Kembali
16
1
2023 Jurnal Ilmu Informasi, Perpustakaan, dan Kearsipan Vol 25 · 2 ISSN 2502-7409

TINJAUAN LITERATUR SISTEMATIS TERHADAP PENERAPAN SISTEM KLASIFIKASI KHUSUS DI PERPUSTAKAAN

Universitas Indonesia; Universitas Indonesia

Abstrak

Dewey Decimal Classification (DDC) menjadi sistem klasifikasi populer yang banyak diterapkan di sebagian besar perpustakaan. Namun, penggunaan DDC telah menurun dalam empat dekade terakhir dan perpustakaan disarankan untuk melakukan reklasifikasi. Di sisi lain, diketahui bahwa penerapan sistem klasifikasi khusus memberikan pengaruh signifikan pada temu kembali informasi. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menyajikan gagasan dan proses penerapan sistem klasifikasi khusus di berbagai perpustakaan di Indonesia dalam satu dekade terakhir. Penelitian ini menggunakan metode systematic literature review (SLR) dengan kerangka population, intervention, comparison, outcome, and context (PICOC) untuk menganalisis gagasan, skema, proses, dan kendala yang dihadapi dalam penerapan sistem klasifikasi khusus. Tinjauan dilakukan pada artikel ilmiah yang diperoleh dari Google Scholar. Setelah melalui tahapan uji kualitas literatur, diperoleh 10 artikel ilmiah untuk dianalisis. Data ditinjau dan dianalisis dengan menjabarkan isi penelitian, pemecahan masalah dari rumusan penelitian dan penarikan kesimpulan yang terdapat pada artikel ilmiah. Hasil penelitian menemukan bahwa gagasan sistem klasifikasi khusus dikembangkan berdasarkan interpretasi hasil pemikiran, jenis koleksi, dan kompleksitas isi koleksi. Penerapan sistem klasifikasi khusus tidak jauh berbeda dengan sistem klasifikasi secara umum, dengan proses yang lebih sederhana. Penerapan sistem klasifikasi khusus yang dilakukan oleh berbagai perpustakaan di Indonesia dilandaskan pada gagasan ideologis, praktis, dan empiris.

Abstract

The Dewey Decimal Classification (DDC) is a widely implemented classification system in most libraries. However, its usage has declined over the past four decades, and libraries are advised to undergo reclassification. Conversely, it is recognized that the implementation of specialized classification systems significantly impacts information retrieval. Therefore, the aim of this study is to elucidate the concept and methodology behind the integration of bespoke categorization frameworks within diverse libraries across Indonesia over the past decade. This study employs the systematic literature review (SLR) and the population, intervention, comparison, outcome, and context (PICOC) framework to analyze ideas, schemes, processes, and challenges in implementing specialized classification systems. Scientific articles sourced from Google Scholar were utilized for the review. Ten scientific articles were selected for analysis after successfully passing the literature quality assessment stage. The data were examined and analyzed by describing the research content, addressing issues in its formulation, and drawing conclusions from the scientific articles. According to the study's findings, the development of a specialized classification system is contingent upon the interpretation of ideas, the nature of collections, and the complexity of their contents. The primary distinction between utilizing a specialized classification system and a general classification system lies in the ease of the process. The application of a specialized classification system in various Indonesian libraries is based on ideological, practical, and empirical considerations.
Keywords: klasifikasi perpustakaan · sistem klasifikasi · sistem klasifikasi khusus

