Kembali
16
1
2023 Pustakaloka : Jurnal Kajian Informasi dan Perpustakaan Vol 15 · 1 ISSN 2502-4108

Praktik Literasi Digital dalam Membangun Literasi Akademik: Studi di UPT Perpustakaan Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Universitas Islam Negeri Walisongo; Universitas Islam Negeri Walisongo

Abstrak

Penelitian ini mengkaji praktik literasi digital mahasiswa dalam mengembangkan literasi akademik selama mereka belajar dengan metode daring, luring,atau blended. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus untuk mengeksplorasi pengalaman, perasaan, dan juga perkembangan fenomena tertentu selama pandemi Covid 19 terjadi. Pengumpulan data utama diperoleh dari observasi, dokumen, wawancara mendalam terhadap informan yang pernah menggunakan layanan informasi perpustakaan pusat UIN Walisongo, dan tugas tertulis mahasiswa. Hasilnya menunjukkan bahwa mereka mempunyai keahlian dalam literasi digital atau disebut literatedalam menggunakan alat atau aplikasi yang digunakan dalam perkuliahan. Mereka tidak merasa kesulitan untuk beradaptasi dengan segala alat. Terbukti, mereka bisa menggali sumber informasi ilmiah yang disediakan perpustakaan atau sumber lainnya. Keahlian mahasiswa dalam menguasai literasi digital sangat penting dalam kontekskemampuan literasi akademik. Hal ini sangat beralasan karena penguatan kemampuan literasi akademik ditopang oleh penguasaan literasi digital. Namun literasi akademik mereka terkait keterampilan menulisilmiah masih bermasalah. Hal ini ditunjukkan dengan kecenderungan persentase hasil pemeriksaan kemiripan terbagi menjadi dua kelompok besar yaitu rentang 0 hingga 7% dan 47 hingga 99%</p>

Abstract

This research examines students' digital literacy practices in developing academic literacy while they are studying with online, offline, or blended methods. It uses a qualitative method with a case study approach to explore experiences, feelings, and also the development of certain phenomena during the Covid 19 pandemic occured. The main data collection was obtained from observations, documents, in-depth interviews with informants who had used UIN Walisongo central library information services, and students’written asignments. The results show that they have expertise in digital literacy or are called literate in using tools or applications used in lectures. They don't find it difficult to adapt to all tools. Evidently, they can dig up sources of scientific information provided by libraries or other sources. Student expertise in mastering digital literacy is crucial to have academic literacy skills. This is very justified because the strengthening of academic literacy skills is supported by mastery of digital literacy. However, their academic literacy related to scientific writing skills is problematic. This is indicated by the tendency of the percentage of similarity check results to be divided into two major groups, namely the range of 0 to 7% and 47 to 99%.
Keywords: academic libraries · McClelland theory of motivation · Zotero class

Introduction

Isu literasi digital menjadi mengemuka setelah pandemi covid 19 menyebar ke seluruh penjuru dunia, tak terkecuali Indonesia. Agar pandemi ini tidak menyebar, pemerintah melalui Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi RI menginstruksikan agar semua pendidik menyelenggarakan proses belajar mengajar di rumah untuk semua jenjang pendidikan1, termasuk di dalamnya UIN Walisongo yang harus mengambil langkah strategis dengan mengubah model perkuliahan konvensional menjadi luring, daring, dan blended2. Perubahan metode pembelajaran dari luring menjadi daring ini menuntut semua pihak untuk memiliki keahlian berupa literasi digital, yaitu kemampuan menggunakan perangkat teknologi informasi dan komunikasi untuk mendapatkan, mengevaluasi, menciptakan, dan mengkomunikasikan informasi yang membutuhkan keahlian kognitif dan teknis 3. American Library Association (ALA) menyebut bahwa seseorang dikatakan melek literasi digital (digitally literate person) manakala bisa memenuhi kriteria kecakapan khusus yaitu 1) memiliki berbagai keterampilan kognitif dan teknis yang diperlukan untuk menemukan, memahami, mengevaluasi, membuat, dan mengkomunikasikan informasi digital dalam berbagai format; 2) mampu menggunakan beragam teknologi secara tepat dan efektif untuk mencari dan mengambil informasi, menafsirkan hasil pencarian, dan menilai kualitas informasi yang diperoleh; 3) memahami hubungan antara teknologi, pembelajaran seumur hidup, privasi pribadi, dan pengelolaan informasi yang tepat; 4) memanfaatkan keahlian ini dengan teknologi yang tepat untuk berkomunikasi dan bekerja sama dengan rekan sebaya, para kolega, keluarga dan dengan masyarakat umum; 5) menggunakan keahlian ini untuk berpartisipasi aktif di tengah masyarakat sipil (civil society) dan berkontribusi pada komunitas setempat 4. Hague & Payton5 menambahkan bahwa literasi digital terdiri atas keterampilan, pengetahuan, dan pemahaman yang memungkinkan bersikap kritis, kreatif, cerdas, dan aman dalam pemanfaatan teknologi digital. Literasi digital terkait erat dengan kesadaran dan pemahaman sosial budaya, serta keterampilan fungsional. Keahlian ini juga membekali kapan teknologi digital sesuai dan membantu untuk tugas yang ada, serta kapan perangkat tersebut tidak diperlukan. Dinata 6 meneliti keahlian literasi digital dengan framewok yang dikemukakan oleh Hague & Payton, mengeksplorasi unsur-unsur esensial literasi digital. Dengan pendekatan kuantitatif deskriptif, Dinata membuktikan bahwa literasi digital mahasiswa sudah baik, terlebih unsur functional skill and beyond yang paling menonjol. Bisa jadi, banyak mahasiswa yang bisa memenuhi syarat terkait dengan keahlian functional skill yang menitikberatkan pada kemampuan memanfaatkan sarana teknologi informasi. Tulisan ini mengkaji mendalam mengenai bagaimana praktik pengalaman literasi digital para pemustaka selama masa pandemi? bagaimana pengalaman literasi akademik mereka? bagaimana literasi digital membangun literasi akademik? Apa tantangan yang dihadapi mereka dalam mendukung kesuksesan literasi akademik guna menyelesaikan tugas kuliah?

