Penggunaan Artificial Intelligence (AI) dan Implikasinya terhadap Kinerja di UPT Perpustakaan IAIN Curup
Institut Agama Islam Negeri Curup; Institut Agama Islam Negeri Curup; Institut Agama Islam Negeri Curup
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi penggunaan artificial intelligence (AI) dan implikasi penggunaannya terhadap kinerja staff dan pustakawan di UPT Perpustakaan IAIN Curup, serta tantangan dan solusi dalam penggunaannya. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif dengan studi kasus sebagai desain penelitian. Data penelitian dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi nonpartisipatif, dan analisis dokumen terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan AI di UPT Perpustakaan IAIN Curup telah menjadi bagian dari upaya modernisasi dalam pengelolaan perpustakaan. AI digunakan bukan sebagai layanan utama, tetapi sebagai alat bantu yang mendukung tugas-tugas administratif, promosi, serta pengelolaan koleksi perpustakaan. Penggunaan AI di UPT Perpustakaan IAIN Curup membawa dampak signifikan terhadap kinerja staf dan pustakawan. AI telah membantu mempercepat proses kerja, meningkatkan efisiensi, serta mengurangi beban administratif yang sebelumnya memerlukan banyak waktu dan tenaga. Dengan memanfaatkan AI, pustakawan dapat lebih fokus pada pelayanan informasi dan pengelolaan koleksi secara lebih strategis. Tantangan dalam penggunaan AI yaitu belum adanya kebijakan secara institusional dalam implementasi AI, integrasi AI dengan sistem yang ada, belum adanya pelatihan resmi dan pengembangan kompetensi yang berkesinambungan dan rendahnya minat terhadap adopsi teknologi baru.
Abstract
This study aims to identify the use of artificial intelligence (AI) and the implications of its use on the performance of staff and librarians at the Library of IAIN Curup, and the challenges and solutions in its use. This study uses a qualitative research approach with a case study as the research design. Research data were collected through interviews, observations, and analysis of related documents. The results of the study indicate that the use of AI at the Library of IAIN Curup has become part of the modernization effort in library management. AI is used not as a primary service, but as a tool that supports administrative tasks, promotions, and library collection management. The use of AI has a significant impact on the performance of staff and librarians. AI has helped speed up work processes, increase efficiency, and reduce the administrative burden. By utilizing AI, librarians can focus more on information services and more strategic collection management. The challenges in using AI include the absence of institutional policies in the implementation of AI, integration of AI with existing systems, the absence of formal training and continuous competency development and low interest in adopting new technologies.
Keywords:
Artificial Intelligence
· Librarian / Staff Performance
· Library
Introduction
Perpustakaan merupakan salah satu elemen penting dalam ekosistem perguruan tinggi karena berfungsi sebagai pusat informasi, pengelola pengetahuan, dan pendukung kegiatan akademik. Dalam menghadapi perkembangan teknologi informasi yang begitu pesat, perpustakaan modern kini dituntut tidak hanya menjadi tempat penyimpanan koleksi fisik, tetapi juga mampu mengelola dan menyajikan informasi secara cepat, akurat, dan relevan. Salah satu inovasi penting yang muncul di era digital adalah penerapan artificial intelligence (AI), yaitu teknologi yang mampu melakukan analisis, prediksi, serta otomatisasi proses kerja berbasis data. Penerapan AI dalam dunia perpustakaan telah terbukti meningkatkan efisiensi layanan, mempercepat proses pengelolaan koleksi, serta membantu pustakawan dalam memberikan rekomendasi informasi kepada pengguna secara lebih personal. Di Indonesia, transformasi manajemen perpustakaan terjadi melalui adopsi teknologi digital, seperti penggunaan aplikasi SLiMS, katalog daring, serta koleksi e-book dan jurnal elektronik (Perpusnas, 2023). Perpustakaan modern kini dituntut untuk lebih responsif terhadap perkembangan teknologi, termasuk dalam pengembangan kompetensi pustakawan yang tak lagi hanya fokus pada pengelolaan koleksi, tetapi juga pada literasi informasi, penguasaan teknologi, dan pendampingan riset. Peningkatan infrastruktur fisik dan digital, ruang belajar interaktif, dan layanan berbasis teknologi juga menjadi bagian dari modernisasi ini. Pada era digital ini, perpustakaan perguruan tinggi