Kembali
16
1
2018 Jurnal Ilmu Informasi, Perpustakaan, dan Kearsipan Vol 20 · 1 ISSN 2502-7409

PERILAKU PENCARIAN INFORMASI MAHASISWA PROGRAM SARJANA FAKULTAS ILMU PENGETAHUAN BUDAYA UNIVERSITAS INDONESIA BERBASIS SUMBER LITERATUR ELEKTRONIK DALAM ERA DIGITAL

Universitas Indonesia; Universitas Indonesia; Universitas Indonesia

Abstrak

Penelitian ini mendiskusikan perilaku pencarian Informasi mahasiswa program sarjana di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB UI) terkait dengan proses pembelajaran di perguruan tinggi serta mengevaluasi pemanfaatan sumber-sumber literatur elektronik yang telah dilanggan oleh Perpustakaan UI. Penelitian ini mengadaptasi model perilaku pencarian informasi oleh Ellis, Cox dan Hall (Behavioral Model of Information Seeking Strategies) yang kemudian diadaptasi oleh Wilson (a model of the GrossInformation Seeking Strategies) untuk menganalisis dan memberikan gambaran perilaku pencarian informasi mahasiswa dalam menunjang proses pembelajaran dan penelitiannya. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini melalui wawancara mendalam dan diskusi kelompok terarah (focus group discussion) terhadap 16 mahasiswa FIB UI. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa mahasiswa membutuhkan informasi dari sumber elektronik untuk kegiatan akademis seperti pembuatan tugas. Terdapat kelompok mahasiswa yang mahir dalam identifikasi keunikan sumber informasi elektronik yang dilanggan oleh Perpustakaan UI dalam memenuhi kebutuhan informasinya. Namun, terdapat pula hambatan yang menyebabkan kurang maksimalnya pemanfaatan sumber informasi elektronik yang dilanggan Perpustakaan UI, antara lain: kurangnya sosialisasi dan promosi, kurangnya integrasi dengan kegiatan perkuliahan, kurangnya dorongan dari dosen, serta permasalahan individu lainnya. Terdapat beberapa saran yang diajukan dalam penelitian ini berkaitan dengan hambatan pencarian informasi, seperti perpustakaan yang lebih proaktif dalam promosi dan sosialisasi di acara mahasiswa, pengajar yang lebih mengarahkan mahasiswanya dalam menggunakan sumber informasi elektronik yang dilanggan oleh Perpustakaan UI, dan perlunya perkuliahan yang mengarahkan mahasiswa dalam strategi penelusuran informasi.

Abstract

This study examines the information seeking behavior of undergraduate students of the Faculty of Humanities Universitas Indonesia (FIB UI) related to the learning process in universities and evaluates the use of eresources subscribed by UI Library. This research adapts the model of information seeking behavior by Ellis, Cox and Hall (Behavioral Model of Information Seeking Strategies) which was later adapted by Wilson (a model of the Gross-Information Seeking Strategies) to analyze and provide a description of students’ information seeking behavior in supporting their learning process and research. Data were collected in this study through in-depth interviews and focus group discussions of 16 FIB UI students. The findings of this study indicate that students need information from e-resources for their academic purposes, such as doing their coursework. The findings also indicate that students are proficient in identifying the uniqueness of eresources subscribed by UI Library to meet their information needs. However, this study also found some obstacles that cause the less utilization of the e-resources, for example: lack of socialization and promotion, lack of integration with lecture activities, lack of encouragement from lecturers, and other individual issues. According to those findings, this study proposed several suggestions related to information search barriers, UI library should be more proactive in promoting its resources at student events; lecturers should be more active in directing students to use e-resources from UI Library, and the need for lectures that lead students in information searching strategy.
Keywords: kebutuhan informasi · pola perilaku pencarian informasi · sumber informasi elektronik · mahasiswa sarjana FIB UI · UI Library

Introduction

Sistem pembelajaran di perguruan tinggi yang dinamis menuntut segenap akademisi untuk selalu mengembangkan keilmuannya dengan cara mencari, membaca, dan menggunakan berbagai sumber informasi terbaru, relevan, beragam, dan secara terusmenerus. Kegiatan akademis, seperti penelitian dan publikasi ilmiah membutuhkan banyak kegiatan penelusuran informasi melalui cara beragam dan cepat. Belkin dan Alina merumuskan bahwa terjadinya kebutuhan informasi disebabkan oleh kesenjangan (gap) antara struktur pengetahuan yang dimiliki dengan yang seharusnya dimiliki disebut anomalous state of knowledge (Belkin & Vickery, 1989). Kesenjangan inilah yang mendorong seseorang untuk berperilaku mencari informasi guna memenuhi kebutuhannya, termasuk bagi akademisi dalam memenuhi kebutuhan informasi dalam kegiatan akademis. Di era digital sekarang ini, akademisi dan peneliti di lingkungan perguruan tinggi semakin dimanjakan dengan ketersediaan akses yang luas terhadap sumber-sumber elektronik beragam yang tersedia di internet. Akademisi dapat memanfaatkan search engine dan database online dalam mencari informasi secara cepat. Demi memenuhi kebutuhan informasi sivitas akademikanya, perguruan tinggi juga rela membayar mahal demi banyak yang melanggan sumber informasi dan literatur elektronik. Besarnya biaya melanggan sumber informasi tersebut, seharusnya diikuti dengan tingginya pemanfaatan literatur elektronik tersebut. Namun, belum banyaknya perguruan tinggi yang secara komprehensif mengkaji secara mendalam soal keterpakaian dan pemanfaatan sumber informasi elektronik tersebut, termasuk di Universitas Indonesia (UI), menyebabkan