Method

Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus guna menggali pengalaman, perasaan, dan juga perkembangan tertentu. Metode ini dirasa paling tepat untuk mengungkap praktik literasi digital dalam mendukung literasi akademik yang dilakukan oleh mahasiswa. Pengumpulan data yang utama diperoleh dari wawancara mendalam dengan para informan yang pernah memanfaatkan layanan informasi UPT Perpustakaan UIN WS. Pengumpulan data juga dilakukan dengan observasi terlibat, disamping dengan membaca langsung artifak berupa tulisan mahasiswa.7 Informan adalah mereka yang sudah pernah kuliah secara tatap muka dan secara daring, disamping mereka pernah berkunjung ke perpustakaan baik secara daring maupun onsite di perpustakaan. Sebagai tambahan, peneliti akan melihat karya tulis mereka yang diserahkan kepada dosen mereka sebagai cerminan kemampuan literasi akademik. Tulisan sebagai bagian dari tugas mata kuliah akan peneliti pelajari lagi apakah asli atau ada unsur silimarities dengan dibuktikan menggunakan aplikasi similarity check. Hasil pengecekan nantinya akan diketahui apakah mahasiswa sudah cakap literasi akademik.

Result & Discussion

Istilah literasi digital digunakan oleh banyak pakar untuk mewakili berbagai macam literasi. Istilah yang paling sering muncul untuk menyebut keahlian ini adalah media literacy, new literacies, multimodality, computer literacy, media education, information literacy, multiliteracies, ICT literacy, eliteracy, e- competence, e-skills, technology literacy, digital competence, digital media literacies, media information literacy.8 Di dunia pendidikan, literasi digital merupakan hal yang sangat penting, mengingat bahwa kompetensi lulusan dengan pemahaman literasi digital diperlukan di seluruh bidang disiplin ilmu9. Menurut Gilster, sebagai orang yang ditengarai sebagai orang pertama yang mempopulerkan istilah literasi digital, mendefiniskannya sebagai “The ability to understand and use information in multiple formats from a wide range of sources when it is presented via computers”10. Dalam pandangannya, literasi digital merupakan kemampuan untuk memahami dan menggunakan informasi dalam berbagai format dan dari beragam sumber ketika dipresentasikan melalui komputer. Literasi disini tidak semata-mata membaca teks namun juga berarti membaca dengan memahami makna. Batasan istilah ini berkembang meluas, dimana literasi merupakan tindakan kognisi dari apa yang seseorang lihat di layar komputer ketika sedang menggunakan media jaringan. Jadi, kemampuan literasi digital ini tidak hanya kemampuan seseorang mendapatkan sesuatu, tapi juga menggunakannya dalam kehidupan. Dalam konteks keindonesiaan, literasi digital ini didefinisikan sebagai “kemampuan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) untuk menemukan, mengevaluasi, memanfaatkan, membuat dan mengkomunikasikan konten atau informasi, dengan kecakapan kognitif maupun teknikal” 11. Keahlian literasi digital ini dilekatkan pada seseorang selama memiliki seperangkat pengetahuan, keahlian, strategi, dan kesadaran dalam memanfaatkan TIK untuk menyelesiakan masalah, berperilaku dengan cara yang etis dan tanggung jawab. Janssen et al 12 mengilustrasikan kompetensi digital sebagai berikut: Calvani et al13 menawarkan bahwa penguasaan literasi digital mencakup penguasaan terhadap 3 keahlian, yaitu penguasaan pada dimensi teknologi, kognisi, dan legal. Cara pandang ini diilustrasikan dalam gambar berikut: Gambar II. Digital Competence Framework Sumber: Calvani at al. (2010). Pada dasarnya, kemampuan literasi digital adalah ekplorasi terhadap aplikasi teknologi dengan cara yang lebih lentur, sedangkan penguasaan kognitif merupakan kemampuan untuk melakukan akses, pemilihan, dan eavluasi kritis terhadap informasi. Adapun pemahaman etis yang dibutuhlan dalam literasi digital ini adalah kemampuan berinteraski dengan perangakat ICT dengan cara yang lebih bertanggung jawab baik dari sisi etis dan legal. Gabungan dari tiga keahlian ini akan membawa pada pemahaman potensi jejaring teknologi untuk kerjasama dalam membangun pengetahuan kolaboratif. PRAKTIK LITERASI DIGITAL Dimensi Teknologi Model perkuliahan daring dan blended pada masa covid 19 sangat memudahkan mahasiswa untuk melakukan proses perkuliahan. Untuk kelancaran proses ini, ada banyak aplikasi yang bisa dimanfaatkan seperti E- learning UIN, Walisiadik UIN, google meet, zoom, Google classroom, dan Whatsapp Group. Sisi menarik dari pemanfaatan media ini adalah kompromi antara pengajar dengan para mahasiswa tercapai sehingga mereka nyaman memilih media tertentu sesuai dengan kesepakatan selama menjalankan kuliah. Nampaknya, Google meet merupakan aplikasi favorit di kalangan mahasiswa karena aplikasi ini gratis, terintegrasi dengan layanan google lainnya yang memungkinkan pembicara untuk share screen, user experience dan user interface sangat mudah, dan secara individual bisa mengubah resolusi untuk menerima dan mengirim feed sehingga memberi kontrol yang lebih baik atas konsumsi data mereka14. Namun, untuk mata kuliah tertentu, misalnya untuk materi teknologi informasi, tentang coding umpamanya, maka mahasiswa punya pilihan lain. “Notepad++, XAMPP, PhpMyAdmin, Wordpress. Keempatnya sama-sama tentang coding yang dimana sebelum itu harus membuat rumus-rumus terlebih dahulu supaya bisa menjadi kolom, berwarna, diisi foto dan masih banyak lagi. Paling