Kembali
16
1
2025 Tik Ilmeu: Jurnal Ilmu Perpustakaan dan Informasi Vol 9 · 1 ISSN 2580-3662

Pengelolaan Koleksi Audiovisual Di Era Digital: Studi Kasus Perpustakaan Nasional Republik Indonesia

Universitas Bengkulu; Universitas Bengkulu; Universitas Bengkulu

Abstrak

Di era digital yang semakin berkembang pesat, akses terhadap informasi dan pengetahuan tidak lagi terbatas oleh ruang dan waktu. Transformasi digital yang melibatkan konversi data fisik menjadi format digital telah mengubah cara orang mengakses informasi khususnya dalam melakukan pengelolaan koleksi audiovisual di perpustakaan nasional. tujuan penelitian ini untuk mengetahui bagaimana langkah-langkah dalam melakukan pengelolaan koleksi audiovisual di perpustakaan nasional. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Kegiatan penelitian dilakukan di perpustakaan nasional republik indonesia. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil ini memberikan pemahaman dan penjelasan mengenai langkah-langkah dalam melakukan pengelolaan audiovisual di era digital saat ini melalui tahapan pemeriksaan bahan pustaka, inventarisasi, klasifikasi, katalogisasi dan kelengkapan lainnya seperti penambahan labelling dan tagging dalam melakukan pengelolaan koleksi audiovisual dan dengan kemajuan teknologi ini membuka peluang untuk pengelolaan koleksi yang lebih efisien dan mudah diakses, namun di sisi lain, hal ini juga menimbulkan berbagai tantangan baru dalam aspek pelestarian, pengamanan, dan hak cipta.

Abstract

In the digital era which is increasingly developing rapidly, access to information and knowledge is no longer limited by time and space. Digital transformation, which involves converting physical data into digital format, has changed the way people access information, especially in managing audiovisual collections in national libraries. The aim of this research is to find out the steps in managing audiovisual collections in national libraries. This research is qualitative research with a descriptive approach. Research activities were carried out at the National Library of the Republic of Indonesia. Data collection techniques were carried out using observation, interviews and documentation. These results provide an understanding and explanation of the steps in managing audiovisual in the current digital era through the stages of checking library materials, inventory, classification, cataloging and other completeness such as adding labeling and tagging in managing audiovisual collections and with the advancement of technology this opens up opportunities for more efficient and easily accessible collection management, but on the other hand, this also raises various new challenges in terms of preservation, security, and copyright.
Keywords: Library Management · Management Of Audiovisual Collection · digital era

