Pergeseran Bentuk Layanan Perpustakaan dan Peran Pustakawan Dalam Konsep Libraries Without Walls
Universitas Pendidikan Indonesia; Universitas Pendidikan Indonesia
Abstrak
Perkembangan teknologi informasi telah memberikan perubahan pada layanan perpustakaan, salah satunya libraries without wallsyang menuntut bahwa perpustakaan bisa diakses dimanapun berada. Tentunya perubahan tersebut harus diikuti oleh peran pustakawan untuk bisa menangkap perubahan tersebut. Jenis penelitian ini adalah penelitiankualitatif dengan menggunakan studi literatur. Hasil penelitian adalahmuncul beberapa layanan jarak jauh seperti layanan koleksi digital,penelusuran onlinekoleksi, webinar online, penyebaran informasi dan berita perpustakaan melalui media sosial dan layanan khusus yang dimiliki perpustakaan perguruan tinggi,seperti layanan unggah mandiri karya ilmiah oleh pemustaka dan layanan cek plagiarismesecara online.Peran pustakawan dalam konsep libraries without wallsseperti peran konvensional, edukator dan influencerpeningkatan literasi, technical librarian, dan embedded librarian</p>
Abstract
The one of development of information technology has made changes to library which is a library without walls which requires that libraries can be accessed wherever they are. Of course, these changes must be followed by the role of librarians to be able to catch these changes. This type of research is qualitative research using literature studies. The research results are that several remote services emerged, such as digital collection services, online collection searches, online ivebinars, dissemination of library information and news through social media, and special services owned by university libraries, such as self-uploading of scientific works by users and online plagiarism check services. On line. The role of librarians in the concept of a library without walls includes the roles of conventional educators and literacy-enhancing influencers, technical librarians, and embedded librarians.
Keywords:
library without walls
· library service
· librarian roles
· distance service
Introduction
Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang terjadi di dunia saat ini memunculkan berbagai macam potensi baru yang dapat diaplikasikan di dalam berbagai bidang di kehidupan. Menyadari hal ini, manusia mulai menerapkan teknologi informasi terkini yang sudah berkembang ke dalam bidang-bidang yang sudah dilakukan dalam kehidupannya. Begitupun para peneliti dan praktisi bidang perpustakaan juga melakukannya karena merupakan sebuah tempat yang menjadi pusat berkumpulnya informasi. Perkembangan dan penerapan teknologi informasi dan komunikasi di bidang perpustakaan membuat beberapa aspek yang berjalan dalam keberlangsungan perpustakaan menjadi memiliki potensi untuk dapat ditingkatkan menjadi lebih baik lagi dari sebelumnya. Selain itu, konsep-konsep baru pun muncul didalam perpustakaan, salah satu konsep yang muncul dari dipadukannya teknologi informasi dan komunikasi dengan perpustakaan adalah konsep digital library, virtual library dan libraries without walls. Konsep libraries without walls ini merupakan konsep yang muncul berkat kemunculan internet dalam berkembangnya teknologi informasi dan komunikasi di dunia. Menurut Khoo! dan Reitz?, perpustakaan merupakan tempat mencari informasi hendaknya tidak ada dinding yang menghalanginya atau dengan kata lain bahwa perpustakaan dapat diakses dari manapun dengan memanfaatkan teknologi informasi yang sudah berkembang. Perpustakaan dalam melayankan koleksi digital sendiri muncul dikarenakan konsep /ibraries without walls yang mendukung konsep pembelajaran baru, yaitu distance learning atau yang saat ini dikenal dengan nama pembelajaran jarak jauh. Dalam konsep pembelajaran jarak jauh, memberikan kesempatan untuk mengadakan kegiatan pembelajaran melalui internet atau secara daring. Dalam hal mencari informasi untuk kebutuhan pembelajaran dapat mengakses dokumen digital ! yang disediakan perpustakan. Oleh karena itu, dalam proses kegiatan pembelajaran jarak jauh sangat terbantu dengan tersedianya layanan jarak jauh yang disediakan perpustakaan. Dalam hal ini, pustakawan dituntut untuk mempunyai kemampuan dalam mengorganisasi informasi dalam bentuk manual maupun digital. Maka, pustakawan juga perlu mengikuti perkembangan teknologi informasi supaya bisa menyerap pengetahuan baru dari dunia maya, sehingga pengetahuan yang didapat bisa diinformasikan kepada pemustaka.? Berdasarkan pernyataan di atas, penelitian ini akan membahas mengenai konsep libraries without walls dan peran pustakawan terhadap /ibraries without walls. Selain itu, penelitian ini dapat memberikan gambaran secara eksplisit mengenai konsep /ibraries without walls.
