PERSEPSI SISWA TENTANG MEDIA POHON GEULIS (GERAKAN LITERASI) DALAM MENUMBUHKAN MINAT BACA PADA SISWA SDN MELONG MANDIRI 1 KOTA CIMAHI
Universitas Pendidikan Indonesia; Universitas Pendidikan Indonesia; Universitas Pendidikan Indonesia
Abstrak
Penelitian ini dilatar belakangi oleh hasil survei yang dilakukan oleh World’s Most Literate Nations (WMLN) tahun 2016 dan Progress in International Reading Literacy Study (PIRLS) pada tahun 2006 yang dapat disimpulkan bahwa minat baca siswa sekolah dasar di Indonesia dapat dikategorikan rendah. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, pemerintah Indonesia menerbitkan sebuah peraturan melalui Permendikbud No 23 Tahun 2015 yang mewajibkan siswa membaca selama 15 menit sebelum pembelajaran dan merealisasikannya dengan sebuah program yaitu program Gerakan Literasi Sekolah (GLS). Agar program GLS berjalan dengan efektif, maka sekolah mengimplementasikan media Pohon Geulis. Media tersebut merupakan upaya yang diterapkan agar peserta didik memiliki kebiasaan membaca. Permasalahan yang menjadi kajian dalam penelitian ini adalah bagaimana hubungan persepsi siswa tentang media Pohon Geulis (Gerakan Literasi) dengan minat baca di SDN Melong Mandiri 1 Kota Cimahi. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui hubungan persepsi siswa tentang media Pohon Geulis (Gerakan Literasi) dengan minat baca pada SDN Melong Mandiri 1 Kota Cimahi. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh peserta didik pada SDN Melong Mandiri 1 Kota Cimahi kelas 4 dan 5, dengan sampel sebanyak 74 siswa yang dihitung dengan rumus Slovin dengan metode Cluster Sampling. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif korelasional dengan pendekatan kuantitatif. Instrumen penelitian yang digunakan adalah angket dengan skala Guttman, kemudian pengolahan datanya dihitung menggunakan rumus Pearson Product Moment. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang positif antara persepsi siswa tentang media Pohon Geulis dengan minat baca, dengan tingkat korelasi sedang. Simpulan hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi siswa tentang media Pohon Geulis berada pada kategori tinggi yang diukur berdasarkan enam indikator yaitu ketepatan dengan tujuan media Pohon Geulis, dukungan terhadap kegiatan membaca pada program GLS, kemudahan dalam menggunakan media Pohon Geulis, keterampilan siswa dalam menggunakannya, waktu penggunaan, dan kesesuaian dengan taraf berfikir siswa. Sedangkan minat baca berada pada kategori tinggi yang diukur berdasarkan empat indikator yaitu kesadaran, perhatian, rasa senang, dan frekuensi.
Abstract
This research was based on the result of a survey conducted by the World’s Most Literate Nations (WMLN) and the Progress in International Reading Literacy Study (PIRLS) in 2006 which indicated that the reading interest of the elementary students was categorized as low. To resolve this problem, the Government of Indonesia issued a regulation through the Regulation of the Ministry of Education No. 23 OF the year 2015 which obliged the students to read for 15 minutes before they start the learning activity and realized it with a program called Gerakan Literasi Sekolah. In order to make the GLS works effectively, the school implemented the Pohon Geulis Media. The applied media is an attempt to construct reading habit among the students. The issue examined in this study was how the perception of the students of the Pohon Geulis Media (Gerakan Literasi) correlates with the reading interest at SDN Melong Mandiri 1 Cimahi City. The purpose of this study was to find out the correlation between student’s perception of the Pohon Geulis Media (Gerakan Literasi) with the reading interest at SDN Melong Mandiri 1 Cimahi City. The population in this study were all of the 4th and 5th graders at SDN Melong Mandiri 1 Cimahi City , which 74 students were selected as the sample which was calculated with Slovin formula using the Cluster Sampling. The method used in this study was the correlational descriptive with the quantitative approach. The instrument carried out in this study was a questionnaire using Guttman scale, as for analyzing the data it was calculated using the Pearson Product Moment. The result of the study indicated that there was a positive correlation between students’ perception on the media of Pohon Geulis with the interest in reading at medium level. The conclusion that can be made is that students’ perception on the media of Pohon Geulis was categorized as high was measured by six indicators, namely; the accuracy with the aims of the Pohon Geulis media, the support of the reading activity in GLS program, the ease in using the media, and the appropriateness with students’ level of thinking. Therefore, students’ interest in reading is categorized as high which measured by four indicators, namely; awareness, attention, pleasure, and frequency.
