Kembali
16
1
2019 Jurnal Imam Bonjol : Kajian Ilmu Informasi dan Perpustakaan Vol 3 · 2 ISSN 2579-3160

TRANLITERASI DESKRIPSI BIBLIOGRAFI KOLEKSI BAHASA ARAB

Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang

Abstrak

Transliterasi deskripsi bibliografi koleksi berbahasa arab adalah salah kegiatan yang harus dilakukan oleh kataloger untuk mengolah bahan pustaka. Karena itu, ruang dan ukuran kartu katalog yang sudah standard/dibakukan sangat terbatas untuk katalogisasi koleksi berbahasa arab. Seiring dengan itu, mulai tahun 1987 buku panduan transliterasi arab-latin hasil keputusan Menteri Agama dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI sudah sangat membantu kataloger untuk melakukan transliterasi deskripsi bibliografi koleksi berbahasa arab. Namun bilamana kataloger tidak memiliki pengetahuan dalam bidang bahasa arab, tentu akan mengalami kesulitan untuk melakukan tugas kepustakawanan mengolah koleksi-koleksi yang berbahasa arab

Abstract

Transliteration of bibliographic descriptions in Arabic collections is one of the activities that must be done by catalogers to process library materials. Because the space and size of standardized catalog cards is very limited for cataloging Arabic collections. Along with that, starting in 1987 the handbook of Arabic-Latin transliteration as a result of the decision of the Minister of Religion and the Minister of Education and Culture of the Republic of Indonesia has greatly helped catalogers to transliterate bibliographic descriptions in Arabic collections. However, if the word loger has no knowledge in the Arabic language field, it will certainly lead to difficulties in carrying out the task of librarians processing collections in Arabic.
Keywords: Transliteration · Collection in Arabic

Introduction

Perpustakaan adalah institusi pengelola koleksi karya tulis, karya cetak, dan/atau karya rekam secara profesional dengan sistem yang baku guna memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi para pemustaka.1 Berkaitan dengan hal tersebut, salah satu tugas pokok perpustakaan adalah melakukan pengolahan bahan perpustakaan secara professional dengan sistem yang sudah ditetapkan/dibakukan, agar koleksi– koleksi tersebut dapat dengan mudah ditemukan kembali oleh pengguna jasa perpustakaan. Sebagai lembaga pemerintah non departemen (LPND) Perpustakaan Nasional RI selaku perpustakaan pembina2, telah menerbitkan buku “Peraturan Katalogisasi Indonesia Deskripsi Bibliografis (ISBD), Penentuan Tajuk untuk entri, Judul Seragam”, edisi pertama tahun 1992.3 Peraturan Katalogisasi yang telah mengalami sejumlah revisi sampai edisi ke IV tahun 1996 inilah yang dijadikan acuan standar untuk melakukan pengolahan bahan perpustakaan baik lembaga pemerintahan maupun swasta. Walaupun peraturan ini telah menjadi acuan standar yang dibakukan sekalipun belum mengikat untuk pedoman pengolahan koleksi perpustakaan, tapi belum dapat digunakan untuk koleksi-koleksi yang beraksara non latin. Seperti koleksi beraksara arab, aksara kanji dan aksara sangskerta. Di samping ruang dan ukuran kartu catalog 7.5 cm x 12,5 cm tidak memungkinkan untuk menuliskan deskripsi bibliografi koleksi selain aksara latin. Bentuk aksara non latin tersebut tidak sama dengan aksara latin baik dari karakter huruf maupun arah penulisan. Artinya deskripsi bibliografi untuk koleksi selain aksara latin (aksara arab, aksara kanji dan aksara sangskerta) harus dapat menyesuaikan dengan peraturan yang sudah baku, yaitu dengan mentransiliterasi menggunakan pedoman transliterasi yang standar dan resmi.4 Berdasarkan latar belakang tersebut tulisan ini akan mencoba menguraikan masalah yang berkaitan dengan deskripsi bibliografi koleksi yang tidak menggunakan aksara latin, khususnya koleksi-koleksi yang menggunakan aksara arab (koleksi berbahasa arab). Diantara masalah yang ingin dibahas antara lain adalah bagaimana mencermati unsur-unsur deskripsi bibliografi koleksi berbahasa arab? Serta bagaimana bentuk transliterasi yang harus digunakan diberlakukan di perpustakaan

