Kembali
16
1
2022 Pustakaloka : Jurnal Kajian Informasi dan Perpustakaan Vol 14 · 1 ISSN 2502-4108

PERSEPSI PEMUSTAKA TERHADAP SKILL PUSTAKAWAN DALAM PENELUSURAN SUMBER INFORMASI DI PERPUSTAKAAN INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) BATUSANGKAR

Institut Agama Islam Negeri Batusangkar

Abstrak

Persepsi pemustaka merupakan argumentasiyang di berikan oleh pemustaka dari hasil pengamatan dan penglihatan di perpustakaan, kemudian dianalisis sesuai dengan asumsi dari masing-masing pemustaka persepsi yang positif ataupun negatif terhadap skill pustakawan dalam melakukan proses penelusuran sumber informasi di perpustakaan. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pengamatan objektif pada partisipatif pada suatu gejala fenomena sosial yang terjadi di perpustakaan. Hasil penelitian menjelaskan bahwa persepsi pemustaka terhadap skillpustakawan dalam penelusuran sumber informasi di perpustakaan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Batusangkarmenunjukkan persepsi yang negatif pada Skill pustakawan dalam menelusur sumber informasi yang sesuai dengan kebutuhan pemustaka. Kesimpulanya bahwa pustakawan harus meningkatkan Hard Skilldan Soft Skilldalam menelusuri sumber informasi.</p>

Abstract

User perception is the argument given by the user from the results of observations and visions in the library, then analyzed the assumptions of each user of positive or negative perceptions of the librarian's according skills in to carrying out the process of searching for information sources in the library. on a The method used is qualitative with participatory objective observation social phenomenon that occurs in the library. The results of the study explain that the perception of users on the skills of librarians in searching for information sources at the library of the State Islamic Institute of Religion (IAIN) Batusangkar shows a negative perception of the skills of librarians in searching for information sources that suit the needs of users. The conclusion is that librarians must improve their Hard Skills and Soft Skills in tracing information sources.
Keywords: User Perception · Librarian Skills · Resources

Introduction

Perpustakaan adalah salah satu unit pelaksanaan yang mempunyai tugas dan tanggung jawab dalam menyediakan dan mengembangkan bahan pustaka, dan memberikan pelayanan prima bagi setiap pemustakanya. Karena perpustakaan merupakan unsur utama bagi setiap perguruaan tinggi, dalam mendukung kegiatan Pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat (PkM) yang merupakan Tri Darma Perguruan Tinggi. Selain itu perpustakaan juga memiliki tugas penting dalam melakukan preservasi bahan pustaka maupun melakukan stock opname pada semua koleksi perpustakaan. Perpustakaan perguruan tinggi merupakan pusat integral untuk mendukung kegiatan Pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat, karena perpustakaan merupakan pusat informasi bagi setiap pemustaka. Oleh karena itu perpustakaan harus mampu menghimpun, mengelola bahan pustaka, melestarikan, dan juga melayankan semua koleksi yang ada agar dapat di manfaatkan oleh pemustaka, sehingga perpustakaan menjadi “tempat belajar sepanjang hayat”. Pemustaka merupakan pengguna perpustakaan baik itu individu, kelompok, masyarakat, ataupun Lembaga-lembaga yang memanfaatkan fasilitas perpustakaan. ! Pemustaka adalah individu yang selalu berinteraksi dengan pustakawan yang ada di perpustakaan baik dalam menelusur informasi ataupun kegiatan-kegiatan yang lain. Oleh sebab itu, disetiap perpustakaan memiliki sumber daya manusia (SDM) yang kompetensi sesuai dengan profesinya yaitu pustakawan.? Sebagaimana kita ketahui bahwa, bagian penting di perpustakaan adalah sumber daya manusia (SDM), tanpa adanya SDM maka perpustakaan tidak akan terlaksana sebagaimana mestinya, dengan demikian pustakawan harus memiliki Skill. Skill pustakawan memiliki peran penting untuk kegiatan di perpustakaan . Pustakawan merupakan sebuah profesi sebagai penyedia informasi harus memiliki responsive, inovatif, dan adaptif dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan juga harus memiliki People Skill . Keahlian pustakawan terdiri dari Hard Skills dan Soft Skills. > Hard Skills biasa lebih mengacu kepada ketrampilan individu berkaitan dengan teknis atau sering dikenal dengan Technical Skills yang dapat diamati dan di ukur .¢ Sedangkan Soft Skills merupakan kemampuan yang dimiliki individu dalam mengatur diri sendiri dan ketrampilan interpersonal dalam sebuah lingkungan.7 Ketrampilan tersebut diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan dan kemampuan pustakawan, sehingga pustakawan dapat meningkatkan kinerja mereka sesuai dengan profesinya, meningkatkan kepercayaan diri, memiliki pemahaman yang lebih besar tentang tugas mereka dan tanggung jawab.® Kebutuhan suatu informasi merupakan bagian penting dari pemustaka yang ingin menambah wawasan dan pengetahuan untuk mengembangkan profesionalitas setiap individu, untuk dapat memenuhi kebutuhan informasi tersebut maka pemustaka mengunjungi perpustakaan. Pada kondisi sekarang ini, Skill pustakawaan memang sangat perlu di tingkatkan baik Skill pustakawan Hard Skills dan Soft Skills untuk melakukan penelusuran sumber informasi di perpustakaan IAIN Batusangkar. Berbagai spekulasi terjadi dari persepsi pemustaka terhadap pustakawan berkaitan dengan Skill pustakawaan pada saat penelusuran sumber informasi di perpustakaan. Hal ini dikarena oleh, tidak semua pustakawan memiliki kemampuan yang dalam melakukan pemustaka. proses penelusuran Berdasarkan hal sumber ini peneliti informasi ingin sesuai mengkaji dengan kebutuhan berkaitan dengan bagaimana persepsi pemustaka terhadap skill pustakawan dalam penelusuran sumber informasi di Perpustakaan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Batusangkar. Tujuan dari penelitian ini melakukan identifikasi terhadap persepsi pemustaka terhadap skill pustakawan dalam penelusuran sumber informasi di Perpustakaan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Batusangkar.