dituntut untuk lebih beradaptasi dan responsif dengan cepat terhadap perkembangan teknologi agar tetap relevan dengan kebutuhan civitas akademika (Rodin et al., 2025). Salah satu inovasi penting yang mulai diterapkan adalah penggunaan AI untuk meningkatkan efisiensi kerja dan personalisasi layanan (Widyastuti, 2021). Kinerja staf dan pustakawan dalam melaksanakan tugas sangat mempengaruhi keberhasilan ataupun kegagalan manajemen perpustakaan. Pencapaian kinerja dalam organisasi perpustakaan merupakan faktor yang harus diperhatikan untuk mewujudkan organisasi perpustakaan dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan (Warlizasusi & Susilawati, 2020). Namun, meski sistem manajemen informasi terintegrasi telah digunakan oleh perpustakaan, berbagai tantangan masih dihadapi, seperti keterbatasan koleksi digital, akurasi data, sistem pencarian yang belum optimal, dan kurangnya pelatihan bagi pustakawan dalam memanfaatkan teknologi. Keterbatasan anggaran juga menjadi kendala dalam pengembangan sistem dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM). Sejumlah penelitian terdahulu menegaskan pentingnya adopsi AI di lingkungan perpustakaan. (Manjunatha, 2023) menemukan bahwa penerapan AI dalam katalogisasi dan referensi perpustakaan dapat mempercepat proses pelayanan informasi. (Machado et al., 2024) menjelaskan bahwa AI berperan signifikan dalam meningkatkan efisiensi operasional dan kualitas layanan di perpustakaan akademik. Sementara itu, (Prasetio & Winanda, 2023) menunjukkan bahwa AI mampu meningkatkan efektivitas kerja pustakawan melalui otomatisasi proses administratif. Hasil penelitian-penelitian tersebut menegaskan bahwa AI tidak hanya menjadi tren, tetapi kebutuhan strategis untuk meningkatkan daya saing dan profesionalisme pustakawan di era digital. Sejalan dengan perkembangan tersebut, UPT Perpustakaan IAIN Curup telah mulai menerapkan AI untuk mendukung kelancaran operasional. Berdasarkan survei awal, perpustakaan sudah memanfaatkan AI dalam beberapa aspek pekerjaan, meskipun penerapannya belum sepenuhnya terintegrasi ke dalam sistem manajemen perpustakaan. Sebelum penerapan AI, sebagian besar proses administrasi dan katalogisasi di perpustakaan dilakukan secara manual menggunakan aplikasi SLiMS, tanpa dukungan fitur otomatisasi. Hal ini mengakibatkan keterlambatan proses input data koleksi, seringnya terjadi duplikasi pencatatan, dan lamanya waktu penyusunan laporan bulanan. Selain itu, kegiatan promosi layanan perpustakaan masih dilakukan secara konvensional melalui pamflet cetak, yang kurang efektif dalam menjangkau pengguna digital. Permasalahan tersebut menjadi latar belakang utama bagi perpustakaan untuk mulai memanfaatkan AI sebagai solusi untuk meningkatkan efisiensi kerja, akurasi data, dan kualitas layanan informasi. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pemanfaatan AI dalam mendukung manajemen perpustakaan di IAIN Curup serta mengeksplorasi potensi integrasinya guna mengatasi berbagai kendala yang ada. Temuan penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi konseptual dan praktis dalam pengembangan model manajemen perpustakaan berbasis AI, yang belum banyak dikaji secara mendalam pada konteks perguruan tinggi keagamaan di Indonesia.
Method
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus sebagai desain penelitian (Creswell, 2007). Penelitian kualitatif bertujuan untuk memahami fenomena yang dialami oleh subjek penelitian seperti perilaku, persepsi, motivasi serta tindakan secara holistic (Hamengkubuwono, 2022). Penelitian dilaksanakan pada Bulan Januari hingga Maret 2025 di UPT Perpustakaan IAIN Curup. Pada konteks ini, penelitian difokuskan untuk memahami secara mendalam penggunaan teknologi AI dan implikasinya terhadap kinerja staf dan pustakawan di UPT Perpustakaan IAIN Curup (Fakhruddin, 2019). Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur, observasi nonpartisipatif, dan dokumentasi, dengan subjek penelitian sebanyak delapan orang yang terdiri dari pimpinan, pustakawan, dan staf. Jenis data yang digunakan adalah data kualitatif yang bersumber dari data primer (hasil wawancara, observasi, dan dokumentasi) serta data sekunder (dokumen dan literatur terkait). Validitas data diperiksa melalui triangulasi sumber dan teknik. Analisis data menggunakan model Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data secara naratif, dan penarikan kesimpulan/verifikasi, guna memperoleh temuan yang menjawab rumusan masalah secara deskriptif dan holistik (Sugiyono, 2014).
