaan lembaga keagamaan. Perpustakaan yang akan dibahas ini adalah, “ ‘perpustakaan’, pendidikan Islam, masjid, dan pesantren” yang merupakan bagian dari pendidikan dan pengajaran agama Islam pada lembaga-lembaga keagamaan (Sutarno, 2006).Masjid yang mempunyai daya magis yang luar biasa dan intensitas kunjungan mereka ke tempat ibadah ini sangat tinggi harus mempunyai gebrakan kebaikan yang harusnya bisa mengurangi intensitas kejahatan di masyarakat. Bahkan, fakta sejarah menorehkan, bahwa masjid itu multifungsi: sebagai tempat ibadah, musyawarah, silaturrahim, pusat dakwah, benteng pertahanan perang, dan juga sebagai lembaga pendidikan. Memanfaatkan masjid sebagai pusat baca masyarakat, dapat dikategorikan memakmurkan masjid. Selain itu, minat baca masyarakat akan terdongkrak, dan akhirnya kita akan menemukan masyarakat kita sebagai masyarakat yang cerdas, menghargai ilmu pengetahuan, serta memiliki hati yang selalu “terikat” dengan masjid. Ayat pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, kita dapat melihat dengan jelas, bahwa membaca memang proses kebudayaan, yaitu: QS. Al-‘Alaq ayat 1-5.Fenomena ini memberikan inspirasi dan improvisasi tentang “perpustakaan dalam konsep pendidikan Islam. Konsep-konsep itu meliputi konsep pendukung bangunan-bangunan seperti:MasjidMasjid adalah sebuah kata berbahasa Arab yang berarti tempat sujud. Tetapi masjid tidak bermakna sesempit itu. Sejak jaman Rasulullah SAW, masjid telah memainkan peranan peribadatan, pendidikan, sosial, dan bahkan politik. Dengan kata lain, masjid bukan hanya sebagai tempat shalat tetapi juga tempat belajar, tempat rapat, dan tempat berkumpulnya masyarakat. Pengertian lain masjid dalam pengertian sehari-hari, merupakan bangunan tempat shalat kaum Muslim. Tetapi, karena akar katanya mengandung makna tunduk dan patuh, hakikat masjid adalah tempat melakukan segala aktivitas yang mengandung kepatuhan kepada Allah semata. Karena itu Al-Quran sural Al-Jin (72): 18, misalnya, menegaskan bahwa, “Sesungguhnya masjid-masjid itu adalah milik Allah, karena janganlah menyembah selain Allah sesuatu pun”. Rasul Saw. juga bersabda, “Telah dijadikan untukku (dan untuk umatku) bumi sebagai masjid dan sarana penyucian diri” (HR Bukhari dan Muslim melalui Jabir bin Abdullah), Shihab, 1996.Pada bulan Rabi’ul Awal tahun pertama Hijriyah (622 M) ketika Nabi Muhammad SAW tiba di Madinah, beliau memutuskan untuk membangun sebuah masjid, yang sekarang dikenal dengan nama Masjid Nabawi atau lebih dikenal masjid Madinah, yang berarti Masjid Nabi. Masjid Nabawi terletak di pusat kota Madinah yang dulu dibangun di sebuah lapangan yang luas. Masjid ini merupakan jantung kota Madinah. Di dalam masjid ini terdapat mimbar yang sering dipakai oleh Nabi Muhammad SAW. Semula masjid ini digunakan untuk kegiatan-kegiatan politik, diskusi, perencanaan kota, menentukan strategi militer, dan untuk mengadakan perjanjian. Bahkan, di area sekitar masjid digunakan sebagai tempat tinggal sementara oleh orang-orang fakir miskin. Saat ini, Masjidil Haram, Masjid Nabawi dan Masjid al-Aqsa masih merupakan tiga masjid tersuci di dunia. Masjid Nabawi di Madinah telah menjabarkan fungsinya sehingga lahir peranan masjid yang beraneka ragam. Sejarah mencatat tidak kurang dari sepuluh peranan yang telah diemban oleh Masjid Nabawi, yaitu sebagai: tempat ibadah (shalat, zikir), tempat konsultasi dan komunikasi (masalah ekonomi-sosial budaya), tempat pendidikan, tempat santunan sosial, tempat latihan militer dan persiapan alat-alatnya, tempat pengobatan para korban perang, tempat perdamaian dan pengadilan sengketa, aula dan tempat menerima tamu, tempat menawan tahanan, dan pusat penerangan atau pembelaan agama.Masjid pada masa silam mampu berperan sedemikian luas, disebabkan antara lain oleh keadaan masyarakat yang