ANALISIS RESEPSI REPRESENTASI PERPUSTAKAAN UGM PADA WEBSITE PERPUSTAKAAN
Institut Agama Islam Negeri Kerinci; Institut Agama Islam Negeri Kerinci
Abstrak
Representasi perpustakaan UGM pada website perpustakaan dapat dimaknai beragam oleh penggguna dengan dipengaruhi kebutuhan informasi pengguna, pengalaman dan latar belakang pengguna itu sendiri. Hal ini merupakan masukan untuk website perpustakaan untuk mengoptimalkan lagi layanan dan kelengkapan sumber informasi yang terdapat pada situs website perpustakaan agar dapat dimaknai secara mudah dan maksimal oleh pengguna. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis resepsi. Informan yang dipilih pada penelitian ini yaitu 3 orang mahasiswa yang berasal dari semester tiga dan empat. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: website perpustakaan bertentangan dengan tuntutan perkembangan perpustakaan saat ini bahwa perpustakaan sudah banyak menekankan fungsi social space dari pada hanya sebagai sumber informasi. Website perpustakaan seharusnya juga tidak direpresentasikan sebagai tempat pengaksesan informasi yang terbatas seperti layanan fitur ETD yang hanya terdapat abstrak/judul skripsi, tesis/disertasi saja. Sementara untuk penelusuran informasi secara online, website perpustakaan dapat digunakan dengan mudah dan dapat memenuhi kebutuhan informasi pengguna seperti adanya data base jurnal online untuk membantu pembuatan tugas dan tesis mahasiswa. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa situs website perpustakaan UGM membawa kemudahan dalam pengaksesan sumber informasi dan layanan perpustakaan, hanya saja kadang informasi yang disajikan tidak dapat mudah dipahami dan diakses full text oleh penguna seperti koleksi skripsi, tesis, dan disertasi.
Abstract
UGM library representation on the library website can be interpreted in a variety of ways by users depending on the user's information needs, experience and user background. This is an input for the library website to optimize the service and completeness of the information sources contained on the library website so that it can be interpreted easily and maximally by users.This study uses a qualitative approach with the reception analysis method. The informants selected in this study were 3 students from the third and fourth semesters. The results of this study indicate that: the library website contradicts the demands of the current library development that libraries have emphasized the function of social space rather than just as a source of information. The library website should also not be represented as a place for accessing limited information such as the ETD feature service which only contains abstracts / thesis titles, theses / dissertations only. Meanwhile, for online information retrieval, the library website can be used easily and can meet user information needs such as an online journal database to assist student assignments and theses. The results of this study, it can be concluded that the UGM library website makes it easy to access information sources and library services, it's just that sometimes the information presented cannot be easily understood and accessed in full text by users such as a collection of theses, theses, and dissertations.
Keywords:
Reception Analysis
· Library Website
· UGM
· Encoding Decoding
Introduction
