MUSEUM DAN PERPUSTAKAAN: SEBUAH ANALISIS TEMATIK DI GOOGLE SCHOLAR
Universitas Padjadjaran; Universitas Padjadjaran
Abstrak
Menanggapi perkembangan zaman dan teknologi, semakin banyak kesempatan untuk mengembangkan layanan dari lembaga-lembaga informasi. Tidak luput dari itu adalah museum dan perpustakaan. Maka, dinilai penting untuk museum dan perpustakaan selalu terhubung dan melakukan aksi kolaboratif. Konsep kolaborasi ini seringkali diusung dengan berbagai istilah seperti misalnya GLAM yang merupakan singkatan dari gallery, library, archive, dan museum atau LAM atau library, archive, dan museum. Mematangkan konsep kerja sama dan kolaborasi antar institusi memori atau lembaga informasi ini maka diperlukan banyak pula penelitian lebih lanjut dari akademisi yang secara khusus meneliti mengenai hubungan antara museum dan juga perpustakaan. Bagaimana mereka melakukan kolaborasi dan apa saja yang membuat manfaatnya dapat dirasakan oleh kedua belah pihak. Penelitian yang dilakukan dapat memanfaatkan teknologi saat ini yang dapat diakses secara gratis dan mudah, yaitu Google Scholar. Penelitian ini akan melanjutkan beberapa penelitian lain mengenai analisis tematik artikel yang terdapat di Google Scholar. Aplikasi yang digunakan adalah Publish or Perish dan VOSvieweryang dimanfaatkan sebagai sarana dalam memvisualisasikan data dan menganalisis tema. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan analisis tematik. Hasil yang didapatkan, artikel mengenai museum dan perpustakaan pada Google Scholar memiliki istilah-istilah terkait,misalnya “perpustakaan”, “museum”, “manuskrip”, “archive”, “manuscript”, dan “collection”. Terdapat 53 penulis yang muncul pada VOSviewer, dan setelah dilakukan pencarian secara manual dan mengambil tiga artikel teratas, nama-nama tersebut terdapat pada visualisasi.
Abstract
Responding to the times and technology, there are more opportunities to develop services from information institutions. Not spared from it are museums and libraries. Therefore, it is considered important for museums and libraries to always be connected and take collaborative action. The concept of collaboration is often carried with various terms such as GLAM which stands for gallery, library, archive, and museum or LAM or library, archive, and museum. To finalize the concept of cooperation and collaboration between memory institutions or information institutions, further research is needed from academics who specifically examine the relationship between museums and libraries. How they collaborate and what makes the benefits can be felt by both parties. The research carried out can take advantage of current technology that can be accessed for free and easily, namely Google Scholar. This research will continue several other studies regarding thematic analysis of articles contained in Google Scholar. The applications used are Publish or Perish and VOSviewer which will be used as a means of visualizing data and analyzing themes. The research method used is qualitative with a thematic analysis approach. The results obtained, articles about museums and libraries on Google Scholar have related terms, such as “library”, “museum”, “manuscript”, “archive”, “manuscript”, and “collection”. There are 53 authors that appear in VOSviewer, and after manually searching and retrieving the top three articles, these names appear in the visualization.
