Kembali
16
1
2022 Tik Ilmeu: Jurnal Ilmu Perpustakaan dan Informasi Vol 6 · 2 ISSN 2580-3662

Peran Kolaborasi Galeri, Perpustakaan, Arsip dan Museum Dalam Mendiseminasikan Sumber Informasi Pengetahuan kepada Masyarakat

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia; Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia

Abstrak

Dilakukan kajian analisis konsep peran galeri, perpustakaan, arsip dan museum sebagai sumber informasi pengetahuan masyarakat. Tujuan dari kajian ini adalah mengetahui bagaimana kolaborasi peran galeri, perpustakaan dan arsip dalam mendiseminakan sumber informasi pengetahuan kepada masyarakat. Kajian dilakukan menggunkan narative review yang dilengkapi dengan observasi melalui web. Hasil analisis menunujkkan bahwa lembaga yang telah melakukan kolaborasi diantaranyapenggabungan dan kolaborasi perpustakaan dan arsip daerah yang berada di propinsi dan kabupaten maupun kota di seluruh Indonesia. Perpustakaan dan galeri yang sudah bergabung adalah Perpustakaan dan Galeri Literasi Fiksi di Surabaya. Perpuspustakaan dan museum yang sudah bergabung atau berkolaborasi adalah Museum Zoologi, Perpustakaan dan Museum Tembakau, Museum Tanah dan Pertanian, dan Museum Geologi. Gabungan atau kolaborasi museum dan galeri adalah Museum Sejarah Alam dan Museum Sumpah Pemuda. Mengacu pada penggabungan antara perpustakaan dan arsip, antara perpustakaan dan museum, serta antara museum dan galeri diharapkan dapat membantu konsep penggabungan atau konvergensi peran galaeri, perpustakaan, arsip dan museum dalam mendiseminakan ilmu pengatuhan dan teknologi kepada masyarakat.

Abstract

An analysis of the role of galleries, libraries, archives and museums as a source of information for public knowledge was conducted. This study aims to find out how the collaborative role of galleries, libraries and archives in disseminating knowledge information sources to the public. The study was conducted using a narrative review which was complemented by observations via the web. The results of the analysis show that institutions that have collaborated include merging and collaborating with regional libraries and archives located in provinces and districts as well as cities throughout Indonesia. The libraries and galleries that have joined are the Fiction Literacy Library and Gallery in Surabaya. For libraries and museums that have joined or collaborated are the Zoological Museum, Tobacco Library and Museum, Soil and Agriculture Museum, and the Geological Museum. As for the combination or collaboration of museums and galleries, they are the Natural History Museum and the Youth Pledge Museum. Referring to the merger between libraries and archives, between libraries and museums, as well as between museums and galleries, it is hoped that the concept of merging or convergence of the roles of galleries, libraries, archives and museums in disseminating regulatory science and technology to the public.