Perpustakaan merupakan suatu satuan kerja organisasi, badan atau lembaga. Satuan unit kerja tersebut dapat berdiri sendiri, tetapi dapat juga merupakan bagian dari organisasi diatasnya yang lebih besar. Perpustakaan yang berdiri sendiri seperti perpustakaan umum, Unit Pelaksana Teknis perpustakaan pada universitas, dan perpustakaan nasional. Sedangkan, perpustakaan yang merupakan bagian dari suatu organisasi yang lebih besar seperti perpustakaan khusus atau kedinasan, dan perpustakaan sekolah. (Wiji Suwarno 2011). Perkembagan pesat teknologi dan media pada saat ini telah menggiring organisasi atau lembaga perpustakaan tersebut menjadi salah satu organisasi atau lembaga yang termediatisasi mungkin karena lembaga perpustakaan termasuk kedalam lembaga konsumsi informasi ruang publik. Mediatisasi adalah proses yang memperkuat dan memperluas ranah budaya media” (Jansson, 2002). Media massa membantu mengubah masyarakat agraris dan feodal dan menciptakan lembaga-lembaga modern seperti negara, ruang publik dan ilmu pengetahuan. Teori mediatisasi harus mampu menggambarkan tren perkembangan keseluruhan dalam masyarakat di seluruh konteks yang berbeda dengan cara analisis menunjukkan dampak media pada berbagai lembaga dan bidang aktivitas manusia. Mediatisasi mengacu pada komunikasi melalui media, intervensi yang dapat mempengaruhi pesan dan hubungan antara pengirim dan penerima. Sebagai contoh, jika seorang politisi memilih untuk menggunakan blog bukan koran untuk berkomunikasi dengan konstituen nya, transformasi berturut-turut catur dari papan catur fisik untuk permainan komputer. Mediatisasi dalam arti kontemporer mengacu pada alam semesta di mana makna divisi ontologis runtuh, divisi antara fakta dan fiction, alam dan budaya, global dan lokal, ilmu pengetahuan dan seni, teknologi dan kemanusiaan (Brown, 2003). Bentuk contoh kasus mediatisasi pada perpustakaan adalah adanya website perpustakaan yang dinamis dan menarik yang menjadi tuntutan perkembangan teknologi dengan adanya menumenu interaktif bagi pengguna seperti website perpustakaan UGM Yogyakarta. Website perpustakaan UGM adalah salah satu layanan yang diperoleh pengguna dalam memanfaatkan dan mengeksplorasi koleksi yang dimiliki oleh sebuah perpustakaan dengan menggunakan jaringan internet. Website perpustakaan UGM biasanya bertujuan untuk mempermudah pengguna untuk mencari koleksi yang dimiliki oleh perpustakaan tanpa harus melakukan kunjungan secara fisik ke perpustakaan tersebut. Dengan demikian keberadaan perpustakaan UGM menjadi lebih nyata dan lebih dekat pada pengguna menggantikan pertemuan face-to-face atau fisik dari pustakawan dan pemustaka. Namun setiap mahasiswa mempunyai pemaknaan yang berbeda terhadap situs website tersebut. Menu upload tugas akhir, menu katalog dan koleksi, pencarian koleksi yang simpel, database jurnal online, menu histori peminjaman, dan perpanjang masa pinjam adalah upayaupaya untuk mengubah pengaksesan sumber-sumber informasi yang ada diperpustakaan, tidak perlu datang ke perpustakaan. Melalui sajian menu pada web ini akan mengurangi resiko koleksi rusak, di sinilah mediasi perpustakaan hadir pada penggunanya. Ada yang memanfaatkan situs ini secara maksimal namun juga ada yang tidak dapat memanfaatkan website tersebut dengan baik. Dalam hal ini dapat dinyatakan bahwa pada website UGM terdapat proses encod-decode yang berbeda antara website dengan pengguna atau pemustaka. Dengan adanya mediatisasi perpustakaan tersebut membangun pemaknaan pesan yang berbeda antar individu dalam menggunakan atau berinteraksi dengan media website perpustakaan. Berdasarkan hal tersebut peneliti ingin mengetahui bagaimanakah pemaknaan dari penggunaan website perpustakaan UGM oleh pengguna? KAJIAN PUSTAKA Kata resepsi merupakan dari recipere (Latin), reception (Inggris) yang berarti yaitu penerimaan atau pemaknaan pembaca. Secara lebih luas dapat dirtikan sebagai pengolahan teks dan cara-cara pemberian makna terhadap sebuah tayangan