Keywords:
museum
· perpustakaan
· pemteaan pengetahuan
· bibliometrika
· analisis tematik
· google scholar
Introduction
Pada abad ke-21 ini telah diprediksi betapa bergejolaknya perubahan yang akan terjadi pada masyarakat dikarenakan adanya perubahan secara signifikan dalam hal demografi populasi manusia, infrastruktur, teknologi yang semakin canggih, perekonomian dunia, pengembangan sumber daya energi yang baru dan terbarukan, juga banyak lagi hal-hal lain yang sangat berpotensi mengalami perubahan pada tahuntahun yang akan datang. Tentunya, dengan adanya perubahan-perubahan besar ini, akan mengubah pula bagaimana masyarakat menjalani kehidupan sehari-hari juga kebutuhan sosial yang semakin beragam.Perubahan inilah yang menjadi tantangan bagi museum dan perpustakaan untuk beradaptasi dalam hal memberikan layanan kepada masyarakat yang secara terus menerus akan berkembang dengan segala macam kebutuhannya. Perubahan yang terjadi ini sudah mengambil bentuk dalam bagaimana masyarakat mencari informasi dan bagaimana mereka mengomunikasikan antar satu dengan lainnya dan juga dengan berbagai institusi. Dibandingkan memiliki sikap “sok memiliki” dalam hal pengetahuan, perpustakaan dan museum sudah seharusnya menjadi fasilitator, menjadi guru, dan penyedia. Museum dan perpustakaan memiliki peran menyediakan berbagai macam hal, baik dari segi konteks, konten, maupun sarana-sarana untuk mendorong masyarakat untuk semakin mempertanyakan, semakin mencari, semakin menginformasikan, dan juga semakin mengeksplorasi lebih dalam mengenai dunia informasi dengan berbagai pengalaman dan memorinya. Saat ini, telah terlihat bahwa museum dan perpustakaan di abad ke-21 sudah mulai membuka jalan, bukan hanya sebagai saluran informasi yang bersifat satu arah yang mengutamakan arus informasi dari institusi ke audiens saja. Tapi juga memulai suatu jaringan, melalui berbagai saluran, baik melalui institusi ke audiens, audiens ke institusi, dan juga audiens ke audiens.Selain dari lembaga informasi yang menyediakan informasi berupa koleksi baik barang-barang dengan nilai tertentu dan buku-buku, museum dan perpustakaan terkadang terlihat kaku dan usang di masa lalu. Sekarang, museum dan perpustakaan sudah seharusnya dianggap sebagai suatu tempat untuk masyarakat saling bertemu dan bersosialisasi. Museum dan perpustakaan menjadi suatu tempat publik dalam berkumpul yang diatur seputaran layanan publik dan pertukaran informasi dan ide dari masing-masing individu. Maka dari itu, museum dan perpustakaan memiliki fungsi umum sebagai suatu tempat yang dapat diakses secara mudah, murah, namun memiliki suatu kekayaan dari segi konten dan pengalaman (experience).Menanggapi hal-hal tersebut, maka dinilai penting untuk museum dan perpustakaan selalu terhubung dan melakukan aksi kolaboratif. Konsep kolaborasi ini seringkali diusung dengan berbagai nama seperti misalnya GLAM yang merupakan singkatan darigallery, library, archive, dan museum atau LAM atau library, archive, dan museum. Mematangkan konsep kerja sama dan kolaborasi antar institusi memori atau lembaga informasi ini maka diperlukan banyak pula penelitian lebih lanjut dari akademisi yang secara khusus meneliti mengenai hubungan antara museum dan juga perpustakaan. Bagaimana mereka melakukan kolaborasi dan apa saja yang membuat manfaatnya dapat dirasakan oleh kedua belah pihak.Dalam penelitian, dibutuhkan berbagai sumber baik berasal dari dokumen-dokumen terkait dengan hal yang diteliti, atau informasi yang bersumber dari penelitian terdahulu. Penelitian-penelitian terdahulu ini dapat diakses melalui berbagai sumber pula. Perkembangan teknologi memudahkan dalam hal pencarian penelitian terdahulu, karena saat ini segala macam penelitian sudah dapat diakses secara terbuka. Konsep open access inilah yang digunakan oleh Google Scholar, salah satu fitur dari Google yang dapat digunakan secara gratis untuk mendapatkan karya tulis ilmiah.Penelitian ini melanjutkan beberapa penelitian lain mengenai analisis tematik artikel yang terdapat diGoogle Scholar. Aplikasi yang digunakan adalah Publish or Perish danVOSviewer yang dimanfaatkan sebagai sarana dalam memvisualisasikan data dan menganalisis tema. Maka, penelitian ini mengulas peta tema museum dengan perpustakaan. Tujuannya adalah mengetahui bagaimana kaitan antara tema penelitian museum dengan perpustakaan yang ada dalam Google Scholar.