Keywords: Gallery · Library · Archive · Museums · Information Dissemination

Introduction

Melestarikan kebudayaan yang dimilki oleh suatu negara merupakan suatu hal yang penting, karena merupakan aset yang perlu dilestarikan. Sejak awal kemanusiaan, masyarakat telah melestarikan dan mengumpulkan benda benda melalui GLAM. Meskipun dikenal dan dipelajari sebagai empat entitas yang terpisah, para akademis berpendapat bahwa GLAM sebenarnya sama pada awalnya, tetapi karena kemajuan kecerdasan manusia dan setiap entitas menjadi semakin luas maka kebutuhan untuk memisahkan keempat menjadi tak terelakkan. Di era digital sekarang ini, mereka tampak bersatu kembali bahwa GLAM adalah entitas yang sama. Akhir-akhir ini istilah GLAM (Galeri, Perpustakaan, Arsip dan Museum) menjadi topik yang sangat diminati oleh para sarjana Ilmu Perpustakaan dan Informasi (Mahmud, 2014). Konsep GLAM sudah banyak diterapkan di luar negeri, lembaga yang mengaplikasikan konsep GLAM di luar negeri diantaranya: International Federation of Library Associations and Institutions (IFLA), European Library Automation Group (ELAG), NOKS merupakan lembaga yang yang ada di Denmark yang melakukan pelayanan arsip, perpustakaan dan museum dalam satu kali pencarian. Konsep GLAM sebenarnya sangat bagus dapat diterapkan di negara Indonesia demi peningkatan kajian-kajian tentang nasionalisme, dan memperdalam pemahaman tentang sejarah dan budaya Indonesia (Pratiwi dkk, 2019). Galeri, perpustakaan, kearsipan, dan museum merupakan penyedia informasi dalam bentuk penyajian dan materi yang berbeda-beda. Galeri, perpustakaan, kearsipan, dan museum menuntut kualifikasi tertentu dan memiliki standar yang berbeda diantara keempatnya agar fungsinya dapat berjalan sebagaimana mestinya. Kualifikasi dan standar yang dibuat menyesuaikan dengan segala sesuatu yang dibidangi. Sebagai contoh, museum memerlukan keahlian dibidang kurasi arkeologi karena yang dikoleksi adalah benda-benda bersejarah yang membutuhkan perlakuan khusus. Namun, perbedaan tersebut bukan menjadi penghalang untuk menjalin kerjasama untuk mencapai tujuan tertentu. Perbedaan selanjutnya ada pada materi yang dibidangi. Galeri memamerkan koleksi yang dihasilkan dari karya seni, yang tidak terbatas pada satu jenis karya. Misalnya, galeri dapat memamerkan seni lukis, seni patung, seni musik dalam bentuk audio, maupun seni tari dalam bentuk audiovisual dalam kurun waktu dan tempat yang bersamaan. Perpustakaan menyediakan bahan pustaka untuk diakses, dibaca ditempat, maupun dipinjam untuk dibaca dirumah. Adapun materi yang menjadi bahan pustaka saat ini tidak selalu berbentuk fisik, terdapat pula yang berformat digital dengan perantara akses melalui perangkat elektronik. Kearsipan menyimpan dan merawat arsip, dokumen, maupun rekaman yang bernilai legal, historis, dan otentik sebagai bukti dari kegiatan. Museum memamerkan koleksi yang disebut sebagai artefak, yang dihasilkan oleh kehidupan masa lalu yang menjadi sarana pembelajaran maupun hiburan untuk mengetahui proses perkembangan peradaban dan lingkungan.Walaupun keempatnya memiliki perbedaan, bukan berarti tidak dapat berkolaborasi untuk menyediakan informasi terpadu sekaligus bertanggung jawab terhadap pengelolaan, penataan, dan pelayaannya (Salim & Raya, 2019) Hubungan antara Gallery, Library, Archive dan Museum sesungguhnya tidak dapat dipisahkan dan setiap instansinya memungkinkan untuk bekerjasama dan berkolaborasi, karena apabila ditinjau dari ilmu dokumentasi hubungan diantara setiap instansi sangat erat kaitannya dengan dokumentasi dalam arti luas, yakni mengumpulkan, mengadakan, mencatat, menyimpan, merawat, mengolah koleksi dan menyajikan atau mengomunikasikannya untuk publik (Pratiwi, 2019). Berdasarkan permasalahan tersebut, dilakukan kajian analisis kolaborasi peran GLAM sebagai sumber informasi pengetahuan masyarakat. Tujuan dari kajian ini adalah mengetahui bagaimana kolaborasi peran GLAM dalam mendiseminasikan sumber informasi pengetahuan kepada masyarakat. Penelitian ini menggunakan metode narative review yang diperoleh berbagai sumber referensi ilmiah dengan cara melakukan penelusran melalui situs web dengan menggunkan kata kunci peran galeri, perpustakaan, arsip dan museum. Hasil penelusuran yang sesuai kemudian dianalisis dengan narative review sebagai hasil dan pembahasan. Selain menggunakan narative review, kajian juga dilengkapi dengan observasi melalui web untuk melihat lembaga yang telah melakukan kolaborasi atau penggabungan. Kajian ini fokus mengkaji peran kolaborasi antara galeri, perpustakaan, arsip dan museum yang telah menjalankan perannya dalam mendiseminasikan pengetahuan kepada masyarakat sebagai kebaruan penelitian.