dari media, sehingga memberi respon atau tanggapan dari tampilan media. Definisi resepsi secara umum yaitu sebagai pemaknaan yang berdasarkan pada respon pembaca terhadap sebuah karya tulis, dari hal ini dapat diambil kesimpulan, jika resepsi merupakan disiplin ilmu yang melakukan kajian terhadap teks ataupun kata yang berfokus pada peran pembaca dalam merespon tulisan tersebut dan membuat respon atau reaksi. Pada awalnya resepsi merupakan keilmuan yang mengkaji tentang peran pembaca dalam sebuah karya, hal ini dikarenakan peran pembaca dalam sebuah karya sebagai penikmat dan konsumen yang dapat memberikan respon serta penilaian terhadap suatu karya sehingga sebuah karya dapat dikatakan memiliki nilai yang tinggi dilihat dari seberapa besar respon dari penikmat karya. The Shorter Oxford English Dictionary menyatakan dua pengertian dari resepsi yakni (Hasfi, 2011): a. Merepresentasikan sesuatu adalah mendeskripsikannya, memunculkan gambaran atau imajinasi dalam benak kita, menempatkan kemiripan dari obyek dalam pikiran/ indera kita. b. Merepresentasikan sesuatu adalah menyimbolkan, mencontohkan, menempatkan sesuatu, penggantikan sesuatu, seperti dalam kalimat ini; bagi umat Kristen, Salib merepresentasikan penderitaan dan penyalipan Yesus. Teori representasi sendiri dibagi dalam tiga teori atau pendekatan yaitu (1) reflective approach yang menjelaskan bahwa bahasa berfungsi seperti cermin yang merefleksikan arti yang sebenarnya. Misalnya, mawar ya berarti mawar, tidak ada arti lain. (2) Intentional approach, dimana bahasa digunakan mengekspresikan arti personal dari seseorang penulis, pelukis, dll. Pendekatan ini memiliki kelemahan, karena menganggap bahasa sebagai permainan privat (private games) sementara disisi lain menyebutkan bahwa esensi bahasa alah berkomunikasi didasarkan pada kode-kode yang telah menjadi konvensi di masyarakat bukan kode pribadi. (3) Constructionist approach yaitu pendekatan yang menggunakan sistem bahasa (language) atau sistem apapun untuk merepresentasikan konsep kita (concept). Pendekatan ini tidak berarti bahwa kita mengkonstruksi arti (meaning) dengan menggunakan sistem representasi (concept dan signs), namun lebih pada pendekatan yang bertujuan mengartikan suatu bahasa (language) (Hasfi, 2011). Dari sisi pembaca menurut Cultural Transformation: The Politics of Resistence, Morley terdiri atas tiga posisi hipotetis pembaca dalam memberikan respon terhadap sebuah teks (media sosial) dalam melakukan penerimaan yakni: a) Dominant atau “hegemonic” reading: pembaca ataupun pengguna media sosial dalam hal ini memiliki pemikiran yang berbanding lurus dengan teks yang di sebar di media sosial sehingga menerima pesan yang disebarkan sepenuhnya yang menciptakan efek dominan pada penerimaan khalayak media. b) Negotiated reading: pembaca ataupun pengguna media sosial dalam hal ini pada dasarnya menyetujui konten serta teks yang dibaca melalui media sosial akan tetapi netizen sebagai pengguna masih menyaring lagi informasi yang didapatkan dan dimodifikasi sesuai pengalaman hidup mereka sebelum melakukan interpretasi, sehingga efek yang disebarkan tidak terlalu dominan yang berimbas pada penerimaan yang tidak terlalu besar. c) Oppositional “counter hegemonic” reading: pembaca tidak sejalan dengan konten yang dibaca dan disebar didalam media sosial sehingga mereka melakukan penolakan terhadap makna yang disebar untuk kemudian mereka menciptakan analisis sendiri dalam melakukan interpretasi sebagai alternatif pilihan dalam penerimaan pesan yang disebarkan, sehingga efek teks yang disebar tidak memiliki kekuatan karena adanya penolakan dari khalayak media sebagai pengguna.