Introduction

Perpustakaan merupakan lembaga informasi yang hadir di tengah masyarakat untuk menyediakan beragam sumber daya informasi dalam rangka memenuhi kebutuhan informasinya. Sebagai penyedia layanan informasi, terdapat banyak kegiatan di perpustakaan hingga informasi yang dapat dilayankan. Kegiatan tersebut meliputi: pengumpulan, pengolahan, penyajian, penyebarluasan, pengorganisasian, dan pelestarian informasi (Endarti, 2022). Hukum perpustakaan sering dijadikan landasan dalam mengelola perpustakaan, sebagaimana dikemukakan oleh Anderson, dkk. (2019). Hukum tersebut dikemukakan oleh Siyali Ramamrita Ranganathan pada tahun 1931 yang terdiri dari: books are for use; every reader his book; every book its reader; save the time of the reader; dan library is a growing organism. Keseluruhan kaidah tersebut merupakan acuan bagi pustakawan dalam manajemen perpustakaan, termasuk pada pengorganisasian informasi. Dalam mengorganisasi informasi di perpustakaan diperlukan sebuah sistem untuk mengolah dan mengelompokkan sumber daya informasi atau koleksi perpustakaan guna memudahkan pustakawan dan pemustaka dalam mencari dan menemukan kembali informasi yang diperlukan (Fadilla, 2020). Sistem pengelompokan tersebut dikenal dengan istilah sistem klasifikasi sebagaimana dipaparkan oleh Fadilla (2020). Menurut Sulistyo-Basuki (1991) klasifikasi merupakan proses pengelompokan buku atau dokumen lain yang terdapat di perpustakaan dengan merujuk susunan logis pada berbagai bidang ilmu pengetahuan dan seni sesuai dengan bagan klasifikasi. Klasifikasi Persepuluhan Dewey atau Dewey Decimal Classification (DDC) merupakan sistem klasifikasi yang telah dikenal oleh masyarakat yang bergelut di dunia perpustakaan. Sebagaimana dikemukakan oleh Clarke (2021), sistem klasifikasi ini merupakan sistem klasifikasi yang paling banyak digunakan dalam pengolahan koleksi perpustakaan. Hal serupa juga dikemukakan oleh Lund dan Agbaji (2018) yang mengatakan bahwa “dari tahun 1876 hingga zaman modern, sistem klasifikasi Dewey tetap menjadi skema klasifikasi umum yang digunakan oleh perpustakaan sekolah, akademik, dan perpustakaan umum”. Alasannya karena DDC memiliki beberapa fitur yang menarik, seperti notasinya yang lugas dan mudah diingat (Lund dan Agbaji, 2018). Meski begitu, penelitian yang dilakukan oleh Lund dan Agbaji (2018) tersebut juga menunjukkan bahwa penggunaan klasifikasi DDC telah menurun pada empat dekade terakhir dan diharapkan agar informasi tersebut dapat membantu mendukung keputusan reklasifikasi di perpustakaan. Dalam konteks Indonesia, Noviani (2013) pernah meneliti terkait “pengaruh sistem klasifikasi mandiri (khusus) terhadap hasil temu balik informasi pemustaka pada layanan skripsi dan tugas akhir di Perpustakaan Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Pekalongan”. Hasil dari penelitian tersebut menunjukkan bahwa sistem klasifikasi mandiri atau khusus berpengaruh terhadap hasil temu balik informasi pemustaka sebesar 59,7%. Hal tersebut mengindikasikan bahwa sistem klasifikasi khusus juga tidak kalah efektif dalam mendukung proses temu kembali informasi dibandingkan dengan sistem klasifikasi pada umumnya, dalam hal ini DDC. Oleh karena itu, temuan tersebut menarik perhatian penulis untuk melakukan investigasi lebih lanjut mengenai penerapan sistem klasifikasi khusus di perpustakaan. Dengan demikian, rumusan umum permasalahan dalam penelitian ini adalah: “Bagaimana perkembangan kajian mengenai penerapan sistem klasifikasi khusus di perpustakaan yang ada di Indonesia?” Hasil penelusuran menunjukkan bahwa penelitian dengan topik penerapan sistem klasifikasi khusus di perpustakaan telah banyak dilakukan. Namun, penelitian-penelitian yang telah dilakukan terbatas pada pengkajian suatu klasifikasi tertentu pada satu perpustakaan tertentu. Oleh karena itu, penulis tergerak untuk mengumpulkan dan meninjau literatur-literatur dengan topik terkait dengan maksud untuk melihat proses suatu sistem klasifikasi dikembangkan dan diterapkan pada berbagai perpustakaan, khususnya di Indonesia. Terlebih, hasil penelusuran menunjukkan bahwa belum ada penelitian pada topik terkait dengan menggunakan metode systematic literature review (SLR). Hal tersebut menjadikan metode yang digunakan dalam penelitian memiliki nilai kebaruan. Metode SLR akan sangat membantu dalam memberikan pemahaman komprehensif tentang penelitian terkait sistem klasifikasi khusus, terutama penerapannya di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menginvestigasi hasil penelitian ataupun literatur yang dipublikasikan dalam rentang satu dekade terakhir dengan topik penerapan sistem klasifikasi khusus di perpustakaan. Secara mendetail terkait dengan gagasan, skema, proses, dan kendala yang dihadapi dalam penerapan sistem klasifikasi khusus di perpustakaan. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan gambaran secara utuh terkait penerapan sistem klasifikasi khusus di perpustakaan dalam mendukung temu kembali informasi. Selain itu, penelitian ini juga diharapkan mampu menambah khazanah terkait perkembangan dan pengembangan sistem klasifikasi khusus di Indonesia. II. TINJAUAN LITERATUR Menurut Taylor dan Joudrey (2018) klasifikasi merupakan “... a structured system of categories used to collocate similar ideas or objects”. Klasifikasi didefinisikan sebagai suatu sistem terstruktur yang digunakan untuk mengelompokkan benda ke dalam jenisnya berdasarkan kesamaan pada ciri-ciri yang dimiliki oleh objek tersebut. Chan dan Salaba (2015) menyatakan bahwa klasifikasi secara luas didefinisikan sebagai proses mengorganisasikan pengetahuan ke dalam suatu tatanan yang sistematis. Bila dicermati, klasifikasi dilakukan pada hampir semua kegiatan masyarakat dalam seluruh sektor kehidupan. Penggunaannya—dengan didasarkan pada suatu sistem tertentu—memberikan kemudahan dalam pengelompokan suatu objek atau benda sehingga menjadi tertata dengan rapi. Klasifikasi di perpustakaan mengacu pada pengelompokan buku dan bahan fisik lainnya berdasarkan pada skema tertentu (Sulistyo-Basuki, 1991). Tujuan utama dari klasifikasi, sebagaimana dikemukakan oleh Darwis (2014 dalam Fadilla, 2020) adalah untuk menyimpan koleksi buku atau dokumen lain sedemikian rupa sehingga koleksi serupa dikelompokan dan ditempatkan berdekatan dengan lokasi serupa (rak tujuan) agar mempermudah proses penelusuran, penemuan dan penempatan kembali koleksi perpustakaan ke jajaran rak tersebut. Hal ini berarti bahwa setiap eksemplar hanya dapat memiliki satu lokasi, posisi, atau slot dalam skema sebagai alamat buku di perpustakaan. Sementara itu, menurut Taylor dan Joudrey (2018) klasifikasi adalah proses penentuan koleksi atau sumber informasi yang sesuai dengan hierarki yang diberikan kemudian menugaskannya ke dalam notasi terkait dengan hierarki yang sesuai untuk sumber daya informasi dan metadatanya. Hoffman dan Snow (2021) mengungkapkan bahwa klasifikasi adalah komponen vital dari pengorganisasian pengetahuan karena perpustakaan sangat bergantung pada klasifikasi untuk membantu pengguna dalam mendapatkan akses ke sumber informasi. Mei dan Radev (2016) mengungkapkan bahwa temu kembali informasi mengacu pada kegiatan memperoleh sumber informasi (biasanya dalam bentuk dokumen tekstual) dari koleksi yang jauh lebih besar dan relevan dengan kebutuhan informasi pengguna dan temu kembali informasi hanya dapat dilakukan apabila sebuah koleksi memiliki data bibliografis. Oleh karena itu, perpustakaan perlu menerapkan suatu skema klasifikasi untuk mengorganisir koleksi yang dimiliki. Dalam mengklasifikasi bahan pustaka terdapat beberapa sistem klasifikasi yang dapat digunakan, seperti klasifikasi artifisial (artificial classification), klasifikasi fundamental (fundamental classification), dan klasifikasi utility (Turang, dkk., 2023). Sistem klasifikasi fundamental, sebagaimana dikemukakan oleh Rahmawati (2017) yaitu pengklasifikasian yang didasarkan pada subjek atau isi buku, sedangkan klasifikasi artifisial merupakan sistem klasifikasi berdasarkan kesamaan ciri-ciri yang melekat pada bahan pustaka, misalnya berdasarkan warna, ukuran, dan sebagainya. Terdapat banyak skema klasifikasi yang dapat dijadikan acuan dalam pengolahan koleksi di perpustakaan, di antaranya: Dewey Decimal Classification, Library of Congress Classification (LCC), Universal Decimal Classification (UDC), Colon Classification (CC), Bliss’s bibliographic Classification, Subject Classifications, Readers International Classifications (Syahdan, 2021; Rahmawati, 2017). Selain itu, juga terdapat skema klasifikasi lain yang dapat dibuat dan dikembangkan secara khusus, seperti National Technical Information Services (NTIS) di Perpustakaan US Department of Commerce. (Anggraeni, dkk., 2021). Dalam membuat atau mengembangkan sistem klasifikasi, terdapat beberapa kaidah yang perlu diperhatikan. Merangkum dari pemaparan Fadilla (2020) dengan merujuk pada kontribusi pemikiran Berwick Sayers dan Mary Mortimer mengenai sistem klasifikasi perpustakaan. Dikemukakan bahwa sebuah sistem klasifikasi harus: 6) lengkap dan mudah digunakan serta dimanfaatkan sesuai dengan tujuan utama dari sistem klasifikasi, 7) universal, 8) terperinci, 9) sistematis, 10) fleksibel, 11) memiliki notasi yang sederhana,12) memiliki indeks, 13) memiliki tabel pembagian geografis dan indeks yang alfabetis, 14) mampu mengakomodasi notasi baru, dan 15) memiliki badan pengawas. Dalam penerapan klasifikasi di perpustakaan juga perlu diperhatikan mengenai urutan langkah atau tata cara pelaksanaannya. Berdasarkan Pedoman Pengolahan Bahan Perpustakaan yang dikeluarkan oleh Perpustakaan Nasional Republik Indonesia tahun 2018 dapat diringkas bahwa proses penerapan klasifikasi di perpustakaan pada umumnya melingkupi beberapa kegiatan yang mencakup: (1) menentukan sistem klasifikasi; (2) menganalisis subjek; (3) menentukan notasi subjek; (4) menempelkan label pada koleksi; dan (5) melakukan penataan koleksi di rak tujuan (NS, I., dkk, 2018).

