Kembali
16
1
2022 Pustabiblia : Journal of Library and Information Science Vol 6 · 2 ISSN 2549-3868

STRATEGI AKUISISI NASKAH DI PERPUSTAKAAN NASIONAL PRESS DALAM UPAYA MENINGKATKAN BAHAN BACAAN DAN LITERASI MASYARAKAT INDONESIA

Perpustakaan Nasional RI

Abstract

This scientific paper discusses the manuscript acquisition strategy carried out by the National Library of Indonesia in an effort to improve reading materials and literacy of the Indonesian people. This writing aims to see the course of the manuscript acquisition strategy carried out by the National Library of Indonesia Press along with the strengths and weaknesses found from this strategy. The method used in this study is a qualitative method. The type or research design used is descriptive research. The data collection techniques were carried out by means of literature review, interviews, and observations. Data analysis techniques were carried out through data reduction, data presentation, and drawing conclusions. The results of literature review, observation, and author interviews at the National Library of Indonesia show that the manuscript acquisition strategy car ried out by the National Library of Indonesia Press is that the title of the book has been determined, the author’s request, and collaboration/cooperation. The results also found that the three strategies found their respective advantages and disadvantages. These three strategies can increase the number of publications in the form of books at the National Library of Indonesia Press so that with these efforts it is expected to help the Government improve reading materials and literacy of the Indonesian people.
Keywords: Acquisition · publishing manuscript · publishing · National Library Press

Introduction

Dalam beberapa kesempatan, salah satunya dalam acara Rakornas Perpustakaan tahun 2021 sebagaimana diberitakan di Kompas.com, 22 Maret 2021, Kepala Perpustakaan Nasional RI sering membahas mengenai rendahnya budaya baca masyarakat yang merupakan persoalan hilir dalam meningkatkan indeks kegemaran minat baca masyarakat Indonesia. Berulang kali masyarakat dihakimi rendah budaya bacanya, padahal jika dilihat dari indeks kegemaran minat baca masyarakat Indonesia hal tersebut merupakan persoalan dari sisi hilir literasi. Menurut Kepala Perpustakaan Nasional RI, Muhammad Syarif Bando, persoalan rendahnya minat baca masyarakat juga ditentukan dari sisi hulu literasi yaitu kurangnya bahan bacaan di mana rasio jumlah penduduk dan buku yang beredar adalah 0.09 artinya satu buku ditunggu oleh 90 orang, padahal menurut data UNESCO, setidaknya angka ideal ketersediaan buku adalah minimal 3 buku untuk setiap orang dalam setiap tahunnya. Bahkan di beberapa negara maju ketersediaan buku mencapai 15 buku untuk setiap orang. Berdasarkan kondisi tersebut diperlukan semangat dan kesadaran untuk menghadirkan berbagai macam bahan bacaan salah satunya yaitu dengan menerbitkan buku-buku bacaan terutama yang memberikan nilai ekonomi, mempromosikan budaya dan kearifan lokal, dan buku-buku tutorial. Atas dasar permasalahan yang ada tersebut juga maka Perpustakaan Nasional RI pada tanggal 23 Juli 2019 melalui Surat Keputusan Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia Nomor 167 Tahun 2019 tanggal 23 Juli 2019 membentuk Penerbit Perpustakaan Nasional dan Tim Penerbit Perpustakaan Nasional yang selanjutnya dinamakan Perpusnas Press. Perpusnas Press dibentuk dengan sebuah misi diantaranya adalah melaksanakan penerbitan dan publikasi bidang perpustakaan dan kepustakawanan baik cetak maupun elektronik, dan meningkatkan kuantitas dan kualitas terbitan di bidang perpustakaan dan kepustakawanan. Perpusnas Press dibentuk tidak berorientasi profit atau keuntungan, melainkan bertujuan mengurangi permasalahan tentang keterbatasannya buku-buku bacaan berkualitas di tengah masyarakat. Perpusnas Press sejak dibentuk pada 23 Juli 2019 sudah menerbitkan beberapa macam buku. Data dari press.perpusnas.go.id per tanggal 2 agustus 2022 terdapat 286 judul buku yang diterbitkan, yang artinya rata-rata per tahun Perpusnas Press berhasil menerbitkan sekitar 90an judul buku. Sebuah pencapaian yang cukup menggembirakan. Sebagaimana tantangan penerbit pada umumnya, perpusnas press membutuhkan naskah setiap tahunnya untuk diterbitkan menjadi sebuah buku karena pada kenyataannya keberlangsungan sebuah penerbitan ditentukan dari adanya naskah yang masuk dan diterbitkan. Naskah bagi sebuah penerbitan ibarat asupan nafas jika asupan ini hilang maka akan berhenti juga aktifitas penerbitan. Bahkan saking pentingnya sebuah naskah, dibeberapa penerbit ada yang namanya editor akuisisi naskah, editor yang khusus untuk mencari naskah dari penulis. Jika di Perpusnas Press peran editor akuisisi ini tidak ada dalam struktur tim penerbit, naskah didapat dari beberapa strategi yang dijalankan oleh anggota Tim. Penelitian ini bertujuan untuk melihat jalannya strategi akuisisi naskah yang dilakukan oleh Perpusnas Press di Sub Penerbitan Perpustakaan Nasional RI jalan Salemba Raya No.28A Jakarta Pusat selama kurun waktu Januari hingga Agustus 2022 berikut kelebihan dan kelemahan yang ditemui dari strategi tersebut. Kajian ini mencoba mendeskripsikan bagaimana strategi akuisisi naskah dapat menghasilkan naskah yang diterbitkan menjadi buku dan sejauh ini penelitian akuisisi naskah di Perpusnas Press belum pernah dilakukan. Sejauh ini berdasarkan penelusuran, studi tentang akuisisi naskah pernah dilakukan oleh Noor1. Dalam penelitiannya beliau membahas akuisisi naskah di tiga penerbit yaitu Elex Media Komputindo, GagasMedia, dan Gramedia Pustaka Utama. Diskusi dan penelitian terkait akuisisi naskah di bidang penerbitan masih sangat terbatas di Indonesia. Oleh karena itu, penelitian ini mengisi dan memperkaya pengetahuan terkait akuisisi naskah di dunia penerbitan dan sekaligus memperkenalkan penerbit Perpusnas Press secara ringkas, sebuah penerbit yang dibentuk oleh Perpustakaan Nasional RI yang turut meramaikan penerbitan di tanah air guna menerbitkan buku-buku berkualitas di tengah masyarakat Indonesia.