Discussion
Penggunaan Artificial Intelligence (AI) di UPT Perpustakaan IAIN Curup AI dapat didefinisikan sebagai aplikasi pemrograman teknologi informasi yang dirancang untuk meniru dan mensimulasikan kemampuan kognitif manusia, seperti belajar, memahami, menganalisis, dan mengambil keputusan, melalui algoritma dan model matematika dan diintegrasikan ke dalam suatu mesin, seperti komputer, untuk menciptakan kecerdasan buatan agar dapat melaksanakan tugas yang biasanya dilakukan oleh manusia secara otomatis (Russell & Norvig, 2016). Dalam manajemen perpustakaan modern, AI digunakan untuk mendukung berbagai proses, seperti pencarian informasi, katalogisasi otomatis, hingga rekomendasi buku berdasarkan preferensi pengguna. Misalnya, chatbot berbasis AI mampu menggantikan peran staf dalam menjawab pertanyaan sederhana, sehingga meningkatkan efisiensi pelayanan (Manjunatha, 2023). Pemanfaatan AI di Perpustakaan IAIN Curup telah menjadi bagian dari upaya modernisasi dalam pengelolaan perpustakaan. AI digunakan bukan sebagai layanan utama, tetapi sebagai alat bantu yang mendukung tugas-tugas administratif, promosi, serta pengelolaan koleksi perpustakaan. Beberapa aplikasi AI seperti ChatGPT, Canva, dan QuillBot telah diadopsi oleh pustakawan dan staf untuk membantu pekerjaan mereka. Pemanfaatan AI di perpustakaan ini bertujuan untuk meningkatkan efisiensi kerja staf, mempercepat proses administrasi, serta mendukung pengelolaan koleksi dengan lebih baik. Temuan penelitian ini sejalan dengan penelitian Bryon dan Yusuf yang menyatakan bahwa pemanfaatan AI sebagai suatu system informasi selain sumber daya manusia yang menjadi faktor penting dalam mencapai tujuan manajemen perpustakaan modern (Jo Bryson, 2017; Yusuf, 2024). Perpustakaan menjadi salah satu subsektor pendidikan yang turut mendapatkan manfaat signifikan dari kemajuan AI (Raschka et al., 2020). Hasil penelitian ini pada praktiknya, AI digunakan dalam berbagai tugas berbasis komputer, seperti penyusunan laporan, pembuatan konten promosi, katalogisasi buku, serta penyuntingan teks dan dokumen. Salah satu aplikasi yang paling banyak digunakan adalah ChatGPT, yang membantu pustakawan dalam mencari referensi, menjawab pertanyaan, serta menyusun kerangka laporan dan mengoreksi teks sebelum dipublikasikan. ChatGPT juga digunakan dalam layanan teknis untuk membantu pengelolaan dan katalogisasi koleksi buku, sehingga pustakawan dapat membuat deskripsi katalog yang lebih informatif. Seorang informan penelitian menyatakan "ChatGPT sangat membantu saya dalam menyusun laporan kegiatan dan memeriksa tata bahasa sebelum dikirim ke pimpinan". Temuan ini sejalan dengan pendapat Mansur dan Muhsinun bahwa perpustakaan modern perlu untuk mengadopsi manajemen berbasis teknologi (Mansyur & Muhsinun, 2019). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa staf dan pustakawan pada Perpustakaan IAIN Curup menggunakan Canva untuk mendesain poster dan banner guna promosi kegiatan di perpustakaan. Canva juga dimanfaatkan untuk membuat infografis panduan perpustakaan yang membantu pengunjung memahami sistem peminjaman, tata tertib, dan pencarian buku. Tak hanya itu, Canva juga digunakan untuk membuat template sertifikat dan undangan dalam berbagai kegiatan akademik yang diselenggarakan di perpustakaan.(Siregar et al., 2024) Ini sejalan dengan temuan Samantha dan Hoffman yang menunjukkan bahwa perpustakaan IAIN Curup berupaya secara maksimal untuk memberikan prioritas layanan kepada para pengguna agar dapat memahami manajemen perpustakaan yang menekankan pada kepuasan dan kebutuhan informasi pengguna (Godbey & Hoffman, 2024) Pada hasil penelitian ini AI juga dimanfaatkan dalam bidang penyuntingan bahasa dan desain grafis. Beberapa pustakawan menggunakan QuillBot untuk optimasi deskripsi katalog, memparafrase teks, dan proofreading dokumen. Selain itu, QuillBot juga membantu dalam pengecekan tata bahasa pada surat dinas atau pengumuman resmi yang dikeluarkan perpustakaan. Dengan penggunaan AI ini, pustakawan dapat mempercepat penyelesaian tugas-tugas administratif yang sebelumnya membutuhkan waktu lebih lama. Hal ini menunjukkan AI memiliki peran penting bagi staf dan pustakawan dalam meningkatkan efisiensi, akurasi dan relevansi dalam melaksanakan tugas mereka (Berijalan, 2024). Pada bidang katalogisasi, beberapa pustakawan memanfaatkan Koha AI-Powered atau OCLC WorldCat sebagai sistem katalogisasi otomatis. Fitur ini berfungsi untuk mengidentifikasi metadata buku atau jurnal berupa judul, penulis, topik, ISBN secara otomatis berdasarkan database global. Salah satu pustakawan menuturkan "Dulu katalogisasi bisa butuh waktu berjam-jam, sekarang cukup beberapa menit dengan bantuan aplikasi AI Koha AI-Powered atau OCLC WorldCat". Hasil temuan ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Nove dan kawan-kawan bahwa manajemen perpustakaan modern perlu mengembangkan strategi untuk menangani penambahan volume buku atau jurnal yang semakin meningkat.