Persepsi Peneliti Terhadap Koleksi Perpustakaan Balai Penelitian Dan Pengembangan Lingkungan Hidup Dan Kehutanan Kupang Researchers’ Perception on Library’s Collections of Environment and Forestry Research and Development Institute of Kupang
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan
Abstrak
Minat peneliti untuk memanfaatkan koleksi Perpustakaan Cendana pada Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Kupang masih rendah. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi persepsi peneliti terhadap relevansi koleksi perpustakaan dengan kegiatan penelitian, ketersediaan dan kemutahiran koleksi, serta faktor penghambat pengembangan koleksi perpustakaan. Penelitian menggunakan metode studi kasus untuk menggali informasi secara mendalam mengenai persepsi peneliti terhadap koleksi perpustakaan. Pengambilan sampel menggunakan teknik extreme sampling dengan melibatkan informan yang memiliki keterkaitan dengan topik penelitian. Jumlah informan sebanyak tiga orang. Data dikumpulkan melalui wawancara, selanjutnya data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan mayoritas informan mempersepsikan koleksi perpustakan cukup relevan dengan kegiatan penelitian. Namun, koleksi perpustakaan belum ideal, khususnya ketersediaan dan kemutakhiran koleksi. Mereka juga mempersepsikan faktor luar seperti keterbatasan pendanaan, fasilitas, dan akses penghambat perpustakaan dalam mengembangkan koleksi yang ideal. Penelitian ini merekomendasikan Perpustakaan Cendana untuk (1) menyusun kebijakan pengembangan koleksi sebagai dasar pengembangan koleksi yang berorientasi kebutuhan pengguna dengan mempertimbangkan aspek relevansi, ketersediaan, dan kemutakhiran; (2) menjalin kerja sama dengan perpustakaan lain dalam rangka meningkatkan ketersediaan dan kemutakhiran koleksi melalui silang layan dan konsorsium.
Abstract
Interest of researchers of Kupang Forest and Environmental Research Institute to use institutional library's collections was low. The study aimed to identify researchers' perceptions on the relevance of library collections with research activities, availability and adequacy of library collections, and factors inhibiting the development of library collections. The research was designed as a case study to dig deeply information about researchers' perceptions of library collections. Sampling used extreme sampling technique by involving informants related to the topic studied. The number of informants was three people. Data were collected through interviews and the obtained data were analyzed descriptively. The result showed that most of informants had positive perception to relevancy of library's collection. The library’s collections can fulfill reseachers’ information need. However, the library’s collection has not yet met an ideal condition due to limited number of collections and huge number of outdated collections. This research recommends Cendana library to prepare collection development policy as a roadmap for developing collections. Another recommendation is to collaborate with another libraries for delevoping interlibrary loan and consourtium.
Keywords:
Perception
· researchers
· library collections
· collection development
Introduction
