INFORMASI DAN PENGETAHUAN SEBAGAI AKSES MENUJU KEMAKMURAN BERSAMA (Sebuah Narasi dari Pandangan Habermas Hingga Knowledge Management)
N/A
Abstract
Information and knowledge which are transformed to anyone will provide tremendous value. When someone is born in the world he has a variety of rights that should not be violated. The violations of these rights is categorized as a criminal act, including the right to obtain information and knowledge. The existence of the two elements will help an individual or a group discover the identity of the nation that can provide great benefits in the activities of their lives, whether social, political, economic, bustness or intellectual. In addition, it will culminate in a the highest stage of wisdom. Someone who is able to occupy these domains is believed to be the personally and socially enlightened individual.
Keywords:
Media
· Layanan
· Teknis
Introduction
Ilmu pengetahuan sebagai emansipatoris (emancipatory knowledge) adalah ilmu pengetahuan yang menekankan pentingnya peran ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai alat untuk proses humanisasi. Meskipun ilmu pengetahuan selalu bisa ditumpangi oleh kepentingan-kepentingan tertentu, seperti politiknamun informasi sebagai basis ilmu pengetahuan telah mencapai derajatnyasendiri dan berada di titik jenuh (grey literature) akibat membanjirnya berbagai macam informasi di era digital dewasa ini. Sebagai dampak globalisasi, internet sebagai salah satu tiang pancang penanda kemajuan teknologi informasi dan komunikasi menyatukan berbagai macam ledakan informasi itu dengan masyarakat luas dalam duria bary, dunia “maya”. Terjadinya globalisasi ini menurut Habermas® karena adanya kepentingan pasar antar industri transnasional, yang mampu membuat infrastruktur baru secara sosial kepada masyarakat, namun ternyata tidak dibarengi dengan kemampuan sebuah negara dalam memberikan kesadaran baru (consciousness) terhadap masyarakat. Adanya kesenjangan masy arakat secara sosial dan ekonomi menurjukkan jika masyarakat sangat terkooptasi dan menjadi sangat personal. Terlepas dari itu, informasi merupakan salah satu kebutuhan mendasar dan penting dalam kehidupan sekarang ini, terlebih dengan informasi senyatanya mampu menentukan status seseorang dalam masyarakat, siapapun yang menguasai informasi lebih dahulu dialah pemenang yang mengalahkan lainnya, disinilah informasi merupakan power, karenanya agar kehidupan masyarakat menjadi lebih baik simpul-simpul informasi perlu ditunjang dengan perangkat komunikasi yang baik, disamping tentu saja dengan melibatkan emansipasi masyarakat. Komunikasi emansipatoris ini akan dapat berjalan dengan baik, apabila terdapat hubungan yang sinergis antara penyedia berita (provider) dan penerimanya. Seperti halnya perpustakaan, dengan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi tujuan utama perpustakaan yaitu menyalurkan, mengakses dan menggunakan informasi, dapat ditingkatkan secara signifikan Pada akhirnya masyarakat pengguna yang mengimbangi dengan meningkatkan pengetahuannya dan menjadi literate informasilah yang akhirnya dapat meruntuhkan tembok-tembok kebodohan dan penindasan yvang selama ini selalu mendera khususnya bagi kalangan masyarakat yang terpinggirkan dan tersubordinasi. Ketidaktahuan masyarakat sebenarnya terletak pada kurangnya komunikasi yang emansipatoris antara penyedia informasi atau informasi itu sendiri dengan masyarakat di pihak lain. Jika sinergitas antara informasi dan masyarakat dapat dibentuk, _ 2 makamasyarakatakan dapat menentukan kehidupannya sendiri denganjelas tanpa ada pembodohan dari pihak lain, disinilah intinya bahwa masyarakat yang tercerahkan dengan informasi akan mampu melangsungkan kehidupannya dengan baik. B. Manusia dan Kebebasan Mendapatkan Informasi Rousseau dan Barlow pernah mengatakan bahwa manusia terlahir dalam keadaan bebas namun dalam banyak hal sering dia hidup dalam keadaan