asik yaitu Wordpress karena disitu kita bisa membuat wesite sekolah secara gratis, bisa dikreasikan sesuai keinginan kita dan asiknya lagi tidak perlu susah-susah mengcoding terlebih dahulu, jadi sudah disediakan fitur-fitur tampilan yang bisa diubah sesuai kebutuhan pengguna”. (Anyelir, personal communication, August 9, 2022). Dimensi Kognisi Kemampuan jenis ini terkait erat dengan teks dengan meringkas, mewakili, menganalisis informasi, mengorganisasi data, menyeleksi dan menafsirkan grafik, mengevaluasi informasi yang relevan, dan mengevaluasi keandalan informasi. Ketika ditanya mengenai bagaimana mereka menyelesaikan tugas kuliah, salah satu informan, Anyelir 15 menyatakan bahwa untuk pencarian informasi guna menunjang tugas perkuliahan, dituntut mendapatkan informasi dari artikel, jurnal, ebook. Di luar sumber tersebut, masih bisa memanfaatkan akses Wa Bot perpustakaan dengan mudah, yang memungkinkan pemggunaa untuk menggali buku-buku perpustakaan. Aster16 menambahkan bahwa sumber lain yang sangat membantu dalam penyelesaian tugas kuliah adalah dengan menggali sumber online di perpustakaan digital, google scholar dan mesin pencari google. Informan lainnya menyatakan bahwa buku tetap menjadi rujukan utama dalam penyusunan tugas kuliah seperti disampaikan oleh Anggrek, yaitu: “Dalam mengerjakan tugas dari dosen jika saya sudah memiliki buku yang berkaitan dengan matkul tersebut saya akan membuka buku tersebut untuk menyelesaikan tugas, jika dirasa masih kurang saya akan mencari referensi di google scholar atau perpusnas”17. Dia merasa bahwa sumber utama dalam menyelesaikan tugas adalah bersumber dari buku, baru sumber digital lainnya sebagai penunjang. Pada tahap ini, para informan masih mengandalkan sumber informasi ilmiah yang ada di perpustakaan. Anggrek 18 dan Semboja 19 menyampaikan mengatakan “Dalam beberapa tugas untuk menambah referensi, saya masih menggali informasi dari perpustakaan”. Ketika mereka ditanya, bagaimana cara memilih atau menyeleksi sumber informasi yang baik untuk kebutuhan penyelesaian tugas kuliah, salah satu dari mereka, yaitu: “Pertama ke bagian kelompok buku yang akan dicari, kedua jika sudah ketemu baru melihat penulis buku-buku tersebut, lalu penerbit buku tersebut, baru nanti saya foto dan scan di google book untuk kecocokan sumbernya”.20. Dimensi Etis Etika merupakan prinsip-prinsip moral yang mengatur perilaku seseorang untuk melakukan suatu kegiatan. Etika, juga disebut filsafat moral, yaitu disiplin yang berkaitan dengan apa yang baik dan buruk secara moral, serta benar dan salah secara moral. Istilah ini juga diterapkan pada sistem atau teori nilai atau prinsip moral apa pun 21. Para informan sangat tahu dan sadar bahwa setiap orang punya privasi dan juga data pribadi yang tidak boleh untuk dibuka dimana saja termasuk di dalamnya dunia maya. Berdasar pengalaman, para informan memperlihatkan bahwa mereka tidak pernah melakukan posting data pribadi. Salah satu dari mereka mengatakan bahwa dia memiliki banyak akun media sosial baik di Facebook, Instagram, Twitter, WA, namun tidak pernah sekalipun memposting data diri kepada publik dengan alasan bahwa ini data pribadi yang harus dijaga sendiri 22. Disamping itu, berdasar pengetahuan bahwa ejawantah dari etika dalam pemanfaatan teknologi informasi, mereka merasa semua punya hak yang sama sehingga saling menghormati dan dimanfaatkan untuk bersosialisasi dengan orang lain bukan untuk mencela. PRAKTIK LITERASI AKADEMIK Literasi akademik merupakan istilah yang digunakan untuk menyebut kemampuan atau ketrampilan dalam menyelesaikan tugas akademik. Praktik literasi akademik digunakan dan dinilai di ruang kelas dan mungkin mengharuskan siswa untuk menganalisis, meringkas, membandingkan, membedakan dan mensintesis ide dan informasi terkait dari berbagai sumber 23. Literasi jenis ini merupakan kemampuan menerapkan keterampilan dan strategi membaca, menulis, dan berpikir kritis secara umum ke berbagai jenis mata kuliah. Literasi akademik juga dapat mencakup jenis literasi lain yang diperlukan untuk pembelajaran lanjutan, termasuk keterampilan kuantitatif (matematika), mendengarkan, berbicara, komunikasi lintas budaya, literasi informasi, dan menggunakan teknologi sebagai alat untuk belajar. Dalam konteks perguruan tinggi, mahasiswa memperkuat literasi akademik dengan membangun pengalaman mereka sebelumnya dan mengembangkan keterampilan dan strategi yang lebih maju untuk membaca, menulis, dan belajar24. Li25 secara rinci memberikan definisi literasi akademik dengan berbagai pendekatan yaitu bahasa, disiplin, dan sosio kultural. Dalam pendekatan bahasa, literasi akademik dimaknai sebagai kemampaun membaca dan menulis yang digunakan di sekolah dan lingkungan akademik. Menurut pendekatan akademik, literasi akademik merupakan pembelajaran/pemikiran tingkat tinggi dalam mengejar makna kontekstual kolaboratif yang mendalam dalam proses sosialisasi akademik. Dan dari sisi sosio kultural, literasi akademik merupakan praktik keaksaraan sebagai konstruksi sosial dan karena itu terbuka untuk tantangan. Berdasar pada beberapa batasan yang dikemukakan para ahli, literasi akademik lebih banyak menyinggung kemampuan menyelesaikan tugas-tugas akademik. Tidak berlebihan, terkait dengan literasi ini, Giordano 26 mengajukan beberapa strategi terkait dengan strategi peningkatan keahlian literasi akademik yaitu ▪ Melakukan review sebuah judul atau chapter dari sebuah buku teks untuk memahami bagaimana buku tersebut diorganisasi. ▪ Memberi catatan atau anotasi pada tugas membaca yang ditulis di sebelah kanana atau kiri margin teks. ▪ Mengajukan pertanyaan dan menjawab sendiri atas apa yang sudah dibaca. ▪ Menggunakan outline guna mengorganisasi atau menyusun bukti dari sebuah sumber informasi untuk melakukan suatu proyek penelitian. Literasi akademik dapat dilihat sebagai kemampuan untuk terlibat secara aktif dalam memproses, menganalisis, dan mengartikulasikan fakta dan konsep melalui membaca dan berbagai bentuk wacana, seperti menulis, diskusi, dan presentasi. Literasi akademik dibagi menjadi tiga bidang utama: integritas akademik, membaca, dan wacana. Dalam pengertian ini, seseorang dikatakan melek akademik selama dia mampu menciptakan dan mengatur pikiran, menguji dan menyortir klaim dan bukti yang relevan, membuat keputusan yang beralasan, berpikir kritis dan global, dan menampilkan kemampuan reflektif dan komunikatif yang ditingkatkan 27. Dalam tataran praktis, Priyanto 28 menambahkan keahlian literasi akademik mencakup kemampuan dalam melakukan active reading, note-taking, critical reflection, dan membuat presentasi. Lebih dari itu, kemampuan akademik tidak hanya bisa mencari informasi yang dibutuhkan, tapi juga mampu menuangkan ide yang berasal dari informasi yang dibacanya dalam bentuk tulisan maupun dan lisan. Baca dan Tulis Ejawantah kegiatan akademik yang harus dilakukan oleh mahasiswa adalah active reading dengan penugasan untuk membaca suatu literatur tertentu, keterampilan mencatat perkuliahn (note-taking), kemampuan mengkritik secara konstruktif (critical reflection), dan kemudian dilanjutkan dengan membuat file presentasi sekaligus mempresentasikannya di depan kelas29. Ada kebiasaan menarik dari beberapa informan. Salah satunya adalah Aster 30 yang menyampaikan bahwa dia biasa membaca namun bersumber pada media sosial dan webtoon. Webtoon merupakan jenis komik digital yang berasal dari Korea Selatan yang biasanya dimaksudkan untuk dibaca di komputer dan smartphone. Media ini telah mengalami lonjakan popularitas secara internasional dikarenakan meningkatnya popularitas komik atau kartun cetak di negara ini yang sering disebut manhwa. Kemudian, muncullah fakta bahwa sebagian besar manhwa dirilis sebagai webtoon. Informan lainnya, Semboja 31 juga memiliki kebiasaan yang relatif sama dengan Aster sebagai mahasiswa, dimana dia membaca AU (Alternative Universe) setiap hari. AU itu semacam fan fiction, cerita yang ditulis penggemar dengan tokoh idola. Alurnya berdasarkan imajinasi author. Selain AU, saya juga kerap membaca artikel ilmiah dan berita berita di portal berita online. Sementara itu, Anyelir 32 juga membaca. Bahan bacaannya relatif sama dengan Aster dam Semboja, hanya dengan menggunakan sumber yang berbeda. Dia lebih banyak menghabiskan membaca novel seperti kebiasaan dulu di pondok, baik dalam buku cetak maupun Wattpad. Wattpad ini merupakan platform literatur daring yang ditujukan bagi pengguna untuk membaca dan menulis cerita yang asli. Pendiri platform ini adalah Allen Lau dan Ivan Yuen, bertujuan untuk menciptakan komunitas sosial di sekitar cerita dan menghilangkan hambatan antara pembaca dan penulis. Platform ini memungkinkan pengguna untuk menulis dan menerbitkan cerita, atau membaca cerita yang dihasilkan oleh pengguna lain. Beberapa informan merasa bahwa mereka pernah mendapat tugas untuk meresensi sebuah buku. Kendati demikian bahwa ada informan yang merasa bahwa kemampuan meresensi bukan karena penugasan oleh pengajar, namun karena tuntutan kesibukannya sebagai aktivis di lemba pers kampus, sebagaimana tercermin dalam pernyatannya: Tugas kuliah meresensi, seingat saya jarang. Karena saya ikut lembaga pers di fakultas, saya cukup sering meresensi buku bacaan fiksi maupun non fiksi untuk kebutuhan konten majalah maupun website33. Kegiatan akademik lainnya yang penting adalah menulis. Menulis dapat dipahami sebagai sistem tanda atau tanda konvensional yang mewakili ujaran suatu bahasa. Menulis membuat bahasa terlihat lebih nyata, hal ini sangat berbeda dengan pidato yang bersifat sementara, dimana menulis adalah konkrit dan permanen. Baik berbicara maupun menulis sangat bergantung pada struktur bahasa yang mendasarinya34. Note-taking juga menjadi bagian krusial dalam perkuliahan, yaitu taktik merekam informasi yang diambil dari sumber lain dengan cara menulis. Bagi mahasiswa, keahlian ini sangat bermanfaat karena mampu merekam pemahaman terhadap mata kuliah yang diberikan pengajar kepada mahasiswa. Secara konseptual, mahasiswa mengetahui istilah ini, dan kemudian mempraktikkannya dalam mencatat ketika proses kuliah berjalan. “Iya, saya cukup paham dengan note taking karena saya juga melakukannya, ketika dosen berceramah di kelas, saya memerhatikan sekaligus mencatatnya. Ketika membaca sesuatu, saya juga sering menulis hal-hal penting terkait ke note HP ataupun notebook” 35. Namun demikian, ada juga yang tidak tahu konsep note-taking sebelumnya, namun dia sudah mempraktikkan selama kuliah karena terbukti memudahkan. Hal ini diungkapkan oleh informan lainnya, yaitu: “Sebelumnya saya belum tahu mengenai istilah "note-taking", setelah saya membaca artikel di internet saya tahu apa itu note-taking. Saya pernah melakukan nya ketika perkuliahan guna