Introduction

A. Pendahuluan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia adalah lembaga pemerintah berfungsi sebagai pusat pengelolaan dan penyedia informasi serta sumber daya perpustakaan di Indonesia. Didirikan pada tahun 1980 melalui Keputusan Presiden No. 41 Tahun 1980. Perpustakaan Nasional merupakan milik pemerintah Republik Indonesia, Beralamat di Jalan Medan Merdeka Selatan nomor 11, Kota Jakarta, dengan sebagian besar kantornya terletak di Jalan Salemba Raya No. 28A. Gedung Perpustakaan Nasional Republik Indonesia memiliki 24 lantai, adalah perpustakaan nasional tertinggi di dunia. Perpustakaan Nasional berfungsi memberikan bimbingan teknis, menyediakan fasilitas layanan yang mendukung kegiatan penelitian dan melakukan upaya pelestarian koleksi, khususnya koleksi langka dan bersejarah. Perpustakaan Nasional Republik Indonesia menyelenggarakan berbagai program dan kegiatan untuk mendukung visi dan misi yaitu mengadakan pelatihan atau workshop, pameran, diskusi dan seminar. Perpustakaan Nasional Republik Indonesia terus berinovasi dengan memanfaatkan teknologi informasi. Salah satunya yaitu dalam layanan koleksi audiovisual di era digital saat ini. Di era digital yang semakin berkembang pesat, Informasi dan pengetahuan sekarang tidak lagi terbatas oleh ruang dan waktu. Transformasi digital yang melibatkan konversi data fisik menjadi format digital telah mengubah cara orang mengakses informasi. Transformasi digital didefinisikan sebagai penggunaan teknologi digital yang secara radikal dapat meningkatkan dan mencapai kinerja serta tujuan perusahaan yang diharapkan (Royyana, 2018). Di satu sisi, kemajuan teknologi ini membuka peluang untuk pengelolaan koleksi yang lebih efisien dan mudah diakses, tetapi di sisi lain, hal ini juga menimbulkan berbagai tantangan baru dalam aspek pelestarian, pengamanan, dan hak cipta. Di tengah pesatnya perkembangan teknologi yang cepat di era digital saat ini layanan digital telah dibuat oleh Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, seperti situs web resmi, mengizinkan pengguna untuk mengakses buku dan dokumen secara digital dalam layanan koleksi audiovisual. Beberapa karakteristik audiovisual termasuk presentasi disampaikan secara linier, ditampilkan dalam bentuk animasi atau visual yang dinamis, dibuat sesuai dengan prinsip psikologi mental dan behavioristik (Suryani, 2017). Layanan koleksi audiovisual adalah salah satu layanan yang tersedia di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Layanan koleksi audiovisual menawarkan fasilitas dan teknologi yang tersedia untuk mendukung pengguna dalam mengakses dan menggunakan materi audiovisual. Media audiovisual mencakup berbagai penggunaan interaksi, seperti proyektor film, radio, televisi, grafik, poster, model, dan kunjungan lapangan (Darmuki & Hidayati, 2019). Koleksi audiovisual di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia mencakup berbagai jenis, seperti kaset pita, piringan hitam, mikrofilm, mikrofis, serta CD/DVD, baik yang baru maupun yang lama. Dalam koleksi audiovisual dari tahun 2024 ini terdapat jumlah koleksinya yaitu kaset pita 7.983 koleksi, piringan hitam 424 koleksi, mikrofilm 11.514 koleksi, mikrofis 24.338 koleksi, serta CD/DVD 20.690 koleksi. Selain itu, fasilitas tambahan seperti ruang diskusi dan teater mini yang dapat digunakan untuk menonton film bersama. Manfaat layanan koleksi audiovisual, Di antaranya, memberikan inspirasi pertama dan merangsang minat, melengkapi bahan ajar lainnya, memperkenalkan pendekatan pembelajaran yang bervariasi, mendorong perkembangan intelektual, dapat memberikan ide baru dari pengalaman yang tidak biasa, Pengguna dapat menikmati film-film edukatif dan film nasional dalam menonton secara gratis yang diadakan secara berkala. Koleksi Audiovisual sangat penting untuk mendukung penelitian para ahli dalam melengkapi tulisan dalam bentuk suara dan gambar bergerak. Layanan koleksi audiovisual di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia juga mempercepat peralihan dari perpustakaan tradisional ke perpustakaan berbasis teknologi informasi, dengan cara Menyediakan akses digital ke koleksi audiovisual melalui katalog online dan digital streaming dalam ruang layanan dan mengajarkan pengguna menggunakan peralatan digital seperti mikrofilm reader, pemutar DVD/CD, dan sistem pencarian koleksi digital. Layanan koleksi audiovisual menggunakan sistem layanan tertutup (closed access) dan sistem layanan terbuka (open access) dan terdapat beberapa kekurangan dan kelebihan dalam sistem tertutup yaitu kemungkinan kehilangan atau perobekan bahan pustaka sangat kecil, dan pada sistem layanan pengguna tertutup tidak dapat menemukan bahan pustaka di rak, oleh karena itu mereka tidak dapat menemukan bahan pustaka yang diperlukan. Akibatnya, pengguna harus menunggu lebih lama karena perlu banyak waktu dan tenaga kerja untuk memenuhi permintaan peminjaman dan menyediakan bahan pustaka yang diperlukan. Sedangkan, sistem layanan terbuka bahan pustaka dapat diambil oleh pemustaka sendiri yang diinginkan dan kelemahan dalam sistem layanan terbuka yaitu saat pemustaka melakukan browsing, tempatkan buku di rak mungkin menjadi berantakan (Syaifullah, 2024). Untuk menjaga koleksi audiovisual di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia seperti