Method
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan studi literatur. Studi literatur adalah serangkaian kegiatan yang berkenaan dengan metode pengumpulan data pustaka, membaca dan mencatat, serta mengelola bahan penelitian.* Studi literatur digunakan dengan mencari bahan pustaka mengenai bagaimana perpustakaan di Indonesia menerapkan konsep libraries without walls dan melakukan analisis mengenai bahan pustaka yang didapat.
Result & Discussion
Libraries without walls merupakan konsep yang muncul pada awal-awal kemunculan perpustakaan digital. Konsep ini menyatakan bahwa perpustakaan saat ini sudah dapat memberikan pelayanan jarak jauh yang membuat pemustaka dapat mengakses layanan yang diberikan dengan bantuan jaringan internet dan alat komunikasi, seperti smartphone, laptop, atau komputer tanpa perlu membuat pemustaka datang mengunjungi perpustakaan tersebut. Libraries without walls banyak kemiripan perpustakaan digital. Kedua istilah ini sendiri sering bercampur dengan istilah lain seperti virtual library. Layanan Jarak Jauh Perpustakaan Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang berkembang saat ini mempengaruhi perpustakaan, unsur layanan merupakan salah satu unsur perpustakaan yang mengalami perkembangan. Dengan memanfaatkan teknologi informasi, saat ini layanan di perpustakaan dapat digunakan oleh pemustaka yang diluar gedung perpustakaan yang menyediakan layanan tersebut. Misalnya, seseorang yang sedang berada di Balikpapan dapat mencoba untuk mengakses layanan yang disediakan perpustakaan yang lokasi fisiknya berada di Belanda. Perkembangan ini tentu perlu disambut dengan baik karena peningkatan dan perubahan yang dialami pada layanan perpustakaan mengakibatkan potensi pemanfaatan perpustakaan oleh masyarakat akan semakin besar. Dikarenakan akses layanan perpustakaan dapat dijangkau oleh masyarakat luas dimanapun berada. Beberapa layanan dikembangkan agar dapat dimanfaatkan oleh pemustaka yang tidak memiliki kesempatan mengunjungi perpustakaan secara langsung. Berikut beberapa layanan digital yang dilayankan perpustakaan, terutama perpustakaan yang ada di Indonesia : 1. Pelayanan Koleksi Digital/ E-Resources Dalam penelitian yang dilakukan Sukirno, Mukhotib, & Rahayu, terjadi tren penurunan peminjaman koleksi fisik. Salah satu hal yang menyebabkan hal ini adalah pemustaka yang menggunakan koleksi e-book sebagai salah satu alat pemenuhan kebutuhan referensi. Hal ini merupakan salah satu fenomena dimana saat ini e-book merupakan salah satu jenis koleksi digifal yang minati pemustaka.'® Fenomena ini sendiri terjadi karena beberapa hal, seperti praktis dan lebih mudah sebagainya.!! Melihat dibawa bagaimana kemana-mana, tahan lama, lebih murah, dan semakin meningkatnya pemanfaatan koleksi berbentuk digital oleh masyarakat, membuat perpustakaan saat ini memiliki kebijakan untuk melakukan pengembangan koleksi digital terutama berkaitan dengan tema koleksi yang dibutuhkan pemustaka. Tujuan pemilihan koleksi digital karena mudah diakses dari manapun selama terdapat jaringan internet. Koleksi digital yang dimaksud disini merupakan koleksi yang sudah dalam bentuk digital yang dimiliki dan dilayankan oleh perpustakaan atau koleksi digital milik pihak ketiga yang telah dilanggan oleh perpustakaan. Salah satu contoh dari layanan koleksi digital adalah munculnya aplikasi iPusnas yang dimiliki oleh Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Melalui aplikasi iPusnas, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia memberikan akses koleksi digital yang dimiliki secara gratis yang dapat dimanfaatkan pemustaka. Hal ini