Discussion

Perkembangan Islam di Indonesia ikut memperkaya perkembangan khazanah intelektual keislaman. Hal ini ditandai dengan berkembanganya lembaga-lembaga pendidikan yang tersebar diberbagai wilayah di Indonesia. Agama Islam yang dikembangkan melalui bahasa arab dengan menggunakan mediamedia dan referensi-referensi berbahasa arab sangat mempengaruhi perkembangan perpustakaan terutama di lembaga-lembaga pendidikan. Artinya lembaga-lembaga berbasis keislaman terutama lembaga pedidikan mayoritas memiliki koleksi berbahasa arab. Perkembangan bahasa arab inilah salah satu pemicu lahirnya kesepakatan bersama antara Menteri Departemen Agama RI dan Menteri Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI no. 158 tahun 1987 dan no. 0543 b/u/ 1987 , tentang “ Pedoman Transliterasi Arab-Latin”.5 Sebelum melakukan transliterasi deskripsi bibliografi koleksi beraksara arab terlebih dahulu perlu mengetahui dan mencermati bahaimana bentuk deskripsi tersbut. A. Deskripsi Bibliografi Koleksi Berbahasa Arab Deskripsi bibliografi koleksi berbahsa arab secara prinsip sama dengan deskripsi koleksi berbahasa Indonesia yang meliputi tujuh unsur utama, yaitu daerah judul dan pengarang, daerah edisi, daerah keterangan penerbit, dareah keteranga fisik, daerah seri monografi, daerah catatan, dan daerah ISBN dan harga6 . jilidan dan harga.7 Namun disamping perbedaan aksara yang digunakan terdapat sejumlah perbedaan pada cover koleksi berbahsa arab, antara lain: 1. Penggunaan istilah bidang kepengarangan/penanggungja wab Hampir tidak ditemukan pada cover koleksi (mogoraf) beraksara latin penulisan kata “penulis, pengarang”, kendatipun ada tulisan “oleh, by” yang menunjukan kepemilikan yang terdapat di cover halaman dalam. Sementara dalam koleksi beraksara arab selalu mencantumkan kata yang menerangkan kepengaranan / penanggungjawab utama yang menggunakan istilah bervariasi, seperti: o تأليف) ta'līf) artinya penyusun. o اعداد ) i’dād ) artinya yang menyiapkan o ل ) li... ) artinya Milik, kepunyaan / Ṣannafa ( صنف /تصنيف o taṣnīf) artinya penyusun. o كاتب ) kātib ) artinya penulis o عند’ ) indi ) artinya pemilik Istilah yang sering menjebak untuk keterangan penanggungjawab adalah istilah ( ....ل ( li...artinya milik, kepunyaan, karena penulisan kata/kalimatnya bersatu dengan nama أل بي عبد اهلل محمد ) seperti pengarang artinya ,)بن أحمد األ نصاري القرطبي bilamana pustakawan tidak memiliki kaidah-kaidah dasar ilmu bahasa arab tentu kesulitan untuk menemukan deskripsi bibliografi dibidang penanggungjawab. 2. Penambahan kata/kalimat di depan atau di belakang nama pengarangnya itu sendiri, seperti: Sebelum nama pengarang yang menerangkan tentang: - Gelar kehormatan seperti kata ( االمام ) al-Imām, artinya gelar, (الشيخ ( al Syaikh, artinya Kiai / Buya, ( الحافظ ) al-Ḥāfiẓ, artinya ahli penghafal, kata ( الفضيلة ( al Faḍīlah artinya yang mulia/karamah (kharismatik) - Gelar akademis atau jabatan seperti kata (المدرس / االستاذ (artinya guru, atau dosen, ( رئيس / المدير ( artinya jabatan rektor, pimpinan suata lembaga. Sesudah nama pengarang yang menerangkan