tidak tersedianya pemahaman mengenai penggunaan dan hambatan dalam pemanfaatan sumber-sumber informasi elektronik dan informasi apa saja yang banyak dimanfaatkan oleh sivitas akademikanya. Dalam penelitiannya, Saumure (2010) menjelaskan bahwa pemahaman mengenai penggunaan sumber informasi yang ada, dapat membantu pengajar, pustakawan, dan pimpinan dalam memahami motivasi, kebutuhan literatur dan informasi oleh para mahasiswanya dan aspek-aspek pendukungnya. UI memiliki tugas untuk melaksanakan Tri Dharma perguruan tinggi, yaitu pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Perpustakaan UI mendukung kegiatan Tri Dharma dengan cara menyediakan akses bagi sivitas akademikanya terhadap berbagai sumber informasi dalam berbagai bentuk termasuk dalam bentuk tercetak, elektronik, dan digital mulai dari koleksi buku teks, koleksi referensi, artikel jurnal ilmiah, hingga buku elektronik dan jurnal elektronik. Tiap tahunnya, Perpustakaan UI mengeluarkan biaya yang tidak sedikit (lebih dari 10 milyar rupiah per tahunnya) untuk melanggan sumber informasi elektronik. Dengan demikian, sudah seharusnya sivitas akademika di lingkungan Universitas Indonesia memanfaatkan sumber-sumber informasi tersebut untuk mendapatkan informasi yang mereka butuhkan dalam menunjang perannya menjalankan Tri Dharma perguruan tinggi. Berdasarkan situasi di atas, tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis perilaku pencarian informasi mahasiswa program sarjana Universitas Indonesia dan pemanfaatan sumber literatur elektronik yang dimiliki oleh Perpustakaan UI dalam menunjang proses pembelajaran dan penelitiannya. Secara spesifik, penelitian ini dirancang untuk menjawab pertanyaan berikut: 1. Bagaimana mahasiswa program sarjana Universitas Indonesia mencari dan memperoleh informasi yang berkaitan dengan kegiatan akademik mereka di perguruan tinggi? 2. Sumber informasi digital apa saja yang digunakan oleh mahasiswa program sarjana Universitas Indonesia dalam mencari informasi yang berkaitan dengan kegiatan akademik mereka? 3. Bagaimana pemanfaatan koleksi elektronik Perpustakaan UI dalam memenuhi kebutuhan informasi mahasiswa? 4. Faktor apa saja yang mempengaruhi mahasiswa dalam proses pencarian informasi yang berkaitan dengan kegiatan akademik mahasiswa? 5. Hambatan apa yang dihadapi mahasiswa dalam memanfaatkan sumber informasi digital yang disediakan oleh perpustakaan UI? Penelitian Serupa dan Lingkup Penelitian Pada tahun 2015, Perpustakaan UI melakukan kajian internal yang mencakup data jumlah penggunaan pangkalan data jurnal yang didapatkan dari vendor penyedia layanan jurnal online (Perpustakaan UI, 2015). Namun publikasi tersebut bersifat tertutup dan hanya dipublikasikan secara internal di kalangan Perpustakaan UI. Selain itu, angka tersebut belum didukung dengan penelitian kualitatif mengenai analisis mendalam tentang penggunaannya oleh sivitas akademika. Penelitian ini akan menjadi pelengkap dalam kajian penggunaan pangkalan data tersebut. Penelitian ini memiliki model yang serupa dengan penelitian yang dilakukan oleh George et.al. (2006) tentang perilaku pencarian informasi mahasiswa tingkat pascasarjana menunjukkan bahwa mahasiswa pascasarjana dalam melakukan pencarian informasi diawali dengan menemui dosen atau pembimbingnya untuk meminta rekomendasi dalam memanfaatkan sumber informasi, kemudian meminta bantuan dari pustakawan atau staf perpustakaan untuk memberikan arahan dalam mencari informasi. Hasil penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa pada saat itu, internet sudah memiliki peranan penting dalam proses pencarian informasi oleh mahasiswa, meskipun mereka masih tetap memanfaatkan koleksi tercetak. Penelitian tesebut menyarankan agar perpustakaan mengevaluasi program bimbingan pemakai dan bekerja sama dengan staf pengajar untuk mempengaruhi dan meningkatkan perilaku pencarian informasi mahasiswa. II. TINJAUAN LITERATUR Perilaku penelusuran dan pencarian informasi melibatkan kegiatan kompleks yang biasanya diawali dengan adanya identifikasi kebutuhan informasi. Dengan adanya kebutuhan akan informasi, maka seseorang akan melanjutkan dengan tahap penelusuran dan pencarian informasi. Kebutuhan informasi berkaitan dengan usaha yang disadari dan tidak disadari (keingintahuan mengenai sesuatu) untuk mendapatkan informasi tertentu (Case & Given, 2016). Pada dasarnya, kebutuhan informasi dapat terjadi kapanpun, seperti saat ingin mencari literatur di perpustakaan, ingin membeli barang, dan lainnya. Kebutuhan informasi muncul berkaitan dengan motivasi untuk mendapatkan dan mencari informasi. Pemahaman kebutuhan akan informasi membutuhkan pemahaman mengenai informasi itu sendiri. Informasi sering disamakan dengan data dan pengetahuan. Pada dasarnya mereka berbeda. Data adalah bentuk mentah karakter angka dan huruf. Selanjutnya data diolah menjadi sebuah informasi yang dapat dijadikan pengetahuan bagi seseorang yang ketika digunakan pada waktu yang tepat menjadi kebijaksanaan (Case & Given, 2016). Pada dasarnya, informasi dapat berbentuk apapun dan tersimpan dalam media yang beragam pula. Seseorang dengan kebutuhan informasi harus dapat memanfaatkan akses sumber informasi yang ada. Akses terhadap informasi biasanya beragam dan tergantung dari individu masing-masing. Akses terhadap informasi dipengaruhi 3 komponen: fisik, intelektual, dan sosial (Burnett et al., 2008). Komponen fisik menunjukkan bahwa akses terhadap informasi dapat dibatasi dari akses fisik, seperti: jenis media, geografi, dan teknologi & sistem informasi. Komponen intelektual mengarah kepada akses informasi berdasarkan pemahaman seseorang mengenai informasi yang dapat didapatkan dan