Method
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan menggunakan metode analisis resepsi. Penelitian kualitatif merupakan penelitian yang menghasilkan temuan-temuan yang tidak dapat diukur atau dicapai dengan prosedur statistik, atau dengan cara-cara yang bersifat kuantifikasi (Ghony, 2012). Sedangkan pendekatan analisis resepsi atau reception analysis menurut Stuart Hall (1973) yaitu studi tentang makna, produksi dan pengalaman khalayak dalam berinteraksi dengan teks media (Hall, 1973). Analisis ini mendasarkan pada kesadaran atau cara subjek dalam memahami obyek dan peristiwa dengan pengalaman individu. Analisis resepsi dapat melihat mengapa khalayak memaknai sesuatu secara berbeda, bagaiamanakah cara mereka memaknai, faktorfaktor psikologis dan sosial apa yang mempengaruhi perbedaan tersebut, dan konsekuensi sosial apakah yang muncul? Dalam penelitian ini pengumpulan data menggunakan metode FGD (Fokus Group Discussion). FGD merupakan metode pengumpulan data dengan cara wawancara kelompok yang dapat membawa beberapa perspektif yang berbeda ke dalam satu tempat (Ghony, 2012). Pemilihan sampel dalam penelitian ini menggunakan metode purposive sampling. Purposive sampling merupakan teknik pemilihan sampel dengan menggunakan pertimbangan tertentu, sesuai kriteria dan sesuai topik penelitian kita (Martono, 2014). Adapun informan yang dipilih yaitu: a. Mahasiswa Sekolah Pascasarjana UGM b. Mahasiswa semester proposal dan tesis. c. Pengguna yang sering mengakses website perpustakaan minimal dua minggu sekali d. Pengguna yang menggunakan fasilitas situs website perpustakaan UGM e. Mereka yang sudah pernah melakukan download jurnal pada database perpustakaan UGM
Result & Discussion
a. Situs website Perpustakaan UGM Website merupakan suatu halaman yang berisi informasi yang dapat direpresentasikan dalam bentuk dokumen, text, gambar, dan lainya. Setiap halaman website memiliki link-link yang berfungsi menghubungkan halaman satu dengan halaman lainya (Yunita Sari 2010). Website adalah sistem untuk mengakses, manipulasi, dan mengunduh dokumen hipertext yang terdapat di komputer yang dihubungkan melalui internet, jejaring, jaringan (KBBI 1998 dalam Yunita). Gambar 1 Website Perpustakaan UGM Sumber: Website 1. Representas website perpustakaan sebagai tempat penelusuran informasi 2. Representasi website perpustakaan sebagai interaktivitas user to system 3. Representasi website perpustakaan sebagai interakstivitas user to user 4. Representasi website perpustakaan sebagai interaktivitas user to document 5. Representasi website sebagai penelusuran informasi perpustakaan secara online dengan fitur yang mudah digunakan. b. Data Informan Dalam penelitian ini peneliti memilih 3 orang informan yang terdiri dari angkatan 2015 dan 2016. Informan ini dipilih berdasarkan kriteria bahwa mereka pernah mengakses situs website pepustakaan UGM. Adapun data informan sebagai berikut: Tabel Data Informan Nam a NIM Angkat an Semes ter Mufida 2015 4 Mifta h khulzannah 3920430 2015 3 Elok Pinar ingsi h 3953/KR/MEP/2 016 2014 4 Sumber: Wawancara c. Proses Encoding Decoding dalam Penerimaan Pesan Pada tulisannya Stuart Hall menjelaskan tiga hal penting dalam model komunikasi masa yaitu: 1. Makna bukan hanya yang tetap atau ditentukan oleh pengirim pesan, 2. Pesan tidak pernah transparan, 3. Penonton tidak menerima makna secara pasif. Hall juga menjelaskan mengenai proses encoding dan decoding dalam proses penyampaian pesan. Encoding yaitu proses produksi pesan dan decoding yaitu proses penerimaan pesan. Hubungan antara encoding dan decoding ini merupakan hal yang menjadi perantara atara produsen makna dan pandangan penerima pesan (Hall, 2004). Secara lebih jelas kita dapat melihat gambar sebagai berikut: Gambar 2 Encoding dan Decoding Sumber: Hall, 2004 Pada titik tertentu, struktur penyiaran