tentang: - Profesi pengarang seperti kata ( الفقه أصول أستاذ' ( ustaż 'uṣūl al fiqh artinya guru besar ushul fiqh. Bahkan sekaligus menerangkan lembaga tempat pengarang sebagai pengajar. - Tahun kelahiran dan kematian pengarang, seperti kata Tahun kelahiran dan kematian ( / المتوفى المولود ( al Maulūd / al-mutawaffa artinya dilahirkan dan diwafatkan - Do’a untuk pengarang seperti ( وفق اهلل / رحم اهلل تعالى ) kata raḥimallah ta’ālā / wafaqallah artinya semoga mendapatkan rahmat Allah/ Semoga Allah member taufiq. 3. Penggunaan istilah pengarang tambahan / pengarang ganda شرح ) Syaraḥ ) artinya menguraikan, menjelaskan atau menfsirkan  حاشية ) ḥāsyiyah ) artinya keterangan yang terdapat di pinggir naskah / taḥqīq ( تحقيق / حقق ḥaqaqa) peneliti, pembahas atau peneyelidikan  تعليق / علق’) allaq / ta’līq ) yang memberi komentar / tasḥīḥ (صحح /تصحيح  saḥḥaḥa) menjelaskan, menguatkan.  ضبط) ḍabṭ) yang menyempurnakan tanda baca atau baris suatu naskah  خرج ) kharaja ) yang mentakhrij hadis atau yang menentukan tingkat hadis  راجع / مراجع ) rāja’a / marāji’ ) artinya yang memberikan pendapat, komentar atau pertimbangan  يليه) yalīhi ) artinya menyertakan pengarang lain dan karya tulis dalam naskah utama karena isinya salaing mendukung.  معه) ma’ahu) artinya menyertakan pengarang lain dan karya tulis dalam naskah utama karena isinya saling mendukung. Diantara unsur-unsur deskripsi bibliografi koleksi berbahasa arab yang perlu dicermati untuk melakukan pengatalogan adalah penambahan istilah sebelum penulisan nama pengarang seperti kata ( ...ل ( li….. artinya milik. Bila tidak memiliki mengetahui bentuk kalimat bahasa arab mungkin dianggap itu satu kata pada hal kalimat tersebut terdiri dari dua kalimat yang penulisan disatukan لالمام الحافظ أبي عبد هللا محمد عبد هللا ) seperti ) artinya Milik Imam Hafiz Abiy ‘Aillah Muhammad Bin ‘Aullah. Li....Artinya milik (pemulis) Iman Hafiz artinya Panggilan kehormatan. Oleh karena itu pengetahuan ilmu bahasa arab sangat dibutuhkan untuk kataloger, tidak cukup hanya menghandalkan kamus bahasa arab. Apalagi bila tulisan arab itu tidak pakai baris (tiak ada vokal) atau arab gundul. 8 Begitu juga penggunaan istilah pengarang tambahan. Masing-masing istilah tersebut menunjukkan fungsi dan peranan pengarang kedua dalam satu buah tek buku seperti: Judul “ المسند ” al-Musnad. periwayat hadiṡ oleh : Aḥmad bin Muḥammad bin Ḥanbali yang hidu dari 164 H s.d 241 H. Beberapa tahun kemudian al Musnad ini diberi syaraḥ/penjelasan maksud dan tujuan dari butir-butir hadis yang ada didalammnya. Kemudian dilengkapi dengan pemberian nomor halaman ( وصنع فهارس ” (Ṣana’a faharisah” oleh “ أحمد Muḥammad Aḥmad ) `محمد شاكر Syakir” seperti cover berkut ini. Syarah artinya mengurai maksud dan tujuan butir-butir hadis yang telah dihimpun oleh Imam Ahmad bin Muhammad bin Hambali yan lebih dikenal dengan Imam Hanbali. Pada prinsipnya dilihat dari isi buku kedua nama pengarang samasama penulis utama pada satu buku dengan tek yang berbeda, yaitu Imam Ahmad sebagai penghimpun hadishadis Rasulullah, sedangkan Muhammad Syakir