memudahkan saya dalam memahami suatu materi” 36. Keterampilan menulis punya bobot tantangan tersendiri di kalangan mahasiswa. Sebagai ilustrasi, bila mahasiswa mengambil 24 SKS yang terdiri atas 9 sampai 10 mata kuliah. Setidaknya, mereka akan membuat makalah sejumlah 10 ditambah dengan tugas meresensi ataupun meresume suatu buku tertentu. Secara tidak sadar, tugas penulisan ini yang memaksa mahasiswa agar akrab dan bisa menyusun makalah. Pernyataan salah satu informan, Asoka37 menguatkan adanya penugasan ini, “Alhamdulillah sampai saat ini saya sudah sangat terbiasa dengan tugas membuat makalah”. Menulis makalah, pada awalnya tidak mudah, maka membutuhkan usaha. Mahasiswa bisa menempuh berbagai cara dalam berlatih menulis, diantaranya belajar dari Youtube. “Saya terbiasa membuat makalah, namun pasti beberapa kali sambil melihat youtube untuk mencari tutor-tutor yang mengajarkan membuat makalah, seperti halaman yang satu dengan yang lainnya agar selaras, dan lain-lain” Informan lainnya menunjukkan lebih biasa menulis karena tempaan. Ketika ditanya apakah terbiasa menulis makalah, dia langsung memberi tanggapan “Menulis makalah menjadi makanan sehari-hari ketika menjalani perkuliahan ini, sehingga saya terbiasa. Saya juga jadi lebih paham terkait pola dan mekanisme membuat makalah yang apik, rapi, dan sesuai standar dosen pengajar” Kemudian dia melanjutkan terkait dengan aktivitas menulisnya, yang akhirnya tidak hanya menulis makalah, namun juga tulisan yang lain, yakni: Saya cukup sering menulis karena tugas sebagai mahasiswa dan juga lembaga pers yang saya ikuti. Bisanya saya menulis resume sebagai tugas dari dosen. Disamping itu, saya juga kerap menulis straight news dan artikel untuk konten website (press release) 40. Penyelesaian Tugas Mata Kuliah Semua pengajar yang mengampu mata kuliah tertentu selalu memberi tugas. Tugas tersebut sangat umum diberikan kepada mahasiswa sebagai bagian dari penilaian akhir pada setiap akhir semester. Tugas yang paling umum diberikan kepada mahasiswa adalah pembuatan tulisan, sebagaimana dikemukakan oleh Anggrek41 bahwa untuk tugas yang sering diberikan adalah pembuatan makalah lalu dipresentasikan. Irforman lain menambahkan “Tugas yang sering diberikan dosen kepada mahasiswa adalah membuat essay, artikel, makalah, powerpoint untuk presentasi di kelas, dan tugas praktik secara langsung dengan didampingi dosen pengampu mata kuliah” 42 Di luar tugas tersebut, ada mata kuliah yang memerlukan keahlian khusus, misalnya tugas untuk teknologi informasi. Salah satu informan mengemukakan: “Untuk semester kemarin setiap pertemuan ada tugas coding dan literasi. Coding pasti menuntut pembuatan biodata, html dan lain-lain, sedangkan tugas literasi lebih ke mencari kata kunci yang diberikan untuk materi selanjutnya, lalu dibuat untuk presentasi dalam bentuk ppt. Siap tidak siap, karena dua-duanya itu untuk tambahan mengisi nilai-nilai agar tidak ada yang kosong, maka harus dikerjakan” 43. Senada dengan pernyataan di atas, informan lain mengatakan: “Ada tugas mendesain perpustakaan digital, membuat makalah dan artikel, mindmapping, resume mapel dll. Kalau tugas datang bersamaan saya mengerjakan yang deadline terdekat dulu, kemudian saya selesaikan dulu yang mudah-mudah” 44. Mahasiswa secara mandiri menyimpan dan mengirim tugas mata kuliah sesuai dengan permintaan pengajarnya, baik berupa softcopy maupun hardcopy. Cara mengumpulkan tugas-tugas tersebut bisa dengan mengunggah di Google Drive yang dibuat oleh mahasiswa, yang kemudian mahasiswa tersebut mengirimkan link ke pengajar pengampu mata kuliah tersebut. Ataupun, bisa diunggah melalui aplikasi Elearning.walisongo.ac.id sesuai dengan permintaan pengajar. Di kalangan mahasiswa, sebagian mengerjakan tugas dengan melakukan kerjasama dengan kawan-kawan sekelas seperti terlihat dari jawaban Anyelir 45 yang mengatakan untuk tugas coding menunggu teman yang sudah bisa, baru kemudian rame-rame diajari gimana cara membuatnya. Namun ada informan lain yang mengandalkan media sosial sebagai bahan belajar dalam menyelesaikan tugas. “Untuk tugas mendesain aplikasi atau web biasanya saya melihat tutorial di youtube dulu, kemudian saya mencobanya sendiri. Jika menemui kesulitan saya bertanya kepada kakak tingkat atau teman-teman saya. Untuk tugas resume dan mindmapping biasanya saya mencari bahan bacaan dahulu sebelum menuangkan ide”46. Sumber Rujukan Setiap karya ilmiah membutuhkan rujukan atau literatur lain yang digunakan untuk menguatkan argumentasi ataupun untuk memahami suatu konsep tertentu. Sebagai bagian dari civitas akademika, mahasiswa dituntut untuk menyusun berbagai tugas ilmiah yang ciri khasnya adalah pemanfaatan rujukan dengan mensitasi pendapat ahli, lalu menuliskan sumbernya di daftar pustaka. Dari sisi mahasiswa, sepertinya mereka bisa mengambil langkah efektif ketika mencari rujukan untuk keperluan tugasnya dengan memanfaatkan layanan perpustakaan Wa Bot, eprints, Walisongo Elibrary, dan juga buku cetak yang berada di rak-rak perpustakaan. Wa Bot menjadi alternatif untuk memastikan apakah perpustakaan punya judul, pengarang, atau topik tertentu. Aplikasi ini menjembatani kepentingan pengguna dengan layanan perpustakaan. Fitur dalam aplikasi ini bisa dijadikan katalog perpustakaan secara online, ditambah dengan kemungkinan seseorang punya tanggungan pinjaman, atau bahkan denda sekalipun. Di