Kembali
16
1
2015 Pustakaloka : Jurnal Kajian Informasi dan Perpustakaan Vol 7 · 1 ISSN 2502-4108

PERSONAL BRANDING PUSTAKAWAN DI PERPUSTAKAAN

N/A

Abstract

Using technology people introdiice themselves into a brand, a community could accept them without any complicated process. Librarians as supporting the development of libraries in an institution that requires a personal branding good on him, it is to change the public image of a librarian. Using theoretical approach this study dealts with a response to Personal branding of Librarian. This study argues that the presence of the Personal branding will definitely have a big impact on the Library. A library that has a good image in the world will certainly be able to develop the programs to increase the support of its librarian Personal branding. So that the realization of Personal branding, this institution will supports a good image.
Keywords: Brand · Personal branding · Librarian

Introduction

Dierainformasi seperti sekarang dan ledakan jejaring social yang sangat pesat membuat istilah pencitraan semakin sering di dengar dan menjadikan isu hangat yang terjadi akhir-akhir ini dimasyarakat. Pencitraan tidak hanya hadir di dunia fashion, keartisan, bisnis, pariwisata, politik tetapi hadir dimana-mana termasuk dunia kepustakawanan, yang terkait dengan inage tentang pencitraan diri pada masyarakat. Pencitraan berkaitan dengan personal branding yang saat ini digunakan untuk mengangkat nama orang agar menjadi popular dan dikenal orang. Seiringberkembangnyateknologibanyakorang memperkenalkan diri menjadi sebuah brand yang lebih dikenal banyak orang sehingga lebih mudah diterima dimasyarakat tanpa harus ada proses rumit untuk menjadi terkenal. Banyak orang yang akhirnya menyadari akan perlunya Personal branding dalam dirinya untuk meningkatkan nilai tambah penampilan dan pandangan orang lain atas dirinya. Seperti halnyaseorang Pustakawan, yang selama ini masyarakatkurang begitu mengenal tentang profesi Pustakawan. Selama ini dibenak masyarakat perpustakaan dan pustakawan masih dicitrakan sebagai hal yang serba kuno, statis, dan pekerjaan yang sepele (mudah) yang semua orang bias melakukannya. Perpustakaan dalam image masyarakat masih disosokkan dengan sebuah bangunan yang didalamnya berisi rak-rak buku semacam gudang buku. Pustakawan saat ini masih dicitrakan sebagai seseorang yang menjaga perpustakaan, yang tugasnya menata buku sehingga beranggapan bahwa pekerjaan pustakawan dapat dengan mudah digantikan oleh orang yang bukan berlatar belakang ilmu perpustakaan. Citra tentang perpustakaan dan pustakawan yang masih memprihatinkan dimata masyarakat ini dikarenakan factor eksternal dan internal. Factor eksternal berkaitan dengan kondisi social budaya masyarakat sedangkan factor internal berkaitan dengan kondisi perpustakaan dan pustakawan itu sendiri. Pustakawan sebagai pendukung perkembangan perpustakaan pada sebuah institusi yang memerlukan personal branding yang bagus pada dirinya, hal tersebut untuk mengubah image masyarakat tentang seorang pustakawan. Saatini personal branding tidak banyak dimiliki oleh Pustakawan, tetapi Pustakawan yang sukses akan memiliki personal branding yang bagus. personal branding yang terpancar pada pustakawan, bias menjadi positif atau negative tergantung bagaimana Pustakawan tersebut menampilkannya. personal Seorang Pustakawan memerlukan branding untuk mempersepsikan tentang dirinya kepada Perpustakaan atau pemustaka. Tentu dengan citra positiflah yang akan diperkenalkan kepada pemustaka. Karena dengan citra positif yang dimiliki dan dibangun oleh Pustakawan diharapkan mampu mengangkat citra perpustakaan sebagai tempat bernaung pustakawan dalam mengembangkan ilmu kepustakawanannya. B. Brand, Personal Branding dan Pustakawan Untuk menjawab masalah tersebut, penulis menggunakan pendekatan teori sebagai jawaban permasalahan diatas, yaitu dengan mencari pengertian tentang Brand, Personal branding dan Pustakawan yang kemudian menyimpulkan menjadi sebuah pengertian. 1) 2) 3) Brand Merekadalahistilah, tanda, simbol, atau rancangan, atau kombinasi hal-hal tersebut, yang dimaksudkan untuk mengidentifikasi barang atau jasa dari seorang atau sekelompok penjual dan untuk membedakannya dari produk pesaing.! Menurut Kartajaya dalam Marketing Icon of Indonesia, merek adalah indikator nilai yang ditawarkan kepada pelanggan dan atau aset yag menciptakan value bagi pelanggan dengan memperkuat loyalitasnya’. Personal branding Personal branding adalah proses dimana orang-orang dan karir mereka ditandai sebagai merek. Sementara teknik manajemen swadaya sebelumnya adalah tentang perbaikan diri, konsep Personal datang branding dari menunjukkan sebaliknya bahwa kesuksesan diri-kemasan? (Wikipedia). Menurut Frienhood Personal branding adalah apa yang kamu miliki sekarang yang sudah menjadi identitas kamu, kamu akan diidentikkan dan diasosiasikan dengan apa yang kamu miliki. Dengan membangun Personal branding di masa kini, kamu akan semakin natural dan fun di masa depan. Pustakawan Pustakawan adalah seseorang yang memiliki kompetensi yang diperoleh melalui pendidikan dan/atau pelatihan kepustakawanan serta mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk melaksanakan pengelolaan dan pelayanan perpustakaan.* Pustakawan ialah orang yang memberikan dan melaksanakan kegiatan perpustakaan dalam usaha pemberian layanan kepada masyarakat sesuai dengan visi dan misi lembaga induknya.® Jadi dapat disimpulkan bahwa pustakawan adalah seseorang yang ahli dalam bidang perpustakaan yang bisa membantu orang menemukan buku, majalah, dan informasi lain, serta mengelola dan mengatur dokumen ataupun laporan yang ada dalam sebuah perpustakaan. Seorang pustakawan dapat memberikan layanan informasi lainnya, termasuk penyediaan komputer dan pelatihan, koordinasi program publik, peralatan bantu bagi para penyandang cacat, dan membantu dengan mencari dan menggunakan sumber daya masyarakat. 4) Personal branding Pustakawan Berdasarkan beberapa definisi diatas maka dapat disimpulkan bahwa Personal branding Pustakawan adalah Image yang kuat dari seorang pustakawan dengan kemampuan pendidikan kepustakawanan yang dimilikinya untuk mengangkat nama (brand) perpustakaan yang dinaunginya.