Perpustakaan merupakan institusi pengelola koleksi karya tulis, karya cetak, dan/atau karya rekam secara profesional dengan sistem yang baku guna memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi para pemustaka (Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, n.d.). Pengelolaan informasi secara baku tersebut dimaksudkan agar pemustaka dapat menelusur dan menemukan informasi secara mudah sesuai kebutuhannya. Merujuk pada definisi tersebut maka perpustakaan berperan penting dalam pemenuhan kebutuhan informasi pemustaka. Sejalan dengan upaya pemenuhan kebutuhan informasi bagi para pemustaka, perpustakaan wajib mengembangkan koleksinya dengan mempertimbangkan kebutuhan informasi para pemustaka. Undang-undang Nomor 43 Tahun 2007 pasal 12 ayat 1 mengamanatkan perpustakaan untuk menyediakan koleksi yang selaras dengan kebutuhan informasi para pemustakanya (Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, n.d.). Selain itu, pengembangan koleksi perpustakaan juga perlu mempertimbangkan relevansi antara kebutuhan informasi pengguna dan program perpustakaan, serta kelengkapan dan kemutakhiran koleksi (Darmono 2001). Pengembangan koleksi yang berorientasi kepada pengguna akan menjamin terpenuhinya kebutuhan informasi pemustaka. Koleksi perpustakaan adalah semua informasi dalam bentuk karya tulis, karya cetak, dan/atau karya rekam dalam berbagai media yang mempunyai nilai pendidikan, yang dihimpun, diolah, dan dilayankan oleh perpustakaan (Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, n.d.). Koleksi perpustakaan memiliki jenis yang beragam. Keragaman tersebut dipengaruhi oleh karakteristik media penyimpanan dan sifat informasinya. Setidaknya, koleksi perpustakaan dibedakan menjadi tiga jenis berdasarkan medianya (Suwarno, 2010), yakni (1) karya cetak berupa karya monograf (buku teks, buku referensi, laporan) dan karya terbitan berseri (jurnal, buletin, majalah, surat kabar); (2) karya rekam berupa karya audio visual (kaset audio, CD, kaset video, DVD); dan (3) karya elektronik berupa monograf elektronik (ebook), terbitan berseri elektronik (e-journal), dan born digital (artikel di website dan blog). Pengelolaan koleksi perpustakaan mengacu pada standar baku, yakni Standar Nasional Indonesia Nomor 7496:2009 (Badan Standarisasi Nasional 2009). Standar koleksi minimum yang yang harus dipenuhi perpustakaan khusus adalah sebagai berikut: 1) Perpustakaan khusus pada instansi pemerintah sekurangnya memiliki 1.000 judul buku dalam bidang kekhususannya. 2) Sekurang-kurangnya 80% koleksinya terdiri atas subyek/disiplin ilmu tertentu sesuai dengan kebutuhan instansi induknya. 3) Perpustakaan menyediakan koleksi terbitan dari dan tentang instansi induknya. 4) Perpustakaan melanggan minimal 10 judul majalah yang berkaitan dengan kekhususan instansi induknya. 5) Jenis koleksi perpustakaan khusus sekurangnya terdiri atas buku terkait bidangnya, serial, koleksi referensi, dan laporan. 6) Penambahan koleksi buku sekurangnya 2% dari jumlah judul per tahun atau minimal 100 judul per tahun dipilih mana yang paling besar. Merujuk kriteria tentang standar minimal koleksi perpustakaan khusus, penulis mengidentifikasi empat aspek penting, yakni relevansi koleksi perpustakaan dengan tugas pokok instansi, ketersediaan koleksi perpustakaan, keragaman jenis koleksi perpustakaan, dan keterbaruan koleksi yang diperoleh melalui pengadaan. Perpustakaan Cendana merupakan perpustakaan khusus pada Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Kupang (BPPLHK Kupang). Untuk memenuhi kebutuhan pemustaka, khususnya peneliti di balai penelitian tersebut, perpustakaan berusaha mengembangkan koleksi sesuai kebutuhan pemustaka. Pada kurun waktu 2010−2014, Perpustakaan