digunakan sesuai tingkat pendidikan dan pengalaman orang tersebut. Komponen sosial dan politis berkaitan dengan elemen sosial seperti norma dan pandangan masyarakat mengenai bagaimana seseorang bisa mengakses informasi. Keseluruhan komponen tersebut mempengaruhi seseorang mendapatkan akses terhadap informasi tertentu. Misalkan, akses informasi seseorang siswa sekolah dasar, sekolah tingkat tinggi, dan perguruan tinggi akan berbeda dengan seorang pekerja jika dilihat dari fisik, intelektual, dan sosial. Jika kebutuhan informasi telah teridentifikasi dan akses informasi yang tersedia, selanjutnya pencarian informasi dilakukan sampai kebutuhan informasinya terpenuhi. Pada dasarnya perilaku penelusuran informasi merupakan konsep perilaku yang mencakup kegiatan yang termotivasi oleh kesadaran akan informasi yang kurang dan belum dimiliki (Case & Given, 2016). Wilson (1999) mendefinisikan perilaku pencarian informasi sebagai kegiatan pencarian informasi sebagai konsekuensi atas kebutuhan untuk memenuhi tujuan tertentu. Dalam proses identifikasi perilaku pencarian informasi, Ellis bersama Cox dan Hall mengusulkan model yang terdiri dari 8 tahap perilaku pencarian informasi (behavioral model of information seeking strategies) yang selanjutnya diadaptasi oleh Wilson (a model of the gross-information seeking strategies) yang terdiri dari starting, chaining, browsing, differentiating, monitoring, extracting, verifying, dan ending (Wilson, 2000; Case & Given, 2016). FIGURE 1. MODEL PERILAKU PENCARIAN INFORMASI Sumber: Ellis, Cox, dan Hall diadaptasi Wilson (2000) 1) Starting Tahap starting merupakan tahapan awal dimulainya proses pencarian informasi. Pada tahap ini seseorang mulai mengidentifikasi sumber yang relevan seperti mulai memikirkan sumber informasi yang tepat atau mencari informasi dengan cara menanyakan kepada rekan atau ahli. 2) Chaining Chaining merupakan tahapan yang sangat penting dalam pencarian informasi. Tahap ini ditandai dengan mengaitkan informasi yang diperoleh pada tahap starting dengan sumber-sumber informasi potensial dengan cara merujuk pada catatan kaki atau daftar pustaka dalam suatu rujukan utama. 3) Browsing Browsing merupakan tahapan dari pencarian informasi dengan cara penelusuran semi-terstruktur karena sudah mengarah pada bidang yang diinginkan. Tahap ini dapat dilakukan dengan menelusur ke rak perpustakaan atau mengakses database jurnal ilmiah. 4) Differentiating Pada tahap ini dilakukan proses penyeleksian dan penyaringan informasi yang diperoleh dari berbagai sumber informasi sesuai dengan jenis informasinya. Misalnya, berdasarkan topiknya, pendekatannya, atau kualitasnya. 5) Monitoring Pada tahap monitoring dilakukan pemantauan terhadap sumber-sumber informasi yang sesuai dengan kebutuhan informasi untuk mendapatkan informasi-informasi yang lebih mutakhir. 6) Extracting Extracting merupakan proses pengidentifikasian informasi-informasi yang relevan yang terdapat dalam sumber informasi. 7) Verifying Verifying merupakan proses pengecekan atau penilaian terhadap informasi yang telah diperoleh terkait dengan kesesuaian dengan kebutuhan informasi dan keakuratan kualitas informasi yang diperoleh. 8) Ending Ending merupakan tahap terakhir dari pencarian informasi yang ditandai telah selesainya proses pencarian informasi dengan menggunakan informasi tersebut sesuai dengan kebutuhan dan penelusuran tambahan jika diperlukan untuk melengkapi bagian yang kurang Di era perkembangan TIK yang pesat sekarang ini, alat pencarian informasi digital tersedia dalam berbagai bentuk dan media yang beragam. Sudah lazim bagi seseorang mencari melalui alat pencari (search engine), katalog daring, pengkalan data jurnal, dan sumber informasi digital lainnya. Dalam perguruan tinggi yang menerapkan kegiatan belajar mandiri dan terpusat pada pelajar seperti pembelajaran daring, beragam ketersediaan informasi merupakan kunci sukses dalam memenuhi pencarian informasi mahasiswa secara mandiri (Saumure, 2010). Meskipun ada banyak alat pencarian yang digunakan, bukan berarti pencarian informasi akan selalu berjalan sesuai yang diinginkan. Terdapat hambatan dan tantangan yang berkaitan dengan pencarian informasi. Misalkan dilihat dari akses informasi yang bisa dijadikan hambatan dan tantangan ketika mencari informasi (Burnett et al., 2008). Motivasi untuk mendapatkan informasi dan identifikasi kebutuhan informasi seseorang juga dapat dianggap hambatan dan tantangan dalam mencari dan menelusur informasi yang relevan (Case & Given, 2016). Menurut Wilson (1997, 2000), ketika mencari informasi, terdapat variabel penghambat (intervening variables) yang dapat terjadi terkait psikologis, demografis, peran atau interpersonal, lingkungan, dan karakteristik sumber informasi. Perilaku penelusuran informasi sering dihubungkan dengan literasi informasi, pengambilan keputusan, pemecahan masalah, dan seleksi informasi (2006). Ketika penelusuran informasi digunakan untuk kegiatan pembelajaran maka istilah literasi informasi lebih cocok untuk digunakan. Literasi informasi juga berkaitan dengan penggunaan teknologi untuk mendapatkan informasi yang relevan untuk kegiatan pembelajaran. Pengambilan keputusan dan pemecahan masalah juga membutuhkan kemampuan penelusuran informasi sebagai pendukungnya. Namun pemecahan masalah membutuhkan kemampuan manajemen dan analisis lebih lanjut. Perilaku penelusuran informasi juga membutuhkan pengetahuan konsep seleksi informasi yang relevan. Dengan terjadinya ledakan informasi (information overload) dikarenakan setiap orang sekarang ini dapat membuat informasi secara mandiri, maka kemampuan seleksi informasi diperlukan dalam memilah informasi yang diperlukan.

