RELASI KEMAMPUAN LITERASI JARINGAN DENGAN MANAJEMEN PRIVASI PELAJAR SMA NEGERI 1 SUMEDANG
Universitas Padjadjaran; Universitas Padjadjaran; Universitas Padjadjaran
Abstrak
Penelitian ini bertujuan nnink mengetahui signifikansi relasi antara kemampuan literasi_jaringan dengan manajemen privasi pada pelajar SNLA. Penelitian ini menggnnakan wmetode knantitatif dengan studi asosiatif. Populasi mernpakan para sisna SNLA Negeri 1 Sumedang. Ukuran sampel sgjumlab 150 siswa berdasarkan wkuran proposi binomial dan sampling error. Data penelitian dikumpnikan menggunakan angket kuesioner, observasi, wawancara, dan studi kepustakaan. Data penelitian menggnnakan skala nominal dan dianalisis menggunakan analisis chi square dan analisis koefisien kontingensi C dengan derajat kepercayaan 95%. Hasil dari penelitian ini menunjukkan babwa terdapat relasi yang signifikan antara pemabaman mengenai - sistem jaringan internet serta kemampuan mengakses dan menyaring informasi dengan manajemen privasi. Para siswa memiliki pemabaman mengenai jaringan internet yang tinggi dan mampu menerapkannya dalam menentukan kontrol dan kepemilikan terbadap informasi pribadi. Para siswa juga memiliki kemampnan menyaring informasi_yang tingg dan mampn menerapkannya dalam menentukan batasan privasi. Sedangkan kemampuan menyebarkan informasi serta keterbukaan diri dalam jaringan internet tidak memiliki relasi yang signifikan dengan manajemen privasi. Para siswa mampn menyajikan dan menyebarkan informasi melalui internet, namun kurang berbati-hati dalam memeriksa kembali konten yang mungkin mengandung informasi pribadi sebelum dinnggah di media sosial. Mayoritas siswa cenderung bersikap terbuka dalam berinteraksi dengan pengguna internet lainnya, namun langkab privasi yang dilaknkan tidak janb berbeda dengan para siswa yang cendernng rertutup.
Abstract
This research aims to determine the relationship between network literacy skills and privacy management of high school students. This research uses quantitative method with associative study. The population is students of SMA Negeri 1 Sumedang. The sample size is 150 students based on the binomial proportion and sampling error size. Research data are collected through questionnaire, observation, interview, and literature study. The research data uses nominal scale and analyzed using chi square analysis and contingency coefficient C analysis with confidence level of 95%. The result of this research indicates that there are significant relationships between understanding of internet network system and information access and filtering skills with privacy management. The students have a high understanding about internet network and able to apply it in determining control and ownership of private information. The students also have good information filtering skills and able to apply it in determining their private boundaries. Whereas information sharing skills and self-opennes in internet network do not have any significant relationship with privacymanagement. The students are able to present and distribute information through internet, but not careful enough in rechecking contents that may contain private information before uploading it into social media. Majority of the students tend to be open ininteracting with other internet users, but the privacy measures that they are doing are not much different from the students who tend to be closed.</p>
Keywords:
literasi jaringan
· manajemen privasi
· informasi pribads
· kemampuan literasi
· pelajar sma
Introduction
