Kembali
16
1
2016 Khizanah al-Hikmah : Jurnal Ilmu Perpustakaan, Informasi, dan Kearsipan Vol 4 · 1 ISSN 2549-1334

PEMANFAATAN MEDIA SOSIAL DALAM PELAYANAN REFERENSI 2.0 DI INDONESIA

Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Abstract

Pada era mobile ini telah terjadi perubahan paradigma layanan perpustakaan, dimanaperpustakaan dituntut untuk bisa menyediakan layanan berbasis Web 2.0. Pada kenyataanyalayanan perpustakaan berbasis Web 2.0 masih sering dimanfaatkan hanya sebagai mediainformasidan promosi. Guna optimalisasi pemanfataan Web 2.0 di perpustakan maka salahsatu jalan adalah inovasi layanan. Layanan referensi sebagai bagian yang tidak terpisahkan dariperpustakaan yang berfungsi untuk menjawab pertanyaan yang diajukan pemustaka padadasarnya dapat melakukan inovasi. Dengan bantuan media sosial maka layanan referensiseharusnya dapat dilakukan secara online. Ada berbagai tawaran media sosial yang digunakansekaligus contoh pemanfaatannya. Walaupun dengan berbagai kendala yang dihadapiinidiharapkan konsep Referensi 2.0 mampu berjalan optimal sekaligus mampu membangunkomunikasi efektif antara pustakawan referensi dengan pemustaka
Keywords: Perpustakaan 2.0 · Web 2.0 · Layanan referensi · Media sosial

Introduction

Perpustakaan sebagai sebuah institusi yang berkembang, sesuai dengan prinsip hukum ketiga dari "Five New Laws of Librarianship," yaitu "use technology intelligently to enhance service" (gunakanlah teknologi secara cermat dan cerdas untuk meningkatkan layanan), telah menimbulkan paradigma baru dalam layanan perpustakaan modern. Perubahan model layanan ini menunjukkan bahwa teknologi informasi kini berperan penting dalam memperlancar arus informasi di perpustakaan. Saat ini, pelayanan perpustakaan sangat dimungkinkan dilakukan tanpa tatap muka secara langsung. Perkembangan konsep Library 2.0 telah memungkinkan pustakawan untuk lebih proaktif dalam memberikan layanan. Tuntutan saat ini adalah perpustakaan harus mampu mengembangkan layanan yang cepat dan dinamis. Dalam konteks pelayanan referensi, yang berfungsi sebagai perantara antara kebutuhan informasi pemustaka dan sumber informasi yang dimiliki perpustakaan, telah mengalami perubahan yang signifikan dipengaruhi oleh dinamika web 2.0. Pelayanan referensi saat ini tidak lagi terlalu menekankan lokasi, karena dengan bantuan teknologi informasi, pelayanan jarak jauh menjadi sangat mungkin. Para pemustaka kini dapat memperoleh layanan melalui pesan singkat atau sarana komunikasi lainnya (Widyawan, 2012: 13). Fenomena yang terjadi di perpustakaan Indonesia saat ini adalah penggunaan media sosial sebagai sarana komunikasi dan promosi perpustakaan kepada pemustaka. Namun, seharusnya media sosial tidak hanya digunakan untuk kedua hal tersebut, tetapi juga dapat dimanfaatkan untuk melakukan pelayanan referensi jarak jauh, yang lebih dikenal dengan istilah Reference 2.0. Oleh karena itu, perlu disusun sebuah konsep tentang pemanfaatan media sosial, beserta kegunaannya, guna mendukung terciptanya pelayanan Reference 2.0 di Indonesia. ### Konsep Pemanfaatan Media Sosial untuk Reference 2.0 1. **Platform Media Sosial**: Identifikasi platform media sosial yang paling banyak digunakan oleh pemustaka, seperti Facebook, Twitter, Instagram, dan WhatsApp. Setiap platform memiliki karakteristik dan audiens yang berbeda, sehingga pemilihan platform yang tepat sangat penting. 