samping itu, aplikasi ini juga ditautkan dengan karya akhir mahasiswa yang tersedia dalam eprints.walisongo.ac.id. Terobosan ini menarik karena mampu mengurangi tugas staf perpustakaan secara drastis. Pencarian, judul, pengarang, subyek karya akhir mahasiswa ada disana. Nilai penting ini dipertegas oleh informan, yaitu ya mengguakan Wa Bot, untuk perpustakaan digital terkadang saya menggunakannya, namun saya menggunakan perpustakaan digital diluar Walisongo elibrary, untuk Walisongo elibrary saya belum pernah menggunakan. Saya juga menggunakan sumber dari eprints (Anggrek, 2022). Hanya saja yang masih menjadi pekerjaan rumah adalah ternyata mahasiswa lebih menyukai perpustakaan digital milik perpustakaan nasional yang ada dalam aplikasi Ipusnas, untuk koleksi ebooks. LITERASI DIGITAL MEMBANGUN LITERASI AKADEMIK Pandemi Covid 19 memaksa mahasiswa untuk menguasai literasi digital, yaitu seperangkat pengetahuan, keterampilan, sikap, kemampuan, strategi, dan kesadaran yang diperlukan saat menggunakan TIK dan media digital untuk melakukan tugas; menyelesaikan masalah utamanya di bidang akademik. Penguasaan literasi digital menjadi mutlak dibutuhkan dalam proses perkuliahan di kelas karena semua media yang digunakan dalam perkuliahan daring berbasis media digital. Tanpa adanya media tersebut, tidak mungkin perkuliahan bisa berlangsung. Media digital yang bisa digunakan mahasiswa ketika mengikuti perkuliahan online berupa smartphones, personal computer, ataupun laptop. Media digital tersebut sangat membantu mahasiswa untuk mendapat pengetahuan terkait bidang tertentu sesuai dengan prodi mereka. Tanpa alat-alat ini, dalam konteks perkuliahan online, sepertinya mustahil mahasiswa bisa ikut aktif dalam perkuliahan. Hal tersebut juga diungkapkan oleh Sharma bahwasannya media digital menjadikan prose belajar mengajar lebih efektif dan efisien sehingga dapat mendorong meningkatnya pendidikan berkualitas47. Di samping itu, dengan media digital yang tersambung internet sangat memudahkan mahasiswa untuk belajar. Mahasiswa yang tidak bisa hadir dalam perkuliahan, atau tidak faham materi yang disampaikan oleh pengajar, bisa mendapatkan materi serupa dari media sosial. Begitu juga keterampilan terkait dengan aktivitas mencatat kuliah, keahlian ini bisa didapat dengan pelatihan atau browsing di website tertentu sebagaimana dikemukakan oleh informan, yaitu: “Bahwa untuk saat ini saya belum pernah mengikuti training atau latihan terkait dengan literasi akademik berupa note-taking. Saya lebih sering belajar atau mencari tahu sesuatu di artikel jurnal atau youtube”. 48 Di sini terlihat keahlian dalam literasi digital sangat membantu penguasaan literasi akademik. Hal ini dikuatkan oleh penelitian bahwa kemampuan literasi digital sangat menentukan prestasi akademik mahasiswa. TANTANGAN LITERASI DIGITAL DALAM MEMBANGUN LITERASI AKADEMIK MAHASISWA Tantangan Literasi digital Menurut ahli dalam teori generasi Codrington 50 menyebut ada tiga generasi manusia berdasar pada kelahirannya, yang kemudian kelompok generasi tersebut diteruskan hingga menjadi lima generasi, yaitu a) Generasi baby boomer yang lahir antara tahun 1946-1964. b) Generasi X yang lahir 1965 1980. c) Generasi Y yang lahir 1981-1994 yang sering disebut sebagi generasi milenial. d) Generasi Z yang lahir antara tahun 1995-2010. e) Generasi alpha yang lahir pada tahun 2011-2025. Berdasarkan pada pembagian di atas, anak-anak yang sekarang menempuh studi di perguruan tinggi adalah mereka yang lahir pada akhir tahun tahun 1990an, yang dikategorikan sebagai generasi Z, iGeneration, GenerasiNet, dan juga Generasi internet. Ciri khas generasi Z adalah melibatkan gadget dan internet dalam aktivitas hariannya. Mereka rata-rata menyukai sesuatu yang instan, nyaman, dan multitasking. Tidak berlebihan bila cara belanja mereka sangat berbeda dengan orang tuanya yang selalu nyata dan riil time. Sementara, generasi Z lebih menyukai belanja dengan cara online. Dan dalam banyak hal, mereka menyukai kepopuleran sehingga terlibat dalam media sosial untuk memperlihatkan gaya mereka terkait dengan fashion dan traveling . Mahasiswa yang menjadi informan dalam penelitian ini merupakan generasi Z yang ciri khasnya adalah tidak terlepas dari gadget dan internet. Senada dengan pandangan di atas, Calvani at al menyatakan bahwa seseorang disebut sebagai pemilik keahlian literasi digital bila memiliki 3 dimensi keahlian yakni teknologi, kognitif, dan etis. Tiga macam dimensi ini krusial bagi seseorang untuk menjamin seseorang tersebut ahli dalam literasi digital. Penelitian ini menggunakan petunjuk (clue) di atas sebagai dasar pelabelan pada mahasiswa yang diwakili oleh para informan. Hasil pendekatan ini menunjukkan bahwa sejak kuliah daring, mereka tidak mengalami kendala dalam penggunaan teknologi guna mendukung proses perkuliahan. Mereka dengan mudah beradaptasi dengan alat yang digunakan dalam kuliah. Bahkan, mereka siap mengikuti semua platform kuliah apapun yang direkomendasi pengajar. Kalaupun ada kendala dalam perkuliahan, sebenarnya bukan pada isu pemanfaatan media digital, tapi lebih pada kuota internet yang harus mereka sediakan. Ternyata kemampuan mahasiswa tidak hanya terbatas dalam penggunaan media digital saja. Mereka juga mampu mengeksplorasi informasi ilmiah sesuai kebutuhan kuliah. Terlebih UPT Perpustakaan UIN Walisongo menyediakan informasi