Result & Discussion

Peran Kolaborasi Perpustakaan, Arsip dan Museum Perpustakaan, arsip dan museum memainkan peran kunci dalam perkembangan sejarah intelektual barat dan zaman berbasis pengetahuan saat ini. Perpustakaan, arsip, dan museum merupakan faktor penting dalam perkembangan tradisi ini karena memungkinkan penataan pengetahuan yang tertib serta dapat memfasilitasi akses dan distribusi serta pertukaran informasi di antara para pengguna. Kolaborasi ketiga lembaga ini dapat membantu menjelaskan peran perpustakaan, arsip dan museum sebagai pencerahan dan revolusi ilmiah (Mahmud, 2014). Hasil penelitian Duff et al (2013) mengatakan bahwa perpustakaan, arsip dan museum dapat melakukan kolaborasi dalam enam hal yaitu melayani pengguna menjadi lebih baik, mendukung kegiatan ilmiah, memanfaatkan perkembangan teknologi, berdaptasi dengan obyek digital, efisiensi anggaran, dan mempunyai pandangan yang komprehensif terhadap koleksi. Perbedaan perpustakaan, arsip dan museum menurut Maslahah dan Rahmawati (2018) seperti pada Tabel 1. [Table 1 omitted in text extraction but referenced]. Hasil narative review naskah berdasarkan pendapat Mahmud (2014); Duff et al (2013); dan Maslahah dan Rahmawati (2018) menunjukkan bahwa perpustakaan, arsip dan museum merupakan lembaga yang berperan penting dan dapat melakukan kolaborasi untuk menyimpan dan melakukan penataan pengetahuan dengan baik, memfasilitasi akses dan diseminasi serta pertukaran informasi di antara para pengguna. Dalam diseminasi pengetahuan kepada masyarakat, perpustakaan, arsip dan museum dapat melakukan kolaborasi dengan melayani pengguna menjadi lebih baik, mendukung kegiatan ilmiah, memanfaatkan perkembangan teknologi, berdaptasi dengan obyek digital, efisiensi anggaran, dan memberikan pandangan yang komprehensif terhadap koleksi yang dimiliki. Sementara Maslahah & Rahmawati (2018) mengatakan bahwa lembaga perpustakaan, arsip dan museum melakukan kolaborasi karena mempunyai tujuan yang sama yaitu menyediakan dan mendiseminasikan ilmu pengetahuan kepada masyarakat untuk pendidikan dan penelitian. Fitrina & Adriyana (2017) menyebutkan bahwa perpustakaan, kearsipan dan museum merupakan lembaga yang strategis dalam menyampaikan dan menyediakan informasi bagi penggunanya. Informasi yang tersimpan di lembaga perpustakaan, arsip, dan museum tersebut berupa kekayaan intelektulal yang dapat digunakan sebagai pusat penelitian, pendidikan dan rekreasi. Sedangkan dilihat dari aspek informasi perpustakaan, arsip dan museum harus mampu memberi ruang kepada masyarakat secara informatif untuk memberikan ruang publik sebagai bentuk konkrit agar dapat mendiseminasikan isi dari koleksi. Ketiga institusi tersebut adalah sarana untuk menemukan informasi, mengolah dan berbagi informasi, oleh karena itu koleksi yang dimiliki harus mudah diakses dan lengkap sehingga membiasakan masyarakat untuk selalu bersinggungan dengan informasi (Cahyaningtyas & Andriyana, 2017). Peran Kolaborasi Galeri dan Perpustakaan Dalam rangka meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang memori memori kolektif suatu bangsa dapat memanfaatkan konsep galeri, perpustakaan, arsip dan museum. Adanya pengetahuan dalam buku di Perpustakaan, foto di galeri, arsip, serta situs-situs pada museum dapat menceritakan sejarah yang tidak diketahui oleh generasi sekarang (Cahyaningtyas & Andriyana, 2017). Perpustakaan sebagai pusat informasi dapat berkolaborasi dengan galeri yang juga merupakan tempat untuk transfer informasi. Kegiatan