Kompetensi Pustakawan dalam Promosi Perpustakaan Pada Media Sosial
Universitas Indonesia; Universitas Indonesia
Abstrak
Penelitian ini memiliki tujuan menganalisis dan mensintesis informasi tentang kompetensi pustakawan dalam upaya melakukan promosi pada media sosial perpustakaan dan tantangan yang dihadapi dalam proses tersebut. Penelitian ini adalah deskriptif dengan metode Systematic Literature Review (SLR) yang dalam prosesnya terdiri dari tiga tahap, yaitu: Perencanaan, Pelaksanaan, dan Pelaporan. SLR merupakan tinjauan pencarian secara komprehensif tentang studi yang relevan terhadap suatu topik kemudian diidentifikasi, dinilai dan disintesis secara sistematis dengan maksud untuk meminimalkan bias sehingga memberikan temuan yang lebih andal. Berdasarkan analisis terhadap 23 artikel terpilih berdasarkan kriteria, hasil penelitian menunjukkan bahwa keterampilan yang paling banyak dipilih untuk mendukung promosi media sosial adalah keterampilan TIK, komunikasi, pengetahuan (knowledge), sikap (attitude), literasi informasi, pedagogik, analisis informasi, manajemen, visual literasi, literasi digital, serta kewirausahaan. tantangan yang dihadapi pustakawan dalam promosi di media sosial antara lain kebutuhan dan perilaku informasi yang beragam, kurangnya kerjasama dengan pihak lain, banyaknya sumber informasi yang tersedia, kurangnya adaptasi dengan perkembangan pencarian informasi, kurangnya staf, kurangnya publikasi ilmiah dalam hal promosi, keterampilan mengelola format koleksi yang minim, berkembangnya budaya daring pada generasi milenial, berbagai jenis media sosial yang tersedia dan pendidikan literasi yang kurang. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai referensi dalam melihat trend kompetensi pustakawan yang berkaitan dengan promosi media sosial dan dasar pertimbangan dalam pengambilan keputusan oleh pustakawan terhadap kompetensi yang akan dikembangkan dalam melakukan promosi pada media sosial.
Abstract
This research intends to examine and synthesize data regarding the problems encountered when attempting to promote on library social media and the competency of librarians. The Systematic Literature Review (SLR) technique, which is being used for this descriptive research, has three stages: planning, implementation, and reporting. SLR is a thorough evaluation of studies that are pertinent to a topic that are then identified, evaluated, and synthesized methodically with the goal of eliminating bias in order to produce more trustworthy results. The examination of 23 publications that met the criteria revealed that ICT, communication, knowledge, attitude, information literacy, pedagogy, information analysis, management, and visual skills were the abilities most commonly identified to promote social media promotion. entrepreneurship, literacy, and digital literacy. Diverse information needs and behaviors, a lack of collaboration with other parties, the abundance of information sources, a failure to adapt to information search developments, a lack of staff, a lack of scientific publications that promote their work, a lack of format management skills and minimal collections, the emergence of online culture in the millennial generation, and the availability of a variety of social media platforms are all obstacles that librarians must overcome when promoting themselves on social media. The findings of this study can be used as a guide to examine trends in librarian abilities linked to social media promotion and as a basis for librarians to consider when deciding which competencies to develop for social media promotion.