Method
Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui dan memetakan bagaimana hubungan museum dan perpustakaan dalam berbagai penelitian yang ada dalam Google Scholar. Maka, metode yang digunakan untuk mengetahui dan memetakan hubungan tersebut adalah metode penelitian kualitatif dengan pendekatan analisis tematik. Menurur Boyatzis dalam Nurislaminingsih, dkk (2021) memberikan penjelasan bahwa metode penelitian kualitatif adalah suatu cara penelitian yang berfokus pada analisis kenyataan. Sehingga, penelitian kualitatif ini dapat digunakan apabila peneliti memiliki tujuan untuk melakukan evaluasi dan analisis mengenai realita sosial. Sedangkan pemilihan analisis tematik disebabkan tujuan dalam penelitian yaitu membuat suatu ulasan mengenai tema yang terdapat pada data penelitian kualitatif.Analisis tematik sendiri dikatakan tepat untuk digunakan dalam suatu penelitian kualitatif yang memiliki tujuan untuk mencari suatu makna serta konsep yang terkandung dalam data penelitian. Dalam hal ini termasuk juga melakukan pemilihan, pemeriksaan, dan pembuatan suatu pola dari berbagai tema. Analisis tematik dinilai memiliki metode yang fleksibel dalam menganalisis suatu data kualitatif, tetapi selain itu berguna pula dalam membangun suatu konstruksi data yang bersifat sistematis serta terang-terangan tanpa memerlukan analisis terlalu mendalam.Pada penelitian ini, peneliti menggunakan aplikasi untuk melihat bagaimana hubungan dari tema satu dengan tema yang lainnya dengan lebih akurat dan mudah dimengerti. Dalam software tersebut, data akan divisualisasikan dalam bentuk tiga dimensi dan sudah dikelompokan dalam beberapa cluster. Adapun aplikasi yang digunakan adalahHarzing’s Publish or Perish (Windows GUI Edition) 8.1.3625.7987 danVOSviewer. Kedua aplikasi ini digunakan sebagai sarana melakukan analisis dari kaitan antara tema museum dengan perpustakaan dari banyaknya artikel jurnal berbahasa Indonesia yang terdapat di Google Scholar. Untuk menemukan pola tema serta nama-nama dari peneliti yang sudah pernah mengulas tema museum dan perpustakaan, maka peneliti menuliskan kata kunci “Museum Perpustakaan” pada aplikasi Publish or Perish. Publish or Perish sendiri, seperti yang tercantum pada situs web harzing.com, merupakan sebuahsoftware yang dapat melakukan fungsi pengambilan dan analisis kutipan akademik yang bersumber dari berbagai sumber data, termasuk di dalamnya adalah Google Scholar, Microsoft Academic Search, Scopus, Semantic Scholar, Web of Science, PubMed, dan Crossref. Pencarian kata kunci dengan bahasa Indonesia padaPublish or Perish dilakukan dengan maksud agar terjadi filter secara otomatis, supaya hasil yang didapatkan merupakan artikel yang berasal dari dalam Indonesia dan bukan dari luar negeri seperti apabila melakukan pencarian dengan bahasa Inggris. Selain dari menyaring asal dan bahasa artikel, juga dilakukan penyaringan berdasarkan tahun penerbitan. Artikel yang diambil hanyalah dari jurnal yang diterbitkan dalam kurun waktu 20122021. Sehingga didapatkan hasil sembilan tahun terakhir saja dan didapatkan juga hasil penelitian yang terbaru. Fitur filter yang ada pada aplikasi ini dapat menentukan sampel penelitian. Selanjutnya tahap yang dilakukan adalah penyaringan terkait dengan analisis tema dalam artikel yang ada diVOSviewer. Seperti yang ada pada vosviewer.com, dijelaskan