harus menghasilkan pengkodekan pesan dalam bentuk wacana yang penuh makna dengan bahasa yang disadari penerima. Sebelum sebuah pesan memberikan sebuh efek, memenuhi kebutuhan atau digunakan, sebuah pesan harus disesuaikan dengan wacana yang bermakna saat diterjemahkan. Inilah pesan yang bermakna dan memiliki efek, pengaruh, menghibur, memiliki intruksi untuk mempengaruhi persepsi dan perilaku si penerima pesan. Dalam praktik penerimaan pesan oleh penonton ini tidak dapat dipahami dalam perilaku sederhana, hal ini perlu dipelajari secara khusus dibantu oleh struktur pemahaman, hubungan sosial, kelompok, dalam membentuk realitas pesan yang disajikan. Atas dasar itu pada struktur 1 dan struktur 2 mungkin pesan yang ingin disampaikan dan diterima tidak sama. Hal ini dapat diakibatkan dari tingkat pemahaman atau ketidakpahaman dalam proses komunikasi yang terjadi, antara produser makna (encoder) dengan penerima pesan (decoder). d. Posisi Khalayak dalam Penerimaan Pesan Dalam proses decoding Hall (1973) membedakan posisi penonton dalam tiga kategori, yaitu 1. Dominant hegemonic position, yaitu posisi dimana penonton memahami isi pesan secara apa adanya. Dengan kata lain, penonton sejalan dengan kode dominan yang dari awal berusaha dibangun oleh pengirim pesan. 2. Negotiated position, yaitu merupakan posisi kombinasi. Pada satu sisi, penonton mampu menangkap kode dominan yang ada di dalam teks (tayangan televisi), namun pada saat bersamaan penonton juga melakukan penolakan dengan menyeleksi mana yang cocok atau tidak. 3. Oppositional position, yaitu posisi dimana penonton tidak hanya mengerti mengenai makna denotatif dan konotatif sebagai abstraksi dari pesan yang disampaikan, tetapi mereka juga menunjukkan sikap yang bertolak belakang dengan isi pesan. Adanya perbedaan posisi penerima pesan ini tentunya dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti bagaimana pengalaman mereka, latar belakang dan berbagai hal lainnya. 1) Representasi website perpustakaan sebagai tempat penelusuran informasi Penelusuran informasi digital atau elektronik merupakan satu metode penelusuran informasi yang menggunakan teknologi informasi dan computer terutama untuk keperluan penelusuran koleksi atau sumber-sumber informasi yang berupa file elektronik atau digital. Sehingga pada penelusuran informasi digital atau elektronik ini, apa yang dicari dan alat yang digunakan untuk dicaripun samasama merupakan hasil dari sebuah pengembangan teknologi informasi dan komputer yang berupa digital atau elektronik. Pada representasi website perpustakaan sebagai tempat penelusuran informasi terdapat jawaban yang selaras dan positif dari ketiga informan sebagai berikut: Mufida : Ya setuju, website perpustakaan kan memang untuk tempat penelusuran informasi terutama untuk informasi yang up to date tentang penelitianpenelitian seperti yang ada di database jurnal perpustakaan. Miftah : Iya sama saya juga setuju, website perpustakaan sebagai tempat penelusuran informasi yang mudah utuk diakses tanpa repot-repot datang ke perpustakaan. Elok : Saya juga berpendapat setuju kalau website perpustakaan sebagai penelusuran informasi online yang bisa diakses dimanapun dan kapanpun tanpa harus terbatas waktu dalam melakukan penelusuran informasinya. 24 jam kita bisa nangkring ya aksesakses bahan untuk menyelesaikan tugas ataupun tesis. Kebetulan saya sudah mau sidang ini. Pada bagian ini sangat terlihat jelas bahwa ketiga informan Mufida, Miftah dan Elok berada pada posisi dominant yang setuju bahwa website perpustakaan sebagai tempat penelusuran informasi online yang up todate, mudah untuk diakses, akses tanpa batas atau efektif dan efisien dalam penggunaannya. Fakta ini senada dengan pendapat Sulistyo-Basuki (1992) menyatakan bahwa penelusuran informasi merupakan bagian dari sebuah proses temu kembali informasi yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan pemakai akan informasi yang dibutuhkan, dengan bantuan berbagai alat penelusuran dan temu kembali informasi yang dimiliki perpustakaan/ unit informasi seperti adanya website dan OPAC di perpustakaan. 