transfer informasi dapat dibuktikan dengan dimanfaatkannya galeri sebagai tempat menampung kegiatan komunikasi visual di dalam suatu ruangan antara kolektor atau seniman dengan masyarakat luas melalui kegiatan pameran. Salah contoh kolaborasi perpustakaan dan galeri adalah Perpustakaan dan Galeri Literasi Fiksi di Surabaya. Bentuk perpustakaan galeri ini didesain dimana perpustakaan tidak hanya berfungsi sebagai tempat mengkoleksi buku dan pusat informasi tetapi juga berfungsi sebagai tempat dimana masyarakat berkumpul dan melakukan aktifitas. Fasilitas tersebut didesain sebagai sebuah tempat yang bersifat rekreatif, bagi keluarga, sekelompok teman ataupun komunitas. Areanya terbagi menjadi 2 bagian utama yaitu perpustakaan dan galeri, yang mana perpustakaan terdiri dari perpustakaan buku fisik, perpustakaan buku audio dan perpustakaan buku elektronik, sedangkan galeri terdiri atas galeri utama dan galeri komunitas. Selain itu, ada pula fasilitas tambahan yang berfungsi sebagai area dimana pengunjung dapat bersosialisasi dan melakukan kegiatan komnal, yaitu berupa cafe, toko buku dan plasa (Wibisono & Sunaryo, 2017). Peran Kolaborasi Perpustakaan dan Arsip Dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah Pasal 1 ayat (5) disebutkan bahwa otonomi daerah adalah hak, wewenang, dan kewajiban daerah otonom untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Berdasarkan Undang-Undang tersebut, struktur lembaga pemerintahan di daerah seperti perpustakaan dan lembaga arsip saat ini telah bergabung antara fungsi Kearsipan dan Perpustakaan. Penyebutan nama lembaganya ada yang perpustakaan lebih dulu baru arsip dan sebaliknya. Kolaborasi atau penggabungan perpustakan dan arsip di daerah selama ini sudah berjalan. Beberapa contoh penamaan penggabungan lembaga arsip dan perpustakaan yaitu: 1) Badan Arsip dan Perpustakaan Aceh, 2) Badan Perpustakaan dan Arsip Propinsi Bali, 3) Kantor Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Cilegon, 4) Kantor Perpustakaan dan Arsip Kota Administrasi Jakarta Pusat, 5) Badan Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Istimewa Yogyakarta, 6) Badan Perpustakaan dan Kearsipan Propinsi Jawa Barat, dan 7) Kantor Arsip dan Perpustakaan Kota Balikpapan. Khusus untuk arsip koleksi specimen kenaekaragaman hayati PDDI bekolaborasi dengan Pusat Penelitian Biologi LIPI dalam mengembangan koleksi spesimen keanekaragaman yang disimpan melalui website http://inabif.lipi.go.id/dwca/search. Dalam website pengguna dapat menelusur koleksi spesimen keanekaragaman hayati melalui nama ilmiah, famili, genus, nama umum dan nama lokal seperti pada gambar 1. Sebagai contoh kalau akan menelusuri ikan maka pada database pilihannya yang dipilih scientific name ikan. Setelah ditelusuri didapatkan beberapa jenis ikan seperti pada gambar 2. Berdasarkan gambar 2 diperoleh hasil penelusuran tentang beberapa species ikan dan artikel yang berhubungan dengan ikan tersebut dikoleksi PDDI sebanyak 12 record. Peran Kolaborasi Perpustakaan dan Museum Museum adalah suatu lembaga yang bersifat tetap dan memberikan pelayanan terhadap kepentingan masyarakat dan kemajuannya terbuka untuk umum tidak bertujuan semata-mata mencari keuntungan untuk mengumpulkan, memelihara, meneliti, dan memamerkan benda-benda yang merupakan tanda bukti evolusi alam dan manusia untuk tujuan studi, pendidikan, dan rekreasi. Sejak awal perkembangan lembaga museum tidak dapat dipisahkan dengan ilmu pengetahuan dan ciri ilmiah merupakan predikat