TINGKAT KEMAMPUAN LITERASI DIGITAL DI KALANGAN DIFABEL
Universitas Muhammadiyah Ponorogo; Universitas Muhammadiyah Ponorogo; Universitas Muhammadiyah Ponorogo; Universitas Muhammadiyah Ponorogo
Abstract
T he focus of this research is to determine the digital literacy ability of the blind disabled. Every citizen has the right to equality, easy access to information. This equality of rights is often constrained by the fact that the ease of access to information is not simply enjoyed by all people, as people with disabilities, especially those with disabilities, need special efforts and separate ways to improve their digital capabilities. Limitations do not prevent people with disabilities from enjoying and being able to access internet freely. Many digital literacy programs for the blind have been initiated by institutions, one of which is SLB-A Aisyiah, Ponorogo Regency. The purpose of this research is to determine the level of digital literacy ability of Aisyiah SLB-A students. The method used is descriptive quantitative with sampling using non-probability sampling, namely “a sampling technique that provides equal opportunities for each element (member) of the population. The population of this study was Aisyiah’s SLB-A students as many as 34 students at the junior high school level (SMP) and the senior high school level (SMA). The population is at the same time a sample or saturated sample. Analysis of the research data using statistics with the presentation of data through the formula mean and grand mean. “The mean is used to calculate the average value of the vari ables while the grand mean is used to calculate the total average. The main study is the assessment of digital literacy skills according to KOMINFO RI. The results showed that the digital literacy level of SLB-A students reached an average of 3.2 in the me dium category. The first includes basic knowledge of conversational applications and social media which are categorized as high with an average result of 3.4. Second, is basic knowledge about information search engines, how to use and select data, the average is 3.25 in the medium category, the third position is basic knowledge about the digital landscape – internet and cyberspace, reaching 3.16 in the medium category, the average position is 3.16. the lowest average is basic knowledge about digital wallet applications, market stores, and digital transactions reaching 2.99 with less category
Keywords:
Digital Literacy
· Blind Diffables
· Disability
· SLB-A
Introduction
Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) menjadi gelombang besar di seluruh dunia. Hal ini memudahkan setiap individu membuat informasi, mengemas ulang, atau menyebarkan secara masif dengan menggoyangkan jari. Informasi yang tersebar dapat berupa informasi yang akurat atau informasi yang buruk, propaganda, atau sindiran, yang semuanya dibuat untuk secara sengaja menipu pembaca sehingga mampu memengaruhi cara berpikir, berperilaku, dan lainnya terhadap masyarakat1 Berdasarkan survey APJII tahun 2023, tingkat penetrasi internet di Indonesia telah mencapai 78,19 persen, yaitu mencakup 215.626.156 jiwa dari total populasi sebanyak 275.773.901 jiwa. Pada posisi tahun 2022 sebanyak 210.026.769 jiwa dari total populasi 272.682.600 jiwa, sedangkan ditahun 2019-2020 menjadi 196,71 pengguna internet dengan berbagai alasan pengunaan2. Sebagaimana hasil survey tersebut tergambar bahwa tingkat penetrasi berdasarkan alasan penggunaan internet3 sebaimana berikut: Gambar 1. Diagram alasan penggunaan Internet Fenomena ini relatif menggembirakan apabila dapat digunakan dengan bijak, bertangungjawab dan kemampuan literasi digital masyarakat tinggi, karena berpengaruh terhadap kecakapan dalam mendapatkan informasi dengan sangat mudah dan cepat. Artinya masyarakat dapat dengan mudah menjadi produsen informasi atau produsen content dengan bebas sekaligus konsumennya. Begitu juga sebaliknya dengan beragam informasi, cybercrime, cyberbullying, hoaxs menjadi ancaman bagi pengguna internet yang kurang memahami literasi digital. Kecerdasan, kemampuan dan sikap tangungjawab terhadap informasi yang beredar di internet harus dimaknai sebagai kemampuan literasi sehingga menghasilkan masyarakat cerdas di era digital. Kesetaraan dalam mendapatkan informasi sering mengalami kendala dengan adanya keberagaman pengguna, akses teknologi, dan keterbatasan penglihatan bagi