Program Diorama Kearsipan Sebagai Sarana Literasi Budaya Pemustaka Di Aceh
Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh; Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh; Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh; Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh; Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh
Abstrak
Indonesia termasuk Aceh terkenal dengan kekayaan dan keberagaman budaya, sejarah dan adat istiadatnya. Namun, arus globalisasi dan modernisasi telah menyebabkan pergeseran nilai budaya, terutama di kalangan generasi muda. Perpustakaan berperan penting dalam upaya pelestarian budaya, salah satunya melalui diorama kearsipan di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh (DPKA) yang menggabungkan unsur arsip, seni, dan teknologi untuk memperkuat literasi budaya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi respon pemustaka, daya tarik mereka, serta mengeksplorasi manfaat yang dirasakan setelah mengunjungi program diorama kearsipan Aceh. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara mendalam, observasi, dan analisis dokumentasi. Analisis data dilakukan melalui tahap reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa diorama kearsipan efektif dalam meningkatkan pengetahuan pemustaka mengenai sejarah dan budaya Aceh. Namun demikian, masih terdapat kendala seperti minimnya informasi pada visualisasi arsip dan keterbatasan akses individu. Oleh karena itu, diperlukan peningkatan inovasi penyajian informasi, penambahan teknologi interaktif, serta perluasan promosi agar kebermanfaatan diorama dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat.
Abstract
Indonesia, including Aceh, is famous for its richness and diversity of culture, history and customsHowever, globalization and modernization have caused a shift in cultural values, especially among the younger generation. Libraries play an important role in cultural preservation efforts, one of which is through archival dioramas at the Aceh Library and Archives Agency (DPKA) which combines elements of archives, art, and technology to strengthen cultural literacy. This study aims to identify library users' responses, their attraction, as well as explore Benefits gained after visiting the Aceh archives diorama program. The method used was a qualitative approach with data collection techniques in the form of in-depth interviews, observation, and documentation analysis. Data analysis was conducted through the stages of data reduction, data presentation, and conclusion. The results showed that archival dioramas are effective in strengthening library users' knowledge about the history and culture of Aceh. However, there are still obstacles such as the lack of information on archival visualization and limited individual access. Therefore, it is necessary to improve the innovation of information presentation, the quality of interactive technology, and the spreading of promotion so that the usefulness of archival diorama program can be felt more widely by the community
Keywords:
Literasi Budaya
· Diorama Kearsipan
· Pelestarian Budaya
· Aceh
Introduction
A. Pendahuluan Budaya merupakan warisan dari leluhur terdahulu yang bisa menjadi panduan untuk generasi saat ini dalam menjalani kehidupan. Melalui budaya, individu dapat menerapkan nilai-nilai luhur dalam menghadapi tantangan hidup, cara berinteraksi, berkehidupan dan mampu menjaga keseimbangan kemajuan teknologi tanpa meninggalkan tradisi yang berharga. Pentingnya budaya juga dijelaskan oleh Aprinta (2013) dalam penelitian (Tahir, 2021) menyatakan bahwa budaya memiliki peran penting sebagai identitas suatu bangsa, sehingga generasi muda berperan aktif dalam melestarikan dan mewariskan kekayaan budaya dari satu generasi ke generasi berikutnya. Indonesia dikenal sebagai negara yang kaya akan budaya, dengan sekitar 300 kelompok etnis yang mewarisi tradisi dari berbagai peradaban seperti India, Arab, Tiongkok, Eropa, serta budaya lokal seperti Melayu dan Aceh (Antara & Yogantari, 2018). Keanekaragaman ini menjadi aset sekaligus tantangan dalam pelestariannya untuk generasi mendatang (Guntoro et al., 2022). Aceh sebagai daerah istimewa di ujung barat Indonesia tidak hanya kaya sejarah, tetapi juga dikenal dengan tradisi yang kuat dan pelaksanaan syariat Islam dalam seluruh aspek kehidupan (Hidayat, 2022). Nilai budaya dan agama di Aceh saling melekat, sebagaimana tergambar dalam ungkapan Hadih