Kualitas Layanan Sirkulasi Berdasarkan Keterampilan Pustakawan di Perpustakaan Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta
Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta
Abstrak
This study aims to determine the quality of service based on the skills of the librarian in the University library Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta. This research uses descriptive qualitative research methods, techniques collecting data using interviews, direct observation and documentation. The results of this study are characteristics librarian skills that should be poured in the service are as follows: (1) with services provided in accordance with the requirements (2) Oriented to the user. (3) Ongoing rapid time and on target. (4) Walking is easy and simple. (5) Cheap and economical. (6) Attractive, fun, and creates a feeling of sympathy. (7) varied. (8) Suave. (9) Char acteristically innovative and direct. (10) able to compete in the field of the other. (11) Ability to foster a sense of trust for users, to be independent and to develop new things if those characteristics as a whole are met then the quality of service is categorized as “very good” and if only some characters met then categorized as “good” and if only a little bit of character above are met then it will be categorized as “fair”. In conclusion The quality of service based on the skills of librarians in the library UST can be categorized as “good” because it meets most of the overall criteria such as: attractive, Participate in every workshop and seminar on libraries and librarianship, Endeavor mastering technological, oriented to the user and Courtesy and decisively against violations.
Keywords:
Quality of Service
· Skills Librarian
· Circulation Services
Introduction
Paradigma baru, perpustakaan adalah sesuatu yang hidup, dinamis, segar menawarkan hal-hal yang baru, produk layanannya inovatif dan dikemas sedemikian rupa, sehingga apa pun yang di tawarkan oleh perpustakaan akan menjadi interaktif, edukatif dan rekreatif bagi pengunjungnya. perpustakaan harus mampu menjawab setiap persoalan informasi yang dibutuhkan oleh setiap pemustakanya, oleh karena itu kelengkapan koleksi ditunjang dengan pustakwan yang terampil dan keratif akan menjadi faktor penting dalam membantu pemustaka mencari informasi yang di butuhkan. Peru bahan paradigma pekerja informasi menuntut perubahan dalam melayani pemustaka. pemustaka perpustakaan sangat bervariasi. Menuntut pegawainya untuk berpenampilan rapi, ramah, sehingga dapat memberikan layanan yang menyenangkan kepada pengguna perpustakaan. gedung atau ruanganya ditata dengan apik, sejuk dan nyaman mengikuti perkembangan zaman.1 Untuk mendukung terciptanya layanan yang prima dan sesuai de ngan tuntutan paradigma baru, maka penerapan manajemen modern dalam pe ngelolahan perpustakaan menjadi suatu kebutuhan. tantangan demi tan tangan juga dihadapi oleh perpustakaan Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa tetapi usaha juga telah dilakukan salah satunya dalam pemenu han kebutuhan informasi dan layanan diperpustakaan, untuk mendapatkan nilai akreditasi yang saat ini sudah mendapat nilai akreditasi “A” walaupun jika ditinjau secara keseluruhan perpustakaan ini belum bisa mengimbangi perkembangan teknologi yang semakin modern, karena dalam melakukan layanan sirkulasi masih dilakukan secara manual berbeda dengan per pustaka an perguruan tinggi lainnya, namun selain itu yang dibutuhkan dalam hal ini adalah SDM atau pustakawan yang memiliki daya tarik baik dari pe nampilan, pengetahuan dan mampu menjalin komunikasi yang baik terhadap pemustakanya. Berdasarkan uraian tersebut maka, yang menjadi fokus adalah ba gai mana kualitas layanana berdasarkan kemampuan yang dimiliki pusta kawan, dan bagaimana respons pustakawan dalam memberikan layan an pada pemustaka diperpustakaan sebagai pusat informasi. Dalam halini pustakawan dituntut untuk mampu beradaptasi dengan berbagai permasalahan yang terjadi. Penjelasan tersebut memperjelas bahwa pusta ka wan harus pandai-pandai