Method

Penelitian ini menggunakan pendekatan metode penelitian kualitatif, yang bertujuan untuk mengidentifikasi dan menggambarkan perilaku pencarian informasi mahasiswa program sarjana FIB UI dalam kaitannya dengan pemanfaatan sumber informasi elektronik. Wawancara mendalam dilakukan pada informan berjumlah 16 orang mahasiswa FIB UI tingkat sarjana untuk menghasilkan hasil analisis mendalam tentang penggunaan sumber informasi digital di UI. Informan terdiri dari 8 laki-laki (ditandai dengan L) dan 8 perempuan (ditandai P) yang tersebar di beberapa program studi. Wawancara dilakukan dengan panduan wawancara yang dibuat berdasarkan model dan teori Kebutuhan informasi, Perilaku Pencarian Informasi Ellis, Cox dan Hall (behavioral model of information seeking strategies) yang selanjutnya diadaptasi oleh Wilson (a model of the grossinformation seeking strategies) dan ditambahkan variabel penghambat pencarian informasi. Data juga dikumpulkan melalui observasi terhadap fakta yang ada dan dokumen dan publikasi mengenai sumber elektronik oleh Perpustakan UI dan beberapa pengajar FIB UI. Setelah data terkumpul, kami melakukan koding dari transkrip wawancara dengan menempatkan seluruh hasil wawancara ke bagianbagian model yang digunakan dan selanjutnya triangulasi antar keseluruhan jawaban dan dengan fakta dan pendapat pihak Perpustakaan UI. Temuan dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai perilaku pencarian informasi mahasiswa program sarjana Universitas Indonesia dan kaitannya dengan pemanfaatan sumber informasi elektronik dan digital.

Discussion

A. Identifikasi Kebutuhan Informasi Dalam rangkaian kegiatan pencarian informasi, mahasiswa mengawali pencarian informasi dengan mengidentifikasi terlebih dahulu kebutuhan informasi mereka baik yang bersifat akademik seperti yang terkait dengan tugas perkuliahan, penelitian, seminar, konferensi, dan pengabdian masyarakat maupun informasi yang bersifat umum seperti yang berkaitan dengan hobi, kegiatan organisasi, berita politik terbaru atau kebutuhan sehari-hari. “…informasi mengenai pergerakan sastra post modern, neo post modern dan sastra terdahulu.” (P3.Jepang) “..saya didorong dosen saya untuk ikut meneliti, seminar, konferensi, program kreativitas mahasiswa, dan pengabdian masyarakat dan ditugaskan untuk mencari informasi..” (L8.Arkeologi) “…informasi berkaitan dengan tugas dan bidang pengetahuan yang saya gemari, misalnya informasi tentang linguistik terapan.” (P1.Indonesia) “…tugas perkuliahan, pengembangan diri karir, hobi, lowongan pekerjaan, organisasi, relasi.” (P6.Rusia) Berdasarkan data tersebut, mahasiswa tidak hanya membutuhkan informasi yang berkaitan dengan kegiatan akademik mereka, tetapi juga informasi yang berkaitan dengan kehidupan mereka sehari-hari. “…ketika saya mencari informasi mengenai salah satu pilihan untuk tema skripsi saya. Saya mencari pembahasanpembahasan mengenai “Fußball als Integration der Migranten in Deustchland”. Secara tidak sadar saya menyusun mengenai hal apa saja yang mungkin menjadi bagian dari topik bahasa tersebut. Selain itu saya juga mencari topik tersebut dengan berbagai kata kunci yang berbeda.” (L4.Jerman) Mahasiswa melakukan pencarian informasi dan mengidentifikasi kebutuhan informasinya karena dipicu oleh berbagai alasan mulai dari tugas yang diberikan oleh dosen hingga penulisan tugas akhir berupa skripsi. “…dari progam studi Inggris, bagaimana mahasiswa harus menganalisa sebuah karya sastra. Selain menganalisis teks yang ada, mahasiswa juga diminta untuk mencari latar belakang penulis dan keadaan sosial saat karya tersebut ditulis. Dengan demikian, mahasiswa dapat melihat ide yang ingin disampaikan penulis dengan lebih mendalam.” (P5.Inggris) Dalam proses identifikasi ini mulai ditemukan kata kunci yang nantinya akan digunakan dalam proses pencarian informasi. “…banyak keyword yang saya coba untuk mencari sumber informasi literatur yang sesuai.” (L3.Inggris) B. Pola Perilaku Pencarian Informasi 1) Starting Proses pencarian informasi dimulai pada tahap starting. Pada tahapan starting mahasiswa mengawali pencarian informasi dengan bertanya pada teman tentang sumber informasi potensial yang mampu menyediakan informasi yang mereka butuhkan. Khusus untuk informasi yang berkaitan dengan kegiatan akademik mahasiswa juga bertanya kepada dosen untuk mendapatkan rekomendasi mengenai sumber literatur atau penelitian terdahulu yang dapat mereka gunakan sebagai referensi untuk penyelesaian tugas mereka. Pada tahapan starting ini, selain bertanya langsung kepada dosen atau teman, mahasiswa juga melakukan pencarian awal melalui internet untuk mendapatkan gambaran umum mengenai informasi yang mereka butuhkan: “…bertanya ke teman tentang website yang berkaitan dengan informasi tersebut, bertanya ke dosen tentang penelitian terdahulu tentang topik yang dicari, dan mencari melalui internet informasi umum sebagai pengantar.” (P1.Indonesia) 2) Chaining Setelah melakukan identifikasi dan pencarian awal informasi yang mereka butuhkan pada tahap starting, mahasiswa melanjutkan proses pencarian informasi dengan merujuk pada informasi awal yang mereka peroleh. Hal tersebut dilakukan untuk mendapatkan referensi langsung dari sumber atau pengarang aslinya sehingga mereka memperoleh informasi yang lebih akurat. Informasi tersebut digunakan sebagai literatur untuk memperkuat karya ilmiah yang mereka buat. Berdasarkan pertanyaan yang diajukan mengenai tahap