Maja Sultan Iskandar Muda, "Mate aneuk meupat jeurat, gadoh adat pat tamita?", yang menegaskan pentingnya adat sebagai jati diri masyarakat (Rahimah, Hasanuddin, 2018). Keterpaduan adat dan Islam juga ditegaskan dalam filosofi Tadzkiratul Rakidin oleh Tgk. Kuta Krueng, bahwa hukum dan adat diibaratkan seperti zat dan sifat yang tidak dapat dipisahkan, menunjukkan bahwa seluruh tatanan hidup masyarakat Aceh berlandaskan Al-Qur'an dan Hadis (Ismail, 2021). Masuknya era globalisasi dan kemajuan teknologi telah membawa dampak signifikan terhadap budaya lokal, terutama pada generasi muda di Aceh. Mereka semakin terpapar budaya modern sehingga mulai menjauh dari nilai-nilai kearifan lokal, seperti ritual dan tradisi adat yang dahulu menjadi bagian hidup sehari-hari (Hidayat, 2022). Nahak, (2019) menyatakan bahwa masyarakat Indonesia cenderung lebih tertarik pada budaya asing yang dianggap praktis dan menarik, yang turut memperparah hilangnya pemahaman terhadap budaya lokal. Dalam menghadapi tantangan abad ke-21, literasi budaya menjadi bagian penting dari keterampilan dasar yang harus dimiliki, selain kemampuan membaca, menulis, dan berpikir kritis (Yuningsih, 2019; Iman, 2022; UNESCO Institute for Statistics, 2013; (Bakkara., 2024). Literasi budaya tidak hanya memberikan wawasan tentang keberagaman, tetapi juga menumbuhkan rasa bangga, toleransi, dan menjaga identitas bangsa di tengah arus globalisasi dan transformasi digital (Susiati., 2021; Asti Widiastuti et al., 2023). Perpustakaan berperan strategis dalam pelestarian budaya melalui fungsi kultural yang menghubungkan aspek sosial, budaya, dan pembentukan karakter masyarakat (Nabila., 2024; Rahayu, 2017). Fungsi ini menjadikan perpustakaan bukan sekadar pusat informasi, melainkan juga ruang edukatif dan budaya. Sulistyo-Basuki (1991) dalam Ifonilla Yenianti, (2021) menegaskan bahwa aspek cipta, rasa, dan karsa dapat dikembangkan di perpustakaan melalui kegiatan edukatif dan kultural yang terstruktur. Sebagai bentuk implementasi fungsi tersebut, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh (DPKA) membangun diorama kearsipan yang menggabungkan unsur arsip, seni, dan teknologi. Diorama ini menampilkan perjalanan sejarah dan kebudayaan Aceh secara visual, dengan mengangkat tema menggunakan bahasa Aceh yaitu, Aceh jameuen (masa lalu), Aceh jinoe (masa kini), dan Aceh ukue (masa depan). Konsep ini menjadikan diorama sebagai sarana pelestarian budaya lokal yang kuat secara visual dan edukatif (wawancara Kepala Bidang Pemanfaatan dan Layanan Arsip pada hari Kamis, 06 Februari 2025). Kehadiran diorama menjadi semakin penting di tengah pengaruh budaya global yang dapat menjauhkan generasi muda dari akar budayanya. Dalam konteks ini, diorama menjadi media pembelajaran interaktif yang potensial untuk menumbuhkan kembali kebanggaan terhadap identitas budaya lokal. Namun, meskipun diorama kearsipan yang dibangun oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh telah menjadi inovasi yang menarik dan satu-satunya di Aceh, masih terdapat kekurangan yang perlu diperhatikan. Berdasarkan wawancara dengan Kepala Bidang Pemanfaatan dan Layanan Arsip pada tanggal 06 Februari 2025, sejauh ini evaluasi terhadap keberhasilan diorama hanya didasarkan pada banyaknya jumlah pengunjung yang datang. Belum ada kajian mendalam yang mengungkap bagaimana sebenarnya pengalaman pengunjung saat menjelajahi diorama, apa yang menjadi daya tarik dari pemustaka dan sejauh mana konten dan cara penyajiannya benar-benar dapat menyampaikan nilai-nilai budaya dan meningkatkan literasi budaya masyarakat. Padahal, memahami pengalaman pemustaka sangat penting untuk mengetahui apakah diorama ini efektif sebagai media edukasi budaya. Dengan demikian, penelitian ini menjadi sangat penting untuk dilakukan. Tujuannya adalah mengeksplorasi tanggapan dan pengalaman pemustaka terhadap diorama kearsipan Aceh, mencakup daya tarik visual, efektivitas penyajian informasi budaya, serta manfaat yang dirasakan pengunjung. Hasil dari penelitian ini diharapkan menjadi dasar dalam mengukur kontribusi diorama terhadap peningkatan literasi budaya, sekaligus memberikan rekomendasi konkret bagi DPKA dalam menyempurnakan program edukasi berbasis budaya ke depan. Dengan begitu, diorama dapat menjadi media pelestarian budaya yang adaptif terhadap tantangan zaman. Kajian terkait diorama kearsipan ini sudah diteliti oleh beberapa penulis diantaranya penelitian Putri, Sinaga, Yanto (2022) yang berjudul "Implementasi Layanan Diorama Nusantara Di Dinas Kearsipan Dan Perpustakaan Purwakarta". Ia memfokuskan penelitiannya untuk memperkenalkan sejarah Nusantara dari masa lalu hingga sekarang, Diorama Nusantara dirancang sebagai wadah edukatif yang tidak hanya menampilkan keberagaman budaya Indonesia tetapi juga memperkuat rasa nasionalisme serta meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya arsip melalui pendekatan wisata berbasis pendidikan. (Putri, 2022). Penelitian lain yang dilakukan oleh Wulandari, Noviana, dan Indriana, yang berjudul "Pameran Arsip Universitas Gadjah Mada 2021: Kronik Gedung Pantjadarma Pada Memori Warisan Budaya," mengungkapkan bahwa pameran arsip berperan signifikan dalam memperkenalkan khazanah arsip kepada masyarakat, sekaligus menjadi sarana edukasi yang efektif dalam meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pelestarian warisan budaya. Penelitian ini mengangkat isu pentingnya pelestarian dan pemeliharaan warisan budaya di Indonesia, yang sering kali terabaikan akibat minimnya kesadaran masyarakat. Dalam konteks ini, pameran arsip UGM 2021 yang diselenggarakan secara virtual dengan tema Gedung Pantjadarma menunjukkan bagaimana pameran dapat berfungsi sebagai sarana untuk menjangkau audiens yang lebih luas. (Wulandari, 2023). Penelitian ini menjadi landasan penting dalam memahami hubungan antara pameran arsip dan literasi budaya, serta memberikan kontribusi dalam pengembangan strategi edukasi berbasis budaya. Salah satu bentuk inovasi dalam pameran arsip adalah program diorama kearsipan. Pameran arsip dan diorama kearsipan memiliki fungsi edukatif yang serupa dalam meningkatkan literasi budaya masyarakat. Menurut Sulistyo-Basuki (1991) dalam (Ifonilla Yenianti, 2021), pameran arsip adalah bagian dari layanan publik yang bertujuan menyampaikan informasi sejarah dan budaya secara visual, sehingga memudahkan masyarakat memahami konteks masa lalu. Dalam konteks ini, diorama kearsipan dapat dipahami sebagai bentuk pameran arsip yang dikemas secara tiga dimensi dan lebih imersif, memadukan unsur arsip, seni, dan teknologi untuk menyampaikan narasi budaya. Literasi telah menjadi fokus utama dalam dunia pendidikan dan pengembangan manusia terutama di era kemajuan teknologi dan persaingan global yang semakin kompetitif. Saat ini, literasi bukan sekedar kemampuan membaca dan menulis, namun melibatkan kemampuan berpikir kritis terhadap konteks sosial, budaya, dan teknologi yang semakin kompleks di era digital. Sebagai warga negara yang hidup di negara multikultural dengan keberagaman budaya majemuk keterampilan literasi budaya menjadi penting. Literasi budaya tidak hanya terbatas pada budaya lokal, melainkan meliputi kebudayaan dari seluruh penjuru Indonesia. Tujuannya adalah untuk menumbuhkan kesadaran terhadap keberagaman, penanaman nilai toleransi dan mendukung masyarakat agar tetap relevan di era globalisasi dengan mengintegrasikan nilai-nilai budaya ke dalam inovasi berbasis teknologi. Menurut Alfarisi (2020) literasi budaya merujuk pada kemampuan untuk memahami budaya suatu bangsa, yang mencakup pengetahuan tentang kearifan lokal dan budaya nasional, serta keterampilan dan keinginan untuk melestarikan serta mengembangkan warisan budaya. Lebih lanjut, Ahsani & Azizah, (2021) menambahkan bahwa literasi budaya juga melibatkan kemampuan untuk memahami dan merespons kebudayaan sebagai cerminan identitas suatu bangsa. Permatasari (2017) menjelaskan bahwa literasi budaya mencakup pengenalan terhadap kekayaan budaya, pemahaman yang lebih dalam mengenai makna budaya, serta pendidikan nilai-nilai budaya yang dapat mendorong perkembangan budaya ke arah yang lebih maju dan beradab. Tujuan dari literasi budaya adalah untuk memfasilitasi pemahaman dan penghargaan terhadap berbagai aspek budaya yang melengkapi individu. literasi budaya juga dapat membangun hubungan individu dengan masyarakat, memperkuat solidaritas sosial, serta menciptakan ikatan yang harmonis. Dengan memahami nilai nilai dan tradisi yang mendasari kehidupan sosial, individu dapat menjadi anggota masyarakat yang aktif, produktif dan berkontribusi pada pembangunan berkelanjutan. Literasi budaya mencakup pengetahuan yang lebih mendalam tentang berbagai unsur budaya, seperti bahasa, adat istiadat, nilai-nilai, norma sosial, makanan tradisional, seni, serta kebiasaan yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari Selain itu, literasi