Pada abad ke-21 ini, perkembangan teknologi dan media berjalan dengan sangat cepat. Teknologi dan media saat ini sudah mulai beralih ke format digital, terutama dikarenakan oleh perkembangan internet. Berbagai aktivitas sehari-hari seperti berdagang, pendidikan, hiburan dan sebagainya sekarang dapat dilakukan secara online. Proses komunikasi dan penyebaran informasi juga menjadi lebih mudah dan lebih cepat dengan adanya teknologi internet. Indonesia merupakan salah satu negara dengan jumlah pengguna internet paling juta banyak di dunia. Berdasarkan hasil survei jumlah penetrasi pengguna internet di Indonesia pada tahun 2016 mencapai 132,7 orang survei dari total populasi penduduk Indonesia 256,2 juta orang. Artinya, 51,8% penduduk Indonesia sudah menggunakan internet. Hasil juga menunjukkan bahwa konten internet yang paling banyak dikonsumsi pengguna internet di Indonesia yaitu media sosial sebanyak 97,4% atau 129,2 juta orang. Aktifitas yang paling sering dilakukan oleh pengguna internet melalui media sosial yaitu berbagi informasi (97,5%). ' Pertumbuhan teknologi informasi dan komunikasi seperti media sosial yang sangat cepat mengakibatkan meningkatnya aktivitas berbagi informasi (information sharing) di Indonesia. Semua informasi tersebut terhubung pada suatu jaringan yaitu internet. internet merupakan jaringan global yang menyediakan berbagai macam fasilitas komunikasi dan informasi, serta terdiri dari jaringan-jaringan yang terhubung menggunakan protokol komunikasi terstandarisasi. Jaringan internet memungkinkan penyebaran informasi yang bebas sehingga pergerakan arus informasi pun menjadi semakin cepat dan jumlah informasi yang ada menjadi semakin tidak terhitung. Maka pertumbuhan teknologi harus diimbangi dengan kemampuan literasi penggunanya untuk mencegah penyebaran konten informasi yang negatif atau sensitif. Salah satu kemampuan literasi yang diperlukan dalam memanfaatkan jaringan internet adalah literasi jaringan. Literasi jaringan adalah kemampuan untuk mengidentifikasi, mengakses, dan menggunakan informasi elektronik dari suatu jaringan®. Sedangkan Hu (1996) mendefinisikan literasi jaringan sebagai “literasi informasi yang berdasar pada teknologi jatingan dalam suatu lingkungan jaringan”.* Menurut Hu (1996) literasi jatingan terdiri dari dua aspek penting yaitu pengetahuan (&rowledge) mengenai jaringan informasi serta kemampuan (s£z//) untuk mengalokasikan, menyeleksi, mengevaluasi dan menggunakan informasi berjaring.” Selain pemahaman mengenai sistem jaringan internet serta kemampuan mengakses dan menyaring informasi, Pegrum (2010) menambahkan dua aspek penting lainnya yang harus diperhatikan dalam literasi Kontribusi jaringan yaitu kontribusi dan keterbukaan diri dalam jaringan internet’ dapat menyebarkan informasi yang dilakukan dimiliki dengan melalui menyajikan jaringan dan internet. Sedangkan keterbukaan diri dalam jaringan internet dapat diartikan sebagai kemampuan untuk membuka diri dan berinteraksi dengan pengguna internet lainnya. Membuka diri dalam jaringan internet memiliki manfaat seperti memungkinkan untuk membangun koneksi sosial dengan pengguna internet lainnya, memperoleh akses terhadap informasi khusus melalui koneksi yang dibangun, dan menambah kredibilitas diri dalam komunitas online. Namun meskipun banyak manfaat yang dapat diperoleh, namun membuka diri di jaringan internet dapat juga berarti mengekspos diri pada berbagai bahaya dan ancaman dalam jaringan internet, diantaranya yaitu ¢ybercrime yang terjadi melalui pencurian dan manipulasi informasi pribadi. Oleh sebab itu, setiap individu yang menggunakan internet perlu melengkapi kemampuan literasinya dengan kemampuan mengelola privasi dalam jaringan internet. Faktor privasi dijelaskan lebih lengkap oleh Petronio (2002) dalam teorinya yang disebut dengan Communication Privacy Management Theory atau disingkat menjadi teori CPM'. Teori CPM berfokus pada pembukaan informasi pribadi dan menunjukkan bahwa setiap individu mempertahankan dan mengkoordinasi batasan privatnya sendiri. Seseorang yang akan berbagi informasi pribadinya dengan orang lain akan mempertimbangkan manfaat dan konsekuensi dari pembukaan informasi pribadinya (Petronio 2002)°. Teori CPM memiliki