PERAN PEMERINTAH DALAM MENYELAMATKAN NASKAH KUNO MINANGKABAU PASCA GEMPA PADANG UNTUK PELESTARIAN BUDAYA MASYARAKAT MINANGKABAU
N/A
Abstract
The manuscripts of Minangkabau has many content about society, lives, and rules, such as the story of the battle that happened at that time, influential scholars, the natural disasters that have occurred,and traditional medicine, all of it be written with beautiful handwriting lettered Arabic and Malay. On September 30, 2009 an earthquake with a strength of 7.9 on the Richter scale destroyed half of West Sumatera regions, include the buildings of information centers,and the storage areas of ancient texts Minangkabau. That makes all of ancients texts lost and broken. These manuscripts are original publications and unparalleled. This research is to know how the government’s role in saving the post earthquake ancient manuscripts, for cultural preservation society of Minangkabau. This study is qualitative, using interview, observationand documentation. This study shows that in the preservation of the collection of ancient manuscripts damaged after the earthquake, West Sumatera provincial government assisted by the National Library team in repairing damaged manuscripts collection. National library team brings 17 boxes of ancient manuscripts Minangkabau to be treated. And to replace the lost collection, the government is conducting a search of the ancient manuscripts in houses to the public because there are still many collection of ancient manuscripts held by the public.
Keywords:
Post-Earthquake
· Ancient Manuscripts
· Preservation
Introduction
Perpustakaan adalah institusi yang mengumpulkan pengetahuan tercetak dan terekam, mengelolanya dengan cara khusus guna memenuhi kebutuhan intelektualitas para pemustakanya melalui koleksi yang dimilikinya. Berbagai jenis perpustakan di Indonesia berdasarkan Undang- Undang No 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan dapat dikelompokkan berdasarkan lembaga yang menaunginya, di antaranya Perpustakaan Nasional, Perpustakaan Umum, Perpustakaan Sekolah / Madrasah, Perpustakaan Perguruan Tinggi dan Perpustakaan Khusus. Perpustakaan umum merupakan Perpustakaan yang berdiri sebagai lembaga yang demokratis, dan diurus oleh masyarakat. Setiap warganya dapat mempergunakan pelayanan yang diberikan oleh perpustakaan tanpa membedakan pekerjaan, kedudukan, kebudayaan dan agama. Kemudian Sulistyo Basuki menambahkan bahwa Perpustakaan Umum diselenggarakan oleh dana umum dengan tujuan melayani umum.1 Salah satu kriteria dalam penilaian perpustakaan adalah melalui kualitas koleksinya. Perpustakaan umum memiliki koleksi yang beragam. Perpustakaan Provinsi Sumatera Barat memiliki koleksi yang beragam, diantaranya koleksi naskah kuno. Naskah kuno Minangkabau berisi nilai-nilai kehidupan masyarakat, seperti kisah peperangan yang terjadi saat itu, ulama-ulama yang berpengaruh, bencana alam yang pernah terjadi, pengobatan tradisional, semua hal tersebut dilukiskan dengan tulisan tangan yang indah, ada yang berbahasa Melayu ada pula yang Arab. Pada tanggal 30 September 2009 terjadi gempa dengan kekuatan 7,9 skala Richter yang menghancurkan gedung-gedung pusat informasi, tempat penyimpanan naskah-naskah kuno masyarakat Minangkabau. Naskah-naskah tersebut merupakan terbitan asli dan tak ada lagi terbitan baru saat ini. Naskah-naskah kuno tersebut selama ini menjadi koleksi referensi yang menjadi rujukan bagi budaya adat Minangkabau. Naskah yang berhasil diselamatkan pasca gempa padang ini berjumlah 23 naskah. Ada sekitar lima ribu judu buku tentang Minagkabau dan 100 judul naskah kuno sebagian besar dipastikan hancur di dalam puing-puing reruntuhan dan dalam proses evakuasi korban. Untuk mengatasi masalah ini, dibutuhkanlah peran pemerintah dalam memperbaiki koleksi ini agar dapat terus melestarikan