terpenjara. Sehingga apa yang terjadi dalam belahan dunia manapun akan didapati banyak segolongan orang yang hidup dalam keadaan mengenaskan, termarginalisasi, terbelakang dan tak beradab. Salah satu hak utama manusia yang sangat vital adalah hak mengetahui dan mendapatkan informasi. Sampai sekarang inipun tidak dapat dipungkiri masih banyak kalangan yang hidupnya seakan masih terkerangkeng dengan adanya pembatasan-pembatasan hak hidupnya untuk mendapatkan informasi. Sebenarnya pembatasan ini merupakan sebuah kriminal, dalam arti bentuk kejahatan yang dilakukan orang lain ketika tidak memberikan informasi yang sesungguhnya, dan juga sebagai kriminal negara akibat perilaku suatu bangsa/ pemerintahan yang menutup keran informasi bagi warga dan masyarakatnya. Hak untuk memperoleh informasi pribadi adalah bagian dari martabat dasar manusia yang juga dapat menjadi sangat penting untuk membuatkehidupannya tercerahkan. Dalam arti yang lebih khusus, informasi menurut Martin E. Modell adalah perwakilan atau rekaman ilmu pengetahuan yang berasal dari pembelajaran, pengalaman atau pengarahan. Sehingga untuk menjadi sesuatu yang bermanfaat informasi memerlukan pengorganisasian tertentu. Selain itu informasi merupakan gabungan yang bersinergi antara data dan pengetahuan yang dikomunikasikan.> Maka apabila segala simpul-simpul informasi dan pengetahuan ini dikembangkan dan dimanfaatkan secara maksimal, setiap individu akan kaya dengan informasi baru dan pengetahuan, sebagaimana disebut dengan tacitknowledge, yaitu pengetahuan yang tersimpan dalam pikiran seseorang. D.A Kemp. Dalam bukunya “The Nature of Knowledge : an Introduction For Librarians”, menghubungkan pengetahuan pribadi seseorang dengan pengetahuan yang menjadi pengetahuan publik sebagaimana berikut: Nilai dasar yang menopang hak untuk mendapatkan kebebasan informasi adalah prinsip keterbukaan maksimum, yang menetapkan suatu praduga bahwa semua informasi yang dipegang oleh badan pemerintah sekalipun seharusnya diungkapkan, kecuali dalam keadaan khusus dimana informasi tersebut harus dirahasiakan, tentu saja harus dibarengi dengan bukti untuk tidak mengungkapkannya demi kepentingan masyarakat yang lebih tingyi. Salah satu aspek kebebasan memperoleh informasi yang sering terabaikan adalah pemakaian hak itu untuk mempermudah praktek bisnis yang efektif. Selama lebih dari 15 tahun terakhir ini, terjadi pertumbuhan yang dramatis dalam hal pengakuan resmi mengenai hak untuk memiliki kebebasan memperoleh informasi. Bahkan berbagai badan internasional, yang mencakup PBB dan sistem regional untuk perlindungan HAM, telah mengakui betapa pentingnya hak itu dan perlunya perundang-undangan untuk menjamin penerapannya. Banyak negara de mokrasi baru telah menerapkan konstitusi baru yang secara tegas mengakui hak tersebut. Di negara-negara lain, pengadilar tertinggi telah menafsirkan jaminan-jaminan yang telah lam: ada pada konstitusi mereka mengenai kebebasan mengeluark.n pendapat sebagai mengakui hak untuk kebebasan memperoleh informasi.* C. 5 ¢ Informasi dan Pengetahuan llmu pengetahuan sebagai emansipatoris (emancipatory knowledge) adalah ilmu pengetahuan yang menekankan pentingnya peran ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai alat untuk proses humanisasi.® Proses ini juga dapat dilukiskan an oleh sebuah peribahasa sufi kuno : “Adakah sebuah suara di hutan jika sebuah pohon tumbang dan tidak ada seorangpun yang mendengarnya? “jawabannya tentu saja tidak. Rubuhnya pohon tidak menimbulkansuarajika tidak ada seorangpun yang mendengarnya, adalah yang dimaksud dengan gambaran peribahasa kuno diatas adalah bahwa sebuah pengalaman, dunia kontak antara pengirim dan penerima tidak akan terjadi jika tidak terdapat informasi atau komunikasi.