masih sangat berpegang teguh kepada nilai norma dan jiwa agama. Kemampuan pembina-pembina masjid menghubungkan kondisi sosial dan kebutuhan masyarakat dengan uraian dan kegiatan masjid (Shihab, 2006). Sejarah perkembangan masjid lebih banyak menyuguhkan kajian agama dari pada kegiatan sosial. Pendidikan agama Islam di masjid juga lebih banyak dari pada aktivitas pendidikan agama Islam pada lembaga pendidikan formal. Masjid pada setiap malam dapat menyelenggarakan pendidikan agama seperti pengajian kitab. Ada yang bersifat harian, mingguan, bulanan, tahunan, dan sepanjang waktu. Berbeda dengan penyelenggaran pendidikan dan aktivitas pendidikan agama Islam di madrasah atau sekolah. Institusi madrasah dan sekolah menyuguhkan materi pendidikan agama Islam dengan waktu yang sangat terbatas.PesantrenPesantren merupakan induk dari pendidikan Islam di Indonesia, didirikan karena adanya tuntutan dan kebutuhan zaman dan hal ini bisa dilihat dari perjalanan sejarah. Bila kita fl ashback kebeberapa tahun silam, sesungguhnya pesantren dilahirkan atas kesadaran kewajiban dakwah Islamiyah, yakni menyebarkan dan mengembangkan ajaran Islam, sekaligus mencetak kader kader ulama dan da’i. Pondok pesantren adalah gabungan dari pondok dan pesantren. Istilah pondok, mungkin berasal dari kata funduk, dari bahasa Arab yang berarti rumah penginapan atau hotel. Akan tetapi di dalam pesantren Indonesia, khususnya pulau Jawa, lebih mirip dengan padepokan, yaitu perumahan sederhana yang dipetak-petak dalam bentuk kamar-kamar yang merupakan asrama bagi santri. Sedangkan istilah pesantren secara etimologis asalnya pesantrian yang berarti tempat santri. Santri atau murid mempelajari agama dari seorang Kyai atau syeikh di pondok pesantren (Nasir, 2005). Pondok pesantren juga berarti suatu lembaga pendidikan dan pengajaran agama Islam yang pada umumnya pendidikan dan pengajaran tersebut diberikan secara non-formal, yaitu dengan sistem bandongan dan sorogan. Dimana Kyai mengajar santri-santri berdasarkan kitab-kitab yang tertulis dalam bahasa Arab oleh ulama-ulama besar sejak abad pertengahan, sedang para santri biasanya tinggal dalam pondok atau asrama dalam pesantren tersebut (Nasir, 2005). Untuk melihat pergeseran bentuk pondok pesantren pada zaman dahulu hingga sekarang, dapat diklasifi kasikan dari tiga tipologi pondok pesantren yang pernah berkembang, yaitu :a. Pondok pesantren adalah lembaga pendidikan dan pengajaran agama Islam, yang pada umumnya pendidikan dan pengajaran tersebut diberikan dengan cara non klasikal (sistem bandongan dan sorogan), dimana seorang kyai mengajar santri-santri berdasarkan kitab-kitab yang ditulis dalam bahasa Arab oleh ulama-ulama besar sejak abad pertengahan, sedangkan para santri biasanya tinggal dalam pondok atau asrama dalam pesantren tersebut.b. Pesantren adalah lembaga pendidikan dan pengajaran agama Islam yang pada dasarnya sama dengan pondok pesantren tersebut di atas, tetapi para santrinya tidak disediakan pondokan di komplek pesantren, namun tinggal tersebar di sekitar penjuru desa sekeliling pesantren tersebut (santri kalong) dimana cara dan metode pendidikan dan pengajaran agama Islam diberikan dengan sistem weton, yaitu para santri datang berduyun-duyun pada waktu-waktu tertentu.c. Pondok pesantren dewasa ini merupakan lembaga gabungan antara sistem pondok dan pesantren yang memberikan pendidikan dan pengajaran agama Islam dengan sistem bandongan, sorogan ataupun wetonan. Para santri disediakan pondokan ataupun merupakan santri kalong yang dalam istilah pendidikan pondok pesantren modern memenuhi kriteria pendidikan nonformal serta menyelenggarakan juga pendidikan formal berbentuk madrasah dan bahkan sekolah umum dalam berbagai bentuk tingkatan dan aneka kejuruan menurut kebutuhan masyarakat masing-masing (Hasbullah, 1999).Jadi, yang dimaksud dengan pondok pesantren adalah suatu lembaga pendidikan Islam dengan menetap dalam asrama (pondok) dengan seorang kyai, tuan guru sebagai tokoh utama dan masjid sebagai pusat lembaga dan menampung peserta didik (santri), yang belajar untuk memperdalami suatu ilmu agama Islam. Pondok pesantren juga mengajarkan materi tentang Islam, mencakup tata bahasa Arab, membaca Al-Qur’an, Tafsir, Etika, Sejarah dan ilmu kebatinan Islam. Pondok pesantren tidak membedakan tingkat sosial ekonomi orang tua peserta didik (santri), pendidikan orang tua peserta didik (santri), dengan menekankan pentingnya moral agama sebagai pedoman perilaku peserta didik (santri) sehari-hari, serta menekankan pentingnya moral keagamaan tersebut dalam menjalani kehidupan bermasyarakat. Pendidikan IslamKonsep pendidikan dalam Islam adalah, Pertama pendidikan merupakan kegiatan yang harus memiliki tujuan, sasaran dan target yang jelas. Kedua, Pendidik yang sejati dan mutlak adalah Allah SWT, Dialah Pencipta fi trah, Pemberi bakat, Pembuat berbagai sunnah perkembangan, peningkatan, dan interaksi fi trah sebagaimana Dia pun mensyariatkan aturan guna mewujudkan kesempurnaan, kemaslahatan dan kebahagiaan fi trah tersebut. Ketiga, pendidikan menuntut terwujudnya program berjenjang melalui peningkatan kegiatan pendidikan dan pengajaran selaras dengan perkembangan anak. Keempat, peran seorang pendidik harus sesuai dengan tujuan Allah SWT yang menciptakannya.Sesudah Islam meluas, maka berkembanglah peran dan fungsi masjid. Sehingga ia berperan sebagai lembaga-lembaga ilmu pengetahuan dan tempat pengajaran segala macam pengetahuan, baik agama ataupun lainnya. Yang tampak menonjol sekali dalam hal ini antara lain ialah: Masjid-masjid Shan’a di Yaman, Al Jami’ Al Umawi di Damsyik, Al Jami’ Al-Azhar di Mesir, Jami’ Az-Zaituniyah di Tunisia dan Masjid Qoeruwar di Fas. Kemudian berikutnya, para penguasa, umara dan para raja berlomba-lomba membangun tempat-tempat pendidikan dan lembaga ilmu pengetahuan yang dilengkapi dengan masjid dan asrama pelajar. Hal inilah yang akhirnya dapat membawa kejayaan ilmu dan kebudayaan Islam, dapat melahirkan beribu-ribu ulama yang intelek dalam berbagai bidang ilmu, seperti tafsir, hadits, ilmu falak, fi qh, usul fi qh, bahasa Arab, sastra Arab, kedokteran, olahraga, ilmu hitung, dan lain-lain. Hikmah mendalam yang sebetulnya dapat kita petik dari langkah pertama yang dilakukan Rasulullah SAW, disaat hijrah dengan membangun masjid Quba dan menjadikannya tempat untuk mendidik generasi Islam dan menyampaikan berbagai ilmu yang terkandung di dalam Al-Qur’an dan Hadits. Walaupun secara tidak langsung Rasulullah SAW juga melakukan berbagai pendidikan dan pengajaran di tempat-tempat yang lain seperti, di rumah-rumah, di jalan, di pasar sampai di medan perang. Sesuai dengan ilmu dan ajaran yang akan disampaikannya (Babeh, 2015). Di dalam dunia pendidikan, khususnya pendidikan Islam, masjid ibarat ruhnya atau qolbunya pendidikan. Karena pendidikan tidak hanya semata-mata mengetahui sesuatu hal yang baru, bukan hanya untuk mencapai jenjang yang lebih tinggi dan tidak juga hanya semata-mata mengejar nilai. Tapi Rasulullah SAW telah mengajarkan kepada kita, nilai-nilai pendidikan yang hakiki untuk menjadikan manusia sebagai manusia seutuhnya (Insan Kamil/Insan Paripurna). Karena pendidikan merupakan proses sistematis untuk meningkatkan martabat manusia secara holistik sehingga dimensi kependidikan dapat berkembang secara optimal. Adapun dimensi kependidikan itu menurut Nana (2002) mencakup tiga hal, yaitu:1. Afektif, yang tercermin pada kualitas keimanan, ketakwaan, akhlak mulia termasuk budi pekerti yang luhur serta kepribadian unggul, dan kompetensi estetis. Dari masjid nilai-nilai hakiki ini ditanamkan oleh Rasulullah SAW