Kembali
16
1
2018 Edulibinfo Vol 5 · 1 ISSN 2541-3279

PERAN PROGRAM ‘PECANDU BUKU BERSILA’ DALAM MENUMBUHKAN KEGEMARAN MEMBACA GENERASI MUDA (Studi Korelasional pada Komunitas Pecandu Buku Bandung)

Universitas Pendidikan Indonesia; Universitas Pendidikan Indonesia; Universitas Pendidikan Indonesia

Abstrak

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh data Laporan Bank Dunia Nomor 16369-IND, dan studi IEA (International Association for the Evaluation of Education Achievement) di Asia Timur yang menyatakan bahwa kondisi kegemaran membaca anak muda Indonesia masih dinilai rendah dibandingkan dengan negara-negara lain. Sedangkan pemerintah melalui Perpustakaan Nasional Republik Indonesia telah berupaya mewujudkan peningkatan minat dan budaya baca masyarakat dengan menyusun suatu pedoman lengkap yaitu ‘Grand Design Pembudayaan Kegemaran Membaca’, ditambah keberadaan komunitas penggiat literasi yang semakin berkembang ditengahtengah masyarakat. Permasalahan yang menjadi kajian dalam penelitian ini adalah apakah program Pecandu Buku Bersila sebagai salah satu program rutin Komunitas Pecandu Buku memiliki peran dalam menumbuhkan kegemaran membaca generasi muda. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah program Pecandu Buku Bersila berperan dalam menumbuhkan kegemaran membaca generasi muda. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh peserta program Pecandu Buku Bersila yang dilaksanakan oleh Komunitas Pecandu Buku Bandung, dengan sampel 75 orang yang dihitung berdasarkan rumus Slovin dengan metode Sampling Incidental. Metode penelitian yang digunakan adalah Korelasional dengan pendekatan kuantitatif. Instrumen penelitian yang digunakan adalah angket tertutup dengan skala Guttman, kemudian pengolahan datanya dihitung menggunakan rumus korelasi Perason Product Moment. Berdasarkan hasil uji korelasional didapatkan data sebesar 0,443, yang berarti bahwa program Pecandu Buku Bersila memiliki peran yang cukup kuat dalam menumbuhkan kegemaran membaca generasi muda.

Abstract

This research was based on the World Bank Report data Number 16369-IND, and the study of IEA (International Association for the Evaluation of Education Achievement) in East Asia that showed the condition of young adult’s reading habit in Indonesia categorized as low compare to other countries. At the same time, the government through the National Library of The Republic of Indonesia has made efforts to realize an increase of the people's interest in reading by creating a reading guidance which is called ‘Grand Design Pembudayaan Kegemaran Membaca’, the effort was also assisted by numerous reading and literacy communities growing among societies. This study was intended to investigate whether the ‘Pecandu Buku Bersila’ program as one of the routine program in Pecandu Buku Community has a key role in increasing the reading habit. The purpose of this research was to uncover whether 'Pecandu Buku Bersila' program has a positive effect in increasing the reading habit of young generation. The participants in this research were all of the members of Pecandu Buku Bersila program run by Pecandu Buku Community Bandung, with the sample of 75 people calculated by Slovin formula with Incidental Sampling method. The Method used in the research is Study Correlational with quantitative approach. The Instrument used was a closed questionnaire with Guttman scale, and the data were calculated using Pearson Product Moment correlational formula. Based on correlational test, the result shows that it falls into youth 0,443, meaning that Pecandu Buku Bersila program has a key role in increasing the reading habit of young generation.
Keywords: reading habit · literacy comunity