microfilm, mikrofis, kaset, dan piringan hitam tidak dapat diambil langsung dari rak penyimpanan. Sebaliknya, mereka harus mengambil melalui pustakawan dan berdasarkan temuan penelusuran pemustaka. Sistem layanan terbuka digunakan khusus untuk menyimpan gambar bergerak (film) di VCD dan DVD yang disimpan di ruang layanan. Pembelajaran melalui media audiovisual adalah metode pembelajaran yang menggunakan media yang berisi suara dan gambar dan melibatkan indra pendengaran dan penglihatan selama proses pembelajaran (Hayati & Harianto, 2017). Pengelolaan adalah proses yang mencakup perencanaan, pengorganisasian, penggerakkan, dan pengendalian yang dilakukan untuk menentukan dan mencapai tujuan dengan menggunakan sumber daya manusia dan sumber daya lainnya (Munthe, 2019). Pengelolaan koleksi audiovisual di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia melestarikan konten dari surat kabar langka yang dimuat ke dalam kertas, rekaman pertunjukan seni, teater, tari dan acara budaya lainnya, program televisi, film pendek dan animasi, dan rekaman kegiatan pendidikan. Koleksinya direplikasi atau dialihmediakan ke dalam bentuk film. alih media digital adalah alih format. Alih media menjadi bagian dari kegiatan pelestarian informasi yang terkandung dalam bahan perpustakaan (Fatmawati, 2022). Selain itu, pengelolaan koleksi audiovisual juga memerlukan perhatian terhadap masalah hak cipta dan lisensi. Banyak koleksi audiovisual yang memiliki batasan penggunaan tertentu, baik dari segi waktu maupun cakupan distribusi. Oleh karena itu, perpustakaan nasional harus menyusun kebijakan yang jelas mengenai aksesibilitas dan penggunaan koleksi audiovisual tersebut, agar tetap menghormati hak cipta serta memberikan manfaat yang optimal bagi masyarakat. Pengelolaan koleksi audiovisual di perpustakaan nasional bukan hanya menjadi masalah teknis, tetapi juga melibatkan aspek kebijakan, sosial, dan budaya. Hal ini menuntut perpustakaan untuk berinovasi dan berkolaborasi dengan banyak pihak, termasuk pemerintah, sektor swasta, serta masyarakat umum, dalam rangka menciptakan sistem pengelolaan koleksi audiovisual yang efektif dan inklusif. Untuk itu, perpustakaan nasional harus menyesuaikan diri dengan kemajuan teknologi dan praktik digitalisasi, agar tetap relevan dalam melayani kebutuhan informasi masyarakat di era digital. Contoh koleksi yang sudah dialihmediakan yaitu koleksi mikrofis, mikrofilm dan CD/DVD. Koleksi audiovisual yang telah di alihmediakan fisiknya masih terdapat beberapa kekurangan dan mendapat keluhan pemustaka seperti koleksi yang sudah rusak dan tidak bisa diputar kembali, koleksi yang kurang update dan terdapat korosi pada koleksi audiovisual. Sehingga, masih terdapat koleksi audiovisual yang tidak memungkinkan lagi untuk dilayankan kepada pemustaka. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian terdahulu yaitu penelitian pertama yang dilakukan oleh Muhammad Surya Ardani dengan judul Pengelolaan Koleksi Audiovisual Dalam Efektifitas Pembelajaran Di MAN 2 Kota Bogor. Hasil penelitian ini menghasilkan kesimpulan tentang penggunaan dan pembelajaran koleksi audiovisual di setiap kelas agar dapat terfasilitasi dengan baik (Ardani, 2023). Penelitian yang kedua yaitu oleh Harist Alfaisa Hasibuan dan Rina Febrina dengan judul Optimalisasi Pengelolaan Audiovisual Menggunakan Aplikasi Capcut. Hasil Penelitian ini menjelaskan tentang kegiatan pengoptimalisasi pengelolaan koleksi audiovisual menggunakan aplikasi capcut yang memiliki kelebihan dalam penggunaan waktu yang lebih singkat dan juga penyediaan aplikasi secara gratis sehingga dalam penelitian ini dapat memberikan kontribusi pelaku pengelolaan koleksi audiovisual dalam meningkatkan kegiatan keefektivitas dalam kegiatan tersebut (Alfaisa Hasibuan & Febrina, 2023). Penelitian terdahulu ketiga yaitu oleh Abdi Mubarak Syam dengan judul Koleksi Audiovisual Sebagai Alat Promosi Budaya di Perpustakaan Korean Culture Center (KCC). Hasil penelitian ini membahas tentang koleksi audio visual sebagai alat promosi budaya di perpustakaan Korean Culture Ccenter (KCC) yang bertambah fungsi bukan hanya sebagai sarana pembelajaran dan penelitian, tetapi juga menjadi perpustakaan kedutaan besar di setiap negara (Syam, 2016). Berdasarkan penelitian terdahulu tersebut, perbedaan dengan penelitian ini yaitu terletak pada latar belakang masalah dan hasil penelitian. Penelitian ini menjelaskan tentang tahapan dalam melakukan pengelolaan koleksi audiovisual di era digital saat ini. Fokus dalam penelitian ini juga menjelaskan tentang langkah awal dalam melakukan pengelolaan koleksi audiovisual sebelum koleksi audiovisual digital sampai bisa diakses menjadi digital seperti bagaimana mengindetifikasi koleksi, pemeriksaan koleksi dan pemeriksaan metadata yang bertujuan untuk koleksi dapat diakses dengan baik. Dengan demikian, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara mendalam proses pengelolaan koleksi audiovisual di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, mulai dari identifikasi hingga alih media digital. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi dan pengetahuan tentang pengelolaan koleksi audiovisual di era digital dan hasil penelitian ini dapat digunakan untuk memberikan rekomendasi spesifik tentang bagaimana pengelolaan koleksi audiovisual di era digital saat ini.