Cendana telah mengadakan 400 judul buku teks sesuai usulan pemustaka (Balai Litbang Lingkungan Hidup dan Kehutanan, 2017). Idealnya, peneliti memanfaatkan koleksi tersebut untuk menunjang kegiatan penelitian. Namun, minat peneliti selaku pemustaka Perpustakaan Cendana dalam pemanfaatan koleksi tersebut masih rendah. Kondisi tersebut memunculkan dugaan bahwa rendahnya pemanfaatan koleksi disebabkan koleksi tersebut tidak sesuai dengan kebutuhan informasi peneliti. Berdasarkan asumsi tersebut perlu dilakukan penelitian yang mengkaji persepsi peneliti terhadap koleksi Perpustakaan Cendana. Persepsi memiliki keterkaitan erat dengan psikologis manusia. Manusia memiliki kemampuan kognitif dan afektif sehingga dapat dengan mudah beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya. Afeksi atau sikap manusia lebih didominasi oleh kemampuan inderawinya. Setiap manusia memiliki kemampuan inderawi yang berbeda. Hal tersebut membuat setiap manusia memiliki sudut pandang yang berbeda terhadap sebuah objek. Rahmat (2009) mendefinisikan persepsi sebagai pengalaman tentang suatu objek, peristiwa atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan. Sementara Sulistyowati dan Jazimatuk (2015) mendefinisikan persepsi sebagai proses pemaknaan suatu objek dengan menggunakan pancaindera sehingga menimbulkan suatu kesan dalam benak seseorang. Merujuk kepada dua definisi persepsi tersebut maka penulis menyimpulkan bahwa persepsi merupakan proses internalisasi suatu rangsangan terhadap objek tertentu dengan melibatkan pancaindera sehingga menimbulkan kesan tertentu dalam benak manusia. Proses persepsi tidak berdiri sendiri melainkan ada faktor penyebabnya. Terdapat empat faktor yang memengaruhi persepsi (Suwarno, 2010), yaitu (1) stereotipe, yaitu pandangan tentang ciri-ciri tingkah laku dari sekelompok masyarakat tertentu; (2) persepsi diri, yaitu pandangan terhadap diri sendiri yang dapat memengaruhi pembentukan kesan pertama; (3) situasi dan kondisi, yaitu pandangan terhadap seseorang yang dipengaruhi oleh situasi atau kondisi tertentu; dan (4) ciri yang ada pada orang lain, yaitu daya tarik fisik seseorang yang dapat menimbulkan penilaian khusus pada saat pertama kali bertemu. Merujuk pada empat faktor tersebut, penulis mengelompokkan faktor-faktor tersebut ke dalam dua kelompok besar, yakni faktor internal dan faktor eksternal. Faktor stereotipe dan persepsi diri merupakan pencetus persepsi yang berasal dari dalam diri. Sementara kondisi dan ciri pada orang lain merupakan penyebab rangsangan persepsi yang berasal dari luar diri. Berdasarkan uraian tersebut, penulis berpendapat bahwa koleksi perpustakan yang ideal tercapai apabila perpustakaan mampu menyediakan koleksi yang relevan dengan kebutuhan informasi pemustaka, jumlahnya memadai, dan daya informasinya mutakhir (Gambar 1). Gambar 1 di atas menunjukkan bahwa proses pemaknaan peneliti terhadap koleksi perpustakaan terbentuk atas terpenuhinya aspek relevansi, ketersediaan koleksi dan kemutakhiran koleksi. Apabila ketiga aspek tersebut terdapat dalam satu irisan yang sama maka persepsi peneliti terhadap koleksi perpustakaan bernilai positif dan begitu sebaliknya. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi persepsi peneliti terhadap relevansi koleksi perpustakaan Cendana dengan kebutuhan informasinya, ketersediaan, dan kemutahiran koleksi, serta persepsi peneliti terhadap faktor-faktor yang menghambat pengambangan koleksi Perpustakaan Cendana.