Method

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode SLR. Menurut Mengist, dkk. (2020) SLR memungkinkan untuk mengumpulkan bukti yang relevan pada topik terkait disesuaikan dengan kriteria kelayakan yang telah ditentukan sehingga memiliki jawaban untuk pertanyaan penelitian yang dirumuskan. Shaffril, dkk. (2021) mengemukakan bahwa terdapat tujuh aspek utama metodologi SLR, meliputi: (1) pengembangan dan validasi protokol tinjauan atau standar publikasi atau standar pelaporan atau pedoman; (2) rumusan pertanyaan penelitian; (3) strategi pencarian sistematis; (4) penilaian kualitas; (5) ekstraksi data; (6) sintesis data; dan (7) demonstrasi data. Sementara itu, Adrian dkk. (2016) mengemukakan bahwa terdapat tiga tahapan yang perlu dilakukan pada penelitian dengan metode SLR, yaitu: planning atau perencanaan, executing atau pengeksekusian, dan formatting atau pelaporan. Adapun, alur pada penelitian ini secara praktis dipadatkan menjadi aktivitas-aktivitas berikut. Perumusan Pertanyaan Penelitian Perencanaan penelitian dilakukan dengan membuat pertanyaan penelitian setelah memilih topik penelitian. Batasan penelitian ditetapkan dan dituangkan ke dalam pertanyaan penelitian. Perumusan pertanyaan penelitian dilakukan secara terstruktur dengan mengacu pada kerangka population, intervention, comparison, outcomes, context (PICOC). Cruz-Benito (2016) mendefinisikan PICOC sebagai ruang lingkup tinjauan literatur sistematis. Lingkup ini membantu dalam analisis literatur untuk menjawab pertanyaan penelitian. Adapun identifikasi lingkup berdasar kerangka PICOC dalam penelitian ini dijabarkan dalam tabel berikut. TABEL 1. IDENTIFIKASI PICOCSEBAGAI BATASAN PENELITIAN Kriteria Lingkup Population Sistem klasifikasi khusus di perpustakaan Intervention Batasan penelitian mengenai gagasan, tokoh pembuat/pengembang, proses dan kendala penerapan sistem klasifikasi khusus di perpustakaan Comparison Persamaan dan perbedaan serta kendala dalam penerapan sistem klasifikasi khusus di perpustakaan Outcome Proses penerapan sistem klasifikasi khusus di perpustakaan dan kendala yang dihadapi Context Ulasan dari hasil penelusuran tentang penerapan sistem klasifikasi khusus di perpustakaan dalam 10 tahun terakhir, mulai dari 01 Januari 2014 hingga 22 September 2023 Sumber: Data primer, diolah 2023. Berdasarkan identifikasi dalam tabel 1, dapat dirumuskan secara spesifik pertanyaan penelitian (PP) ini adalah sebagai berikut. PP1: Seperti apa ide atau gagasan dari klasifikasi khusus? PP2: Siapakah tokoh pembuat/pengembang sistem klasifikasi khusus? PP3: Bagaimana proses penerapan sistem klasifikasi di perpustakaan? PP4: Bagaimana kendala yang dihadapi dalam penerapan sistem klasifikasi khusus? Strategi Penelusuran Sistematis Pelaksanaan penelitian diawali dengan menyusun strategi penelusuran. Dalam penelitian ini, strategi penelusuran yang dilakukan terdiri dari: pemilihan sumber literatur dan penentuan kata kunci untuk proses pencarian. Dalam penelitian ini, sumber data berasal dari pangkalan data Google Scholar (GS) yang disediakan oleh perusahaan teknologi Google. GS merupakan mesin pencari literatur ilmiah berbasis web yang umum digunakan (Haddaway, dkk., 2015). GS telah memperluas jangkauannya secara signifikan selama bertahun-tahun sehingga menjadikannya pangkalan data literatur ilmiah yang kuat (Halevi, dkk., 2017). Penelusuran dilakukan secara sistematis dengan melakukan pengaturan, meliputi: a) diurutkan berdasarkan relevansi, b) data yang ditampilkan dari 01 Januari 2014 hingga 22 September 2023, c) tidak menampilkan kutipan dan paten. Kata kunci kombinasi digunakan dalam penelusuran dengan menggunakan boolean logic, dimaksudkan untuk pemilihan artikel secara bertahap. Penggunaan kata kunci juga dilakukan secara bertingkat ke arah semakin spesifik agar diperoleh literatur yang relevan. Formula boolean logic yang digunakan adalah “AND”. Tahap pertama penelusuran dilakukan dengan menggunakan kata kunci “Sistem Klasifikasi” AND “Perpustakaan”, sekitar 2.770 literatur potensial berhasil ditampilkan dalam waktu 0,04 detik. Selanjutnya pencarian dipersempit dengan menambahkan kata “Penerapan” sehingga pencarian dilakukan dengan menggunakan kata kunci “Penerapan Sistem Klasifikasi” AND “Perpustakaan” sehingga menampilkan sekitar 77 literatur potensial dalam waktu 0,07 detik. Selanjutnya pemilihan dilakukan dengan menelaah kesesuaian judul dan topik dari penelitian sehingga diperoleh 16 literatur potensial. Penyeleksian Literatur Untuk memastikan relevansi dari literatur yang diperoleh, selanjutnya dilakukan proses seleksi dengan berdasarkan kriteria pada tabel 2. TABEL 2. KRITERIA INKLUSI DAN EKSKLUSI Inklusi Eksklusi Artikel dipublikasi dalam bentuk jurnal, tugas akhir (skripsi dan tesis) serta prosiding Artikel dipublikasi dalam bentuk selain tugas akhir (skripsi dan tesis) serta prosiding Artikel tersedia secara full text Artikel tidak tersedia secara full text Artikel memaparkan gagasan dan penerapan sistem klasifikasi khusus di perpustakaan Artikel tidak memaparkan gagasan dan penerapan sistem klasifikasi di perpustakaan Artikel diterbitkan antara 01/01/2014 hingga 22/09/2023 Artikel yang terbit sebelum 01/01/2014 dan setelah 22/09/2023 Sumber: Data primer, diolah 2023. Berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi sebagaimana pada tabel 2, sebanyak 3 literatur tereliminasi dan diperoleh 13 literatur potensial untuk dilakukan penilaian kualitas. Penilaian kualitas literatur Langkah terakhir dalam strategi penelusuran adalah penilaian untuk mengendalikan kualitas bahan penelitian sekaligus mengevaluasi kelengkapan literatur yang akan digunakan dalam penelitian. Kriteria penilaian ditetapkan dalam pertanyaan uji kualitas (K), meliputi: K1: Apakah artikel membahas ide atau gagasan dari sistem klasifikasi khusus? K2: Apakah artikel membahas tokoh pembuat sistem klasifikasi khusus? K3: Apakah artikel membahas penerapan sistem klasifikasi di perpustakaan? K4: Apakah artikel membahas kendala dalam penerapan sistem klasifikasi di perpustakaan? Setiap pertanyaan hanya terdiri dari dua pilihan jawaban, yaitu: Ya/Tidak. Rincian skor penilaian yang digunakan adalah: Ya=1; Tidak=0. Artikel yang dianalisis dalam penelitian ini sekurangkurangnya harus memiliki skor 3. Berdasarkan penilaian kualitas terhadap tiga belas literatur potensial, diperoleh sepuluh artikel yang memenuhi kriteria untuk diikutsertakan dalam penelitian sebagaimana disajikan dalam tabel 3. TABEL 3. DAFTAR ARTIKEL TERSELEKSI Kode Judul Pengarang (Tahun Terbit) Nama Penerbit A1 Penerapan Sistem Klasifikasi Mandala di Perpustakaan GelaranIndonesia Buku Yogyakarta Bella L. H. Harahap dan Jazzimatul Husna (2018) Jurnal Ilmu Perpustakaan A2 Penerapan Sistem Klasifikasi Khusus di Perpustakaan Divisi Knowledge Management PT. Pendidikan Maritim dan Logistik Indonesia Mohammad Murtando dan Anis Masruri (2021) Tibanndaru: Jurnal Ilmu Perpustakaan dan Informasi A3 Best Practice Book Levelling Classification Oleh Room To Read di SD N Sukorame Gresik Dicki Agus Nugroho (2017) Conference on Languageand Language Teaching FKIP Universitas Tidar A4 Penerapan Sistem Klasifikasi Perpustakaan Arkeologi Di Perpustakaan Balai Arkeologi Daerah Istimewa Yogyakarta Bayu Indra Saputro (2017) Berkala Ilmu Perpustakaan dan Informasi A5 Analisis Sistem Klasifikasi Bahan Pustaka di Perpustakaan Jurusan Ortotik Prostetik Politeknik Kesehatan Kementrian Kesehatan Jakarta I Fajar Alamsyah (2017) Institutional Repository UIN Syarif Hidayatullah Jakarta A6 Penerapan Sistem Klasifikasi FIAF Classification Scheme For Literature On Film And Television Di Perpustakaan Sinematek Indonesia Dwi Cahyo Prasetyo (2015) Institutional Repository UIN Syarif Hidayatullah Jakarta A7 Penerapan Sistem Klasifikasi Artificial Dalam Temu Kembali Informasi: Studi Pada Perpustakaan Anak Bangsa Merita Anisah (2018) Institutional Repository Universitas Brawijaya A8 Pengolahan Koleksi Lokal Konten di Perpustakaan Khusus BPPT Republik Indonesia Muhammad Remmy Poerwadhy (2022) Institutional Repository Universitas Diponegoro A9 Analisis Sistem Pengklasifikasian Koleksi di Perpustakaan Ibnu Rusyd Pesantren Modern Pendididkan Al-Qur’an IMMIM Putra Makassar Rasnawati M (2016) Repositori UIN Alauddin Makassar A10 Penggunaan Sistem Klasifikasi Australian and New Zealand Standard Research Classification (ANZSRC) dalam Pengolahan Tugas Akhir : Studi Pada Perpustakaan Pusat Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang Ulfa Chusnul Faida (2016) Institutional Repository Universitas Brawijaya Sumber: Data primer, diolah 2023. Keterbatasan Penelitian Penelitian ini memiliki keterbatasan, di antaranya: 1) hanya meninjau literatur yang bersumber dari Google Scholar. Literatur dari database nasional, seperti: Indonesia One Search, Garuda, dan pangkalan data internasional, seperti: Scopus, dan Web of Sciences tidak ditinjau; 2) cakupan penelitian hanya mencakup publikasi dalam satu dekade terakhir, terbitan sebelum 1 Januari 2014 dan setelah 22 September 2023 tidak ditinjau. Keterbatasan penelitian ini membuka peluang untuk penelitian pada masa yang akan datang.

Result

Sebanyak sepuluh artikel lolos uji kualitas dan diikutsertakan untuk menjawab pertanyaan penelitian berkaitan dengan penerapan sistem klasifikasi khusus di perpustakaan dalam lingkup Indonesia. Berdasarkan hasil uji penilaian kualitas, diperoleh sembilan artikel dengan skor 4 dan satu artikel lainnya memiliki skor 3. Berdasarkan jenis publikasi, sebanyak tiga naskah dipublikasi dalam bentuk jurnal, enam naskah dipublikasi pada repositori institusi, dan satu naskah lainnya dipublikasi dalam bentuk prosiding. Berdasarkan hasil tinjauan, kesepuluh artikel tersebut menggunakan metode kualitatif. Dalam proses pengumpulan data, keseluruhan artikel mengombinasikan beberapa teknik pengumpulan data yang meliputi observasi, wawancara, dan studi pustaka atau dokumentasi. Selanjutnya, berkaitan dengan analisis data, ditemukan bahwa secara umum kesepuluh artikel menganalisis data melalui proses reduksi data, penyajian data, dan penarikan simpulan.

