Kembali
16
1
2025 Tik Ilmeu: Jurnal Ilmu Perpustakaan dan Informasi Vol 9 · 2 ISSN 2580-3662

Minat Baca E-book di Perpustakaan SMAN Jatinangor

Universitas Padjadjaran; Universitas Padjadjaran; Universitas Padjadjaran

Abstrak

Minat baca e-book di kalangan siswa SMAN Jatinangor masih relatif rendah, meskipun e-book memiliki potensi besar sebagai sumber literasi digital yang mendukung pembelajaran dan peningkatan prestasi akademik. Rendahnya minat tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain dominasi konsumsi konten hiburan daring, penggunaan gawai yang lebih berorientasi pada media sosial, serta kebiasaan belajar menggunakan buku cetak yang telah mengakar. Kondisi ini menuntut perpustakaan sekolah untuk menyesuaikan layanan melalui penguatan koleksi digital, promosi literasi berbasis elektronik, dan penyediaan akses yang lebih inklusif tanpa mengabaikan kenyamanan membaca dan kualitas konten. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis minat baca e-book di Perpustakaan SMAN Jatinangor menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Data dikumpulkan melalui observasi terhadap pola pemanfaatan e-book serta wawancara untuk menggali pengalaman, preferensi, dan faktor yang memengaruhi keputusan membaca siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa minat baca e-book dipengaruhi oleh faktor individual seperti motivasi literasi, kenyamanan membaca di layar, kebutuhan akademik, dan kebiasaan belajar, serta faktor sosial berupa dukungan teman, guru, dan ketersediaan perangkat. Penelitian ini menyimpulkan bahwa minat baca e-book mulai meningkat seiring kemudahan akses dan efisiensi penggunaannya, meskipun buku cetak tetap digunakan sebagai pendukung, terutama untuk kegiatan membaca intensif.

Abstract

Students’ interest in reading e-books at SMAN Jatinangor remains relatively low, despite the strong potential of e-books as digital literacy resources that support learning and academic achievement. This condition is influenced by several factors, including the dominance of online entertainment content, the use of digital devices mainly for social media, and long-established learning habits centered on printed books. These challenges require school libraries to adapt their services by strengthening digital collections, promoting electronic-based literacy, and providing inclusive access while maintaining reading comfort and content quality. This study aims to analyze students’ interest in reading e-books at the SMAN Jatinangor Library using a descriptive qualitative approach. Data were collected through observation of e-book usage patterns and interviews to examine students’ experiences, preferences, and factors influencing their reading decisions. The findings reveal that students’ interest in e-books is influenced by individual factors such as literacy motivation, screen-reading comfort, academic needs, and learning habits, as well as social factors including peer support, teacher encouragement, and access to digital devices. The study concludes that interest in e-books has begun to increase due to their accessibility and efficiency, although printed books remain an important complementary resource, particularly for intensive reading activities that require sustained concentration.
Keywords: Reading Interest · E-book · Library

Introduction

Minat membaca adalah sebuah fondasi krusial yang secara langsung berkontribusi pada peningkatan kualitas pembelajaran siswa serta menjadi pilar utama dalam menunjang pencapaian prestasi akademik mereka di sekolah. Namun, di SMAN Jatinangor, sebuah institusi pendidikan menengah atas yang berlokasi di Sumedang, fenomena rendahnya antusiasme siswa terhadap berbagai kegiatan membaca masih menjadi isu penting, baik itu dalam pemanfaatan koleksi buku cetak yang tersedia di perpustakaan sekolah maupun saat mengakses beragam sumber bacaan digital. Kondisi ini secara jelas mengindikasikan adanya hambatan mendasar yang perlu segera diidentifikasi dan ditangani secara efektif, karena kurangnya keterlibatan siswa dalam literasi dapat menghambat potensi pengembangan diri dan kesuksesan akademis mereka. Oleh karena itu, penting sekali bagi sekolah untuk mencari solusi inovatif demi membangkitkan kembali semangat membaca di kalangan seluruh siswanya. Di tengah pesatnya perkembangan era digital yang terus mengubah lanskap informasi, banyak perpustakaan sekolah di Indonesia, termasuk SMAN Jatinangor, masih belum sepenuhnya mengadopsi atau menyediakan layanan e-book yang komprehensif bagi para penggunanya. Padahal, kemajuan teknologi informasi telah membawa dampak yang sangat besar pada berbagai aspek kehidupan, terutama dalam cara individu mengakses, menyimpan, dan membaca informasi. Kehadiran layanan e-book, yang memungkinkan penyediaan buku dalam format digital untuk diakses melalui beragam perangkat elektronik seperti laptop, tablet, smartphone, dan e-reader, menawarkan berbagai keunggulan signifikan. Keunggulan tersebut meliputi kemudahan akses tanpa batasan fisik, efisiensi dalam penggunaan ruang penyimpanan, serta fleksibilitas luar biasa untuk membaca