Identifikasi dan Preservasi Digital Manuksrip Turots oleh TIM Nahdlatut Turots dan Turots Center Universitas Yudharta di Wilayah Pasuruan
Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang; Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Abstrak
Turots memiliki nilai penting bagi bangsa Indonesia karena selain berisi ajaran agama Islam juga mengandung sejarah. Kesadaran akan pentingnya menjaga turots terlihat dari kegiatan identifikasi dan preservasi digital yang dilakukan oleh Nahdlatut Turots dan Turots Center Universitas Yudharta Pasuruan (UYP). Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan mengetahui proses Preservasi Digital manuksrip turots yang dilakukan oleh Nahdlatut Turots dan Turots Center UYP. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Penelitian ini difokuskan pada manuskrip yaitu turots karya-karya ulama yang telah dihimpun oleh Turots Center UYP dengan bekerja sama dengan Nahdlatut Turots. Metode wawancara danmetode observasi digunakan untuk mengumpulkan data dilapangan. Penelitian ini menunjukkan bahwa Nahdlatut Turots dan Turots Center UYP melakukan identifikasi dan preservasi digital dimulai dengan melakukan penelusuran turots. Setelah mendapatkan turots maka dilakukan identifikasi baik secara fisik maupun nasab. Selanjutnya dilakukan katalogisasi untuk mendeskripsikan turots. Tim turots kemudian mempreservasi turots tersebut dan melakukan digitalisasi. File digital turots kemudian dipublikasikan di Turots Corner.</p>
Abstract
Turots have important value for the Indonesian people because apart from containing Islamic religious teachings, they also contain history. Awareness of the importance of turots can be seen from digital identification and preservation activities carried out by Nahdlatut Turots and Turots Center Yudharta University Pasuruan (UYP). This research aims to identify and understand the process of Digital Preservation of Turots carried out by Nahdlatut Turots and Turots Center UYP. The method used in this research is descriptive qualitative with a case study approach. This research focuses on manuscripts, namely turots of the works of ulama which have been written by the UYP Turots Center in collaboration with Nahdlatut Turots. Interview methods and observation methods were used to collect data in the field. This research shows that Nahdlatut Turots and the UYP Turots Center carry out digital identification and preservation starting by conducting turots searches. After getting the turots, identification is carried out both physically and by lineage. Next, cataloging is carried out to describe the turot. The turots team then preserved the turots and digitized them. The digital turots files are then published in Turots Corner.
Keywords:
Islamic manuscripts
· turots
· digital preservation
Introduction
Islam sebagai agama Rahmatan Lil ‘Alamin menempatkan ilmu pengetahuan dibagian tingkatan tertinggi. Hal tersebut sebagaimana yang Allah firmankan salah satunya dalam QS. Al-Mujadalah ayat 11 bahwa Allah akan meninggikan derajat orang yang beriman dan berilmu beberapa derajat baik di dunia dan di akhirat. Bahkan diriwayatkan dari Anas bin Malik Rasulullah SAW bersabda “Tuntutlah ilmu walau ke negeri Cina” hal tersebut dapat dimaknai bahwa menuntut ilmu merupakan kewajiban atas setiap muslim. Proses kegiatan ta’lim al-muta’alim begitu sangat dijunjung tinggi. Beranjak dari perkembangan agama Islam sangat banyak perubahan budaya yang terjadi khususnya berkaitan dengan ilmu dan kegiatan ta’lim al-muta’alim. Awal lahir agama Islam kegiatan pembelajaran atau ta’lim al-muta’alim memberikan penekanan pada tradisi baca tulis. Perintah baca tulis dalam konteks agama islam berkaitan dengan pentingnya ilmu bagi seorang muslim dan pentingnya upaya pelestarian ilmu pengetahuan untuk kehidupan generasi selanjutnya. Perlu diketahui secara bersama bahwa tradisi baca tulis ini juga merupakan salah satu