Method
Penelitian dilakukan di Perpustakaan Cendana BPPLHK Kupang dengan menggunakan metode kualitatif studi kasus. Penelitian kualitatif studi kasus bertujuan menjelaskan suatu fenomena, peristiwa atau proses secara mendalam tanpa bermaksud menggeneralisasi hasil penelitian. Metode studi kasus memberikan keleluasaan kepada peneliti untuk mengeksplorasi suatu fenomena secara mendalam dengan mengambil informasi baik dari satu sumber informasi ataupun lebih (Sugiyono, 2014). Penelitian kualitatif tidak memiliki ukuran sampel yang baku (Powell dan Connaway, 2004) karena bertujuan memberikan makna secara mendalam kepada objek penelitian daripada menggenaralisasi suatu fenomena atau peristiwa. Ukuran sampel lebih menekankan pada relevansi dan kedalaman pengetahuan narasumber. Pengambilan sampel menggunakan extreme case sampling, yaitu teknik penarikan sampel pada objek penelitian dengan cara menyeleksi responden yang memiliki minat dan pengalaman terkait topik penelitian (Powell dan Connaway, 2004). Jumlah populasi peneliti pada BPPLHK Kupang sebanyak 19 orang dengan beragam jenjang pendidikan mulai dari strata 1 sampai strata 3 dan beragam jenjang jabatan fungsional mulai Peneliti Pertama sampai Peneliti Madya. Namun, peneliti yang aktif menjalankan tugas sebagai peneliti sebanyak 11 orang (Balai Litbang LHK Kupang 2017), karena peneliti lainnya sedang menjalankan tugas belajar maupun dinonaktifkan dari jabatan peneliti. Informan penelitian yang terpilih sebanyak tiga orang. Pemilihan informan tersebut didasarkan atas keaktifannya menggunakan koleksi Perpustakaan Cendana dan kesediaannya menjadi informan penelitian. Instrumen penelitian berupa daftar pertanyaan terbuka sebanyak empat pertanyaan. Topik pertanyaan tersebut mencakup aspek relevansi, ketersediaan koleksi, keterbaruan koleksi, dan persepsi peneliti terhadap faktor penghambat pengembangan koleksi perpustakaan. Pengumpulan data menggunakan teknik wawancara mendalam terhadap responden. Wawancara dilaksanakan pada 27−28 November 2017 bertempat di kantor BPPLHK Kupang. Selanjutnya, hasil wawancara ditranskripsikan dan dianalisis secara deskriptif. Data dianalisis menggunakan model interaksi Miles dan Hubberman. Teknik analisis tersebut menggunakan skema ekplorasi data, organisasi data, reduksi data, dan penarikan kesimpulan. Keempat tahapan model Miles dan Hubberman tersebut dijelaskan dalam (Rahmat, 2011) sebagai berikut: 1. Pengumpulan data. Data primer dikumpulkan melaluiwawancara. Selanjutnya, data tersebut dilengkapi dengan data sekunder yang diperoleh dari dokumen tercetak dan noncetak maupun website resmi Ericsson. 2. Penyajian data. Data hasil wawancara ditranskripkanke dalam narasi dan narasi tersebut dianalisis relevansinya dengan sub-subtopik pembahasan. 3. Reduksi data. Data yang terkumpul diseleksi lagiberdasarkan relevansinya dengan topik penelitian untuk menjaga fokus penelitian. 4. Penarikan kesimpulan. Data yang telah diolahdianalisis dan ditarik kesimpulannya. Tabel 1. Sebaran koleksi Perpustakaan Cendana tahun 2015−2016. Jenis koleksi Kondisi Judul Eksemplar Judul Eks Judul Eksemplar Buku referensi 114 206 - - 114 206 Baik Buku teks 471 474 - 64 471 538 Baik Laporan 130 130 - 14 139 144 Baik Prosiding 182 182 - 6 182 188 Baik Jurnal/buletin 129 158 - 45 129 303 Baik Majalah 164 423 24 3 188 426 Baik Jumlah 1.170 1.673 33 132 1.223 1.805
Result & Discussion