kepada umatnya dengan perintah menjalankan shalat, pelaksanaan shalat berjamaah dan hikmah-hikmah lain yang terkandung di dalam shalat berjamaah. Hal tersebut dimulai dari masjid.2. Kognitif, yang tercermin pada kapasitas pikir dan daya intelektualitas untuk menggali dan mengembangkan serta menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Hal ini diwujudkan dengan perintah bertasbih dan membaca Al-Qur’an serta mempelajari kandungan-kandungan ilmu di dalamnya. Sejak zaman Rasulullah SAW, para sahabat dan sekarang ini para ulama melakukannya di masjid. Karena inti ilmu pengetahuan itu ada di dalam Al-Qur’an3. Psikomotorik, yang tercermin pada kemampuan mengembangkan keterampilan teknis, kecakapan praktis dan kompetensi kinestetis. Ini diwujudkan dengan berbagai kegiatan fi sik di masjid dalam pelaksanaan kedua perintah-perintah di atas, juga pengembangan organisasi masjid, kegiatan fi sik, rehabilitasi masjid dan pengembangan pembangunan fi sik masjid memerlukan kemampuan keterampilan teknis, agar masjid dapat menjadi tempat melaksanakan pendidikan ini.Perpustakaan MasjidPerpustakaan masjid merupakan manifestasi dari peranan pendidikan dan sosial masjid. Kesadaran ummat Islam terhadap pendidikan, buku, ataupun perpustakaan telah dirintis sejak kurang lebih 14 abad yang lalu, ketika Rasulullah SAW menerima kalimah wahyu pertama Iqra’ (bacalah).1. Awal Kemunculan Kepustakaan Sejarah kepustakaan dalam konteks Islam dapat diawali dengan kajian perspektif historis kontekstual mengenai kemunculan dan perkembangan kepustakaan dalam Islam. Ada tiga kajian yang dapat dikembangkan untuk mengkaji sejarah kemunculan dan perkembangan kepustakaan dalam Islam. Pertama, kepustakaan Islam awalnya muncul (berawal) dari tradisi keilmuan Islam, meskipun dalam perkembangannya mengadopsi tradisi keilmuan Yunani dan yang lainnya. Kedua, kepustakaan Islam berkembang seiring dengan perkembangan daulah dan masyarakat Islam. Dan ketiga, kepustakaan Islam berkembang melalui difusi (diffusion) atau penyebaran dan akulturasi pelbagai budaya; Arab, Persia, Greek (Yunani), Romawi dan budaya-budaya lainnya. Ketiga tesis ini berdasarkan pada fakta sejarah dan kebudayaan awal Islam. Afzal Iqbal membagi dinamika kebudayaan awal Islam kepada tiga gerakan; gerakan keagamaan (Islam), gerakan sejarah dan gerakan fi lsafat (Afzal, 1967). Gerakan pertama, yaitu keagamaan akan menjadi awal perbincangan dalam kaitannya dengan kajian yang diajukan bahwa kemunculan kepustakaan Islam berasal dari tradisi keagamaan Islam. Dalam maknanya yang luas, ia juga merupakan bagian dari kebudayaan dan peradaban Islam, sehingga kajiannya dari sisi historis tidak dapat dipisahkan dari keduanya (Nurul Haq, 2012).Sebelum perpustakaan, telah muncul lebih dahulu lembaga-lembaga pendidikan awal Islam, seperti al-Masjid, al-Kuttab, Majalis al-Munadharah dan al-Madrasah. Keempat lembaga pendidikan ini akan dibahas tersendiri dalam sub bab tersendiri, sebagai kaitan antara lembaga pendidikan Islam dengan perpustakaan. Perpustakaan memiliki beragam istilah sesuai dengan perbedaan masa kemunculannya dan perkembangan komunitas yang terkait di dalamnya. Zainuddin Sardar, dengan mengutip pendapat George Makdisi, menyebutkan enam istilah yang digunakan untuk menyebutkan perpustakaan masa awal Islam. Keenam istilah tersebut tiga berkaitandengan ruangan atau kamar, yaitu bait (ruangan/kamar), khizanah (lemari) dan dar (rumah). Sedangkan tiga istilah lainnya berhubungan dengan ilmu, yaitu hikmah (kebijakan/kebijaksanaan, ‘ilmu (ilmu pengetahuan), dan kutub (buku-buku). Sebenarnya sebelum muncul beberapa istilah di atas, masih ada istilah sebelumnya yang berkaitan dengan kepustakaan awal Islam, yang sebagian besarnya telah berkembang pada masa pra Islam (Jahiliyah). Istilah-istilah dimaksud adalah