Kembali
16
1
2018 Pustakaloka : Jurnal Kajian Informasi dan Perpustakaan Vol 10 · 2 ISSN 2502-4108

IMPLEMENTASI KNOWLEDGE MANAGEMENT DI PERPUSTAKAAN DALAM MEMBANGUN KOLEKSI WARISAN BUDAYA BATIK

Universitas Diponegoro

Abstrak

Tulisan ini membabas tentang peran knowledge mananagement di perpustakaan. Maksnd dan tujuan tulisan ini adalah untuk menemukan peran knowledge mananagement perpustakaan. Berbagai dalam alasan membangun melatar koleksi belakangi tulisan warisan ini budaya sebagai di dasar pemikiran, salab satunya adalab mendorong perpustakaan untuk membuat sebuah _pusat manajemen pengetabnan (knowledge mananagement) tentang khasanab budaya kbusunya Batik. Beberapa perpustakaan di Indonesia sudah memiliki inisiatif dalam membangnn warisan dan pelestarian warisan budaya. Perpustakaan terns memasnkkan kesadaran kepada masyarakat agar masyarakat tabu dan tidak lupa tentang budaya mereka. Perpustakaan mempunyai peran yang sangat penting dalam rangka melaknkan npaya-upaya mewujudkan fiungs: perpustakaan sebagai pelestari budaya, hal tersebut semakin terasa dengan hadirnya beberapa layanan pojok perpustakaan (library corner) yang mengusnng informasi yang terkart dengan ciri khas dari warisan budaya daerab tertentu. Dibarapkan perpustakaan dapat menjadi jembatan dan fasilitator untuk menciptakan, mengolab, menyimpan, dan membagikan baban pustaka yang berbubungan dengan pelestari Batik, dan juga menjadi baban pustaka yang dapat memberikan nilai untuk perkembangan Batik dimasa yang akan datang.

Abstract

This paper discusses the role of knowledge management in the library. The purpose of this paper is to find the role of knowledge management in developing collections of cultural heritage in libraries. Various reasons behind this paper as a rationale, one of which is to encourage libraries to create a management center for knowledge about cultural treasures especially Batik. Some libraries in Indonesia already have protection in building and preserving cultural heritage. The library continues to remind thepublic that people know and do not forget their cultural heritage. The library has a very important role in making efforts to make the library a cultural preserver, this is increasingly felt with the presence of a library corner service (library corner) that carries information relating to the characteristics of a particular cultural heritage of the region. It is hoped that libraries can become bridges and facilitators to create, store, unite and collect library materials related to Batik preservation, andalso become library materials that can provide value for the development of Batik in the future</p>
Keywords: Knowledge Management (KM) · Perpustakaan · Koleksi · Warisan Budaya · Barik