sebagai pensyarah hadis. Adapun tek hadis bersumber dari Rasulullah. Pada umumnya penggunaan istilah-istilah pada poin c banyak berhubungan dengan tek-teks al Quran dan teks Hadis. Oleh karena itu sangat perlu mencermati istilah-istilah penggunaan pengarang kedua pada cover koleksi berbahasa arab. B. Transliterasi Arab Latin Transliterasi adalah penyalinan dengan penggantian huruf dari abjad yang satu ke abjad yang lain9 . Sebagaimana yang diamanatkan oleh peraturan bersama Menteri Agama RI dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI pasal 2 point b bahwa: transliterasi itu diberlakukan bagi huruf arab yang belum ada padananya dalam huruf latin dicarikan dengan cara memberi tambahan tanda diaktrik dengan dasar satu fonem satu lambang. Rumusan Pedoman Transliterasi Arab-Latin10 Sesuai dengan rumusan pedoman transliterasi arab-latin cetakan IV tahun 2002, berdasarkan SK tersebut di atas, maka pedoman ini meliputi: 1. Konsonan Hur uf Ara b Nama Transliter asi Nama ا Alif tidak dilambang kan tidak dilamba ngkan ب Ba B Be ت Ta T Te ث Ṡa Ṡ Es (titik di atas) 9 Tim Penyusun Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Kamus Besar Bahasa Indonesia. (Jakarta: Balai Pustaka. 1989. Cet.2. 1070 10 Departeman Agama. Op. Cit. Jim J Je ح Ḥa Ḥ Ha (titik di bawah) خ Kha Kh Ka dan Ha د Dal D De ذ Ża Ż zet (titik di atas) ر Ra R Er ز Zai Z Zet س Sin S Es ش Syin Sy Es dan Ye ص Ṣad Ṣ Es (titik di bawah) ض Ḍad Ḍ De (titik di bawah) ط Ṭa Ṭ Te (titik di bawah) ظ Ẓa Ẓ zet (titik di bawah) ع’ Ain ‘ Koma terbalik غ Gain G Ge ف Fa F Ef ق Qaf Q Qi ك Kaf K Ka ل Lam L El م Mim M Em ن Nun N En و Wau W We ه Ha H Ha Hamz ء ah ’ Apostro f ي Ya Y Ye 2. Vokal Vokal dalam bahasa arab sama dengan vokal dalam bahasa Indonesia, terdiri dari vokal tunggal atau monoftong dan rangkap atau diftong. a) Vokal Tunggal Tand a Nama Translitera si Nam a ـَ Fatḥaḥ A a ـِ Kasrah I i Ḍamma ـُ h U u b) Vokal Rangkap Vokal rangkap dalam bahasa arab berbeda dengan vokal rangkap dalam bahasa Indonesia. Vokal rangkap dalam bahasa arab gabungan konsonan dengan vokal, sedangkan dalam bahasa Indonesia gabungan dua vokal. Tanda dan huruf Nama Gabungan huruf Na ma fatḥaḥ .....َ ي dan ya ai a dan i fatḥaḥ .....َ و dan wau au a dan u 3. Maddah Maddah adalah bacaan yang dipanjangkan, lambangya berupa harkat dan huruf, maka transliterasinya berupa huruf dan tanda, yaitu: Harkat dan huruf Nama Huruf dan tanda Nama ي - َ fatḥaḥ dan alif atau ya ā "a" bergaris di atas يَ -- kasrah dan ya ī "i" bergaris diatas Ḍammah -َو dan wau ū "u" bergaris di atas Contoh: Contoh abjad arab yang tidak terdapat dalam abjad latin Contoh vokal rangkap Huru f Arab Transliter asi Huru f Arab Transliter asi َف ِ َق ْ َف Śaqifa ث Kaifa َكي َ ر َ َج Ḥajara ح َ قَل ْ و َ ḥauqala ح ُ ُخل ْد َ Yadkhulu ي َ َل َم amala ‘ع َ ُب ْذه َ Yażhabu ي َ ل ِ ئ ُ س su′ila َ كلَ شَ Syakala contoh maddah َصَد َق Qāla قَا َل șadaqa َب َى Ḍabbaba َضبَّ م َ Ramā ر َب Ṭalaba طَلَ َ ْل ي ِ Qīla ق َ َر ْو ل Ẓahara ظَه Yaqūlu ي ق 4. Ta marbutah Ta marbutah adalah abjad arab yang tidak ada dalam abjad latin, yakni huruf ha