Introduction

Hari ini kondisi kegemaran membaca di kalangan anak muda Indonesia masih dinilai rendah. Dipaparkan oleh Setiawan, dkk. (2014), Laporan Bank Dunia Nomor 16369-IND, dan studi IEA (International Association for the Evaluation of Education Achievement) di Asia Timur mengemukakan bahwa Indonesia menduduki peringkat terendah membaca. Kurangnya minat baca di Indonesia juga ditunjukkan hasil survei berkala di 40 negara oleh organisasi kerja sama dan pengembangan ekonomi (OECD) dengan sampel pelajar berusia 15 tahun. Indonesia berada di posisi kedua terbawah. Berdasarkan data yang dikeluarkan Badan Pusat Statisitik (BPS) tahun 2012, sebanyak 91,68 persen penduduk yang berusia 10 tahun ke atas lebih menyukai menonton televisi, dan hanya sekitar 17,66 persen yang menyukai membaca surat kabar, buku atau majalah. Konsumsi satu surat kabar di Indonesia dengan pembacanya rasio 1 berbanding 45 orang (1:45), padahal idealnya satu surat kabar dibaca oleh 10 orang (2014, hlm. 2). Idealnya, membaca menjadi salah satu budaya dalam masyarakat kita jika mengharapkan negara kita menjadi negara yang maju, seperti salah satu negara maju yang terkenal dengan budaya membacanya, yaitu Jepang. Ada satu kebiasaan yang berkembang luas di masyarakat Jepang, yakni Tachiyomi, merupakan kebiasaan masyarakat Jepang baik anak muda maupun usia lanjut untuk memanfaatkan waktu luang mereka dengan membaca, biasanya membaca sambil berdiri di depan toko buku. Seperti yang disampaikan dalam web IKAPI, bahwa Di Jepang setiap toko buku menyediakan buku yang sampulnya sudah dibuka agar bisa dibaca oleh para calon pembeli. Mereka tidak merasa rugi jika orang-orang datang untuk membaca buku secara gratis, para pemilik toko di Jepang malah percaya semakin banyak yang membaca, walau gratis, kemungkinan yang membeli pun akan semakin banyak pula (IKAPI, 2016). Demi mewujudkan peningkatan minat dan budaya membaca di masyarakat, Agus Setiawan bersama kawankawannya menyusun suatu pedoman lengkap yang dapat dijadikan rujukan, yakni Grand Design Pembudayaan Kegemaran Membaca yang diterbitkan oleh Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Penyusunan Grand Design tersebut, dimaksudkan oleh tim Setiawan, dkk. (2014) untuk mencapai visi dan misi dalam membangun Indonesia berbudaya baca kritis dan kreatif, menuju masyarakat berbasis pengetahuan. Sejalan dengan perkembangan teknologi informasi yang semakin hari semakin canggih, tentu alat pencarian informasi pun semakin maju dan terasa sangat memudahkan pemakainya. Bisa kita saksikan bersama, saat ini gawai/ gadget sebagai alat komunikasi sudah bukan barang mewah lagi untuk masyarakat. Keberadaan alat multifungsi ini membuat masyarakat kita terutama kalangan muda kesehariannya banyak merunduk karena gawai, bukan merunduk karena membaca buku. Jarang sekali kita temukan kumpulan para generasi muda yang sedang asik membaca buku atau surat kabar, kebanyakan dari mereka berkumpul sambil sibuk memainkan alat komunikasi masing-masing. Inilah alasan utama dan menjadi visi utama salah satu komunitas anak muda penggiat baca berdiri, yakni Komunitas Pecandu Buku. Seperti yang dijelaskan dalam halaman web Komunitas Pecandu Buku (2016), “Pecandu Buku adalah komunitas penggiat/penggila/pencinta buku yang bukan hanya senang membaca, tapi juga ingin membudayakan anak muda agar kembali gemar membaca”. Selain mengelola perpustakaan, Komunitas Pecandu Buku juga memiliki berbagai macam program kegiatan positif yang berkaitan dengan dunia literasi. Selain diskusi dan sharing di dunia maya tentang berbagai macam isu, Komunitas Pecandu Buku juga mengadakan program rutin bulanan di dunia nyata, salah satunya dinamakan dengan “Pecandu Buku Bersila”. Kegiatan ini merupakan suatu upaya untuk mengajak anak muda untuk kembali membiasakan diri mereka gemar membaca. Hingga saat ini, Pecandu Buku Bersila sudah