kapan pun dan di mana pun tanpa perlu membawa buku fisik yang memberatkan. Kepraktisan superior yang ditawarkan oleh layanan e-book secara alami menjadikannya pilihan yang semakin diminati oleh pengguna perpustakaan, khususnya dari kalangan generasi muda yang pada umumnya sangat akrab dan adaptif terhadap teknologi digital. Layanan ini sangat mendukung kegiatan akademik karena memungkinkan proses pencarian informasi yang cepat dan efisien, dilengkapi dengan fitur-fitur canggih seperti pencatatan digital yang intuitif, hingga kemudahan luar biasa dalam mengutip referensi untuk keperluan tugas atau penelitian. Lebih jauh lagi, dalam berbagai situasi khusus yang menantang, misalnya saat pandemi COVID-19 atau adanya keterbatasan fisik ruang perpustakaan, e-book terbukti menjadi solusi utama yang tak tergantikan dalam menjamin keberlanjutan akses terhadap materi literasi yang vital bagi proses pembelajaran. Namun demikian, proliferasi dan peningkatan popularitas layanan e-book secara bersamaan juga memunculkan kekhawatiran yang cukup beralasan mengenai potensi tergerusnya kebiasaan membaca buku cetak yang telah lama menjadi budaya. Meskipun e-book secara objektif menawarkan berbagai kelebihan yang tak terbantahkan, sejumlah besar pembaca masih merasakan kenyamanan, sensasi taktil, dan kepuasan tersendiri yang unik hanya ketika berinteraksi langsung dengan buku dalam bentuk fisik yang nyata. Buku cetak seringkali dianggap memberikan pengalaman membaca yang lebih fokus dan mendalam, cenderung tidak menimbulkan kelelahan mata akibat paparan layar digital yang berkepanjangan, serta memiliki nilai sentimental dan estetika yang sulit direplikasi sepenuhnya oleh format digital. Situasi kompleks ini secara kritis menimbulkan pertanyaan signifikan: apakah tren peningkatan penggunaan layanan e-book ini pada gilirannya secara langsung memengaruhi, bahkan mungkin secara gradual mengurangi, minat masyarakat terhadap buku cetak tradisional yang telah ada? Kekhawatiran yang timbul ini menjadi semakin relevan dan penting untuk dianalisis lebih dalam, mengingat bahwa pola konsumsi informasi dan literasi di kalangan masyarakat modern, terutama para pelajar, telah mengalami pergeseran yang cukup kentara. Banyak siswa, termasuk seluruh warga SMAN Jatinangor yang bangga dengan akreditasi A berdasarkan SK No. 555/BAN-SM/SK/2023, kini sudah terbiasa dengan konsumsi media digital yang menawarkan akses instan dan efisiensi waktu yang tinggi, meskipun perlu dicatat bahwa akses internet di lingkungan sekolah ini masih terbatas dan belum tersedia secara optimal. Jika pergeseran preferensi ke arah digital ini tidak diimbangi dengan strategi pelestarian budaya membaca konvensional yang cerdas, ada risiko nyata bahwa minat terhadap buku cetak akan mengalami penurunan progresif secara perlahan. Oleh karena itu, sangat penting bagi perpustakaan sekolah untuk secara proaktif mengevaluasi dampak komparatif layanan e-book terhadap minat baca buku cetak serta merumuskan strategi layanan yang tidak hanya inklusif tetapi juga seimbang secara optimal antara koleksi digital dan fisik yang mereka tawarkan. Namun, penelitian yang secara spesifik meneliti bagaimana pengaruh minat baca e-book terhadap kebiasaan membaca buku cetak di SMAN Jatinangor masih sangat terbatas. Konteks mengenai SMAN Jatinangor penting secara ilmiah karena karakteristik siswanya unik dimana mereka terbiasa dengan media digital dan akses perpustakaan fisik dan literasi digital masih perlu penguatan. Hal ini menjadikan sekolah ini sebagai lokasi yang relevan untuk memahami bagaimana perubahan minat baca digital dan cetak secara komprehensif. Minat baca adalah dorongan dalam diri seseorang yang menimbulkan rasa tertarik terhadap kegiatan membaca, baik sebagai sarana hiburan, pembelajaran, maupun pengembangan diri. Beberapa studi menunjukkan bahwa minat untuk membaca perlu ditanamkan ke dalam diri anak sejak masih kecil karena minat baca pada anak tidak akan bisa dibentuk dengan sendirinya, tetapi lingkungan sekitar dari sang anak akan sangat memengaruhi minat bacanya. Keluarga merupakan lingkungan pertama dan paling berpengaruh untuk menumbuhkan, menanamkan, dan membina minat baca anak. Kesadaran akan pentingnya membaca dalam kehidupan anak tentunya perlu ditanamkan oleh orang tuanya. Lalu dilanjutkan oleh guru di sekolah, teman sebaya, dan masyarakat. (Fitraloka et al., 2022). Menurut penelitian yang dilakukan oleh beberapa ahli pada dekade terakhir, minat baca sangat berperan dalam membentuk kebiasaan literasi yang kuat pada individu. Minat baca tidak hanya memengaruhi frekuensi seseorang membaca, tetapi juga kualitas pemahaman dan motivasi dalam proses pembelajaran. Menurut (Umar Mansyur, 2020) minat baca adalah tingkatan kebahagiaan yang sangat kuat karena munculnya dorongan yang timbul dalam diri seseorang untuk melakukan suatu hal yang berhubungan dengan kegiatan membaca untuk mendapatkan informasi, dan menyebabkan datangnya kebahagiaan dan manfaat bagi diri sendiri. Minat baca adalah dorongan internal yang mendorong seseorang untuk aktif dan berkelanjutan dalam melakukan kegiatan