chaining ini, responden mengungkapkan bahwa mereka melakukan berbagai cara untuk mendapatkan informasi lebih banyak yang terkait dengan kebutuhan mereka. Mahasiswa menelusur informasi yang berkaitan dengan kebutuhan mereka dengan cara merujuk pada daftar pustaka atau daftar referensi yang terdapat di informasi awal yang mereka peroleh: “…mencari melalui daftar pustaka untuk mendapatkan lebih banyak literatur.” (P2.Jerman) “…mengecek daftar pustaka untuk mendapatkan informasi selanjutnya dari karya full text.” (L1.Cina) Proses mengaitkan informasi ini disebut backward chaining. Backward chaining dilakukan dengan menjadikan sumber informasi awal sebagai starter reference atau acuan dasar untuk memahami dan mendapatkan sumber informasi lainnya (Riady, 2013). Selain merujuk pada daftar pustaka yang ada pada informasi awal yang diperoleh, beberapa mahasiswa juga mencari informasi tambahan dengan cara mencari informasi mengenai penulis atau narasumber informasi awal lalu mencari informasi lain yang ditulis oleh penulis tersebut: “…mengecek biografi orang tersebut dan mencari karyanya di web perpustakaan kampus.” (L2.Sejarah) Proses ini dikenal sebagai forward chaining. Proses ini dianggap sangat berguna dalam rangkaian kegiatan pencarian informasi, terutama jika pengarang atau narasumber aslinya merupakan seseorang yang memiliki otoritas dan keahlian di bidangnya (Wilson, 2000). Pada tahapan chaining, pencari informasi (dalam konteks penelitian ini, mahasiswa) akan mendapatkan beragam masukan dan acuan yang akan semakin menambah kekayaan informasi mereka terhadap topik yang mereka butuhkan. Selain itu, proses ini juga menjadikan informasi yang diperoleh mahasiswa semakin mengerucut pada informasi yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan mereka. 3) Browsing Tahapan ketiga dalam model pencarian informasi yang diusulkan oleh Ellis, Cox, dan Hall adalah browsing. Pada tahap ini, setelah dapat mengidentifikasi berbagai informasi potensial yang mereka butuhkan melalui tahap starting dan chaining, mahasiswa mulai melakukan penelusuran informasi melalui berbagai sumber. Penelusuran informasi pada tahap ini dilakukan oleh mahasiswa secara lebih terstruktur dan menggunakan beragam strategi pencarian, tergantung pada jenis dan format informasi yang mereka butuhkan. Berdasarkan tanggapan dari pertanyaan yang berkaitan dengan tahap ini, penelusuran informasi pada umumnya dilakukan oleh mahasiswa melalui jaringan internet, khususnya menggunakan search engine. “…sangat sering mencari melalui search engine. Referensi cukup banyak dan cepat.” (P3.Jepang) “…saya mencari semua langsung menggunakan google untuk akademik dan non akademik.” (L2.Sejarah) Penelusuran informasi menggunakan search engine memang merupakan cara yang paling sering digunakan untuk mencari informasi karena dianggap mudah dan cepat khususnya jika pengetahuan mengenai informasi yang dibutuhkan masih minim (George et al., 2006). Namun, dalam proses pencarian informasi menggunakan search engine mahasiswa seringkali mengalami kesulitan mendapatkan informasi yang sesuai dengan kebutuhannya. “…saya selalu memiliki masalah dalam mencari data yang tepat dari banyaknya hasil yang ditemukan di google. Saya selalu berusaha untuk mencari keyword yang tepat untuk paper saya, tetapi selalu saja hasil yang muncul sangat banyak dan luas.” (L3.Inggris) Selain menelusur informasi di jaringan internet, mahasiswa juga menelusur informasi yang mereka butuhkan melalui koleksi perpustakaan UI dengan memanfaatkan katalog online (OPAC). Dalam memanfaatkan koleksi perpustakaan UI, mahasiswa memiliki kecenderungan untuk menelusur informasi dalam format tercetak dibandingkan informasi berformat digital yang tersedia di perpustakaan UI. “…jarang menggunakan koleksi digital, hanya menggunakan fisik.” (L4.Jerman) “…mencari literatur buku sejarah. Ke perpustakaan untuk mencari koleksi fisik dan mengerjakan tugas.” (L2.Sejarah) Namun, hal ini bukan berarti koleksi dalam bentuk elektronik yang disediakan oleh perpustakaan UI tidak digunakan. Beberapa mahasiswa menyatakan bahwa mereka memanfaatkan koleksi elektronik yang disediakan oleh perpustakaan UI secara berkala. “dalam seminggu saya diwajibkan dosen untuk mendapatkan 2 artikel online untuk dilaporkan sebagai progress draft skripsi, dalam seminggu 2-3 kali.” (P4.Sejarah) “sangat sering menggunakan sumber informasi elektronik Perpustakaan UI. Setiap minggu mengakses.” (P3.Jepang) Pada tahap browsing, internet memang menjadi sarana yang paling sering digunakan untuk mencari informasi yang berkaitan dengan keperluan akademik, baik dengan akses ke koleksi perpustakaan maupun tidak. Hal ini juga sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh George et. al. (2006) yang menyatakan bahwa internet menjadi sarana pencarian informasi utama bagi mahasiswa. 