Introduction

Selama berabad-abad individu atau organisasi orang berusaha menciptakan, memperoleh, dan mendokumentasikan informasi dan pengetahuan, Informasi dan pengetahuan yang dikelola dengan baik serta meningkatkan pemanfaatan kembali, dapat menjadi bahan dalam membantu pengambilan keputusan. Pada Abad ini, karena penguasaan, kepemilikan, dan penerapan pengetahuan adalah sumberdaya yang paling penting, individu dapat maupun organisasi berusaha memperoleh atau menciptakan pengetahuan yang bermanfaat dan membuatnya tersedia dan menggunakannya pada waktu yang tepat. Rusmana',menyatakan bahwa saat ini seorang atau sebuah lembaga akan berlomba untuk mencari dan mengumpulkan informasi, karena siapa yang menggengam informasi akan mendapatkan sumber kekuatan. Agar ilmu pengetahuan yang dihasilkan lebih tepat dan lebih luas diterima oleh pengguna, diperlukan perkembangan teknologi dan informasi yang semakin baik, karena peran teknologi tersebut dapat meningkatkan kualitas dan nilai individu, organisasi dan lembaga yang di kelola oleh masyarakat tersebut. Dalam hal ini, Pendit’ mengemukakan bahwa pengetahuan yang dimaksud adalah pengetahuan eksplisit yang terdapat dalam bentuk dokumen, baik yang berasal dari dalam dari luar organisasi. penyaringan, informasi Salah satu sintesa, dan data, kegiatan penting dalam upaya-upaya ini adalah dan sebelum pengenaan konteks terhadap berbagai menyalurkannya ke pihak-pihak yang memerlukan pengetahuan tertentu untuk kegiatan yang tertentu . Kesadaran dan biasa disebut kepedualian untuk meningkatkan kebutuhan pentingnya sebuah informasi melahirkan sebuah komunitas yang baik, yang dengan lembaga, perpustakaan dapat Masyarakat informasi. Sebagai sebuah mengambil peluang penting ini, dan menjadikan sebuah tantangan bagi Perpustakaan untuk memberikan akses dan menyediakan bahan pustaka dan sumber informasi, berupa literature dan sumber referensi yang dibutuhkan masyarakat. Menurut Purwono®, tujuan utama dari berdirinya perpustakaan adalah menyediakan akses informasi kepada masyarakat (pemustaka). Perpustakaan merupakan sebuah lembaga organisasi yang memiliki kemampuan mengorganisir, dengan harapan bisa mencapai tujuannya. Hal utama yang dapat di berikan oleh perpustakaan adalah dengan meningkatkan peran dan kontribusi perpustakaan dalam memberikan layanan terbaik kepada pemustaka, melalui kegiatan pengelolaan &noniedge management, perpustakaan mengumpulkan data data yang bermanfaaat bagi kebutuhan pengguna, mengolahnya menjadi sebuah informasi dan menyebarkan lewat perpustakaan menjadi sebuah ilmu pegetahuan yang bermanfaat bagi masyarakat/pengguna. Perpustakaan merupakan lembaga penyedia sumber pengetahuan yang menerapkan konsep &nonledge management dapat membawa penguna mendapatkan informasi menembus ruang dan pengguna perpustakaan mendapatkan keuntungan karena pengetahuan tersebut waktu, dapat diakses darimana saja dan kapan saja di butuhkan. Menurut Finnerty*, Knowledge management merupakan gabungan empat unsur asset pengetahuan yang proses/manajemen, dukungan teknologi saling terkait satu lembaga/struktur, informasi sama lain, yaitu, kebjakan/stakeholder, Nasseri (1996) dalam orang, serta Hayat?, mengemukakan balwa zacit knowledge merupakan pengetahuan yang masih berada dalam alam pikiran manusia, yang yang dapat di sampaikan kepada orang lain melalui cara berbagi pengalaman, percakapan, wawancara langsung maupun tidak langsung, seminar dan pelatihan. Selanjutnya explicit knowledge adalah ilmu pengetahuan yang diolah dan menjadi dokumentasi terwujud dalam berbagai bentuk cetak maupun non cetak, sejenisnya. Di seperti makalah, artikel, laporan penelitian, buku, dan Perpustakaan, Knowledge management mempunyai fungsi dalam membantu mengumpulkan, memilah dan mengolah sumber pengetahuan seduai dengan tugas dan fungsi perpustakaan, yaitu menghimpun dan mengelola sumber pengetahuan dan sumber pustaka sebagai salah satu wujud melestarikan pengetahuan dan budaya bangsa. Upaya sebagai perpustakaan pelestari budaya dalam semakin rangka terasa mewujudkan dengan hadimya fungsinya beberapa layanan perpustakaan yang ingin mengusung sebuah informasi terkait dengan kekhasan saing dari suatu daerah tertentu. Indonesia memiliki keanekaragaman budaya dan tradisi, keberadaan perpustakaan tentu sangat menunjang, Zack dalam Weerasinghe® menyatakan bahwa sebuah perpustakaan merupakan lembaga yang dapat berkontribusi dan berdaya dalam melakukan bermakna kegiatan penciptaan (create), kegiatan penyimpanan (sfore), kegiatan pengadaan (capfure), dan kegiatan temu kebali informasi atau (sharing) pengetahuan secara efektif dan efisien. Perpustakaan berusaha memperbaiki citra positif menjadi lebih dengan menggunakan pelestarian, jargon bahwa perpustakaan bisa dijadikan rujukan adanya kajian tentang budaya yakni, dengan membuat layanan misalnya terhadap batik, kalau tidak lestarikan dengan baik tentu kekatyaan budaya lokal di dalam motif batik bisa hilang. Akibatnya tentu generasi mendatang tidak akan tahu tentang budaya motif batik masa lalu. Batik merupakan lasahsatu hasil budaya kekayaan local yang berwujud benda, umumnya menggunakan media dari kain, sudah sepatutnya jika perpustakaan ikut mempertahankan, melestarikan dan menjadi salahsatu koleksi yang membanggakan, sebelum punah ditelan laju kebudayaan modern. Sejak kemunculannya batik telah tumbuh dan tersebar ke seluruh Indonesia. Pertumbuhan dan perkembangan batik di Indonesia dilakukan secara turun temurun sesuai dengan daerah masing masin, pertumbuhan dan perkembangan tersebut melahirkan ciri khas tethadap corak dan motif menurut tradisi dan budaya dalam masyarakatnya. Perkembangan batik juga terjadi karena batik mempunyai nilai ekonomi yang tinggi. Belakangan karena nilai ekonomi yang tinggi, batik tumbuh menjadi sebuah indutzi, bahkan jugaa sebuah mode busana modern. Industry batik merubah pola pembuatan batik yang tradisional, bersekala bersifat industry kecil dengan proses manul, menjadi sebuah Industri batik besar dan dapat menyerap banyak tenaga kerja. Puncaknya pada Oktober 2009 lembaga dunia UNESCO mengakui batik sebagai salahsatu warisan budaya tak berwujud dari kemanusiaan. Tulisan ini bertujuan untuk menemukan implementasi &nonledge management di perpustakaan dalam membangun koleksi warisan budaya Batik. Beberapa perpustakaan di Indonesia sudah memiliki inisiatif dalam pelestarian warisan budaya. membangun akan koleksi warisan Perpustakaan-perpustakaan budaya mereka. itu Perpustakaan mulai terus menyebarkan kesadaran warisan budaya di antara masyarakat, sehingga mereka tahu tentang budaya mereka. Berbagai alasan melatar belakangi tulisan ini sebagai dasar pemikiran mengapa perpustakaan terus mencoba membuat rintisan untuk mengusung sebuah pusat kajian atau pusat &nowledge manajemen tentang khasanah budaya khusunya batik.