prioritas Nabi Muhammad SAW dikalangan kaum muslimin kala itu. Terlihat budaya tulis menulis yang berkembang berupa penulisan wahyu yaitu Al-Qur’an dan hadist nabi, kegiatan perekonomian masyarakat meliputi: utang-piutang, transaksi dagang, perjanjian, dan surat menyurat1. Seiring dengan perkembangan Islam setelah Nabi Muhammad SAW wafat tidak dapat kita pungkiri sangat banyak karya-karya ulama. Ada sebutan bahwa al-ulama warasatul anbiya, dimana ulama sebagai penerus nabi Muhammad SAW dapat dilihat dari karya torehan beliau tentang islam dengan berbagai bidang ilmunya. Nusantara atau sekarang yang kita kenal dengan negara Indonesia menjadi sebuah negara dengan penduduk tebesar beragama Islam telah banyak melahirkan ulama-ulama besar dengan karyanya. Sebagaimana kita ketahui banyak ulama-ulama kita yang sampai saat ini masih populer namanya seperti Asy-Syekh Muhammad Nawawi (Syekh Nawawi al-Banten) karena produktifnya beliau dalam bentuk karya-karya tulis sampai dijuluki Sayyid Ulama al Hijaz, tidak main-main karya beliau yaitu sekitar 115 kitab baik meliputi ilmu fiqih, tauhid, tasawuf, tafsir maupun hadis. Adapun Hadratussyeikh Hasyim Asya’ri pendiri Pondok Pesantren Tebu Ireng dan Nahdlatu Ulama, dimana beliau cukup bayak memiliki karya beberapa diantaranya yang cukup terkenal yaitu Adab al-Alim wa al-Muta’alim, Risalah Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah dan lain sebagainya. Pada perkembangannya Islam di Indonesia ini tidak dapat terpisahkan dengan dunia pesantren, banyak karya-karya ulama yang dihasilkan dan ditemukan di pondok-pondok pesantren. Hasil penelitian Kementerian Agama pada tahun 2011 terkait inventarisasi karya ulama menunjukkan bahwa ditemukan sejumlah 302 karya ulama yang tersebar diwilayah pesantren pesantren di Indonesia dengan rincian 67 karya ulama Sulawesi Selatan, 53 karya ulama Jawa Timur, 62 karya ulama Jawa Tengah, 29 karya ulama Jawa Barat, 60 karya ulama Sumatera Selatan, dan 31 karya ulama Aceh2.Berdasarkan pada jumlah total karya tersebut dapat dilihat bahwa fikih menempati prosentase terbesar yaitu 33,11% dengan total 100 buku. Perlu dipahami bersama bahwa inventarisasi karya-karya ulama pesantren yang dilakukan oleh Kementerian Agama tersebut sebagian besar merupakan karya yang telah terpublikasikan. Tidak menutup kemungkinan masih banyak karya-karya ulama yang masih tersimpan di pondok-pondok pesantren dan perlu mendapatkan perhatian. Karya ulama yang telah ditemukan banyak yang masih berupa naskah hasil tulisan tangan asli yang biasa kita sebut dengan istilah turots. Amin mengungkapkan bahwa naskah-naskah Islam atau yang kita sebut turots selain sebagai warisan khazanah di Nusantara, juga dapat membuka pengetahuan berbagai aspek Islam di Indonesia mulai dari sejarah sosial hingga pemikiran dan intelektualisme Islam, dimana cara pandang kita terhadap Islam nantinya akan diarahkan kepada cara pandang dengan kacamata lokal (from within)3.Hal ini cukup menarik dari penelitian yang dilakukan oleh Iswanto diwilayah Banyuwangi bahwa terdapat sebuah keluarga tepatnya di Dusun Delik II, Desa Jambesari, Kecamatan Giri, Kabupaten Banyuwangi Jawa Timur, dimana keluarga tersebut memiliki sebuah tradisi membaca naskah yang diwariskan dari leluhurnya4. Naskah manuksrip turots hasil warisan keluarga yang dibaca tersebut merupakan naskah hadits tentang dagang dan naskah tersebut dibaca setiap tanggal 10 Zulhijjah setelah Idul Adha. Tidak dapat kita nafikkan bahwa kajian naskah-naskah Islam berupa turots sangatlah penting. Bukan tidak mungkin ketika kita kurang peduli terhadap karya-karya tersebut, bangsa lain akan lebih cepat meliriknya dan bahkan bisa jadi diakuisisi sebagaimana yang terjadi di masa kelam. Dapat kita lihat sangat banyak manuskrip – manuksrip milik bangsa Indonesia ternyata malah ada di luar negeri. Leiden University Libraries contohnya, ketika kita melakukan pencarian tentang manuksrip