Method

B. Metode Penelitian Penelitian kualitatif ini dilakukan dengan menggunakan metode deskriptif. Penelitian ini dilakukan di Perpustakaan Republik Indonesia yang beralamatkan di Jln. Medan Merdeka Selatan No.11 Jakarta Pusat, Indonesia. Menurut Sidiq dan Choiri (2019) penelitian kualitatif adalah pendekatan yang digunakan dalam penelitian ilmiah untuk menemukan makna, pengertian, konsep, karakteristik, gejala, simbol, atau deskripsi fenomena dengan fokus dan menggunakan berbagai teknik (Charismana et al., 2022). Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah observasi, wawancara dan dokumentasi. Peneliti melakukan observasi dengan cara mengunjungi dan mengamati secara langsung bagaimana pengelolaan koleksi audiovisual di era digital. Wawancara dilakukan dengan 6 informan yaitu pustakawan dan petugas layanan koleksi audiovisual. Digunakan untuk memberikan bukti yang jelas tentang bagaimana data dikumpulkan, diproses, dan dianalisis, sehingga penelitian dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Alasan menggunakan teknik pengumpulan data tersebut bertujuan untuk memperkuat keabsahan data. Setelah data terkumpul dan valid, diolah dengan teknik analisis data dengan mereduksi data, penyajian data dan menarik kesimpulan.