2. **Layanan Referensi Melalui Media Sosial**: Kembangkan layanan referensi yang memungkinkan pemustaka untuk mengajukan pertanyaan atau permintaan informasi melalui media sosial. Pustakawan dapat memberikan jawaban secara langsung atau mengarahkan pemustaka ke sumber informasi yang relevan. 3. **Promosi Sumber Daya Perpustakaan**: Gunakan media sosial untuk mempromosikan koleksi dan sumber daya perpustakaan, termasuk buku, jurnal, dan database. Buat konten menarik yang dapat menarik perhatian pemustaka dan mendorong mereka untuk menggunakan layanan perpustakaan. 4. **Interaksi dan Keterlibatan**: Dorong interaksi antara pustakawan dan pemustaka melalui media sosial. Buat sesi tanya jawab, diskusi, atau webinar yang dapat meningkatkan keterlibatan pemustaka dan memberikan mereka kesempatan untuk berinteraksi langsung dengan pustakawan. 5. **Pelatihan dan Edukasi**: Gunakan media sosial untuk memberikan pelatihan dan edukasi kepada pemustaka tentang cara menggunakan sumber daya perpustakaan secara efektif. Buat tutorial, infografis, atau video pendek yang dapat diakses dengan mudah. 6. **Umpan Balik dan Evaluasi**: Kumpulkan umpan balik dari pemustaka mengenai layanan yang diberikan melalui media sosial. Evaluasi dan perbaiki layanan berdasarkan masukan yang diterima untuk meningkatkan kualitas pelayanan. Dengan menerapkan konsep ini, perpustakaan di Indonesia dapat memanfaatkan media sosial secara optimal untuk menciptakan layanan Reference 2.0 yang lebih responsif dan relevan dengan kebutuhan pemustaka di era digital saat ini. 7. **Kolaborasi dengan Komunitas**: Jalin kerjasama dengan komunitas lokal atau organisasi lain untuk memperluas jangkauan layanan. Melalui kolaborasi ini, perpustakaan dapat mengadakan acara atau kampanye yang melibatkan pemustaka dan meningkatkan kesadaran akan layanan yang tersedia. 8. **Penggunaan Analitik Media Sosial**: Manfaatkan alat analitik untuk memantau interaksi dan keterlibatan pemustaka di media sosial. Data ini dapat memberikan wawasan tentang preferensi pemustaka dan membantu dalam merancang strategi layanan yang lebih efektif. 9. **Kampanye Kesadaran Informasi**: Luncurkan kampanye yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran pemustaka tentang pentingnya literasi informasi. Edukasi pemustaka mengenai cara mengevaluasi sumber informasi dan menggunakan sumber daya perpustakaan dengan bijak. 10. **Penyediaan Layanan 24/7**: Pertimbangkan untuk menyediakan layanan referensi melalui media sosial yang dapat diakses kapan saja. Dengan adanya chatbot atau sistem otomatis, pemustaka dapat mendapatkan jawaban atas pertanyaan mereka di luar jam kerja perpustakaan. 11. **Penyusunan Kebijakan Penggunaan Media Sosial**: Buat kebijakan yang jelas mengenai penggunaan media sosial dalam konteks layanan perpustakaan. Kebijakan ini harus mencakup etika, privasi, dan tanggung jawab pustakawan dalam berinteraksi dengan pemustaka. 12. **Inovasi dalam Konten**: Kembangkan konten yang inovatif dan menarik, seperti kuis, polling, atau konten visual yang dapat meningkatkan interaksi. Konten yang kreatif dapat menarik perhatian pemustaka dan mendorong mereka untuk lebih aktif berpartisipasi. Dengan langkah-langkah ini, perpustakaan dapat beradaptasi dengan perubahan zaman dan memenuhi kebutuhan pemustaka dengan lebih baik, serta menciptakan lingkungan yang mendukung pembelajaran dan akses informasi yang lebih luas.