membaca. Minat baca berperan penting dalam membentuk kebiasaan literasi serta mempengaruhi kemampuan pemahaman dan prestasi belajar siswa. Faktor-faktor yang memengaruhi minat baca meliputi motivasi, kebutuhan individu, serta dukungan lingkungan seperti keluarga, sekolah, dan ketersediaan bahan bacaan yang menarik dan mudah diakses. Selain itu, perkembangan teknologi dengan hadirnya media digital seperti e-book turut mempengaruhi pola dan motivasi membaca, sehingga pengembangan minat baca perlu didukung oleh penyediaan sumber bacaan yang variatif dan lingkungan yang kondusif agar siswa dapat mengembangkan kebiasaan membaca yang baik. Koleksi e-book di perpustakaan sekolah semakin menjadi kebutuhan yang sangat penting di era digital saat ini, karena memberikan kemudahan akses bagi siswa untuk memperoleh bahan bacaan kapan saja dan di mana saja melalui berbagai perangkat elektronik seperti smartphone, tablet, maupun komputer. Koleksi digital ini tidak hanya memperluas variasi bahan bacaan yang tersedia, tetapi juga mampu menarik minat baca siswa yang semakin akrab dengan teknologi modern dan gaya hidup digital. Meski demikian, pengelolaan koleksi e-book menghadapi beberapa tantangan, seperti keterbatasan lisensi, isu hak cipta, serta rendahnya literasi digital di kalangan siswa yang berpotensi menghambat pemanfaatannya secara optimal. Oleh karena itu, perpustakaan perlu mengembangkan program pelatihan dan sosialisasi yang memadai agar siswa dapat memanfaatkan koleksi e-book dengan maksimal, sehingga dapat mendukung peningkatan budaya literasi di lingkungan sekolah, khususnya di SMAN Jatinangor. Perpustakaan sekolah memegang peranan strategis sebagai pusat sumber belajar yang mendukung proses pendidikan dan pengembangan literasi siswa secara menyeluruh. Fungsi perpustakaan tidak hanya terbatas pada penyediaan berbagai jenis bahan bacaan, baik dalam bentuk cetak maupun digital seperti e-book, tetapi juga sebagai ruang belajar yang kondusif dan inspiratif untuk menumbuhkan minat baca, kreativitas, serta kemampuan berpikir kritis siswa. Dengan koleksi yang beragam dan teknologi yang terus berkembang, perpustakaan sekolah memberikan kemudahan akses informasi yang relevan dan up-to-date, sehingga siswa dapat mengembangkan keterampilan literasi informasi yang sangat dibutuhkan dalam era digital. Selain itu, perpustakaan sekolah juga berperan dalam mengajarkan siswa bagaimana mencari, mengevaluasi, serta memanfaatkan informasi secara efektif dan etis. Melalui program-program pembinaan literasi dan bimbingan pemanfaatan sumber belajar, perpustakaan dapat meningkatkan motivasi dan kebiasaan membaca yang berkelanjutan. Oleh karena itu, pengelolaan perpustakaan yang profesional dan inovatif sangat diperlukan agar perpustakaan sekolah dapat berfungsi optimal sebagai wahana penguatan budaya literasi dan peningkatan prestasi akademik siswa di tengah tantangan era teknologi informasi yang semakin maju (Dewi, 2017). Beberapa penelitian sebelumnya menyebutkan bahwa meskipun penggunaan e-book semakin meningkat, buku cetak masih memiliki tempat tersendiri di kalangan pembaca. Berdasarkan alasan tersebut, e-book yang tentunya berdampak pada kebiasaan pengguna dalam membaca buku cetak yang ada di perpustakaan menjadi alasan mengapa peneliti memilih e-book sebagai masalah yang diteliti. Peneliti mencari penelitian terdahulu mengenai bagaimana e-book memengaruhi kebiasaan pengguna dalam membaca buku cetak. Penelitian yang menggambarkan suatu kajian telah dilakukan beberapa peneliti. Pertama, penelitian terdahulu dari (Nurbaiti & Mariah, 2020), yang meneliti pengaruh sikap pada e-book dan buku fisik terhadap minat baca masyarakat di era industri 4.0. Penelitian ini diteliti menggunakan pendekatan kuantitatif melalui pengumpulan data survei kuesioner dengan responden rentang umur 15 sampai 41 tahun. Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa e-book lebih diminati oleh generasi muda dan kelompok berpendidikan tinggi karena kepraktisannya dan minat terhadap buku fisik menurun, terutama di kalangan yang lebih terpapar teknologi. Penelitian terdahulu kedua dari (Sonia & Yuliani, 2023) membahas pengaruh pemanfaatan e-book sebagai media pembelajaran untuk meningkatkan literasi digital siswa. Studi ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana penggunaan e-book dapat berkontribusi pada peningkatan keterampilan literasi digital di kalangan pelajar. Temuan dari penelitian ini menunjukkan bahwa e-book memiliki potensi signifikan sebagai alat yang efektif dalam proses pembelajaran untuk mendukung dan memperkuat literasi digital siswa. Pemanfaatan e-book dapat memudahkan siswa dalam mengakses informasi, serta membantu mereka mengembangkan kemampuan kritis dalam mengolah konten digital. Berdasarkan kedua penelitian terdahulu di atas, penelitian tersebut memiliki persamaan dan perbedaan dari penelitian ini. Persamaan pada penelitian milik (Nurbaiti & Mariah, 2020) terdapat pada pembahasan mengenai pengaruh e-book terhadap minat baca di kalangan masyarakat, sedangkan perbedaan terdapat pada metode penelitian yang digunakan oleh