Discussion

C. Pembahasan Hasil penelitian menjabarkan tentang pengelolaaan koleksi audiovisual di era digital studi kasus Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Pada penelitian ini menggunakan teori Indreswari (2018) kegiatan pengelolaan dimulai dengan pemeriksaan bahan pustaka, inventarisasi, klasifikasi, pengatalogan dan kelengkapan lainnya (Pratiwi & Sahidi, 2021). Teori Indreswari ini menunjukkan bahwa Perpustakaan Nasional Republik Indonesia telah memulai program digitalisasi koleksi melalui bidang transformasi digital dan menyediakan layanan seperti i-Pusnas, aplikasi berbasis digital yang memungkinkan pengguna mengakses koleksi digital secara online. Hal ini menunjukkan upaya Perpusnas dalam menyediakan infrastruktur yang mendukung pengelolaan koleksi audiovisual secara efektif. Pemeriksaan Bahan Pustaka Pemeriksaan koleksi audiovisual merupakan tahap penting dalam pengelolaan dan pelestarian materi audiovisual. Proses ini bertujuan untuk memastikan bahwa koleksi tetap dalam kondisi baik, dapat diakses, dan sesuai dengan standar pengelolaan yang telah ditetapkan. Pemeriksaan dilakukan secara berkala untuk mendeteksi kerusakan, degradasi, atau masalah lainnya yang dapat mempengaruhi kualitas dan keawetan koleksi. Berikut adalah langkah umum yang dapat dilakukan dalam pemeriksaan koleksi audiovisual yaitu langkah pertama mengidentifikasi koleksi yang akan diperiksa, langkah kedua pemeriksaan fisik koleksi seperti pemeriksaan permukaan, pemeriksaan kondisi penyimpanan, dan pemeriksaaan keterbatasan fungsional. Langkah ketiga yaitu pemeriksaan kondisi teknis, pemeriksaan fisik, dan mengevaluasi kualitas teknis koleksi, yang mencakup aspek seperti gambar, suara, dan kompatibilitas format. Langkah keempat pemeriksaan metadata dan dokumentasi. Metadata mencakup informasi tentang koleksi, seperti judul, tahun pembuatan, pengarang, topik, dan format media. Akan tetapi, dalam melakukan metadata pengelolaan koleksi audiovisual terdapat beberapa tantangan seperti metadata terbatas karena isu hak cipta dan privasi untuk itu pemeriksaan metadata melibatkan keakuratan dan kompatibilitas format yang bertujuan untuk memastikan koleksi tetap dapat diakses di masa depan. Langkah yang kelima yaitu pengujian pemutaran dan aksesibilitas, koleksi audiovisual yang telah diperiksa secara fisik dan teknis selanjutnya diuji untuk memastikan dapat diputar atau diakses dengan baik. Dalam melakukan pemeriksaan koleksi audiovisual dilakukan pengujian pemutaran (untuk media fisik) jika koleksi berbentuk kaset atau film, putar koleksi tersebut dengan perangkat yang sesuai dan pengujian akses digital (untuk koleksi digital) jika koleksi berbentuk file digital, pastikan file tersebut dapat dibuka dan diputar menggunakan perangkat lunak yang kompatibel. Verifikasi bahwa koleksi bisa diakses di berbagai platform atau sistem. Inventarisasi Inventarisasi koleksi audiovisual merupakan salah satu tugas penting dalam pengelolaan perpustakaan yang bertujuan untuk koleksi pustaka tersedia, terawat, dan dapat diakses oleh pengguna dengan mudah (Nurafifah et al., 2024). Inventarisasi koleksi audiovisual adalah proses pengelolaan dan pencatatan koleksi audiovisual yang ada dalam suatu perpustakaan, arsip, atau lembaga penyimpanan informasi. Inventarisasi ini dilakukan dengan tujuan untuk memberikan gambaran lengkap mengenai koleksi yang dimiliki, kondisi koleksi, serta memastikan bahwa koleksi tersebut dapat diakses dan dikelola dengan baik. Proses ini meliputi pencatatan semua informasi terkait koleksi audiovisual, termasuk data teknis, kondisi fisik, serta metadata yang relevan. Berikut adalah langkah-langkah dalam melakukan inventarisasi koleksi audiovisual yaitu pertama menentukan kriteria inventarisasi jenis koleksi audiovisual yang akan di inventarisasi. Koleksi audiovisual bisa berupa film, rekaman audio, kaset, CD, DVD, rekaman digital, atau lainnya. Setiap jenis koleksi memiliki karakteristik yang berbeda, sehingga penting untuk menetapkan standar inventarisasi yang sesuai. Kedua yaitu persiapkan alat dan sumber daya, pastikan memiliki perangkat atau software untuk mencatat dan mengelola informasi koleksi. Software yang digunakan yaitu Archivematica yang sering digunakan oleh lembaga pelestarian digital untuk memastikan koleksi audiovisual tetap dapat diakses dan terjaga meskipun format dan media lama sudah tidak tersedia dan Open-source tools yang digunakan mengonversi video atau audio yang ada ke format yang lebih mudah diakses dan dilestarikan, seperti MP4. Akan tetapi, menggunakan Archivematica tidak semudah menggunakan aplikasi di desktop, butuh pemahaman dan pelatihan dalam staff dan pustakawan dalam menggunakan alat ini dan harus memastikan tersedia ruang dan perangkat yang diperlukan untuk memeriksa dan menyortir koleksi sehingga penggunaan Archivematica dapat berjalan secara efektif. Ketiga yaitu pelatihan tim jika inventarisasi dilakukan oleh tim, pastikan semua anggota tim memahami prosedur inventarisasi, cara mencatat data, dan cara menangani koleksi audiovisual dengan benar. Inventarisasi koleksi audiovisual adalah langkah penting dalam pengelolaan koleksi di perpustakaan atau lembaga penyimpanan informasi. Proses ini tidak hanya mencakup pencatatan data teknis tetapi juga pemeriksaan kondisi fisik koleksi dan pencatatan lokasi penyimpanan. Dengan melakukan inventarisasi yang baik, lembaga dapat memastikan bahwa koleksi audiovisual dapat diakses, dipelihara, dan dilestarikan untuk kepentingan pendidikan, penelitian, dan pelestarian budaya. Klasifikasi Klasifikasi dalam pengelolaan koleksi audiovisual merupakan suatu proses yang sangat penting untuk memudahkan pencarian, penyimpanan, dan pengelolaan