Discussion

Mengetahui ragam dan jenis produk budaya menjadi sangat penting bagi generasi sekarang, generasi pewaris budaya bangsa dapat melihat pengetahuan masalalu dari produk budaya tersebut. Salahsatu tugas perpustakaan yang tertuang dalaam undang adalah sebagai lembaga yang mengemban penyebar tugas penghimpun, mengelola, penyimpan dan pengetahuan dan produk budaya masalalu, perpustakaaan mempunyai andil besar dalam mengemban tugas tersebut. Upaya perpustakaan dalam rangka mewujudkan fungsinya sebagai pelestari budaya semakin terasa dengan hadimnya beberapa layanan perpustakaan yang ingin mengusung sebuah informasi terkait dengan kekhasan dari suatu daerah tertentu. Indonesia memiliki keanekaragaman budaya dan tradisi, keberadaan perpustakaan tentu sangat menunjang. Zack dalam Weerasinghe'® menyatakan bahwa sebuah perpustakaan merupakan lembaga yang dapat berkontribusi dan berdaya saing dalam melakukan kegiatan penciptaan (create), kegiatan penyimpanan (store), kegiatan pengadaan (captnre), dan kegiatan temu kebali informasi atau (sharing) pengetahuan secara efektif dan efisien. Perpustakaan berusaha meperbaiki citra positif bermakna dengan menggunakan jargon bahwa menjadi lebih perpustakaan tentu bisa dijadikan rujukan adanya kajian tentang budaya yakni dengan membuat layanan perawatan, misalnya terhadap batik, kalau tidak dirawat dengan baik kekatyaan budayaa lokal di dalam motif batik bisa hilang. Akibatnya tentu generasi mendatang tidak akan tahu tentang budaya motif batik masa lalu. Batik merupaka lasahsatu hasil budaya kekayaan local yang berwujud benda, umumnya menggunakan media dari kain, sudah sepatutnya jika perpustakaan ikut mempertahankan, melestarikan dan menjadi salahsatu koleksi yang membanggakan, sebelum punah ditelan laju kebudayaan modern. Sejak kemunculannya batik telah tumbuh dan tersebar ke seluruh Indonesia. Pertumbuhan dan perkembangan batik di Indonesia dilakukan secara turun temurun sesuai dengan daerah masing masin, pertumbuhan dan perkembangan tersebut melahirkan ciri khas tethadap corak dan motif menurut tradisi dan budaya dalam masyarakatnya. Perkembangan batik juga terjadi karena batik mempunyai nilai ekonomi yang tinggi. Batik telah ada dalam masyarakat Indonesia sejak pertengahan abad ke-18, khususnya di Jawa, bahkan telah menjadi warisan budaya yang turun temurun. Sebagai sebauh identitas budaya, batik tidak bisa di nilai hanya dari selembar kain saja, batik mempunyai dan mewakili nilai dan makna filosofis masyarakat Indonesia, corak dan ragam daerah Indonesia dapat dilihat dari ciri khas setiap batik daerah. motif serta corak warna daerah mempunyai ke khususan yang dijadikan sebagai lambang kedudukan, lambang filosofis dan lambang spiritual mereka. melalui batik, arti dalam symbol dari proses percampuran budaya dituangkan, percampuran buya tersebut kemudaian melahitkan motif kaligrafi, bunga, tumbuhan, binatang. mulai dari kaligrafi Arab, karangan bunga Eropa, phoenix China, bunga sakura Jepang dan merak India atau Persia. Walaupun batik berasal dari istana Jawa, beberapa daerah lain di Indonesia juga memiliki batik dengan gaya batik mereka sendiri. Perkembangan batik saat ini sudah ada 23 propinsi di Indonesia, yang memiliki corak mereka sendiri seperti dari Aceh, Kalimantan dan Papua. Perkembangan batik juga terjadi karena batik mempunyai nilai ekonomi yang tinggi. Belakangan karena nilai ekonomi yang tinggi, batik tumbuh menjadi sebuah industri, bahkan menjadi sebuah mode busana modern. Industry batik merubah pola pembuatan batik yang tradisional, bersifat industry kecil dengan proses manul, menjadi sebuah Industri batik bersekala salahsatu besar dan dapat menyerap banyak tenaga kerja. Puncaknya pada Oktober 2009 lembaga dunia UNESCO mengakui batik sebagai warisan budaya tak berwujud dari kemanusiaan. Beragam jenis batik dapat dilihat dari dua jenis model pengerjaan batik, Yaitu batik ulis dan batik cap. 1. Penciptaan Pengetahuan Perpustakaan merupakan lembaga yang dapat berkontribusi dan berdaya saing dalam melakukan kegiatan penciptaan pengetahuan. Penciptan pengetahuan dapat dilakukan dengan memperbaiki sebuah gagasan dan pengalaman yang di secara sistematis dan terorganisit. citra positif tuangkan dalam bentuk alih media Perpustakaan berusaha meperbaiki menjadi lebih bermakna dengan menggunakan semboyan bahwa perpustakaan bisa dijadikan rujukan adanya kajian tentang budaya yakni dengan membuat layanan pelestarian, Proses penciptaaan pengetahuan dapat dibentuk dan dikembangkan melalui peran interaksi social antara pengetahuan tacit dan explicit, Misalnya terhadap batik, kalau tidak dilestarikan dengan baik tentu kekayaan budaya lokal di dalam motif batik bisa hilang. Akibatnya