Deskripsi Perpustakaan Cendana Perpustakaan Cendana BPPLHK Kupang merupakan salah satu sarana penelitian yang berfungsi mengumpulkan, mengelola, dan melayankan informasi ilmiah kepada peneliti. Pengelolaan perpustakaan tersebut berada di bawah koordinasi Seksi Data, Informasi dan Sarana Penelitian dan Perpustakaan. Perpustakaan Cendana menempati ruang seluas 110 m2. Pengelolanya terdiri atas satu orang Pustakawan Muda dan satu orang tenaga teknis pengelola perpustakaan. Sistem pengelolaannya menganut sistem terbuka sehingga pemustaka dapat mengakses informasi secara mandiri menggunakan Online Public Access Catalogue (OPAC) berbasis Senayan Library Information Management System (SLIMS) versi Akasia. Pada tahun 2016, perpustakaan Cendana memiliki koleksi perpustakaan sebanyak 1.223 judul dengan jumlah 1.805 eksemplar. Sebaran koleksinya disajikan pada Tabel 1. Sebagian besar subjek koleksi merupakan ilmu kehutanan dan ilmu lain yang terkait, seperti pertanian, botani, zoologi, dan ilmu lingkungan. Sebagian besar koleksi merupakan buku teks terbitan tahun 1980-an, 1990-an, dan awal 2000-an. Koleksi majalah dan jurnal relatif berusia muda atau diterbitkan dalam kurun 5 tahun terakhir. Merujuk Standar Nasional Indonesia tentang koleksi perpustakaan khusus maka koleksi Perpustakaan Cendana memenuhi syarat minimal kelayakan koleksi perpustakaan khusus. Pada kurun waktu 2010−2013, Perpustakaan Cendana melakukan pengadaan buku teks dengan subjek kehutanan dengan rentang terbitan tahun 2004−2010. Pengadaan berorientasi kepada kebutuhan pengguna karena pustakawan menjaring usul permintaan buku selanjutnya usulan tersebut ditampung dalam dokumen desiderata. Namun, berdasarkan pengamatan penulis, minat peneliti menggunakan koleksi Perpustakaan Cendana masih rendah. Pada periode Januari 2017 sampai November 2017, hanya 7 peneliti yang meminjam koleksi perpustakaan berupa buku teks dan majalah. Kondisi tersebut mengindikasikan adanya kesenjangan Tabel 1. Sebaran koleksi Perpustakaan Cendana tahun 2015−2016. Jenis koleksi Kondisi Judul Eksemplar Judul Eks Judul Eksemplar Buku referensi 114 206 - - 114 206 Baik Buku teks 471 474 - 64 471 538 Baik Laporan 130 130 - 14 139 144 Baik Prosiding 182 182 - 6 182 188 Baik Jurnal/buletin 129 158 - 45 129 303 Baik Majalah 164 423 24 3 188 426 Baik Jumlah 1.170 1.673 33 132 1.223 1.805 Sumber: BLLHK Kupang (2017). antara permintaan informasi peneliti dan pemenuhan kebutuhan tersebut, dalam hal ini pemanfaatan koleksi perpustakaan. Persepsi Peneliti Terhadap Perpustakaan Terdeteksinya kesenjangan antara pemintaan dan pemenuhan kebutuhan informasi perlu dianalisis faktor penyebabnya. Salah satu faktor yang potensial adalah motivasi dalam diri peneliti terkait informasi yang dibutuhkan. Motivasi tersebut sering kali merujuk pada cara pandang atau pengalaman mental yang lebih dikenal dengan istilah persepsi. Persepsi terhadap Relevansi Koleksi Perpustakaan dengan Kegiatan Penelitian Sebagian besar informan penelitian mempersepsikan koleksi Perpustakaan Cendana cukup relevan dengan kegiatan penelitian. Informan A menyatakan bahwa subjek koleksi perpustakaan mendukung kegiatannya dalam menyusun bahan publikasi seperti makalah. Hal senada diungkapkan oleh Informan B yang menyatakan bahwa ia menemukan beberapa subjek koleksi perpustakaan yang dibutuhkan dalam rangka pengkayaan proposal penelitian. Informan C juga menyatakan bahwa subjek koleksi perpustakaan masih relevan dengan kegiatan penelitiannya yang bersifat science for community. Namun informan C