(Anna & Mannan, 2020) Dengan AI, pustakawan dapat menghemat waktu dalam katalogisasi manual, meskipun sistem ini belum terhubung langsung dengan aplikasi SLiMS yang digunakan di perpustakaan (Siregar et al., 2024). Implementasi AI juga mendukung layanan informasi dan promosi di perpustakaan. Beberapa pustakawan berinovasi menggunakan AI untuk menyusun materi promosi dalam bentuk poster dan infografis, serta menggabungkan fitur AI seperti Move-AI dan Id-AI untuk menghasilkan konten video dan suara guna meningkatkan engagement pengguna perpustakaan. Hal ini menunjukkan bahwa AI tidak hanya digunakan untuk keperluan teknis, tetapi juga dalam upaya memperluas jangkauan informasi kepada pemustaka (Manjunatha, 2023). Temuan ini menjadi penting karena pemanfaatan AI memungkinkan perpustakaan untuk menjadi lebih fleksibel dan inovatif dalam memenuhi kebutuhan penggunanya. Ini sesuai dengan temuan Jadhav dan Siregar dimana pentingya mengintegrasikan AI sehingga perpustakaan dapat meningkatkan efesiensi relevansi dan kualitas layanan pada pengguna (L Jadhav, 2019; Siregar et al., 2024). Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa walaupun AI telah banyak membantu dalam berbagai tugas perpustakaan, ada beberapa tantangan dalam implementasinya. Salah satu kendala utama adalah belum adanya pelatihan resmi bagi pustakawan dalam penggunaan AI. Sebagian besar pustakawan harus belajar secara mandiri atau berbagi pengalaman dengan rekan kerja. Hal ini menyebabkan variasi dalam tingkat pemanfaatan AI antar individu. Hasil penelitian ini mendukung temuan dari Machado dan Tijan bahwa staf dan pustakawan pada perpustakaan harus dilatih untuk memahami dan menggunakan teknologi terbaru karena staf dan pustakawan adalah komponen utama dalam manajemen perpustakaan modern dan dapat meningkatkan kinerja organisasi (Machado et al., 2024; Tijan, 2023). Tantangan lainnya adalah belum terintegrasinya AI dengan sistem manajemen perpustakaan seperti SLiMS. Hingga saat ini, perpustakaan masih mengandalkan SLiMS untuk mengelola koleksi dan peminjaman buku, yang belum memiliki fitur berbasis AI. Akibatnya, beberapa proses masih harus dilakukan secara manual, sehingga manfaat AI belum sepenuhnya optimal dalam pengelolaan perpustakaan (Yusuf, 2024) Selain itu, ada juga staf yang masih menunjukkan minat yang kurang terhadap penggunaan AI, lebih memilih metode konvensional dibandingkan teknologi baru. Faktor sosial dan kebijakan internal berperan dalam menentukan sejauh mana pustakawan dapat mengadopsi AI dalam pekerjaan mereka. Dukungan dari pimpinan perpustakaan dan pelatihan yang lebih sistematis dapat menjadi solusi untuk mengatasi kendala ini. Terdapat pula tantangan dari segi penerimaan teknologi oleh staf dan pustakawan yang masih merasa lebih nyaman menggunakan metode konvensional dibandingkan teknologi berbasis AI (Slamet, 2022). Secara keseluruhan, penggunaan AI di Perpustakaan IAIN Curup telah membantu meningkatkan efisiensi operasional dan kualitas layanan perpustakaan. Namun, AI tetap berperan sebagai alat bantu kerja, bukan sebagai pengganti layanan utama perpustakaan. Integrasi AI dengan sistem perpustakaan yang lebih luas serta peningkatan literasi digital pustakawan menjadi langkah penting dalam optimalisasi teknologi ini (Omame & Alex-Nmecha, 2020; Witten et al., 2009). Berdasarkan temuan penelitian yang telah dibahas menunjukkan adanya kesesuaian dengan teori TAM (technology acceptance model) dan teori UTAUT (unified theory of acceptance and use of technology) yang menyatakan bahwa kemudahan penggunaan teknologi berdampak langsung pada peningkatan efisiensi dan produktivitas kerja (Davis, 1989; Venkatesh et al., 2016). Ada beberapa faktor yang mempengaruhi penggunaan