2) Representasi website perpustakaan sebagai interaktivitas user to system Menurut McMilan User to system merupakan interaktivitas yang berarti interaksi dengan teknologi web, seperti mengunduh, me-link ke fitur tertentu dan meng-klik. Komunikasi ini bersifat satu arah yaitu pengunjung berinteraksi fitur yang ada di fans pages. Contoh: polling, download dll. Pada representasi website perpustakaan sebagai interaktivitas user to system terdapat hasil yang sama antara 3 informan yaitu berdasarkan jawaban sebagai berikut: Mufida : Ya setuju, karena saya sering mengunduh koleksi artikel jurnal, sering link ke fitur website yang lain juga seperti saya juga sekalian buka ETD ya untuk melihat katalog dan penelitian tesis terbaru misalnya. Miftah : Setuju sih saya juga sering men-download jurnal yang saya butuhkan untuk menyelesaikan proposal dan bahan-bahan untuk pembuatan tugas tentunya. Elok : Setujulah Mbak, saya juga banyak bahan rujukan yang download dari website perpustakaan terutama data base jurnalnya. Kebetulan tugas-tugas kuliah juga banyak disarankan cari referensi yang dari data base jurnal perpustakaan. Dari jawaban ketiga informan dapat disimpulkan bahwa berada pada posisi dominant yang setuju bahwa website perpustakaan merupakan tempat interaktivitas user to system karena ketiga informan memberikan pernyataan sering mengunduh atau download jurnal di website perpustakaan dan bahkan diantara informan juga menyatakan melakukan link ke fitur lain seperti fitur pencariaan ETD (skripsi, tesis dan disertasi). Menurut Surachman (2013) penelusuran yang dilakukan dengan dan melalui media digital atau elektronik seperti melalui OPAC (Online Public Access Catalog), Search Engine (di Internet), Database Online, Jurnal Elektronik, Reference Online, dan informasi lain yang tersedia secara elektronik/digital. Dengan demikian dari informasi elektronik yang tersedia atau ditemukan secara digital tersebut dapat dilakukan pengunduhan sesuai dengan kebutuhan informasi pengguna. 3) Representasi website perpustakaan sebagai interaktivitas user to user User to user interactivity memiliki karakteristik komunikasi antar penggunanya ataupun antar-pengguna dengan host (pengelola situs) dengan format “kirim dan respon” yang ditemukan dalam pesan singkat, chat yang dimoderasi dan juga forum diskusi. Tingkatan ini menunjukkan hubungan kedekatan yang terbangun antara pengunjung fans pages dengan pengunjung lainnya, hal tersebut terlihat dari adanya keterkaitan satu pesan dengan pesan yang lainnya. Kondisi ini sesuai dengan teori yang diungkapkan McMillan (dalam Boer, 2013) yang menyebutkan bahwa interaksi antar-user ditunjukkan secara jelas dengan melakukan komunikasi pada media baru dengan jalan saling berkaitan dengan pesan yang berhubungan satu sama lain. Pada Representasi website perpustakaan sebagai interaktivitas user to user terdapat jawaban yang sama dari ketiga informan dengan jawaban sebagai berikut: Mufida : Tidak,saya tidak setuju bahwa website perpustakaan sebagai interaktivitas user to user karena saya sendiri tidak mengerti dan bahkan tidak pernah melihat fitur diskusi ada pada situs website perpustakaan UGM. Miftah : Ya saya tidak setuju sayapun tidak tahu adanya fitur tersebut di website perpustakaan dan saya tidakpernah melakukannya.Walaupun ada mungkin saya tidak akan menggunankan karena saya merasa gak adamasalah siih Elok : Tidak setuju, saya gak pernah ikut komentar bahkan tidak paham Mbak ada dimana dan gimana caranya.fikir gak ada lo Mbak. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa masing-masing informan Mufida,Miftah dan Elok pada posisi oppositional, dimana mereka sama-sama melakukan penolakan terhadap sistem yaitu representasi website perpustakaan sebagai interaktivitas user to user. Hal tersebut karena semua informan tidak mengerti, tidak menggunakan dan bahkan tidak mengetahui adanya fitur tersebut di website perpustakaan. Padahal menurut (Carpenter, 2011) perpustakaan sekarang ini bukan sekedar tempat belajar yang tenang, namun perpustakaan sekarang ini lebih berorientasi pada “social space” yang memfasilitasi user berdiskusi, membahas suatu isu bersama atau belajar secara berkelompok. 4) Representasi website perpustakaan sebagai interaktivitas user to document User to document interaksi kali ini terjadi dalam konstruksi yang terbagi dalam pesan website, seperti bagaimana pengguna berinteraksi dengan suatu website dengan cara mem-posting komentar. Menurut McMillan ( dalam Boer, 2013), interaksi ini melibatkan ”penciptaan ulang”, isi atau konten yang dilakukan oleh host ketika ia memposting informasi atau menyajikan informasi yang dapat mengubah isi pesan dari situs tersebut. Tahapan ini adalah kebebasan pengguna dalam menginterpretasikan, memodifikasi pesan yang disampaikan admin sesuai dengan kebutuhan pengguna. Steuer (dalam Boer, 2013) menyatakan interaktivitas sebagai kemampuan pengguna dalam mengontrol dan memodifikasi pesan. Pada representasi situs website perpustakaan sebagai interaktivitas user to document terdapat jawaban yang beragam antara ketiga informan sebagai berikut: Mufida : Saya tidak setuju bahwa situs website perpustakaan sebagai interaktivitas user to document karena saya sendiri tidak tahu fitur tersebut pada situs website perpustakaan UGM. Miftah : Saya tidak setuju, karena saya tidak pernah menggunakan fitur tersebut di website perpustakaan. Walaupun ada mungkin saya tidak akan menggunankannya karena saya merasa gak ada masalah siih Elok : Setuju sih, karena saya pernah memposting komentar di fitur anspirasinya UGM. Saya rasa itu lumayan bagus lo, setidaknya kalau ada kendala atau masukan bisa kita sampaikan untuk perbaikan website perpustakaan juga. Dari ketiga jawaban yang beragam tersebut dapat diposisikan Mufida dan Miftah yang berada pada posisi oppoitional yang tidak setuju melakukan penolakan bahwa situs website perpustakaan dapat direperesentasikan sebagai interaktivitas user to document. Sementara sebaliknya ada yang menarik mahasiswa pada posisi dominant yaitu Elok yang menjelaskan bahwa pada situs website perpustakaan terdapat fitur Anspirasi yang sangat bagus digunakan untuk memberikan masukan untuk perbaikan situs website mejadi lebih baik, paham menggunakanfiturnya dan pernah menggunakan fitur tersebut sedangkan dua informan lainnya tidak paham dan bahkan tidak mengetahui akan adanya fitur tersebut di website perpustakaan UGM. 5) Representasi website sebagai tempat penelusuran dan penyedia informasi lengkap koleksi perpustakaan secara online dengan fitur yang mudah digunakan. Menurut Surachman (2013) beberapa hal terkait dengan penelusuran melalui media elektronik/online bahwa perkembangan teknologi informasi khususnya komputer telah membawa kemudahan tersendiri dalam proses penelusuran informasi secara elektronik dan atau online. Pemakai/ pengguna dan staf perpustakaan mempunyai kesempatan lebih banyak untuk mendapatkan informasi baik berupa informasi tercetak maupun digital dengan cara yang lebih mudah dan cepat. Apalagi dengan adanya internet, pemakai dan staf perpustakaan dimanjakan untuk meraih lebih besar lagi informasi yang dibutuhkan dari berbagai sumber informasi atau lembaga penyedia informasi atau perpustakaan di seluruh dunia. Pada representasi situs website sebagai penelusuran informasi perpustakaan secara online dengan fitur yang mudah digunakan terdapat jawaban yang beragam dari ketiga