Keywords:
School Literacy Movement
· Geulis Tree media
· reading interest
Introduction
Masyarakat perlu cermat dalam menyaring berbagai informasi yang diperoleh, sehingga tidak terjadinya kekeliruan dalam mengimplementasikan informasi tersebut. Kemampuan serta teknik khusus perlu diterapkan dalam mengkaji sebuah informasi yang sering disebut sebagai literasi informasi. Informasi tersebut dapat diperoleh melalui berbagai sumber, salah satunya ialah perpustakaan. Perpustakaan merupakan jantung pada sebuah lembaga pendidikan sehingga mempunyai kendali yang cukup besar dalam lembaga pendidikan tersebut terutama bagi kegiatan pembelajaran pada peserta didik. Budaya literasi erat kaitannya dengan proses pembelajaran di sekolah. Literasi informasi merupakan suatu bentuk pendidikan yang diimplementasikan agar peserta didik mampu menjadi pembelajar sepanjang hayat (Life Long Learning). Dengan implementasi literasi informasi, maka peserta didik mampu terbiasa dalam kegiatan mempelajari, menggunakan, serta memanfaatkan pendidikan kapanpun dan dimanapun tanpa adanya batasan, sehingga kelak masyarakat dapat terus belajar secara mandiri dan terlepas dari asumsi bahwa kegiatan pembelajaran hanya dilakukan pada sebuah lembaga pendidikan saja seperti sekolah Salah satu visi dan misi perpustakaan sekolah ialah meningkatkan mutu pendidikan dan meningkatkan kualitas intelektual para peserta didik. Dalam mencapai tujuan tersebut, maka diperlukan perencanaan strategi yang matang dengan menyesuaikannya terhadap kondisi yang terjadi. Strategi tersebut dapat berupa upaya dalam menumbuhkan minat baca peserta didik. World’s Most Literate Nations (WMLN) Ranked (dalam CCSU News, 2016) mengeluarkan data mengenai peringkat negara-negara literasi yang dilakukan oleh John W. Miller Presiden Central Connecticut State University, New Britain yang menjelaskan bahwa negara Indonesia menduduki urutan ke60 dari 61 negara pada peringkat negaranegara literasi yang dilakukan oleh World’s Most Literate Nations (WMLN), sehingga Indonesia dapat dikatakan sebagai negara dengan tingkat literasi yang rendah . Progress in International Reading Literacy Study (PIRLS) (dalam Mursyid, 2005, hlm 74) mengungkapkan bahwa “Pada tahun 2006, yang melibatkan siswa sekolah dasar (SD), menunjukkan bahwa minat baca anak indonesia hanya mampu menempati posisi 36 dari 40 negara yang dijadikan sampel penelitian. Indonesia mampu lebih baik dari Qatar, Kuwait, Maroko dan Afrika Selatan” Dalam pemaparan riset tersebut maka dapat dipahami bahwa kondisi minat baca di Indonesia khususnya pada jenjang sekolah dasar dapat dikatakan cukup rendah. Hal tersebut membutuhkan perhatian yang lebih dari pemerintah maupun pada setiap instansi pendidikan agar dapat lebih meningkatkan minat baca pada peserta didik. Hal tersebut dapat diterapkan melalui berbagai program serta media yang telah direncanakan. Dunia Pendidikan Indonesia telah mengusung sebuah program untuk melaksanakan kurikulum berbasis kompetensi pada sebuah lembaga pendidikan khususnya sekolah. Program tersebut dilaksanakan untuk dapat mengimplementasikan kegitan literasi informasi di sekolah. Program tersebut dilandaskan pada Permendikbud No. 23 Tahun 2015 tentang “penumbuhan budi pekerti” pada poin VI yaitu Mengembangkan potensi diri peserta didik secara utuh, sebagai berikut “Setiap siswa mempunyai potensi yang beragam. Sekolah hendaknya memfasilitasi secara optimal agar siswa bias menemukenali dan mengembangkan potensinya. Kegiatan