menangkap peluang sekitar perkembangan tekno logi informasi, harus selalu melihat perekembangan perpustakaan, harus mampu mengamati perkembangan-perkembangan termasuk melihat perkembangan lingkungan local dan nasional. Kemudian pustakawan jangan terkekang dengan lingkungan perpustakaan saja harus mampu berkoneksi dan berjaring dengan profesi-profesi lainnya yang mampu bekerjasama seperti membangun jaringan komunitas dan bahkan melakukan event-event yang bisa menarik perhatian pemustaka. Karena itu Pustakawan jangan takut dengan hal-hal baru dan pustakawan harus mencari solusinya dari kekurangan yang terjadi diperpustakaan. Karena itu penulis tertarik untuk me ngangkat judul tentang “Kualitas Layanan sirkulasi berdasarkan ke terampilan pustakawan di Perpustakaan Universitas Sarjanawiyata Taman siswa
Method
Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif (Qualitatif Descriptive). Penelitian kualitiatif adalah penelitian yang ber maksud untuk menggambarkan dan memahami fenomena tentang apa yang terjadi.4 Peneliti menggunakan metode penelitian ini karena ingin meng ungkap fakta yang terjadi di lapangan. Penelitian ini dilakukan di Perpustakaan Universitas Sarjanawiyata Taman siswa Yogyakarta pada bulan desember 2016, sedangkan objek penelitian ini adalah pegawai yang terlibat dalam bidang layanan sirkulasi perpustakaan. Teknik pengambilan data menggunakan wawancara, observasi langsung dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan menelaah seluruh data yang tersedia dari berbagai sumber, mereduksi data dan mem buat rangkuman inti, proses, dan pernyataan-pernyataan, menyusun dalam satuan-satuan kemudian dikategorikan sesuai jenis dan kebutuhan, me meriksa keabsahan data, menafsirkan data, menuliskan hasil analisis kedalam laporan.5 Keabsahan data dalam penelitian ini dilakukan dengan cara membandingkan data hasil wawancara, observasi dan dokumen dan meng kroscek ulang data-data yang diperoleh
Discussion
Kualitas layanan berdasarkan keterampilan pustakawan diperpustakaan Uni versitas Sarjanawiyata Tamansiswa Seperti sudah dikatakan sebelumnya bahwa Pustakawan dituntut me mikirkan dan bertindak dengan berbagai cara untuk dapat memikirkan berbagai alternatif tindakan yang dapat dilakukan untuk menghadapi tantangan, untuk itulah pustakawan membutuhkan kreativitas/keterampilan. Memandang suatu persoalan merupakan kunci awal pustakawan memiliki kreativitas.18Dan bentuk nyata dari karekteristik keterampilan/kreativitas pustakawan yang harusnya dituangkan dalam layanan adalah sebagai berikut: a. Layananan yang diberikan sesuai dengan kebutuhan b. Berorientasi kepada pemakai. c. Berlangsung cepat waktu dan tepat sasaran. d. Berjalan mudah dan sederhana. e. f. g. Murah dan ekonomis. Menarik, menyenangkan, dan menimbulkan rasa simpati. Bervariatif. h. Ramah tamah. i. Bersifat inovatif, membimbing, dan mengarahkan, tetapi tidak besifat menggurui. j. Mampu berkompetisi dengan layanan dibidang yang lain. k. Mampu menumbuhkan rasa percaya bagi pemakaian, bersifat mandiri serta mengembangkan hal-hal baru Jika karakteristik tersebut secara keseluruhan terpenuhi maka kualitas laya nan dikategorikan “sangat baik” dan jika hanya sebagian karakter yang terpenuhi maka dikategorikan “baik” dan jika hanya sedikit dari karak ter diatas yang terpenuhi maka akan dikategorikan “cukup”. Namun sayangnya, tidak semua dari keterampilan pustakawan diatas tersebut dapat diwujudkan oleh pustakawan di Perpustakaan Universitas Sarjanawiyata Taman siswa. Karena hanya beberapa saja yang dapat dilakukan oleh para pustakawan. padahal apa yang bisa dilakukan seorang Pustakawan akan sangat mempengaruhi bagaimana proses pelayanan di perpustakaan itu berlangsung. Adapun ketrampilan yang dimiliki oleh Pustakawan di bagian pelayanan terhadap pemustaka dapat dilihat dari hal-hal sebagai berikut: a. Berpenampilan Menarik Penampilan yang rapi, bersih, harum, murah senyum, dan melayani dengan sepenuh hati merupakan cerminan performen seorang pusta kawan yang ideal. Dalam hal ini, kreativitas yang dilakukan oleh pusta