bahwaVOSviewer adalah suatu software atau perangkat lunak yang digunakan dengan tujuan membangun serta memberikan visualisasi jaringan bibliometrik. Setelah mendapatkan data yang sudah disaring melaluiPublish or Perish, maka peneliti memilih dua sumber yaitu judul dan abstrak. Judul dan abstrak dimaksudkan agar didapatkan suatu pila keterkaitan tema berdasarkan judul dan abstrak tersebut, sehingga menyeluruh.”Gambar 1Pemilihan Sampel PenelitianBerdasarkan gambar 1 di atas menunjukkan aplikasi Harzing’s Publish or Perish, di mana dilakukan pemilihan sampel penelitian. Sumber yang dipilih adalah Google Scholar, seperti yang terdapat pada source di aplikasi. Tahun publikasi yang dipilih adalah sepanjang 2012 hingga tahun 2021, sehingga dapat ditemukan penelitian terbaru selama sembilan tahun terakhir. Kurun waktu ini dipilih, dan berfungsi sebagai filter agar artikel yang dipublikasikan lebih lama daripada tahun 2012 tidak akan muncul sebagai hasil. Gambar 2Memilih Judul dan Abstrak sebagai Sumber dari TermsPada gambar 2 di atas terdapat satu tahapan dalam proses analisis data menggunakan aplikasi VOSviewer. Gambar tersebut menunjukkan tiga pilihan yang dapat dipilih oleh pengguna yaitu judul dan abstrak, judul saja, dan abstrak saja. Pilihan pertama, judul dan abstrak dipilih untuk melakukan ekstraksi juga analisis tema. Peneliti memahami bahwa judul memiliki inti sesuai dengan keseluruhan isi suatu artikel dan abstrak sendiri adalah suatu rangkuman atau penjelasan yang sudah disingkat dari keseluruhan artikel. Sehingga keduanya dapat mewakili suatu artikel secara menyeluruh, dan dapat diperoleh topik yang memiliki kaitan dengan museum dan perpustakaan baik dari judul dan abstrak. Gambar 3 Pemilihan Istilah Gambar 3 menunjukkan tahapan pemilihan istilah dalam VOSviewer. Tahap ini ditujukan agar istilah-istilah yang digunakan sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh peneliti. Dengan dipilihnya istilah-istilah tersebut, maka semakin akurat dan sedikit istilah yang ditampilkan. Selain itu, tahap ini juga menghindari istilah-istilah yang sebenarnya bukan istilah sama sekali namun terbaca oleh perangkat lunak sebagai istilah seperti kata sambung dan sebagainya.
Result & Discussion
Lo et al. (2014) menjelaskan relasi yang terjadi antara museum dan perpustakaan, terutama perpustakaan museum. Pada umunya perpustakaan museum menyimpan berbagai koleksi buku dan berbagai materi arsip untuk mendukung riset dan pameran yang berkaitan dengan subjek museum terkait. Misalnya, untuk objek museum agar dapat tidak hanya dipamerkan keindahannya saja tetapi dapat memberikan informasi yang bermakna dalam, maka seseorang perlu mengetahui latar belakang pengetahuan dan pengetahuan lain yang spesifik mengenai objek tersebut. Tidak hanya itu, hal yang dasar seperti informasi deskriptif dasar juga diperlukan oleh kurator museum.Kolaborasi antara museum dan perpustakaan dideskripsikan pula oleh Diamant-Cohen dan Sherman (2003) seperti yang dikutip oleh Lo et al. adalah suatu “gelombang masa depan”. Dijelaskan pula bahwa terdapat beberapa tujuan dan manfaat dari kolaborasi yang dilakukan oleh museum dan perpustakaan, seperti misalnya: (1) menarikaudiensbaru dari berbagai kelompok dan memperluas jangkauan dari perpustakaan dan museum; (2) meningkatkan secara positif persepsi publik terhadap museum dan perpustakaan