peneliti. Kemudian persamaan dari penelitian milik (Sonia & Yuliani, 2023) terdapat pada pembahasan mengenai e-book yang dapat menjadi solusi yang baik untuk meningkatkan literasi digital di Indonesia, sedangkan perbedaannya terdapat pada metode penelitian. Penelitian terdahulu ini menggunakan metode penelitian kualitatif melalui pendekatan yang lebih luas, yang bertujuan untuk memahami fenomena dari sudut pandang orang yang mengalaminya. Sedangkan peneliti menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif yang berfokus khusus pada menggambarkan fenomena atau kejadian tertentu secara rinci tanpa tujuan untuk mengembangkan teori atau model yang lebih besar. Sebagai adaptasi dari beberapa penelitian terdahulu, penelitian ini memiliki kebaruan dengan fokus pada e-book yang mempengaruhi kebiasaan membaca buku cetak di Perpustakaan SMAN Jatinangor. Penelitian ini meneliti minat baca e-book siswa SMAN Jatinangor serta bagaimana perpustakaan menyikapi perubahan ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat minat baca siswa SMAN Jatinangor secara menyeluruh, dengan melihat seberapa besar ketertarikan dan kebiasaan siswa dalam mengakses serta membaca berbagai jenis bahan bacaan, baik dalam bentuk buku cetak maupun digital. Dengan penelitian ini, diharapkan dapat memberi tahu tentang strategi yang dilakukan Perpustakaan SMAN Jatinangor dalam menyeimbangkan minat baca antara e-book dan buku cetak. Berdasarkan research gap penelitian tersebut, penelitian ini difokuskan pada pengaruh minat baca e-book terhadap kebiasaan membaca buku cetak di SMAN Jatinangor dan strategi perpustakaan dalam menyeimbangkannya. Pertanyaan penelitian dirumuskan sebagai berikut: 1. Apa saja e-book yang dibaca oleh Siswa SMAN Jatinangor? 2. Bagaimana strategi perpustakaan dalam menarik minat baca? Dengan penelitian ini, diharapkan dapat memberikan pemahaman mengenai strategi yang dibutuhkan perpustakaan untuk tetap mempertahankan pembaca buku cetak disaat perkembangan teknologi yang menyebabkan e-book yang dapat diakses dengan lebih praktis dan hasil riset dapat membantu perpustakaan dalam menentukan strategi untuk menyeimbangkan pembaca e-book dan buku cetak.".

Method

Penelitian ini mengadopsi pendekatan kualitatif deskriptif, sebuah metode yang dipilih karena kemampuannya untuk memahami dan menggambarkan fenomena secara mendalam, khususnya dalam menyoroti pertanyaan seperti siapa, apa, di mana, dan bagaimana suatu peristiwa atau pengalaman terjadi, hingga akhirnya mengkaji pola-pola yang muncul (Kim, H. et al., 2017). Dalam studi ini, objek penelitian yang menjadi fokus utama adalah tingkat minat baca e-book siswa di Perpustakaan SMAN Jatinangor, sementara subjek penelitian terdiri dari 20 siswa SMAN Jatinangor yang dipilih secara selektif berdasarkan kelas dan tingkat minat baca, serta satu pustakawan yang bertanggung jawab atas pengelolaan e-book di perpustakaan. Pendekatan ini dipilih secara strategis karena dinilai lebih efektif dalam mengeksplorasi secara komprehensif berbagai fenomena sosial dan perilaku pengguna yang kompleks, termasuk dinamika interaksi mereka dengan bahan bacaan. Metode kualitatif secara khusus memberikan kesempatan luas bagi peneliti untuk menggali berbagai aspek tersembunyi yang terkandung dalam pengalaman individu, terutama yang berhubungan erat dengan kebiasaan membaca, baik melalui buku cetak tradisional maupun e-book digital, sehingga diperoleh pemahaman yang lebih detail. Untuk pengumpulan data, peneliti melakukan observasi langsung di Perpustakaan SMAN Jatinangor untuk mengamati perilaku pengguna perpustakaan dalam menggunakan buku cetak dan e-book. Keabsahan data dijaga melalui sumber dengan membandingkan informasi dari siswa dan pustakawan, serta memeriksa konsistensi temuan melalui observasi dan studi literatur yang relevan. Selain itu, wawancara mendalam dilakukan dengan dua kelompok utama, yaitu pengguna perpustakaan dan Bu Kiki selaku pustakawan SMAN Jatinangor. Wawancara ini bertujuan menggali alasan dan strategi terkait pilihan format bacaan serta pengelolaan perpustakaan, memberikan wawasan tambahan mengenai perspektif pustakawan tentang bagaimana perubahan kebiasaan membaca mempengaruhi layanan perpustakaan. Studi literatur dalam penelitian ini melibatkan peninjauan mendalam terhadap berbagai teori dan penelitian terdahulu yang relevan, membahas konsep-konsep seperti faktor minat baca, pentingnya e-book di era digital, dan peran strategis perpustakaan sekolah. Analisis data juga diarahkan untuk mengidentifikasi pola, makna, dan implikasi terhadap perilaku membaca siswa, sehingga tidak hanya menggambarkan fenomena secara deskriptif, tetapi juga memberikan wawasan teoritis mengenai perubahan minat baca di era digital. Dalam penelitian ini, peneliti juga menggunakan teknik analisis data kualitatif model interaktif dari (Miles, M. B. et al, 2018). Model ini melibatkan tiga alur kegiatan utama yang saling terkait dan berlangsung secara simultan: yaitu penyederhanaan data, penyajian data, serta penarikan dan verifikasi kesimpulan, yang dilakukan secara iteratif sepanjang proses penelitian.