Discussion

Perpustakaan dan pustakawan merupakan dua hal yang tak terpisahkan, dimana ada perpustakaan pasti ada pustakawan yang bernaung dibawahnya. Pada era teknologi sekarang, sangatlah mudah memperkenalkan diri ke khalayak, karena dengan banyaknya fasilitas media social dan jaringan internet. Dalam dunia perpustakaan, konsep mengenai Personal branding didasarkan atas nilai-nilai kehidupan pustakawan dan memiliki relevansi tinggi terhadap perpustakaan. Personal branding merupakan citra pribadi seorang pustakawan dan di benak semua orang yang dikenal. Personal branding akan membuat semua orang memandang pustakawan secara berbeda dan unik. Masyarakat mungkin akan lupa dengan wajah seseorang, namun,citra atau merek pribadie seseorangan akan selalu diingat orang lain. Ada tiga dimensi utama pembentuk Personal branding® Standar bagimanakita kukannya Gbr.1 Tiga dimensi utama pembentuk Personal branding a. b. c. Kompetensi atan Kemampuan Individu Untuk membangun reputasi atau Personal branding, pustakawan harus memiliki suatu kemampuan khusus atau kompetensi dalam satu bidang tertentu yang dikuasai. Pustakawan dapat membentuk sebuah Personal branding melalui sebuah polesan dan metode komunikasi yang disusun dengan baik. Personal Brand adalah sebuah gambaran mengenai apa yang masyarakat pikirkan tentang Pustakawan. Hal tersebut mencerminkan nilai-nilai, kepribadian, keahlian dan kualitas yang membuat pustakawan berbeda dengan profesi yang lainnya. Style Gaya merupakan kepribadian dari Personal branding Pustakawan. Gaya merupakan bagian yang menjadikan diri Pustakawan unik di dalam benak orang lain. Gaya adalah cara Pustakawan berhubungan dengan orang lain. Seringkali kata-kata yang digunakan orang untuk menilai gaya Pustakawan mengandung suatu emosi yang kuat, Standar Standar Personal branding Pustakawan sangat mempengaruhi cara masyarakat memandang Pustakawan. Standar akan menetapkan dan memberikan makna terhadap kekuatan Personal branding. Namun kuncinya adalah pustakawan itu sendiri yang menetapkan standar, pustakawan yang harus melakukan. Terkadang kita menetapkan standar yang terlalu tinggi dan terlanjur mengatakan pada masyarakat bahwa kitamampu melakukan suatu hal dengan cepat dan dapat memperoleh hasil yang baik (agar kompetensi dan gaya Personal branding Pustakawan kelihatan menarik di benak semua orang). Namun yang terjadi adalah sebaliknya, terkadang Pustakawan gagal untuk mencapai standar yang di tetapkan sendiri. Jadi dengan menggabungkan ketiga faktor tersebut, yaitu kompetensi, style dan standart, Pustakawan dapat mulai terus membangun dan mengembangkan reputasi dalam bidang khusus yang di pilih dan Proses membangun reputasi adalah proses seumur hidup. Pustakawan berharap semakin bertambahnya waktu, semakin kuat “brand” Pustakawan di masyarakat. Delapan hal konsep utama yang menjadi membangun suatu Personal branding seseorang.” : 1. acuan dalam Spesialisasi (The Law of Specialization) Ciri khas dari sebuah Personal Brand yang hebat adalah ketepatan pada sebuah spesialisasi, terkonsentrasi hanya pada sebuah kekuatan, keahlian atau pencapaian tertentu. Spesialisasi dapat dilakukan pada satu atau beberapa cara, yakni: a. b. c. 7 - Ability Pustakawan mempunyai sebuah kemampuan untuk menyampaikan strategi, visi dan prinsip-prinsip awal yang baik. Behavior Pustakawan mempunyai keterampilan dalam memimpin, dalam teknologi informasi, kedermawanan, mengajar, literasi informasi dan kemampuan untuk mendengarkan. Lifestyle Pustakawan mempunyai gaya hidup yang baik, berpenampilan trendi dan fashionable d. e. f. g. 2. Mission misalnya dengan melihat orang lain melebihi persepsi