belasan kali dihelat dengan tema-tema yang berbeda; di antaranya adalah diskusi buku, diskusi kesusastraan, lomba menulis surat, kegiatan amal di panti asuhan, penerbitan e-book berisi puisi dan juga diskusi jurnalistik. Setelah melihat dan bahkan pernah mengikuti salah satu program kegiatan rutinan Komunitas Pecandu Buku yang bertajuk ‘Pecandu Buku Bersila’, peneliti merasa tertarik untuk meneliti tentang sejauh mana peranan program ‘Pecandu Buku Bersila’ dalam menumbuhkan kegemaran membaca kalangan generasi muda, yang tentunya sasaran utama komunitas ini berdiri. Untuk itulah peneliti menyusun penelitian ini dengan judul “Peran Program ‘Pecandu Buku Bersila’ dalam Menumbuhkan Kegemaran Membaca Generasi Muda (Studi Korelasional pada Komunitas Pecandu Buku Bandung)”. 1. Konsep Pendidikan Abad 21 Menurut Tim Penyusun Paradigma Pendidikan Nasional Abad XXI, “Salah satu ciri yang paling menonjol pada abad 21 adalah semakin bertautnya dunia ilmu pengetahuan, sehingga sinergi di antaranya menjadi semakin cepat” (BSNP, 2010, hlm. 20). Rancangan kegiatan pendidikan abad 21 dipaparkan dalam BSNP (2010, hlm. 35) dengan difokuskan pada tematema berikut: 1. Membangun pemahaman/ kesadaran tentang cita-cita pembangunan Indonesia sebagai bangsa yang didasarkan pada nasionalisme kewargaan (civic nationalism) yang bertumpu pada rasa kemanusiaan. 2. Membangun pemahaman/ kesadaran pentingnya toleransi dalam menjalankan kehidupan bersama dalam rangka membentuk “kewargaan multikultural” (muticultural citizenship) menuju masyarakat kreatif dan responsif. 3. Merancang perangkat ajar dan tema-tema penelitian dan kegiatan sosial yang mendorong tumbuhnya pemahaman dan sikap saling menghormati pada kelompok adat, etnis, agama, ras, perbedaan gender, asal-usul, dan identitas lainnya. 4. Melatih keterampilan mediasi dan negosiasi dalam rangka membangun perdamaian melalui upaya-upaya resolusi konflik dan transformasi publik. Dalam rangka mewujudkan tujuan dari Pendidikan Nasional abad 21, kemampuan literasi masyarakat sangat berpengaruh. NCREL & Metiri Group (2003), dalam Affandi, dkk. (2016, hlm. 116)., memaparkan bahwa berdasarkan “enGauge 21 st Century Skills” literasi di era digital mencakup beberapa komponen, antara lain: 1) Literasi dasar – kemampuan dalam berbahasa (khususnya bahasa inggris) dan kemampuan matematis; 2) Literasi sains – pengetahuan dan pemahaman tentang konsep dan proses sains; 3) Literasi teknologi –pengetahuan tentang apa itu teknologi, bagaimana cara kerjanya dan bagaimana cara menggunakannya secara efektif dan efisien; 4) Literasi ekonomi – pengetahuan tentang masalah, situasi dan perkembangan ekonomi; 5) Literasi visual – pengetahuan tentang cara menggunakan, menginterpretasikan dan menghasilkan gambar dan video menggunakan media konvensional dan modern; 6) Literasi informasi – kemampuan untuk memperoleh, menggunakan dan mengevaluasi informasi secara efektif dan efisien dari berbagai sumber; 7) Literasi multicultural – kemampuan untuk mengapresiasi perbedaan nilai, keyakinan dan budaya orang lain; dan 8) Kesadaran global – kemampuan untuk memahami dan permasalahan di tingkat global. 2. Konsep Perpustakaan Masyarakat Istilah Perpustakaan Masyarakat didefiniskan oleh Sutarno (2006, hlm.18) sesuai dengan kaidah dalam Bahasa Indonesia tentang Hukum Diterangkan dan Menerangkan (Hukum DM) sebagai berikut: a. Perpustakaan adalah milik masyarakat, maksudnya bahwa perpustakaan dibangun dan dikelola oleh masyarakat yang bersangkutan yang berada di sekitarnya dan memanfaatkan perpustakaan. b. Perpustakaan masyarakat tersebut untuk masyarakat, untuk melayani kepentingan penduduk yang tinggal di sekitarnya. c. Perpustakaan tersebut menjadi tanggung jawab, wewenang, dan hak masyarakat setempat dalam membangun, mengelola dan mengembangkannya. 