tentunya memudahkan pemustaka untuk mendapatkan layanan koleksi yang dimiliki perpustakaan dalam bentuk digital. Pemanfaatan koleksi digital sendiri dapat dilakukan melalui repository apabila perpustakaan tersebut menyediakan layanan tersebut. Repository saat ini melayani penyediaan koleksi dalam bentuk digital, seperti skripsi, bahan ajar, dan penelitian individu. Hal yang perlu diperhatikan ketika melayankan koleksi digital adalah bagaimana penyediaan koleksi digital ini tidak melanggar hak cipta yang berlaku pada koleksi tersebut. Perpustakaan perlu memastikan bahwa pemustaka dapat mengakses koleksi tersebut tanpa melangkahi hak yang dimiliki oleh pengarang koleksi tersebut. International Federation of Library Associations (IFLA) sudah mengatur beberapa prinsip mengenai hal ini, salah satunya ialah hukum hak cipta nasional bertyjuan untuk menyeimbangkan antara hak yang dimiliki pencipta/pengarang suatu ciptaan yang harus dilindungi karyanya dan hak dari pemakai/pengguna untuk menghindari tindakan yang merugikan pemilik ciptaan, dan menggunakannya untuk tujuan yang sah dan tidak melanggar kepentingan yang dimiliki pencipta.!” Selain itu, IFLA memandang bahwa penggunaan koleksi digital yang digunakan dengan tujuan yang jelas seperti penelitian perlu untuk diperbolehkan dibawah hukum hak cipta yang berlaku. Salah satu hasil dari adaptasi pandangan ini adalah munculnya koleksi digital yang bersifat open access.* Menurut Eve,* open access merupakan penelitian akademis yang sudah diulas oleh rekan sejawat sebelum diterbitkan yang dapat dibaca online secara gratis dan siapa saja dapat mendistribusikan serta menggunakan ulang penelitian tersebut dengan beberapa batasan yang berlaku. Perpustakaan sebagai lembaga pengelola informasi dapat memberikan pengetahuan kepada pemustaka mengenai prinsip open access yang berlaku pada beberapa koleksi digital dan memberikan rekomendasi kepada pemustaka sesuai dengan kebutuhan yang dimiliki. Dalam aspek ini, layanan referensi yang dimiliki perpustakaan saat ini mengalami pergeseran praktik, dimana aplikasi teknologi informasi yang ada membuat akses dari referensi menjadi lebih luas. 2. 3. 15 16 Penelusuran Bahan Pustaka secara Online Saat ini, melakukan pencarian koleksi yang dimiliki, pustakawan tidak perlu membuka buku katalog yang halamannya dapat mencapai ratusan karena perpustakaan pada umumnya sudah mengaplikasikan penggunaan On line Public Access Catalog (OPAC) dalam layanan pencarian bibliografi. Menurut Sulistyo-Basuki, OPAC merupakan katalog yang tersimpan di komputer serta dapat diakses secara terpasang dari berbagai lokasi.'> OPAC saat ini dianggap lebih ramah pengguna dibandingkan kartu katalog karena memiliki beberapa bantuan kepada pemustaka.'® OPAC sebagai sarana penelusuran informasi perpustakaan saat ini perannya sangat vital dalam layanan penelusuran informasi di perpustakaan. Adanya OPAC, dapat mempercepat kinerja pencarian koleksi pustaka, dari yang mencari pada kartu katalog menjadi cukup mengetik koleksi yang dibutuhkan di komputer. Munculnya OPAC dalam lingkungan perpustakaan sangat membantu kegiatan layanan jarak jauh yang dimiliki perpustakaan. Hal ini dapat dilakukan, apabila OPAC disisipkan pada laman web perpustakaan. Selain menghemat waktu, tenaga, dan ruang penyimpanan secara nyata (yang sebelumnya digunakan kartu katalog), manfaat yang dimiliki bagi pemustaka adalah pemustaka dapat memastikan koleksi atau informasi yang dibutuhkan apakah tersedia di perpustakaan tanpa perlu untuk mendatangi perpustakaan terlebih dahulu. Webinar Online Salah satu kegiatan dapat dilaksanakan oleh perpustakaan