Discussion

Dalam menjawab pertanyaan penelitian dengan kode PP1 mengenai: “Seperti apa ide atau gagasan dari klasifikasi khusus?” dilakukan dengan menggunakan landasan etiologi yaitu sebuah studi mengenai penyebab atau asal usul segala sesuatu bermula (Hardy & Ismunarno, 2017). Gagasan klasifikasi dapat didasarkan pada berbagai hal, seperti: teori, konsep dasar, tingkatan/jenjang, kompleksitas isi atau konten, ukuran koleksi, warna atau hal lain. Namun, gagasan berdasarkan subjek merupakan inti dari sebagian besar klasifikasi yang digunakan di perpustakaan atau dikenal dengan istilah sistem klasifikasi fundamental (Turang, dkk., 2023). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan gagasan yang mendasari penerapan sistem klasifikasi khusus pada masing-masing perpustakaan. Gagasan yang melandasi penerapan klasifikasi khusus tersebut berdasarkan pada hasil interpretasi terhadap pemikiran, jenis koleksi yang dimiliki, tingkat kompleksitas konten, isi yang terkandung dalam sebuah koleksi, hingga ketiadaan sumber daya manusia yang memahami sistem klasifikasi. A1 memaparkan bahwa “gagasan sistem Klasifikasi Mandala di Perpustakaan Gelaran Indonesia Buku Yogyakarta didasari oleh pemikiran Danghyang Nirartha dalam Babad Dwijendra Tattwa. Danghyang Nirartha membagi puisi Jawa Kuno berdasarkan refleksi terhadap ajaran Siwa Buddha” (Harahap dan Husna, 2018). Berdasarkan pada pemaparan tersebut, gagasan pengembangan sistem klasifikasi yang dilakukan dilandasi oleh gagasan ideologis. Sementara itu, A2 memaparkan bahwa: “alasan penggunaan sistem klasifikasi khusus yang dibuat sendiri adalah karena jumlah koleksi yang dimiliki terbatas pada beberapa subjek saja dan menghindari penempatan koleksi yang terpisah-pisah padahal satu tema” (Murtando dan Masruri, 2021). Dapat dikatakan bahwa gagasan dari pemilihan sistem klasifikasi khusus yang diterapkan di perpustakaan terkait mengarah pada gagasan yang bersifat praktis. Gagasan ini juga ditemukan A4, A6, A8, dan A10 bahwa penggunaan sistem klasifikasi khusus di perpustakaannya digagas agar dapat mengakomodir seluruh koleksi secara sederhana (Saputro, 2017; Alamsyah, 2017; Poerwadhy, 2022); serta dirasa cukup ideal dengan (kebutuhan) lembaga (Prasetyo, 2015). Sementara itu, A5 mengungkapkan bahwa selain memerlukan sistem klasifikasi khusus berkaitan dengan kekhasan koleksinya, terdapat juga permasalahan yang dilatarbelakangi oleh ketiadaan SDM yang memiliki latar belakang pendidikan ilmu perpustakaan sehingga sulit untuk menerapkan sistem DDC (Alamsyah, 2017). Gagasan tersebut juga ditemukan pada A7, A9, dan A10. Oleh karenanya, sebagian penerapan sistem klasifikasi khusus pada perpustakaan-perpustakaan tersebut digagas karena situasi dan kondisi dari perpustakaan itu sendiri. Berbeda dengan artikel-artikel sebelumnya, A3 memaparkan bahwa gagasan penerapan sistem klasifikasi Book Leveling Classification oleh Room to Read di SD N Sukorame Gresik adalah “diterapkan untuk membantu memandu perkembangan kemampuan membaca anak karena penggunaan sistem ini sudah terbukti di berbagai negara” (Nugroho, 2017). Oleh karenanya, gagasan yang melandasi penerapan sistem klasifikasi khusus tersebut adalah fenomena yang teruji secara empiris. Selanjutnya, dalam proses penerapan suatu gagasan, terdapat motif dan tujuan yang ingin dicapai. Berdasarkan hasil temuan, terdapat kesamaan tujuan dalam penerapan sistem klasifikasi khusus pada masing-masing perpustakaan. A1 hingga A10 mengemukakan bahwa tujuan penerapan sistem klasifikasi khusus adalah untuk kemudahan dalam temu-kembali informasi, baik oleh pengelola maupun oleh pengguna. Temuan ini selaras dengan inti penerapan sistem klasifikasi, yakni sebagai pangkal yang akan menentukan bagaimana ia berujung pada proses temu kembali informasi (information retrieval system). Lebih jauh, A1 mengemukakan bahwa selain kemudahan dalam pencarian informasi, tujuan penerapan sistem klasifikasi Mandala juga sebagai penghormatan kepada leluhur, sistem pengetahuan luhur, dan sebagai bentuk apresiasi terhadap karyakarya literatur yang dihasilkan oleh tokoh Nusantara pada masa lampau (Harahap dan Husna, 2018). Berdasarkan paparan tersebut, diketahui bahwa terdapat motif atau tujuan lain dari penerapan sistem klasifikasi khusus di perpustakaan yaitu berkaitan dengan pelestarian pengetahuan dan kearifan lokal. Selain itu, dipaparkan juga bahwa tujuan penerapan sistem klasifikasi Mandala bertujuan untuk menginisiasi penerapan sistem klasifikasi yang berlandaskan pemikiran dari Nusantara (Harahap dan Husna, 2018). Selanjutnya, A2 juga mengemukakan bahwa tujuan lain penerapan sistem klasifikasi khusus di perpustakaan Divisi Knowledge Management PT. Pendidikan Maritim dan Logistik Indonesia adalah untuk menyediakan informasi yang dibutuhkan sesuai dengan inti manajemen bisnis PT. Pendidikan Maritim dan Logistik Indonesia” (Murtando dan Masruri, 2021). Sementara itu, A3 memaparkan bahwa tujuan penerapan sistem klasifikasi Book Leveling Classification oleh Room to Read di SDN Sukorame Gresik adalah agar anak dapat dengan mudah menemukan buku sesuai tingkat kemampuan baca dan kerumitan teks tanpa bantuan orang lain (Nugroho, 2017). Kemudian, A6 mengemukakan tujuan lain penerapan klasifikasi khusus di perpustakaan sebab merupakan anggota dari organisasi yang menciptakan sistem klasifikasi tersebut. Sebagaimana dikemukakan bahwa “kita menerapkan sistem klasifikasi ini sebagai penerapan dari menjadi Anggota FIAF” (Prasetyo, 2015). Terakhir, motif lain penerapan klasifikasi khusus pada A10 adalah untuk memudahkan untuk membuat pemetaan perkembangan ilmu pengetahuan yang ada di UIN Maulana Malik Ibrahim (Faida, 2016). Adapun, artikel-artikel lainnya tidak mengemukakan motif lain selain yang disebutkan. Oleh karena itu, dapat ditarik benang merah bahwa terdapat persamaan dan perbedaan motif atau tujuan perpustakaan dalam penerapan sistem klasifikasinya. Dalam sebuah sistem klasifikasi terdapat prinsip, skema, aturan pengelompokan, dan notasi yang digunakan untuk mengolah koleksi di perpustakaan (Fadilla, 2020). A1 mengemukakan bahwa sistem klasifikasi Mandala memiliki prinsip Mandala yaitu melingkar. Pengelompokan ilmu pengetahuan dalam sistem klasifikasi Mandala tidak bersifat hierarki (Harahap dan Husna, 2018). Selanjutnya, Harahap dan Husna (2018) mengemukakan bahwa dalam sistem klasifikasi Mandala, pengelompokan ilmu pengetahuan terdiri dari 4 kelas utama, yaitu basa, masa, yasa, dan rasa. Kelas utama basa, berisi subjek yang berkaitan dengan teks yang dibaca dan mengandung nilai kebenaran, yaitu: desa. Kelas utama masa, berisi subjek yang berkaitan dengan peristiwa masa lalu, waktu masa kini dan waktu masa depan dan mengandung nilai kesucian, yaitu kala. Kelas rasa, berisi subjek yang berkaitan dengan imajinasi, kreativitas, dan religiusitas mengandung nilai keindahan atau patra. Sementara kelas utama yasa, berisi subjek yang merupakan bentuk dari hasil kebudayaan. Subjek yang termasuk ke dalam kelas yasa memiliki nilai keabadian” (Harahap dan Husna, 2018). Subjek pada sistem klasifikasi Mandala tidak spesifik, dan bersifat sama. Subjek dalam sistem klasifikasi Mandala bersifat melingkar dan saling berkaitan dengan kelas utama. Tidak terdapat perincian yang lebih lanjut dari suatu subjek atau disiplin tertentu sehingga semua subjek bersifat sama tidak dikategorikan dari umum ke khusus. Skema sistem klasifikasi Mandala menggunakan notasi huruf untuk mewakili subjek dan lokasi rak buku tersebut tersimpan. Empat kelas utama diberi notasi huruf yang mewakili subjek koleksi dan terdiri dari tiga huruf (Harahap dan Husna, 2018). Adapun, prinsip dan kelas utama dari sistem klasifikasi Manggala ditunjukkan pada gambar 1. Gambar 1. SISTEM KLASIFIKASI MANDALA Sumber: Harahap dan Husna, 2018 Sementara itu, A2 mengemukakan bahwa prinsip sistem klasifikasi khusus pada perpustakaannya adalah kemudahan untuk mengolah koleksi dan memperoleh informasi yang dibutuhkan untuk mendukung bisnis inti perusahaan. Menurut Murtando dan Masruri (2021), klasifikasi koleksi dibagi menjadi lima kelas besar berdasarkan jenis koleksinya, terdiri dari textbook, references, thesis and dissertation, IPC publication, dan koleksi umum. Komposisi