Discussion

SMA Negeri Jatinangor (SMAN Jatinangor) adalah sebuah institusi pendidikan menengah atas negeri yang beroperasi di bawah Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. Sekolah ini terletak di Jalan Ir. Soekarno Km. 22, Desa Hegarmanah, Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang. Didirikan pada 5 Oktober 1994, sebelumnya dikenal sebagai SMU Negeri 1 Cikeruh sebelum melakukan penyesuaian nama sesuai dengan perubahan nama kecamatan. Saat ini, SMAN Jatinangor dipimpin oleh Bapak Uus Usman dan memiliki lebih dari 1.200 siswa, didukung oleh sejumlah tenaga pendidik yang kompeten, serta telah meraih akreditasi A. Meskipun memiliki fasilitas yang memadai, seperti 30 ruang kelas, laboratorium, dan perpustakaan, sekolah ini menghadapi tantangan besar terkait keterbatasan akses internet yang belum optimal untuk mendukung pembelajaran digital, yang menjadi isu penting dalam pengembangan layanan e-book di lingkungan sekolah. Rendahnya pemanfaatan e-book tidak hanya dipengaruhi oleh preferensi kenyamanan membaca buku cetak, tetapi juga oleh keterbatasan akses internet di area sekolah. Minimnya Wi-Fi menyebabkan siswa hanya membaca e-book melalui paket data pribadi, sehingga menimbulkan kesenjangan akses: siswa dengan gawai dan data kuat lebih aktif mengakses e-book, sedangkan siswa lain tetap bergantung pada buku cetak. Kondisi ini menunjukkan bahwa infrastruktur digital menjadi faktor penyebab langsung rendahnya minat baca e-book, bukan hanya masalah motivasi individu. Perpustakaan SMAN Jatinangor secara aktif melaksanakan berbagai program literasi yang sejalan dengan kebijakan pemerintah untuk meningkatkan minat baca siswa, terutama terhadap buku cetak, berdasarkan informasi dari wawancara dengan penjaga perpustakaan. Program-program ini dirancang tidak hanya dalam bentuk kegiatan formal, tetapi juga diintegrasikan dengan baik ke dalam rutinitas harian siswa, baik di dalam kelas maupun saat berinteraksi di perpustakaan. Penekanan pada buku cetak dalam inisiatif ini bertujuan untuk memperkuat dasar literasi konvensional di tengah dominasi media digital yang semakin meluas, menjaga keseimbangan dalam ekosistem literasi siswa. Salah satu inisiatif utama yang secara konsisten diterapkan adalah program "15 menit membaca" yang dilaksanakan setiap hari Jumat sebelum pelajaran pertama dimulai. Dalam kegiatan ini, siswa diwajibkan untuk meluangkan waktu selama 15 menit untuk membaca buku cetak dari koleksi perpustakaan, mencakup berbagai genre fiksi dan nonfiksi, dengan arahan tegas untuk tidak menggunakan materi digital. Tujuan utama dari kegiatan ini adalah untuk membentuk kebiasaan membaca yang berkelanjutan serta untuk mengembalikan nilai dan manfaat membaca dalam format cetak. Namun, hasil observasi tidak menunjukkan adanya pengukuran dampak terhadap peningkatan minat baca. Program ini cenderung hanya membangun rutinitas tanpa memberikan ruang bagi literasi digital. Artinya, strategi ini belum efektif untuk menyeimbangkan budaya membaca cetak dan digital, terutama karena siswa tetap lebih tertarik pada platform hiburan digital seperti Webtoon atau Wattpad. Selain itu, perpustakaan juga mengadakan kegiatan resensi buku, di mana siswa membuat ulasan singkat yang kemudian dipajang atau didiskusikan, bertujuan untuk membangkitkan rasa ingin tahu dan menghindari kejenuhan terhadap format buku. Dalam konteks pemanfaatan sumber bacaan digital, observasi menunjukkan bahwa siswa SMAN Jatinangor cenderung memilih platform e-book yang menawarkan akses mudah dan konten yang beragam. Aplikasi seperti Webtoon, Wattpad, dan Google Books menjadi jenis bacaan digital yang paling sering diakses oleh mereka, mencerminkan preferensi terhadap format yang interaktif dan dinamis. Platform-platform ini menyediakan berbagai genre mulai dari fiksi populer hingga materi pendidikan, yang dapat diakses langsung melalui perangkat pribadi siswa. Popularitas ini tidak terlepas dari kebiasaan generasi muda yang sangat akrab dengan perangkat digital dan mencari sumber informasi yang praktis serta relevan dengan minat mereka. Lebih lanjut, pihak perpustakaan aktif menjalin kolaborasi strategis dengan para guru mata pelajaran untuk secara sistematis mengarahkan siswa agar menggunakan buku cetak sebagai sumber referensi tambahan dalam proses belajar. Para guru secara konsisten mendorong siswa untuk memperluas pencarian informasi, tidak hanya bergantung pada sumber