adalah webinar. Meskipun webinar yang dilakukan secara online bukan merupakan layanan reguler yang biasa dilayankan perpustakaan karena hanya pada satu waktu saja. Namun, kegiatan webinar saat ini menjadi salah satu kegiatan yang biasa diadakan oleh perpustakaan. Di Indonesia sendiri, diadakannya webinar menjadi salah satu solusi bagaimana perpustakaan dapat memberikan sebuah edukasi kepada pemustaka tanpa perlu membuat pemustaka mendatangi lokasi perpustakaan. Faktor lain dari semakin banyaknya kegiatan webinar yang dilakukan perpustakaan dikarenakan merebaknya pandemi COVID-19 yang melanda dunia dan akibat dari pandemi ini, adanya pembatasan sosial (social distancing) dan work from home (WFH), guna untuk mencegah penyebaran COVID-19 di masyarakat. Selain itu, kemudahan yang dimiliki dari kegiatan yang dilaksanakan sedikit/ekonomis, secara akses online, seperti biaya pengeluaran yang mudah dijangkau masyarakat secara luas selama memiliki akses internet di tempat peserta atau panitia mengikuti webinar.!” 4. 17 18 Penyebaran Informasi dan Berita Perpustakaan Melalui Media Sosial Saat ini, dunia mengenal dengan sebuah wahana komunikasi bernama media sosial. Mayfield dalam Fatmawati,'® mendefinisikan media sosial sebagai “a group of new kinds of online media, which share most or all of the following characteristics: participation, openness, conversation, community, connectedness”. Mayoritas masyarakat saat ini menggunakan sosial media sebagai alat komunikasi dan berbagi informasi antara satu orang dan lainnya. Organisasi saat ini, menggunakan media sosial untuk membagikan informasi atau berita mengenai aktivitas yang dilakukan oleh organisasi. Perpustakaan saat ini menggunakan media sosial untuk membagikan informasi atau berita yang dimiliki kepada pemustaka. Selain itu, Kurniasih dalam artikelnya membahas mengenai manfaat lain yang dimiliki media sosial oleh perpustakaan, seperti meningkatkan meningkatkan pemustaka tingkat melalui partisipasi kegiatan promosi perpustakaan di di dalam media sosial, masyarakat, penghematan waktu penyebaran informasi atau berita, memberikan kesempatan kolaborasi dengan pihak lain, meningkatkan citra/reputasi perpustakaan dan manfaat lain.*® . Layanan Khusus Perpustakaan Perguruan Tinggi Selain layanan umum yang biasa dimiliki oleh perpustakaan, terdapat beberapa layanan jarak jauh lain yang saat ini dilayankan oleh perpustakaan, salah satunya adalah layanan unggah mandiri karya ilmiah oleh pemustaka. Layanan unggah mandiri karya ilmiah sendiri biasanya dilayankan di perpustakaan perguruan tinggi, dimana pemustaka diberikan akses untuk mengunggah karya ilmiah miliknya (skripsi, tesis, atau disertasi) ke dalam repository yang dimiliki oleh perpustakaan. Layanan unggah mandiri ini sudah diberlakukan di beberapa perguruan tinggi di Indonesia, seperti di Perpustakaan Telkom University yang sejak tahun 2014 sudah menerapkan layanan ini.? Perpustakaan Universitas Gadjah Mada dengan Sistem Layanan UMKAM (Unggah Mandiri Karya Akhir Mahasiswa) yang dimiliki,?! Perpustakaan Universitas Pendidikan Indonesia melalui SUMA atau Sistem Unggah Mandiri dan perpustakaan-perpustakaan lain. Layanan unggah mandiri dapat mempercepat alur penerbitan karya akhir mahasiswa dan menghemat ruang penyimpanan nyata yang dimiliki perpustakaan. Menurut Pujiastuti,?? perpustakaan sendiri dalam memberikan layanan ini perlu menyiapkan beberapa aspek agar layanan unggah mandiri dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien, antara lain standard operating procedure (SOP) yang jelas, kompetensi pustakawan memadai. yang professional, dan dukungan teknologi informasi yang Selain layanan unggah mandiri, perpustakaan saat ini menyediakan layanan cek plagiarisme secara online. 