Method

Metode penelitian merupakan sebuah upaya yang dapat dilakukan oleh peneliti dalam mengumpulkan data-data dan mencari kebenaran masalah yang diteliti. Metode penelitian yang digunakan dalam karya tulis ini yaitu menggunakan metode kualitatif. Menurut Sugiyono (2016, 15)10, penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat pospositivisme, digunakan untuk meneliti pada kondisi objek alamiah, (sebagai lawannya adalah eksperimen) dimana peneliti adalah sebagai instrumen kunci, pengambilan sampel sumber data dilakukan secara purposive dan snowbaal, teknik pengumpulan dengan triangulasi (gabungan), analisis data bersifat induktif atau kualitatif, dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna dari pada generalisasi. Jenis penelitiannya menggunakan penelitian deskriptif. Penelitian deskriptif adalah penelitian yang dimaksudkan untuk menyelidiki keadaan, kondisi atau hal lain-lain yang sudah disebutkan, yang hasilnya dipaparkan dalam bentuk laporan penelitian. Dalam penelitian deskriptif fenomena ada yang berupa bentuk, aktivitas, karakteristik, perubahan, hubungan, kesamaan dan perbedaan antara fenomena yang satu dengan yang lainnya (Arikunto 2013, 3)11. Sedangkan menurut Sukmadinata (2006, 72)12 juga menyebutkan bahwa penelitian deskriptif merupakan suatu bentuk penelitian yang ditujukan untuk mendeskripsikan fenomena-fenomena yang ada, baik fenomena alamiah maupun fenomena buatan manusia. Fenomena itu bisa berupa bentuk, aktivitas, karakteristik, perubahan, hubungan, kesamaan, dan perbedaan antara fenomena yang satu dengan fenomena lainnya. Proses yang dilakukan dalam penelitian ini adalah pertama penulis melakukan studi literatur pada konsep akuisisi naskah penerbitan yang dilakukan oleh Perpusnas Press. Tahap kedua yaitu pengumpulan data melalui wawancara dengan subjek penelitian yaitu tim redaksi Perpusnas Press. Objek penelitian adalah kegiatan akuisisi naskah penerbitan Perpusnas Press. Kemudian tahap ketiga yaitu data-data yang telah didapat dianalisis melalui reduksi data sehingga dapat menemukan kelebihan dan kekurangan dari strategi yang dilakukan, setelah itu dilakukan penyajian data dalam bentuk teks yang bersifat naratif dan terakhir melakukan penarikan kesimpulan guna menjawab rumusan masalah yang telah dijabarkan sebelumnya. Pada tahap ini juga dilakukan analisis terhadap proses akuisisi naskah penerbitan berikut melihat kelebihan dan kelemahan apa saja yang ditemui dalam menjalankan strategi akuisisi.