tentu generasi mendatang tidak akan tahu tentang budaya motif batik masa lalu. Pengakuan secara nasional bahkan internasional terhadap eksistensi batik, menjadikan batik kembali diminati dan dikoleksi. Batik merupakan karya cipta manusia yang akan terus berkembang mengikuti arus zamannya, perkembangan batik secara dinamis membuktikan bahwa batik bukan hanya sebagai warisan budaya, tetapi batik adalah sebuah etos kerja, jiwa kebudayaan, pelayanan dan ketulusan pengabdian. Salahsatu yang bisa diteliti dalam pengelolaan pengetahuan batik adalah dalam penciptaan motif batik. Motif batik tidak sekedar gambar atau motif batik memiliki makna dan filisofi, misalnya pada motif kawung, makna dan filosofi yang terkandung didalamnya adalah iktikat yang bersih adalah ketetapan hati, yang tidak perlu diketahui oleh orang lain. Atau pada motif moti batik yang lain, proses penciptaan motif diselipkan sebagai pesan dan menggambarkan batiniyah dan harapan pembuatnya. 2. Pengadaan Pengetahuan Salahsatu Upaya tugas perpustakaan pelestari budaya perpustakaan yang tertuang dalaam undang dalam semakin rangka terasa mewujudkan dengan hadirnya fungsinya sebagai beberapa layanan perpustakaan yang ingin mengusung sebuah informasi terkait dengan kekhasan dari suatu daerah tertentu. Segala informasi yan berhubungan dengan batik, terutama buku sebagai koleksi utama perpustakaan itu merupakan hasil karya seseorang yang telah dituangkan kedalam tulisan yang seterusnya di olah menjadi sebuah buku dan menjadi sebuah memori budaya yang tidak ternilai harganya. Oleh karena itu buku merupakan wadah/kumpulan untuk menampilkan dan memelihara warisan peradaban bangsa dan menyebar budaya tersebut harus kepada masyarakat (purwono:2009:18) Perpustakaan mengumpulkan koleksi, naskah kuno, peta dan koleksi lainnya yang mempunyai nilai informasi yan berhubungan dengan batik, yang merupakan khazanah budaya bangsa harus dikumpulkan oleh pihak perpustakaan. Di sini pemerintah juga harus dapat mengorganisir setiap hasil budaya yang dibuat harus memiliki arsip ditempat tertentu, salah satunya di perpustakaan umum. Dengan demikian masyarakat dengan mudah mengetahui berapa jumlah budaya lokal yang di buat dalam satu tahun. Pengumpulan ini dapat dilakukan dengan melibatkan lembaga pendidikan, rumah produksi, pekerja seni, museum dan perpustakaan serta lembaga-lembaga terkait lainya. Dengan demikian perpustakaan telah melakukan kegiatan pengumpulan kekayaan intelektual, kebudayaan, dan peradaban budaya dalam berbagai media yang dihimpun, diolah kemudian di layankan untuk masyarakat. 3. Mengolah Pengetahuan yang Pengolahan berkaitan juga dengan pemeliharaan batik agar hasil budaya bangsa tersebut tetap bisa utuh seperti aslinya. Mengingat hasil budaya cendrung rusak atau rapuh, maka sangat diperlukan kebijakan pengolahan yang tepat, khususnya menyangkut fasilitas penyimpanan agar tidak cepat rusak. Karena pengolahan berkaitan akses dengan masyarakat. Dengan perkembangan teknologi sekarang ini sangat memungkinkan pengolahan dengan mudah. Teknologi digital dan penyimpanan memungkinkan kita untuk mengolah koleksi budaya dan menjadikannya bagian dari bahan pustaka. Untuk itu perpustakaan harus menjaga hasil budaya bangsa agar tidak hilang dari muka bumi ini agar kembali ditemukan dan lebih awet, maka perpustakaan harus melakukan kegiatan pengolahan. Dengan membuat diskripsi bahan pustaka yang berisi rekaman intelektual dan artistik bangsa itu dan menyiapkan alat Eksistensi Perpustakaan dalam Melestarikan Khazanah Budaya Bangsa. 4. Melestarikan Pengetahuan Dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan memajukan kebudayaan budaya bangsa. Kebudayaan intelektual dan budaya bangsa selama ini telah disimpan, diatur, dan dilestarikan agar mudah ditemukan kembali, dan memperkecil kerusakan, dan memperpanjang usia koleksi dari ada kerusakan. Memanfaatkan perpustakaan sebagai media pelestarian budaya dua, yaitu : merevitalisasi nilai-nilai budaya serta menumbuhkan kembali tradisi membatik yang telah terputus. Dalam hal ini kegiatan disini mencakup menata, melindungi, merawat, memelihara, dan memproduksi kembali yang rusak, dan bisa terjaga informasi yang terkandung di dalamnya. Secara profesional perpustakaan memiliki peran yang sama dengan museum yaitu melestarikan khazanah budaya bangsa, perbedaan hanya terletak kepada objek yang disimpan. Menanamkan kesadaran kepada masyarakat mengenai pentingnya batik. Usaha lain yaitu dengan ikut mempromosikan dan menyebarkan batik terhadap masyarakat melalui hasil penelitian, menuliskan dalam buku yang mudah dibaca, dimengerti, dan dibeli oleh masyarakat saat ini. Isi cerita dapat dibuat sebagai bahan cerita komik maupun film.