Method

Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif. ° Penelitian kualitatif adalah penelitian yang pengamatan objektif partisipatif pada suatu gejala-gejala fenomena sosial.'® Maka dalam penelitian ini mencoba untuk memahami gejala yang terjadi perpustakaan, dan menginterprestasikan dan menyimpulkan sesuai gejala hasil observasi dan wawancara. Penelitian ini fokus pada identifikasi persepsi pemustaka terhadap Skill pustakawan dalam penelusuran sumber informasi di Perpustakaan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Batusangkar. Kasus pada penelitian ini, ingin melihat lebih dalam berkaitan permasalahan dengan tujuan untuk mendapatkan informasi lebih spesifik dan menyeluruh pada objek penelitian. Adapun informan pada penelitian ini adalah pemustaka yang sering berinterasi dengan pustakawan untuk melakukan proses penelurusan sumber informasi atau sebagai informan kunci. Informan kunci merupakan informan yang memiliki informasi tentang permasalahan yang akan dikaji oleh peneliti .'?> Pemustaka dan pustakawan Perpustakaan IAIN Batusangkar di jadikan objek atau informan dalam penelitian ini, yang sudah memenuhi kriteria sebagai representasi pada objek penelitian.

Result & Discussion

Persepsi Pemustaka terhadap Skill Pustakawan Setiap pemustaka yang datang ke perpustakaan selalu mengamati segala sesuatu yang terjadi di perpustakaan. Segala sesuatu yang diamati akan tergantung dari persepsi masing-masing pemustaka, baik buruk persepsi dari pemustaka tengantung kepada proses pengamatan dan pendapat dari pemustaka tersebut. Menurut Bimo, bahwa segala sesuatu yang nampak dari panca indra yang dianalisis untuk dinyatakan sebagai persepsi dari pemustaka. 22 Proses ini akan berlangsung secara terus menerus, pada waktu individu menerima stimulus dari proses pengamatan dan akan memberikan kesan dengan berbagai perspektif sesuai dengan yang dialami ketika memahami informasi yang diterima. >* “Pustakawan yang terlalu cuek, ketika kami datang keperpustakaan, tidak pernah menyapa. Sehingga pustakawan yang ada di perpustakaan terasa tidak memberikan kesan yang ramah” Persepsi ini berdampak kepada nilai negatif yang diberikan oleh pemustaka kepada layanan yang diberikan oleh pustakawan yang ada di perpustakaan TAIN Batusangkar. Pada dasamya pemustaka yang datang ke perpustakaan harus dilayani dengan baik oleh pustakawan. Seorang pustakawan adalah pelayan publik, sehingga mereka harus memberikan kesan yang baik ketika memberikan pelayanan. “Komunikasi dengan pustakawan hanya kalau kami sudah tidak tahu cara untuk akan mendapatkan koleksi ataupun informasi pendukung yang kami butuhkan, tetapi Skill pustakawan pada saat menelusur sumber informasi di perpustakaan juga masih kurang tepat, terkadang setelah di telusuri informasi juga tidak sesuai atau relevan, intinya informasinya tidak sesuai dengan kebutuhan yang kami perlukan” Pemustaka berasusmsi bahwa Skill pustakawan juga masih kurang pada saat melakukan proses penelusuran, ketika pemustaka membutuhkan sumber informasi yang tersedia dan yang dibutuhkan oleh pemustaka. Dari penyataan di atas dapat kita pahami bahwa perlu adanya peningkatan Skill pustakawan dalam memenuhi kebutuhan akan informasi bagi pemutaka. “Ada juga pustakawan yang memiliki Ski// dalam membatu proses penelusuran di perpustakaan, misalnya dengan menggunakan E Library yang tersedia di perpustakaan, dan