Discussion

Dalam sebuah naskah presentasi Perpusnas Press yang disampaikan oleh Pemimpin Redaksi Perpusnas Press di acara Sosialisasi penerbit Perpusnas Press di Yogyakarta pada bulan Juni 2022 disebutkan bahwa Strategi Akuisisi Naskah Perpusnas Press ada tiga, yaitu Judul buku sudah ditetapkan, Permohonan Penulis, dan Kolaborasi/ Kerja Sama (Press, Perpusnas, 2022. Slide 6)13 Berikut ini dijelaskan strategi-strategi tersebut. a. Judul Buku Sudah Ditetapkan Strategi pertama yang diterapkan oleh perpusnas press yaitu judul buku sudah ditetapkan. Berdasarkan wawancara penulis dengan salah satu Redaksi Perpusnas Press, di Sub penerbitan Perpustakaan Nasional RI pada 28 Juli 2022, maksud dari strategi ini yaitu buku-buku yang dihasilkan oleh internal lembaga yaitu Perpustakaan Nasional RI. Buku-buku tersebut yaitu terdiri dari terjemahan naskah kuno yang berasal dari Pusat Jasa dan Informasi dan Naskah Nusantara (Pujasintara) dan judul-judul buku lain yang berasal dari Pusat Analisis Perpustakaan dan Pengembangan Budaya Baca dan sebagian lain adalah perintah dari Pimpinan Perpusnas. Strategi ini disebut dengan cara pasif dari sisi penerbit tapi cara aktif dari sisi Unit Pusat lain. Maksud dari pernyataan ini yaitu Perpusnas Press hanya menerima naskah yang sudah jadi dari Unit pusat lain sedangkan Unit pusat lain mencari naskahnya dengan cara menerjemahkan dan melalui sayembara penulisan. Terkait hal ini yaitu cara mendapatkan naskah telah dijelaskan oleh Trimansyah, bahwa dalam studi penerbitan dikenal dua cara memperoleh naskah yaitu cara aktif dan cara pasif. Cara pasif di sini karena penerbit menunggu datangnya naskah dari penulis, dalam kasus ini dari Pujasintara dan Pusat Analisis atau pusat lainnya, sedangkan cara aktifnya dilakukan oleh Pujasintara dengan menerjemahkan naskah kuno. Cara yang dilakukan oleh Pujasintara ini sejalan dengan penjelasan Eneste (2012, 6)14 yang menyebutkan bahwa dalam akuisisi naskah penerbit dapat memperolehnya dari naskah terjemahan bahasa asing ke bahasa Indonesia. Adapun Pusat Analisis menggunakan cara pasif yaitu dengan menyelenggarakan lomba penulisan. Pelaksanaan strategi pertama ini terdapat kelebihan dan kelemahannya. Kelebihannya yaitu perpusnas press tidak perlu susah mencari naskah hanya tinggal menunggu saja hasil yang dibuat oleh unit pusat-pusat lainnya, namun kelemahannya yaitu perpusnas press tidak bisa menyeleksi naskah yang masuk apakah bagus atau tidak jadi hanya “pasrah” menunggu naskah itu sudah di-layout menjadi buku kemudian diterbitkan. Selain itu, kelemahan yang lain adalah perpusnas press tidak bisa memprediksi kuantitas naskah, berapa banyak naskah yang sudah diterjemahkan dan berapa banyak naskah yang dihasilkan dari unit-unit di internal Perpusnas tersebut. Semua buku yang dihasilkan dari strategi judul buku sudah ditetapkan yaitu berjumlah tidak kurang dari 227 yang sebagian besar buku naskah terjemahan. Berikut ini beberapa contoh buku hasil terjemahan naskah kuno dan buku dari Pusat Analisis Gambar 2: Contoh buku-buku terjemahan naskah kuno dan buku hasil dari Pusat Analisis Perpusnas RI (Sumber: press.perpusnas.go.id) b. Permohonan Penulis Strategi kedua yang diterapkan oleh Perpusnas Press yaitu permohonan penulis. Sebagaimana yang dikatakan oleh Trim 202215, strategi ini merupakan cara pasif yang dilakukan oleh penerbit karena di sini penerbit menunggu datangnya naskah dari penulis. Eneste (2012, 6)16 juga menyebut bahwa dalam akuisisi naskah sebuah penerbit dapat melakukan berbagai macam cara salah satunya yaitu dengan naskah spontan artinya naskah yang dikirim atau ditawarkan oleh penulis ke penerbit yang selanjutnya akan dipertimbangkan oleh penerbit (dari berbagai sisi) apakah akan diterbitkan atau tidak. Kedua penjelasan tersebut juga sejalan dengan hasil wawancara penulis dengan salah seorang Redaksi Perpusnas Press maksud dari strategi ini yaitu Perpusnas Press memberikan kesempatan kepada masyarakat semua kalangan untuk mengirimkan karya tulisnya. Masyarakat umum di sini bisa penulis lepas atau perorangan ataupun komunitas. Judul buku pun bebas dan tidak ditentukan jadi tidak harus bertemakan tentang perpustakaan dan kepustakawanan bisa tentang sosiologi, kearifan lokal daerah, puisi, sastra, dan sebagainya. Namun, untuk saat ini Perpusnas Press belum menerima naskah bertemakan kedokteran, teknik, dan yang serumpun dengan bidang tersebut. Selanjutnya naskah yang masuk akan diseleksi oleh Dewan