Keywords:
Librarian Competence
· Promotion
· Social Media
Introduction
Pergeseran paradigma yang dipengaruhi oleh perkembangan teknologi akan pemenuhan kebutuhan informasi masyarakat berdampak pada berbagai bidang, baik industri maupun pendidikan. Keterbukaan informasi menjadikan penyebaran informasi semakin beragam dan mudahnya distribusi informasi. Organaisasi atau lembaga informasi ditantang untuk mempertahankan eksistensinya melakukan berbagai inovasi atau terobosan baru untuk menciptakan sistem yang lebik efektif dan efisien, serta memiliki daya saing salah satunya dengan menyediakan informasi yang sesuai dengan kebutuhan pengguna dari berbagai kalangan (Pasaribu, 2016). Perpustakaan sebagai salah satu lembaga informasi harus dapat beradaptasi dengan dinamika perkembangan perilaku informasi pengguna (Information Behavior). Keniscayaan inovasi maupun kreativitas harus diterapkan dalam dunia perpustakaan. Penanganan baru harus dilakukan seperti memanfaatkan berbagai jenis media baik cetak maupun online secara optimal sebagai upaya beradaptasi dan melanjutkan eksistensi agar tidak tertinggal di era disrupsi. Interaksi antara pustakawan dengan pemustaka tidak harus dilakukan secara face to face akan tetapi dapat menggunakan berbagai platform yang tersedia sebagai media promosi. Salah satu yang umum dan populer digunakan saat ini yaitu penggunaan media sosial. Media sosial ialah media yang terbentuk melalui internet dimana pengguna bisa terkoneksi, kerjasama, berbagi, berbicara dengan pengguna lain, koneksi sosial memfasilitasi antar pengguna dalam membangun komunikasi secara virtual. Disebutkan juga enam kategori besar media sosial, diantaranya jejaring sosial, blogging, microblogging, media berbagi media, bookmark sosial, serta wiki. (Nasrullah, 2015) Media Sosial di perpustakaan sudah ada sejak dulu hanya saja pemanfaatannya belum maksimal. Pada masa Covid-19 yang ditandai dengan sosial distance dan akses gerak yang terbatas memicu kenaikan persentasi penggunaan media sosial. Berdasarkan hasil penelitian Reuters Institute Digital News Report pada tahun 2021 (Newman et al., 2021)yang mengambil lokus penelitian di Indonesia memaparkan bahwa masyarakat urban dominan mengakses informasi melalui media online sebesar 89% dan sosial media dengan perolehan 64%. Data penelitian juga menjelaskan bahwa mayoritas yang mengakses berita dan informasi secara daring menggunakan telepon genggam (smartphone). Meningkatnya penggunaan media sosial di tengah masyarakat memberi peluang kepada perpustakaan memanfaatkan media sosial sebagai salah satu tools promosi terkait layanan yang exsisting di perpustakaan. Penelitian menurut (Islamy & Laksmiwati, 2020) dengan judul Pemanfaatan Media Sosial Sebagai Sarana Promosi Layanan Perpustakaan Institut Seni Indonesia Surakarta menunjukan bahwa dalam melakukan promosi, Perpustakaan ISI Surakarta memanfaatkan media sosial Facebook. Media sosial facebook digunakan karena mampu memberikan kemudahan sarana informasi oleh pustakawan. Penelitian lain oleh (Putri, 2019) dengan judul Pemanfaatan media sosial sebagai sarana promosi pada perpustakaan Universitas Indonesia, disimpulkan bahwa perpustakaan UI sudah memanfaatkan media sosial untuk sarana promosi, bentuk promosi berupa memberikan informasi terkini mengenai koleksi baru serta tautan sumber elektronik yang disediakan perpustakaan. Keahlian khusus harus dimiliki oleh seorang pustakawan, baik dalam penyediaan konten informasi maupun proses penyampaian yang informatif, bertujuan agar konten yang dibuat dapat tersampaikan dengan baik kepada pemustaka tanpa adanya mis-informasi. Profesi pustakawan merupakan profesi yang dinamis artinya harus menyesuaikan dengan trend yang berkembang di kalangan pemustaka. Bersumber pada Undang- Undang RI Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan, dalam Pasal 1 (8), pustakawan merupakan orang yang mempunyai kompetensi yang diperoleh lewat pembelajaran serta/ ataupun pelatihan di bidang ilmu perpustakaan yang memiliki tugas serta tanggung jawab menyelenggarakan pengelolaan serta layanan pustaka. Informasi