shahifah, shuhuf dan mushaf, Mushaf al-Imam, al-sufr, al-Zabur (kitab Zabur), al-Taurah (kitab Taurah) dan al-Injil (kitab Injil). (masa Nabi SAW dan masa sahabat). Shahifah dan sufr merujuk kepada lembaran (catatan/tulisan). Dari shahifah berkembang menjadi mushaf, berasal dari kata shahifah, yang berarti kumpulan lembaran (wahyu), yang kemudian menjadi sebutan untuk kumpulan wahyu al-Quran yang sudah dikodifi kasi. Mushaf al-Imam merujuk kepada al-Quran yang sudah disahkan secara resmi oleh Khalifah Utsman Bin Affan. Sedangkan Taurah dan Injil merujuk kepada wahyu sebelum al-Qur’an, dua kitab yang diberikan kepada Nabi Musa (Taurah) dan Nabi Isa (Injil). Wahyu-wahyu yang tercatat dan diberikan kepada sebelum Nabi Muhammad SAW juga disebut shuhuf dalam al-Qur’an, seperti Shuhuf Ibrahim dan SuhufMusa (Nurul Haq, 2012).Di antara lembaga-lembaga pendidikan yang berkembang dalam sejarah dan peradaban Islam adalah Masjid, Kuttab, Majalis Munadharah, Madrasah dan al-Jami’ah (universitas). Sebenarnya, sebelum kelima di atas, Bait al-Arqam di Mekkah dapat dianggap sebagai tempat pembelajaran dan pendidikan Islam pertama bagi masyarakat Muslim, khususnya sahabat-sahabat Nabi SAW yang paling awal memeluk agama Islam. Akan tetapi, perkembangan awal ilmu-ilmu keislaman bermula dari Madinah dan sarana serta lembaga pendidikan Islam pun berkembang sejak Nabi Muhammad SAW di Madinah. Kelima lembaga pendidikan ini, meskipun bersifat non formal, memiliki kaitan erat tidak saja dengan dinamika perkembangan keilmuan awal Islam tetapi juga dengan kepustakaan awal Islam. Lembaga-lembaga pendidikan ini dapat dikatakan sebagai sarana informasi dan pengembangan kepustakaan Islam sejak masa awal Islam, karena lembaga-lembaga ini mendorong pada munculnya banyak karya-karya keilmuan dan penyebarannya (Nurul Haq, 2012). 2. Perpustakaan MasjidMenurut Ahmad Amin, masjid sejak awal Islam merupakan lembaga pendidikan Islam terbesar, yang peranannya dalam pengembangan pendidikan Islam berbarengan dengan perkembangan keilmuan dalam Islam. George Makdisi, secara lebih tegas lagi menyatakan masjid sebagai lembaga pendidikan tertua di dunia Islam. Masjid, sejak masa Nabi Muhammad SAW bukan hanya sebagai tempat sholat, berdo’a dan praktik-praktik ibadah ritual saja, tetapi ia juga berfungsi sebagai tempat pembelajaran dan pendidikan non formal, yang di dalamnya diajarkan khususnya mengenai keagamaan, kebudayaan Arab dan periwayatan-periwayatan atau pengkisahan-pengkisahan. Oleh karena itu, menurut Jhone Pedersen dalam Nurul Haq (2012), masjid memiliki multi-fungsi, selain tempat ibadah,juga tempat menyiarkan pengumuman pemerintah, melakukan proses pengadilan dan menanamkan aspek kehidupan intelektual Islam. 3. Pengelolaan PerpustakaanPengelolaan kepustakaan Islam dapat ditelusuri secara historis pada masa keemasan Islam, Daulah Abbasiyah, ketika Bait al-Hikmah didirikan oleh Khalifah Harun al-Rasyid ( 789 – 809 M.). Sebelum itu, baik pada masa Daulah Bani Umayyah ketika kepustakaan Islam berada di bawah Khalid Bin Yazid, maupun pada masa awal Daulah Abbasiyah, ketika penerjemahan dan koleksi buku-buku asing oleh Khalifah al-Mansur (136 – 148 H.), tidak ada periwayatan yang jelas mengenai sistem pengelolaan kepustakaan Islam. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa pada kedua masa daulah tersebut belum ada sistem pengelolaan kepustakaan Islam. Hal ini berkaitan dengan kedudukan kepustakaan itu sendiri yang baru bersifat khusus atau pribadi (private). Khalifah al-Mansur sebenarnya telah merintis pengangkatan tim penerjemah buku-buku asing non Arab secara profesional, seperti buku-buku fi lsafat dan kedokteran dari Yunani dan India. Namun pengelolaan lebih jauh di luar sistem penerjemahan belum dilakukan.Pada masa Khalifah Harun al-Rasyid, telah terjadi pembidangan keilmuan. Dalam Perpustakaan Bait al-Hikmah, beragam disiplin keilmuan menjadi sumber dan referensi yang dikoleksi. Pengoleksian itu dilakukan beradasarkan pembidangan ilmu dengan menyebutkan kluster dan disiplin keilmuannya, termasuk keilmuan yang dihasilkan dari penerjemahan bahasa asing (non Arab), seperti buku-buku dari Yunani, yang dominan dengan penerjemahan fi lsafatnya. Pada masa ini sudah ada pembagian bidang keilmuan yang dikelola dalam Perpustakaan Bait al-Hikmah. Pertama, bidang ilmu-ilmu berbahasa Arab. Kedua, ilmu-ilmu berbahasa Persia. Ketiga, ilmu-ilmu berbahasa Yunani. Dan keempat ilmu-ilmu berbahasa Suryani (Shiria). Masing-masing dipegang oleh seorang kepala/divisi keilmuan. Masing-masing kepala divisi itu berada dibawah kepemimpinan seorang direktur perpustakaan.Perkembangan Perpustakaan MasjidDitinjau dari segi historis, perpustakaan masjid telah muncul sejak abad VII atau VIII Masehi. Beberapa perpustakaan masjid telah dirintis pertama kali pada waktu itu di Afrika Utara dan Spanyol. Pada antara tahun 670 M (50 H) dan 680 M (60 H) di Tunisia telah dibangun sebuah masjid bernama Qayrawan (juga nama sebuah kota) oleh seorang pimpinan militer bernama Uqba Ibn Nafi . Masjid Qayrawan menjadi pusat kebudayaan dan pendidikan yang terpenting di Afrika Utara saat itu. Pada bagian ruangannya, yang digunakan sebagai perpustakaan, terdapat banyak koleksi buku dan musyhaf al-Quran hasil sumbangan dari para ulama (sarjana) atau pimpinan negara seperti Hamza al-Andari, al-Muiz Ibn Badis, dan Ahmad Abi Ayub.Di kota Tunis juga dibangun masjid Zaytuna pada sekitar tahun 699 M (80 H), yang sekarang dikenal sebagai Universitas Zaytuna, oleh Hassan Ibn al-Numan, kemudian diperluas oleh Ubaidillah Ibn al-Habhab pada tahun 734 M (116 H). Masjid ini mempunyai dua perpustakaan: perpustakaan Abdaliya dan Ahmadiya. Perpustakaan Abdaliya pada mulanya terpisah dengan masjid tetapi kemudian digabungkan dengan bangunan masjid. Perpustakaan ini juga dikenal dengan nama Sadiqiya, dibangun oleh raja Hafside yaitu Abu Abdullah Muhammad Ibn al-Husain. Koleksi perpustakaan ini lebih dari 5000 manuskrip, yang sekarang menjadi milik Arsip Nasional Tunisia. Perpustakaan yang terbesar dan mempunyai koleksi terpenting di masjid Zaytuna adalahperpustakaan Ahmadiya. Perpustakaan ini berlangsung ‘hidup’ sampai pada periode pemerintahan Hafside (1227 – 1574 M). Koleksinya mencapai puluhan ribu yang paling terkenal sebagai penyumbang adalah Abu Faris Abdul Aziz yang pada tahun 1394 M (797 H) menyumbang perpustakaan Ahmadiya sebanyak 36.000 buah buku.Ketika Islam menduduki Spanyol (711 – 1492 M), banyak dibangun masjid beserta perpustakaannya. Salah satu yang paling terkenal adalah masjid agung Cordoba, yang dibangun pada tahun 786 M (170 H) oleh raja Umayyah yaitu Abdur Rahman. Sewaktu dibuka perpustakaan masjid ini telah mempunyai koleksi dalam jumlah yang sangat besar. Namun sayang, koleksi yang banyak dan sangat berharga ini dihancurkan (dibakar) oleh Raja Ferdinand II saat penyerbuan ke kota pada tahun 1236 M (634). Salah satu yang dibakar adalah kopi Musyhaf Utsmani yang ditulis oleh Khalifah ketiga Utsman Ibn Affan (yang meninggal tahun 656 M/36 H). Perpustakaan masjid yang lain di Spanyol adalah perpustakaan masjid Byazin di kota Valencia, masjid agung Malaga, masjid agung Seville, dan sebagainya. Di Damascus juga terdapat banyak perpustakaan masjid; misalnya, perpustakaan masjid Umayyad, yang dibangun oleh khalifah Bani Umayyah yaitu Walid Ibn Abdul Malik pada tahun 714 M/96 H. Masjid Umayyah menjadi kebanggan besar masyarakat Damascus. Perpustakaan masjid ini membawahi beberapa perpustakaan di sekolah-sekolah seperti perpustakaan Samisatiya (aktif sampai tahum 1421 M/824 H), perpustakaan Bait al-Khitaba (masih aktif pada tahun 