kebudayaan adat Minangkabau yang terdapat dalam koleksi-koleksi naskah kuno tersebut. artikel ini akan mengkaji upaya yang dilakukan oleh pemerintah untuk menyelematakan Naskah Kuno Minangkabau dalam menghadapi bencana di Perpustakaan Provinsi Sumatera Barat. B. Kesiagaan Pemerintah Dalam Menghadapi Bencana Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia kesiagaan berarti kesiapan, yaitu kesiapan menghadapi bencana yang merupakan kegiatan persiapan yang diupayakan untuk mengurangi kerusakan akibat bencana2. Bencana dalam konteks ilmu perpustakaan adalah segala bentuk kejadian yang mengancam keamanan dari manusia dan atau membahayakan atau mengakibatkan kerusakan pada bangunan, koleksi, isi, fasilitas dan layanan. Tujuan dan fungsi perpustakaan adalah mengumpulkan, menata, melestarikan dan menyediakan bahan pustaka dalam berbagai bentuk, semua bahan yang mempunyai kemampuan memuat atau merekam pengetahuan dan pikiran manusia masa kini atau masa lampau. Selain itu, perpustakaan memiliki tugas melestarikan koleksinya secara terus-menerus sebagai bagian dari pelestarian bahan pustaka. Berbagai bencana yang mengancam dapat terjadi secara alami seperti gempa bumi, gunung meletus, badai dengan skala yang bervariasi. Oleh karena itu, dibutuhkan pengelolaan untuk menyiapkan suatu tindakan penyelamatan sebagai usaha pertama yang dilakukan dalam suatu institusi apabila terjadi suatu bencana. Adapun elemen-elemen dari rencana kesiagaan menghadapi bencana, meliputi: 1. Pencegahan Pada tahap pertama, yaitu tahap pencegahan dibutuhkan kesiapan dari petugas perpustakaan akan adanya risiko bencana yang mungkin saja mengancam perpustakaan. Tujuan tahap pencegahan ini adalah untuk mengidentifikasi penyebab bencana dan untuk memperkecil risiko yang dihadapi oleh gedung itu sendiri, yaitu: peralatan penyimpanan dan perabotnya. 2. Tanggapan Tahap yang kedua, yaitu tahap tanggapan, mencakup berbagai kegiatan atau program dan sistem yang diterapkan sebelum keadaan darurat. 3. Reaksi Tahap yang ketiga, yaitu tahap reaksi, merupakan aktifitas yang dilakukan jika benar-benar sudah terjadi bencana. Tahap ini berhubungan langsung dengan arah penentuan kebijakan, yang meliputi: menentukan langkah prosedur yang dilakukan ketika terjadi bencana, memastikan lokasi bencana aman dimasuki, dan memindahkan materi yang rusak. 4. Pemulihan Tahap keempat, yaitu tahap pemulihan mencakup kegiatan atau bantuan jangka panjang untuk memulihkan kembali sistem yang lumpuh atau terganggu selama bencana. Tahap ini meliputi menetapan dan pelaksanaan program memperbaiki lokasi bencana dan materi yang rusak, mengambil teknik penyelamatan terhadap koleksi, serta menganalisis bencana dan perbaikan rencana bencana. C. Peran Pemerintah Dalam Menyelamatkan Naskah Kuno Pasca Bencana Gempa Bumi Pelestarian naskah kuno memiliki fungsi merujuk pada Perpustakaan Nasional Republik Indonesia adalah: mengumpulkan, menyimpan, mendayagunakan dan melestarikan hasil karya dan budaya bangsa, diantaranya koleksi naskah yang memiliki nilai sangat tinggi. Secara umum tujuan pelestarian naskah kuno adalah untuk melestarikan, merawat fisik dan isi kandungan informasi yang terkandung di dalam naskah. Menurut Sulistyo-Basuki, tujuan pelestarian manuskrip adalah melestarikan kandungan informasi manuskrip dengan alih bentuk menggunakan media lain atau melestarikan bentuk aslinya selengkap mungkin untuk dapat digunakan bersama. Naskah kuno merupakan warisan dari sebuah peradaban manusia yang terakumulasi dari sebuah budaya kehidupan masa lalu masyarakat yang mempunyai peran penting dalam upaya menyelamatkan khasanah budaya bangsa. Sumatera Barat atau Minangkabau merupakan salah satu daerah yang banyak di temukan naskah kuno. Perpustakaan sebagai tempat untuk menyimpan dan menyebarkan ilmu pengetahuan mempunyai peranan yang sangat