yang berasal dari berbagai sumber (media cetak maupun digital), serta dengan bentuk yang beragam membutuhkan keahlian khusus dalam menyikapi fenomena tersebut. Pustakawan sebagai agen informasi harus terus meningkatkan pengetahuan dan kompetensi dalam merespon perubahan yang terjadi di masyarakat. (Mangkunegara, 2012) menyebutkan bahwa keahlian manusia berkaitan dan berhubungan dengan wawasan, kecakapan, kapabilitas dan perilaku yang berimpact pada kinerjanya. Intinya bahwa kompetensi individu berasal dari dalam dirinya dan merupakan modal utama dalam menunjang pekerjaan yang diemban. Jika dihubungkan dengan dunia perpustakaan, kompetensi pustakawan pada era digital dituntut untuk berkembang pada bidang teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Sebagaimana yang dikemukakan oleh (Samosir, 2016)bahwa Pustakawan harus terlibat dalam berbagai pelatihan di bidang teknologi informasi dengan tujuan memberikan impact pada kemajuan perpustakaan di dunia cyber atau yang sekarang dikenal sebagai Cybrarian yang didalamnya termasuk kompetensi Information literacy, ICT literacy, visual literacy, and digital literacy. Era digital tidak dapat dihindarkan menjadikan tantangan bagi pustakawan dalam memberikan service excellence. Jika perpustakaan dikelola oleh pustakawan yang kompeten dalam suatu keahlian dan sesuai standar maka perpustakaan tersebut akan bergerak maju. CARL (Canadian Association of Research Libraries, 2010) melaporkan bahwa pustakawan yang bekerja pada ranah penelitian memiliki tujuh kompetensi inti yaitu pengetahuan dasar, keterampilan komunikasi, leadership dan management, pengembangan koleksi, research, information literacy, kompetensi profesi serta teknologi informasi. Dalam implementasinya, penyediaan konten yang menarik agar meningkatkan engagement juga menjadi salah satu tantangan pustakawan dalam melakukan promosi melalui media sosial. Hal tersebut disebabkan oleh pergeseran pemustaka dari layanan berbasis koleksi ke layanan berbasis pemustaka, kebutuhan informasi cetak ke kebutuhan informasi digital (Utomo & Hery, 2021). Berdasarkan latar belakang di atas, dapat disimpulkan bahwa telah banyak penelitian mengenai promosi perpustakaan pada media sosial. Meskipun demikian, penulis belum menemukan artikel yang membahas kompetensi pustakwan terutama dikaitkan dengan promosi pada media sosial secara spesifik menggunakan metode SLR. Oleh karena itu, penulis tertarik untuk melakukan kajian tentang kompetensi pustakawan dalam upaya melakukan promosi pada media sosial perpustakaan dan tantangan yang dihadapi. Penelitian ini akan berfokus pada perpustakaan yang ada di Indonesia hal tersebut dilakukan penulis agar cakupan permasalahan tidak terlalu luas dan lebih mengerucut. Penelitian ini bertujuan untuk mengumpulkan, merangkum, melakukan analisis, dan sintesis informasi tentang kompetensi pustakawan dalam promosi pada media sosial. Penulis berharap hasil penelitian ini dapat berkontribusi terhadap ilmu perpustakaan dan informasi, khususnya mengenai promosi perpustakaan melalui media sosial dan tantangan apa saja yang mereka hadapi dalam promosi di media sosial. Pada penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif dengan metode System Literature Review (SLR) dalam prosesnya terdiri dari tiga tahapan yaitu: Planning, Executing, dan Reporting. Tahap Planning, melaksanakan tinjauan dan memformat laporan. Pada tahap ini melihat ke dalam protokol yang strukturnya didasarkan pada konteks penelitian dan mendefinisikan protokol dengan meninjau dan membangun pertanyaan penelitian. Untuk tahap executing dilakukan pencarian strategi dan data ekstraksi untuk mengkategorikan item data sebagai output dan yang terakhir adalah tahap reporting yaitu pelaporan kesimpulan dari hasil diskusi. Secara lebih jelas proses tahapan yang dilalui dapat dilihat pada Gambar 1. Pada termin perencanaan, pertanyaan penelitian disusun berdasarkan PICOC (Population, Intervention, Comparison, Outcomes, and Context). Cakupan untuk menyusun pertanyaan tinjauan ditunjukkan pada Tabel 1. Mengacu pada cakupan penelitian, maka ditetapkan