teknologi AI dalam meningkatkan kinerja perpustakaan yaitu faktor kegunaan (perceived useful), faktor kemudahan penggunaan (perceived ease of use), faktor ekspektasi kinerja dan usaha (performance and effort expectancy), pengalaman sebelumnya dengan teknologi informasi dan komunikasi serta kondisi pendukung (facilitating conditions) (Davis, 1989). Hal ini juga mendukung temuan penelitian ini dimana faktor sosial, seperti rekomendasi dari pimpinan dan rekan kerja, menjadi salah satu faktor utama yang mendorong staf dan pustakawan untuk mulai menggunakan AI dalam pekerjaan mereka. Namun, perlu diingat bahwa AI tidak menggantikan peran pustakawan dalam memberikan layanan langsung kepada pemustaka. Implikasi Penggunaan Artificial Intelligence (AI) terhadap Kinerja di UPT Perpustakaan IAIN Curup Kinerja staf dan pustakawan merupakan pencapaian hasil kerja staf dan pustakawan dalam suatu proses melaksanakan tugasnya dengan sesuai tanggung jawab yang diberikan (Perpustakaan Nasional, 2013). Dengan meningkatkan kinerja staf dan pustakawan akan membawa dampak yang positif bagi organisasi perpustakaan, sehingga staf dan pustakawan memiliki tingkat kinerja yang baik dan optimal untuk membantu mewujudkan tujuan perpustakaan (Lebas, 1995). Dalam konteks kinerja perpustakaan, ini berarti bagaimana perpustakaan memanfaatkan teknologi, seperti AI, untuk meningkatkan pelayanan dan efektivitas kerja pustakawan. Kinerja di perpustakaan dapat dilihat sebagai sebuah sistem yang saling terintegrasi antara sumber daya manusia, teknologi, dan kebijakan organisasi (Kasmawati, 2020). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan AI di Perpustakaan IAIN Curup membawa dampak signifikan terhadap kinerja staf dan pustakawan. AI telah membantu mempercepat proses kerja, meningkatkan efisiensi, serta mengurangi beban administratif yang sebelumnya memerlukan banyak waktu dan tenaga. Dengan memanfaatkan AI, pustakawan dapat lebih fokus pada pelayanan informasi dan pengelolaan koleksi secara lebih strategis (Siregar et al., 2024; Teknokrat, n.d.). Salah satu dampak utama dari penerapan AI adalah peningkatan efisiensi operasional perpustakaan. Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Vijayakumar dan Sheshadri yang menyatakan bahwa adopsi teknologi baru dapat meningkatkan efesiensi operasional dan meningkatkan kualitas layanana perpustakaan (Vijayakumar & Sheshadri, 2019). Tugas-tugas seperti penyusunan laporan, pengolahan data koleksi, dan pembuatan konten promosi kini dapat diselesaikan dengan lebih cepat dan akurat. Dengan bantuan AI, pustakawan tidak lagi harus melakukan pekerjaan secara manual sepenuhnya, sehingga dapat mengalokasikan waktu mereka untuk tugas-tugas yang lebih kompleks. Selain efisiensi, penggunaan AI juga mengubah pola kerja pustakawan. Sebelumnya, banyak tugas katalogisasi dan bibliografi dilakukan secara manual, yang membutuhkan banyak waktu dan tenaga. Kini, dengan bantuan AI, pustakawan dapat lebih fokus pada layanan langsung kepada pemustaka, seperti memberikan rekomendasi buku atau mendukung riset akademik (Adi Nugroho, 2024). Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa penggunaan AI pada bidang pengelolaan koleksi dalam sistem katalogisasi secara digital memiliki implikasi dalam mengurangi beban kerja staf dan pustakawan. Dengan adanya fitur otomatisasi katalog, pustakawan dapat dengan mudah mengidentifikasi metadata buku atau jurnal yang masuk ke dalam koleksi perpustakaan (Manjunatha, 2023). Pemanfaatan Koha AI-Powered atau OCLC WorldCat untuk mengelola katalogisasi secara lebih efisien, walaupun sistem ini masih perlu disesuaikan dengan sistem perpustakaan yang sudah ada seperti SliMS (Machado et al., 2024). Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa implikasi lain dari penggunaan AI adalah peningkatan kualitas layanan perpustakaan. AI memungkinkan pustakawan untuk memberikan informasi yang lebih cepat dan akurat kepada pemustaka. Produktivitas staf dan pustakawan juga mengalami peningkatan setelah penerapan AI. Banyak pustakawan melaporkan bahwa mereka dapat menyelesaikan tugas dengan lebih efisien, yang memungkinkan mereka untuk lebih banyak terlibat dalam kegiatan pengembangan literasi informasi bagi pemustaka. AI juga membantu dalam memastikan bahwa pekerjaan diselesaikan dengan lebih terstruktur dan tepat waktu (Yusuf, 2024). Temuan penelitian juga menunjukkan adanya pengaruh sosial dan dukungan dari pimpinan menjadi faktor kunci dalam meningkatkan adopsi AI oleh staf dan pustakawan. Penggunaan AI telah membawa perubahan positif dalam hal motivasi dan inovasi di kalangan pustakawan. Banyak staf yang terdorong untuk mengeksplorasi berbagai fitur AI guna meningkatkan hasil kerja mereka. Beberapa pustakawan juga mulai menggunakan AI dalam pembuatan konten edukasi dan promosi perpustakaan (Subchan, 2024). Hasil penelitian ini juga mendukung teori Unified Theory of Acceptance and Use of Technology (UTAUT) terkait implikasi penggunaan AI terhadap kinerja di Perpustakaan IAIN Curup. Terdapat dua faktor yang menjadi indicator utama yaitu ekspektasi kinerja (Performance expectancy) dan ekspektasi usaha (effort expectancy) (Venkatesh et al., 2016). Kedua faktor ini berperan signifikan dalam menentukan niat staf dan pustakawan untuk menerima dan menggunakan AI. Ekspektasi kinerja (performance expectancy) merujuk pada sejauh mana seseorang percaya bahwa menggunakan teknologi tertentu akan meningkatkan kinerja atau hasil pekerjaan mereka. Dalam konteks penggunaan AI, staf dan pustakawan merasa teknologi tersebut dapat meningkatkan produktivitas, efisiensi, atau akurasi, kinerja mereka. Ekspektasi usaha (effort expectancy) mengacu pada tingkat kemudahan yang dirasakan saat menggunakan teknologi. Staf dan pustakawan merasa bahwa AI mudah dipelajari dan dioperasikan tanpa memerlukan usaha berlebihan, sehingga mereka lebih senang menggunakannya (Venkatesh, 2022). Secara organisasi, implikasi penggunaan AI di Perpustakaan IAIN Curup telah membantu dalam rangka pencapaian tujuan dan meningkatkan kinerja organisasi yang telah ditetapkan dengan memanfaatkan sumber daya yang tersedia secara efisien dan efektif (Neely, 2002). Jika kita mengacu pada tiga dimensi utama model kinerja organisasi, yaitu efisiensi operasional, efektivitas strategis, dan keberlanjutan (Kaplan & David P. Norton, 1996), maka implikasi penggunaan AI telah membantu meningkatkan kinerja Perpustakaan IAIN Curup. a. Dimensi efisiensi operasional. Dimensi efisiensi operasional pada Perpustakaan IAIN Curup ini merupakan kemampuan perpustakaan untuk mencapai hasil yang optimal dengan penggunaan sumber daya yang minimal (Yasin et al., 1999). Berdasarkan temuan penelitian menunjukkan bahwa penggunaan AI telah meningkatkan efisiensi operasional Perpustakaan IAIN Curup. Beberapa dimensi efisiensi operasional tersebut diantaranya yaitu: adanya peningkatan pada efisiensi operasional perpustakaan, adanya perubahan pola kerja pada staf dan pustakawan yang semakin baik, adanya peningkatan pada kualitas layanan perpustakaan, adanya peningkatan kualitas dan ketepatan waktu pekerjaan, serta terjadinya peningkatan pada disiplin kerja dan ketepatan waktu kerja staf dan pustakawan. Penggunaan AI sangat membantu manajemen perpustakaan dalam menyederhanakan alur kerja, mengurangi waktu yang dibutuhkan dalam pelaksanaan tugas rutin, dan meningkatkan akurasi hasil kerja (Jeff Smith, 2024). b. Dimensi efektivitas strategis. Dimensi efektivitas strategis pada perpustakaan IAIN Curup ini merupakan kemampuan perpustakaan untuk mencapai tujuan jangka panjangnya. Berdasarkan temuan penelitian menunjukkan bahwa penggunaan AI telah membantu perpustakaan meningkatkan efektivitas strategis dengan peningkatan pada kualitas layanan perpustakaan, meningkatkan produktivitas staf dan pustakawan, meningkatkan kualitas dan ketepatan waktu pekerjaan dan meningkatkan kolaborasi dan berbagi pengetahuan antar staf dan pustakawan. Peningkatan kinerja tersebut pada akhirnya akan membantu perpustakaan dalam meningkatkan kepuasan pengguna atau pemustaka dan membantu perpustakaan dalam meningkatkan dan memperkuat daya saing. Penggunaan AI di perpustakaan ini berkontribusi dalam memberikan layanan data dan informasi kepada para pemustaka secara spesifik dan akurat (Muktiarso, 2024). AI membantu perpustakaan dalam memberikan layanan informasi yang dinamis dan berbasis data (Subchan, 2024). c. Dimensi berkelanjutan. Dimensi berkelanjutan pada kinerja perpustakaan IAIN Curup merupakan kemampuan perpustakaan untuk mempertahankan dan meningkatkan kinerjanya secara berkelanjutan dalam jangka panjang (Dupopadana et al., 2024). Berdasarkan temuan penelitian, penggunaan AI dalam meningkatkan