dalam berbagai format, baik cetak maupun digital. Mereka bisa memanfaatkan Wa Bot untuk mengetahui judul, pengarang, dan tema buku cetak. Dengan media ini, mereka juga bisa tahu karya lokal civitas akademika UIN Walisongo berupa karya akhir mahasiswa dalam bentuk skripsi, tesis, disertasi, dan artikel jurnal. Hanya saja, mereka jarang menggali informasi dari perpustakaan yang ada dalam aplikasi Walisongo E-library. Mereka merasa lebih nyaman mengunjungi perpustakan digital milik Perpustakaan Nasional RI. Ada dua hal yang mendasari mengapa mereka cenderung jarang memanfaatkan Walisongo E_library, yaitu pertama, karena jumlah judul ebooks dalam aplikasi tersebut, secara kuantitas kurang lengkap seperti koleksi Perpustakaan Nasional RI. Kedua, aplikasi milik perpustakaan tidak lebih mudah dalam pengoperasiannya dibanding dengan iPusnas Perpustakaan Nasional RI. Kenyataan ini memberi peringatan kepada UPT Peprustakaan bahwa perpustakaan digital yang ada dalam aplikasi Walisongo E-library memerlukan perhatian serius agar media ini bisa dijadikan referensi utama oleh mahasiswa UIN Walisongo. Pemanfaatan media digital bisa dilakukan oleh siapa saja secara bebas. Namun, suatu kebebasan yag dimiliki seseorang pasti dibatasi oleh kebebasan orang lainnya. Untuk itulah perlu adanya etika dalam pemanfaatan media digital. Etika merupakan prinsip-prinsip moral yang mengatur perilaku seseorang untuk melakukan suatu kegiatan. Etika diperlukan untuk melindungi seseorang dan orang lainnya, termasuk di dalamnya menjaga data pribadi, menghormati orang lain, serta memahami pergaulan dalam dunia maya. Isu etika dalam penggunaan media digital juga dipahami oleh para mahasiswa dengan baik. Mereka menyadari etika yang harus dijaga dalam menggunakan media digital. Terbukti, biarpun mereka punya banyak akun media sosial, namun tetap menjaga etika dalam penggunaannya. Sikap yang diambil oleh para informan menarik karena secara naluriah, mereka sebagai bagian generasi Z yang sering membuka privasinya kepada publik untuk suatu ketenaran. Namun faktanya, mereka menggunakan sosial media bukan untuk pamer data pribadi diri maupun keluarga mereka. Tantangan literasi akademik (Penyusunan Makalah Atau Esai) Kegiatan yang paling menyita perhatian dalam perkuliahan adalah penyusunan makalah. Makalah dalam perkuliahan merupakan karya tulis sebagai laporan pelaksanaan tugas kampus53. Makalah bisa berdasarkan pada penelitian lapangan maupun penelitian literatur. Di samping itu, tugas lain yang mirip dengan makalah adalah esai, yaitu model penulisan yang membahas tentang suatu topik tertentu beradasar pada pandangan pribadi penulisnya. Secara teoritis, informan menyampaikan bahwa mereka harus melihat dan membaca berbagai literatur sehingga menemukan artikel yang bisa dijadikan sebagai model. Kesamaan tema dan model akan menuntun mahasiswa membuat artikel yang baik sesuai dengan kaidah penulisan karya ilmiah. Berdasar pada artikel jurnal tersebut, mereka mencoba memparafrase kalimat dan paragraph sehingga dapat menghindarkan diri dari kesamaan redaksi dengan artikel yang menjadi induk panutan. Mengingat setiap karya ilmiah menggunakan sitasi sebagai pengakuan dan penghormatan karya cipta peneliti lain, maka mahasiswa juga melakukan cara serupa, yaitu mengutip karya orang lain tersebut dengan bantuan aplikasi reference manager. Pemanfaatan reference manager sangat memudahkan dalam pengutipan, baik dengan in note maupun footnote. Walaupun begitu, sebagian besar mahasiswa masih belum memanfaatkan fasilitas ini dengan baik. Sepertinya mereka masih menggunakan cara manual dengan mengkopi sitasi karena hampir setiap artikel ada fasilitas copy untuk pengutipan sitasi. Informan juga menyadari sepenuhnya bahwa artikel yang baik tidak mengandung kesamaan redaksi dan isi dengan karya orang lain. Tingkat kesamaan ini bisa dicek menggunakan aplikasi tertentu yang dinyatakan dalam prosentase. Menurut pandangan mereka, prosentase kesamaan yang bisa mendapat toleransi adalah antara 20% sampai dengan 30%. Pandangan di atas memperlihatkan bahwa sebenarnya mahasiswa sangat tahu bila pengambilan pendapat orang lain dengan cara “copy paste” baik isi dan redaksinya secara bersamaan dan dalam jumlah yang banyak merupakan hal yang tidak etis. Namun demikian, isu similarity ini sangat menarik buat peneliti. Secara teoritis pula, mahasiswa sangat tahu bahwa prosentasi kesamaan teks tulisan yang tinggi dengan orang lain cenderung menjadi bagian tindakan plagiasi, yaitu karya orang lain yang diakui sebagai karya sendiri. Dalam berbagai kesempatan, peneliti mengecek tugas esai mahasiswa dengan aplikasi similarity check. Hasilnya bervariasi seperti terlihat dalam laporan berikut: Gambar IV. 8 Similarity check report Gambar di atas mengilustrasikan bahwa prosentasi kesamaan tulisan mahasiswa dengan karya orang lain sangat tinggi. Laporan di atas dengan sangat jelas menunjuk prosentasi 47 % sampai dengan 99%. Prosentasi 47% memperlihatkan bahwa kontribusi mahasiswa dalam penyusunan suatu karya hanya separuh dari seluruh tulisan. Artinya, dia hanya berkontribusi pemikiran dan tulisan hampir lima puluh persen dari tulisan yang dia akui sebagai karyanya. Sama halnya dengan prosentasi 99% yang menunjukkan bahwa penulis artikel ini tidak berkontribusi sama sekali terhadap tulisan yang dia akui sebagai karyanya. Ada indikasi bahwa tulisan hanya diperoleh