koleksi. tujuan klasifikasi adalah untuk membuat bahan perpustakaan lebih mudah disusun (Hendrawati, 2017). Sehingga, akan lebih mudah dalam pencariannya oleh pemustaka. Koleksi audiovisual, yang meliputi berbagai jenis media seperti rekaman video, film, rekaman audio, dan media digital lainnya, membutuhkan sistem klasifikasi yang efektif dan efisien agar informasi tersebut dapat diakses dengan mudah oleh pengguna. Berikut adalah cara klasifikasi dalam pengelolaan koleksi audiovisual di perpustakaan nasional yaitu klasifikasi pertama yang paling dasar adalah berdasarkan jenis media atau format koleksi. Jenis media yang berbeda memerlukan pendekatan pengelolaan yang berbeda. Beberapa kategori utama dalam klasifikasi jenis media adalah film, rekaman video, rekaman audio dan media digital. Klasifikasi kedua berdasarkan subjek. Menentukan klasifikasi berdasarkan subjek dalam pengelolaan koleksi audiovisual adalah proses penting yang bertujuan untuk mengorganisir koleksi berdasarkan topik, tema, atau isi yang terkandung dalam koleksi tersebut. Hal ini memungkinkan koleksi tersebut mudah ditemukan oleh pengguna yang mencari informasi tertentu, baik untuk keperluan penelitian, pendidikan, atau hiburan. Proses ini juga membantu memastikan bahwa koleksi audiovisual dikelompokkan secara logis dan sesuai dengan kebutuhan pemustaka. Berikut adalah contoh dalam menentukan nomor klasifikasi dalam pengelolaan koleksi audiovisual yaitu subjeknya= Musik populer Indonesia: No. Klasifikasinya= Musik populer: 781.63 (Bagan DDC): 09 598 (Tabel 2= 598 untuk wilayah Indonesia). Maka untuk Musik Populer Indonesia: no. klasifikasinya: 781.630 959 8, menentukan klasifikasi berdasarkan subjek dalam pengelolaan koleksi audiovisual adalah langkah penting dalam memastikan koleksi tersebut mudah diakses dan digunakan oleh publik. Proses ini melibatkan analisis isi koleksi, pemilihan sistem klasifikasi yang tepat, dan pembuatan metadata yang sesuai. Dengan pendekatan yang cermat, koleksi audiovisual dapat diorganisir dengan baik, sehingga memudahkan pencarian dan pemanfaatan materi oleh pemustaka. Katalogisasi Katalogisasi adalah proses merekam informasi bibliografi seperti pengarang, judul, tempat terbit, penerbit, tahun terbit dalam bahan pustaka. (Su'udi, 2014) Pengatalog mengidentifikasi judul, penerbit, dan tahun produksi. Koleksi Audiovisual jarang ditemui pengarang dan nomor penerbitan. Untuk komponen atau durasi menggantikan jumlah halaman. Pedoman yang digunakan dalam pengatalogan Anglo-American Cataloguing Rules (AACR) dan Resource Deciption & Access (RDA). Langkah pertama dalam katalogisasi adalah melakukan identifikasi terhadap setiap koleksi audiovisual yang ada. Setiap koleksi perlu dideskripsikan secara jelas untuk memastikan bahwa pengelola dan pengguna dapat memahami isi dan karakteristik koleksi tersebut. Langkah-langkah yang perlu dilakukan dalam proses ini adalah memberikan judul yang tepat dan representatif untuk koleksi audiovisual, yang dapat mencerminkan isi koleksi, menyediakan ringkasan tentang isi koleksi, tema utama, atau konteks koleksi tersebut. Misalnya, jika koleksi tersebut adalah film dokumenter, deskripsi bisa mencakup informasi tentang subjek film dan tujuan dokumentasi, menambahkan kata kunci yang relevan yang mencerminkan tema, topik, atau konten spesifik yang ada dalam koleksi. Misalnya, untuk koleksi dokumentasi sejarah, kata kunci bisa berupa "kemerdekaan", "perang dunia", atau "sejarah Indonesia", mencatat tanggal pembuatan atau periode rekaman, yang penting untuk koleksi audiovisual yang terkait dengan peristiwa sejarah atau konteks tertentu. Setelah katalogisasi selesai, koleksi audiovisual perlu disimpan dengan rapi dan dapat diakses sesuai dengan nomor panggil dan kategori yang telah ditentukan. Dalam hal koleksi digital, ini berarti menyimpan file audiovisual di server atau cloud, dan memberikan akses ke koleksi melalui sistem manajemen koleksi digital yang sudah terintegrasi dengan katalog. Kelengkapan Lainnya Penambahan labelling atau tagging dalam pengelolaan koleksi audiovisual adalah salah satu langkah penting untuk meningkatkan aksesibilitas dan pencarian koleksi. Label atau tagging berfungsi sebagai kata kunci atau deskripsi tambahan yang memberikan informasi lebih lanjut mengenai isi koleksi audiovisual, sehingga koleksi tersebut dapat ditemukan dengan lebih mudah dan cepat dalam sistem katalog atau manajemen koleksi. Labelling dalam pengelolaan koleksi audiovisual merujuk pada proses memberikan label atau penandaan pada setiap item koleksi untuk memudahkan identifikasi, klasifikasi, dan akses oleh pengguna. Label ini umumnya mencakup informasi penting mengenai koleksi yang berkaitan dengan konten, format, subjek, dan atribut lain yang relevan. Proses labelling yang efektif akan meningkatkan efisiensi pengelolaan koleksi, memungkinkan pencarian yang lebih cepat, serta mempermudah pemeliharaan dan pelestarian koleksi tersebut. Sedangkan beberapa sistem manajemen koleksi digital (seperti Digital Asset Management System (DAMS) atau Content Management Systems (CMS) menyediakan fitur tagging otomatis. Fitur ini menggunakan algoritma untuk menganalisis konten audiovisual dan secara otomatis menambahkan tag atau label yang relevan berdasarkan pengenalan objek, suara, atau transkripsi teks dari video dan audio. Misalnya, sistem dapat mengidentifikasi objek dalam video seperti mobil, gunung, atau gedung tinggi atau mengenali kata kunci dalam audio misalnya, jika koleksi berisi pidato yang menyebutkan PBB atau perubahan iklim. Sistem otomatis ini sangat berguna untuk menangani koleksi audiovisual dalam jumlah besar, karena mengurangi waktu dan usaha yang diperlukan untuk tagging manual.