penting. Penyimpanan khasanah budaya bangsa di perpustakaan merupakan nilai apresiasi budaya dari masyarakat sekitar merupakan fungsi kultural perpustakaan. Penyimpanan naskah-naskah kuno oleh perpustakaan memungkinkan budaya masa lalu mendapatkan tempat dalam tatanan sosial budaya masyarakat yang baru. Peran perpustakaan sebagai wadah budaya yang menjadi rantai sejarah masalalu dan pijakan bagi masa depan tidak dapat diabaikan. Oleh karena itu, perpustakaan berkewajiban dalam penyimpanan naskah kuno. Berbagai macam faktor dapat menyebabkan kerusakan pada koleksi manuskrip atau naskah kuno ini, salah satunya adalah faktor bencana alam. Gempa bumi yang mengguncang Sumatera Barat pada tanggal 30 September 2009 lalu cukup menimbulkan dampak yang luas. Badan Perpustakaan Nasional Provinsi Sumatera Barat merupakan bangunan berlantai empat dengan sekitar 600 ribu koleksi buku, mulai naskah kuno Minangkabau-Melayu, buku pengetahuan umum, buku anak-anak dan buku-buku koleksi budaya dan cerita rakyat tiap daerah di Sumatera Barat. Naskah-naskah kuno Minangkabau Melayu itu berada di lantai tiga bangunan perpustakaan, sehingga relatif kondisinya masih baik dan bisa diselamatkan. Sekitar 600 buku koleksi di perpustakaan itu 50 persen buku telah berhasil diselamatkan dan kini disimpan di Gedung Arsip Nasional Provinsi Sumatera Barat. Upaya penyelamatan terhadap buku-buku terutama naskah kuno Minangkabau-Melayu harus terus dilakukan karena naskah kuno Minangkabau-Melayu merupakan salah satu aset berharga bangsa yang harus diselamatkan D. Penyelamatan Naskah Kuno Ratusan ribu judul buku dan naskah kuno di Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sumbar tertimbun gedung kantor yang ambruk dan hanya mampu menyelamatkan sekitar 5 sampai 10 persen buku. Naskah kuno Minangkabau dari Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sumbar yang hancur akibat gempa, diselamatkan oleh Perpustakaan Nasional. Naskah kuno yang diselamatkan itu sebanyak 17 kotak dan dibawa tim Perpustakaan Nasional. Naskah kuno yang diselamatkan dan direhabilitasi Perpustakaan Nasional itu nantinya akan dikembalikan apabila Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sumbar sudah direhabilitasi. Sebelum gempa, Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sumbar sangat aktif mengumpulkan berbagai naskah kuno Minangkabau yang berada di masyarakat. Dari 150 judul naskah kuno yang berhasil didata Badan Perpustakaan, sebanyak 40 judul di antaranya sudah ada di Badan Perpustakaan dan Kearsipan Sumbar. Saat sekarang ini masih banyak naskah kuno yang disimpan oleh masyarakat dirumah masing-masing. Mengumpulkan kembali naskah-naskah yang disimpan oleh masyarakat adalah hal yang menjadi tantangan oleh perpustakaan Provinsi Sumatera Barat karena banyak masyarakat yang menganggap jika naskah tersebut milik keluarga mereka yang diturunkan secara turun menurun. Pemerintah akan terus berusaha agar mendapatkan naskah kuno yang disimpan oleh masyarakat
Conclusion
Naskah kuno atau manuskrip harus dijaga keberadaannya dan dilestarikan. Karena manuskrip adalah naskah kuno peninggalan dari nenek moyang, yang menceritakan tentang kehidupan masa lalu dalam berbagai bidang. Bencana dapat terjadi kapan saja dan dimana saja. Oleh karena, itu lembaga tempat penyimpanan naskah kuno atau manuskrip seperti museum atau perpustakaan harus mengantisipasi apabila ada musibah atau bencana yang mengancam keselamatan naskah kuno. Pasca gempa Padang banyak naskah kuno yang mengalami kerusakan. Disini adalah peran pemerintah dalam memperbaiki koleksi naskah tersebut. Koleksi naskah kuno yang mengalami kerusakan pasca bencana di perpustakaan provinsi sumatera barat dibawa ke Perpustakaan Nasional untuk di perbaiki atau di rehabilitas. Setelah di rehabilitas naskah tersebut akan dibawa lagi ke Perpustakaan Provinsi Sumatera Barat.