Research Questions (RQ) sebagai berikut: RQ 1 : Berapa banyak penelitian yang menjelaskan tentang kompetensi pustakawan dalam promosi di media sosial? RQ 2 : Kompetensi yang harus dimiliki pustakawan dalam promosi perpustakaan di media sosial? RQ 3 : Tantangan yang dihadapi pustakawan dalam promosi perpustakaan pada media sosial? Kajian Systematic Literature Review ini menggunakan Google Scholar dalam proses pencarian sumber referensi. Google Scholar ini dipilih karena mempermudah pencarian sumber referensi seperti artikel atau jurnal ilmiah. Pertimbangan lainnya yaitu Google Scholar masuk dalam pemeringkatan Webometrics dan H-Index dalam memberikan referensi dan sumber belajar untuk mendukung pendidikan sehingga sumbernya valid. Pada bagian penelitian teoritis, penulis mengambil teori-teori pendukung dan referensi dari berbagai sumber seperti buku, surat kabar, jurnal penelitian dengan tujuan untuk melengkapi dokumen-dokumen yang berkaitan dengan konsep dan teori. Batasan kutipan yang digunakan dalam penelitian ini adalah publikasi dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir hal ini dilakukan agar sumber rujukan lebih mutahir sesuai dengan perkembangan rumpun ilmu dan topik penelitian. Setelah menentukan mesin pencarian dan batasan waktu sumber rujukan, maka tahap selanjutnya agar sumber referensi relevan dengan topik penelitian maka dilakukan identifikasi jurnal berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi yang telah ditetapkan. Kriteria inklusi dan eksklusi ditentukan sebagai pertimbangan dalam mengecualikan makalah yang tidak relevan untuk menjawab Research Question. Untuk lebih jelas mengenai kriteria inklusi maupun eksklusi pada topik penelitian ini, ditentukan dan disajikan seperti Tabel 2. Assesment kualitas dirumuskan dengan mengevaluasi kepaduan artikel ilmiah dengan topik yang dibahas sehingga menghasilkan data yang valid. Daftar pertayaan tersebut tersaji dalam Tabel 3. Setiap pertanyaan memiliki 3 jawaban alternatif dengan masing-masing skor berbeda, yakni Ya = 2, Sebagian = 1 dan Tidak = 0. Daftar pertanyaan penelitian kualitas pada tabel di atas mengacu pada pertanyaan penelitian atau research questions yang telah disusun dan topik penelitian yaitu kompetensi pustakawan dan promosi pada media sosial. Selain itu peneliti juga melihat tujuan dan sasaran penelitian dari setiap artikel agar memudahkan dalam pemahaman konteks penelitian.
Result & Discussion
Berdasarkan hasil pencarian data pada google scholar dengan memasukan kata kunci judul penelitian kemudian diurutkan sesuai relevansi, ditemukan 200 artikel penelitian dengan kata kunci “Kompetensi” atau “Promosi Media Sosial Perpustakaan” pada rentang waktu tahun 2013 - 2022 atau 10 tahun terakhir sesuai dengan batasan tahun yang ditentukan sebelumnya agar data yang didapat masih mutahir dan valid. Proses seleksi dokumen dapat dilihat pada Gambar 2. Berdasarkan gambar dapat dilihat hasil artikel yang ditemukan disortir berdasarkan inklusi dan eksklusi yang telah ditetapkan dan kesesuaian dengan topik sehingga pada akhirnya didapat 23 artikel yang berkaitan dengan judul penelitian. Artikel yang telah dipilih akan melalui proses penilaian kualitas sesuai dengan kriteria penilaian dan dilakukan analisis secara komprehensif untuk menjawab pertanyaan penelitian yang sudah disusun sebelumnya. Berikut hasil dan pembahasan dari analisis artikel untuk menjawab research questions. Penelitian tentang kompetensi dalam promosi di media sosial Setelah melakukan penelusuran mengacu pada penggunaan metode SLR ditemukan 200 artikel yang sesuai dengan topik penelitian ini. Tahapan berikutnya adalah melakukan seleksi terhadap artikel hasil penelusuran berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi penelitian yang telah ditetapkan sebelumnya. Hasil seleksi menghasilkan 23 artikel masuk ke dalam kriteria inklusi dan dianggap relevan pada fokus topik pembahasan yaitu mengenai kompetensi pustakawan dalam promosi perpustakaan di media sosial. Tahap selanjutnya agar lebih mengerucut terhadap jawaban research question pertama (RQ1), peneliti