lima prinsip dasar yaitu informasi privat (private information), batasan privat (boundaries), kontrol dan bersadarkan kepemilikan aturan (control (rule-based and ownership), management sistem system), dan manajemen dialektika manajemen (management dialetics). Pencurian informasi pribadi bisa dibilang cukup rentan terjadi melalui akun media sosial. Masih banyak pengguna media sosial yang masih sembarangan dalam mengunggah konten, terutama kalangan remaja. Kalangan lain remaja pada dasarnya merupakan fase dimana seseorang masih mencari jati diri dan ingin diakui keberadannya oleh orang sehingga mereka kian melakukan hal-hal untuk menarik perhatian orang lain. Salah satunya yaitu dengan cara aktif di media sosial. Untuk menarik perhatian orang lain, tidak sedikit yang bahkan berani mengunggah konten yang bersifat pribadi atau sensitif. Dengan melakukan hal tersebut pencurian informasi pribadi. Para sama saja dengan mengekspos diri pada remaja di Indonesia saat ini bisa dibilang sangat aktif di dunia online. Sebanyak 98% anak dan remaja berusia 10 sampai 19 tahun di Indonesia sudah tahu tentang internet dan 80% diantaranya adalah pengguna internet (UNICEF 2014)°. Kalangan remaja memiliki rentang usia 10-19 tahun (UNICEF 2014)"°. Rentang usia tersebut sudah termasuk pada rentang usia pelajar di Indonesia pada umumnya. Menurut APJII (2016)", kalangan pelajar memiliki tingkat penetrasi pengguna internet terbesar kedua di Indonesia kalangan mahasiswa yaitu sebesar 69,8%. Dan menurut survei Kemkominfo RI setelah (2017), pelajar tingkat SMA memiliki persentase pengguna internet paling banyak jika dibandingkan dengan pelajar tingkat SD dan SMP yaitu 61,64%. Oleh karena itu, kemampuan literasi jaringan serta manajemen privasi dalam jaringan internet khususnya di kalangan pelajar sangat perlu diperhatikan agar mereka dapat beraktifitas di dunia omline secara aman. Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka penelitian ini bertujuan untuk : (1) Mengetahui signifikansi relasi antara pemahaman mengenai sistem jaringan internet dengan manajemen privasi pelajar SMA (2) Mengetahui signifikansi relasi antara kemampuan mengakses dan menyaring informasi dengan manajemen privasi pelajar SMA (3) Mengetahui ~ signifikansi relasi informasi dengan antara kemampuan menyebarkan manajemen privasi pelajar SMA (4) Mengetahui signifikansi relasi antara keterbukaan diri dalam jaringan internet dengan manajemen privasi pelajar SMA.
Method
Menurut Sugiyono (2010), metode penelitian merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu. Penelitian ini dilakukan menggunakan metode kuantitatif dengan studi asosiatif. Metode kuantitatif asosiatif digunakan untuk mengetahui relasi antara kemampuan literasi jaringan (variabel X) dengan manajemen privasi (variabel Y). Populasi dalam (laki-laki 40%, penelitian ini yaitu para siswa SMA Negeri 1 Sumedang sejumlah 1.376 siswa. Berdasarkan proporsi binomial = 40 : 60 perempuan 60%) serta sampling error (Se) = 7,84, didapatkan sampel (n) sejumlah 150 siswa. Lokasi pelaksanaan penelitian ini Ulun adalah SMA Negeri 1 Sumedang yang beralamat di JI. Pangeran Geusan No. 39, Kotakulon, Kecamatan Sumedang Selatan, Kabupaten Sumedang, Provinsi Jawa Barat. Variabel independen (X) dalam penelitian ini yaitu kemampuan literasi Ibid. jaringan, sedangkan variabel dependen (Y) yaitu manajemen privasi. Terdapat empat sub variabel independen (X) yang digunakan dalam penelitian ini yaitu pemahaman mengenai sistem jaringan internet (X1), kemampuan mengakses dan menyaring informasi (X2), kemampuan menyebarkan informasi (X3), serta keterbukaan diri dalam jatingan internet (X4). Sedangkan untuk variabel dependen (Y) memiliki lima sub variabel yaitu informasi privat (Y1), batasan privat (Y2), kontrol dan kepemilikan (Y3), sistem manajemen berdasarkan aturan (Y4), serta dialektika manajemen (Y5). Teknik