wajib: (1) Menggunakan 15 menit sebelum hari pembelajaran untuk membaca buku selain buku mata pelajaran (setiap hari)...” Untuk dapat melaksanakan Permendikbud No. 23 Tahun 2015 tersebut, maka program pemerintah yang dapat diimplementasikan pada sebuah lembaga pendidikan yaitu Program Gerakan Literasi Sekolah Implementasi Gerakan Literasi Sekolah pada lembaga pendidikan lebih dikembangkan lagi melalui programprogram lainnya salah satunya adalah WJLRC (West Java Leader’s Reading Challange). WJLRC merupakan program tantangan membaca yang diusung oleh pemerintah Jawa Barat untuk semua sekolah di Jawa Barat salah satunya diikuti oleh SDN Melong Mandiri 1 Cimahi. SDN Melong Mandiri 1 Cimahi memiliki banyak program serta media yang berkaitan dengan kegiatan literasi antara lain Readathon (Membaca Bersama), Pohon Literasi dan lain lain. Yang menjadi daya tarik untuk dibahas pada penelitian ini ialah media Pohon Geulis (Gerakan Literasi). Media Pohon Geulis yang diimplementasikan di SDN Melong Mandiri 1 Cimahi bertujuan untuk memotivasi minat baca peserta didik, sehingga diharapkan tumbuhnya karakter kebiasaan membaca dalam diri peserta didik yang terus berakar sampai kapanpun. Tujuan dari penelitian ini ialah untuk mengetahui hubungan persepsi siswa tentang media Pohon Geulis (Gerakan Literasi) dengan minat baca di SDN Melong Mandiri 1 Kota Cimahi . Sedangkan, tujuan khusus dari penelitian ini adalah mengetahui persepsi siswa terhadap media Pohon Geulis (Gerakan Literasi) dan mengetahui gambaran minat baca siswa di SDN Melong Mandiri 1 Cimahi 1. Literasi Informasi Setiap individu selalu dihadapkan pada permasalahan di dalam kehidupannya. Untuk memecahkan permasalahan tersebut, manusia membutuhkan informasi sebagai media dalam mengambil sebuah keputusan. Pemenuhan kebutuhan informasi perlu dilaksanakan sebaik mungkin, sehingga informasi diterima secara efisien. Prague declaration (dalam Suherman, 2009, hlm. 175) mengungkapkan pendapatnya mengenai literasi informasi sebagai berikut ... mendefinisikan literasi informasi sebagai kemampuan mengidentifikasi, menemukan, mengevaluasi, mengorganisasi, dan menghasilkan secara efektif, menggunakan, dan mengkomunikasikan informasi untuk mengatasi berbagai masalah yang dihadapi. Literasi informasi juga menjadi prasyarat untuk dapat berperan serta secara efektif dalam masyarakat informasi, serta merupakan keniscayaan untuk menjadi pembelajar seumur hidup. Literasi informasi ini dapat diterapkan pada masyarakat sebagai kegiatan belajar seumur hidup (Life Long Learning). Hal tersebut didasari pada kegiatan literasi informasi yang dapat digunakan sebagai media dalam pengambilan sebuah keputusan. 2. Gerakan Literasi Sekolah Pentingnya membaca kini telah mendapat perhatian lebih dari pemerintah. Pemerintah kini mengusung programprogram yang terfokus pada instansi pendidikan formal. Program naungan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) tersebut ialah Gerakan Literasi Sekolah. Hal tersebut mengikuti keputusan Permendikbud No. 23 Tahun 2015 poin IV yang dipaparkan sebagai berikut Setiap siswa mempunyai potensi yang beragam. Sekolah hendaknya memfasilitasi secara optimal agar siswa bias menemukenali dan mengembangkan potensinya. Kegiatan wajib: (1) Menggunakan 15 menit sebelum hari pembelajaran untuk membaca buku selain buku mata pelajaran (setiap hari)... Pada poin satu, telah dipaparkan mengenai kebijakan wajib membaca selama 15 menit sebelum belajar. Hal tersebut direalisasikan melalui program Gerakan Literasi Sekolah (GLS). 