4) Differentiating Tahapan berikutnya dalam model perilaku informasi adalah differentiating. Pada tahapan ini Ellis mengungkapkan bahwa evaluasi dan penilaian terhadap sumber informasi dilakukan berdasarkan kualitas, kepentingan, dan kegunaan informasi tersebut (Wilson, 1997, 1999, 2000). Pada tahap ini, mahasiswa memilah dan membedakan sumber informasi yang sudah dimiliki sesuai dengan kualitas sumber informasi. “…tidak menggunakan forum online dan diskusi. Biasanya hanya membaca diskusi orang lain. Karena banyak orang membual di forum online.” (L1.Cina) “…tidak sering, karena forum diskusi cenderung subjektif dan berangkat dari pendapat personal.” (P6.Rusia) Pada tahap ini, mahasiswa mampu memilah mana sumber informasi yang berkualitas dan mana sumber informasi yang relevan dengan kebutuhannya. “…ketika menggunakan internet dalam mencari informasi, mahasiswa harus memilih website yang penulisnya diketahui dan merupakan ahli dibidang yang mereka tulis. Contohnya, jika ingin mengetahui biografi dari William Shakespeare kita dapat melihat website Folger Shakespeare Library dan bukan dari blogspot pribadi seorang penggemar Shakespeare.” (P5.Inggris) Mahasiswa juga melakukan diferensiasi berdasarkan format dan jenis sumber informasinya. “…setelah mengetahui jenis atau format data yang dibutuhkan, kita dapat menentukan sumber data tersebut. Misalnya, kita dapat mencari buku-buku melalui situs open access seperti DOAB (Directory of Open Access Book) atau jurnal di DOAJ (Directory of Open Access Journal), mencari audio di Soundcloud, dan video di Youtube.” (P7.Cina) 5) Monitoring Langkah yang juga sangat bermanfaat dalam pencarian informasi adalah monitoring atau pemantauan terhadap informasi yang sesuai dengan kebutuhan. Dengan melakukan pemantauan, mahasiswa dapat memperoleh informasi terbaru yang terkait dengan topik yang mereka butuhkan. Dalam penelitian ini, terlihat bahwa mahasiswa melakukan berbagai upaya untuk memantau perkembangan informasi yang sesuai dengan minat dan kebutuhan mereka. “…melalui televisi dan radio untuk mengikuti perkembangan terkini.” (P2.Jerman) “…(melalui televisi dan radio) untuk informasi yang sedang hangat.” (L2.Sejarah) Monitoring dilakukan menggunakan media massa arus utama untuk memperoleh informasi aktual. Pemantauan informasi melalui media massa hanya dilakukan untuk mendapatkan informasi terbaru yang tidak berkaitan dengan kebutuhan informasi akademik mahasiswa. “…tidak menggunakan media massa elektronik (TV dan radio) untuk akademik.” (L3.Inggris) Selain media massa seperti TV dan radio, media sosial juga digunakan untuk melakukan pemantauan informasi. “…media sosial sering digunakan untuk pembahasan materi karya seseorang.” (L5.Sejarah) “…beberapa sumber saya dapatkan informasinya awalnya dari sosial media.” (P4.Sejarah) Beberapa mahasiswa FIB UI juga menggunakan media sosial untuk memantau informasi terbaru yang terkait dengan kebutuhan informasi akademiknya. Adapun untuk memantau perkembangan informasi yang sepenuhnya bersifat akademik, beberapa mahasiswa juga mengungkapkan bahwa mereka memanfaatkan fasilitas Google Scholar Alert. “Pada Google Scholar, sekitar tujuh hari setelah membuat saya mendapatkan informasi mengenai artikel ilmiah mengenai pembahasan tulisan saya. Pada artikel itu juga menuliskan buku-buku rujukan sehingga saya mendapatkan sumber baru untuk menambah informasi tulisan saya.” (L7.Belanda) Pada tahapan monitoring, baik melalui media massa, media sosial, maupun berbagai fasilitas lainnya sangat penting bagi mahasiswa untuk mendapatkan informasi terbaru, khususnya yang terkait dengan kebutuhan informasi akademik mereka. 6) Extracting Tahapan berikutnya dalam model perilaku pencarian informasi yaitu extracting. Pada tahap ini, mahasiswa mulai mengidentifikasi informasi yang tepat dan relevan dengan kebutuhan informasinya dalam sumber informasi yang diperoleh. Tahapan extracting dapat dilakukan melalui dua cara, yaitu pada sumber informasi sekunder seperti buku atau artikel jurnal maupun pada sumber informasi tersier seperti pada indeks, bibliografi, atau katalog online. “…arsip koran yang saya temui di Delpher sangat terbaca jelas dan dapat saya unduh secara gratis. Mesksipun menggunakan bahasa Belanda, namun saya dapat meminta bantuan terjemahan oleh teman saya yang berada di Prodi Sastra Belanda. Arsip koran dari Delpher ini mampu menjadikan tulisan saya menjadi lebih akurat karena dapat menghadirkan sumber-sumber sejarah yang kuat.” (L7.Belanda) “…informasi-informasi yang berbau sinologi cukup banyak namun hasil dari tulisan negara-negara barat seperti Eropa dan Amerika Serikat. Sehingga terkadang informasi yang terkandung memiliki muatan yang kebarat-baratan atau hanya berdasarkan kacamata barat. Yang saya biasanya lakukan hanyalah menerjemahkan informasi yang berasal dari bahasa asli.” (L1.Cina) 7) Verifying Tahapan ini merupakan tahapan terakhir dari perilaku pencarian informasi sebelum proses pencarian berakhir dengan dimanfaatkannya informasi tersebut sesuai dengan kebutuhannya. Pada tahapan ini mahasiswa melakukan pengecekan kembali informasi yang sudah diperoleh melalui berbagai cara dan berbagai sumber untuk memastikan bahwa informasi yang diperoleh berkualitas. “Pastinya (melakukan cross-check) untuk memastikan sumber yang saya dapat bisa dipercaya.” (P4.Sejarah) Dalam hal ini, mahasiswa melakukan pengecekan silang (cross-check) informasi yang diperoleh dengan menggunakan beberapa cara: “…mengecek daftar pustaka untuk mendapatkan informasi selanjutnya dari karya full text. Juga mengecek validitas pengarang.” (P2.Jerman) “…mencari ke lebih dari dua sumber bacaan.” (L6.Jerman) “…melalui daftar pustaka dan melihat platformnya” (P5.Inggris) Berdasarkan tanggapan bebarapa mahasiswa, terlihat bahwa mahasiswa melakukan pengecekan ulang informasi yang mereka peroleh dengan melihat pada daftar pustakanya, otoritas pengarangnya, serta melakukan pengecekan silang melalui beberapa sumber untuk memastikan bahwa informasi yang mereka peroleh berasal dari sumber yang dapat dipercaya. 