dari internet, tetapi juga memanfaatkan berbagai pustaka yang tersedia di perpustakaan sekolah. Pendekatan ini menjadi langkah edukatif yang penting dalam membangun kebiasaan literasi informasi yang seimbang dan bertanggung jawab, sekaligus menegaskan kembali peran penting buku cetak sebagai salah satu sumber ilmu yang memiliki kredibilitas tinggi dan telah terverifikasi keakuratannya. Temuan dari wawancara ini menunjukkan bahwa kebijakan literasi yang diimplementasikan secara konsisten dan kreatif di sekolah dapat menjadi strategi efektif dalam mempertahankan eksistensi buku cetak di tengah arus digitalisasi. Meskipun tantangan dalam menarik perhatian siswa terhadap buku fisik cukup besar, pendekatan yang inklusif dan menyenangkan ternyata mampu menumbuhkan kembali minat baca yang sebelumnya mulai menurun. Oleh karena itu, program literasi sekolah seperti yang diterapkan di SMAN Jatinangor dapat menjadi contoh praktik baik dalam menjaga keseimbangan antara penggunaan teknologi digital dan pelestarian budaya baca tradisional melalui buku cetak. Tabel 1. Tabel Temuan Penelitian Pertanyaan Riset: Frekuensi Penggunaan E-book. Temuan Penelitian: Siswa menunjukkan variasi dalam seberapa sering mereka menggunakan e-book dibandingkan buku cetak. Ada kelompok yang cenderung menggunakan e-book dengan cukup rutin, sementara ada pula yang masih jarang atau sangat sering. Pertanyaan Riset: Dampak E-book terhadap Kebiasaan Membaca Buku Cetak. Temuan Penelitian: Ketersediaan e-book di smartphone memang telah mengubah kebiasaan membaca bagi sebagian besar siswa, dengan banyak yang kini lebih sering membaca e-book. Namun, sejumlah siswa menyatakan bahwa kebiasaan membaca buku cetak mereka tidak banyak berubah, dan sebagian kecil bahkan merasa lebih jarang membaca secara keseluruhan. Pertanyaan Riset: Faktor Penentu Pilihan E-book/Buku Cetak. Temuan Penelitian: Dua faktor utama yang sangat mempengaruhi pilihan siswa dalam menggunakan e-book atau buku cetak adalah kemudahan akses dan kenyamanan, serta kualitas bacaan yang disajikan. Ketersediaan koleksi juga menjadi pertimbangan, meskipun tidak sepenting dua faktor lainnya. Pertanyaan Riset: Persepsi E-book sebagai Pengganti Buku Cetak dalam Pembelajaran. Temuan Penelitian: Pandangan siswa mengenai kemampuan e-book untuk sepenuhnya menggantikan buku cetak dalam konteks pembelajaran cukup bervariasi. Ada yang cenderung netral, namun ada pula yang sangat setuju atau tidak setuju, menunjukkan adanya beragam perspektif tentang peran e-book di lingkungan akademik. Pertanyaan Riset: Dampak Negatif E-book pada Kebiasaan Membaca Buku Cetak. Temuan Penelitian: Sebagian besar siswa memiliki persepsi bahwa keberadaan layanan e-book membawa pengaruh negatif terhadap kebiasaan mereka dalam membaca buku cetak. Namun, ada pula kelompok siswa yang tidak merasakan dampak negatif tersebut, mengindikasikan adanya perbedaan pengalaman individu. Observasi mendalam di SMAN Jatinangor telah menguak adanya spektrum variasi yang mencolok terkait frekuensi siswa dalam memanfaatkan e-book sebagai sarana literasi. Terlihat jelas bahwa segmen tertentu dari populasi siswa secara konsisten dan rutin mengintegrasikan e-book ke dalam aktivitas membaca mereka sehari-hari, memanfaatkan kemudahan aksesibilitas format digital untuk menunjang kebutuhan belajar maupun rekreasi. Namun, secara kontras, sebuah kelompok signifikan lainnya justru menunjukkan tingkat antusiasme yang sangat rendah, mengakibatkan penggunaan e-book oleh mereka tetap sangat sporadis atau bahkan nyaris tidak pernah terjadi sama sekali, membatasi potensi pemanfaatan sumber daya digital di lingkungan sekolah. Fenomena polarisasi ini secara tegas mengindikasikan bahwa adopsi e-book sebagai instrumen pembelajaran dan hiburan belum berhasil mencapai tingkat konsistensi yang merata di seluruh spektrum populasi siswa, sebuah temuan yang selaras dengan berbagai penelitian kontemporer yang menekankan bahwa faktor personal yang inheren pada diri individu serta kondisi lingkungan eksternal merupakan penentu krusial dalam keberhasilan adopsi teknologi yang inovatif (Lisana & Handarkho, 2024). Temuan ini konsisten dengan studi Nurbaiti & Mariah (2020) yang menunjukkan bahwa e-book lebih diterima ketika perangkat digital dan akses data memadai. Namun, temuan di SMAN Jatinangor justru memperlihatkan bahwa preferensi terhadap buku cetak bertahan karena faktor fasilitas, bukan sikap siswa. Hal