Indonesia terdapat 138 manuskrip yang ditemukan diantaranya seperti History of Java by Pangeran Dipa Nagara, Qur’an with Javanese Translation dan lain sebagainya. Dalam studi yang dilakukan oleh terkait manuksrip-manuksrip yang juga dijumpai di Perpustakaan Iran, bahkan ketika dikaji manuksrip-manuksrip tersebut merupakan manuksrip yang sebagian besar adalah teks Arab dengan terjemahan interlinear dalam bahasa Jawa (aksara Arab)5.State Library Victoria pada tahun 2012 menyimpan sejumlah 50 naskah Islam (turots) yang terdiridari 22 Al-Qur’an dan 28 teks termasuk doa, tafsir dan kisah para nabi, dalam informasinya naskah tersebut berasal dari Asia Tenggara dan India serta sebagian besar dari Indonesia dengan perkiraan akhir abad 196. Kesadaran-kesadaran akan pentingnya manuksrip di Indonesia kini mulai tumbuh dan berkembang. Hal tersebut dilakukan karena memgingat penting dan berharganya manuksrip-manuksrip khusunya diwilayah Nusantara ini sebagai hasil warisan budaya. Kalsum dan Rachmadini mengungkapkan bahwa saat ini adanya ancaman yang serius terkait diskontinuitas aksara kuno pada naskah Islam Melayu, hal tersebut terjadi karena selama ini upaya pelestarian cenderung diabaikan7.Beberapa lembaga baik ditingkat pemerintah, swasta maupun komunitas kini mulai bermunculan bergerak untuk melakukan penelusuran sampai pada tahap preservasi. Berkaitan dengan turots salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia Nahdlatul Ulama mulai membentuk sebuah lembaga yang khusus untuk menaungi bidang kemanuksripan ulama nusantara yaitu Nahdlatut Turots. Kepedulian dan keseriusan Nahdlatul Ulama terhadap keberadaan turots ini direalisasikan dengan pembentukan Nahdlatut Turots tersebut secara resmi diacara Muktamar ke-34 Nahdlatul Ulama Bandar Lampung, dimana dalam acara tersebut diselenggarakan seminar Nahdlatut Turots. Mengutip dari NU Online Jateng, 22 Desember 2021, Kepala Pengasuh Pesantren Al-Hamidiyah Depok Prof. KH. Prof Oman Fathurrohman menilai Nahdlatut Turots memerlukan banyak kekuatan, keinginan, dan semangat yang tinggi dengan harapan besar banyak santri yang melakukan pengkajian teks keislaman seperti sastra, fiqih, tasawuf, dan lain sebagainya8. UYP (Universitas Yudharta Pasuruan) sebagai salah satu Universitas dibawah naungan Nahdlatul Ulama membentuk Turots Center tepatnya pada 11 November 2022. Turots Center UYP ini merupakan suatu unit yang tergolong baru ditingkat universitas dimana difungsikan untuk melestarikan dan mendakwahkan karya-karya ulama nusantara, baik berupa cetak atau digital untuk dipublikasikan kepada mahasiswa dan masyarakat umum. Dalam menjalankan tugasnya Turots Center UYP ini saling bekerjasama dengan pihak terkait salah satunya dengan Nahdlatut Turots. Sejauh ini Turots Center UYP melakukan penelusuran tentang turots khususnya di wilayah Pasuruan dan kemudian dilakukan proses identifikasi serta sampai proses preservasi turots bersama dengan Nahdlatut Turots. Perkembangan terbaru yaitu ditemukan naskah turots seorang ulama yang disepuhkan di daerah Winongan Kabupaten Pasuruan yaitu Mbah Abu Dzarrin. Secara fisik turots karya Mbah Abu Dzarrin tersebut sudah berbentuk buku dari catatan tangan asli beliau. Turots tersebut dikumpulkan dengan kondisi yang perlu dilakukan perawatan lebih lanjut karena sudah tersimpan dalam jangka waktu yang cukup lama. Turots Center UYP dan Nahdlatut Turots bekerjasama untuk melakukan preservasi sekaligus juga melakukan alih media dalam bentuk digital turots Mbah Abu Dzarrin tersebut. Berdasarkan latar belakang tersebut terkait upaya didalammenyelamatkan naskah khususnya berupa turots sebagai khazanah keislaman. Berangkat dari latar belakang tersebut dalam konteks ini peneliti ingin melakukukan identifikasi dan mengetahui proses Preservasi Digital Manuksrip Turots di Wiayah Pauruan yang dilakukan oleh TIM Nahdlatut Turots dan Turots Center Universitas Yudharta di Wilyah Pasuruan.