Conclusion

Hal penting dalam &nowledge management adalah mengumpulkan dan menghubungkan pengetahuan telah menarik para pustakawan untuk mempelajari dan memperdalam &nowledge managemen, hal tersebut dapat meningkatkan sebaran pengetahuan dan informasi menjadi semakin luas dan mendalam. Salahsatu tugas perpustakaan yang tertuang dalaam undang adalah sebagai lembaga yang mengemban tugas penghimpun, mengelola, penyimpan dan penyebar pengetahuan dan produk budaya masalalu, perpustakaaan mempunyai andil besar dalam mengemban tugas tersebut. Upaya perpustakaan pelestari budaya dalam semakin rangka terasa mewujudkan fungsinya sebagai dengan hadirnya beberapa layanan perpustakaan yang ingin mengusung sebuah informasi terkait dengan kekhasan dati suatu daerah tertentu. Memanfaatkan perpustakaan sebagai media pelestarian budaya ada dua, yaitu : merevitalisasi nilai-nilai budaya serta menumbuhkan kembali tradisi membatik yang telah terputus. Menanamkan kesadaran kepada masyarakat mengenai pentingnya batik. Usaha lain yaitu dengan ikut mempromosikan dan menyebarkan batik terhadap masyarakat melalui hasil penelitian, menuliskan dalam buku yang mudah dibaca, dimengerti, dan dibeli oleh masyarakat saat ini. Isi cerita dapat dibuat sebagai bahan cerita komik maupun film.