budaya juga mencakup pengetahuan tentang warisan budaya yang diwariskan oleh kelompok masyarakat tertentu (Asti Widiastuti, 2023). Beberapa peran penting dari literasi budaya dalam mempertahankan kebudayaan di tengah kemajemukan masyarakat adalah, memahami dan menghargai perbedaan budaya, meningkatkan toleransi dan keharmonisan dalam kehidupan bermasyarakat, mempertahankan identitas nasional, pengembangan perspektif global dan penguatan nilai kebersamaan dalam kehidupan sosial (Anatasya, 2024). Mengacu pada teori Clifford Geertz dalam kajian antropologis, kebudayaan merupakan sistem keteraturan makna dan simbol-simbol yang membentuk pengetahuan serta sikap individu. Geertz juga menjelaskan bahwa simbol-simbol budaya berfungsi sebagai sumber informasi yang membantu individu memahami nilai-nilai budaya secara mendalam. Dengan demikian, kebudayaan tidak hanya mencakup tradisi yang kasat mata, tetapi juga mencerminkan makna-makna mendalam di baliknya. Dalam konteks diorama kearsipan, konsep Geertz memberikan landasan teoritis untuk menganalisis bagaimana pameran arsip dapat memainkan peran dalam meningkatkan literasi budaya. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi peran pameran arsip dalam memperdalam pemahaman masyarakat tentang kebudayaan, membentuk identitas budaya, dan mempengaruhi cara berpikir manusia dalam memahami warisan sejarah (Bakkara et al., 2024). Merujuk pada Gerakan Literasi Nasional (2017), literasi budaya seseorang dapat diukur melalui beberapa indikator yang mencerminkan tingkat pemahaman dan
Method
B. Metode Penelitian Penelitian ini menerapkan pendekatan kualitatif, yakni suatu metode penelitian yang berorientasi pada eksplorasi mendalam terhadap fenomena sosial dengan menghasilkan data deskriptif dalam bentuk narasi, baik yang diperoleh melalui dokumentasi tertulis maupun wawancara lisan dengan informan. Selain itu, metode ini juga melibatkan pengamatan langsung terhadap pola perilaku yang diamati dalam konteks penelitian. Adapun lokasi penelitian ini berpusat di Kantor Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh, yang beralamat di Jalan Teuku Nyak Arief, Lamgugob, Kecamatan Syiah Kuala, Kota Banda Aceh, Provinsi Aceh. Pemilihan lokasi di kantor Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh, karena di kantor ini terdapat diorama kearsipan Provinsi Aceh yang pertama dan belum pernah diteliti sebelumnya. Penelitian ini berfokus pada literasi budaya masyarakat Aceh setelah mengunjungi diorama kearsipan, dan ingin melihat ketercapaian tujuan dibangunnya diorama kearsipan yaitu untuk peningkatan literasi budaya masyarakat Aceh. Untuk mengukur literasi budaya pemustaka, penelitian ini menggunakan metode evaluasi Kirkpatrick yang terdiri dari empat tahapan yang saling terkait. Tahap Pertama reaksi, yaitu mengevaluasi respon awal pemustaka terhadap diorama kearsipan. Tahap kedua pembelajaran, yaitu mengukur pemahaman dan wawasan yang diperoleh pemustaka dari mengunjungi diorama kearsipan. Tahap ketiga perilaku, melihat perubahan sikap atau tindakan pemustaka setelah terpapar literasi budaya melalui diorama kearsipan. Tahap keempat hasil, di mana menilai dampak keseluruhan pada peningkatan literasi budaya pemustaka setelah mengunjungi diorama kearsipan (Zainuddin, 2022) Pemilihan informan dilaksanakan melalui teknik purposive sampling yang didasarkan pada kedalaman pemahaman dan pengalaman responden/informan (Manan, 2021). Adapun yang terlibat sebagai partisipan penelitian ini adalah para pengunjung diorama kearsipan dan kepala bidang layanan diorama kearsipan. Sedangkan objek penelitian adalah bagaimana literasi budaya pemustaka setelah mengunjungi diorama kearsipan. Metode pengumpulan data yang diterapkan dalam penelitian ini mencakup wawancara secara mendalam dengan pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan, observasi, dan dokumentasi. Adapun teknik analisis data yang dipergunakan dalam penelitian ini mengikuti model Miles dan Huberman, yang terdiri dari tiga tahap. Tahap pertama adalah pengurangan data, yaitu proses seleksi dan penyederhanaan data karena informasi yang diperoleh di lapangan sangat banyak, kedua penyajian data, yaitu penyusunan data dalam bentuk terstruktur dan naratif untuk memudahkan pemahaman, sehingga dapat diambil kesimpulan dan ketiga penarikan kesimpulan, di mana data yang telah disajikan dianalisis secara kritis berdasarkan fakta yang diperoleh di lapangan (Aghnies, 2019).