juga membantu untuk mendapatkan koleksi yang dibutuhkan dengan menelusuri ke rak buku” Dari penyataan di atas dapat di pahami bahwa, pustakawan harus menunjukkan Ski/l dalam proses penelusuran untuk memberikan persepsi yang positif dari pemustaka yang memerlukan sumber informasi dan sesuai dengan kebutuhan. Perlu adanya pelatihan ataupun workshop dalam peningkatan Skill pustakawan baik itu Skil/l komunikasi, dan Ski/l dalam melayani pemustaka. Kombinasi Hard Skill dan Soft Skill Pustakawan Perpustakaan sebagai agen perubahan yang bertugas untuk selalu mentraformasikan perubahan kearah yang lebih baik. Upaya ini harus di selaraskan suatu hal dengan kemampuan pustakawan. Pengembangan skill pustakawan mutlak untuk dapat memenuhi kebutuhan informasi kepada setiap pemustaka dalam keadaan apapun, karena seperti yang kita ketahui bahwa perkembangan teknologi sekarang, pustakawan harus selalu memberikan layanan ke pada pemustaka baik offfine maupun online. Oleh karena itu pustakawan dapat beradaptasi dengan perubahan-perubahan yang terjadi. Hal ini di barengi dengan disrupsi digital di era pademi, menjadi tantangan besar bagi pustakawan dalam memenuhi kebutuhan informasi bagi pemustakanya. Oleh sebab itu, perlu adanya kombinasi Hard Skill dan Soft Skill Pustakawan dalam upaya memenuhi kebutuhan sumber informasi bagi pemustaka. Seperti dalam penelitian yang dilakukan oleh Abidin,?* menyatakan bahwa kombinasi antara Hard Skill dan Soft Skill akan menciptakan kinerja yang maksimal. Bagitu juga dengan kombinasi Hard Skill dan Soft Skill pustakawan dapat memberikan sumber-sumber informasi yang sesuai dengan kebutuhan pemustaka. Maka dari itu untuk memenuhi kebutuhan penelusuran sumber informasi pemustaka, pustakawan harus memiliki kemampuan Hard Skill dan Soft Skill seperti berikut ini:> 1. Hard Skill pustakawan dalam penelusuran sumber informasi a. Memahami dan menguasai berberapa metode ataupun model literasi informasi yang bermanfaat untuk menyeleksi informasi serta dapat mencari solusi dan mengambil keputusan seperti metode yaitu; The Big 6, Seven Pillars, dan Empowering 8 serta satu lagi The Seven Faces of Information Literacy dan lain sebagainya. b. ¢. d. e. f. Memiliki link ataupun akses yang luas terhadap sumber informasi yang up to date dan juga memahami proses penelusuran informasi baik yang tersedia di perpustakaan maupun yang ada di internet (E-Book ataupun EJournal). Mampu menguasai pencarian yang spesifik dengan menggunakan Boolean “AND, OR, NOT dan NEAR). Menguasai proses klasifikasi, dan penentuan tajuk subjek sesuai dengan ilmu perpustakaan, yang dapat mempermudah Information retrieval (IR) atau proses temu kembali informasi pada sistem aplikasi yang ada di perpustakaan. Menguasai database dasar yang dapat memudahkan proses penyimpanan dan menemukan kembali data dan karya ilmiah dalam bentuk digital. Mampu berbahasa asing, seperti Bahasa Inggris dan Bahasa lainnya yang sering digunakan, karena banyak sumber-sumber informasi yang di tulis menggunakan Bahasa Inggris. Berdasarkan hasil wawancara tentang Hard Skill pustakawan dalam penelusuran sumber informasi di perpustakaan, masih ada pustakawan yang belum menguasai semuanya tentang Hard Skill seperti yang ada pada teori, hal ini dikarenakan oleh masih ada pustakawan yang belum menguasai seluruhnya tentang model literasi. Hal ini dapat dipahami bahwa perlu adanya upaya-upaya