Method
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi kasus, dimana penelitian kualitatif merupakan metode penelitian yang dilakukan pada kondisi alam (natural setting) dan teknik pengumpulan datanya dilakukan dengan triangulasi yaitu menggunakan berbagai teknik pengumpulan data secara kombinasi9. Penelitian ini fokus pada manuskrip yaitu turat karya ulama yang dikumpulkan oleh UYP Turots Center bekerja sama dengan Nahdlatut Turots diwilayah Pasuruan. Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan melalui observasi dan wawancara terhadap informan terkait. Observasi dilakukan dengan mengamati proses preservasi digital yang dilakukan. Sedangkan proses wawancara dilakukan untuk menggali informasi mendalam mengenai preservasi digital. Wawancara tersebut melibatkan informan yang berkaitan secara langsung dengan proses kegiatan preservasi digital.
Result
Turots Center UYP (Universitas Yudharta Pasuruan) merupakan suatu tim yang secara khusus dibentuk awal tahun 2023 dengan berdasar pada SK Rektor UYP. Berdasar hasil wawancara yang dilakukan oleh peneliti diketahui bahwa latar belakang dibentuknya Turots Center UYP adalah berangkat dari adanya kegiatan Nahdlatut Turots yang akan melakukan identifikasi turots di wilayah kota dan Kabupaten Pasuruan. Melalui jalinan komunikasi salah satu pimpinan Universitas akhirnya digandenglah pihak UYP dalam melakukan proses identifikasi turots tersebut. Secara struktur organisasi Turots Center UYP terdiri dari berbagai bidang keilmuan. Mereka-mereka yang tergabung dalam tim terdiri dari dosen dengan berbagai sub disiplin, para pengelola data UYP seperti Pustakawan, tenaga IT dan juga dibantu dengan rekan-rekan mahasiswa. Hal tersebut dilakukan karena proses mulai penemuan sampai pengelolaan naskah tidak hanya cukup dilakukan oleh mereka yang ahli dibidang bahasa arab dan agama Islam saja. Namun dalam hal ini diperlukan proses-proses teknis dan pengelolaan dengan berbasis teknologi yang tentunya membutuhkan kemampuan dari subdisiplin ilmu nonAgama (umum). Center Berbicara sejarah perkembangan sebenarnya cikal bakal di bentuk Turots UYP ini adalah pada tahun 2022 awalnya pihak pimpinan UYP menugaskan perpustakaan untuk membuat Turots Corner. Turots Corner yang dibuat ini merupakan ciri khas perpustakaan UYP, dimana berbagai turots dikumpulkan, diolah dan dilakukan proses penyajian. Turots pada awal mulanya diperoleh dari pimpinan yang kebetulan beliau juga merupakan salah satu pengurus wilayah Nahdlatul Ulama di Wilayah Jawa Timur. Sampai sejauh ini ada beberapa karya yang berhasil dihimpun dan telah dimasukkan ke dalam katalog online Perpustakaan UYP https://perpustakaan.yudharta.ac.id/katalog/. yang beralamat di Adapun beberapa contoh daftar koleksi yang sudah dihimpun oleh Turots Corner antara lain sebagai berikut: Tabel 1. Daftar Koleksi Turots Corner Perpustakaan UYP (sebagian) Judul Risalah ahlussunnah wal jamaah Adabul alim wa muta’alim Zahratul murid fi aqaid at tauhid Waisyah al afrah Waq’atul qalam min bahril kalam Uqudul lujain jawi Tashil nail al amani Taqrib al ghafilin Syarah ushul at tahqiq Qawaid ad din Sumber: Data koleksi Perpustakaan UYP Turots yang telah terhimpun dalam Turots corner tersebut dilakukan proses katalogisasi sampai pada digitalisasi dan dikelola dalam sistem Perpustakaan UYP. Dalam hal ini pihak perpustakaan juga berkolaborasi dengan pihak-pihak terkait yang lebih memahami teks berbahasa arab. Perpustakaan dalam konteks ini bekerjasama dengan para dosen bahasa Arab maupun tenaga kependidikan yang memang pakar di bidangnya. Adanya Turots Center kedepannya diambil kebijakan untuk koleksi yang terdapat di Turots Corner akan dijadikan satu dengan Turots Center . Gambar 1. Kitab Ziyadat Ta’liqat ‘ala Mandzumah Sumber: Data koleksi Perpustakaan UYP Gambar 1 merupakan contoh Kitab Ziyadat Ta’liqat ‘ala Mandzumah merupakan salah satu contoh koleksi Turots Corner karya Syaikh Abdullah bin Yasin al-Fasuruani. Kitab ini adalah kita yang secara intens berbicara terkait syarat, rukun atau aspek-aspek hukum yang terkait dengan bab masalah pernikahan. Secara kondisi kitab sudah melalui proses alih media dari bentuk tercetak ke bentuk digital.