kawan adalah dengan bersepakat untuk memakai baju batik seragam untuk hari kamis, dan hari jum’at. Dan juga tidak membenarkan setiap pusta kawan memakai sandal pada saat jam kerja terkecuali waktu isti rahat. Seperti apa yang disampaikan oleh seorang Staff Sekretariat per pustakaan kepada penulis bahwa: “Untuk menjaga penampilan setiap tenaga perpustakaan di sini agar selalu enak dipandang mata, kita memakai baju batik pada hari kamis dan hari jum’at. Dan kita melarang setiap pustakawan memakai sandal pada saat pelayanan atau kerja agar kita selalu terlihat rapi dan bersih, sehingga pemustaka tidak merasa risih dengan kita.”19 Keseragaman penampilan ini dilakukan oleh setiap pustakawan di per pustaka an UST agar selalu terlihat kompak dan sedap dipandang mata dan diharapkan setiap pemustaka yang datang akan nyaman dan tidak ter ganggu dengan penampilan setiap Pustakawan, walaupun pada kenya taan nya masih ada pustakawan yang belum sepenuhnya melakukan hal tersebut. b. Ikut serta dalam pelatihan dan seminar di bidang perpustakaan Keterampilan sangat diperlukan dalam pengembangan profesi. Ke teram pialn juga harus didukung dengan kualitas pribadi yang ditandai dengan penguasaan kompetensi, konsistensi terhadap pendiriannya, kreatif dalam berfikir dan bertindak, mampu mengendalikan dirinya, dan me miliki komitmen yang kuat terhadap berbagai hal. Sebagai pemberi jasa layanan pencarian”search”, seorang pustakawan dituntut ahli dalam bidangnya. Untuk dapat menjadi ahli dalam bidangnya maka harus melalui pendidikan atau sekolah khusus profesi pustakawan baik D3 maupun S1, bahkan S2 atau S3 kalau ada. Pustakawan yang ideal harus memiliki gelar sesuai dengan bidang yang di ampu, misalnya Sarjana Per pustakaan, Master Perpustakaan, dan seterusnya. Hal ini sangat penting guna kelangsungan jenjang dan perhitungan angka kredit bagi profesi ini. Namun karena beberapa hal dan sebagainya, pustakawan-pustakawan yang ada di perpustakaan UST hanya sedikit yang memiliki latar belakang pendidikan ilmu perpustakaan, untuk memperluas penge tahuan para Pustakawan mengikuti berbagai pelatihan, seminar ataupun workshop tentang perpustakaan dan kepustakawanan. Seperti apa yang disampaikan oleh kepala perpustakaan kepada penulis dalam wawancara sebagai berikut: “Menyadari bahwa pustakawan yang ada di perpustakaan UST ini hanya sedikit yang memiliki latar belakang pendidikan atau keilmuan di bidang perpustakaan, hal yang dapat kami lakukan agar kami juga tetap memiliki keahlian tersebut adalah dengan mengikuti berbagai pelatihan ataupun seminar tentang perpustakaan dan kepustakawan yang dilaksanakan oleh berbagai pihak, baik itu dari Perpustakaan Nasional, LIPI dan IPI.”20 Upaya tersebut menunjukkan adanya keinginan dari Pustakawan di per pustakaan UST untuk terus mengembangkan kemampuan mereka di bidang perpustakaan walaupun disadari atau tidak latar belakang pen didikan perpustakaan adalah merupakan modal yang sangat penting bagi seorang Pustakawan. c. Berupaya menguasai Tekonologi Informasi Seiring dengan perkembangan teknologi, informasipun semakin ba nyak dan beragam. Kehadiran internet sebagai media informasi mem bawa perubahan yang besar di berbagaia bidang, tidak terkecuai perpustakaan sebagai salah satu sarana pencarian informasi. Dengan meng gunakan internet, informasi lebih mudah didapatkan hanya dengan mengetikkan kata kuncinya saja pada “search engine”, misalnya pada google dan yahoo yang saat ini begitu diminati. Disinilah pustakawan dituntut untuk lebih terampil dalam berbagi bidang . pada perpustakaan UST pustakawan sudah berusaha memenuhi kebutuhan pemustaka bisa dilihat dari beberapa hal, antara lain sebagai berikut:Menyediakan alamat-alamat Web dan langgan jurnal online untuk ber bagai bidang, untuk membantu pencarian jurnal-jurnal dengan me ngetahui cara mengoleksi dan menata alamat-alamat situsnya dengan teratur, misalnya jurnal Fisika, Kimia, Biologi, pertanian, pen didikan, desain arsitektur, hubungan internasional, hukum, ilmu pengetahuan alam, ilmu pengetahuan sosial, perindustrian