bertitik dua di atas yang terletak di akhir kata. Jika bacaan berhenti (dimatikan) maka ta marbutah berobah menjai bunyi ha. Jika bacaan dilanjutkan ke kata berikutnya maka ta marbutah berbunyi ta, tu dan ti.Transliterasinya ta marbutah ada dua: a) Ta marbutah hidup Ta marbutah yang berharkat faḥaḥ, kasarah dan ḍammah transliterasinya adalah " t " (te). b) Ta marbutah mati Ta yang berharkat, fatḥaḥ, dammah dan kasrah, bila bacaannya diwaqafkan maka transliterasinya berupa " h " (ha). contoh: ْطفَال ْالَ ا ُضةَ وْ رَ -- Rauḍah alaṭfāl / Rauḍatu al-aṭfāl ال ُمنَة َو َو َمِدْينَةةُ ال -- Al Madinah Al Munawwarah / Al Madinatul al Munawwarah 5. Syiddah Syiddah atau tasydid dalam bahasa arab dilambangkan dengan tanda ( - ( -ّ , transliterasinya adalah dua konsonan yang sama /konsonan ganda. اَّلَل :Contoh َ اا نا َ باَّن َ ,nazzala __ ر rabbanā. 6. Kata Sandang Kata sandang dalam sistem tulisan arab dilambang dengan " ال " (alif dan lam). Transliterasinya ada dua macam: a) Kata sandang yang diikuti oleh huruf syamsiah, yakni: ( ظ- ط- ض- ص- ش- س- ز( ن - ل- ر- د- ذ- ث- ت maka ditransliterasikan dengan bunyinya, yaitu huruf lam diganti dengan huruf sejenis yang terletak sesudah lam tersebut b) Kata sandang yang di diikuti oleh huruf Qamariyah , yakni, م – و- ه – ك – ق – ف – ) maka ) ع – غ – خ – ح – ج ditransliterasikan sesuai dengan bunyinya. Baik kata sandang diikuti oleh huruf syamsiah maupun huruf qamariyah, kata sandang ditulis terpisah kata yang mengiringinya dan dihubungkan dengan tanda sambung. Contoh: Huruf Syamsiah Huruf Qamariah ْم rajulu-ar ال َر ُج ُل qalamAl القَلَ 'badīal البَ ِدْي ُع syyidah-as ال َسيِّ َد ُ jalāl-al ال َجَال ِل syamsu-Asy ال َش ْم ُس 7. Hamzah Seperti yang disebutkan di depan bahwa hamzah ditransliterasikan dengan tanda apostrof. Tanda apostrof digunakan sebagai transliterasi dari hamzah bila terletak di tengah dan diakhir kata. Sedang untuk awal kata ia tidak dilambangkan, karena ia berupa alif. Contoh: -- Hamzah di awal, ُ ْْ مر - ا ا كر __ akala, umirtu. -- Hamzah di tengah, وْ ت اْ خرٌو __ ta'khużūna -- Hamzah diakhir, ْْ ّ شر __ syai'un 8. Penulisan kata Pada dasarnya setiap kata, baik fi'il, isim maupun harf, ditulis terpisah. Bagi kata-kata tertentu yang penulisannya dengan huruf yang sudah lazim dirangkaikan dengan kata lain karena ada huruf atau harkat yang dihilangkan maka dalam transliterasi ini penulisan kata tersebut bisa dilakukan dengan dua cara, bisa dipisah perkata dan bisa pula dirangkaikan. Contoh. ْ ِْ و خْْر ْ الر َّْا هر innallāha wa - ا َّ هللا ل lahuwa khair ar rāziqīn -wa innallāha lahuwa khairur rāziqīn Penulisan innallāha digabungkan, karena ia merupakan dua kata "inna" dan "Allah". Maka ditulis menurut bacaan bukan penulisannya. Sedangkan kata " khair ar rāziqīn " berlaku dua bentuk penulisan. 