3. Perpustakaan Berbasis Komunitas Konsep perpustakaan berbasis komunitas dipaparkan oleh Evershed (2007) dalam Septiana (2007, hlm. 28), “pada umumnya perpustakaan berbasis komunitas berada di daerah dimana populasi penduduk tersebut memiliki akses terbatas terhadap literatur, buku dan alat pembelajaran lainnya”. Dari teori tersebut secara luas perpustakaan berbasis komunitas sangat berkaitan erat dengan upayaupaya pengembangan masyarakat dengan kegiatan yang dilakukan secara swadaya oleh masyarakat atau komunitas. Kondisi masyarakat kita hari ini lebih menyukai keberadaan Taman Baca Masyarakat (TBM) daripada perpustakaan umum lainnya, terlebih lagi anak-anak muda. Hal ini terbukti dengan banyaknya bermunculan perpustakaan berbasis komunitas yang dikelola oleh kaum muda penggiat literasi. Kondisi tersebut pun diperkuat oleh pendapat Sutarno (2008) mengenai TBM, dikatakan bahwa Taman bacaan masyarakat pada dasarnya bukanlah sebuah perpustakaan yang harus memenuhi standar nasional perpustakaan... taman bacaan lebih tepat disebut fasilitas membaca yang berada di tengahtengah komunitas (community based library) dan dikelola secara sederhana, swakarsa, swadana dan swasembada oleh masayarakat yang bersangkutan (hlm. 127). 4. Knowledge Sharing Knowledge sharing adalah perilaku mendiseminasikan pengetahuan dari satu individu kepada individu yang lain dalam satu organisasi (Ryu dkk.,2003 dalam Raharso & Tjahjawati. (2016, hlm. 102). Sedangkan Hogel et.al (2003) dalam Raharso & Tjahjawati (2016), memaparkan bahwa Knowledge sharing merupakan budaya interaksi sosial, melibatkan pertukaran pengalaman-pengalaman, pengetahuan, dan keterampilan karyawan, ke seluruh bagian organisasi; knowledge sharing merupakan satu set pemahaman bersama yang merujuk pada akses karyawan pada informasi yang relevan serta membangun dan menggunakan jaringan pengetahuan dalam organisasi (hlm. 125). Knowledge sharing memiliki dua dimensi, yaitu knowledge collecting dan knowledge disseminating atau disebut juga sebagai knowledge donating (Van Den Hoof & De Ridder, 2004) dalam Raharso & Tjahjawati (2016, hlm. 103). Dua proses yang berbeda ini merupakan suatu proses yang aktif dimana salah satu pihak terlibat dalam komunikasi yang aktif dengan pihak lain dalam rangka mentransfer pengetahuan atau berkonsultasi dengan pihak lain dalam rangka mengakses intellectual capital pihak lain tersebut. Kasemsap (2014) dalam Raharso & Tjahjawati (2016, hlm. 103) memaparkan pengertian kedua dimensi tersebut, menurutnya Knowledge collecting adalah usaha untuk mempersuasi orang lain untuk membagi apa yang mereka ketahui. Sedangkan knowledge donating merupakan komunikasi yang terjadi ketika seorang individu diharapkan men-transfer intellectual capital mereka”. 5. Konsep Gemar Membaca Gemar dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Online (2016), berarti “suka sekali (akan). Kegemaran berarti “kesukaan, kesenangan, barang apa yang digemari”. Sedangkan membaca yang berasal dari kata “baca” berarti melihat serta memahami isi dari apa yang tertulis (dengan melisankan atau hanya dalam hati). Maka secara bahasa kegemaran membaca dapat diartikan sebagai kesenangan seseorang terhadap kegiatan membaca dan memahami isi dari apa yang tertulis dalam bahan bacaan. Berbeda dengan KBBI, American Library Association (ALA) dalam Setiawan, dkk (2014, hlm. 13) mendefinisikan kegemaran membaca (reading habit) sebagai terbentuknnya keinginan yang kuat untuk membaca sepanjang hidup seseorang. Hal itu berarti bahwa seseorang yang gemar membaca sudah menjadikan kegiatan membaca sebagai sesuatu yang rutin dilakukan setiap waktu. Sedangkan menurut Murniaty (2013, hlm. 5), gemar membaca adalah membaca dengan senang hati. Maka dari itu yang dimaksud dengan gemar atau kegemaran membaca yakni suatu kondisi dan keinginan yang kuat pada diri seseorang untuk melakukan kegiatan membaca sepanjang hidupnya tanpa paksaan dari orang lain.