subjek utama dalam sistem klasifikasi mengacu kepada bisnis inti dari IPC Grup, meliputi: bidang kepelabuhanan, maritim, logistik, manajemen, dan kepemimpinan. Khusus koleksi umum tetap diolah dengan menggunakan sistem klasifikasi DDC. Berdasarkan paparan tersebut diketahui bahwa selain menerapkan sistem klasifikasi khusus untuk mengelola sumber daya informasi yang dimiliki, perpustakaan Divisi Knowledge Management PT. Pendidikan Maritim dan Logistik Indonesia juga menggunakan DDC untuk mengelola sebagian koleksi umum yang terdapat di perpustakaan. Adapun, skema klasifikasi yang diterapkan di Perpustakaan Divisi Knowledge Management PT. Pendidikan Maritim dan Logistik Indonesia adalah seperti pada gambar 2. Gambar 2. SKEMA KLASIFIKASI KHUSUS DI PERPUSTAKAAN DIVISI KNOWLEDGE MANAGEMENT PT. PENDIDIKAN MARITIM DAN LOGISTIK INDONESIA Sumber: Murtando dan Masruri, 2021 Pada A3, Nugroho (2017) mengemukakan bahwa sistem klasifikasi Book Leveling Classification yang diterapkan di Perpustakaan SD N Sukorame Gresik tidak dibedakan berdasarkan genre atau subyek, melainkan berdasarkan pada tingkat kesulitan teks dan kemampuan membaca anak. Dikemukakan bahwa “tingkatan buku tidak berkaitan dengan tingkatan kelas sekolah, artinya jenjang buku lebih rendah tidak harus dibaca oleh kelas bawah” (Nugroho, 2017). Dengan adanya hal tersebut guru dapat menilai dan memeriksa kemajuan tingkat kemampuan membaca anak dari satu tingkat ke tingkat selanjutnya. Menurut Nugroho (2017), skema klasifikasi Book Leveling Classification dibedakan menjadi 6 jenjang, yaitu: Kumbang (ditandai dengan warna merah), Ikan (ikan ditandai dengan warna biru), Burung (ditandai dengan warna hijau), Rusa (ditandai dengan warna cokelat), Singa (ditandai dengan warna kuning), Gajah (ditandai dengan warna abu-abu). Kriteria klasifikasi didasarkan pada kerumitan kata dan kalimat, jumlah rata-rata kalimat per halaman, jumlah rata-rata kata per kalimat, kesesuaian topik, dan ilustrasi. Gambar 3 berikut adalah ilustrasi dari skema penjenjangan pada sistem klasifikasi Book Leveling Classification. Gambar 3. LABEL BOOK LEVELING CLASSIFICATION Sumber: Nugroho, 2017 Selanjutnya, A4 mengemukakan bahwa prinsipnya penentuan tajuk subjek pada SPKA didasarkan pada ruang lingkup subjek arkeologi, sejarah dan jenis koleksinya. SPKA membagi ilmu arkeologi menjadi 3 bidang kajian utama, yaitu arkeologi prasejarah, arkeologi klasik, dan arkeologi Islam-kolonial. Pengelompokan kelas lainnya digunakan berbagai bidang sebagaimana ditunjukkan pada skema kelas utama pada tabel 4. Sementara itu, sub kelas yang digunakan SPKA merupakan penjabaran disiplin ilmu arkeologi dan juga berdasarkan jenis koleksi sebagaimana ditampilkan pada tabel 5. TABEL 4. KELAS UTAMA SPKA 01 Arkeologi Prasejarah 02 Arkeologi Klasik 03 Arkeologi Islam 04 Arkeometri 05 Etnoarkeologi 06 Studi Kasus 07 Metode/Teori 08 Kebudayaan 09 Penerbitan Berkala 10 Referensi 11 Kumpulan Makalah 12 Sejarah 13 Laporan 14 Kedinasan Sumber: Saputro, 2017 TABEL 5. TABEL 5. SUBKELAS SPKA 01 Arkeologi Sejarah 01.1 Arsitektur 01.2 Pemukiman 01.3 Religi 01.4 Sosial Ekonomi 01.5 Teknologi 01.6 Ikonografi 02 Arkeologi Klasik 02.1 Arsitektur 02.2 Pemukiman 02.3 Religi 02.4 Sosial Ekonomi 02.5 Teknologi 02.6 Epigrafi 02.7 Ikonografi 02.8 Kesenian 03 Arkeologi Islam – Kolonial 03.1 Arsitektur 03.2 Pemukiman 03.3 Religi 03.4 Sosial Ekonomi 03.5 Teknologi 03.6 Epigrafi 03.7 Kesenian 04 Arkeometri 05 Etnoarkeologi 06 Studi Kasus 07 Metode/Teori 08 Kebudayaan 08.1 Peradaban Dunia 08.2 Kalimantan 08.3 Sunda, Bali, Jakarta 08.4 Indonesia Timur 08.5 Jawa, Madura 08.6 Sulawesi 08.7 Sumatra 08.8 Indonesia Umum 09 Penerbitan Berkala 09.1 Bidang Arkeologi 09.2 Bidang Ilmu Bantu 10 Referensi 10.1 Kamus 10.2 Ensiklopedi 10.3 Majalah Arkeologi (VKI, BKI) 10.4 Skripsi, Tesis, Disertasi 10.5 Laporan Hasil Penelitian Arkeologi (OV, OJO, ROD) 10.6 Kliping 10.7 Lain-lain 11 Kumpulan Makalah 11.1 PIA 11.2 AHPA 11.3 REMPA 11.4 EHPA 11.5 REHPA 11.6 DIA 11.7 Lain-lain 12 Sejarah 13 Laporan 13.1 Berita Penelitian Arkeologi 14 Kedinasan Sumber: Saputro, 2017 Selanjutnya, prinsip sistem klasifikasi yang diterapkan pada artikel A5 didasarkan pada jenis koleksi yang dimiliki merupakan subjek dari Ortotik Prostetik, yaitu keilmuan tentang pembuatan, pengukuran, pengepasan, dan pelayanan alat bantu dan alat anggota manusia (Alamsyah, 2017). Sistem klasifikasi ini memiliki 11 Kelas utama sebagaimana ditampilkan pada tabel 6. TABEL 6. KELAS UTAMA KLASIFIKASI ORTOTIK PROSTETIK Notasi Subjek I Anatomy II Assessment III Biomechanics IV Reference V Engineering VI General VII Neurology/Pathology VIII Orthopedics IX Orthotics X Prosthetics XI Rehabilitation Sumber: Alamsyah (2017) Dalam paparan A6, sistem klasifikasi FIAF Classification Scheme for Literature on Film and Television yang diterapkan di Perpustakaan Sinematek Indonesia pada prinsipnya “mengadaptasi sistem penomoran UDC dengan hanya menempatkan satu digit untuk nomor utama menambahkan dua subjek dasar yaitu Film (F) dan Televisi (T) agar lebih jelas dalam sistem klasifikasinya” (Prasetyo, 2015). Tabel 7 di bawah menunjukkan kelas utama sistem klasifikasi FIAF. TABEL 7. KELAS UTAMA KLASIFIKASI FIAF FT 0 Referensi dan Materi Umum FT 1 Lembaga, Festival, Konferensi F 20/25 Industri Film: Anggaran Biaya, Produksi T 26/29 Industri TV: Anggaran Biaya, Produksi F 3 Distribusi Ekshibisi FT 4 Masyarakat dan Film/Televisi FT 5 Edukasi/Pendidikan FT 6 Aestetika/Teori FT 7 Sejarah, Genre, Film Khusus/Program TV FT 8 Biografi FT 9 Bunga Rampai, Koleksi Khusus Sumber: Prasetyo (2014) Lalu, A7 menjelaskan bahwa sistem klasifikasi artificial yang diterapkan pada Perpustakaan Anak Bangsa pada prinsipnya adalah “mengelompokkan koleksi berdasarkan pada panjang-pendek buku; tebal-tipis koleksi, warna dan ciri-ciri lain yang kemudian dibuatkan nama klasifikasinya sendirisendiri oleh sang inisiator” (Anisah, 2018). Sistem klasifikasi ini tidak memiliki skema, pengklasifikasian dilakukan berdasarkan kreativitas pengelola sehingga memiliki nama klasifikasi yang sangat beragam. Misalnya saja pada subjek agama, terdapat beberapa klasifikasi seperti: romance islami, hidayah, pintu surga, dll. Penamaan tersebut digunakan dengan tujuan untuk memudahkan pengunjung dalam memilih genre koleksi yang diminati, selain itu juga agar lebih menarik (Anisah, 2018). Senada, hal ini juga ditemukan pada A9. Dikemukakan bahwa “Perpustakaan Ibnu Rusyd Pesantren Modern Pendidikan Al-Qur'an IMMIM Putra Makassar tidak menggunakan sistem klasifikasi fundamental, tetapi menggunakan rancangan pengklasifikasian sendiri berupa penyusunan bahan pustaka di rak berdasarkan mata pelajaran, koleksi buku fiksi, dan koleksi referensi” (M, Rasnawati, 2016). Berbeda, A8 mengemukakan bahwa sistem klasifikasi NTIS merupakan sistem klasifikasi fundamental pada subjek sains dan teknologi yang diadaptasi dari UDC sehingga notasinya lebih sederhana. Terdapat 38 kelas utama pada sistem klasifikasi NTIS sebagaimana terdapat pada tabel 8. dan subkelas yang terdiri dari abjad A-Z. Namun, Perpustakaan BPPT membuat subkelas sendiri yang terdiri 13 subkelas seperti pada tabel 9. TABEL 8. KELAS UTAMA KLASIFIKASI NTIS Kelas Subjek 41 Manufacturing Technology 43 Problem Solving Information for State dan Local Gov 4 Health Care 45 Communication 46 Physics 47 Ocean Sciences dan Technology 48 Natural Resources dan Earth Sciences 49 Electrotechnology 50 Civil Engineering 51 Aeronautics dan Aerodynamics 54 Astronomy dan Astrophysics 55 Atmospheric Sciences 57 Medicine dan Biology 62 Computers, Control dan Information Theory 63 Detection dan Countermeasures 68 Environmental Pollution dan Control 70 Administration dan Management 71 Materials Sciences 72 Mathematical Sciences 74 Military Sciences 76 Navigation, Guidance dan Control 77 Nuclear Sciences dan Technology 79 Ordnance 81 Combustion, Engine dan Propellants 82 Photography dan Recording Devices 84 Space Technology 85 Transportation 88 Library dan Information Sciences 89 Building Industry Technology 90 Government Inventions for Licensing 91 Urban dan Regional Technology dan Development 92 Behavior dan Society 94 Industrial dan Mechanical Engineering 95 Biomedical Technology dan