Redaksi apakah layak untuk terbit atau tidak. Metode yang digunakan dalam mendapatkan naskah melalui perorangan ini Perpusnas Press sudah memiliki wadah dalam menyampaikan tulisan yaitu sebuah website bernama epublishing.perpusnas.go.id. Pengertian dari ePublishing adalah sebuah portal berbasis web yang bertujuan untuk menjembatani penerbit-penerbit Perpustakaan Nasional RI dengan penulis. Adanya ePublishing, sistem penerimaan dan pengelolaan naskah akan menjadi lebih terorganisir. Selain itu, pengarang juga lebih mudah untuk menyalurkan naskahnya ke penerbit. Berikut tampilannya di bawah ini. Gambar 3: Website ePublishing Sumber: tangkapan layar epublishing.perpusnas.go.id Strategi ini ada kelebihan dan kelemahannya. Kelebihannya yaitu memudahkan penulis dalam mengirim karya tulisnya. Adapun kekurangannya yaitu ada biaya yang dikeluarkan untuk membuat dan memelihara sistem ini yang tidak begitu murah selain itu terkadang ada kendala yang ditemui dalam mengirim naskah dan sistem ini juga belum banyak diketahui oleh masyarakat jadi perlu adanya sosialisasi ke tengah masyarakat atau ke komunitas penulis yang tentunya perlu biaya untuk melakukannya Buku-buku yang dihasilkan dari strategi permohonan penulis yaitu berjumlah tidak kurang dari 14 judul baik dari penulis perorangan maupun komunitas. Berikut ini adalah beberapa contoh buku hasil strategi permohonan penulis. Gambar 4: Buku hasil dari Penulis Perorangan dan Buku hasil dari Penulis Komunitas (Sumber: press.perpusnas.go.id) c. Kolaborasi atau Kerja Sama Strategi ketiga yang diterapkan oleh Perpusnas Press yaitu kolaborasi atau kerja sama. Eneste (2012, 6)17 menyebut bahwa dalam akuisisi naskah sebuah penerbit dapat melakukan berbagai macam cara salah satunya yaitu dengan naskah kerja sama atau co-publishing dan naskah hasil sayembara. Naskah kerja sama adalah naskah yang berasal dari sebuah lembaga atau instansi tertentu dan diterbitkan atas kerja sama lembaga tersebut dengan penerbit. Biaya penerbitan atau biaya produksi bisa ditanggung sepenuhnya oleh lembaga tersebut atau bisa pula ditanggung bersama antara penerbit dan lembaga yang melakukan kerja sama. Naskah hasil sayembara adalah naskah yang diperoleh dari sayembara penulisan naskah, baik yang diadakan oleh penerbit maupun lembaga di luar penerbit. Wawancara dengan tim redaksi, penggunaa metode yang digunakan untuk mendapatkan naskah melalui kolaborasi/ kerja sama ini yaitu dengan mengadakan lomba penulisan seperti program Inkubator Literasi Pustaka Nasional (ILPN). ILPN sendiri adalah program unggulan yang dimiliki oleh Perpusnas Press dalam menjaring penulis-penulis pemula di seluruh Indonesia. Dalam ILPN, Perpusnas Press mengadakan kerja sama dengan Dinas Perpustakaan di setiap daerah untuk mengadakan lomba menulis tentang kearifan lokal daerahnya masing-masing. Program ini telah terjaring penulis-penulis muda dan pemula yang karya tulisnya sudah diterbitkan oleh Perpusnas Press. Selain itu, juga diselenggarakan lomba menulis pada momen hari besar nasional, yaitu lomba menulis, sudah terbit lebih kurang 13 judul buku. Berikut di antara cover judul-judul tersebut. Gambar 5: Buku hasil dari lomba menulis, ILPN Sumber: press.perpusnas.go.id Selain ILPN metode yang dipakai dalam strategi yang ketiga ini yaitu melakukan kerja sama dengan lembaga pemerintah maupun swasta. Contohnya yaitu pernah melakukan kerja sama dengan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham), GPMB, PIMTI Ikatan Perempuan Indonesia dan lain-lain metode ini yaitu kerja sama telah terbit lebih kurang 7 (tujuh) judul buku. Berikut di antara cover judul-judul tersebut. Gambar 6: Buku hasil dari kerja sama Sumber: press.perpusnas.go.id) Dalam menerapkan strategi ini yaitu kolaborasi atau kerja sama ada kelebihan dan kekurangannya. Kelebihannya yaitu dapat mendapatkan naskah dari penulis-penulis pemula yang gaya penulisannya beraneka ragam dan sekaligus memberikan ruang kreativitas dan rangsangan menulis bagi penulis-penulis pemula di setiap daerah di Indonesia. Kelebihan yang lain yaitu bisa mengetahui potensi-potensi kearifan lokal di setiap daerah melalui metode ILPN. Adapun kekurangan yang ditemui yaitu penulis mendapatkan kenyataan di lapangan bahwa hasil tulisan yang didapat kurang berkualitas baik dari segi tata bahasa maupun ketajaman tulisan selain itu untuk naskah kerja sama diketahui tidak ada legalitas seperti naskah kerja sama atau MoU (Memorandum of Understanding).