informan sebagai berikut: Mufida : Saya tidak setuju bahwa website perpustakaan sebagai tempat penelusuran dan penyedia informasi lengkap koleksi perpustakaan secara online misalnya seperti ETD advanced-nya kadang susah digunakan karena skripsi, tesis dan disertasi disana hanya abstrak dan ada yang hanya judulnya saja. Jadi kalau mau full text kita harus datang juga ke perpustakaan. Jadinya ribet juga, kalau untuk fitur sih menurut saya sangat mudah sekali untuk dipelajari dan digunakan karena juga terdapat panduan dalam situs website. Miftah : Kalau menurut saya sih dikatakan kurang setuju juga ya, contoh skripsi, tesis dan disertasi lah atau buku kan kita juga masih harus datang ke perpusatkaannya untuk mengambil full text atau fisiknya. OPAC pun saya tidak paham bahkan tidak pernah menggunakannya.Saya menggunkan website perpustakaan hanya untuk mengakses jurnal adata base saja. Fiturnya mudah digunakan dan dipahami siih Elok : Setuju, karena saya kebanyakan butuh informasinya di database jurnal online saja ya dan saya rasa itu sudah lengkap kok. Mau minjam buku kan bisa lewat website juga atau akses skripsi, tesis dan disertasi mungkin karena saya sering menggunakan ya udah pengalaman jadi mudah aja rasanya semua fitur yang terdapat diwebsite UGM. Dapat disimpulkan berdasarkan jawaban informan diatas bahwa representasi website perpustakaan sebagai tempat penelusuran dan penyedia informasi lengkap koleksi perpustakaan secara online dengan fitur yang mudah digunakan terdapat posisi oppositional pada Mufida dan Miftah karena mereka menolak akan adanya representasi tersebut pada website dengan alasan dan bahkan ada yang tidak dapat atau suasah dalam menggunakan ETD, tidak pernah melakukan peminjaman dan pengembalian buku di website perpustakaan dan tidak pernah menggunakan OPAC pada jawaban perptanyaan yang sebelumnya. Informan ke 3 malah sebaliknya berada pada posisi dominant, dia dapat melakukan akses pencarian jurnal, peminjaman dan pengembalian buku karena sering menggunakan website tersebut. Sedangkan untuk fitur semuanya dominat menyatakan bahwa fitur website perpustakaan sangat mudah untuk digunakan.
Conclusion
Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa situs website perpustakaan UGM membawa kemudahan dalam pengaksesan sumber informasi dan layanan perpustakaan, hanya saja kadang informasi yang disajikan tidak dapat mudah dipahami dan diakses full text oleh penguna seperti koleksi skripsi, tesis, dan disertasi. Fitur-fitur yang terdapat pada situs website sangat mudah untuk dipahami pengguna hanya saja ada beberapa fitur yang tidak awam dan tidak bisa digunakan oleh pengguna sesuai dengan kebutuhan informasinya. Seperti fitur anspirasi dan belum adanya tempat diskusi pada website perpustakaan. Sebenarnya ini sangat bertentangan dengan tuntutan perkembangan perpustakaan dengan keadaan saat ini bahwa perpustakaan sudah banyak yang lebih menekankan fungsi social space. Namun secara keseluruhan penerima pesan seperti yang telah dijelaskan dapat dengan mudah menerima pesan yang disampaikan lewat website perpustakaan meskipun ada beberapa hal yang tidak bisa diterima dengan alasan pengalaman karena tidak pernah/sering menggunakannya contoh fitur anspirasi dan fitur peminjaman dan pengembalian buku. Terkait penelusuran informasi secara online dari ketiga informan dapat menangkap dengan mudah pesan yang disampaikan misalnya dari hasil rangkuman ketiga informan tersebut Mufida, Miftah dan Elok banyak melakukan penelusuran informasi, dan mengunduh pada data base jurnal online perpustakaan untuk pembuatan tugas, dan tesis mereka. Dengan demikian ditarik kesimpulan bahwa posisi penerima pesan dalam penelitian ini berbeda atau beragam karena adanya perbedaan akan kebutuhan informasi, perbedaan pengalaman, dan perbedaan akan latar belakang masing-masing informan