® Sejak tahun 1700-an (abad pencerahan) dua narasi besar telah muncul untuk melegitimasi ilmu pengetahuan. Narasi itu adalah, pertama, kepercayaan bahwa ilmu pengetahuan akan dapat membawa umat manusia pada kemajuan (progress). Mitos Politik ini menjustifikasi sains sebagai alat untuk kebebasan dan humanisasi. Sejak awal zaman modern, semua orang dianggap berhak untuk mendapatkan pengetahuan, meskipun pada kenyataannya ada rintangan-rintangan dari kaum agamawan, penguasa atau halangan dari kaum laki-laki terhadap perempuan. Melalui ilmu pengetahuan manusia bangkit untuk mengembangkan diri dan meruntuhkan tembok-tembok kebodohan dan penindasan. Dan yang ke dua, narasi yang bersifat filosofis, menggambarkan bahwa “subyek” yangsadarlah (cogito) dan bukan manusia dalam bentuknya yang utuh yang sesungguhnya memungkinkan perkembangan ilmu pengetahuan itu. Dalam pandangan modern, ilmu pengetahuan dikembangkan demi ilmu pengetahuan itu sendiri, dengan demikian ilmu tidak boleh dimuati bias subyektivitas, nilai-nilai moral atau kepentingan tertentu. Ke dua mitos ini menjadi dasar bagi pengembangan ilmu pengetahuan modern.” Jean Baudrillard menge mukakan terjadinya perubahan besar dari model mekanis, produksi metalurgi ke suatu industri informasi dan dari produksi ke konsumsi sebagai fokus utama ekonomi. Era di mana berbagai perspektif media baru cenderung mengaburkan perbedaan tajam antara reali‘as dan fantasi (simulacra), sehingga meruntuhkan suatu keyakinan pada suatu realitas obyektif. Dikotomi modern tentang suatu realitas obyektif versus citra (images) atau citra-citra subyektif sedang diruntuhkan dan digantikan dengan suatu hipe-ealitas “self-referential signs” (tanda- tanda referensi diri). Pemikir postmodern menggantikan konsepsi tentang adanya suatu realitas independent dari pengamat (observer) dengan mengajukan gagasan keterkaitan subyek dengan dunia (subyek dengan obyek). Lalu bahasa dilihat bukan sekedar bersifat denotative (logosentrisme), bahasa tidak hanya penting dengan fungsi logis/ epistemol ogisnya saja.® Pembahasan tentang bahasa berkenaan dengan baga mana hubungan antara penelaran, makna, kebenaran dan bahasa. Dalam masa pencerahan “rasio” menjadi lambang pengetahuar, sumber kepastian dan dasar bagi kekuvzsaan. Ini yang kemudiar oleh Habermas disebut dengan “Rasio Instrumental” (pengetahian menjadi alat kekuasaan). Rasio bukan lagi sekedar membed«kan manusia dengan binatang (mahkluk infrahuman) akan tet: pi membedakan orang berkuasa (orang pintar) dengan rakyat kecil yang dianggap tidak rasional dan bodoh.” Bukan hal yang berlebihar: jika dikatakan bahwa informasi merupakan salah satu kebutuhan yang penting dalam kehidupan sekarang ini. Laju perkembangan informasi sendiri ditentukan oleh dua hal, yaitu adanya pengelolaan informasi yang baik dan efektifnya kegiatan tukar-menukar informasi. Untuk itu perpustakaan sebagai induk informasi yang memiliki berbagai macam jenis dokumen baik tercetak seperti buku, jurnal, reprint, dan sebagainya atau dalam bentuk elektronik seperti audio ataupun audio visual, mau tidak mau harus mengolah informasi yang dimilikinya secara maksimal agar mudah dalam menyimpan dan menemukannya kembali disaat dibutuhkan. Adanya pengetahuan individual yang dibukukan atau direkam dalam sebuah media akan menjadi pengetahuan sosial atau publik dan dapat dipelajari dan dicerna oleh siapapunjuga, sehingga terjadi hubungan yang terus menerus dan berkesinambungan membentuk pengetahuan-pengetahuan baru. Dalam lingkungan perpustakaan era globalisasi sekarang ini, informasi merupakan hal yang lebih penting dan sangat diperhatikan dari pada yang terjadi sebelumnya. Teknologi telah berkembang dengan sangat cepat untuk memasukkan layanan dan sistem yang lebih luas yang membuatsebuah perpustakaan untuk mengorganisir informasi yang diciptakan secara lokal dan akses informasi yang tersebar secara global. Sehingga menjadi sangat penting untuk mengembangkan dan mengidentifikasi sistem dan layanan mana yang paling baik untuk memenuhi kebutuhan pengguna. Seiring dengan perkembangan teknologi