pengumpulan data dilakukan melalui angket kuesioner, observasi, angket wawancara, dan studi kepustakaan. Data penelitian pada kuesioner menggunakan skala nominal dengan dua kategori jawaban (ya dan tidak). Data nominal yang diperoleh melalui angket kuesioner kemudian diubah menjadi tiga kategori yaitu kategori tinggi, rendah, dan sedang untuk mempermudah interpretasi data penelitian. Teknik analisis data untuk pengujian hipotesis dilakukan menggunakan uji Chi Sgunare dengan derajat kepercayaan 95%, o = 0,05 dan derajat kebebasan (dk/df) yang ditentukan jumlah kolom dan jumlah baris dari tabel konfigurasi dengan rumus dk = (jumlah baris — 1) x (jumlah kolom — 1). Setelah dilakukan pengujian hipotesis menggunakan uji Chi Square, selanjutnya melakukan analisis koefisien kontingensi C untuk mengetahui derajat hubungan. Analisis koefisien kontingensi C merupakan lanjutan dari analisis Chi Sguare yang menggunakan data dengan skala nominal (Prijana, Winoto, & Yanto, 2016)"”. Tingkat hubungan koofisien dari Guilford (Prijana, Winoto, & Yanto, 2016)": <0,20 Hubungan Lemah Hubungan Rendah 0,20 -0,40 Hubungan Moderat 0,40 — 0,70 Hubungan Tinggi 0,70 — 0,90 Hubungan Sangat Tinggi 0,90 -1,00
Result
A. Hasil Penelitian Sebelum hipotesis, data dilakukan penelitian analisis yang Ch/ diperoleh Square untuk dari angket pengujian kuesioner diubah terlebih dahulu menjadi tiga kategori yaitu tinggi, sedang, dan rendah untuk mempermudah interpretasi data penelitian. Berikut tabel hasil perhitungan data kategori pada setiap sub variabel : Tabel 1. Hasil Analisis Data Kategori Berdasarkan tabel 1 di atas, dapat diketahui bahwa para siswa memiliki pemahaman mengenai sistem jaringan internet (X1) yang tinggi, tinggi, kemampuan mengakses dan menyaring informasi (X2) yang kemampuan menyebarkan informasi (X3) yang tinggi, serta keterbukaan diri dalam jaringan internet (X4) yang tinggi. Selain itu, dapat diketahui juga bahwa perilaku pembukaan informasi yang direpresentasikan pada sub variabel informasi privat (Y1) masing terbilang tinggi, kemampuan menentukan batasan privat (Y2) cenderung tinggi, kontrol dan kepemilikan (Y3) terhadap informasi pribadi cenderung tinggi, sistem manajemen berdasarkan aturan (Y4) cenderung tinggi, serta dialektika manajemen (Y5) juga cenderung tinggi. Data penelitian yang telah dikategorikan tersebut kemudian dianalisis menggunakan wji Ch/ Square untuk pengujian hipotesis. Jika hipotesis diterima atau terdapat hubungan yang signifikan, maka kemudian dilanjutkan dengan uji koefisien kontingensi C untuk mengetahui derajat hubungan. Tabel 2. Hubungan Pemahaman mengenai Sistem Jaringan Internet (X1) dengan Manajemen Privasi (Y) Tabel 3. Analisis Koefisien Kontingensi C Pemahaman mengenai sistem jaringan internet dengan Kontrol dan kepemilikan Berdasarkan hasil uji Ch/ Sgnare pada tabel 2, dapat diketahui bahwa pemahaman mengenai sistem jaringan internet (X1) memiliki hubungan yang signifikan dengan manajemen privasi (Y). Aspek manajemen privasi (Y) yang berhubungan yaitu aspek kontrol dan kepemilikan (Y3), dilihat dari Ch/ Sguare hitung yang lebih besar dari Chi Sqnare tabel (17,964 > 9,488). Dan berdasarkan hasil uji koefisien kontingensi C pada tabel 3, pemahaman mengenai sistem jatingan internet (X1) dengan kontrol dan kepemilikan (Y3) memiliki tingkat hubungan sebesar 0,327 yang berada pada rentang 0,20-0,40 sehingga tingkat hubungannya adalah rendah Tabel 4. Hubungan Kemampuan Mengakses dan Menyaring Informasi (X2) dengan Manajemen Privasi (Y) Tabel 5. Analisis Koefisien Kontingensi C Kemampuan mengakses dan menyaring informasi dengan Batasan privat Berdasarkan hasil uji Ch/ Sgnare pada tabel 4, dapat diketahui bahwa kemampuan mengakses dan menyaring informasi (X2) memiliki hubungan yang signifikan dengan manajemen privasi (Y). Aspek manajemen privasi (Y) yang berhubungan yaitu aspek batasan privat (Y2), dilihat dari Ch/ Sguare hitung yang lebih besar dari Ch/ Square tabel (16,976 > 5,991). Berdasatkan hasil uji koefisien kontingensi C pada tabel 5, kemampuan mengakses dan menyaring informasi(X2) dengan batasan privat (Y2)memiliki tingkat hubungan sebesar0,319 yang berada pada tentang 0,20-0,40 Tabel 6. Hubungan Kemampuan Menyebarkan Informasi (X3) dengan Manajemen Privasi (Y) Berdasarkan hasil uji pada tabel 6, dapat diketahui bahwa kemampuan menyebarkan informasi (X3) tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan manajemen privasi (Y), dilihat dari Ch/ Sgnare hitung yang lebih kecil dari Ch/ Square tabel. Berdasarkan hasil uji Chi Sguare pada tabel 7, dapat diketahui bahwa keterbukaan diri dalam jaringan internet (X4) tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan manajemen privasi (Y), dilihat dari Chi Sqnare hitung yang lebih kecil dari Ch/ Square tabel.
Discussion
Berdasarkan hasil berbagai uji statistika yang telah dilakukan dan dijelaskan sebelumnya, dengan dapat diketahui bahwa pemahaman mengenai sistem jatingan internet (XI) memiliki hubungan yang signifikan manajemen dengan tingkat privasi (Y). Terdapat hubungan hubungan rendah antara pemahaman mengenai sistem jaringan internet (X1) dengan salah satu aspek manajemen privasi yaitu kontrol dan kepemilikan (Y3). Hal ini menunjukkan bahwa para siswa telah memiliki pemahaman yang tinggi mengenai sistem jaringan internet, diantaranya mengenai kegunaan layanan internet, kegunaan informasi dari internet, dan sistematika penyajian informasi di internet. Para siswa sudah paham bahwa internet merupakan jaringan publik yang dapat diakses oleh siapa pun, sehingga mereka lebih berhati-hati dalam melakukan kontrol untuk melindungi kepemilikan informasi pribadi mereka. Berdasarkan teori CPM milik Petronio (2002)*, aspek kontrol dan kepemilikan menunjukkan bahwa informasi pribadi adalah suatu kepemilikan pribadi dan setiap pemilik informasi pribadi tersebut harus menentukan informasi tersebut apakah dengan bersedia orang lain untuk atau berbagi lebih kepemilikan memilih untuk menjaga informasi tersebut untuk diri sendiri saja. Artinya, setiap individu akan berusaha melakukan langkah kontrol untuk melindungi kepemilikan informasi pribadinya. Langkah-langkah kontrol yang dilakukan diantaranya yaitu dengan membatasi akses terhadap akun media sosial pribadi, menghindari pencantuman data identitas pribadi seperti nomor bandphone di profil media sosial, serta memasang berbagai perangkat keamanan seperti passmord dan antivirus pada perangkat digital yang digunakan. Selain itu, kemampuan mengakses dan menyaring informasi (X2) privasi juga (Y). memiliki hubungan yang signifikan dengan manajemen Aspek manajemen privasi yang memiliki hubungan signfikan dengan kemampuan mengakses dan menyaring informasi (X2) Hasil adalah batasan privat (Y2) dengan tingkat hubungan rendah. analisis menunjukkan bahwa para siswa sudah mampu mengakses dan menyaring informasi dari internet dengan mengikuti berbagai langkah diantaranya yaitu melakukan identifikasi informasi, pencarian informasi, seleksi informasi, evaluasi informasi, manipulasi informasi, serta analisis informasi. Berbagai kemampuan untuk menyaring informasi dari internet tersebut dapat mempengaruhi kemampuan siswa dalam menyaring informasi pribadi yang dimilikinya untuk menentukan batasan privatnya. Menurut Petronio (2002), batasan privat merupakan pemisahan antara informasi privat dan informasi publik. Para siswa dapat menyaring dan menentukan antara informasi pribadi yang dapat dibuka kepada orang lain atau publik denga informasi pribadi yang lebih baik disimpan untuk diri sendiri saja. Sedangkan kemampuan menyebarkan informasi (X3) tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan manajemen privasi (Y). Hasil analisis menunjukkan bahwa para siswa sudah mampu menyebarkan informasi dalam