8) Ending Ending merupakan tahapan paling akhir dari rangkaian perilaku pencarian informasi model Ellis. Tahapan ini ditandai dengan berakhirnya proses pencarian informasi dan ditemukannya informasi yang dibutuhkan. Pada tahapan ini mahasiswa melakukan pengorganisasian informasi yang sudah diperoleh dengan cara mengutip infomasi yang diperoleh ke dalam karya yang mereka tulis. Mahasiswa juga menggunakan perangkat lunak manajemen referensi untuk melakukan hal tersebut. “…menyimpan sumber informasi yang ditemukan dalam web.” (P8.Prancis) “…menyimpan dan mensitir sumber informasi yang diperoleh.” (L1.Cina) “…menyimpan agar dapat mudah diakses saat offline (dari jaringan internet)." (P6.Rusia) “…menggunakan reference manager untuk mengelola daftar referensi.” (P3.Jepang) Dari hasil wawancara di atas, bisa dipahami bahwa mahasiswa FIB UI di tahap akhir sudah menggunakan informasi secara efektif dengan memanfaatkan tools/alat seperti pengelola referensi dalam menyimpan, mensitir dan pembuatan karya ilmiah. C. Hambatan Pencarian Informasi Berbagai jenis hambatan dapat terjadi ketika mencari informasi. Mulai dari motivasi yang rendah, akses yang tidak tersedia, alat pencarian yang belum termaksimalkan, atau bahkan ketidaktahuan pencari informasi akan sumber informasi yang ada. Pada mahasiswa Program Sarjana FIB UI, berikut hambatan-hambatan yang ditemui ketika mencari informasi. “..Informasi database UI sangat minim sosialisasi. Hanya dapat sewaktu OBM. Tapi sudah lupa. Saat OBM, saya belum begitu sadar pentingnya akses sumber informasi di Perpustakaan. Sekarang sudah banyak yang lupa, perlu penyegaran..” (P2.Jerman) “..Sosialisasi sangat minim, k-atm saja hanya diletakkan tidak disosialisasikan..” (P5.Inggris) “..Kurangnya promosi sumber informasi secara menyeluruh kepada sivitas akademika..” (L7.Belanda) “..Kurangnya promosi dan sosialisasi secara langsung ke pengajar dan fakultas..” (L6.Jerman) “..Banyak mahasiswa termasuk saya tidak mengetahui dimana dan bagaimana cara memperoleh koleksi digital UI. Kurang promosi, tidak ada sosialisasi lebih lanjut mengenai hal itu dari perpustakaan..” (L4.Jerman) Dari hasil wawancara di atas, banyak informan yang menyebutkan bahwa kurangnya pemanfaatan sumber informasi elektronik yang dilanggan oleh Perpustakaan UI adalah karena kurangnya sosialisasi dan promosi oleh Perpustakaan UI secara langsung ke sivitas akademika UI (Fakultas, Departemen dan Program Studi, dan individu). Memang terdapat sosialisasi perpustakan di awal perkuliahan, namun terdapat pernyataan informan bahwa ia kurang menyadari pentingnya pemanfaatan sumber informasi elektronik di masa awal perkuliahan dan kebanyakan sudah lupa. Dari hasil observasi dan konfirmasi ke Perpustakaan UI, untuk kegiatan promosi dan sosialisasi diberikan ketika masa orientasi belajar mahasiswa di awal perkuliahan. Selanjutnya, sosialisasi database diinformasikan melalui tiap-tiap email mahasiswa yang menjadi anggota perpustakaan. Perpustakaan UI juga terbuka dalam kerja sama kegiatan di Fakultas. Seperti beberapa kegiatan Departemen yang melibatkan Perpustakaan UI, di mana Perpustakaan UI membuka kios dalam upaya memperkenalkan sumber informasi elektronik yang dilanggan. Selain berkaitan dengan promosi, terdapat pula hambatan lain yang dikarenakan oleh kurangnya integrasi penggunaan sumber informasi elektronik ke dalam kegiatan perkuliahan, seperti yang dapat dilihat di wawancara berikut: “..Tidak mengetahui ketersediaan fasilitas tersebut; Tidak ada integrasi di kegiatan perkuliahan sehingga tingkat penggunaan sumber informasi online masih sangat minim..” (L6.Jerman) “..Dosen jarang menyarankan hal tersebut..” (P1.Indonesia) “..Masih kurang integrasi perkuliahan dengan penggunaan sumber informasi online..” (P2.Jerman) Tanggapan dari informan menjelaskan bahwa beberapa dosen belum mengintegrasikan kegiatan perkuliahan dengan pengarahan penggunaan sumber informasi elektronik di Perpustakaan UI. Hal ini dikonfirmasi ke beberapa pengajar, di mana pengajar sudah menyiapkan bahan bacaan untuk kegiatan perkuliahan, sehingga mahasiswa merasa tidak perlu mencari sumber informasi lainnya. Namun ada beberapa pengajar yang memang mengintegrasikan pembelajaran aktif, berbasis proyek dan permasalahan, di mana mahasiswa didorong untuk menggunakan sumber informasi di luar buku teks dan bacaan yang diberikan oleh dosen. Selain itu, terdapat pula hambatan yang berkaitan dengan individu masing-masing: “..Permasalahan teknis aja sih, seperti kurangnya kemampuan mengoperasikan gawai dan kurangnya akses..” (P7.Cina) “..Saya lebih suka akses dari luar kampus, lebih praktis, tapi saya tidak ada akses internet yang cepat dari luar kampus..” (P5.Inggris) “..akses internet FIB sanfat buruk..” (L3.Inggris) “..Saya lebih nyaman membaca buku langsung dibanding digital..” (P6.Rusia) “..Permasalahan utama sebenarnya Bahasa. Banyak jurnal yang bagus dan dilanggan oleh UI namun berbahasa inggris, jadi lebih sering ambil dari buku teks..” (L8.Arkeologi) Dari hasil wawancara di atas, terlihat bahwa mahasiswa memiliki caranya masing-masing dalam mencari informasi dengan sumber elektronik. Ada mahasiswa yang cenderung kurang pawai dalam hal penggunaan gawai. Ada yang lebih suka akses dari luar kampus. Ada yang lebih suka mengakses sumber informasi tercetak. Terdapat juga permasalahan Bahasa yang menyebabkan mahasiswa menghindari sumber informasi elektronik yang dilanggan oleh UI.