difalilitas. Sebagaimana Molnar menyatakan bahwa Ada tiga jenis kesetaraan digital, yaitu: pertama, kesetaraan akses atau kesenjangan digital tahap awal (early stage digital equality), yang berarti hak untuk mengakses teknologi digital. Kedua, kesenjangan digital primer (primary digital gap), yang mengacu pada penggunaan teknologi digital di masyarakat yang sudah memiliki akses terhadap teknologi informasi dan komunikasi. Ketiga, quality of use atau kesetaraan digital lapis kedua, yang menekankan pada kualitas penggunaan teknologi digital oleh penyandang disabilitas dalam kehidupan sehari-hari 4 Realita ini menjadi bertolak belakang apabila bagian dari masyarakat tidak mendapatkan kesenjangan dalam memperoleh informasi. Keluasan dan kemudahan dalam akses informasi tidak begitu saja mudah dinikmati oleh semua kalangan dan memperoleh informasi sebagaimana para difabel Netra, perlu upaya khusus dan cara tersendiri dalam peningkatan kemampuan digitalnya5. Sebagaimana UU No. 8 Tahun 2016 pasal 5 disebutkan bahwa “penyandang disabilitas memiliki hak salah satunya berekspresi, berkomunikasi dan mendapatkan informasi”6 Survey penduduk antar sensus (SUSEN) tahun 2022 oleh Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan 8,392,169 orang di Indonesia yang berusia di atas 5 tahun mengalami hambatan penglihatan dengan berbagai kategori yaitu tidak dapat melihat sama sekali, banyak kesulitan melihat, dan sedikit kesulitan melihat7. Sebagaimana hasil survey RISKEDAS (Riset Kesehatan Dasar) 2018 menyebutkan bahwa berdasarkan survey disabilitas anak usia 5 – 17 tahun diadaptasi dari Module UN Washington Group yang tercantum dalam Multiple Indicator Cluster Surveys (MICS) yang dikembangkan oleh United Nations Emergency Children’s Fund (UNICEF) mengkategorikan dengan kondisi hambatan sedang, berat dan sangat berat8. Hal ini menjadi perhatian baik unsur pemerintah maupun swasta untuk memberikan perhatian dan edukasi kepada para difabel terutama difabel Netra. Hambatan didalam penglihatan ini menjadikan para difabel Netra perlu upaya untuk edukasi supaya melek digital. Keterbatasan tidak menjadi penghalang para difabel Netra menikmati dan mampu mengakses internet dengan bebas dengan beberapa fitur didalam gadget yang ramah difabel netra. Kemajuan teknologi tersebut hendaknya diimbangi dengan edukasi penggunaan, pencarian, dan bahkan pengambilan informasi yang didapat dengan konsep saring dan sharing. Untuk itu, sangat diharapkan adanya literasi digital yang mampu meningkatkan kemampuan literasi digital di kalangan tersebut. Program literasi digital untuk difabel netra telah banyak diinisiasi oleh berbagai lembaga, termasuk lembaga pendidikan. Implementasinya mencakup pengembangan perpustakaan digital ramah difabel netra sebagai fasilitas pendukung pembelajaran dan pusat belajar siswa. Lembaga Pendidikan yang telah mengembangkan literasi digital untuk siswa dengan kebutuhan khusus pada Netra adalah sekolah luar biasa (SLB-A) Aisyiah Kabupaten Ponorogo. Sekolah ini memiliki fasilitas pendukung untuk program literasi digital, termasuk perpustakaan dengan beragam koleksi cetak dan digital. Perpustakaan ini menyediakan koleksi buku, majalah, atlas, dan Al-Quran dalam bentuk braille dan talking book dalam bentuk Compact Disk (CD) yang berisi cerita ataupun dongeng, dan notebook dalam bentuk monitor. Sedangkan para siswa difabel sering mengikuti berbagai event bergengsi dan meraih prestasi dalam kompetisi literasi. Program tersebut sangat menarik bagi peneliti untuk mengetahui tingkat kemampuan literasi digital pada kalangan difabel. Penelitian ini dilakukan pada siswa SLB-A Aisyiyah Ponorogo yang telah memiliki program literasi di sekolah tersebut. Apakah siswa SLB-A telah cakap digital? Untuk itu, perlu dilakukan penelitian terhadap kemampuan literasi digital dengan mengetahui indeks literasi digital mereka. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kemampuan siswa SLB-A Aisyiyah Ponorogo. Harapannya, hasil penelitian ini dapat memotret indeks literasi siswa sehingga mampu menjadi rekomendasi bagi lembaga sekolah untuk meningkatkan berbagai inovasi dalam pembelajaran, membantu evaluasi program eksisting dan mengidentifikasi kebutuhan siswa, meningktakan kualitas pembelajaran dan pemberdayaan siswa dalam berbagai aspek kehidupan. Dukungan kebijakan pendidikan inklusif juga akan didukung oleh data yang diperoleh dari pengukuran indeks literasi digital siswa.