mereka sendiri Product Pustakawan mampu menciptakan suatu perpustakaan yang menakjubkan. Profession — niche within niche Pustakawan dapat menjadi pelatih kepemimpinan yang juga seorang psychotherapist. Service Pustakawan berperan menjadi konsultan Perpustakaan yang dapat melayani kebutuhan pemustaka Kepemimpinan (The Law of Leadership) Perpustakaan membutuhkan sosok pustakawan yang dapat memutuskan sesuatu dalam suasana penuh ketidakpastian dan memberikan suatu arahan yang jelas untuk memenuhi kebutuhan Perpustakaan. Sebuah Personal Brand yang dilengkapi dengan kekuasaan dan 3. kredibilitas sehingga mampu memposisikan Pustakawan sebagi pemimpin yang terbentuk dari kesempurnaan seseorang. Kepribadian (The Law of Personality) Sebuah Personal Brand yang hebat harus pada sosok kepribadian yang apa adanya, dan hadir dengan segala didasarkan 4. ketidaksempurnaannya. Konsepininenghapuskanbeberapatekanan yang ada pada konsep Kepemimpinan (The Law of Leadership), dimana seorang Pustakawan harus memiliki kepribadian yang baik, namun tidak harus menjadi sempurna. Perbedaan (The Law of Distinctiveness) Sebuah Personal Brand yang efektif perlu ditampilkan dengan cara yang berbeda dengan yang lainnya. Banyak ahli perpustakaan atau Pustakawan telah membangun suatu citra yang baik dengan konsep yang sama dengan kebanyakan profesi yang ada di masyarakat, dengan tujuan untuk menghindari persepsi negative tentang perpustakaan. Namun sampai sekarang citra Pustakawan belum begitu dikenal diantara sekian banyak profesi yang ada di masyarakat 5. The Law of Visibility Untuk menjadi sukses, Personal Brand harus dapat dilihat secara konsisten terus-menerus, sampai Personal Brand seseorang dikenal. Maka visibility lebih penting dari kemampuan (ability)nya. Untuk menjadi visible, Pustakawan perlu mempromosikan dirinya, memasarkan dirinya, menggunakan setiap kesempatan yang ditemui dan memiliki beberapa keberuntungan dengan berpromosi. 6. 7. 8. D. Kesatuan (The Law of Unity) Kehidupan pribadi Pustakawan dibalik Personal Brand harus sejalan dengan etika moral dan sikap yang telah ditentukan dari citra tersebut. Kehidupan pribadi Pustakawan selayaknya menjadi cermin dari sebuah citra yang ingin ditanamkan dalam Personal Brand. Keteguhan (The Law of Persistence) Setiap Personal dan selama Brand proses selalu membutuhkan waktu untuk tumbuh, tersebut berjalan, adalah penting untuk memperhatikan setiap tahapan dan trend. Dapat pula dimodifikasikan ~dengan menggunakan sarana promosi Perpustakaan, dengan tujuan agar Pustakawan dapat dikenal. Pustakawan harus tetap teguh pada Personal Brand awal yang telah dibentuk, tanpa pernah ragu-ragu dan berniat merubahnya. Nama baik (The Law of Goodwill) Sebuah Personal Brand akan memberikan hasil yang lebih baik dan bertahan lebih lama, jika Perpustakaan yang dibelakangnya adanya Pustakawan dipersepsikan dengan cara yang positif. Pustakawan tersebut harus diasosiasikan dengan sebuah nilai atau ide yang diakui secara umum positif dan bermanfaat di masyarakat.

Conclusion

Personal penampilan branding fisik, dapat dilakukan melalui cara berpakaian, eksistensi di dunia digital serta area-area tertentu yang membuat Pustakawan mudah dikenang orang lain dan mendapatkan citra yang baik. Dengan terwujudnya Personal branding pada Pustakawan pasti akan berpengaruh besar terhadap Perpustakaan. Sebuah Perpustakaan yang telah memiliki citra baik di dunia Perpustakaan tentunya akan dapat mengembangkan Perpustakaannya semakin meningkat dengan dukungan Personal branding Pustakawan yang dimilikinya. Sehingga terwujudnya Personal branding Pustakawan sangat mendukung citra baik Perpustakaannya