1609 M/ 1018 H), perpustakaan Fadiliya (dibangun oleh Ibn al-Qadi al-Fadil Ahmad al Baiqani, meninggal tahun 1245 M/643 H), dan perpustakaan Qubbat al-Mal (yang ditutup pada tahun 1899 M/1317 H). Perpustakaan lain di Damascus adalah perpustakaan masjid Darb al-Madaniyyin, yang aktif semasa sejarawan besar Ibn Asakir hidup (meninggal tahun 1175 M/571 H) dan perpustakaan masjid Yalbagha, yang dibangun pada tahun 1443 M/ 847 H oleh raja Mamluke yaitu Yalbagha al-Umari. Masih banyak perpustakaan masjid lainnya seperti di Maroko, Mesir, Iraq, Libya, Algeria, dan sebagainya. Perkembangan di IndonesiaDi Indonesia khususnya masih dominannya budaya tutur dibandingkan dengan budaya baca, tidak meratanya penyebaran koleksi bahan pustaka di berbagai lapisan masyarakat dan belum optimalnya pemberdayaan perpustakaan di masyarakat. Perpustakaan adalah perwujudan dari institusionalisasi membaca. Dengan perpustakaan, kita memiliki peluang yang lebih besar dalam upaya meningkatkan minat baca masyarakat. Namun, perpustakaan yang seperti apakah yang mampu mengdongkrak minat baca masyarakat? Tak lain dari perpustakaan yang representatif, perpustakaan yang menyejukkan, dan perpustakaan dengan pengelola yang ramah, kreatif, dan inovatif.Gagasan dibangunnya perpustakaan masjid memiliki efek positif yang sangat banyak. Dapat dikatakan, bahwa inilah daya tarik dari kajian ini. Keberadaan masjid merupakan poros aktivitas keagamaan di masyarakat. Masjid diharapkan pula menjadi mitra lembaga pendidikan formal (sekolah) yang memiliki kepedulian terhadap masa depan generasi yang akan datang.Pemberdayaan perpustakaan masjid merupakan salah satu upaya meningkatkan minat baca masyarakat. Perpustakaan masjid merupakan perpustakaan komunitas yang sangat mudah dijangkau oleh masyarakat sehingga menjadi pusat baca dan sarana mencerdaskan umat. Sejarah keemasan Islam sendiri mencatat dengan tinta emas bagaimana masjid dengan perpustakaannya menjadi pusat pencerahan dan pencerdasan umat. Perpustakaan masjid merupakan salah satu perpustakaan lembaga keagamaan yang berada di lingkungan masjid. Koleksinya umumnya diutamakan buku-buku ilmu keagamaan (Agama Islam). Bila dipersentasekan, sekitar 60 persen koleksi perpustakaan masjid diisi koleksi ilmu pengetahuan tentang agama islam, diantaranya: al-Quran, al-Hadits, Fiqih, Tauhid, Bahasa Arab, Sejarah Islam, Pendidikan Islam, dan sebagainya, dan 40 % berisikan koleksi tentang reference (seperti kamus, ensiklopedi, peta, dsb.), buku-buku tentang pengetahuan umum (misalnya tentang Sosiologi, Psikologi, Sejarah, Ekonomi, Pendidikan, dan sebagainya.), majalah ataupun surat kabar, dan koleksi bukan cetakan (kaset, mikro fi lm, CD, dan bentuk-bentuk lainya.) (M. Mohtar Arifi n, 2012).Perpustakaan Masjid diselenggarakan oleh takmir masjid yang dalam operasionalisasinya diserah-tugaskan kepada Pengurus Perpustakaan Masjid yang dibentuk takmir. Pengurus perpustakaan dapat diambil dari unsur Remaja Masjid (Remas) atau pemuda desa di lingkungan masjid, yang terpenting dari proses rekrutmen pengelola perpustakaan masjid adalah ia harus ramah dan memiliki rasa cinta pada membaca dan buku.Perpustakaan Masjid Masa MendatangDilihat dari perkembangan terdahulu, maka sudah saatnya umat-umat selanjutnya “menghiasi” perpustakaan dan memolesnya dengan sejumlah aksesoris program dan inovasi-inovasi baru. Generasi mudalah yang menjadi sosok idaman umat yang memiliki peran yang sangat penting dan strategis. Dengan potensi intelektualitasnya yang penuh idealisme dan energik, dapat dijadikan dasar – landasan untuk membawa kondisi umat yang saat ini terpuruk menuju kebangkitan yang hakiki.Memakmurkan masjid dengan salah satu carannya menghadirkan perpustakaan yang dapat menjadi magnet bagi masyarakat sekitar masjid. Di masjid diadakan ruangan perpustakaan