Method
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah diskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Penelitian diskriptif (descriptive research), yang biasa disebut juga penelitian taksonomik (taxonomic research), yaitu “penelitian yang dimaksudkan untuk eksplorasi dan klarifikasi mengenai sesuatu fenomena atau kenyataan sosial, dengan jalan mendeskripsikan sejumlah variabel yang berkenaan dengan masalah dan unit yang diteliti”17 Penelitian diskriptif digunakan untuk mengetahui suatu variable mandiri, baik satu variable atau lebih (independen) tanpa membuat perbandingan, dan atau menghubungkan dengan variabel yang lain18. Penelitian diskriptif lebih pada “usaha untuk mendiskripsikan suatu gejala kejadian yang terjadi pada saat sekarang19. Sedangkan pendekatan kuantitatif merupakan pendekatan yang menggunakan angka, mulai dari pengumpulan data, penafsiran terhadap data serta penampilan dari hasilnya20 Teknik pengambilan sampel menggunakan non-probality sampling yaitu “teknik sampling yang memberikan peluang yang sama bagi setiap unsur (anggota) populasi untuk dipilih menjadi anggota sampel dan Teknik sampel menggunakan sample jenuh. karena pupulasi relative kecil dan populasi sebagai sample21. Populasi penelitian ini siswa SLB- A Aisyiah sebanyak 39 siswa, tingkat SLTP dan SLTA. Populasi tersebut sekaligus menjadi sample atau sample jenuh. Analisa data penelitian ini menggunakan statistik dengan penyajian data melalui rumus mean dan grand mean. “Mean digunakan untuk menghitung nilai rata-rata dari variable sedangkan grand mean digunakan untuk menghitung rata-rata total. Teknik ini dilakukan dengan proses tabulasi data ke dalam tabel kemudian dihitung presentasenya, dengan rumus: 𝐺 𝐺𝐺𝐺𝐺𝐺𝐺𝐺𝐺𝐺 𝑀𝑀𝑀𝑀 (𝑋𝑋) = 𝑇𝑇𝑇𝑇𝑇𝑇𝐺𝐺𝑇𝑇 𝑅𝑅𝐺𝐺𝑇𝑇𝐺𝐺 −𝐺𝐺𝐺𝐺𝑇𝑇𝐺𝐺 ℎ𝑖𝑖𝑇𝑇𝑖𝑖𝐺𝐺𝑖𝑖 � � 𝐽𝑖𝑖𝐽𝐽𝑇𝑇𝐺𝐺ℎ 𝑃𝑃𝑀𝑀𝐺𝐺𝑇𝑇𝐺𝐺𝐺𝐺𝑃𝑃𝐺𝐺𝐺𝐺𝐺𝐺 Selanjutnya dianalisis dan diinterpretasikan ke dalam kalimat sebagai penjelas22. Hasil rata-rata perhitungan jawaban responden dilakukan dengan perhitungan menggunakan rumus grand mean untuk mengetahui rata-rata secara keseluruhan dari masing-masing butir pertanyaan. Jawaban dari responden diberikan penilaian menggunakan interpretasi skor dengan menggunakan rumus23: 𝐽 𝐽 𝐽 𝐽 𝑖𝑖𝐺𝐺𝑇𝑇𝑀𝑀𝐺𝐺𝑖𝑖𝐺𝐺𝑇𝑇 (𝑖𝑖) =𝑠𝑠𝐽𝐽𝑇𝑇𝐺𝐺 𝑇𝑇𝑀𝑀𝐺𝐺𝑇𝑇𝑖𝑖𝐺𝐺𝑖𝑖𝑖𝑖𝑖𝑖 −𝑠𝑠𝐽𝐽𝑇𝑇𝐺𝐺 𝑇𝑇𝑀𝑀𝐺𝐺𝑀𝑀𝐺𝐺𝐺𝐺𝐺𝐺ℎ ∑𝐽𝐽𝑀𝑀𝑇𝑇𝐺𝐺𝑠𝑠 𝑖𝑖𝐺𝐺𝑇𝑇𝑀𝑀𝐺𝐺𝑖𝑖𝐺𝐺𝑇𝑇 =5−1 5 =0,8 Tabel 3. Interpretasi Skor Skor Jawaban 1,00 – 1,80 1,81 – 2,60 Kategori Sangat Rendah Rendah 2,61 – 3,40 Sedang 3,41 – 4,20 4,21 – 5,00 Tinggi Sangat Tinggi
Result