3. Media Pohon Geulis Implementasi media Pohon Geulis (Gerakan Literasi) di SDN Melong Mandiri 1 Kota Cimahi telah dilaksanakan sejak Agustus 2016 yang bertujuan untuk menciptakan motivasi siswa dalam kegiatan membaca sehingga terciptanya minat baca pada peserta didik dan diharapkan mampu menumbuhkan karakter kebiasaan membaca dalam diri peserta didik yang akan terus berakar sampai kapanpun. Media ini diimplementasikan pada semua jenjang kelas dari kelas 1 hingga kelas 6. Kegiatan yang dilaksanakan untuk dapat mencapai media Pohon Geulis (Gerakan Literasi) adalah sebagai berikut (1) Memilih buku bacaan (2) Membaca 15 menit sebelum pembelajaran dimulai (3) Merangkum buku bacaan pada fishbone (tulang ikan) (4) Menceritakan kembali buku bacaan (5) Pohon Geulis (Gerakan Literasi 4. Minat Baca Minat baca merupakan kesadaran yang tumbuh dari diri sendiri tanpa adanya suatu paksaan untuk memperoleh bahan bacaan yang diminati dan membacanya. Kesadaran itu diwujudkan dalam suatu keinginan yang diiringi dengan usaha. Hal tersebut sejalan dengan terori yang diungkapkan Rahim (2008, hlm. 28) yaitu “minat baca adalah keinginan yang kuat disertai usaha-usaha seseorang untuk membaca. Orang yang mempunyai minat baca yang kuat akan diwujudkan dalam kesadarannya untuk mendapat bahan bacaan dan kemudian membacanya atas kesadaran sendiri” Sehingga dapat dipahami bahwa dorongan terbesar dalam memiliki minat baca, berasal dari usaha dan kesadaran diri sendiri.
Method
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif korelasional dengan pendekatan kuantitatif. Penelitian ini terdiri dari dua variabel yaitu variabel X (Persepsi siswa tentang media Pohon Geulis) dan variabel Y (Minat Baca). Partisipan yang berkontribusi pada penelitian ini yaitu siswa-siswi SDN Melong Mandiri 1 Kota Cimahi yang berlokasi di di Jl. Melong IV, Melong, Cimahi Sel., Kota Cimahi, Jawa Barat 40534. Populasi yang digunakan pada penelitian ini yaitu siswa kelas 4 dan 5 dengan jumlah keseluruhan sebesar 284 siswa. Jumlah populasi tersebut relatif besar sehingga peneliti perlu mengambil sampel dari populasi yang ada. Alasan peneliti menggunakan kelas 4 dan 5 sebagai populasi dalam penelitian ini karena, kelas 4 dan 5 merupakan jenjang kelas atas sehingga dirasa cukup mengerti dalam kegiatan pengisian angket atau kuisioner. Sampel merupakan sebagian dari keseluruhan populasi yang ditentukan peneliti sebagai objek dalam kegiatan penelitian. Teknik sampling yang diterapkan dalam penelitian ini yaitu Cluster Sampling. Untuk menentukan jumlah sampel yang akan digunakan, maka menggunakan rumus Slovin dengan presisi 10% dan tingkat kepercayaan 90%. Sehingga, sampel yang digunakan pada penelitian ini yaitu sebanyak 74 responden dan menggunakan kelas 4D dan 5B di SDN Melong Mandiri 1 Cimahi. Instrumen penelitian merupakan sebuah alat ukur yang digunakan untuk mengukur suatu variabel. Instrumen penelitian ini bersifat pernyataan dengan alternatif jawaban. Instrumen yang digunakan pada penelitian ini berupa angket dengan skala sikap yang digunakan yaitu skala guttman. Skala guttman digunakan untuk mempermudah responden yang merupakan siswa Sekolah Dasar dalam mengisi agket yang diberikan karena skala guttman memberikan jawaban yang tegas yaitu “Ya dan Tidak” Sebelum instrumen yang digunakan dapat disebar kepada responden, instrumen tersebut harus silakukan Judgment expert dan uji validitas kepada populasi yang tidak dijadikan