Human Factors Engineering 96 Business dan Economics 97 Energi 98 Agriculture dan Food 99 Chemistry Sumber: Prasetyo (2014) TABEL 9. SUBKELAS KLASIFIKASI NTIS Subkelas Keterangan A (Artikel) Semua jenis koleksi berupa artikel B (Buku) Semua jenis koleksi berupa buku R (Referensi) Publikasi yang digunakan untuk mencari fakta dengan cepat dan mudah P (Prosiding) Makalah yang sudah dipresentasikan L (Laporan) Tulisan ilmiah perseorangan atau organisasi yang berisi laporan, seperti laporan pelaksanaan Standar (S) Sesuatu yang digunakan untuk dijadikan standar-standar tertentu PT (Paten) Dokumen yang berisi penemuan dan sudah diakreditasi oleh Lembaga Paten AI (Intern Artikel) Artikel yang ditulis oleh staf BPPT yang telah diterbitkan dalam jurnal atau majalah ilmiah IL (Intern Laporan) Laporan yang ditulis oleh staf BPPT mengenai laporan pelaksanaan, laporan keuangan, dll. IP (Intern Prosiding) Hasil seminar yang dilaksanakan dalam internal BPPT IB (Intern Buku) Buku-buku yang dihasilkan oleh staf maupun pimpinan BPPT IR (Intern Referensi) Berisi buku panduan, handbook, atlas, ensiklopedia, kamus, dsb. IS (Intern Standar) Standar yang disusun oleh unit-unit yang ada di BPPT untuk dijadikan standar Sumber: Prasetyo (2014) Terakhir, A10 membahas sistem klasifikasi Australian and New Zealand Standard Research Classification (ANZSRC) yang digunakan oleh Perpustakaan UIN Maulana Malik Ibrahim dalam pengklasifikasian tugas akhir. Pihak perpustakaan melakukan pengembangan terhadap sistem klasifikasi ANZSRC dengan disesuaikan pada bidang keilmuan yang ada di kampusnya. Pada prinsipnya, sistem klasifikasi ini berfokus pada pemetaan koleksi hasil penelitian untuk dikelompokkan pada divisi yang sama. Dalam pengembangannya, pihak perpustakaan melibatkan banyak pihak, terutama “berkoordinasi dengan sekjurnya masing-masing prodi serta berkoordinasi juga dengan profesor-profesor yang menguasai bidang jurusan itu dengan berdiskusi langsung dengan mereka” (Faida, 2016). Adapun, skema klasifikasi ANZSRC yang diterapkan oleh Perpustakaan UIN Maulana Malik Ibrahim sebagaimana ditampilkan pada tabel 10. TABEL 10. KELAS UTAMA KLASIFIKASI ANZSRC 01 Mathematical Sciences 02 Physical Sciences 03 Chemical Sciences 04 Earth Sciences 05 Environmental Sciences 06 Biological Sciences 07 Agricultural and Veterinary Sciences 08 Information and Computing Sciences 09 Engineering 10 Technology 11 Medical and Health Sciences 12 Built Environment and Design 13 Education 14 Economics 15 Commerce, Management, Tourism, and Services16 Studies in Human Society 17 Psychology and Cognitive Sciences 18 Law and Legal Studies 19 Studies in Creative Arts and Writing 20 Language, Communication, and Culture 21 History and Archaeology 22 Philosophy and Religious Studies Sumber: Faida (2016) Selanjutnya, pertanyaan penelitian dengan kode PP2, tentang: “Siapakah tokoh pembuat/pengembang sistem klasifikasi khusus?”. Tokoh dapat merupakan individu, konsorsium, maupun lembaga terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 5 artikel menyebutkan bahwa tokoh pembuat atau pengembang sistem klasifikasi khusus merupakan tokoh individu yaitu: A1, A2, A5, A7, A9. Sementara 5 artikel lainnya (A3, A4, A6, A8, A10) mengungkapkan bahwa sistem klasifikasi dibuat oleh lembaga atau forum, baik berskala nasional maupun internasional sebagaimana disajikan pada tabel 11. TABEL 11. TOKOH PENCIPTA/PENGEMBANG SISTEM KLASIFIKASI KHUSUS Kode Nama Klasifikasi Tokoh A1 Sistem Klasifikasi Manggala Taufik Rahzen A2 Klasifikasi Khusus IPC Corporate University Ridwan dan Lira A3 Book Levelling Classification Room to Read A4 SKPA Balai Arkeologi D.I Yogyakarta A5 Sistem Klasifikasi Khusus Ortotik Prostetik Pengelola Perpustakaan tahun 2012 (tidak diidentifikasi secara spesifik) A6 FIAF Classification Scheme for Literature on Film and Television Documentation Commission on Federation Internationale des Archives du Film A7 Sistem Klasifikasi Artificial Perpustakaan Anak Bangsa Eko Cahyono A8 NTIS Classification National Technical Information Services U.S Departement Of Commerce A9 Sistem Klasifikasi Khusus Perpustakaan Ibnu Rusyd Pesantren Modern Pendidikan Al-Qur'an IMMIM Putra Makassar Inisiator perpustakaan (tidak diidentifikasi secara spesifik) A10 Australian and New Zealand Standard Research Classification Biro Statistik Australia dan Selandia Baru Sumber: Data pribadi, diolah 2023. Pertanyaan selanjutnya dengan kode PP3, yaitu “Bagaimana penerapan sistem klasifikasi di perpustakaan?” Hal ini berkaitan dengan oleh siapa dan bagaimana proses pengklasifikasian dilakukan di perpustakaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pustakawan menjadi aktor utama dalam melakukan sistem klasifikasi khusus dengan dibantu oleh pihakpihak terkait. Dalam penerapannya, secara umum tidak jauh berbeda dengan proses mengklasifikasi koleksi di perpustakaan pada umumnya. A1 memaparkan bahwa proses penerapan sistem klasifikasi Mandala “dilakukan oleh ketua harian dan volunteer Perpustakaan Gelaran Indonesia Buku” (Harahap dan Husna, 2018). Lalu, A2 mengemukakan bahwa proses penerapan sistem klasifikasi khusus dilakukan oleh pustakawan dengan memanfaatkan sistem otomasi perpustakaan berbasis open source, yaitu Senayan Library Management System (SLiMS). Sistem otomasi perpustakaan tersebut digunakan untuk melakukan penginputan data bibliografi bahan pustaka (metadata), dan temu kembali informasi (Murtando dan Masruri, 2021). Selanjutnya, A3 mengemukakan bahwa penerapan sistem klasifikasi Book Leveling Classification di Perpustakaan SDN Sukorame Gresik dilakukan oleh “petugas (pustakawan) perpustakaan, guru wali kelas dan kepala sekolah di SD N Sukorame Gresik telah mendapatkan pendampingan dari mitra lokal Konsultan Perpustakaan Mutiara Rindang Surabaya” (Nugroho, 2017). A4 secara tersirat mengungkapkan bahwa penerapan SKPA di Perpustakaannya dilakukan oleh profesi pustakawan. Sama halnya dengan A8 pada penerapan sistem klasifikasi khusus NTIS di Perpustakaan BPPT, dan A10 penerapan sistem klasifikasi ANZSRC di UIN Malang yang keduanya juga dilakukan oleh profesional pustakawan. Artikel A5, A6, A7, A9 mengemukakan bahwa proses penerapan sistem klasifikasi khusus di masingmasing perpustakaannya dilakukan oleh dilakukan oleh pelaksana unit perpustakaan (Alamsyah, 2017), petugas pengolahan (Prasetyo, 2015), pendiri perpustakaan yang tidak memiliki latar belakang perpustakaan (Anisah, 2018) dan pengelola perpustakaan yang tidak memahami cara mengklasifikasi (M, Rasnawati, 2016). Dalam proses penerapan sistem klasifikasi khusus di perpustakaan, A1 memaparkan bahwa “penerapan sistem klasifikasi Mandala mulai dilakukan pada bulan Juli tahun 2017” (Harahap dan Husna, 2018). Proses pengklasifikasian dengan sistem klasifikasi Mandala terdiri dari: 1) analisis subjek berdasarkan empat kelas utama; dan 2) pemberian notasi pada koleksi. Dikemukakan bahwa terdapat pembagian subjek dalam empat kelas utama pada sistem klasifikasi Mandala, yang terdiri dari “(1) Kelas Basa, terdiri dari subjek: Bahasa (BAH), Internet (NET), Kamus (KAM), Pers/Media (MED), Panduan (PAN), Ideologi/Filsafat (FIL), Mantra (MAN), Sains dan Matematika (SNM), Bahasa Pemrograman, Hukum (HUK); (2) Kelas Masa, terdiri dari subjek: Biografi (BIO), Kronik (KRO), Sejarah (SEJ), Region/Kawasan (REG), Politik (POL), Ekonomi (EKO), Sosial (SOS); (3) Kelas Rasa, terdiri dari subjek: Agama (AG), Budaya (BUD), Estetika (EST), Psikologi (PSI), Seni rupa (SRP), Spiritual (SPI), Kuliner (KUL), Sastra (SAS); dan (4) Kelas Yasa, terdiri dari subjek: Arkeologi (ARK), Arsitektur (ARS), Lingkungan (LKG), Olahraga (OR), Pendidikan (PND), Pertanian/Peternakan (PRT), Teknologi (TEK), Militer (MIL)” (Harahap dan Husna, 2018). Penentuan subjek koleksi dilakukan dengan melihat isi yang paling dominan pada buku tersebut. Kombinasi antara notasi huruf digunakan dalam sistem klasifikasi Mandala sebagai penunjuk nomor panggil. Notasi pada sistem klasifikasi Mandala berisi kelas utama, lokasi rak, bahasa yang digunakan dalam buku, tahun terbit, tiga gabungan huruf awal nama pengarang, dua huruf awal judul buku (Harahap dan Husna, 2018). Selanjutnya, A2 memaparkan bahwa prosesnya meliputi melihat jenis/bentuk bahan