menerapkan penilaian kualitas yang terdapat pada Tabel 3 terhadap 23 artikel terpilih untuk dilakukan sintesis data setelah melakukan penyaringan berdasarkan kriteria eksklusi dan skrining terperinci terhadap abstrak dan teks lengkap. Penulis memberikan identitas berupa kode A1 sampai dengan A23 kepada setiap artikel dengan tujuan memudahkan proses pengecekan. Hasil penilaian terhadap keseluruhaan artikel dapat dilihat pada Tabel 4. Selain melakukan penilaian artikel yang mengacu pada kriteria penilaian kualitas, penulis juga menemukan bahwa dari keseluruhan artikel yang dianalisis didominasi oleh penelitian dengan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, hanya 3 artikel yang menggunakan pendekatan kuantitatif dan 3 artikel menggunakan tinjauan sistematis atau SLR. Mengacu pada data dapat disimpulkan bahwa belum banyak penelitian yang menggunakan tinjauan sistematis sebagai metode pengumpulan data terutama dengan topik kompetensi pustakawan dalam promosi di media sosial. Hasil dari perolehan skor dari penilaian kualitas terdapat lima artikel yang mendapat skor maksimum yaitu 8 (A5, A7, A12, A20 dan A22). Dapat disimpulkan bahwa didalam kelima artikel tersebut terdapat pembahasan mengenai topik penelitian (kompetensi pustakawan dan promosi media sosial) atau menjawab semua aspek pertanyaan penelitian kualitas (Tabel 3). Selain itu empat artikel mendapat skor 7 (A1, A6, A19 dan A21), yang berarti bahwa pembahasan pada empat artikel tersebut memiliki satu pertanyaan yang dijawab hanya sebagian atau pembahasannya belum komprehensif sehingga skornya 1/sebagian. Sementara itu delapan artikel mendapat skor 6 (A4, A9, A10, A13, A15, A17, A18, dan A23). Pada tabel terlihat bahwa pada sederet artikel tersebut tidak dapat menjawab salah satu poin pertanyaan sehingga mendapatkan skor 0. Hasil lain menunjukan terdapat empat artikel mendapat skor 5 (A3, A8, A11 dan A16), yang artinya terdapat satu pertanyaan yang tidak dapat dijawab dan satu pertanyaan dijawab dengan pembahasan yang kurang memuaskan / sedang. Terdapat sisa dua artikel yang mendapatkan skor 4 (A2 dan A14). Kompetensi pustakawan dalam promosi perpustakaan di media sosial Untuk memfokuskan jawaban penelitian terhadap pertanyaan penelitian pada nomor dua yaitu kompetensi yang harus dimiliki pustakawan dalam promosi di media sosial, penulis melakukan sintesis dengan membatasi hanya terhadap artikel yang memiliki skor 7 dan 8, hal tersebut dilakukan karena artikel yang memiliki skor 7 dan 8 dipastikan dapat menjawab semua poin pertanyaan kualitas walaupun beberapa artikel mungkin memiliki jawaban yang belum lengkap/sebagian. Total 17 artikel (A1, A4, A5, A6, A7, A9, A10, A12, A13, A15, A17, A18, A19, A20, A21, A22, dan A23). Setelah melakukan analisis secara komprehensif terhadap 17 artikel maka didapat 11 kompetensi yang sesuai atau berkaitan dengan promosi perpustakaan di media sosial, hasil data mapping kompetensi dapat diamati pada Tabel 5. Berdasarkan data pada Tabel 5 dapat terlihat bahwa banyak artikel yang mencantumkan Kompetensi TIK sebagai keahlian yang seyogyanya dimiliki pustakawan dalam promosi perpustakaan di media sosial, dengan total 10 artikel (A1, A4, A5, A7, A9, A11, A12, A13, A17, A20). Seorang pustakawan dalam melakukan promosi pada media sosial harus dapat mengoperasikan perangkat komputer/gawai dan bagaimana cara menggunakan aplikasi media sosial yang digunakan. Menurut (Hirsh & Tunon, 2018) pada abad kedua puluh satu, profesional informasi perlu mempersiapkan diri untuk mengubah perilaku pengguna. membantu pemustaka belajar bagaimana menggunakan teknologi baru dan mengembangkan keterampilan baru. Ini berarti bahwa pustakawan harus kreatif, inovatif, dan terampil secara teknologi. Pustakawan sebagai mediator perlu mengikuti keahlian baru sehingga mereka dapat menawarkan layanan high touch/teknologi tinggi yang diinginkan pengguna. Kompetensi selanjutnya yaitu Komunikasi dan Knowledge pada urutan kedua dan ketiga masing-masing mendapatkan 7 artikel. Keahlian dalam komunikasi di media sosial juga sangat diperlukan agar informasi yang disampaikan