Discussion

Konsep Pemanfaatan Media Sosial Sebagai Layanan Referensi 2.0 Secara ketugasan, pustakawan referensi tidak hanya menjawab pertanyaan substantif dari pemustaka, tetapi juga memiliki kewajiban untuk membimbing pemustaka agar dapat memilih dan menggunakan sarana yang tepat untuk menelusur informasi. Seorang pustakawan referensi harus mampu mengarahkan pemustaka ke sumber informasi, membantu mengevaluasi, bahkan merujuk sumber informasi di luar perpustakaan (Widyawan, 2012: 2). Ketugasan ini dapat dilakukan melalui tatap muka maupun tidak. Dalam konsep Referensi 2.0, layanan dapat diberikan tanpa melalui proses tatap muka. Layanan Referensi 2.0 didasari pada fenomena yang muncul dari masyarakat pengguna yang dilayani. Saat ini, masyarakat pengguna menginginkan segala informasi secara cepat, sering disebut sebagai masyarakat generasi mobile. Untuk memenuhi kebutuhan informasi secara cepat tanpa pemustaka harus hadir secara fisik ke perpustakaan, perpustakaan telah melakukan beberapa inovasi layanan. Salah satu inovasi tersebut adalah dengan menggunakan media sosial sebagai sarana yang membantu layanan. #### Alasan Pemilihan Media Sosial Beberapa alasan mengapa perpustakaan memilih media sosial antara lain: - **Penghematan biaya**: Penggunaan media sosial cenderung lebih murah dibandingkan dengan metode tradisional. - **Distribusi informasi yang cepat**: Media sosial memungkinkan penyebaran informasi secara instan. - **Meningkatkan interaksi pengguna**: Media sosial memfasilitasi komunikasi dua arah antara pustakawan dan pemustaka. - **Promosi konten**: Media sosial dapat digunakan untuk mempromosikan koleksi dan layanan perpustakaan. Berdasarkan data statistik yang dirilis dalam www.statista.com, terdapat sepuluh media sosial yang menempati ranking tertinggi. Dari sepuluh media sosial tersebut, hanya ada lima yang aktif digunakan oleh perpustakaan di Indonesia, yaitu Facebook, WhatsApp, Facebook Messenger, Instagram, dan Twitter. Sebelum menentukan konsep layanan yang sesuai, perlu mengenal karakteristik dan fungsi penggunaan dari setiap media sosial. ### Karakteristik Media Sosial 1. **Facebook**: - Membantu pengguna saling terhubung. - Memungkinkan komunikasi melalui pesan pribadi atau umum. - Pengguna dapat membuat dan bergabung dengan grup. 2. **WhatsApp**: - Aplikasi untuk mengirim pesan teks, gambar, video, dan audio. - Memanfaatkan internet untuk komunikasi. 3. **Facebook Messenger**: - Layanan pesan dari Facebook. - Memungkinkan komunikasi melalui teks, suara, dan video. 4. **Instagram**: - Aplikasi berbagi foto dan video. - Memungkinkan pengguna untuk berbagi konten visual dengan media sosial lain. 5. **Twitter**: - Layanan jejaring sosial untuk mengirim dan membaca pesan pendek (tweets). - Pengguna dapat berinteraksi dengan konten secara cepat. ### Tabel Konsep Layanan Referensi 2.0 | Media Sosial | Contoh Pemanfaatan | |----------------------|------------------------------------------------------------------------------------| | **Facebook** | 1. Menyebarkan informasi dan berita tentang layanan referensi perpustakaan | | | 2. Memposting buku baru | | | 3. Berbagi foto dan video petunjuk penelusuran dan evaluasi informasi | | | 4. Mengatur acara dan update event | | | 5. Membangun keterlibatan dengan pengguna | | | 6. Menjawab pertanyaan pengguna melalui kolom komentar | | **WhatsApp** | 1. Menjawab pertanyaan pengguna melalui pesan | | | 2. Melakukan penyebaran kegiatan melalui pesan broadcast | | **Facebook Messenger**| 1. Menjawab pertanyaan pengguna melalui pesan | | | 2. Menjawab pertanyaan pengguna melalui video call | | **Instagram** | 1. Mempromosikan koleksi referensi perpustakaan melalui foto | | | 