Discussion
Berbicara mengenai kegiatan melakukan preservasi dan identifikasi manuksrip khususnya berupa Turots menjadi sebuah tantangan tersendiri. Menurut Ayuba menjadi sebuah tantangan utama yang lazim dihadapi ketika pengumpulan dan pelestarian sebuah naskah, naskah disimpan oleh pemilik didalam kotak atau lemari kayu atau besi tempat manuksrip dikurung, dan tidak jarang manuksrip tersebut ditempatkan ditempat terbuka sehingga menjadi faktor terbesar terjadinya kerusakan seperti diserang tikus, rayap atau kecoa10. Selain itu juga tidak jarang sang pemilik menolak untuk diketahui lebih lanjut terkait dengan manuksrip yang dimilikinya, alasannya yaitu manuksrip tersebutmenupakan benda yang disakralkan sehingga tidak semua orang bisa mengaksesnya hanya golongan tertentu dan melalui ritual secara khusus. Gambar 2. Strategi Identifikasi dan Preservasi Turots oleh Tim Sumber: Hasil olahan Peneliti Gambar II merupakan proses identifikasi dan preservasi yang dilakukan oleh Nahdlatut Turots dan Turots Center UYP. Berbicara perkembangan terkait Turots Center , sejauh ini kegiatan Turots Center yang sudah berjalan baru dua kegiatan tersebut, dimana mereka yang dilibatkan dalam kegiatan identifikasi dan preservasi digital oleh Nahdlatut Turots LTN NU Jatim. Naskah Turots yang sedang mereka preservasi adalah karya Mbah Abu Dzarrin dan karya Kyai Pondok Pesantren Canga’an Bangil. Dalam pelaksanaanya tim melakukan kegiatan dengan berdasar hukum SK rektor dan bergerak dengan dasar surat penugasan dari UYP. Adapun beberapa proses identifikasi dan preservasi yang dilakukan dijabarkan dalam penjelasan sebagai berikut: Proses Identifikasi Teknis pelaksanaan kegiatan identifikasi dan preservasi turots dimulai dengan proses pencarian turots secara bergerilya ke pesantren, makam, ndalem ataupun tempat-tempat yang disana ada kemungkinan jejak peninggalan ulama. Proses identifikasi dalam pencarian atau penelusuran naskah turots dilakukan tidak hanya dengan pemetaan lokasi turots, namun juga pemetaan secara nasab sanad keilmuan. Dalam kontkes identifikasi tirats di wilayah Pasuruan ini proses dimulai dari melihat sanad keilmuan Syaikhona Kholil, yaitu siapa saja yang termasuk dari guru-guru beliau, hubungan beliau dengan para ulama’ terdauhu diwilayah pasuruan ataupun tempat/pesantren dimana beliau pernah berguru. Hasil identifikasi oleh tim Nahdlatut Turots LTN NU Jatim, menurut sumber akhirnya dipetakan di 2 tempat yang kemungkina besar terdapat sebuah manuskrip turots yaitu Pesarean Mbah Abu Dzarrin dan Kyai Pondok Pesantren Canga’an Bangil secara sanad ternyata ada keterkaitan dengan Syaikhona Kholil Bangkalan, dimana Syaikhona Kholil sendiri merupakan ulama besar dan tersohor pada masanya dengan kealiman dan karya-karya beliau. Pondok Pesantren Canga’an Bangil sendiri merupakan pondok tertua di Bangil dimana dua ulama besar seperti dengan Syaikhona Kholil Bangkalan dan Haratussaikh KH. Hasyim asy'ari pernah mondok disana. Sedangkan Mbah Abu Dzarrin menurut informasi beliau ternyata juga merupakan guru dari Syaikhona Kholil Bangkalan. Bahkan sewaktu masih kecil Syaikhona sempat diajak oleh ayah beliau untuk tabarukan ke Mbah Abu Dzarrin tersebut. Dua lokasi yang telah ditemukan dapat dikatakan bahwa keduanya memiliki keterkaitan erat secara sanad keilmuan dengan Syaikhona Kholil Bangkalan dan Haratussai KH. Hasyim asy'ari. Dari silsilah sanad keimuan tersebutlah Turots Center UYP menemukan manuskrip yang telah tersimpan. Silsilah sanad keilmuan ini memang erat kaitannya dengan tradisi yang ada didalam pendidikan pesantren khusunya pesantren yang berbasis salafiyah. Sebagaimana diketahui bahwa Kyai sebagai pemimpin dan memegang peranan yang