Method

Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode korelasional, metode ini digunakan oleh peneliti untuk mengetahui peranan variabel X terhadap variabel Y. Dalam penelitian ini peneliti berupaya menggambarkan hasil penelitian dengan objek yang diteliti yaitu program ‘Pecandu Buku Bersila’ di Komunitas Pecandu Buku Bandung. Permasalahan ini diangkat untuk melihat apakah program yang diselenggarakan oleh Komunitas Pecandu Buku Bandung tersebut mempunyai peran dalam menumbuhkan kegemaran membaca generasi muda saat ini. Pada penelitian ini, teknik pengambilan data yang digunakan adalah penyebaran kuesioner tertutup kepada generasi muda yang pernah menjadi peserta program ‘Pecandu Buku Bersila’ sebagai sampel penelitian. Sampel penelitian berjumlah 75 orang berdasarkan perhitungan menggunakan rumus Slovin dan teknik Sampling Incidental. Teknik yang digunakan peneliti untuk menganalisis data yakni teknik korelasional Pearson Product Moment, hal ini didasarkan pada data yang didapatkan berbentuk interval. Selanjutnya dilakukan uji signifikansi dengan uji t, kemudian dilakukan penarikan kesimpulan berdasarkan hasil uji hipotesis, apakah hipotesis diterima atau ditolak.

Result

1. Gambaran Variabel X-Program Pecandu Buku Bersila Program pecandu buku bersila sebagai variabel X dalam penelitian ini terdiri atas dua indikator, yakni Knowledge Collecting dan Knowlege Donating (Van Den Hoof & De Ridder, 2004) dalam Raharso & Tjahjawati (2016, hlm. 103). a. Indikator Knowlege Collecting Indikator knowledge collecting terdiri dari 16 butir pernyataan yang dituangkan dalam kuesioner dan terbagi ke dalam tiga subindikator berikut: a) Teman saya menceritakan pengetahuan yang dia ketahui kepada saya b) Teman saya membagi keterampilan yang dia miliki kepada saya. c) Mempelajari sesuatu hal yang baru dari teman di sekitar kita Berdasarkan hasil persentase skor dapat diketahui bahwa dari 16 butir pernyataan yang diajukan dalam kuesioner, mayoritas responden menjawab respon yang “Tinggi” dengan persentase 82,25%. b. Indikator Knowlege Donating Indikator knowledge donating terdiri dari 14 butir pernyataan yang dituangkan dalam kuesioner dan terbagi ke dalam tiga subindikator berikut: a) Menceritakan apa yang kita ketahui kepada teman di sekitar kita b) Membagi keterampilan yang kita miliki kepada teman di sekitar kita c) Mempelajari sesuatu yang baru bersama teman di sekitar kita. Berdasarkan hasil persentase skor dapat diketahui bahwa dari 14 butir pernyataan yang diajukan dalam kuesioner, mayoritas responden menjawab respon yang “Cukup Tinggi” dengan persentase 71,71%. 2. Gambaran Variabel Y-Kegemaran Membaca Generasi Muda Kegemaran membaca generasi muda sebagai variabel Y dalam penelitian ini menggunakan acuan indikator pembaca kompeten menurut Setiawan, dkk. (2014, hlm. 49). Indikator pembaca kompeten terdiri dari 21 butir pernyataan yang dituangkan dalam kuesioner dan terbagi ke dalam enam sub-indikator berikut: a) Mampu menarik kesimpulan dan membuat prediksi mulai dari apa yang bisa diberikan buku sampai menyelesaikan buku b) Memiliki tujuan dalam membaca c) Bertanya sebelum dan sesudah membaca d) Mulai dengan memahami struktur dan elemen dari cerita e) Memiliki skema f) Secara aktif mendeteksi dan menemukan informasi penting dalam teks yang dibaca. Berdasarkan hasil persentase skor dapat diketahui bahwa dari 21 butir pernyataan yang diajukan dalam kuesioner, mayoritas responden menjawab respon “Tinggi” dengan persentase 82,24%. 3. Uji Hipotesis a. Analisis Korelasi Pengujian hipotesis dalam penelitian ini dilakukan menggunakan teknik korelasi Pearson Product Moment dengan bantuan software SPSS IBM Statistic versi 22. Dari hasil perhitungan analisis korelasi, diperoleh korelasi antar kedua variabel sebesar 0,443. Hasil tersebut kemudian dipresentasikan dengan menggunakan kriteria yang dikemukakan oleh Riduwan (2012, hlm.138). Berdasarkan kriteria tersebut, nilai koefisien korelasi 0,443 termasuk ke dalam ketegori “Cukup Kuat”. b. Uji Signifikansi Uji signifikansi dilakukan untuk mencari makna hubungan antara variabel X dengan variabel Y. Dari hasil perhitungan uji signifikansi, diperoleh data yang menunjukkan signifikan. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa thitung (4,223) > ttabel (1,992). Berdasarkan hal tersebut maka dapat dinyatakan hipotesis kerja (H1) diterima. Artinya, terdapat peran yang cukup kuat dari program Pecandu Buku Bersila dalam menumbuhkan kegemaran membaca generasi muda.