Discussion
C. Pembahasan Diorama Kearsipan Aceh 1. Pengertian dan Fungsi Diorama Kearsipan Diorama kearsipan dibangun pada tanggal 17 Mei 2023 dengan tujuan memberikan wahana edukasi kepada masyarakat Aceh untuk mengetahui perjalanan sejarah Aceh dari masa kejayaan kerajaan Aceh, keistimewaan Aceh, dan gambaran Aceh di masa depan, meningkatkan kesadaran akan pentingnya pelestarian budaya, dan memperkenalkan arsip kepada masyarakat. Diorama Kearsipan Aceh ini adalah salah satu fasilitas yang disediakan oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh untuk masyarakat umum. Konsep pembangunan diorama ini berawal dari upaya untuk mewujudkan amanat Peraturan Gubernur Aceh No: 124 tahun 2016 yang mengatur kedudukan, struktur organisasi, tugas, fungsi, dan tata kerja Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh. Dinas ini memiliki 17 tugas yang tercantum dalam Pasal 6, salah satunya adalah menyelenggarakan pengelolaan arsip di Aceh sesuai dengan standar nasional untuk mendukung terciptanya pemerintahan Aceh yang baik, bersih, bermartabat, dan berwibawa. Oleh karena itu, dasar atau pedoman dalam pembangunan Diorama Kearsipan ini merujuk pada Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI). Aceh berada di peringkat ketiga setelah Jawa Barat dan Yogyakarta dalam implementasi program ini. Dengan demikian, program diorama itu ialah sebuah media visual tiga dimensi yang menampilkan rekonstruksi sejarah Aceh melalui gabungan arsip, miniatur dan teknologi pendukung sehingga pemustaka dapat memahami perjalanan sejarah dan pentingnya pelestarian arsip secara lebih interaktif dan menyenangkan (Yandra, 2023). Dilihat dari fungsinya, Kepala bidang pemanfaatan dan layanan arsip menyebutkan diorama kearsipan Aceh adalah sebagai media yang menyampaikan sejarah Aceh dengan cara yang menarik dan mudah dipahami. Melalui tampilan visual, diorama ini membantu pemustaka mengenal arsip dan perjalanan sejarah Aceh secara lebih nyata. Tidak hanya itu, diorama juga mendorong peningkatan literasi dengan cara yang berbeda, bukan hanya lewat membaca atau menulis, tapi juga lewat pengalaman melihat, memahami, dan merasakan langsung dari kisah yang disampaikan. Dengan begitu, sejarah dan budaya Aceh bisa lebih dekat dan relevan terutama bagi generasi muda.1 2. Program Diorama Kearsipan Keistimewaan Diorama Kearsipan Aceh terletak pada fakta bahwa ini adalah satu-satunya di Provinsi Aceh yang menampilkan gambaran tentang perjalanan sejarah Aceh. kehidupan masyarakat Aceh terdahulu melalui miniatur, pakaian adat Aceh, sejarah masjid raya baiturrahman yang tidak roboh saat diterjang tsunami 2004 silam, bahkan tema yang diangkat juga dalam bahasa Aceh yaitu Aceh Jameun (Aceh masa lalu) berisi naskah kuno, aktifitas masa lampau masyarakat Aceh bidang perdagangan laut dan pertanian serta kilas balik masa kejayaan Aceh. Aceh Jinoe (Aceh masa kini) berisi foto-foto gubernur Aceh ari masa ke masa terkait keberhasilan program kerja gubernur serta foto MoU Helsingki dan anugerah inovasi dinas perpustakaan dan kearsipan Aceh dalam 2 tahun terakhir, dan Aceh Ukeu (Aceh masa depan) berisi foto-foto Aceh masa depan pada sektor pertanian, perternakan, kearsipan, perpustakaan, industri, transportasi, perumahan rakyat dan pariwisata. 