astro nomi, robot, inovasi teknologi, motivasi, bisnis, perindustrian dan sebagainya. Kegiatan ini tentu akan semakin membantu memudahkan dan mem percepat atau memanjakan pemustaka dalam mencari informasi di per pustakaan. Namun sayangnya belum semua dari Pustakawan yang ada di perpustakaan UST menguasai teknologi informasi ini. Padahal Pusta kawan yang ideal mutlak memiliki kemampuan yang kuat terhadap perkembangan IT. d. Berorientasi kepada pengguna Sebagai penyedia jasa seorang pustakawan harus memiliki prinsip “User Oriented”, yaitu dengan tujuan untuk kepuasan penguna. Pustaka wan yang kreatif akan terbuka terhadap kritik dan saran dari pengguna baik secara langsung maupun pengaduan pengguna baik secara elek tronik maupun langsung, demi perbaikan layanan dan kepuasan peng guna. Dalam hal ini yang dilakukan oleh seorang pustakawan di bagian layanan sirkulasi adalah memberi informasi kepada pemustaka mengenai apa yang dibutuhkan. Tetapi hanya sebatas memberi informasi saja tidak melakukan pencarian secara langsung, hal ini dilihat langsung oleh penulis dalam observasi bagaimana pustakawan merespon setiap keluhan pemustaka. e. Santun dan tegas terhadap pelanggaran Pengguna sebagai manusia biasa kadang-kadang ada saja yang tidak mau membaca tata tertib perpustakaan, ketidak tahuan dan ketidak per dulian pengguna perpustakaan terkadang dapat merugikan pengguna yang lain. Contohnya ada pengguna yang menghilangkan buku. Tentu hal ini akan merugikan pengguna yang lain dalam pencarian informasi berikutnya. Oleh karenanya, kegiatan yang dilakukan oleh pustakawan di per pustakaan dalam hal itu adalah dengan mengingatkan dengan san tun tetapi tegas. Misalnya dengan pemberian sangsi dengan menganti mem belikan buku yang sama. Sehingga dapat menjadi peringgatan bagi pengguna yang lain. Seperti apa yang dituturkan oleh Pustakawan yang ada di Layanan Sirkulasi kepada penulis dalam wawancara sebagai berikut: “Demi untuk menjaga agar koleksi yang digunakan ataupun yang dipinjam oleh pemustaka tidak rusak ataupun hilang, kami melakukannya dengan pemberian sangsi kepada pelanggaran tersebut, seperti mengganti jika buku itu hilang.”21 Adapun kegiatan tersebut dilakukan oleh Pustakawan di perpustakaan UST adalah untuk menjaga agar pemustaka ikut bersama-sama menjaga koleksi yang ada supaya tidak rusak atau pun hilang. Dan setiap peringat an tersebut tetap disampaikan secara tegas
Conclusion
Berdasarkan hasil uaraian dan pembahasan yang dijelaskan diatas, maka penulis dapat mengambil beberapa kesimpulan: 1. Kualitas layanan berdasarkan keterampilan Pustakawan diperpustakaan UST dapat dikategorikan “baik” karena sudah memenuhi sebagian dari keseluruhan criteria halini dapat dilihat dari beberapa aspek sebagai berikut: a. Berpenampilan menarik yaitu penampilan/tampilan layanan yang dapat menarik perhatian, dapat meningkatkan motivasi pengunjung seperti berpenampilan rapi, bersih dan ramah. b. Ikut serta dalam setiap pelatihan dan seminar tentang perpustakaan dan kepustakawan, yaitu dalam pengembangan profesi yang ditandai dengan penguasaan kompetensi, konsistensi tehadap pendiriannya, kreatif dalam berfikir dan bertindak, pustakawan juga dituntut ahli dalam bidangnya. c. Berupaya menguasai tekonologi informasi, yaitu dengan menyediakan alamat-alamat Web menyediakan dan membantu pencarian jurnal jurnal dengan mengetahui cara mengoleksi dan menata alamat-alamat situsnya. d. Berorientasi kepada pengguna, yaitu terbuka terhadap kritik dan saran dari pengguna baik secara langsung maupun pengaduan pengguna baik secara elektronik maupun langsung, demi perbaikan layanan dan kepuasan pengguna. e. Santun dan tegas terhadap pelanggaran, yaitu dengan pemberian sangsi jika buku hilang maka menganti dengan membelikan buku yang sama namun tetap dengan bahasa yang tidak menyinggung. Berdasarkan hal tersebut menunjukan kualitas layanan diperpustakaan UST dari beberapa kriteria keterampilan pustakawan sudah terpenuhi secara baik hanya saja perlu adanya penambahan SDM/pustakawan yang berlatar belakang ilmu perpustakan.