Conclusion

Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa para informan melakukan pencarian informasi untuk memenuhi kebutuhan informasi mereka baik untuk keperluan akademik seperti tugas kuliah dan penulisan tugas akhir maupun untuk memenuhi kebutuhan informasi harian seperti untuk mendapatkan berita terkini atau terkait dengan minat dan hobi mereka. Dalam melakukan pencarian informasi, khususnya yang berkaitan dengan kepentingan akademik mereka, para informan melakukan tahapan-tahapan kegiatan pencarian informasi dimulai dari mengawali pencarian dengan bertanya kepada teman atau dosen untuk memperoleh informasi awal terkait kebutuhan mereka dan menggunakan mesin pencari untuk mendapatkan literatur awal. Selanjutnya, setelah informasi awal diperoleh para informan, mereka mulai mencari informasi lanjutan dengan mengaitkan informasi awal yang mereka peroleh dengan merujuk pada daftar pustaka serta menyusuri karya-karya yang ditulis oleh penulis suatu karya untuk mendapatkan literatur yang lebih luas. Di samping itu, para informan juga melakukan penelusuran langsung ke berbagai sumber informasi seperti perpustakaan atau internet. Para informan memanfaatkan berbagai sumber yang tersedia di perpustakaan UI mulai dari koleksi tercetak, koleksi digital berupa jurnal elektronik, dan koleksi UI-ana seperti skripsi dan dan tesis. Para informan juga melakukan pemantauan terhadap informasiinformasi terbaru yang terkait dengan kebutuhan akademik mereka melalui berbagai saluran informasi berupa media sosial, media arus utama seperti TV dan radio dan melalui berbagai akses ke karya ilmiah elektronik seperti Google Scholar. Dalam melakukan pencarian informasi, para informan juga melakukan pengelompokkan sumbersumber informasi berdasarkan berbagai kriteria seperti format sumber informasi dan kualitas konten informasi. Dalam tahap ini, informan berusaha menyaring informasi dari sumber-sumber yang berkualitas dan dapat dipertanggungjawabkan seperti menghindari menggunakan informasi yang berasal dari forum diskusi online. Informan juga melakukan pengelompokan berdasarkan format sumber informasinya seperti buku, artikel, video, dan audio. Setelah mendapatkan sumber-sumber informasi yang dibutuhkan, informan melakukan identifikasi dan penyeleksian untuk mendapatkan informasi yang benar-benar relevan dengan kebutuhan mereka. Dalam tahap ini, informan melakukan pencarian yang lebih mendalam terhadap sumber informasi yang sudah mereka peroleh. Setelah mendapatkan informasi yang dibutuhkan, para informan melakukan verifikasi terhadap informasi yang diperoleh tersebut untuk memastikan keabsahan informasi yang mereka peroleh dengan mengecek kembali daftar pustaka atau daftar referensi yang digunakan pada sumber informasi yang ditemukan dan mencari literatur pendukung yang dapat memperkuat informasi yang diperoleh. Tahapan terakhir yang dilakukan oleh para informan ketika melakukan pencarian informasi adalah menggunakan informasi tersebut sesuai dengan kebutuhannya. Dalam konteks akademik, para informan menggunakan informasi tersebut dengan cara menyitir informasi yang mereka butuhkan ke dalam tulisan mereka. Selain itu, untuk memudahkan penemuan kembali sumber informasi yang sudah diperoleh, para informan menyimpan informasi elektronik yang mereka dapatkan di komputer pribadi mereka dan menggunakan aplikasi manajemen referensi (Mendeley) untuk memudahkan pengelolaan berbagai sumber elektronik tersebut. Dalam memenuhi kebutuhan informasi ini, proses pencarian informasi yang dilakukan oleh para informan menghadapi berbagai hambatan untuk dapat memperoleh informasi yang mereka butuhkan mulai dari minimnya pengetahuan mereka terhadap ketersediaaan akses sumber informasi elektronik, baik yang aksesnya tersedia secara bebas (open access) maupun sumber informasi elektronik yang sudah disediakan oleh perpustakaan UI. Hambatan lain yang dihadapi oleh para informan adalah kurangnya kemampuan mereka dalam strategi pencarian dan penelusuran informasi, sehingga mereka menghabiskan banyak waktu dan sumber daya untuk dapat memperoleh informasi tersebut. Terdapat saran terkait hambatan yang terjadi terkait perilaku pencarian informasi dan pemanfaatan sumber informasi elektronik oleh mahasiswa program sarjana FIB UI. Pentingnya sosialisasi dan promosi terhadap sumber informasi elektronik terhadap mahasiswa tingkat menengah dan akhir. Perlu juga lebih gencar dalam sosialisasi secara langsung dengan cara ikut serta dalam acara-acara yang diadakan oleh mahasiswa, di mana Perpustakaan UI dapat membuat kios ataupun booth di acara tersebut. Selain itu, para dosen perlu lebih giat lagi dalam metode pembelajaran aktif yang memungkinkan mahasiswa mencari sumber informasi dan literaturnya melalui pangkalan data dan jurnal daring yang dilanggan oleh Perpustakaan UI. Perlunya untuk lebih memaksimalkan mata kuliah yang membahas mengenai penelusuran informasi untuk diajarkan oleh Departemen Ilmu Perpustakaan dan Informasi di tingkat Fakultas dan Universitas dalam membantu Perpustakaan UI mempromosikan sumber informasi elektronik yang dapat dimanfaatkan oleh mahasiswa UI, khususnya di FIB UI.