yang melekat pada lembaga tersebut. Hal itu seiring dengan keinginan masyarakat bahwa museum adalah suatu lembaga atau pusat penelitian ilmiah yang diharapkan dapat selalu mengkomunikasikan hasil hasil penelitiannya kepada masyarakat (Asmara, 2019). Yendra (2018) museum didirikan untuk tujuan pelestarian kebudayaan, memperkenalkan kebudayaan kepada kepada masyarkat, pelestarian dan pengembangan warisan budaya, sebagai sarana pendidikan nonformal. Selain tujuan pelestarian, museum juga berfungsi sebagai sarana penyebaran informasi kepada masyarakat dengan menggali informasi mengenai koleksi benda-benda zaman dahulu. Sebagai sumber informasi, museum melaksanakan kegiatan pemanfaatan melalui penelitian dan penyajian. Penelitian dilakukan untuk pengembangan kebudayaan nasional, ilmu pengetahuan, teknologi dan seni yang dilakukan berdasarkan izin dari kepala museum yang bersangkutan. Hasil penelitian diserahkan kepada museum. Penelitian yang berakibat pada kerusakan koleksi haris didampingi petugas museum. Dalam rangka menginformasikan koleksi yang dipamerkan di ruang pamer kepada pengunjung kurator perlu memberikan informasi yang lengkap dan sistematis, dalam kegiatan ini kurator bekerjasama dengan Bagian Bimbingan. Sedangkan untuk mendapatkan sumber referensi atau literatur dalam melakukan penelitian dan penulisan ilmiah, kurator perlu bekerjasama dengan perpustakaan, di samping itu perpustakaan juga berperan dalam mengoleksi terbitan dari hasil penulisan ilmiah tersebut (Direktorat Museum, 2007). Beberapa contoh museum yang berkolaborasi dengan perpustakaan untuk mendiseminasikan ilmu pengetahuan. Museum Zoologi Museum Zoologi Bogor memberikan pelayanan kepada masyarakat umum untuk ilmu pengetahuan zoologi. Museum ini bertugas untuk memperkenalkan kenakeragaman nusantara yang secara tidak langsung menunjang pelestariaan. Museum Zoologi memamerkan 122 display yang menampilkan 954 jenis fauna yang ada di Indonesia. Museum Zoologi dapat diakses melalui website http://biologi.lipi.go.id/zoologi/ seperti pada gambar 3. Peran Perpustakaan dan Museum Tembakau adalah untuk melestarikan dan mengenalkan tembakau serta memberikan pengetahuan tentang tembakau kepada masyarakat. Di perpustakaan dan museum tembakau tersebut, masyarakat dapat memperoleh ilmu pengetahuan tentang tanaman tembakau. Pengetahuan tersebut diperoleh melalui buku dan video dukumenter tentang sejarah tembakau di Jember, serta pengetahuan tentang manfaat tembakau selain untuk rokok. Pengunjung dapat menyaksikan film dokumenter sejarah masyarakat mulai jaman Belanda sudah bertanam tembakau. Dipamerkan alat alat kuno yang digunakan masyarakat Jember, seperti alat lintingan rokok, dan kotak penyimpanan tembakau. Nuansa museum yang modern dan minimalis tersebut berbeda dengan museum pada umumnya yang biasanya dipenuhi dengan barang-barang kuno dan terkesan kaku karena di museum tembakau tersebut banyak dipajang berbagai daun tembakau dari sejumlah daerah dan produk diversifikasi tembakau (Bella, 2017). Balai Penelitian Tembakau Jember juga pernah bekerjasama dengan PDDI LIPI dalam pembuatan pohon industri tembakau. Museum Tanah didirikan 29 September 1988 dengan menempati gedung Laboratorium Voor Agrogeologie en Grond Onderzoek atau Laboratorium Penelitian Agrogeologi dan Tanah yang didirikan sejak zaman Pemerintahan Belanda sekitar tahun 1900. Museum Tanah sempat mengalami penutupan selama beberapa tahun yang akhirnya pada tanggal 5 Desember 2017 bertepatan dengan Hari Tanah