1 Hasil wawancara dengan kepala bidang pemanfaatan dan layanan arsip Tema pembangunan diorama kearsipan ini menggambarkan visi jangka panjang dari Dinas Kearsipan Aceh, yang menggambarkan Aceh masa depan melalui miniatur perencanaan pembangunan yang matang. Meskipun membutuhkan waktu untuk mewujudkannya, perencanaan ini menunjukkan bahwa arah pembangunan Aceh telah dirancang sejak hari ini, mencerminkan ambisi besar untuk menjaga sejarah dan budaya lokal sambil merancang kehidupan yang lebih maju. Dengan memanfaatkan teknologi dan seni, diorama ini dapat menjadi jembatan inovasi perubahan antara masa lalu, masa kini dan masa mendatang, serta menghidupkan kembali nilai-nilai budaya lokal yang mungkin terlupakan oleh generasi muda (Yandra, 2023). Data Pengunjung Diorama kearsipan di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh terbuka bagi siapa saja yang ingin mempelajari sejarah dan pengelolaan arsip. Kunjungan dapat dilakukan oleh berbagai kalangan, baik pelajar maupun masyarakat umum. Terdapat beberapa ketentuan yang perlu diperhatikan, seperti jumlah maksimal pengunjung untuk kelompok siswa sekolah 30 siswa dan memberitahukan jadwal kunjungan baik berupa surat ataupun lisan. Data kunjungan pada tabel di bawah ini menunjukkan bahwa, pengunjung yang hadir dalam memanfaatkan layanan diorama kearsipan ini merupakan dari kelompok, komunitas atau instansi tertentu. Berikut penulis lampirkan daftar kunjungan diorama kearsipan. Table 1. Daftar Pengunjung Diorama Kearsipan Tahun 2023-2025 Pengunjung Tanggal Kunjungan Marchin Band 13 Juni 2023 Pelajar Islam Indonesia (PII) 13 Juni 2023 SD 71 Banda Aceh 13 Juni 2023 SD 3 Banda Aceh 13 Juni 2023 SD Negeri 53 Banda Aceh 15 Juni 2023 Tim Asistensi Gubernur 19 Juni 2023 Simeulue Kominsa 19 Juni 2023 UIN Ar-raniry Banda Aceh 20 Juni 2023 Sekretariat MPU 21 Juli 2023 BPSDM 21 Juli 2023 Dinas Sosial 21 Juli 2023 Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh Besar 28 Juli 2023 SD 25 Aceh Besar 28 Agustus 2023 Badan Pemeriksa Keuangan RI 28 Agustus 2023 Pelajar Islam Indonesia (PII) 28 Agustus 2023 SD Negeri 5 Banda Aceh 19 Oktober 2023 MIN 25 Aceh Besar 19 Oktober 2023 SD Negeri 44 Banda Aceh 19 Oktober 2023 Dinas Perternakan Aceh 07 November 2023 SMPN 5 Juli Bireuen 08 November 2023 SD Negeri 44 Banda Aceh 05 Desember 2023 SD Negeri 54 Banda Aceh 05 Desember 2023 MIN 5 Kota Banda Aceh 05 Desember 2023 SD Negeri 56 Banda Aceh 05 Desember 2023 Sekolah Laboratorium Unsyiah 05 Desember 2023 Yayasan Pocut Meurah Intan 06 Februari 2024 Pendidikan sejarah USK 23 Februari 2024 Dispusip Aceh Singkil 23 April 2024 Agam Inong Aceh Barat Daya 01 Mei 2024 Pendidikan Sejarah USK 02 Mei 2024 Pendidikan Sejarah USK 06 Mei 2024 SDN 54 Banda Aceh 30 Mei 2024 Politeknik Kutaraja 14 Juli 2024 Agam Inong Aceh Barat Daya 01 Agustus 2024 SDN 54 Banda Aceh 05 Agustus 2024 Edukasi Nusantara 10 Januari 2025 Ratu Baca Aceh 06 Februari 2025 Edukasi Nusantara 06 Februari 2025 Agam Inong Aceh Barat Daya 06 Februari 2025 Komunitas Ruang Lingkup 06 Februari 2025 Wave To Youth Psikologi 06 Februari 2025 Sumber: Hasil wawacara dengan kepala bidang layanan diorama kearsipan pada tanggal 06 Februari 2025 Respon Pengunjung terhadap Diorama Kearsipan Aceh Pemustaka menyambut baik kehadiran diorama kearsipan sebagai bagian dari pameran arsip Aceh di Dinas perpustakaan dan Kearsipan Aceh. Mereka merasa senang karena diorama ini menyajikan banyak informasi yang sulit ditemukan di tempat lain, sehingga dapat memperkaya pemahaman tentang sejarah Aceh, baik itu di masa lalu, masa kini maupun masa depan. Selain itu pemustaka juga antusias merekomendasikan diorama ini kepada orang-orang terdekat. Mereka berharap lebih banyak masyarakat dapat berkunjung dan merasakan pengalaman belajar sejarah yang lebih menarik dan interaktif melalui diorama kearsipan, sehingga diorama kearsipan Aceh juga semakin dikenal luas serta memberikan manfaat yang lebih besar. "Seru banget, kok bisa mereka dapat data-data dan foto-foto yang selengkap in. Jujur ini pertama kali ke sini dan baru tau kalau di Aceh ada diorama kearsipan. Menurut