Literasi digital merupakan kemampuan tentang pengetahuan dasar mengenai lanskap digital – internet dan dunia maya, pengetahuan dasar mengenai mesin pencarian informasi, cara penggunaan dan pemilihan data Pengetahuan dasar mengenai aplikasi percakapan dan media sosial dan Pengetahuan dasar mengenai aplikasi percakapan dan media sosial. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh hasil rekapitulasi tingkat kemampuan literasi digital siswa SLB-A Aisyiah Kabupaten Ponorogo sebagaimana berikut: Tabel 4. Rekapitulasi Literasi Digital Siswa SLB-A Aisyiah NO INDIKATOR TANGGAPAN RESPONDEN Skala Likert Mean 1 Pengetahuan dasar mengenai lanskap digital – internet dan dunia maya 2 Pengetahuan dasar mengenai mesin pencarian informasi, cara penggunaan dan pemilihan data 3 Pengetahuan dasar mengenai aplikasi percakapan dan media sosial 4 Pengetahuan dasar mengenai aplikasi dompet digital, lokapasar, dan transaksi digital 322,5 3,16 332 3,25 350 3,41 181,37 2,99 Jumlah rata-rata 1185,87 3,2025 Sumber Data diolah peneliti Table 4 tersaji diatas merupakan hasil dari setiap ndikator yang telah diteliti. Pada indikator pengetahuan dasar mengenai aplikasi percakapan dan media sosial yang dikategorikan tinggi dengan hasil rata-rata 3,4. Kedua adalah Pengetahuan dasar mengenai mesin pencarian informasi, cara penggunaan dan pemilihan data rata-rata mencapai 3,25 dengan kategori sedang, posisi ketiga adalah Pengetahuan dasar mengenai lanskap digital – internet dan dunia maya mencapai 3,16 dengan kategori sedang, posisi rata rata terendah adalah pengetahuan dasar mengenai aplikasi dompet digital, lokapasar, dan transaksi digital mencapai 2,99 dengan kategori kurang. Hasil analisa Literasi Digital siswa SLB-A Aisyiah Ponorogo dengan Indikator literasi digital Kominfo RI diperoleh hasil hasil 3,2 dengan kategori Sedang. Hasil perhitungan Analisa tersebut diatas dapat digambarkan kedalam bentuk grafik sebagaimana berikut: Gambar 2. Grafik rekapitulasi analisis literasi Digital (Sumber: Data diolah) 3.16 3.25 3.41 2.99 2.7 2.8 2.9 3 3.1 3.2 3.3 3.4 3.5 Pengetahuan dasar mengenai lanskap digital –internet dan dunia maya Pengetahuan dasar mengenai mesin pencarian informasi, cara penggunaan dan pemilihan data Pengetahuan dasar mengenai aplikasi percakapan dan media sosial Pengetahuan dasar mengenai aplikasi dompet digital, lokapasar, dan transaksi digital Grafik Hasil Analisis Literasi Digital Siswa SLB-A Aisyiah Gambar 2. Grafik rekapitulasi analisis literasi Digital (Sumber: Data diolah) Grafik tersebut diatas dapat digambarkan bahwa pengetahuan dasar mengenai aplikasi percakapab dan media social memiliki rata-rata tertinggi dengan capaian nlai 3,43 dengan kategori Tinggi dan pada pengetahuan dasar tentang aplikasi dompet dgital, loka pasar dan transfer digital pada posisi 2,99 dengan kategori rendah. Seangkan pada posisi kategori sedang pada pengetahuan dasar mengenai mesin pencari informasi, cara enggunaan dan pemilihan data dengan nilai 3,25. Sedangkan nilai 3,16 pada pengetahuan dasar mengenai lanskap digital dan dunia maya dengan perolehan. Hasil penelitian literasi digital siswa SLB-A Aisyiah secara keseluruh an berada di kategori Sedang dengan nilai 3,2. Beberapa kondisi yang menggambarkan hasil dari sub-indikator hasil dari tangapan responden teruraikan secara jelas. Untuk itu hasil tersebut akan dilakukan penmbahasan secara jelas. 