2. Mempromosikan koleksi referensi perpustakaan melalui video singkat | | | 3. Menjawab pertanyaan pengguna melalui kolom komentar | | **Twitter** | 1. Menyebarkan informasi dan berita tentang perpustakaan melalui tweets | | | 2. Menyediakan layanan customer service | | | 3. Menjalin hubungan interaktif dengan pengguna | | | 4. Menjalin hubungan dengan pustakawan dan institusi lain | Tabel di atas menunjukkan bahwa Facebook merupakan sarana yang paling lengkap untuk mendukung layanan Referensi 2.0 karena secara karakteristik memiliki fasilitas dan kegunaan yang beragam. ### Tantangan Pemanfaatan Media Sosial Sebagai Layanan Referensi 2.0 Seperti halnya penggunaan media sosial secara umum di perpustakaan, ada beberapa tantangan yang bisa menjadi peluang maupun kelemahan perpustakaan dalam pelayanan Referensi 2.0, yaitu: 1. **Kurangnya komitmen dari staf dan pimpinan perpustakaan**. 2. **Penggunaan media sosial memerlukan keahlian teknologi dari staf perpustakaan**. 3. **Tantangan dalam penggunaan bahasa internasional**. 4. **Minat dan kemampuan menggunakan media sosial tidak sama antar sesama staf perpustakaan**. 5. **Keterbatasan dana untuk mendukung penggunaan media sosial secara berkelanjutan**. 6. **Perpustakaan kesulitan untuk melibatkan pengguna agar aktif dalam media sosial**. 7. **Kesulitan untuk membuat konten-konten yang menarik di media sosial perpustakaan**. 8. **Permasalahan hak cipta dalam penggunaan media sosial, seperti koleksi video, foto, dan artikel yang diunggah**. 9. **Permasalahan sarana dan prasarana perpustakaan seperti koneksi internet, infrastruktur teknologi, dan pembatasan akses yang dilakukan pemerintah**. Melihat tantangan tersebut, sangat penting bagi perpustakaan untuk menyediakan sumber daya manusia yang handal yang mampu menggunakan media sosial serta kemampuan teknologi informasi. Selain itu, dukungan dengan sarana dan prasarana yang memadai juga menjadi kunci untuk keberhasilan implementasi layanan Referensi 2.0. ### Strategi Mengatasi Tantangan 1. **Pelatihan dan Pengembangan Staf**: Mengadakan pelatihan rutin untuk staf perpustakaan agar mereka memiliki keterampilan yang diperlukan dalam menggunakan media sosial dan teknologi informasi. 2. **Membangun Komitmen**: Mendorong pimpinan perpustakaan untuk memberikan dukungan dan komitmen terhadap penggunaan media sosial sebagai bagian dari strategi layanan. 3. **Penyusunan Kebijakan**: Membuat kebijakan yang jelas mengenai penggunaan media sosial, termasuk etika dan tanggung jawab dalam berinteraksi dengan pemustaka. 4. **Penggalangan Dana**: Mencari sumber pendanaan tambahan untuk mendukung penggunaan media sosial dan pengembangan infrastruktur teknologi. 5. **Keterlibatan Pengguna**: Mengembangkan program yang mendorong pengguna untuk berpartisipasi aktif dalam media sosial, seperti kontes, kuis, atau acara online. 6. **Kreativitas Konten**: Mengembangkan konten yang menarik dan relevan untuk pemustaka, termasuk video, infografis, dan artikel yang dapat dibagikan di media sosial. 7. **Kolaborasi dengan Pihak Ketiga**: Bekerja sama dengan organisasi lain atau komunitas untuk memperluas jangkauan dan meningkatkan kualitas layanan. Dengan menerapkan strategi-strategi ini, perpustakaan dapat mengatasi tantangan yang ada dan memanfaatkan media sosial secara efektif untuk meningkatkan layanan Referensi 2.0, sehingga dapat memenuhi kebutuhan informasi pemustaka dengan lebih baik. ### Konsep Pemanfaatan Media Sosial Sebagai Layanan Referensi 2.0 Secara ketugasan, pustakawan referensi tidak hanya menjawab pertanyaan substantif dari pemustaka, tetapi juga memiliki kewajiban untuk membimbing pemustaka agar dapat memilih dan menggunakan sarana yang tepat untuk menelusur