Conclusion

D. Kesimpulan Berdasarkan hasil pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa Perpustakaan Nasional Republik Indonesia sebagai lembaga yang bertugas untuk mengelola dan melestarikan berbagai sumber informasi, termasuk koleksi audiovisual, menghadapi tantangan besar di era digital ini. Koleksi audiovisual, seperti film, rekaman suara, dan dokumentasi multimedia, memiliki peran penting dalam melestarikan sejarah dan budaya bangsa. Namun, seiring dengan berkembangnya teknologi informasi dan digitalisasi, cara pengelolaan koleksi ini juga harus beradaptasi dengan perubahan zaman. Pengelolaan koleksi audiovisual di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia di era digital menghadapi berbagai tantangan terutama dalam pengalatogan yang harus menggunakan inlis yang bertujuan agar data yang tersimpan valid dan mempermudah dalam melakukan pencarian. Selain itu, masih terdapat kekurangan seperti suhu dan rak penyimpanan agar terhindar dari korosi. Perpustakaan nasional di era digital ini terus berinovasi khususnya koleksi audiovisual dimana rencana perpustakaan nasional akan mengikuti aplikasi seperti Viu, Video dan Netflix. Aplikasi khusus koleksi audivisual ini terdapat username dan password yang hanya bisa digunakan di dalam perpustakaan nasional tersebut. Sehingga, koleksi audiovisual tetap terupdate di era digital dan perpustakaan nasional akan semakin diminati untuk pemustaka. Oleh karena itu, kesimpulan penelitian ini adalah Perpustakaan Nasional Republik Indonesia terus berinovasi terutama dalam melakukan pengelolaan koleksi audiovisual sehingga menambah minat para pemustaka untuk datang ke perpustakaan nasional.