memberikan catatan bahwa koleksi perpustakaan menjadi tidak relevan dengan kegiatan penelitian yang bersifat science for science, mengingat jenis penelitian tersebut lebih menekankan pada keterbaruan informasi. Persepsi Terhadap Ketersediaan Koleksi Informan penelitian memiliki persepsi yang beragam terhadap ketersediaan koleksi. Informan B mempersepsikan ketersediaan koleksi Perpustakaan Cendana sudah cukup karena ia dapat menemukan informasi yang dibutuhkan pada koleksi perpustakaan tersebut. Namun, Informan A dan C mempersepsikan ketersediaan koleksi Perpustakaan Cendana belum memenuhi kebutuhan informasi mereka. Informan A secara tegas menyatakan koleksi Perpustakaan Cendana tidak cukup ketersediaannya. Namun, jawaban tersebut tidak disertai penjelasan yang memadai. Informan C menyatakan kuantitas koleksi Perpustakaan Cendana perlu ditambah, khususnya untuk subjek teknologi kehutanan. Persepsi terhadap Kemutakhiran Koleksi Mayoritas informan mempersepsikan bahwa koleksi Perpustakaan Cendana tidak mutakhir. Informan A yang berkecimpung dalam penelitian sosial kehutanan mengidentifikasi bahwa koleksi terbaru mengenai ilmu sosial yang dimiliki Perpustakaan Cendana merupakan buku-buku terbitan tahun 2012. Mengingat ilmu sosial sangat dinamis perkembangannya, ia membutuhkan koleksi perpustakaan yang sesuai dengan perkembangan tersebut. Pendapat serupa juga dinyatakan informan B. Ia menginformasikan bahwa untuk memenuhi persyaratan publikasi ilmiah pada jurnal, karya tulis ilmiah sedikitnya merujuk 80% buku/jurnal yang terbit 5 tahun terakhir. Informan C tidak secara eksplisit menjawab aspek kemutakhiran koleksi Perpustakaan Cendana. Informan C mempersepsikan bahwa peneliti perlu memberdayakan sumber-sumber informasi online, seperti Google Scholar guna mendapatkan informasi yang mutakhir. Mayoritas informan penelitian mempersepsikan faktor luar sebagai kendala bagi Perpustakaan Cendana dalam mengembangkan koleksi perpustakaan yang ideal. Hal tersebut dijelaskan sebagai berikut: 1) Keterbatasan dana menjadi masalah klasik bagi hampir semua jenis perpustakaan dalam pengembangan koleksi. Informan A mengidentifikasi keterbatasan dana sebagai penghambat bagi Perpustakaan Cendana dalam menambah koleksinya. Keterbatasan dana sekaligus menyebabkan perpustakaan tidak mampu memperbarui koleksi dan menambah jumlah koleksinya. Koleksi yang stagnan berakibat informan A enggan memanfaatkan koleksi perpustakaan. 2) Keterbatasan akses ke koleksi digital dipersepsikan oleh informan B dan C sebagai faktor penyebab belum tercapainya koleksi perpustakaan yang ideal. Keduanya mempersepsikan bahwa akses ke koleksi digital perlu dikembangkan guna memenuhi kebutuhan informasi pemustaka. Pada satu sisi, Perpustakaan Cendana hanya bertumpu pada koleksi cetak dan koleksi tersebut memiliki keterbatasan jumlah dan umur informasinya. Pada sisi yang lain, peneliti selaku pemustaka membutuhkan informasi mutakhir sehingga peneliti mencari alternatif sumber informasi seperti sumber informasi digital yang dapat diakses melalui internet. Berdasarkan uraian di atas, penulis berpendapat bahwa eksistensi sebuah perpustakaan bergantung pada koleksi yang berorientasi pada kebutuhan penguna. Bukan tidak mungkin pada suatu saat, sebuah perpustakaan akan ditinggalkan penggunanya apabila koleksinya tidak mengikuti kebutuhan informasi pengguna yang berubah sesuai perkembangan zaman. Apabila koleksi perpustakaan tidak mampu memenuhi kebutuhan informasi