Conclusion

1. Simpulan Umum Program Pecandu Buku Bersila yang diselenggarakan oleh Komunitas Pecandu Buku Bandung memiliki peran yang cukup kuat dalam menumbuhkan kegemaran membaca generasi muda. Hal ini didasarkan pada hasil analisis data yang menggambarkan bahwa program Pecandu Buku Bersila yang dikemas dalam bentuk knowledge sharing memiliki peran dalam menyampaikan kampanye pembudayaan kegemaran membaca generasi muda, yakni menjadi wadah bagi generasi muda untuk saling berbagi keterampilan dan gagasan-gagasan baru serta mengajak teman-teman di sekitarnya untuk melakukan hal yang sama, termasuk menumbuhkan kegemaran membaca. Melalui sharing keterampilan, pengetahuan dan pengalaman dari masing-masing peserta, mereka berhasil menyebarkan virus gemar membaca kepada teman-teman yang berada di sekitar mereka. 2. Simpulan khusus a. Gambaran Program Pecandu Buku Bersila di Komunitas Pecandu Buku Bandung Indikator yang digunakan untuk mengukur variabel ini adalah indikator knowledge sharing yang terdiri dari dua dimensi, yakni Knowledge Donating dan Knowledge Collecting. Berdasarkan pengolahan data responden, maka sub indikator kedua lebih menggambarkan proses knowledge collecting yang terjadi ketika program Pecandu Buku Bersila berlangsung di Komunitas Pecandu Buku. Selanjutnya untuk proses knowledge donating, sub indikator kedua lebih menggambarkan proses yang terjadi ketika program Pecandu Buku Bersila berlangsung di Komunitas Pecandu Buku. b. Gambaran Kegemaran Membaca Generasi Muda Peserta Pecandu Buku Bersila Gambaran kegemaran membaca generasi muda peserta program pecandu Buku Bersila diukur dengan indikator pembaca kompeten yang diterbitkan oleh Perpustakaan Nasional RI. Berdasarkan hasil perhitungan skor, maka sub indikator kelima lebih menggambarkan kondisi kegemaran membaca para peserta program Pecandu Buku Bersila. Selanjutnya setiap butir pernyataan yang direspon dengan skor tinggi oleh responden, menunjukkan bahwa melalui keterlibatan mereka selama mengikuti program Pecandu Buku Bersila mendorong mereka untuk terus berupaya menumbuhkan kembali kegemaran membaca dalam dirinya masing-masing. 3. Rekomendasi a) Bagi Komunitass Pecandu Buku Program Pecandu Buku Bersila akan lebih baik jika bisa berkolaborasi dengan penyelenggaraan GLS (Gerakan Literasi Sekolah) bersama komunitas-komunitas pustakawan sekolah, supaya pembudayaan kegemaran membaca di lingkungan sekolah bisa lebih variatif. Selanjutnya, dalam penyelenggaraan Pecandu Buku Bersila sebaiknya konten acara dibuat lebih komunikatif lagi bagi peserta, supaya peserta bisa mentransfer intellectual capital mereka terhadap sesama peserta ataupun orang lain diluar kegiatan PBB itu sendiri. Selain itu konten acara PBB bisa lebih ditekankan lagi pada upaya motivasi pembudayaan membaca, sharing kegiatan mengulas buku dan sebagainya. b) Bagi Generasi Muda Melalui program Pecandu Buku Bersila dan program lainnya yang sudah berjalan di Komunitas Pecandu Buku, seperti Lapak Serempak dan Ulasan Buku, diharapkan bisa menjadi inspirasi bagi generasi muda lain untuk mau terlibat aktif membangun kegemaran membaca di masyarakat. c) Bagi Peneliti Selanjutnya Penelitian selanjutnya bisa lebih difokuskan kepada hal yang lebih rinci lagi, seperti bentuk evaluasi terhadap program komunitas, evaluasi sistem pembudayaan kegemaran membaca atau hal lainnya yang lebih detail .