Sedunia, Museum Tanah resmi dibuka kembali di Gedung yang sama (museum.pertanian.go.id). Dalam perkembangan selanjutnya, Prof. Dr. Sjarifudin Baharsjah, M.Sc. (Menteri Pertanian periode 1993-1998) dan beberapa tokoh pertanian lainnya mendeklarasikan berdirinya Museum Pertanian pada tanggal 17 April 2018 dan diresmikan pembukaannya pada tanggal 22 April 2019. Dalam pengelolaannya Menteri Pertanian memberikan mandat kepada Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian melalui Pusat Perpustakaan dan Penyebaran Teknologi Pertanian. Museum Tanah dan Pertanian dapat diakses melalui http://museum.pertanian.go.id/ Museum geologi Museum Geologi adalah merupakan monumen bersejarah yang dapat berupa pengalaman dan pengetahuan yang dapat dinikmati dengan suasana yang ramah dan menyenangkan untuk mempelajari segala sesuatu mengenai bumi. Dalam dunia pendidikan dan pengetahuan selalu di butuhkan informasi dan media yang digunakan untuk mendiseminasikan informasi tersebut. Media informasi di Museum Geologi yang digunakan untuk memberikan informasi benda-benda atau karakter-karakteristik yang berada pada Museum Geologi Bandung, pengunjung dapat berinteraksi secara langsung dan membuat visualisasi dengan teknik 360° view agar dapat melihat semua sudut ruangan gedung, menjelaskan prosesproses terjadinya kehidupan dari masa ke masa dan terbentuknya gunung berapi dengan menggunakan animasi 2 dimensi menggunakan Adobe Flash CS6 (Irawan, 2016). Peran Kolaborasi Museum dan galeri Marsden (2017) menyebutkan bahwa kolaborasi antara galeri dan museum terletak pada hubungan antara pameran, ruang dan pekerja budaya, dan anggota masyarakat serta pengalaman yang dihasilkan dari interaksi dialogis. Galeri seni dan layanan publik museum ditentukan dan diwujudkan dengan penyediaan pengalaman ini dan memberikan layanan publik yang tak ternilai bagi komunitas dan menciptakan cara memahami masyarakat kontemporer yang terus berubah dan mengalir. Galeri seni dan museum adalah zona kontak dan ruang demokrasi bagi semua orang, mendorong ruang terbuka bagi banyak suara untuk berinteraksi satu sama lain yang memberikan suasana informal kesempatan belajar. Sebuah 'proses dialogis untuk membuat karya seni dengan komunitas' yang mengganggu presentasi tradisional dari narasi dominan yang umumnya menyertai pameran arus utama. Galeri seni dan museum dapat membantu memfasilitasi proses informal belajar melalui berbagi cerita sebagai berbagai versi sejarah yang ditawarkan di ruang publik dengan tujuan membangun komunitas dan memperluas pandangan dunia kita. Marsden (2017) mengatakan bahwa strategi kolaborasi yang dilakukan oleh lembaga museum dan galeri untuk mendiseminasikan pengetahuan kepada masyarakat dapat dilakukan dengan menerapkan kegiatan sebagai berikut: (1) Diperlukan keterlibatan pengguna dengan menghadirkan alternatif dan cara yang inovatif untuk pemanfaatan galeri seni dan museum sebagai ruang untuk pembelajaran informal. (2) Membuat pandangan yang beragam dan berlawanan yang terlihat untuk memungkinkan suara yang beragam didengar secara merata di dalam galeri seni dan museum. (3) Melakukan transformasi galeri seni dan museum menjadi ruang publik yang dialogis. (4) Merubah konsep galeri dan museum dari ruang tradional yang sakral menjadi konsep galeri seni dan museum menjadi ruang aktif yang penuh dengan dialog yang beragam. (5) Menempatkan pengguna sebagai peserta aktif dalam galeri seni dan museum yang didasarkan pada proses pembelajaran informal yang