pemustaka maka pemustaka akan beralih ke sumber informasi lainnya. Rendahnya minat peneliti lingkup BLLHK Kupang dalam memanfaatkan koleksi Perpustakaan Cendana pada awalnya diduga karena ketidaksesuaian antara koleksi yang dimiliki perpustakaan dan informasi yang dibutuhkan peneliti. Namun, hasil wawancara dengan para informan membantah dugaan tersebut. Rendahnya minat peneliti untuk memanfaatkan koleksi Perpustakaan Cendana lebih disebabkan oleh terbatasnya ketersediaan koleksi, khususnya ilmu sosial dan teknologi kehutanan, serta koleksi yang ada kurang mutakhir. Merujuk kepada hal tersebut, penulis berpendapat koleksi Perpustakaan Cendana belum ideal jika ditinjau dari aspek ketersediaan dan kemutakhiran koleksi. Para informan mengharapkan koleksi dapat ditambah secara bertahap. Harapan tersebut tidaklah berlebihan karena berdasarkan Standar Nasional Indonesia Nomor 7496:2009 tentang Koleksi Perpustakaan Khusus, perpustakaan khusus wajib menambah koleksi sebanyak 2% dari jumlah koleksi atau 100 eksemplar per tahun. Aspek yang tidak kalah pentingnya adalah kemutakhiran koleksi, mengingat Perpustakaan Cendana merupakan perpustakaan lembaga riset. Terlebih, publikasi ilmiah mensyaratkan 80% rujukan merupakan terbitan 5 tahun terakhir. Persyaratan tersebut sulit dipenuhi para peneliti jika mereka hanya menggunakan koleksi Perpustakaan Cendana saat ini. Informan A menyatakan koleksi terbaru untuk ilmu sosial yang dimiliki Perpustakaan Cendana adalah terbitan tahun 2012. Selain itu, kegiatan penelitian jenis science for science juga menuntut keterbaruan informasi, padahal koleksi Perpustakaan Cendana merupakan terbitan era 1980-an, 1990-an dan 2000-an awal. Kondisi koleksi tersebut tidak mampu memenuhi kebutuhan informasi para peneliti yang membutuhkan informasi ilmiah baru. Alhasil, para peneliti yang bertindak sebagai informan mencari sumber informasi lain tanpa menggunakan koleksi perpustakaan Cendana. Mayoritas informan juga mengidentifikasi bahwa keterbatasan dana dan akses menjadi faktor penghambat bagi perpustakaan dalam mencapai koleksi yang ideal. Persepsi tersebut menunjukkan realitas yang ada karena perpustakaan cendana merupakan salah satu sub unit penunjang kegiatan penelitian yang memiliki posisi tawar lemah dalam hal pendanaan. Pendanaan bagi pengembangan koleksi perpustakaan sangat bergantung pada arah kebijakan instansi induknya dalam hal ini adalah BLLHK Kupang.
Conclusion
Kesimpulan Koleksi Perpustakaan Cendana cukup relevan dengan kegiatan penelitian, namun belum ideal, khususnya ketersediaan dan kemutakhiran koleksi. Faktor luar seperti keterbatasan dana dan fasilitas serta akses menjadi penghambat bagi perpustakaan dalam mengembangkan koleksi yang ideal. Saran Perpustakaan Cendana perlu menyusun kebijakan pengembangan koleksi yang berisi tujuan yang hendak dicapai, sasaran, analisis kelemahan dan kekuatan koleksi, serta rambu-rambu dalam pengadaan, pengolahan, dan pelayanan koleksi. Kebijakan pengembangan koleksi menjadi dasar dalam pengembangan koleksi yang berorientasi pada kebutuhan pengguna dengan mempertimbangkan aspek relevansi, ketersediaan, dan kemutakhiran. Perpustakaan dapat menjalin kerja sama dengan perpustakaan lain dalam rangka menambah ketersediaan dan kemutakhiran koleksi melalui silang layan. Bentuk kerja sama lainnya adalah konsorsium dengan menggandeng lembaga sejenis untuk melakukan pengadaan sumber informasi digital dengan metode cost sharing dan access sharing.