dalam meningkatkan Hard Skill, pustakawan perlu mengikuti pelatihan ataupun workshop berkaitan dengan peningkatan Ski/l. Upaya ini dilakukan agar perpustakaan mampu memberikan kepuasan bagi pemustaka dalam melakukan penelusuran sumber informasi di perpustakaan. Sebagaimana kita ketahui bahwa peran pustakawan dalam menghadapi perkembangan teknologi dan ledakan informasi (Information Overload) menjadi perhatian kita bersama, dalam memilih sumber-sumber informasi yang tepat, untuk dapat memenuhi tuntutan dalam proses penelusuran sumber informasi perlu adanya peran yang maksimal dari pustakawan. Akan tetapi, hal ini belum terealisasi secara maksimal, dikarenakan belum meratanya kemampuan Hard Skill yang dimiliki oleh pustakawan. Hal ini menjadi dilema bagi setiap pemustaka ketika melakukan proses penelusuran informasi di perpustakaan, dimana sumbersumber informasi yang dibutuhkan terkadang tidak sesuai dengan kebutuhan informasi yang diperlukan. Oleh karena itu, pemustaka menjadi kurang tertarik untuk meminta pihak pustakawan dalam proses penelusuran informasi. Selain itu, terkadang hasil penelusuran yang dilakukan oleh pustakawan bukanlah artikel atau e-book yang sesuai dengan topik yang dibutuhkan. Ini menjadi kendala pemustaka tidak memahami cara penelusuran dan sumber-sumber yang relevan untuk di jadikan sumber bacaan ataupun sumber referensi untuk tugas maupun penulisan karya ilmiah. 2. Soft Skill pustakawan dalam penelusuran sumber informasi a. Listening skill, mampu mendengarkan saran dan ide-ide dari pemustaka, karena pemustaka memiliki berbagai macam karakteristik dan setiap pustakawan harus memiliki kesabaran dalam menghadapi pemustaka, dengan keadaan tetap memberikan pelayanan yang prima. Ditambah dengan sekarang, pustakawan harus memberikan layanan dalam penelurusan sumber informasi yang serba digital, sehingga pustakawan harus memiliki berbagai ide dan kemampuan untuk mampu mengimbangi ide-ide dari pemustaka, dengan upaya ini dapat memberikan persepsi pemustaka kepada pustakawan itu baik. b. Communication ~ Skill, ~setiap pustakawan di harapkan mampu berkomunikasi dengan baik dengan pemustaka, pustakawan harus memiliki skill personal untuk berkomunikasi dengan baik dan memberikan masukanmasukan yang dapat di pahami oleh pemustaka, upaya ini dapat dilihat dari penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Afrina.’® berkaitan dengan “hubungan two ways communication dalam mengoptimalkan kebutuhan informasi pemustaka”. Hal ini yang harus lebih di optimalkan oleh setiap pustakawan dalam meningkatkan pelayanan dalam penelusuran sumber informasi yang dibutuhkan oleh pemustaka. c. Public relation skill, kemampuan untuk membangun kerjasama dan relasi yang baik dengan pemustaka, bisa berkolaborasi atau bisa selalu membangun ream work sesama pustakawan untuk meningkatkan kualitas sebuah perpustakaan. Adanya team work yang kompak dan solid dalam menjalan aktivitas kegiatan di perpustakaan dapat menunjang tujuan dari perpustakaan tersebut. Begitupun dalam proses penelusuran pustakawan harus selalu berkoordinasi dengan sesama pustakawan dalam memenuhi semua kebutuhan informasi pemustakanya.?’ Melihat pentingnya peran pustakawan untuk mengubah pelayanan di perpustakaan dari pelayanan konvensional kepala pelayanan berbasis digital, sehingga pustakawan mampu memberikan layanan informasi kepada pemustaka secara detail. Dalam hal ini, pustakawan harus efektif dalam mengindentifikasi kebutuhan sumber informasi pemustaka, yang memiliki kemampuan mendengar dan bertanya dengan efektif yang harus dimiliki oleh pustakawan, terlebih lagi pustakawan pada layanan referensi atau yang disebut dengan Listening skill. % Komponen Listening skill, pemustaka bisa menilai bahwa pustakawan dalam menggunakan intonasi suara yang sesuai ketika menanggapi pertanyaan pemustaka. Pustakawan juga mendengarkan secara seksama berkaitan dengan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh pemustaka, pustakawan mampu mengindentifikasi pertanyaan pemustaka dan melakukan klasifikasi sebelum pustakawan menjawab dari pertanyaan dari pemustaka tersebut. Kemudian juga pustakawan juga harus memiliki Communication Skill, dimana komunikasi perpustakaan. ini Komunikasi merupakan kegiatan yang dilakukan setiap hari di antara pustakawan dan pemustaka. Menciptakan hubungan komunikasi sangat berpengaruh kepada Lembaga perpustakaan dan juga menjadi penentu pada kemajuan dan perkembangan perpustakaan.?® Dalam kontek ini Communication Skill sangatlah penting bagi setiap pustakawan dalam memberikan pelayanan informasi ke pada pemustaka yang selalu berinteraksi pada saat penelusuran sumber informasi di perpustakaan.*® Terkadang masih ada pustakawan yang kurang efektif pada saat melakukan komunikasi dengan pemustaka, sehingga memberikan persepsi yang kurang baik anatar pustakawan dan pemustaka. Di perpustakaan IAIN Batusangkar juga mengalami hal yang sama ketika pemustaka meminta pihak pustakawan untuk melakukan penelusuran terhadap sumber informasi, terkadang pustakawan hanya berkomunikasi apa adanya saja, tanpa menelusur sumbersumber informasi yang di butuhkan secara detail sesuai dengan keinginan pemustaka. Oleh karena itu komunikasi yang terjalin antara pustakawan dan pemustaka tidaklah efektif, hal ini dibuktikan dari persepsi pemustaka tehadap pustakawan ketika berkunjung ke perpustakaan. Selain itu, pustakawan yang memberikan pelayanan informasi di perpustakaan juga kurang memberikan solusi ataupun saran yang sesuai dengan keinginan pemustaka. Dengan demikian perlu adanya Communication Skill yang diterapkan oleh pustakawan ketika memberikan pelayanan informasi ke pada pemustaka, agar persepsi pemustaka terhadap pelayanan informasi di perpustakaan menjadi positif. Penyataan ini senada dengan penelitian yang dilakukan oleh Daryono, berkaitan dengan komunikasi antarpribadi yang efektif dapat » dengan lima faktor diantaranya, openness, empathy, supportiveness, positiveness, dan equality. Ini menjadi pertimbangan bagi setiap pustakawan dalam berkomunikasi dengan pemustaka.>!

Conclusion

Pemustaka berhak memiliki persepsi dan argumentasi terhadap apa yang dilihat sesuai dengan analisis dari pemustaka tersebut, baik itu persepsi baik ataupun buruk pada apa yang dilihat. Begitu juga dengan persepsi tentang proses penelusuran sumber informasi di perpustakaan. Untuk menciptakan persepsi yang baik maka pustakawan harus mampu mengimplementasikan Hard Skill dan Soft Skill pustakawan ketika melakukan proses penelusuran di perpustakaan. Skill profesional pustakawan dalam melayani pemustaka perlu menerapkan sikap terhadap pemutaka agar memberikan persepsi yang positif. Pustakawan harus menunjukkan performa atau Skill yang maksimal dalam memenuhi kebutuhan pemustaka yang berkunjung ke perpustakaan.