informasi. Seorang pustakawan referensi harus mampu mengarahkan pemustaka ke sumber informasi, membantu mengevaluasi, bahkan merujuk sumber informasi di luar perpustakaan (Widyawan, 2012: 2). Ketugasan ini dapat dilakukan melalui tatap muka maupun tidak. Dalam konsep Referensi 2.0, layanan dapat diberikan tanpa melalui proses tatap muka. Layanan Referensi 2.0 didasari pada fenomena yang muncul dari masyarakat pengguna yang dilayani. Saat ini, masyarakat pengguna menginginkan segala informasi secara cepat, sering disebut sebagai masyarakat generasi mobile. Untuk memenuhi kebutuhan informasi secara cepat tanpa pemustaka harus hadir secara fisik ke perpustakaan, perpustakaan telah melakukan beberapa inovasi layanan. Salah satu inovasi tersebut adalah dengan menggunakan media sosial sebagai sarana yang membantu layanan. #### Alasan Pemilihan Media Sosial Beberapa alasan mengapa perpustakaan memilih media sosial antara lain: - **Penghematan biaya**: Penggunaan media sosial cenderung lebih murah dibandingkan dengan metode tradisional. - **Distribusi informasi yang cepat**: Media sosial memungkinkan penyebaran informasi secara instan. - **Meningkatkan interaksi pengguna**: Media sosial memfasilitasi komunikasi dua arah antara pustakawan dan pemustaka. - **Promosi konten**: Media sosial dapat digunakan untuk mempromosikan koleksi dan layanan perpustakaan. Berdasarkan data statistik yang dirilis dalam www.statista.com, terdapat sepuluh media sosial yang menempati ranking tertinggi. Dari sepuluh media sosial tersebut, hanya ada lima yang aktif digunakan oleh perpustakaan di Indonesia, yaitu Facebook, WhatsApp, Facebook Messenger, Instagram, dan Twitter. Sebelum menentukan konsep layanan yang sesuai, perlu mengenal karakteristik dan fungsi penggunaan dari setiap media sosial. ### Karakteristik Media Sosial 1. **Facebook**: - Membantu pengguna saling terhubung. - Memungkinkan komunikasi melalui pesan pribadi atau umum. - Pengguna dapat membuat dan bergabung dengan grup. 2. **WhatsApp**: - Aplikasi untuk mengirim pesan teks, gambar, video, dan audio. - Memanfaatkan internet untuk komunikasi. 3. **Facebook Messenger**: - Layanan pesan dari Facebook. - Memungkinkan komunikasi melalui teks, suara, dan video. 4. **Instagram**: - Aplikasi berbagi foto dan video. - Memungkinkan pengguna untuk berbagi konten visual dengan media sosial lain. 5. **Twitter**: - Layanan jejaring sosial untuk mengirim dan membaca pesan pendek (tweets). - Pengguna dapat berinteraksi dengan konten secara cepat. ### Tabel Konsep Layanan Referensi 2.0 | Media Sosial | Contoh Pemanfaatan | |----------------------|------------------------------------------------------------------------------------| | **Facebook** | 1. Menyebarkan informasi dan berita tentang layanan referensi perpustakaan | | | 2. Memposting buku baru | | | 3. Berbagi foto dan video petunjuk penelusuran dan evaluasi informasi | | | 4. Mengatur acara dan update event | | | 5. Membangun keterlibatan dengan pengguna | | | 6. Menjawab pertanyaan pengguna melalui kolom komentar | | **WhatsApp** | 1. Menjawab pertanyaan pengguna melalui pesan | | | 2. Melakukan penyebaran kegiatan melalui pesan broadcast | | **Facebook Messenger**| 1. Menjawab pertanyaan pengguna melalui pesan | | | 2. Menjawab pertanyaan pengguna melalui video call | | **Instagram** | 1. Mempromosikan koleksi referensi perpustakaan melalui foto | | | 2. Mempromosikan koleksi referensi perpustakaan melalui video singkat | | | 3. Menjawab pertanyaan pengguna melalui kolom komentar | | **Twitter** | 1. Menyebarkan informasi dan berita tentang perpustakaan melalui tweets | | | 2. Menyediakan layanan customer service | | | 3. Menjalin hubungan interaktif