cukup sentral dalam sistem pendidikan pesantren, maka apa yang menjadi ciri khas pesantren tersebut sangat berkaitan dengan kyai sebagai pemimpin11. Proses Katalogisasi Katalogisasi yang dilakukan oleh tim menggunakan pendekatan kodikologi dan tekstologi secara berkolaborasi dalam satu tim. Pendekatan kodikologi dan tekstologi dianggap penting karena untuk melihat secara detail pada bentuk karakteristik seperti teks pada naskah kuno12.Proses katalogisasi disini yaitu proses pendeskripsian turots berdasarkan informasi-informasi yang didapat dari identifikasi yaitu dengan metode tashih. Dalam melakukan katalogisasi tim melakukan kolaborasi berbagai keilmuan yang meliputi bahasa Arab, literatur jawa dan ilmu budaya serta pustakawan untuk melakukan proses pengindeksan dokumen. Kegiatan pertama yang dilakukan adalah melakukan pemilahan naskah berdasarkan judul ataupun bidang yang telah teridentifikasi. Contoh kasus yang menarik adalah pada turots karya Mbah Abu Dzarrin, bahwa turots karya beliau beberapa ada yang dalam satu jilid buku namun dengan judul dan bidang kajian yang berbeda-beda. Akhirnya disini dilakukan pemilahan terlebih dahulu dengan berdasar perbidang kajian. Setelah melakukan proses pemilahan dengan berdasarkan informasi yang telah dilakukan proses identifikasi, barulah tim melakukan proses katalogisasi. Katalogisasi yang dilakukan yaitu pengkatalogan deksriptif, dimana melakukan pendeskripsian manuksrip turots dengan mengacu kepada beberapa point-point informasi yang tersapat dalam Turots. Dalam proses ini mengkolaborasikan anatara keilmuan filologi dengan kepustakawanan, khususnya konsep katalogisasi dokumen. Beberapa point didalam pendeksripsian turots dalam proses katalogisasi di gambarkan sebagai berikut: Gambar 3. Point Item dalam Katalogisasi Manuksrip Sumber: Hasil olahan Peneliti Dalam hal pendeskripsian bibliografi dari proses katalogisasi ini dilakukan secara kolaboratif yaitu pustakawan dengan para dosen yang ahli di bidang bahasa khususnya bahasa Arab. Setelah proses pendeskripsian telah dilakukan baru dilakukan proses perekapan dan entri data dalam sistem komputer. Namun sejauh ini proses entri data masih bersifat manual yaitu menggunakan Microsoft Excel. Proses entri data pada sistem komputer dilakukan secara langsung oleh pihak Nadlatut Turots, dimana tim sudah membawa beberapa perangkat laptop sebagai media didalam pendataan. Gambar 4. Menunjukkan proses katalogisasi yang dilakukan oleh tim pada karya-karya Mbah Abu Dzarrin. Gambar 4. Proses Katalogisasi Karya Mbah Abu Dzarrin Sumber: TIM Nahdlatut Turots Secara kondisi turots yang ditemukan memang butuh upaya preservasi secara khusus mengingat usianya yang sudah mencapai puluhan tahun. Bahan kertas yang ditemukan pada turots sebagian besar menggunakan kertas daluang yaitu kertas yang terbuat dari pohon saeh. Daluang merupakan kain kulit kayu yang halus dan memiliki sejarah panjang untuk digunakan sebagai bentuk pakaian dan sebagai membawa citra wayang beber sebagai bentuk teater tradisional Indonesia13. Model bahan kertas seperti ini akan sangat sulit sekali untuk kita temukan di era sekarang ini apa lagi jika mencari literatur-literatur yang berbahan tersebut. Gambar 5. Turots Mushaf Al-Qur’an Mbah Abu Dzarrin Sumber: TIM Nahdlatut Turots Gambar 5 merupakan salah satu contoh turots yaitu mushaf Al-Qur’an yang ditemukan oleh tim turots di Pesarean Mbah Abu Dzarrin. Beberapa informasi hasil katalogisasi yang bisa disebutkan seperti bahan media kertas digunakan dalam mushaf al-qur’an tersebut adalah menggunakan kertas daluang dengan bahan yang halus hampir seperti kapas. Warna kertas dikarenakan memang diperkirakan usianya sudah cukup lama, kertas