sampel penelitian. Judgment expert pada penelitian ini yaitu Bapak Imaddudin Fajri, S.Pd selaku narasumber WJLRC dan uji validitas yang dilakukan yaitu kepada 30 siswa. Data yang diperoleh melalui angket kemudian dilanjutkan pada proses analisis data untuk memperoleh hasil serta kesimpulan . Teknik analisis data yang digunakan pada penelitian ini ialah statistik deskriptif korelasional dengan pendektan kuantitatif. Perhitungan dalam penelitian ini menggunakan bantuan Microsoft Office Excel dan Software IBM SPSS Statistics 22. Metode deskriptif digunakan untuk menjelaskan data yang diperoleh dalam penelitian. Analisis statistik deskriptif digunakan untuk mengetahui hubungan antara variabel X (Persepsi siswa tentang media Pohon Geulis) dan variabel Y (Minat Baca). Pengujian data yang dilakukan pada penelitian ini yaitu uji normalitas (untuk mengetahui data yang diperoleh berdistribusi normal atau tidak) dan uji hipotesis (untuk mengetahui hubungan antara kedua variabel). Uji hipotesis (korelasional) yang dilakukan padapenelitian ini menggunakan rumus Pearson Product Moment.
Result & Discussion
A Hubungan persepsi siswa tentang media Pohon Geulis (Gerakan Literasi) dengan minat baca di SDN Melong Mandiri 1 Kota Cimahi Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan persepsi siswa tentang media Pohon Geulis dalam upaya menumbuhkan minat baca. Berdasarkan hasil penelitian yang telah diolah dan diuji melalui IBM SPSS Statistik 22 maka jawaban yang dihasilan ialah H0 ditolak dan H1 diterima, atinya terdapat hubungan yang signifikan antara persepsi siswa tentang media Pohon Geulis dengan minat baca. Media Pohon Geulis merupakan media yang digunakan untuk mendukung peserta didik dalam menjalankan program GLS (Gerakan Literasi Sekolah) khususnya dalam kegiatan membaca . Media Pohon Geulis tersebut dapat dijadikan sebagai faktor pendorong siswa agar selalu termotivasi atau memiliki keinginan membaca sehingga terciptanya sebuah kebiasaan membaca . Dengan membaca, peserta didik akan merasakan berbagai manfaat yang akan didapatkan baik dalam jangka panjang maupun dalam jangka pendek. Untuk lebih mengefektifkan penggunaan media Pohon Geulis, maka harus memenuhi beberapa indikator yang terkandung di dalam media Pohon Geulis Hal tersebut sejalan dengan teori yang dikemukakan oleh Hamzah dan Sofyan (2015, hlm. 21) yang mengungkapkan bahwa Sedangkan, faktor-faktor ekstrinsik yang mempengaruhi minat baca antara lain : - Hadiah, seseorang anak terdorong untuk melakukan sesuatu menjadi lebih giat lagi. Bagi anak-anak yang memperoleh nilai baik akibat membaca, akan mendorongnya untuk membaca lebih banyak lagi agar memperoleh nilai yang lebih tinggi lagi. - Persaingan atau kompetisi, juga merupakan dorongan untuk memperoleh kedudukan atau penghargaan. Kompetisi telah menjadi daya pendorong bagi seseorang untuk membaca lebih banyak lagi. B Persepsi siswa terhadap media Pohon Geulis (Gerakan Literasi) di SDN Melong Mandiri 1 Kota Cimahi Perolehan hasil pada variabel X (Persepsi siswa tentang media Pohon Geulis) berada pada kategori tinggi. Variabel ini terdiri dari 6 indikator dengan perolehan hasil sebagai berikut : Indikator Ketepatan dengan tujuan media Pohon Geulis berada pada kategori cukup tinggi. Dapat disimpulkan bahwa implementasi media Pohon Geulis sudah sesuai dengan tujuan yang ditetapkan yaitu menciptakan kebiasaan membaca yang didukung oleh pemenuhan target atau tujuan yang ingin dicapai pada media Pohon Geulis yaitu untuk