dengan mengcopy paste dari orang lain. Prosentase sembilan puluh sembilan bermakna penulis tidak berkontribusi sama sekali terhadap hasil penulisan. Bila dihitung kontribusi penulis, sebenarnya dia hanya mengubah nama penyusun asli dengan namanya. Dalam jangka pendek, cara ini terlihat menguntungkan dengan pertimbangan seseorang bisa mengumpulkan tugas pada pengajar. Bila cara ini dibiarkan, tentu akan mendatangkan bencana akademik dimana anggota civitas akademika tidak menghasilkan karya, tapi hanya melakukan cloning karya orang lain. Ada juga tren tertentu ketika diadakan cek kesamaan karya dengan tool similarity check sebagai berikut: 76 Laporan tersebut mencatat bahwa prosentase kesamaan menunjuk pada 0% sampai 7 %. Sekilas, prosentase ini mengagumkan karena cek kesamaan yang muncul menunjuk pada prosentase yang sangat rendah. Angka 0 persen berarti tidak ada satu katapun yang memiliki kesamaan dengan kata orang lain. Seorang penulis yang tidak memiliki kesamaan redaksi sama sekali dengan karya orang lain, bisa dipastikan bila dia mampu melakukan paraphrase atas semua kalimat yang tersusun dalam karya ilmiahnya. Menurut peneliti, angka 0 % adalah angka kemustahilan dimana tidak mungkin seseorang menyusun kata-kata untuk membentuk kalimat, lalu menjadi paragraph, tidak punya kesamaan sama sekali dengan redaksi karya orang lain. Begitu juga angka 7 % yang menurut pandangan peneliti agak mustahil didapat dari mereka yang baru belajar membuat makalah ilmiah. Peneliti curiga terhadap laporan similarity check yang menunjuk prosentase yang begitu rendah dengan pertimbangan bahwa mereka belum terbiasa menulis ilmiah. Peneliti juga menduga mereka melakukan manipulasi terhadap karya tulisan

Conclusion

Salah satu hal yang membuat peneliti tertarik untuk mengadakaan penelitian literasi digital adalah kekhawatiran peneliti pada mereka yang barangkali hanya punya alat saja namun tidak bisa mengoperasikan alat-alat tersebut secara baik. Terlebih, dalam dua tahun terakhir, pandemi Covid 19 melanda Indonesia yang memaksa mereka untuk melakukan perkuliahan secara daring. Ternyata kekhawatiran peneliti terhadap kemampuan mahasiswa dalam penguasaan media digital tidak beralasan. Berdasarkan pada penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa: 1. Mahasiswa sangat mahir dalam menggunakan alat ataupun aplikasi yang digunakan dalam perkuliahan. Mereka tidak merasakan kesulitan beradaptasi terhadap alat atau tool. Kemampuan mereka dalam mencari informasi juga bagus. Terbukti, mereka bisa menggali sumber informasi ilmiah yang disediakan oleh perpustakaan ataupun open saurces lainnya. Mereka juga mampu melaksanakan e-safety yang merupakan bagian penting dari literasi digital itu sendiri. Bukti ini menunjukkan bahwa mereka menguasai literasi digital dari berbagai dimensi, yaitu dimensi teknologi, dimensi kognisi, dan dimensi etis. 2. Mahasiswa secara alami bisa membaca dan menulis, yang memang sudah menjadi bagian ketrampilan yang mereka miliki sejak dari sekolah. Berbekal kemampuan ini, mereka menjalani kuliah dengan baik, terlebih bila mengacu pada prestasi akademik mereka yang rata-rata indeks prestasi akademiknya menunjuk pada angka 3,0 lebih. Hal ini menunjuk prestasi akademik mereka sangat baik. Namun demikian bila detail keahlian literasi akademik ditanyakan kepada mereka, maka sebenarnya mereka tidak punya bekal memadai untuk keahlian literasi akademik tersebut. Keahlian akademik ini mencakup active reading, note-taking, critical reflection, dan membuat presentasi. Lebih dari itu, keahlian akademik juga berupa kemampuan menuangkan ide yang berasal dari informasi yang dibacanya dalam bentuk tulisan maupun dan lisan. 3. Lebih dari itu, penelitian ini menunjukkan bahwa keahlian mahasiswa dalam menguasai literasi digital sangat mendukung keahlian literasi akademik. Penguasaan literasi akademik tidak mungkin bisa dicapai dengan baik tanpa penguasaan literasi digital terlebih di masa-masa pandemic covid 19. 4. Ada tantangan yang harus dihadapi terkait dengan literasi digital dan literasi akademik. Sebenarnya, nyaris tidak ada tantangan digital yang dihadapi oleh mahasiswa karena faktanya mereka memiliki dan mampu mengoperasikan media digital. Hanya yang dihadapi mereka adalah paket data yang digunakan untuk menghubungkan alat atau media digital dengan internet. Tantangan sebenarnya yang dihadapi mahasiswa adalah pada penyusunan karya ilmiah yang merupakan bagian penting dari tugas kuliah. Penyusunan karya ilmiah menjadi sulit bagi mahasiswa karena mereka tidak mendapat pelatihan yang memadai. Berdasar pada kenyataan ini, peneliti merekomendasikan agar ada kebijakan khusus di tingkat universitas dan fakultas untuk secara bersama agar memberi pelatihan terhadap literasi akademik, yaitu pada kegiatan active reading, note-taking, dan yang paling utama adalah penulisan ilmiah. Pelatihan ini merupakan cara paling taktis untuk menghindarkan diri dari berbagai macam bentuk plagiasi. Peneliti khawatir bahwa bila tidak ada bimbingan disertai pelatihan yang memadai, mahasiswa yang menulis makalah ilmiah akan mengalami masalah besar. Dan celakanya pula, ketika tulisan mereka “tertangkap” oleh aplikasi similarity check, mereka tidak berusaha melakukan paraphrase atau menggunakan redaksi sendiri, tapi malah sibuk membuat trik agar tulisannya luput dari jeratan aplikasi similarity check.