pustaka, jika koleksi berupa buku teks maka kode awalnya menggunakan TXT. Kemudian dilihat dari judul lebih condong kepada subjek tertentu, bisa juga mengacu pada sub-subjek yang ada pada pedoman tata kelola perpustakaan PT. Pelabuhan Indonesia II (Pelindo II)/IPC sehingga dapat diketahui judul tersebut condong kepada subjek tertentu. Misalnya membahas tentang kepelabuhanan maka kodenya adalah PO. Selanjutnya diberi huruf dari nama pengarang, 1 huruf dari kata awal judul bahan pustaka, dan diberi kode bahan pustaka tersebut merupakan copy/eksemplar ke-berapa, untuk kode jumlah bahan pustaka menggunakan C.1, jika bahan pustaka tersebut hanya ada satu maka tidak diberikan kode, dan jika jumlah bahan pustaka lebih dari tiga maka selebihnya bahan pustaka akan disimpan di gudang (Murtando dan Masruri, 2021). Sementara itu, A3 memaparkan bahwa proses penerapan sistem klasifikasi penjenjangan buku didasarkan pada kesulitan dan kompleksitas teks. Menurut Nugroho (2017) dalam proses klasifikasi, buku-buku dikategorisasikan ke dalam 6 tingkatan berdasarkan kriteria pada pedoman dari Room to Read. Menurutnya, buku-buku tidak diberi label dengan angka untuk membedakan tingkatannya, tetapi pada tiap tingkatan diberi label dengan warna dan gambar tertentu, misalnya gambar hewan. Penggunaan gambar hewan dimaksudkan untuk mempermudah anak-anak mengingat jenjang buku yang sesuai kemampuan membacanya dan gambar hewan yang dipilih adalah hewan yang familier dan sudah banyak dikenal oleh anak-anak (Nugroho, 2017). Tahapan terakhir dari proses klasifikasi pada sistem klasifikasi Book Leveling Classification adalah buku dipajang di rak-rak sesuai tingkatnya dengan label yang terlihat jelas pada sampul buku (Nugroho, 2017). Selanjutnya, A4, memaparkan bahwa proses pengklasifikasian dengan SKPA tidak berbeda dengan penggunaan sistem klasifikasi lainnya. Adapun, tata cara penomoran SKPA meliputi: “a) Menelaah subyek atau disiplin ilmu bahan pustaka atau jenis koleksi yang akan diklasifikasi; b) Penentuan nomor klasifikasi sesuai dengan bagan klasifikasi; dan c) Apabila terdapat subyek disiplin ilmu yang masuk ke dalam dua nomor, maka harus dilihat subyek mana yang paling dominan” (Saputro, 2017). Sementara itu, A5 mengungkapkan bahwa penerapan sistem klasifikasi khusus pada Perpustakaan Jurusan Ortotik Prostetik dimulai pada tahun 2010. Dalam penerapannya, terdapat tiga bagian dalam satu nomor klasifikasi, yaitu: “menentukan subjek, memberikan kode/nomor urut di dalam buku induk, dan memberikan kode A-B-C (kode peminjaman). Dengan rincian: Kode A=hanya boleh dibaca di perpustakaan; Kode B=boleh dipinjam maksimal 2 hari; Kode C=boleh dipinjam maksimal 3 hari. Sebagai contoh: Buku yang berjudul Anatomu Foor Modules, maka nomor panggilnya adalah I.10.A.01. Kode terakhir merupakan urutan pencatatan jumlah eksemplar koleksi tersebut” (Alamsyah, 2017). Kemudian, A6 memaparkan bahwa penerapan FIAF Classification Scheme for Literature on Film and Television di Perpustakaan Sinematek Indonesia dilakukan sejak tahun 1977. Sistem klasifikasi FIAF digunakan untuk buku saja, sementara koleksi dalam bentuk lain menggunakan penomoran yang dibuat sendiri berupa nomor urut. Adapun, proses klasifikasi yang dilakukan meliputi: “penentuan subjek (dilihat dari judul, daftar isi, pendahuluan, membaca sebagian/seluruh konten, bertanya pada pengunjung); menentukan nomor klasifikasi berdasarkan skema; lalu menambahkan 2 subjek dasar yaitu Film (F) dan Televisi (T)” (Prasetyo, 2015). Adapun, A7 memaparkan bahwa penerapan sistem klasifikasi artifisial telah dilakukan sejak awal pendirian Perpustakaan Anak Bangsa (saat itu TBM) yaitu tahun 1998. Pengklasifikasian dilakukan dengan mengelompokkan koleksi berdasarkan pada panjang-pendek buku; tebal-tipis koleksi, warna dan ciri-ciri lain yang; kemudian dibuatkan nama klasifikasinya sendiri-sendiri oleh sang inisiator; setelahnya label klasifikasi ditempelkan pada buku; kemudian ditata ke dalam rak yang telah dikotakkotakkan dan diberi nama klasifikasi yang berbedabeda (Anisah, 2018). Selanjutnya, A8 menginformasikan bahwa dalam penerapannya, kelas utama ditentukan berdasarkan subjek utama, sedangkan subkelas berdasarkan jenis dokumen. Penulisan sub kelas diletakkan di belakang kelas utama dengan menggunakan huruf kapital. Namun, untuk penggunaan sub kelas tidak dituliskan pada nomor panggil, melainkan di tempel pada rak koleksi. Sementara penulisan klasifikasi yang di tempel pada buku pada perpustakaan BPPT hanya berisi kelas utama klasifikasi, tahun terbit koleksi, tanggal inventarisasi dan edisi dari koleksi tersebut (Poerwadhy, 2022). Lalu, A9 menjelaskan proses pengklasifikasian dilakukan dengan mengelompokkan koleksi berdasarkan pada jenis subjeknya, misalnya: buku mata pelajaran, buku fiksi, koleksi referensi. Selain itu, penomoran klasifikasi hanya dilakukan terhadap koleksi yang merupakan hasil hibah, koleksi hasil pembelian tidak diberikan nomor klasifikasi, melainkan hanya diinventarisi untuk selanjutnya ditata di rak (M, Rasnawati, 2016). Berbeda dengan A10 yang menjabarkan bahwa penerapannya dimulai dengan proses menganalisis dan mengklasifikasikan subyek tugas akhir dengan menggunakan klasifikasi ANZSRC kemudian kegiatan pelabelan pada tugas akhir dan langkah selanjutnya adalah memasukkan data tugas akhir pada software Eprints. Langkah terakhir yaitu melakukan shelving tugas akhir berupa hardcopy ke rak sesuai dengan nomor klasifikasi ANZSRC (Faida, 2016). Terakhir, pertanyaan penelitian dengan kode PP4, mengenai: “Bagaimana kendala yang dihadapi dalam penerapan sistem klasifikasi khusus?” Berkaitan dengan pertanyaan tersebut, terdapat 9 dari 10 artikel terseleksi yang membahas kendala yang dihadapi untuk dapat menjawab pertanyaan penelitian. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Online, kendala didefinisikan sebagai halangan, rintangan, gendala, faktor atau keadaan yang membatasi, menghalangi, atau mencegah pencapaian sasaran, kekuatan yang memaksa pembatalan pelaksanaan (KBBI Online, 2022). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kendala yang dihadapi lebih bersifat administratif dan teknis. Hal ini sebagaimana A1 memaparkan bahwa kendala yang dihadapi dalam penerapan sistem klasifikasi khusus adalah sistem klasifikasi Mandala belum dibuat ke dalam buku pedoman sehingga dalam melakukan kegiatan klasifikasinya, hanya berdasarkan pemahaman pengelola mengenai bagan sistem klasifikasi Mandala, yang terdiri dari empat kelas utama tersebut (Harahap dan Husna, 2018). Sejalan, A2 juga memaparkan bahwa kendala dalam penerapan sistem klasifikasi khusus di Perpustakaan Divisi Knowledge Management PT. Pendidikan Maritim dan Logistik Indonesia hanya pada proses analisis subyek, beberapa istilah khusus dan asing ditemukan pada subyek sehingga pustakawan dituntut untuk lebih mendalami lagi perihal istilah dan subyek yang digunakan di perpustakaan (Murtando dan Masruri, 2021). Sementara A3 tidak membahas terkait kendala yang ditemui dalam penerapan sistem klasifikasi khusus di perpustakaannya. Kendala lain yang ditemukan pada A4, meliputi kelas utama yang tumpang tindih, pembagian subkelas yang salah dan inkonsistensi dalam penerapan sistem klasifikasi, sebagaimana temuan penelitian terdahulu dengan topik penelitian yang sama (Saputro, 2017). Hal serupa juga ditemukan pada A10 bahwa sistem klasifikasi ANZSRC yang tidak memiliki field yang mencakup penelitian dengan kajian keislaman sehingga perlu mengembangkannya sendiri (Faida, 2016). Lalu, A6 mengemukakan terdapat beberapa kendala yang dihadapi, meliputi: “keragaman bahasa asing yang digunakan dalam koleksi menyulitkan petugas untuk memahami dan menentukan subjek dari koleksi; banyak subjek yang ditemukan belum tercantum dalam buku pedoman klasifikasi FIAF –hal ini disebabkan Perpustakaan Sinematek sempat vakum dari keanggotaan FIAF sehingga ada beberapa subjek baru tidak ter-update; dan sedikitnya SDM yang berlatar ilmu perpustakaan juga dirasa sebagai kendala tersendiri” (Prasetyo, 2015). Kendala SDM yang tidak berlatar belakang Ilmu Perpustakaan juga dikemukakan oleh A5, A7, dan A9. Lingkup pembahasan dalam artikel ini memiliki keterbatasan, tetapi tidak membatasi maknanya.