informasi, internet dan elektronika, dan berkembang pesatnya ICT, dan khususnya www, telah memberikan ruang akses informasi seluas-luasnya bagi masyarakat diseluruh dunia, keadaan ini juga terjadi dalam dunia perpustakaan, baik perpustakaan perguruan tinggi, perpustakaan nasional, perpustakaan asosiasi professional dengan beramai-ramai mempopulerkan dan mendirikan dan meluaskan ranah pelayanannya dengan cara membentuk apa yang disebut sebagai Digital Library, atau Perpustakaan Digital. Layanan ini bertumpu pada sebuah sistem yang memiliki berbagai pelayanan dan obyek informasi yang mendukung pemakai yang menggunakan 1. informasi tersebut melalui perangkat digital atau elektronik. Tujuan utama perpustakaan digital menurut Tedd dan Large paling tidak diwakili oleh tiga karakteristik utama yaitu : Memakai teknologi yang mengintegrasikan kemampuan untuk menciptakan, mencari, dan menggunakan informasi dalam berbagaibentuk di dalam sebuahjaringan digital yang tersebar luas 2. 3. Memiliki koleksi yang mencakup data dan metadata yang saling mengaitkan berbagai data, baik di lingkungan internal maupun eksternal Merupakan kegiatan mengoleksi dan mengatur sumberdaya digital yang dikembang kan bersama-sama komunitas pemakai jasa untuk memenuhi k butuhan informasi komunitas tersebut. Oleh sebab itu, perpustakaan digital merupakan integrasi berbagai institusi, sepeti perpustakaan, museum, arsip, dan sekolah yang memilih, mengoleksi, mengelola, merawat, dan menyediakan informasi secara meluas ke berbagai komunitas."® Beberapa dekade yang lalu masyarakat hanya dapat mengandalkan koleksi tercetak dengan cara membelinya di toko buku. Otoritas penerbit sangat besar dalam menyebarkan informasiinformasi itu, dan perpustakaan menjadi kolega bisnis serta berperan besar. Namun dergan adanya teknologi informasi dan komunikasi maka mulai timbul paradigma baru bahwa ketersediaan informasi dapat diakses dimana saja, kapan saja tanpa dibatasi ruang dan waktu (borderless). Maka untuk memperolch pemanfaatan yang maksimal perlu dibentuk semacam konsensus dan saling pengertian kedua belah pihal. (perpustakaan dan masyarakat pengguna), agar tidak terjadi tumpang tindih atau kesimpangsiuran informasi, di satu pihak perpustakaan berperan dalam usaha memberikan informasi yang benar dan dibutuhkan masyarakat pengguna dan sebaliknya masyarakat pengguna akan mendapatkan kemudahan-kemudahan akses terhadap informasi vang benar-benar dibutuhkannya. Hal yang dilakukan adalah perpustakaan memberikan kemudahan akses informasi dan masyarakat pengguna mengimbanginya dengan meningkatkan kemampuannya sehingga konsep literasi informasi dapat terwujud. "9 Lucy A Tedd and Andrew Large, Digital ibraries : Principal and practices in a global Environment, Munchen : K.G. Saur, 2005 dikutip dari Putu Laxman Pendit dalam Kepustakawanan Indonesia dan Teknolc i Informasi(Konteks Sekaligus Habitus Bagi Pengembangan Ilmu), Makalah W .rkshop Rencana Pembukaan Program Doktor Ilmu Perpustakaan dan Informasi, Universitas Padjajaran, Bandung D. Manajemen Berbagi Pengetahuan Dalam satu dasawarsa terakhir pengelolaan pengetahuan (knowledge management), menjadi salah satu metode peningkatan produktifitas suatu organisasi, perusahaan atau instansi. Knowledge manajemen merupakan istilah yang dipakai oleh Wiig pada tahun 1986, dalam salah satu tulisannya “Knowledge Management Foundations yang diterbitkan pada tahun 1993, pada dasarnya knowledge Managenent merupakan suatu proses transformasi sumber/aset pengetahuan dan intelektual untuk kemajuan bersama." Lebih jauh Carl Davidson dan Philip Voss mengatakan bahwa mengelola knowledge sebenarnya merupakan seni organisasi dalam mengelola staf mereka, atau mengatur bagaimana orang-orang dari berbagai tempat yang saling berbeda mulai saling bicara. ) Manajemen ini dipandang sebagai langkah yang tepatkarena dalam persaingan global seperti sekarang ini kompetisi tidak lagi hanya