dengan pengguna | | | 4. Menjalin hubungan dengan pustakawan dan institusi lain | Tabel di atas menunjukkan bahwa Facebook merupakan sarana yang paling lengkap untuk mendukung layanan Referensi 2.0 karena secara karakteristik memiliki fasilitas dan kegunaan yang ber agam. ### Tantangan Pemanfaatan Media Sosial Sebagai Layanan Referensi 2.0 Seperti halnya penggunaan media sosial secara umum di perpustakaan, ada beberapa tantangan yang bisa menjadi peluang maupun kelemahan perpustakaan dalam pelayanan Referensi 2.0, yaitu: 1. **Kurangnya komitmen dari staf dan pimpinan perpustakaan**. 2. **Penggunaan media sosial memerlukan keahlian teknologi dari staf perpustakaan**. 3. **Tantangan dalam penggunaan bahasa internasional**. 4. **Minat dan kemampuan menggunakan media sosial tidak sama antar sesama staf perpustakaan**. 5. **Keterbatasan dana untuk mendukung penggunaan media sosial secara berkelanjutan**. 6. **Perpustakaan kesulitan untuk melibatkan pengguna agar aktif dalam media sosial**. 7. **Kesulitan untuk membuat konten-konten yang menarik di media sosial perpustakaan**. 8. **Permasalahan hak cipta dalam penggunaan media sosial, seperti koleksi video, foto, dan artikel yang diunggah**. 9. **Permasalahan sarana dan prasarana perpustakaan seperti koneksi internet, infrastruktur teknologi, dan pembatasan akses yang dilakukan pemerintah**. Melihat tantangan tersebut, sangat penting bagi perpustakaan untuk menyediakan sumber daya manusia yang handal yang mampu menggunakan media sosial serta kemampuan teknologi informasi. Selain itu, dukungan dengan sarana dan prasarana yang memadai juga menjadi kunci untuk keberhasilan implementasi layanan Referensi 2.0. ### Strategi Mengatasi Tantangan 1. **Pelatihan dan Pengembangan Staf**: Mengadakan pelatihan rutin untuk staf perpustakaan agar mereka memiliki keterampilan yang diperlukan dalam menggunakan media sosial dan teknologi informasi. 2. **Membangun Komitmen**: Mendorong pimpinan perpustakaan untuk memberikan dukungan dan komitmen terhadap penggunaan media sosial sebagai bagian dari strategi layanan. 3. **Penyusunan Kebijakan**: Membuat kebijakan yang jelas mengenai penggunaan media sosial, termasuk etika dan tanggung jawab dalam berinteraksi dengan pemustaka. 4. **Penggalangan Dana**: Mencari sumber pendanaan tambahan untuk mendukung penggunaan media sosial dan pengembangan infrastruktur teknologi. 5. **Keterlibatan Pengguna**: Mengembangkan program yang mendorong pengguna untuk berpartisipasi aktif dalam media sosial, seperti kontes, kuis, atau acara online. 6. **Kreativitas Konten**: Mengembangkan konten yang menarik dan relevan untuk pemustaka, termasuk video, infografis, dan artikel yang dapat dibagikan di media sosial. 7. **Kolaborasi dengan Pihak Ketiga**: Bekerja sama dengan organisasi lain atau komunitas untuk memperluas jangkauan dan meningkatkan kualitas layanan. Dengan menerapkan strategi-strategi ini, perpustakaan dapat mengatasi tantangan yang ada dan memanfaatkan media sosial secara efektif untuk meningkatkan layanan Referensi 2.0, sehingga dapat memenuhi kebutuhan informasi pemustaka dengan lebih baik.

Conclusion

Konsep pemanfaatan media sosial dalam pelayanan referensi 2.0 di Indonesia dapat dilakukan dengan mengandalkan lima media sosial yaitu Facebook, WhatsApp, Facebook Messenger, Instagram, dan Twitter. Dari kelima media sosial tersebut facebook mempunyai fitur yang paling lengkap untuk mendukung layanan referensi 2.0. Fungsi utama dari konsep ini adalah mempromosikan kegiatan serta koleksi referensi melalui media sosial yang ada. sekaligus menjawab pertanyaan yang muncul melalui media sosial guna diarahkan menuju informasi dalam perpustakaan atau diluar perpustakaan.