sudah cokelat kehitaman dengan bagian pinggir yang sudah pecah-pecah yang tentunya secara kondisi sudah sangat rapuh rawan rusak. Jumlah baris perhalaman sebagian besar 15 baris dengan penulisan pada ayat al-qur’an menggunakan tinta hitam tebal dan ukuran tulisan besar serta memiliki ukuran 32 x 19,5 cm dengan menggunakan satu warna hitam pada penulisan huruf tebal. Walaupun kondisi secara fisik khususnya bagian pinggir yang sudah terlihat terkikis, namun dari segi isi per juz masih cukup lengkap dengan tulisan ayat yang masih terbaca dengan jelas. Proses katalogisasi turots ada beberapa prosedur yang dilakukan oleh tim turots yaitu pertama kali sebelum melakukan proses seluruh tim turots melakukan wudu terlebih dahulu. Hal tersebut dilakukan sebagai bentuk adab terhadap sebuah ilmu dan ulama (guru), ini merupakan budaya dan tradisi didalam pembelajaran pesantren khususnya kaum santri. Setelah dirasa sudah suci barulah tim turots melakukan tahap awal identifikasi. Proses awal dapat dikatakan cukup unik yaitu dilakukan dengan metode tashih. Metode tashih ini sebagaimana yang dilalukan oleh ulama-ulama ketika menganalisis kesahihan sanad hadis. Dalam konteks ini dilakukan proses analisis untuk memastikan bahwa turots tersebut memang asli karya ulama sekaligus melihat sanad-sanad keilmuannya yang nanti akan sampai pada guru-gurunya. Proses tashih tidak sembarang atau semua orang dapat melakukan. Proses ini dilakukan oleh Lora Usman sebagai ketua Nadlatut Turots dan beliau secara silsilah masih merupakan keturunan dari Syaikhona Kholil Bangkalan. Selama proses tashihpun terdapat saksi yang menyaksikan secara langsung yaitu para santri beliau di Nadlatut Turots dan Turots Center UYP. Proses Preservasi dan Digitalisasi Setelah melalui proses katalogisasi oleh tim turots tahap selanjutnya yang dilakukan adalah melanjutkan dengan proses preservasi dan digitalisasi. Proses preservasi dan digitalisasi ini tentunya memiliki manfaat yang sangat besar bagi keberlangsungan naskah turots untuk jangka panjang. Ahmad dan Hakim secara rinci mengungkapkan beberapa manfaat dari digitalisasi naskah kuno yang anatar lain: menghemat space dalam penyimpanan konten, menyederhanakan pengelolaan, mempercepat proses akses, memudahkan penyebaran informasi, konten lebih interaktif, memudahkan proses backup14.Proses preservasi yang dilakukan yaitu menyesuaikan dengan kondisi turots dan pihak yang memiliki turots. Dalam hal ini tentunya terdapat proses identifikasi secara kondisi, kondisi dapat dikategorikan dalam keadaan baik (tercetak/terpublikasi) dan tidak baik (kondisi fisik kertas dan tulisan teks). Ketika dihadapkan dengan kondisi yang masih baik upaya yang dilakukan adalah preservasi yang bersifat preventif, artinya melakukan upaya-upaya yang bersifat menjaga seperti memeriksa kondisi fisik secara berkala, membersihkan tempat penyimpanan, menurunkan kelembaban udara dan penempatan ketika penyimpanan. Sedangkan ketika dihadapkan dengan kondisi yang tidak baik perlu dilakukan upaya preservasi yang bersifat kuratif. Preservasi yang bersifat kuratif sebenarnya secara konsep banyak cara yang bisa dilakukan seperti melakukan fumigasi, laminasi, ataupun deasidifikasi. Dalam konteks turots ini mungkin pendekatan deasidifikasi akan lebih cocok untuk dilakukan. Deasidifikasi sendiri merupakan kegiatan yang dilakukan untuk menghentikan proses keasaman pada kertas15. Selain itu juga direkomendasikan untuk melakukan restorasi yaitu tindakan perbaikan bahan perpustakaan jika tingkat kerusakannya cukup parah. Selanjutnya setelah melakukan beberapa proses preservasi secara fisik tersebut diambil langkah untuk melakukan proses digitalisasi Gambar 6. Proses