mengandalkan sumber daya alam, tetapi berpindah kepada pemanfaatan sumber daya manusia secara optimal, sehingga dapat meningkatkan produktivitas suatu organisasi/lembaga bisnis. Berbagi pengetahuan (knowledge sharing) merupakan salah satu metode dalam knowledge management yang digunakan untuk memberikan kesempatan kepada anggota suatu organisasi, instansi atau perusahaan untuk berbagi ilmu pengetahuan, teknik, pengalaman dan ide yang mereka miliki kepada anggota lainnya. Berbagi pengetahuan hanya dapat dilakukan bilamana setiap anggota memiliki kesempatan yang luas dalam menyampaikan pendapat, ide, kritikan, dan komentarnya kepada anggota lainnya. Disinilah peran berbagi pengetahuan dikalangan karyawan menjadi amat penting untuk meningkatkan kemampuan karyawan agar mampu berpikit secara logis dan mengahasilkan inovasi. Davenport dan Prusak memberikan metode mengubah informasi menjadi pengetahuan melalui kegiatan yang dimulai dengan huruf C : comparation, consequences, connections dan conversation. Dalam organisasi, pengetahuan diperoleh dari individu-individu atau kelompok orang-orang yang mempunyai pengetahuan,atau kadang; kala dalam rutinitas organisasi. Pengetahuan diperoleh melalui media yang terstruktur seperti: buku, dokumen,hubungan orang ke orang yang berkisar dari pembicaraan ringan sampai i miah. Pengetahuan merupakan suatu yang eksplisit sekaligus ticit, beberapa pengetahuan dapat dituliskan di kertas, diformul isikan dalam bentuk kalimat-kalimat, atau diekspresikan dalam bentuk gambar. Namun ada pula pengetahuan yang terkait era® dengan perasaan, keterampilan, dan bentuk bahasa utuh, preseps: pribadi, pengalaman fisik, petunjuk praktis, dan intuisi, dimana pengetahuan terbatinkan seperti itu sulit sekali digambarkan kepada orang lain. Penciptaan pengetahuan secara efektil tergantung pada konteks yang memungkinkan terjadinya penciptaan tersebut yaitu konteks yang memungkinkan terjadinya penciptaaan pengetahuan yang dimunculkan oleh hubungan hubungan." Berbagi pengetahuan hanya dapat dilakukan bilamana setiap anggota memiliki kesempatan yang luas dalam menyampaikan pendapat, ide, kritikan dan komentarnya kepada anggota lainnya. Seba sain besar situs portal suatu organisasi, instansi atau perusahaan telah menggunakan fitur forum diskusi (discussion forunt) untuk memberikan kesempatan yang luas kepada anggotanya dalam menyampaikan kesulitin yang dihadapi dalam pekerjaannya, ide-ide yang timbul untuk meningkatkan produktifitas pekerjaannya, kritikan dan saran terhadap organisasi dalam rangka menciptakan lingkungan kerja yang kondusif. Berbagai pengetahuan dapat tumbuh dan berkembang apabila menemukan kondisi yang sesuai, sedangkan kondisi tersebut ditentukan oleh tiga faktor kunci yaitu: orang, organisasi dan teknologi . Sebab berbagi pengetahuan dianggay: sebagai hubungan atau interaksi sosial antar orang per orang, seciangkan permasalahan organisasi memiliki dampak yang besar bagi berbagi pengetahuan, dan teknologi informasi dan komun kasi merupakan fasilitatornya.
Conclusion
Informasi dan pengetahuan merupakan senyawa yang apabila ditransformasikan kepada individu akan memberikan nilai yang sangat besar. Ketika seseorang lahir di dunia, secara hak dia memiliki bermacam hak asasi yang tidak boleh dilanggar, pelanggaran terhadap hak-hak ini dikategorikan sebagai tindakan kriminal, termasuk di dalamnya adalah hak mendapatkan informasi, dan pengetahuan. Adanya ke dua unsur ini akan membantu seseorang individu, kelompok, bangsa dalam menemukan jati diri yang diharapkan, dalam arti dapat memberikan manfaatyang luar biasa dalam kegiatan hidup mereka, baik secara sosial, politik, ekonomi, bisnis maupun intelektual, bahkan akan berujung pada satu tahapan tertinggi yaitu wisdom atau kebijaksanaan. Seseorang yang telah dan mampu menempati ranah tersebut diyakini menjadi individu yang tercerahkan, baik secara pribadi maupun sosial kemasyarakatan.