tersebut juga berbeda dengan Sonia & Yuliani (2023) yang menemukan bahwa e-book dapat meningkatkan literasi digital jika ada dukungan pelatihan. Dengan demikian, penelitian ini menambahkan bukti bahwa infrastruktur sekolah merupakan faktor krusial penentu efektivitas inovasi e-book. Percepatan difusi e-book yang kini semakin mudah diakses, utamanya melalui perangkat smartphone yang hampir dimiliki setiap siswa, secara nyata telah memicu perubahan dinamis dan bervariasi pada pola kebiasaan membaca buku cetak di kalangan pelajar. Meskipun data menunjukkan bahwa mayoritas siswa melaporkan adanya peningkatan yang substansial dalam frekuensi membaca e-book, sebuah tren yang secara implisit berpotensi mengikis alokasi waktu yang sebelumnya didedikasikan untuk membaca buku fisik tradisional, terdapat pula segmen kecil siswa yang justru mengalami dampak paradoks, di mana ketersediaan format digital ini secara tidak langsung membuat mereka merasa membaca lebih jarang secara keseluruhan. Dinamika kompleks ini secara langsung merefleksikan hasil studi ekstensif yang menunjukkan perbedaan mendasar pada efek kognitif dan perilaku antara kegiatan membaca melalui medium digital dan cetak, khususnya dalam hal pemahaman dan retensi informasi, sehingga mempertegas adanya kompleksitas interaksi yang berkelanjutan antara format bacaan yang berbasis teknologi digital dan praktik literasi yang telah berakar dalam tradisi (Mangen et al., 2019). Keputusan strategis siswa dalam menimbang dan memilih antara e-book dan buku cetak sebagai medium bacaan utama ternyata sangat dipengaruhi oleh dua parameter fundamental yang saling terkait, yakni aspek kemudahan aksesibilitas dan kenyamanan optimal dalam penggunaan e-book yang serba praktis, serta kualitas substansial dari konten dan presentasi visual yang ditawarkan oleh setiap format bacaan. Di samping kedua faktor dominan tersebut, ketersediaan koleksi bacaan yang relevan dan sesuai dengan minat juga turut memegang peran penting sebagai pertimbangan tambahan bagi siswa, meskipun signifikansinya sedikit berada di bawah bobot faktor kemudahan dan kualitas konten. Preferensi yang tampak pragmatis ini konsisten dengan kerangka Technology Acceptance Model (TAM) yang terus diperbarui dan diperluas, di mana berbagai studi ekstensi model tersebut secara sistematis menekankan bahwa kemanfaatan yang dirasakan oleh pengguna serta kemudahan penggunaan yang intuitif menjadi prediktor utama yang menentukan tingkat adopsi suatu teknologi (Tarhini et al., 2017). Faktor keterbatasan internet memperkuat pilihan siswa untuk menggunakan buku cetak karena akses e-book tidak dapat dilakukan tanpa jaringan. Hal ini menyebabkan literasi digital berkembang tidak merata. Ketika fasilitas akses tidak tersedia, siswa tidak diberi kesempatan mengembangkan kebiasaan membaca digital, sehingga minat baca e-book tetap rendah terlepas dari potensi manfaatnya. Presepsi siswa di SMAN Jatinangor mengenai kapabilitas e-book untuk secara komprehensif menggantikan peran buku cetak dalam ekosistem proses pembelajaran menunjukkan spektrum keragaman yang luar biasa dan mencolok di antara mereka. Terdapat kelompok siswa yang memilih untuk mengambil posisi yang relatif netral terhadap gagasan revolusioner ini, mencerminkan sikap hati-hati atau ketidakpastian akan masa depan format bacaan dalam pendidikan. Namun, secara bersamaan, sebagian besar lainnya secara lugas dan tegas menyatakan persetujuan kuat atau ketidaksetujuan mendalam mereka terhadap potensi substitusi penuh tersebut, menyoroti adanya perbedaan pandangan fundamental. Heterogenitas pandangan ini secara nyata mengindikasikan bahwa seluruh komunitas akademik di SMAN Jatinangor memiliki interpretasi dan ekspektasi yang bervariasi secara signifikan mengenai peran transformatif e-book serta potensi dampaknya dalam sistem pendidikan di masa mendatang, secara jelas merefleksikan perdebatan teoretis dan empiris yang masih intens berlangsung dalam literatur akademis mengenai efektivitas komparatif dan preferensi format bacaan di lingkungan pendidikan kontemporer. Secara keseluruhan, sebagian besar siswa menyuarakan persepsi adanya dampak negatif yang cukup terasa dari proliferasi e-book terhadap kebiasaan mereka dalam mengkonsumsi buku cetak, mengisyaratkan adanya pergeseran prioritas atau preferensi yang signifikan menuju format digital. Kecenderungan ini menunjukkan bahwa kemudahan akses dan fitur interaktif