kinerja perpustakaan mencakup pemeliharaan dan perbaikan berkelanjutan terhadap kinerja operasional yang mendukung pencapaian tujuan perpustakaan. Perpustakaan IAIN Curup secara berkelanjutan cukup mampu menyesuaikan diri dengan perubahan, beradaptasi dengan tantangan baru, dan menjaga relevansinya dengan perkembangan zaman. Penggunaan AI memainkan peran penting untuk mendukung Perpustakaan IAIN Curup dalam menjalankan tugas dan fungsinya. Peningkatan efisiensi operasional, perubahan pola kerja pustakawan yang lebih baik, peningkatan pada kualitas layanan perpustakaan, peningkatan produktivitas staf dan pustakawan, peningkatan kualitas dan ketepatan waktu pekerjaan, peningkatan kolaborasi dan berbagi pengetahuan antar staf dan pustakawan, peningkatan motivasi dan inovasi staf dan pustakawan, dan peningkatan disiplin dan ketepatan waktu kerja. Semua implikasi tersebut diharapkan menjadi faktor penting dalam meningkatkan kinerja perpustakaan yang berkelanjutan (Libraries, n.d.). Secara keseluruhan, penerapan AI di Perpustakaan IAIN Curup telah membawa banyak manfaat bagi peningkatan kinerja, efisiensi operasional, produktivitas staf, dan kualitas layanan perpustakaan. Untuk mencapai pemanfaatan AI yang lebih optimal, beberapa langkah strategis perlu dilakukan oleh Perpustakaan IAIN Curup. Adapun langkah strategis yang perlu dilakukan tersebut diantaranya yaitu: Perlu adanya pelatihan khusus bagi pustakawan; Perlu adanya pengembangan kebijakan yang mendukung integrasi AI dengan sistem perpustakaan yang sudah ada; serta membangun budaya kerja yang lebih terbuka terhadap inovasi teknologi. Dengan langkah-langkah ini, AI dapat dimanfaatkan secara lebih maksimal untuk mendukung pengelolaan perpustakaan yang lebih modern dan responsif terhadap kebutuhan pemustaka serta dapat meningkatkan kinerja dan daya saing perpustakaan di era digital (Prasetio & Winanda, 2023; Siregar et al., 2024). Tantangan dan Solusi Penggunaan Artificial Intelligence (AI) di UPT Perpustakaan IAIN Curup Tantangan dalam penggunaan AI di perpustakaan merupakan hambatan atau resistensi yang dihadapi dalam proses pengadopsian atau penerapan teknologi baru, baik dari aspek teknis, budaya, maupun sumber daya (Davis, 1989). Tantangan dalam penggunaan AI di perpustakaan merujuk pada berbagai hambatan yang dihadapi dalam proses adopsi, integrasi, dan pemanfaatan teknologi AI untuk meningkatkan layanan informasi (Dwivedi et al., 2021). Solusi dalam penggunaan AI di perpustakaan mencakup serangkaian pendekatan, strategi, atau penerapan teknologi cerdas yang dirancang untuk mengatasi berbagai tantangan operasional, layanan, dan manajerial perpustakaan (Eviendrita, 2024; Machado et al., 2024). Penggunaan AI dan implikasinya terhadap kinerja di Perpustakaan IAIN Curup memiliki beberapa tantangan yang harus dihadapi dan dicarikan solusinya. Tantangan ini meliputi aspek teknis, sumber daya manusia, kebijakan institusi, serta kesiapan infrastruktur teknologi. Berdasarkan hasil temuan penelitian menunjukkan bahwa meskipun AI telah digunakan dalam berbagai tugas administratif dan pengelolaan koleksi, masih terdapat beberapa tantangan dan hambatan yang perlu diperhatikan agar penerapannya lebih optimal. Beberapa tantangan dan solusi yang dapat diberikan tersebut adalah: a. Tantangan terhadap kebijakan institusi dalam penggunaan dan implementasi AI secara kelembagaan (Siregar et al., 2024). Solusi yang dapat ditawarkan yaitu perlunya dukungan dari pimpinan baik secara kelembagaan yaitu Rektor IAIN Curup maupun Kepala Perpustakaan dalam menetapkan kebijakan institusi yang menjadi salah satu faktor utama yang sangat menentukan dalam implementasi AI. Berdasarkan temuan penelitian menunjukkan bahwa penggunaan AI lebih banyak didorong oleh inisiatif individu dibandingkan dengan kebijakan formal yang ditetapkan oleh institusi. Hingga saat ini, belum ada kebijakan tertulis yang mengatur penggunaan AI dalam sistem kerja perpustakaan, sehingga setiap pustakawan memiliki kebebasan dalam menentukan apakah akan menggunakan AI atau tidak. Tanpa kebijakan yang jelas, adopsi AI menjadi tidak merata dan bergantung pada preferensi masing-masing individu. b. Tantangan terhadap integrasi system AI dan system layanan perpustakaan serta ketersediaan infrastruktur teknologi informasi yang memadai di perpustakaan IAIN Curup. Solusi yang dapat ditawarkan yaitu perlu adanya ketersediaan infrastruktur teknologi di perpustakaan yang dapat mendukung dan mempengaruhi tingkat pemanfaatan AI dan integrasi dengan sistem perpustakaan yang sudah ada (Sabitha, 2024). Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa walaupun perpustakaan telah memiliki akses internet dan perangkat komputer yang cukup memadai, beberapa pustakawan menyatakan bahwa belum semua perangkat mendukung penggunaan aplikasi AI secara optimal. Beberapa pustakawan mengeluhkan keterbatasan perangkat keras yang terkadang menyebabkan aplikasi berbasis AI berjalan dengan lambat atau tidak stabil. Selain itu, integrasi AI dengan sistem perpustakaan yang sudah ada, seperti SLiMS, masih menjadi tantangan tersendiri yang perlu diatasi agar penggunaan AI lebih efektif. c. Tantangan terhadap minimnya pelatihan resmi dan pengembangan kompetensi yang berkesinambungan dalam penggunaan AI di perpustakaan (Widyastuti, 2021). Solusi yang dapat ditawarkan yaitu perlu adanya akses terhadap pelatihan dan pengembangan kompetensi yang menjadi faktor penting dalam menentukan efektivitas penggunaan AI di perpustakaan. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar pustakawan belum mendapatkan pelatihan resmi terkait penggunaan AI. Mereka harus belajar secara mandiri melalui eksplorasi sendiri atau berbagi pengalaman dengan rekan kerja. Tanpa adanya pelatihan resmi yang terstruktur, tingkat pemahaman dan penggunaan AI akan bervariasi antar pustakawan. d. Tantangan terhadap rendahnya minat dalam adopsi teknologi dan penggunaan AI di perpustakaan. Solusi yang dapat ditawarkan yaitu perlu adanya kolaborasi dan kerjasama serta berbagi pengalaman antar pustakawan yang dapat menjadi faktor penting dalam meningkatkan dan mempengaruhi penggunaan AI di perpustakaan. Hasil temuan penelitian menunjukkan beberapa pustakawan yang lebih mahir dalam menggunakan AI sering berbagi pengetahuan mereka dengan rekan kerja yang belum terbiasa dengan teknologi ini (IPI, 2023). Proses pembelajaran informal ini membantu pustakawan lain untuk lebih percaya diri dalam meningkatkan minat dalam mengadopsi AI. Terakhir, terkait dengan tantangan integrasi system AI terhadap system layanan perpustakaan yang telah ada, solusi yang ditawarkan adalah perlu adanya kesiapan anggaran dan investasi dalam teknologi AI yang menjadi faktor penentu dalam pengembangan lebih lanjut. Hingga saat ini, sebagian besar penggunaan AI di perpustakaan IAIN Curup masih bergantung pada aplikasi gratis atau versi terbatas dari berbagai perangkat lunak. Jika perpustakaan ingin mengembangkan sistem berbasis AI yang lebih terintegrasi, maka diperlukan investasi dalam perangkat lunak premium serta pelatihan pustakawan agar mereka dapat menggunakan teknologi ini dengan maksimal (Machado et al., 2024).
Conclusion
Berdasarkan hasil pembahasan dapat disimpulkan bahwa: 1) Penggunaan AI di Perpustakaan IAIN Curup telah menjadi bagian dari upaya modernisasi dalam pengelolaan perpustakaan. AI digunakan bukan sebagai layanan utama, tetapi sebagai alat bantu yang mendukung tugas-tugas administratif, promosi, serta pengelolaan koleksi perpustakaan; 2) Penggunaan AI di Perpustakaan IAIN Curup memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan efisiensi kerja staf dan pustakawan. Efisiensi ini tercermin dalam beberapa aspek, antara lain: Penghematan waktu kerja, karena proses pencarian data koleksi, penataan arsip digital, dan pembuatan laporan kegiatan dapat dilakukan lebih cepat dengan bantuan sistem berbasis AI. Otomatisasi pekerjaan rutin, seperti entri data, rekomendasi koleksi, serta pembuatan konten promosi digital yang sebelumnya memerlukan banyak tenaga kini dapat dikerjakan secara otomatis. Peningkatan akurasi dan konsistensi data, karena AI mampu meminimalkan kesalahan manusia (human error) dalam proses penginputan dan pelaporan. Dengan demikian, pustakawan dapat lebih fokus pada pelayanan informasi dan pengembangan serta pengelolaan koleksi secara strategis; dan 3) Terdapat beberapa tantangan dalam penggunaan AI di Perpustakaan IAIN Curup diantaranya yaitu belum adanya kebijakan secara institusional dalam implementasi AI, belum adanya integrasi AI dengan sistem yang ada, belum adanya pelatihan resmi dan pengembangan kompetensi yang berkesinambungan dan rendahnya minat terhadap adopsi teknologi baru.