yang bisa memberikan rasa nyaman pada pengunjungnya. Baik itu nyaman secara fi sik maupun secara psikis. Perasaan nyaman secara fi sik bisa dilakukan dengan pengaturan ruangan yang baik seperti pengaturan sirkulasi udara, menjaga kebersihan dan kerapihan ruangan pengaturan tata letak rak buku dan meja yang memudahkan aktivitas pengunjung juga bisa membantu menciptakan suasana nyaman bagi pengunjung. Secara psikis, rasa nyaman bisa diciptakan dengan menghadirkan pelayanan yang ramah, cepat tanggap, dan koorporatif.Perpustakaan masjid harus dikelola profesional sehingga dapat menjadi sebuah pusat baca publik yang dapat memenuhi kebutuhan semua pembaca, memiliki koleksi yang bermutu dan memiliki jaringan dengan pihak penerbit. Ke depan, masjid sangat mungkin menjadi jaringan perpustakaan/informasi yang jangkauannya sangat luas dan pengembangan koleksi yang terkoordinasi dalam mencerdaskan umat dan bangsa.Dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) mempunyai dampak tersendiri bagi perpustakaan masjid. Perpustakaan masjid dituntut pula untuk dapat mengikuti perkembangan teknologi informasi apabila tidak ingin ketinggalan dalam menggapai informasi dan memberikan pelayanan yang prima terhadap penggunanya. Perpustakaan masjid saatnya pula mengembangkan perpustakaan “hybrid” atau model perpustakaan yang menggabungkan antara sistem tradisional dan digital. Antara masjid dan teknologi modern seharusnya memang tidak terpisah, tetapi dapat berkolaborasi dalam membangun umat yang ‘melek’ pengetahuan
Conclusion
Konsep sekolah-sekolah yang berada di sekeliling masjid, atau sekolah-sekolah yang dilengkapi dengan masjid dijadikan sebagai konsep sekolah-sekolah Islam terpadu dari segi arsitektur pembangunan sekolah-sekolah Islam terpadu. Bahkan di sekolah-sekolah negeri pun mulai terlihat adanya pembangunan masjid di tengah-tengah sekolah, menunjukkan adanya peningkatan pendidikan Islami di sekolah. Perpustakaan merupakan manifestasi dari peranan pendidikan, sosial masjid dan pesanten. Kesadaran ummat Islam terhadap pendidikan, buku, ataupun perpustakaan telah dirintis sejak kurang lebih 14 abad yang lalu, ketika Rasulullah SAW menerima kalimah wahyu pertama Iqra’. Ada tiga kajian yang dapat dikembangkan untuk mengkaji sejarah kemunculan dan perkembangan kepustakaan dalam Islam. Pertama, kepustakaan Islam awalnya muncul (berawal) dari tradisi keilmuan Islam, meskipun dalam perkembangannya mengadopsi tradisi keilmuan Yunani dan yang lainnya. Kedua, kepustakaan Islam berkembang seiring dengan perkembangan daulah dan masyarakat Islam. Dan ketiga, kepustakaan Islam berkembang melalui difusi (diffusion) atau penyebaran dan akulturasi pelbagai budaya; Arab, Persia, Greek (Yunani), Romawi dan budaya-budaya lainnyaPerpustakaan dalam konsep pendidikan Islam sebagai pendukung sumber-sumber rujukan terkait dengan aspek-aspek pembekalan dan pengajaran Islam, dakwah, etika sosial, interaksi sosial dan pembinaan umat menuju rahmatan lil’alamin dimanapun tempat kita berada. Aspek-aspek yang terkait dalam konsep tersebut adalah Pendidikan Islam, Masjid, dan Pesantren. Sehingga Perpustakaan dalam konsep Pendidikan Islam dapat sebagai supporter demi keberhasilan aspek-aspek pembekalan dan pengajaran Islam, dakwah, etika sosial, interaksi sosial dan pembinaan umat menuju rahmatan lil’alamin terkait dalam konsep Pendidikan Islam tersebut, dan Perpustakaan harus dikelola profesional sehingga dapat menjadi sebuah pusat baca publik yang dapat memenuhi kebutuhan semua pembaca, memiliki koleksi yang bermutu dan memiliki jaringan kerja dengan berbagai pihak dalam eksistensinya. Ke depan, perpustakaan, masjid, sangat mungkin menjadi jaringan /informasi yang jangkauannya sangat luas dan pengembangannya lebih terkoordinasi demi mencerdaskan umat dan bangsa