Conclusion

Mencermati strategi akuisisi naskah di Penerbit Perpusnas Press yang telah dipaparkan di atas dapat disimpulkan bahwa ketiga strategi yang dipakai Perpusnas Press dalam mangakuisisi naskah yaitu judul buku sudah ditetapkan, permohonan penulis, dan kolaborasi atau kerja sama. Kelebihan dari ketiga strategi akuisisi naskah tersebut yaitu Perpusnas Press tidak perlu susah mencari naskah hanya tinggal menunggu saja hasil yang dibuat oleh unit/ pusat lain, memudahkan penulis dalam mengirimkan karya tulis, mendapatkan naskah dari penulis-penulis pemula yang gaya penulisannya beranekaragam, memberikan ruang kreatifitas dan rangsangan menulis bagi penulis-penulis pemula di setiap daerah di Indonesia, dan dapat mengetahui potensi-potensi kearifan lokal disetiap daerah di Indonesia. Kekurangan dari ketiga strategi akuisisi naskah tersebut yaitu Perpusnas Pres tidak bisa menyeleksi naskah yang masuk dan tidak bisa memprediksi kuantitas naskah, timbul biaya untuk membuat aplikasi, terdapat banyak kendala dalam mengirimkan naskah melalui aplikasi, belum banyak diketahui masyarakat, terdapat banyak naskah yang kurang berkualitas dari segi bahasa, dan naskah kerja sama tidak ada legalitas semacam MoU (Memorandum of Understanding). Upaya meningkatkan kelebihan dari masing-masing strategi adalah dengan melakukan koordinasi dan kolaborasi dengan Pusat/unit lain di internal Perpustakaan Nasional, khususnya dalam menilai naskah yang diterima, naskah hasil lomba, naskah terjemahan, dan kuantitas kualitas dari penerbitan buku di Perpustakaan Nasional. Upaya lainnya adalah penggunaan media yang efektif dan efisien seperti epublishing, narahubung yang responsif, sosialisasi melalui digital platform yang tidak berbayar, dan upaya terakhir adalah peran editor/penyunting dalam proses penerbitan naskah sehingga sesuai dengan kelayakan penerbitan.