4.1. Tingkat Pengetahuan dasar responden terhadap subindikator literasi Digital Pengetahuan responden tentang literasi digital dapat dilihat dari respon responden terhadap pertanyaan yang diajukan. Sebagaimana terlihat pada grafik berikut: Gambar 3. Grafik rekapitulasi analisis literasi Digital SLB-A berdasarkan sub-indikator (Sumber: Data diolah) Pada grafik diatas dapat dijelaskan berdasarkan tanggapan tertinggi dapat dilihat pertama bahwa pengetahuan responden terhadap cara mengakses dan memilah data dimesin pencari mencapai nilai 3,55 dengan kategori tinggi. Urutan kedua adalah pengetahuan responden tentang jenis perangkat dan fitur proteksi yang mencapai 3,51 deengan kategori tinggi. Urutan ketiga yaitu responden mengetahui jenis-jenis aplikasi percakapan dan media sosial mencapai nilai 3,47 dengan kategori tinggi. Hal ini menggambarkan bahwa responden sudah terbiasa dengan aplikasi percakapan dan media sosial. Berikutnya adalah tiga nilai yang sama yaitu 3,35 terdapat pada tingkat pemahaman responden terhadap cara penggunakan medsos dan aplikasi percakapan, ragam fitur didalamnya serta pengetahuan tentang dompet digital, lokapasar dan transaksi elektronik dengan kategori sedang. Pengetahuan tentang lokapasar, transaksi digital dan dompet digital tidak membuat para responden untuk serta-merta mengimplementasikannya dengan melakukan transaksi digital. Responden rendah dalam melakukannya, hal ini ditunjukkan nperolehan penelitian dengan nila mencapai 2,99 yang berarti kategori rendah
Conclusion
Berdasarkan hasil rekapitulasi data tentang tingkat literasi siswa SLB-A Aisyiah Ponorogo dengan indikator literasi digital Kominfo RI diperoleh hasil 3,2 dengan kategori Sedang. Literasi digital siswa SLB-A Aisyiah Ponorogo adalah pertama, terdapat pada indikator pengetahuan dasar mengenai aplikasi percakapan dan media sosial yang dikategorikan tinggi dengan hasil rata-rata 3,4. Kedua adalah Pengetahuan dasar mengenai mesin pencarian informasi, cara penggunaan dan pemilihan data rata-rata mencapai 3,25 dengan kategori sedang, posisi ketiga adalah Pengetahuan dasar mengenai lanskap digital – internet dan dunia maya mencapai 3,16 dengan kategori sedang, posisi rata-rata terendah adalah pengetahuan dasar mengenai aplikasi dompet digital, lokapasar, dan transaksi digital mencapai 2,99 dengan kategori kurang. Hasil tersebut merupakan gambaran berdasarkan penelitian dan sebagai rekomendasi untuk meningkatkan kemampian digital siswa SLB-A Aisyiah pada indicator yang belum tercapai.