sebagai suatu lembaga yang dianggap tenang dan serius serta tradisional; (3) mengidentifikasi cara baru dalam mendorong preservasi warisan budaya; (4) memelihara cara-cara terbaik yang dimiliki oleh museum dan perpustakaan; (5) berbagi sumber daya fisik seperti misalnya ruang atau materi; (6) berbagi kebijakan-kebijakan untuk preservasi dan konservasi koleksi; (7) menjalankan kerja secara kolaboratif; (8) berbagi keahlian; dan (9) berbagi biaya pelatihan personel.Dengan demikian, bekerja bersama-sama dapat membuat baik museum dan perpustakaan mengaplikasikan perhatian secara kolektif dan aksi kolaboratif untuk menyelesaikan berbagai permasalahan dan menghasilkan solusi. LAM (library, archive, and museum) dapat membuat waktu dan sumber daya yang demikian berharga lebih efisien. Kerja sama dapat membuat LAM fokus kepada kebutuhan pengguna, mengoleksi material-material yang unik dan memiliki nilai tinggi, serta melestarikan artifak-artifak tersebut (Walbel dan Erway dalam Lo et al., 2014).Gambar 4Network VisualizationPada gambar 4, terdapat visualisasi hubungan tema museum dan perpustakaan. Hasil yang terkumpul menunjukkan bahwa museum berada di tengah dan terlihat besar, menandakan bahwa artikel mengenai museum memiliki jumlah yang cukup mumpuni apabila dibandingkan dengan perpustakaan. Kaitan antara museum dengan perpustakaan tidak terputus, termasuk padanya adalah archive. Hal ini menunjukkan pula adanya keterkaitan antara museum, perpustakaan, dan arsip atau yang diistilahkan oleh Lo et al. sebagai LAM atau library, archive, dan museum. Ketiganya memiliki hubungan yang erat, namun pada visualisasi digambarkan bahwa belum banyak pula yang membahas mengenai hubungan dengan arsip. Di samping itu, terdapat pula manuskrip yang terkait baik dengan perpustakaan maupun museum. Di sebelah kanan, divisualisasikan dengan warna hijau, terdapat collection dan manuscript(tidak terlihat pada tangkapan layar). Keduanya tidak berhubungan dengan perpustakaan, mengindikasikan bahwa pembahasan pada artikel hanya membahas koleksi pada museum saja dan bukan perpustakaan. Manuscriptpada sisi lain merupakan bahasa Inggris dari manuskrip yang sebenarnya sudah ada dan berkaitan dengan perpustakaan di sebelah kiri.Kaitan dari istilah-istilah ini dapat dilihat dari apa yang dinyatakan Wabel dan Erway dalam Lo et al. (2014), bahwa dalam rangka kerja sama, perpustakaan dan museum dapat berfokus pada mengumpulkan bendabenda dengan nilai tinggi dan melakukan preservasi benda-benda tersebut. Manuskrip adalah barang berharga yang dapat disimpan baik oleh museum maupun perpustakaan. Tentunya hal ini sangat menarik untuk diteliti lebih lanjut di Indonesia, mengingat belum banyak penelitian mengenai kerja sama museum dan perpustakaan dalam bidang pelestarian naskah kuno, serta pembagian peran masing-masing antara museum dan perpustakaan.Gambar 5Overlay VisualizationBerdasarkan gambar 5 di atas menunjukkan adanya tahun publikasi artikel-artikel tersebut. Semakin berwarna biru gelap, maka semakin awal pula tahun publikasi dari artikel. Pada visualisasi ini, dapat diketahui bahwa istilah-istilah yang muncul adalah istilah yang diambil dari tulisan yang dipublikasi di sekitar 2018 hingga 2019.5. Istilah “museum”, muncul pada publikasi tahun 2018.5, sedangkan yang berhubungan dengan “perpustakaan” muncul pada tahun 2018. Istilah “archive” muncul pada tahun 2019.5 bersama dengan istilah “manuscript”. Istilah “manuskrip” muncul pada tahun 2019 bersamaan dengan “collection”.Gambar 6Peta Peneliti Museum dan Perpustakaan Dari gambar 6 di atas merupakan peta dari peneliti pada topik museum dan perpustakaan. Terdapat 53 nama peneliti yang terkumpul dan terbagi dalam 41cluster.Apabila dicari secara manual melalui pencarian Google Scholar dengan kata kunci “museum perpustakaan” pada kurun waktu 2012 hingga 2021, maka terdapat tiga artikel teratas sebagai hasil pencarian. Artikel yang pertama adalah artikel yang berjudul “Peranan perpustakaan dan museum tembakau dalam pelestarian kebudayaan kota jember” yang ditulis oleh KO Bella, diterbitkan oleh jurnal BIBLIOTIKA: Jurnal Kajian Perpustakaan dan Informasi tahun 2017. Pada artikel tersebut, dibahas mengenai peran perpustakaan dan museum tembakau bagi masyarakat Kota Jember, beserta pentingnya tembakau dan pelestarian tembakau. Pada urutan kedua muncul artikel lain yang berjudul “Preservasi Naskah Budaya Di Museum Sonobudoyo” yang ditulis oleh H Susilawati di jurnal Al Maktabah, 2017. Artikel ini cukup populer juga dikarenakan banyak istilah dalam artikel ini yang dapat dilihat pada aplikasi VOSviewer. Selain dari kedua artikel tersebut, terdapat pula artikel pada urutan ketiga teratas yaitu artikel yang berjudul “Perpustakaan, Lembaga Kearsipan dan Museum: Dahulu, Sekarang dan Esok” hasil karya tulis dari K Maslahah dan NH Rahmawati. Penulis-penulis pada artikel tiga teratas di Google Scholar, nama-namanya dapat dilihat pada visualisasi yang dilakukan melaluin VOSviewertersebut.
Conclusion
Berdasar dari analisis yang dilakukan dengan VOSviewer, didapatkan bahwa museum dan perpustakaan memiliki kaitan erat dalam hal pemeliharaan arsip dan manuskrip. Sehingga, museum dan perpustakaan dapat berkolaborasi dalam dua hal tersebut secara maksimal. Namun tentunya, penelitian dapat dikembangkan tidak hanya sebatas kolaborasi dalam bidang preservasi manuskrip saja, tapi juga membahas mengenai manajemen, pengelolaan koleksi lain, pelatihan kerja bersama, dan hal-hal lain yang telah dilakukan sebagai langkah kolaborasi antara perpustakaan dan museum. Pada overlay visualization, dapat diketahui bahwa istilah-istilah yang muncul adalah istilah yang diambil dari tulisan yang dipublikasi di sekitar 2018 hingga 2019.5. Istilah “museum”, muncul pada publikasi tahun 2018.5, sedangkan yang berhubungan dengan “perpustakaan” muncul pada tahun 2018. Istilah “archive” muncul pada tahun 2019.5 bersama dengan istilah “manuscript”. Istilah “manuskrip” muncul pada tahun 2019 bersamaan dengan “collection”Terdapat 53 penulis dari karya tulis ilmiah yang muncul pada visualisasi menggunakanVOSviewer.Apabila pencarian dilakukan melaluiGoogle Scholar secara manual, terdapat 3 penulis teratas yaitu KO Bella dengan judul “Peranan perpustakaan dan museum tembakau dalam pelestarian kebudayaan kota jember”, diterbitkan pada jurnal BIBLIOTIKA: Jurnal Kajian Perpustakaan dan Informasi tahun 2017. Kedua teratas adalah “Preservasi Naskah Budaya Di Museum Sonobudoyo” yang ditulis oleh H Susilawati di jurnal Al Maktabah, 2017. Dan artikel ketiga teratas berjudul “Perpustakaan, Lembaga Kearsipan dan Museum: Dahulu, Sekarang dan Esok” ditulis oleh K Maslahah dan NH Rahmawati. Nama-nama tersebut muncul pula pada visualisasiVOSviewer.