berbagai format (tulisan, foto, video, dll). Namun masih banyak siswa yang kurang berhati-hati dalam memperhatikan atau memeriksa kembali konten sebelum diunggah di media sosial. Hal tersebut dapat menyebabkan para siswa secara tidak sadar membuka informasi pribadinya karena mereka tidak sadar bahwa konten yang diunggah ternyata mengandung informasi yang bersifat pribadi atau sensitif. Hal ini terlihat dari jumlah siswa yang mengaku pernah melakukan pembukaan informasi pribadi di media sosial masing tingi. Penyebab lainnya bisa dikarenakan juga masih banyak siswa informasi yang tersebut untuk meskipun mereka paham bahwa informasibersifat pribadi, tetapi mereka tetap memilih membukanya melalui media sosial karena mereka masih merasa informasi tersebut tidak bahaya untuk diunggah di media sosial. analisis Keterbukaan diri dalam jaringan internet (X4) juga tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan manajemen privasi (Y). Hasil statistika menunjukkan bahwa sebagian besar siswa bersikap terbuka dan mampu berinteraksi dengan sesama pengguna internet lainnya melalui media sosial. Namun baik siswa yang cenderung terbuka maupun yang cenderung tertutup keduanya memiliki sikap yang cukup sama terhadap perlindungan privasi mereka. Para siswa yang cenderung tertutup memilih membatasi interaksi dengan pengguna media sosial lainnya dengan alasan untuk melindungi privasinya. Sedangkan para siswa yang cenderung lebih terbuka merasa perlu untuk berinteraksi serta menjalin jaringan pertemanan yang luas dengan pengguna media sosial lainnya, tetapi mereka juga tetap merasa perlu untuk melindungi privasinya. Sehingga siswa yang cenderung terbuka maupun tertutup keduanya melakukan langkah manajemen privasi yang tidak jauh berbeda.
Conclusion
Pemahaman mengenai sistem jaringan internet memiliki hubungan yang signifikan dengan manajemen privasi. Aspek manajemen privasi yang berhubungan yaitu aspek kontrol dan kepemilikan. Hasil penelitian ini lebih menunjukkan bahwa para siswa paham mengenai kegunaan internet sebagai jaringan publik yang bisa diakses oleh semua orang sehingga para siswa berhati-hati dalam melakukan kontrol untuk melindungi kepemilikan informasi pribadi. Kemampuan mengakses dan menyaring informasi memiliki hubungan yang signifikan dengan manajemen privasi. Aspek manajemen privasi yang berhubungan yaitu aspek batasan privasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa siswa mampu mengakses dan menyaring informasi dari internet. Berbagai kemampuan menyaring informasi dapat mempengaruhi kemampuan siswa dalam menyaring informasi pribadi untuk menentukan batasan antara informasi pribadi yang bisa dibuka kepada orang lain dengan informasi pribadi yang lebih baik disimpan untuk diri sendiri saja. Kemampuan menyebarkan informasi tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan manajemen privasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa para siswa mampu menyajikan dan menyebarkan informasi di internet dalam berbagai format. Namun banyak siswa yang masih kurang berhati-hati dalam memeriksa kembali konten yang akan diunggah. Hal ini dapat menyebabkan para siswa menjadi terlalu sering mengumbar informasi pribadi di media sosial baik secara disadari maupun tidak disadari. Keterbukaan diri dalam jaringan internet tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan manajemen privasi Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa para siswa cenderung bersifat terbuka dan senang berinteraksi dengan sesama pengguna internet lainnya. Namun baik siswa yang cenderung terbuka maupun yang cenderung tertutup keduanya memiliki sikap yang cukup sama terhadap perlindungan privasi mereka. Baik siswa yang cenderung terbuka maupun yang cenderung tertutup sama-sama menganggap bahwa privasi mereka perlu dilindungi sehingga keduanya melakukan langkah manajemen privasi yang tidak jauh berbeda