memperoleh daun pada Pohon Geulis. Hal tersebut sejalan dengan teori Sudjana (2009, hlm. 4) yang menyebutkan bahwa “media pengajaran dipilih atas dasar tujuan-tujuan instruksional yang telah ditetapkan” Indikator dukungan terhadap kegiatan membaca pada program GLS berada pada kategori sangat tinggi. Dapat disimpulkan bahwa peserta didik sudah mampu memahami maksud dan tujuan dari dukungan yang diterapkan pada kegiatan membaca pada program GLS. Hal tersebut sejalan dengan teori Sudjana (2009, hlm. 4) yang menyebutkan bahwa “bahan pelajaran yang sifatnya fakta, prinsip, generalisasi sangat memerlukan bantuan media agar lebih mudah dipahami siswa” Indikator kemudahan menggunakan media Pohon Geulis berada pada kategori cukup tinggi. Dapat disimpulkan bahwa secara keseluruhan peserta didik dapat dengan mudah menggunakan media Pohon Geulis. Hal tersebut sejalan dengan teori Sudjana (2009, hlm. 4) yang menyebutkan bahwa “media yang diperlukan mudah diperoleh, setidaktidaknya mudah dibuat oleh guru pada waktu mengajar” Indikator keterampilan siswa dalam menggunakannya berada pada kategori tingi. Dapat disimpulkan bahwa bahwa media Pohon Geulis sudah dapat memenuhi beberapa manfaat yang dapat dirasakan, media Pohon Geulis sudah memiliki tampilan visual yang menarik, dan media Pohon Geulis juga sudah efektif digunakan. Hasil penelitian ini sejalan dengan teori yang diungkapkan Sudjana (2009, hlm. 4) yang menybutkan Pertama, guru perlu pemahaman media pengajaran antara lain jenis dan manfaat media pengajaran, kriteria memilih dan menggunakan media pengajaran, menggunakan media sebagai alat bantu mengajar dan tindak lanjut penggunaan media dalam proses belajar siswa. Kedua, guru terampil membuat media pengajaran sederhana untuk keperluan pengajaran. Ketiga, pengetahuan dan keterampilan dalam menilai keefektifan penggunaan media dalam proses pengajaran Indikator waktu penggunaan berada pada kategori cukup tinggi. Dapat disimpulkan bahwa dengan penerapan media Pohon Geulis, peserta didik memiliki keinginan unruk membaca melalui penetapan target yang ingin dicapai sehingga penerapan media Pohon Geulis bermanfaat bagi peserta didik tersebut. Hal tersebut sejalan dengan teori Sudjana (2009, hlm. 4) yang menyebutkan bahwa “media tesebut dapat bermanfaat bagi siswa selama pengajaran berlangsung” Indikator kesesuaian dengan taraf berfikir siswa berada pada kategori tinggi. Dapat disimpulkan bahwa pemahaman dan kemudahan peserta didik dalam menggunakan media Pohon Geulis dapat dikatakan baik. Hal tersebut sejalan dengan teori Sudjana (2009, hlm. 4) yang menyebutkan bahwa “memilih media untuk pendidikan dan pengajaran harus sesuai dengan taraf berfikir siswa, sehingga makna yang terkandung di dalamnya dapat dipahami oleh para siswa” Sehingga secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa agar media Pohon Geulis berjalan dengan efektif, maka dalam penerapannya media tersebut harus mengandung aspek : penetapan target yang ingin dicapai oleh siswa; pemahaman maksud yang ingin disampaikan secara teknis penggunaan; kemudahan dalam menggunakannya; bermanfaat bagi siswa, memiliki unsur visual yang baik, dam efektif digunakan; memiliki waktu penggunaan; dan sesuai dengan taraf berfikir siswa C Gambaran minat baca siswa di SDN Melong Mandiri 1 Kota Cimahi Perolehan hasil pada variabel Y (Minat Baca) berada pada kategori tinggi. Varibel ini terdiri dari 4 indikator dengan perolehan hasil sebagai berikut : Indikator kesadaran berada pada