Digitalisasi Karya Mbah Abu Dzarrin Sumber: TIM Nahdlatut Turots Gambar 6 menunjukkan proses digitalisasi yang dilakukan pada salah satu Turots yang ditemukan yaitu milik Mbah Abu Dzarrin. Proses digitalisasi menurut Pendit merupakan upaya mengubah data yang sebelumnya dalam bentuk analog ke dalam bentuk digital16. Langkah proses digitalisasi diambil oleh tim sebagai upaya didalam melestarikan nilai informasi dari Turots tersebut. Hal tersebut mengingat bahwa secara kondisi Turots tersebut khusunya beberapa karya baik dari Mbah Abu Dzarrin dan Pondok Pesantren Canga’an Bangil diperkirakan usia turots sudah mencapai 100 tahun ketas. Adanya proses alih media digital ini secara fisik dokumen masih tetap di pegang oleh pemilik/pewaris dari karya tersebut yaitu pihak keluarga maupun mereka yang diberikan amanah untuk menjaganya, di sisi lain dokumen digital yang sudah dilakukan proses digitalisasi dapat tetap memberikan informasi kepada masyarakat yang membutuhkan dari karya tersebut. Proses digitalisasi tersebut pada dasarnya telah difasilitasi oleh tim turots, namun dikembalikan lagi kepada pihak keluarga ataupun yang memiliki hak atas kepemilikan naskah. Pihak keluarga hanya memberikan kewenangan kepada tim turots untuk melakukan proses identifikasi, dokumentasi dan sampai tahap alih media dalam bentuk digital (digitalisasi). Proses preservasi turots secara fisik dilakukan secara penuh oleh pihak keluarga pemilik turots, tim turots hanya memberikan sosialisasi terkait metode perawatannya. Proses alih media digital dilakukan tim turots dengan menggunakan scanner sebanyak empat buah, dimana dua diantaranya merupakan hibah dari Perpustakaan Nasional. Proses scanning dilakukan secara tim baik dari Nahdlatut Turots dan Turots Center UYP. Selain itu untuk proses dokumentasi dilakukan dengan menggunakan kamera SLR. Setelah melalui proses preservasi dan digitalisasi terhadap turots, tim akan memberikan wewenang dokumen fisik secara penuh kepada pemilik Turots yaitu diperkenankan tidaknya fisik dokumen untuk dibawa oleh tim untuk dilakukan penyimpanan ataukah hanya sebatas file hasil digitalisasinya saja.
Conclusion
Berdasarkan hasil penelitian mengenai Identifikasi dan Preservasi Digital Manuksrip Turots oleh TIM Nahdlatut Turots dan Turots Center Universitas Yudharta di Wilayah Pasuruan dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. 2. 3. 4. Preservasi digital terhadap turots yang dilakukan oleh Nahdlatut dan Turots Center UYP dimulai dengan melakukan penelusuran turots ke pondok pesantren, pesarean, dan semua tempat yang memiliki jejak ulama. Kemudian dilanjutkan dengan proses identifikasi. Setelah proses identifikasi dilakukan proses katalogisasi terhadap turots dan preservasi digital. Proses identifikasi turots mencakup identifikasi secara fisik seperti kondisi turots, bahan kertas, dsb. Selain itu juga dilakukan identifikasi nasab menggunakan metode tashih. Proses tashih dilakukan oleh Lora Usman sebagai ketua Nahdlatut Turots dengan dihadiri saksi dari tim Nahdlatut Turots dan Turots Center UYP. Proses Katalogisasi dilakukan oleh tim Turots Center UYP dari berbagai keilmuan yang meliputi bahasa Arab, literatur jawa dan ilmu budaya serta pustakawan untuk melakukan proses pengindeksan dokumen. Pada proses ini dilakukan pendekripsian manuskrip turots. Proses Preservasi yang dilakukan tergantung dari kondisi turots. Apabila kondisi turots masih baik maka dilakukan upaya preventif seperti menjaga kelembapan tempat penyimpanan. Sedangkan apabila kondisi turots kurang bagus maka bisa dilakukan fumigasi, deadisifikasi, laminasi, dsb. Selanjutnya proses digitalisasi dilakukan oleh tim turots menggunakan scanner dan kamera SLR.