saya, ini cara yang unik buat ngenalin generasi sekarang tentang Aceh di masa lalu, sekarang dan masa depan. Dari tiga ruangan yang ada, yang paling menarik itu ruang Aceh Jameun, baru tau juga tentang MoU Helsinki dan Ikram Lamteh. Informasi kayak gini jarang ditemukan di tempat lain, tapi di sini bisa langsung lihat dan pelajari dengan cara yang menarik. Saya juga udah kepikiran buat ngajak teman-teman ke sini, soalnya jujur aja, gak banyak yang tau kalau di Aceh ada diorama kearsipan yang bagus banget digunakan untuk media pembelajaran tentang sejarah Aceh. Biasanya Cuma lihat di TikTok, tapi ternyata ada bentuk fisiknya di sini, dan itu keren banget!.” (informan). Daya tarik diorama kearsipan Aceh Berdasarkan data yang dikumpulkan, ditemukan bahwa diorama kearsipan memiliki daya tarik yang cukup tinggi bagi pengunjung. Terdapat beberapa alasan yang menjadi daya tarik utama diorama ini antara lain: 1. Tampilan Visualisasi arsip yang interaktif dan informatif Berdasarkan data observasi dan wawancara, partisipan merasa tertarik untuk mengunjungi diorama setelah mengetahui konsepnya. Faktor yang paling menarik bagi mereka adalah visualisasi arsip yang lebih interaktif sehingga lebih mudah dipahami dibandingkan metode konvensional dengan membaca dokumen arsip secara langsung. "Setiap ruang dari diorama kearsipan itu keren banget mulai dari Aceh jameun, Aceh jinoe dan Aceh ukue. Karena banyak informasi yang mungkin susah di tempat lain, tapi di sini semuanya lengkap. Visualnya menarik banget, teritama buat anak-anak SD tampilan yang atraktif bikin mereka lebih mudah memahami sejarah. Selain itu, ada banyak dokumentasi lama mulai dari penjajahan belanda, tsunami, dan pergadangan Aceh yang bikin kita serasa dibawa ke masa itu, dokumentasi itu juga membuat pemustaka tidak bosan saat kunjungan. Ditambah lagi penjelasan dari ibu pemandu yang sangat informatif, kita dibebasin bertanya apa saja, dan mereka selalu siap menjawab dengan jelas." (informan). 2. Kesesuaian dengan budaya lokal Partisipan merasa bahwa diorama ini mampu menggambarkan sejarah Aceh dengan cara yang lebih dekat dan relatable bagi masyarakat lokal. "Dari pajangan dan narasi yang ditampilkan, menurut saya ini cukup membantu memperkuat identitas budaya masyarakat Aceh. Dengan adanya pajangan ini, budaya Aceh jadi tetap terjaga dan tidak pudar seiring berjalannya waktu. Di bagian Aceh jameun, kita bisa lihat ada “creuh”, “rangkang”, pakaian adat Aceh, kehidupan masyarakat Aceh dulu, seperti bagaimana dulu di Aceh orang membajak sawah pakai kerbau, sedangkan sekarang sudah beralih ke teknologi modern." (informan) 3. Memiliki konsep yang unik Pemustaka merasa senang mengunjungi diorama karena memiliki konsep yang unik dan tidak membosankan. Diorama ini menggabungkan elemen visual, narasi dan arsip yang disajikan secara interaktif, sehingga pengunjung tidak hanya melihat, tetapi juga merasakan pengalaman sejarah secara langsung. Pembagian ruang Aceh jameun, Aceh jinoe dan Aceh ukeu membuat alur cerita lebih jelas dan mudah dipahami. Kemudian, pajangan foto, miniatur dan tata letak yang menarik membuat sejarah mudah dipahami oleh berbagai kalangan. “Kelebihannya jelas ada di visual, informasi yang disajikan tata letaknya mudah, dan ruangnya juga besar jadi sekalipun ramai orang tidak desak desakan. Jujur, awalnya nggak tau kalau di Aceh ada diorama kearsipan, tapi ternyata konsepnya menarik banget, pembagian ruang dari Aceh jamen, Aceh jinoe dan Aceh ukeu membuat lebih efektif dan tidak membosankan. Kalau dirating 10/10! Ini bisa jadi strategi bagus buat menarik lebih banyak orang supaya tertarik mengenal sejarah Aceh” (informan) Efektivitas Diorama