kategori sangat tinggi. Dapat disimpulkan bahwa peserta didik sudah menyadari, mengetahui, dan memahami manfaat membaca buku. Hal tersebut sejalan dengan teori Dian Sinaga (2009, hlm. 89) yang mengungkapkan tentang manfaat membaca yaitu Mempermudah memahami berbagai mata pelajaran. Siswa dapat menambah, memperluas, dan memperdalam pelajaran yang sudah didapatnya dari guru dengan membaca. Wawasan dan cakrawala berpikir siswa dengan demikian akan bertambah dengan membaca; Mengembangkan watak dan pribadi yang baik. Dengan membaca bahan –bahan pustaka yang berkaitan dengan pelajaran moral, etika, kepahlawanan, dan sejenisnya, siswa dapat mengembangkan watak dan pribadinya; Meningkatkan selera dan kemampuan dengan membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Kemampuan ini penting sekali untuk dikembangkan dan dibina mengingat manusia adalah makhluk sosial yang senantiasa dihadapkan pada berbagai alternatif dalam kehidupannya; menambah pembedaharaan kata. Dengan membaca, siswa dihadapkan dengan berbagai kata yang mungkin belum diketahuinya. Dengan demikian, siswa akan mendapat sejumlah pembedaharaan kata baru yang berasal dari bahan bacaannya; dan Memperluas pengalaman. Membaca memungkinkan orang untuk memperluas pengalamannnya tanpa harus mengunjungi sendiri negara tersebut Indikator perhatian berada pada kategori tinggi. Dapat disimpulkan bahwa dengan adanya faktor pendukung seperti fasilitas yang menarik, koleksi yang beragam, dan tersedianya waktu luang dapat menciptakan ketertarikan siswa dalam kegiatan membaca. Hal ini sejalan dengan teori yang diungkapkan Triatma (2016, hlm. 172) menyebutkan bahwa “orang yang mempunyai minat membaca yang kuat akan diwujudkan untuk mendapat bahan bacaan sesuai keinginannya” Indikator rasa senang berada pada kategori tinggi. Dapat disimpulkan bahwa secara keseluruhan, peserta didik sudah memiliki rasa senang membaca yang berasal dari dalam dirinya sendiri melalui beberapa aspek pendukung antara lain media Pohon Geulis, Pojok Baca dan koleksi bacaan yang yang bersifat menhibur. Hal tersebut sejalan dengan teori yang diungkapkan oleh Triatma (2016, hlm. 169) yang menyebutkan bahwa” Timbulnya minat terhadap suatu objek ditandai dengan adanya rasa senang atau tertarik”. Indikator frekuensi berada pada kategori sedang. Dapat disimpulkan bahwa peserta didik sudah dapat merealisasikan minat baca yang mereka miliki melalui tindakan nyata yang dapat dilihat dari frekuensi membaca buku. Hal tersebut sejalan dengan teori Harris & Sipay (dalam Muktiono, 2003, hlm. 24) yang menyebutkan bahwa salah satu aspek minat baca peserta didik dapat dilihat oleh aspek frekuensi Sehingga secara keseluruhan dapat disimpulkan adanya kesadaran dari diri peserta didik akan manfaat yang dapat diterima melalui membaca; adanya perhatian yang lebih pada peserta didik untuk membaca; adanya rasa senang membaca; serta didukung oleh frekuensi membaca yang baik. Hal tersebut juga relevan dengan penelitian yang dilakukan oleh Fijayanti yang berjudul “Program Membaca Lima Belas Menit (Sustained Silent Reading) Pada Siswa dan Siswi Sekolah Dasar Negeri di Kota Surabaya”. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa program membaca lima belas menit merupakan program yang efektif untuk meningkatakan keahlian membaca dan menulis yang dilihat dari kesenangan siswa ketika mengikuti program serta karya yang telah dihasilkan oleh para siswa, program membaca lima belas menit juga memotivasi siswa untuk membaca.