9. Huruf Kapital Penulisan huruf kapital tidak didapat dalam penulisan huruf arab. Dalam transliterasi penggunaan huruf kapital tetap digunakan seperti yang berlaku dalam pedoman EYD. Di antara penulisan yang menggunakan huruf kapital adalah huruf awal pada nama diri dan awal kalimat. Bila nama diri dan awal kalimat didahului kata sandang maka yang ditulis dengan huruf kapital adalah huruf awal nama diri tersebut, bukan huruf kata sandang. Contoh: ْو ل ََّ و لر م م َّدروِ ا و مرا __ wa mā Muhammadun illā rasūla ررا و و عرر ِ ل س َّ َّو ل ب ْ رر Inna _ ا َّ ا awwala baitin wudi'a linnāsi Penggunaan huruf awal kapital untuk kata "Allah" hanya berlaku bila dalam tulisan arab-nya memang lenkap demikian dan kalau disatukan dengan kata lain sehingga ada huruf atau harkat yang dihilangkan, huruf kapital tidak digunakan. Contoh. ِ َّرا ِزق ال ا ُ ار ْ َ َخبا او ُ َّن اهللَ لَه ِ ا َ ْ ن wa - يا innallāha lahuwa khair ar rāziqīn - wa innallāha lahuwa khairur rāziqīn Sebelum melakukan alih tulisan perlu menentukan dan menetapkan pilihan terlebih dahulu, apakah sistem transliterasi atau transkripsi. Pengunaan transliterasi lebih mudah ketimbang transkripsi.11 Transliterasi adalah menyalin tek dengan mengubah ejaanya ke dalam ejaan yang lain untuk menunjukan lafal bunyi unsur bahasa yang bersangkutan.12 Lafal bunyi dalam bahasa arab ada yang berbeda dengan bentuk tulisannya. Sehingga dapat mempengaruhi arti lafal itu sendiri. Seperti contoh berikut: No . Bahas a Arab Sistem Transliter asi Sistem Transkri psi 1. اهلل عبد’ Abd Allah ‘Abdullah عبد 2. الرمحن ‘Abd al Rahman ‘Abdurraḥ mān / ‘Abd Ar Rahman حممد 3. ناصر الدين Muḥamma d Nāṣir alDīn Muḥamm ad Nāṣiruddī n الشرح 4. الكبري Al-Syarḥ al-Kabīr Asy Syarḥ al-Kabīr 5 املالية االسالم ية Al-Māliyah alIslāmiyah AlMāliyatul Islāmiyah Berdasarkan contoh di atas perlu menentukan terlebih dahulu apakah mengunakan sistem transliterasi atau transkripsi. Karena transkripsi mengalami kesulitan ketimbang transliterasi, seperti: penulisan katakata (‘Abdullah, Nāṣiruddīn, Asy Syarḥ, Al-Māliyatul, ‘Abdurraḥmān ) pada contoh di atas sudah disatukan seolah-olah sudah merupakan satu kata. Hal ini menyulitkan untuk mencari arti kata pada kamus bahasa arab, karena kata-kata tersbut tidak akan ditemukan dalam kamus. Sementara dengan sitem transliterasi dapat ditemukan dalam kamus bahasa arab bila artinya tidak timukan.

Conclusion

Transliterasi deskripsi bibliografi koleksi beraksara arab merupakan salah satu kegiatan yang mesti dilakukan oleh kataloger untuk pengolahan bahan pustaka karena ruang dan ukuran kartu katalog yang sudah standard/dibakukan sangat terbatas untuk katalogisasi koleksi berbahsa arab. Seiring dengan itu mulai tahun 1987 buku panduan trasliterasi arab-latin hasil keputusan Menteri Agama dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI sudah sangat membantu kataloger untuk melakukan transliterasi deskripsi bibliografi koleksi berbahasa arab. Namun bilamana kataloger tidak memiliki pengetahuan di bidang bahasa arab tentu mengalami kesulitan juga untuk melakukan tugas kepustakawanan mengolah koleksi berbahsa arab. Walaupun demikian dengan mencermati sejumlah istilah-istilah yang berkenaan dengan daerah deskripsi bibligrafi koleksi berbahasa arab terutama untuk daerah kepengarangan diharapkan dapat membantu melakukan pengolahan koleksi beraksara arab dengan baik