dalam Meningkatkan Literasi Budaya Pemustaka Diorama kearsipan berkontribusi dalam meningkatkan literasi budaya pemustaka dengan beberapa indikator berikut: 1. Literasi Sejarah dan Budaya: Hasil wawancara menunjukkan bahwa setelah mengunjungi diorama, pengunjung mengalami peningkatan pemahaman tentang sejarah Aceh, terutama terkait arsip-arsip yang dipamerkan. Partisipan juga menyatakan bahwa informasi yang disampaikan lebih mudah dipahami dibandingkan dengan membaca teks sejarah konvensional karena disertakan dengan ilustrasi dan foto. Selain itu, tingkat kujungan pemustaka ke tempat-tempat yang bernilai budaya semakim meningkat seletah dibangunnya diorama kearsipan oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh (DPKA). Hal ini sejalan dengan penelitian Ifonilla Yenianti (2021), yang menyebutkan bahwa perpustakan tidak hanya berfungsi sebagai pusat informasi, namun memiliki peran dalam pelestarian budaya, salah satunya melalui pameran. 2. Perubahan Sikap Terhadap Arsip dan Literasi Budaya Sebelum mengunjungi diorama, beberapa partisipan mengaku kurang tertarik dengan arsip karena dianggap sebagai dokumen formal yang sulit dipahami. Namun, setelah mendapatkan pengalaman langsung melalui diorama, pandangan partisipan mulai tertarik dan menganggap arsip sebagai sumber informasi yang menarik dan bernilai budaya. Dalam diorama kearsipan sejarah didokumentasikan dalam bentuk arsip sebagai rekaman sejarah masa lampau yang dilestarikan dan dipamerkan agar tetap dikenang dan diketahui oleh generasi saat ini. Sebagaimana yang diungkap Kepala Layanan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh " Jika tidak ada sejarah, kita tidak ada sekarang", kalimat ini menegaskan bahwa sejarah memiliki peran penting bagi masyarakat untuk mengetahui asal usul perjalanan hidup. 3. Peningkatan Minat Terhadap Arsip dan Sejarah: Hasil wawancara menunjukkan bahwa partisipan merasa ingin mencari tahu lebih lanjut tentang sejarah dan budaya Aceh setelah mengunjungi diorama kearsipan Aceh. Mayoritas partisipan juga tertarik untuk mengunjungi kembali diorama atau mencari referensi tambahan mengenai arsip yang ditampilkan sebagai bentuk keinginan untuk memperluas pengetahuan mereka tentang warisan budaya dan sejarah lokal. Namun demikian, efektivitas dari layanan diorama kearsipan ini belum sepenuhnya optimal karena pengunjung hanya bisa mengunjungi diorama kearsipan Aceh jika datang dengan jumlah minimal 3 orang.
Conclusion
D. Kesimpulan Diorama kearsipan yang dibangun oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh terbukti memiliki peran penting dalam meningkatkan literasi budaya dan sejarah masyarakat Aceh. Melalui arsip, seni, dan teknologi, diorama ini menjadi sarana edukatif yang menarik serta interaktif bagi pengunjun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa program ini dapat meningkatkan literasi budaya pemustaka. Adapun yang menjadi daya tarik dari diorama kearsipan ini adalah visual yang disajikan dan deskripsi dari setiap gambar yang dipajang memudahkan pemustaka dalam memahami arsip dan sejarah. Program diorama kearsipan Aceh pula dapat meningkatkan literasi budaya dan sejarah Aceh melalui pengalaman visual dan edukatif yang disajikan kepada pemustaka. Keberhasilan ini menunjukkan bahwa pendekatan interaktif dalam penyajian arsip memiliki dampak positif dalam memberikan pemahaman kepada pemustaka tentang sejarah. Oleh karena itu, perpustakaan pada tingkat Provinsi dan Kabupaten/Kota lainnya perlu berinovasi dengan menghadirkan program-program yang dapat mendukung peningkatan literasi budaya masyarakat seperti yang telah dilakukan oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Aceh.