Conclusion
1. Simpulan Umum Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data yang telah dilakukan pada penelitian ini yang berjudul “Persepsi siswa tentang media Pohon Geulis dalam menumbuhkan minat baca (studi korelasional pada siswa SDN Melong Mandiri 1 Kota Cimahi)”, dapat diketahui bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara persepsi siswa tentang media Pohon Geulis (variabel X) dengan minat baca (variabel Y) yang dapat dikategorikan sedang. 2. Simpulan Khusus Media Pohon Geulis berjalan dengan efektif, maka dalam penerapannya media tersebut harus mengandung aspek : penetapan target yang ingin dicapai oleh siswa; pemahaman maksud yang ingin disampaikan secara teknis penggunaan; kemudahan dalam menggunakannya; bermanfaat bagi siswa, memiliki unsur visual yang baik, dam efektif digunakan; memiliki waktu penggunaan; dan sesuai dengan taraf berfikir siswa. Sehingga sesuai dengan rumusan masalah khusus yang diteliti yaitu “Persepsi siswa tentang media Pohon Geulis (Gerakan Literasi) di SDN Melong Mandiri 1 Kota Cimahi” Minat baca pada peserta didik di SDN Melong Mandiri 1 Kota Cimahi dapat dikategorikan tinggi. Hal tesebut ditinjau dari sudah adanya kesadaran dari diri peserta didik akan manfaat yang dapat diterima melalui membaca; adanya perhatian yang lebih pada peserta didik untuk membaca; adanya rasa senang membaca; serta didukung oleh frekuensi membaca yang baik. Sehingga sesuai dengan rumusan masalah khusus yang dicari yaitu “Gambaran minat baca siswa di SDN Melong Mandiri 1 Kota Cimahi” 3. Rekomendasi a. Bagi Peserta didik SDN Melong Mandiri 1 Kota Cimahi Siswa diharapkan dapat mengikuti kegiatan membaca pada program GLS secara maksimal dengan adanya dukungan dari media Pohon Geulis yang dapat meningkatkan dan memotivasi minat baca pada siswa b. Bagi SDN Melong Mandiri 1 Kota Cimahi Menciptakan media baru yang memiliki manfaat yang sejalan dengan media Pohon Geulis untuk mebiasakan diri dalam kegiatan membaca. Selain itu, diharapkan pihak sekolah dapat menambah jumlah koleksi buku yang dimiliki. Tidak hanya koleksi untuk menunjang kegiatan pembelajaran saja, namun koleksi yang bersifat menghibur seperti buku bacaan c. Bagi Peneliti Selanjutnya Diharapkan dapat melakukan penelitian dengan menggunakan metode penelitian yang berbeda serta lingkup dan cakupan yang lebih luas, sebagai salah satu upaya untuk mengetahui persepsi siswa tentang media Pohon Geulis atau media lain yang digunakan untuk menumbuhkan minat baca.