1* 20 ! 22 Layanan ini diberikan perpustakaan dengan twjuan penerbitan untuk karya mengurangi tingkat plagiarisme yang muncul pada ilmiah Universitas Ukrida®® dan di suatu lembaga atau organisasi. Perpustakaan Perpustakaan Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan K eperawatan Universitas Gadjah Mada,? merupakan salah satu perpustakaan yang menyediakan layanan cek plagiarisme dalam aktivitas layanan perpustakaan. Kedua layanan yang disebut diatas merupakan salah satu dari sekian banyak inovasi layanan jarak jauh yang disediakan perpustakaan-perpustakaan di Indonesia. Layanan ini muncul sebagai hasil dari analisis perpustakaan dalam memberikan layanan yang sesuai dengan target yang dimiliki. Penulis berharap inovasi layanan jarak jauh yang diberikan oleh perpustakaan tidak akan berhenti disini dan masih akan muncul berbagai layanan yang lain yang menarik dan bermanfaat bagi pemustaka. Peran Pustakawan Dalam Konsep Libraries Without Walls Dengan munculnya teknologi informasi dan komunikasi di lingkungan perpustakaan, peran konvensional dari pustakawan sendiri menjadi lebih luas. Peran konvensional yang dimaksud disini adalah terdapat dalam Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 Tentang Perpustakaan Pasal 1 Ayat (8), yaitu melaksanakan pengelolaan dan pelayanan perpustakaan. Lebih lanjut, peran pustakawan dalam aspek pengelola sumber informasi pun tidak dapat dihilangkan dari ini dikarenakan semakin banyaknya informasi yang bermunculan melalui internet. 1. 2 2 Edukator dan Influencer Literasi Informasi Beberapa waktu lalu, dunia pendidikan Indonesia mendapatkan laporan yang menyedihkan dimana dalam studi tingkat literasi yang dilakukan Program for International Student Assessment (PISA) pada tahun 2019, Indonesia menempati posisi 62 dari 70 negara.”> Hal ini mendorong adanya kegiatankegiatan yang dapat meningkatkan tingkat literasi pada masyarakat Indonesia. Namun, bagaimana peran yang dapat dimiliki pustakawan dalam hal ini? Pustakawan dalam hal ini dapat memberikan bantuan sebagai edukator dan influencer mengenai literasi. Pustakawan sendiri tentu tidak asing mendengar kata literasi, dikarenakan ruang lingkup kerjanya yang berhubungan dengan bagaimana literasi berperan penting. Pustakawan dapat berperan, seperti membuat konten digital mengenai pemahaman dan pentingnya literasi di kehidupan sehari-hari, memberikan cara bagaimana mendapatkan informasi yang dibutuhkan dengan cepat, atau pun dengan pelatihan managemen referens dan lain sebagainya. Pustakawan dalam dapat pula memberikan fasilitas terhadap informasi yang dibutuhkan masyarakat. 2. 3. 25 Technical Librarian Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi dalam lingkungan perpustakaan membuat pustakawan saat ini perlu untuk memiliki kemampuan TIK yang cukup untuk menggunakan teknologi tersebut. Selain kemampuan untuk menggunakan teknologi informasi yang digunakan di perpustakaan, pustakawan saat ini perlu untuk memahami bagaimana konsep teknologi atau aplikasi tersebut digunakan, baik dalam segi desain maupun teknis. Hal ini diperlukan supaya pustakawan dapat melakukan pemeliharaan sistem atau memperbaiki apabila ada masalah yang muncul ketika dioperasikan. Selain itu, pustakawan sendiri perlu untuk memahami bagaimana logika aplikasi atau teknologi yang digunakan di perpustakaan agar pustakawan dapat memberikan saran kepada tim IT untuk mengusulkan suatu fitur dalam aplikasi atau teknologi yang dapat membantu kinerja di perpustakaan atau pustakawan sendiri dapat mengembangkan aplikasi yang digunakan tersebut. Embedded Librarian Embedded librarian merupakan pustakawan yang mampu menerapkan keahliannya dengan cara yang baru sehingga dapat memberikan nilai lebih bagi pustakawan.?