e-book mungkin secara tidak langsung mengurangi daya tarik buku fisik bagi banyak pembaca. Namun, yang menarik, fenomena ini tidak bersifat universal; ada kelompok substansial siswa yang secara konsisten melaporkan bahwa keberadaan e-book sama sekali tidak memberikan pengaruh yang berarti pada kebiasaan membaca buku cetak mereka, mempertahankan preferensi dan rutinitas lama. Realitas ganda ini dengan jelas menegaskan bahwa pengalaman individu, termasuk preferensi personal, gaya belajar, dan lingkungan pribadi, memainkan peran yang sangat krusial dalam membentuk respons serta adaptasi terhadap inovasi digital yang terus berkembang dalam praktik literasi, sejalan dengan prinsip-prinsip teori pembelajaran sosial yang menekankan bagaimana observasi dan pengalaman pribadi secara fundamental membentuk perilaku dan persepsi seseorang terhadap berbagai stimulus (Firmansyah & Saepuloh, 2022). Temuan ini memiliki implikasi praktis bagi perpustakaan sekolah. Pertama, sekolah perlu menyediakan Wi-Fi gratis agar akses e-book tidak bergantung pada kuota pribadi siswa. Kedua, program membaca wajib perlu diperluas menjadi “program literasi digital terjadwal” agar siswa terbiasa membuka e-book sebagai sumber belajar. Ketiga, perpustakaan harus menyusun kurasi koleksi e-book yang relevan dengan tugas akademik, bukan hanya bacaan rekreasi. Secara teoretis, temuan ini memperkaya literatur mengenai kesenjangan digital di sekolah Indonesia, menunjukkan bahwa minat baca digital tidak dapat dipisahkan dari faktor ekosistem fasilitas yang mendukungnya. Dengan demikian, hasil temuan komprehensif dari penelitian ini secara jelas menggarisbawahi bahwa meskipun e-book terus mengalami peningkatan popularitas yang pesat dan menawarkan beragam keuntungan substantif, kehadirannya secara bersamaan juga memicu pergeseran signifikan dalam kebiasaan membaca yang sebelumnya lebih terpusat pada buku cetak tradisional. Oleh karena itu, menjadi krusial bagi perpustakaan sekolah dan seluruh lembaga pendidikan untuk secara proaktif mempertimbangkan dan mengimplementasikan strategi komprehensif yang secara bijaksana menggabungkan dan menyeimbangkan kedua format bacaan ini, baik digital maupun fisik, guna memastikan keberlanjutan kebiasaan membaca di kalangan siswa. Pendekatan holistik ini dapat diwujudkan melalui inisiatif seperti penyediaan ruang baca digital yang dirancang secara ergonomis dan nyaman, pengembangan koleksi e-book yang terus-menerus diperkaya dengan judul-judul menarik dan relevan, serta upaya tak henti untuk mempertahankan dan memperbarui koleksi buku fisik yang sesuai dengan kebutuhan dan minat beragam pembaca dari berbagai generasi. Strategi terintegrasi semacam ini tidak hanya akan mendukung literasi digital tetapi juga melestarikan nilai literasi cetak sebagai fondasi kuat dalam pembelajaran.

Conclusion

Secara umum, penelitian ini menyimpulkan bahwa minat baca e-book di kalangan siswa SMAN Jatinangor menunjukkan peningkatan yang nyata, yang secara kualitatif mengindikasikan adanya pergeseran kebiasaan membaca dari buku cetak ke format digital, di mana banyak siswa kini lebih sering menggunakan e-book sejak ketersediaannya di smartphone, meskipun sebagian lainnya tetap mempertahankan kebiasaan membaca buku cetak atau bahkan merasa tidak ada perubahan signifikan. Faktor utama yang menentukan pilihan pengguna antara e-book dan buku cetak adalah kepraktisan dan kemudahan akses yang ditawarkan oleh e-book, meskipun terdapat kecenderungan kuat untuk tetap memilih buku cetak untuk bacaan yang membutuhkan konsentrasi lebih tinggi atau menawarkan kenyamanan spesifik. Dampak hadirnya e-book terhadap buku cetak terlihat dari adanya persepsi sebagian besar siswa tentang penurunan frekuensi penggunaan buku cetak mereka, meskipun pandangan mengenai apakah e-book dapat sepenuhnya menggantikan buku cetak dalam pembelajaran masih bervariasi. Penelitian ini menggarisbawahi kompleksitas dinamika minat baca di era digital dan menekankan bahwa meskipun data spesifik mengenai strategi perpustakaan atau jenis e-book yang dibaca belum tergali dalam lingkup ini, keberadaan e-book jelas telah mengubah lanskap literasi siswa, menunjukkan kebutuhan akan pendekatan literasi yang adaptif terhadap perkembangan teknologi. Penelitian selanjutnya perlu mengkaji pengaruh e-book dalam menggunakan metode kuantitatif untuk memperkuat strategi literasi yang adaptif terhadap perkembangan teknologi.