melibatkan kolaborasi, aksi partisipatif, dan dialog kritis. (6) Pelajari bagaimana galeri seni dan museum dapat membantu menempatkan pengguna sebagai bagian sentral yang mengarah pada proses pembelajaran informal yang mendorong perubahan kesadaran, dan mempromosikan kapasitas yang lebih besar dan keterbukaan terhadap hal-hal baru untuk diketahui. (7) Pelajari dan sajikan pemahaman alternatif tentang galeri seni dan museum yang dapat mengarah pada transformasi pemahaman tentang kontemporer masalah. (8) Pelajari potensi dampak galeri seni dan museum terhadap proses pembelajaran informal. Di masa pandemi COVID 19 seperti sekarang ini, untuk memperoleh pengetahuan tentang pengetahuan yang dibutuhkan masyarakat dapat mengunjungi muesum dan galeri secara virtual. Museum dan galeri yang dapat mengunjungi secara virtual yaitu: Museum Sejarah Alam Museum Nasional Sejarah Alam Indonesia (MUNASAIN) adalah merupakan museum tentang sejarah alam di Indonesia yang memberikan informasi lengkap dan terkini terkait tipe ekosistem dan sumber daya hayati. Museum ini dikelola oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melalui Pusat Penelitian Biologi. Museum Nasional sejarah Alam Indonesia didirikan dengan tujuan untuk memberikan pendidikan berkesinambungan kepada masyarakat. Dalam museum ini dikenalkan sejarah alam Indonesia, budaya, dan keanekaragaman hayati Indonesia yang menjadi identitas bangsa kepada masyarakat umum khususnya generasi muda (LIPI, 2018). Museum Nasional Sejarah Alam Indonesia (MUNASAIN) berlokasi di Jalan Ir. Juanda 22 Bogor yang dapat diakses melalui website http://munasain.lipi.go.id/index.php? seperti pada gambar 8. Museum Sumpah Pemuda Di Museum Sumpah Pemuda dapat melihat koleksi yang berhubungan dengan kegiatan hari sumpah pemuda serta perjuang kemerdekaan Indonesia. Untuk mengunjungi Museum Sumpah Pemuda secara virtual dapat diakses melalui https://tour.indonesiavirtualtour.com/dki-jakarta/museum-sumpah-pemuda/ seperti pada gambar 8. Kunjungan secara virtual pengunjung dimulai dengan mengklik Start Tour kemudian setelah itu dapat diklik sesuai yang diinginkan mulai dari ruang pengenalan, ruang organisasi. Dalam ruang pengenalan pengujung dapat melihat informasi, vidio dan foto seperti gambar 9. Dalam vidio tersebut pengujung dijelaskan oleh petugas cara menjelajah Museum Sumpah Pemuda. Pengunjung juga dapat melihat kegiatan foto yang terkait dengan kegiatan sumpah pemuda.

Conclusion

Konsep galeri, perpustakaan, arsip dan museum sebenarnya sudah lama diterapkan Indonesia untuk meningkat diseminasi pengetahuan kepada masyarakat. Hanya saja pengelolaannya masih terpisah pisah. Lembaga yang sudah melakukan penggabungan dan kolaborasi adalah perpustakaan dan arsip di daerah yang berada di propinsi dan kabupaten maupun kota di seluruh Indonesia. Untuk perpustakaan dan galeri yang sudah bergabung adalah Perpustakaan dan Galeri Literasi Fiksi di Surabaya. Perpustakaan dan museum yang sudah bergabung atau berkolaborasi adalah Museum Zoologi, Perpustakaan dan Museum Tembakau, Museum Tanah dan Pertanian, dan Museum Geologi. Sedangkan untuk gabungan atau kolaborasi museum dan galeri adalah Museum Sejarah Alam dan Museum Sumpah Pemuda. Mengacu pada penggabungan antara perpustakaan dan arsip, antara perpustakaan dan museum, serta antara museum dan galeri diharapkan dapat membantu konsep penggabungan atau konvergensi peran galaeri, perpustakaan, arsip dan museum dalam mendiseminakan ilmu pengatuhan dan teknologi kepada masyarakat.