Conclusion

Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh sepuluh artikel melalui SLR dalam rentang sepuluh tahun terakhir yang membahas mengenai penerapan sistem klasifikasi khusus di berbagai perpustakaan di Indonesia. Mengacu pada hal tersebut, secara umum dapat disimpulkan bahwa kajian mengenai penerapan sistem klasifikasi khusus di berbagai perpustakaan di Indonesia cukup banyak dilakukan pada tahun 2016—2018. Namun, minimnya jumlah publikasi pada topik terkait menjadi indikasi bahwa klasifikasi umum masih lebih banyak digunakan di berbagai perpustakaan di Indonesia. Kesimpulan yang dapat ditarik dari ide atau gagasan penerapan sistem klasifikasi khusus tersebut dilandaskan pada gagasan ideologis, praktis, empiris dan kondisional. Kemudian, tokoh pembuat atau pengembang sistem klasifikasi khusus baik perorangan maupun lembaga ditemukan seimbang kontribusinya. Dalam proses penerapan sistem klasifikasi khusus di perpustakaan ditemukan lebih sederhana. Adapun, kendala yang ditemukan dalam penerapan klasifikasi khusus lebih banyak berkaitan dengan inkompetensi pengelola perpustakaan, selain konten dari sistem klasifikasi yang masih perlu dikembangkan. Beberapa hal yang dapat direkomendasikan dari temuan dalam penelitian ini, di antaranya: (1) gagasan dan skema sistem klasifikasi khusus perlu dituangkan ke dalam sebuah pedoman secara terperinci dan dilengkapi agar memenuhi kaidahkaidah sistem klasifikasi, juga agar dapat dipahami oleh seluruh pustakawan atau classifier yang bertugas, maupun perpustakaan lain yang sejenis; (2) Petunjuk teknis penggunaan skema klasifikasi diperlukan sehingga proses pengorganisasian informasi di perpustakaan dapat dilakukan dengan lebih baik lagi; (3) perlu dibentuknya dewan pengawas sistem klasifikasi untuk memantau dan sarana berkonsultasi bagi pengembangan sistem klasifikasi khusus atau bermuatan lokal. Hal ini dikarenakan bangsa Indonesia memiliki kekayaan akan khazanah pengetahuan dan budaya lokal Indonesia yang tidak terwadahi dalam sistem klasifikasi umum sehingga perlu untuk mengembangkan sebuah sistem klasifikasi khusus yang cocok dengan khazanah pengetahuan nusantara; (4) penelitian lanjutan mengenai perkembangan dan pengembangan sistem klasifikasi khusus diperlukan, mengingat berbagai keterbatasan dalam penelitian ini. Penelitian selanjutnya dapat mengkaji penerapan sistem klasifikasi khusus dalam lingkup yang lebih besar, baik regional maupun global. Dapat juga meninjau publikasi berkaitan dengan sistem klasifikasi khusus pada pangkalan data lainnya.