dapat tepat sesuai maksud dan tujuan. Pengetahuan tentang konten yang akan disampaikan juga penting dipahami oleh pustakawan agar ketika adanya feedback dari user berupa pertanyaan, pustakawan dapat menjawabnya dengan baik. Bahkan menurut Brian Spitzberg dan William Cupach (Hayati et al., 2017) komunikasi dan pengetahuan merupakan dua komponen yang berkaitan satu sama lain. Untuk mencapai tujuan komunikasi yang baik harus memiliki pengetahuan mengenai apa yang harus dilakukan dalam segala jenis situasi, respon yang diajak komunikasi dan memahami isi pesan yang disampaikan. Informasi ini diperlukan agar komunikasi dapat bekerja secara efisien dan tanpa kesalahan. Pengetahuan ini tumbuh dengan tingkat pendidikan dan pengalaman. Dengan demikian, semakin seseorang tahu bagaimana berkomunikasi dalam situasi yang berbeda, semakin baik kompetensi atau kemampuan komunikasinya. Di urutan keempat, dalam melakukan promosi pada media sosial seorang pustakawan dituntut memiliki attitude atau menjaga sikap dalam memasukan tulisan atau aspirasinya dengan tidak menyinggung dan merendahkan pihak lain. Kemudian pada posisi kelima dilanjutkan dengan kompetensi Literasi Informasi dengan sama-sama mendapatkan 5 artikel. Pustakawan atau Cybrarian IAIN Salatiga mengembangkan kompetensi literasi informasinya dengan menyelenggarakan kegiatan keilmuan terkait penulisan, pengelolaan sumber daya online, bedah buku, literasi buku bahasa Arab, literasi e-resources, seminar perpustakaan online/offline (Yenianti, 2021). Kompetensi pedagogik dan analisis informasi berada pada urutan 6 dan 7 dengan masing-masing memperoleh 4 artikel. Sebagai blended librarian, pustakawan memerlukan kerjasama dengan peneliti, khususnya fakultas, dalam kegiatan pembelajaran dan penelitian. Bersama dengan dosen, pustakawan harus berpartisipasi aktif dalam proses atau kegiatan pembelajaran yang direncanakan. Oleh karena itu, penting bagi pustakawan untuk memiliki keterampilan pedagogik terutama yang berkaitan dengan perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran. Pustakawan PTKIN ditantang untuk dapat menjadi leader, inisiator dan inovator dalam integrasi teknologi dan perancangan pembelajaran. Oleh karena itu perlu adanya strategi penguatan kompetensi pedagogik agar dapat menjawab tantangan tersebut sehingga para pustakawan tidak hanya menjadi penonton akan tetapi promotor bagi produksi pengetahuan universitas (Andayani, 2018). Selanjutnya secara berurutan ada kompetensi Management, Visual literacy, Literasi digital dan Kewirausahaan dengan perolehan masing-masing 2 artikel. Tantangan pustakawan dalam promosi perpustakaan di media sosial Setelah melakukan analisis terhadap 23 artikel terdapat 10 tantangan/kendala yang dihadapi pustakawan dalam melakukan promosi di media sosial. Adapun hasil klasifikasi tantangan ditunjukan pada Tabel 6. Berdasarkan hasil klasifikasi pada Tabel 6 dapat dilihat bahwa tantangan yang sering dijumpai dalam melakukan promosi perpustakaan yaitu kebutuhan dan perilaku informasi yang beragam di tengah popularitas google tercantum pada artikel dengan kode A3, A12, A9, A17. Pustakawan merupakan sebuah profesi yang bukan hanya mampu survive dalam banjirnya informasi, namun juga profesi yang kompeten dalam mengidentifikasi kemunculan berbagai jenis sumber informasi dan mengantisipasi dinamika perilaku informasi masyarakat. (Hariyati & Heriyanto, 2021). Perilaku informasi pengguna juga dipengaruhi oleh situasi yang terjadi di sekitar contohnya ketika pandemi Covid-19 pengguna lebih cenderung menggunakan media online dalam pencarian infomasi sehingga mengharuskan pustakawan untuk kreatif dan inovatif, agar eksistensi perpustakaan terus terjaga. Tantangan di urutan kedua yaitu kolaborasi dengan pihak lain guna mengembangkan keilmuan. Pustakawan sebagai agen informasi diharapkan dapat melakukan kolaborasi dengan pihak eksternal dalam melakukan riset untuk meningkatkan keilmuan terutama di bidang perpustakaan. Sama halnya dengan yang dipaparkan pada artikel A3 bahwa pustakawan PTIKN yang mampu berkolaborasi dengan bagian administrasi dan