® Pustakawan sebagai seorang ahli informasi, memiliki potensi untuk mengembangkan sayap untuk berperan dalam dunia penelitian. Pustakawan dapat berubah peran, dari yang awalnya hanya memiliki peran pendukung dalam suatu penelitian menjadi seorang mitra yang berkoordinasi dan berkolaborasi dengan peneliti atau pengajar. Sharma, Kumar, & Babbar memberikan saran bagaimana seorang pustakawan dapat berubah menjadi embedded librarian, antara lain:>’ a. b. c. d. Bekerja sebagai grup, bukan sebagai individu, embedded librarian perlu untuk bekerja sebagai pemain di dalam sebuah tim. Perlu untuk mendapatkan dukungan dari organisasi maupun rekan sejawat, embedded librarian perlu untuk mendapatkan dukungan dari organisasi dan rekan sejawat. Dalam hal ini, pustakawan perlu mengetahui batasan dari peran yang dimiliki pustakawan diluar dari lingkungan perpustakaan. Memiliki jiwa kewirausahaan, embedded librarian perlu untuk dapat berinovasi mengembangkan suatu produk atau layanan baru untuk dilayankan kepada pemustaka. Kompetensi Pengambilan Risiko, embedded librarian harus mengambil kesempatan yang memiliki banyak risiko di dalamnya. e. berani Transformasi ilmu perpustakaan ke ilmu informasi, sebagian besar orang tidak paham apa peran dan tugas yang dimiliki pustakawan. Embedded librarian perlu untuk dapat memberikan pemahaman kepada orang-orang mengenai peran dan tugas yang dimiliki pustakawan. f. g. h. Membangun hubungan yang dapat diandalkan dan dipercaya oleh pemustaka. Berani keluar dari zona nyaman, Jangan hanya berpikir, namun bertindak juga Tugas pokok pustakawan tidak hanya sekedar melayani kepada pemustaka dan melakukan inovasi layanan perpustakaan tapi lebih luas dalam kepenulisan karya ilmiah, yaitu melakukan penelitian. Disini pustakawan dituntut untuk berkontribusi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan mengurai segala permasalahan di perpustakaan yang kemudian dituangkan menjadi sebuah karya tulis ilmiah.
Conclusion
Bergesernya bentuk layanan dan peran pustakawan saat ini perlu untuk diterima dengan senang hati. Selain memberikan dampak positif dalam lingkungan perpustakaan dan sekitarnya, perubahan yang dialami ini memberikan kesempatan bagi perpustakaan dan pustakawan untuk berperan lebih aktif dan memberikan dampak yang lebih kepada masyarakat. Konsep /ibraries without walls sendiri pada awalnya hanya dimaksudkan untuk memberikan kesempatan bagi pemustaka untuk menikmati layanan perpustakaan secara daring tanpa melangkahkan kaki kedalam gedung perpustakaan. Namun, apabila dilihat dari sisi lain, perubahan yang muncul dari diupayakannya layanan jarak jauh bagi pemustaka pun banyak. Dari penelitian yang dilakukan, teridentifikasi bahwa terjadi pergeseran bentuk layanan yang disediakan oleh perpustakaan, yaitu perpustakaan saat ini mengadopsi layanan jarak jauh untuk diberikan kepada pemustaka seperti layanan koleksi digital, penelusuran koleksi secara online, webinar online, penyampaian informasi dan berita perpustakaan melalui media sosial, dan layanan khusus untuk perpustakaan tertentu seperti cek plagiarism dan unggah mandiri. Selain itum teridentifikasi bahwa terjadi peran pustakawan dalam konsep libraries without walls antara lain peran konversional yang tetap dijalankan, edukator dan influencer dalam meningkatkan literasi di masyarakat, rechnical librarian, dan embedded librarian.