sivitas akademika dalam berbagai kegiatan keilmuan termasuk riset. Kolaborasi juga dilakukan sebagai upaya dalam mengembangkan layanan dan ilmu kepustakawanan. Sumber informasi yang melimpah dalam pemenuhan informasi dan juga akses yang mudah menyebabkan banjirnya informasi (overload information) menjadi salah satu tantangan pustakawan dalam meningkatkan minat kunjung dan penggunaan resources perpustakaan. Peran pustakawan dalam memilah informasi yang valid dan knowledge sharing menjadi sangat penting. Beradaptasi dengan perkembangan pencarian informasi juga menjadi salah satu tantangan bagi pustakawan dalam melakukan promosi di media sosial dimana pustakawan bukan merubah proses pencarian informasi pengguna dengan cara paksaan akan tetapi harus beradaptasi dan menyesuaikan dengan kebiasaan pemustaka. Salah satu strategi yang dapat diterapkan pada kondisi tersebut yaitu pengembangan kompetensi teknologi informasi bagi pustakawan, salah satu contohnya kompetensi pustakawan data dalam mendukung Research Data Management (RDM). Kurangnya staf perpustakaan dalam mengelola konten media sosial merupakan salah satu faktor internal perpustakaan dimana dalam melakukan promosi pada media sosial harus dilakukan oleh staf/pustakawan yang memiliki kompetensi tertentu sesuai yang tercermin pada hasil research question yang kedua. Dukungan dari lembaga induk juga menjadi hal yang penting dalam menambah jumlah SDM oleh karena itu pustakawan harus dapat menjelaskan urgensi dari penambahan SDM dan manfaatnya bagi institusi. Tantangan lain dengan perolehan masing-masing 2 artikel yaitu meningkatkan jumlah publikasi ilmiah, pengembangan profesi pada Permenpan Nomor 09 Tahun 2009 mencantumkan regulasi tentang kewajiban seorang pustakawan dalam membuat karya tulis, baik berupa kajian teori maupun naskah dari hasil penelitian, hasil studi, hasil analisa maupun pengalaman lainnya Kegiatan penulisan ini diperuntukkan bagi semua jenjang pustakawan baik tingkat keterampilan maupun tingkat keahlian. Pustakawan harus terampil dalam mengelola format koleksi terutama jika akan dijadikan sebagai konten media sosial. Konten digital berguna sebagai media promosi ide dan gagasan secara sistematis kepada pengguna, berisi tentang pengembangan materi berita, pendidikan, dan hiburan. Semakin menarik konten yang dibuat dengan berbagai jenis format seperti gambar/video maka akan menambah daya tarik pengguna mengakses konten tersebut sehingga net generation yang sudah terbiasa dengan komputer dan internet dapat secara berkesinambungan mengikuti akun media sosial kita. Berbagai jenis platform media sosial dan pendidikan literasi informasi masing-masing memrperoleh satu artikel. Pada saat ini berbagai jenis media sosial dapat digunakan dalam kegiatan promosi sebut saja Facebook, YouTube dan Instagram hadir sebagai awal mula berkembangnya media sosial bahkan saat ini media Tik Tok menjadi salah satu aplikasi yang digemari kaum muda.
Conclusion
Berdasarkan hasil tinjauan sistematis yang mengkaji studi terdahulu mengenai kompetensi pustakawan dalam promosi pada media sosial dapat disimpulkan bahwa dalam melakukan promosi perpustakaan di media sosial, seorang pustakawan membutuhkan keahlian atau kompetensi khusus di luar dari kompetensi inti sebagai seorang pustakawan dan kompetensi tersebut harus dikembangkan sesuai dengan perkembangan teknologi terkini. Selain itu, terdapat pula tantangan dalam melakukan promosi pada media sosial yang dapat berasal dari luar atau dari pengguna (user information behavior) dan perkembangan lingkungan yang dinamis. Masukan dari peneliti diharapkan pustakawan dapat memanfaatkan media sosial yang tersedia secara optimal dalam menunjang kegiatan operasional perpustakaan sehingga komunikasi dan interaksi dengan pemustaka dapat terjalin dengan baik agar eksistensi perpustakaan tidak memudar. Penelitian selanjutnya dapat mengkaji mengenai topik kepuasan pemustaka terhadap media sosial perpustakaan sehingga dapat terlihat penggunaan media sosial perpustakaan dari sudut pandang pengguna sebagai bahan evaluasi perpustakaan dalam bermedia sosial.