Kembali
16
1
2021 IJAL (Indonesian Journal of Academic Librarianship) Vol 4 · 2 ISSN 2597-9957

Pustakawan masa depan: Menjawab tantangan disrupsi profesi pustakawan

Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Abstrak

Di era disrupsi, pustakawan telah diperhadapkan dengan tantangan yang sangat kompleks untuk tetap memiliki peran (value) dan dampak positif bagi masyarakat informasi. Makalah ini bertujuan untuk mencoba untuk memberikan pandangan tentang kemampuan (skill) ya ng diperlukan bagi profesi pustakawan masa depan. Profesi pustakawan tetap bisa bertahan dalam era ketidakpastian bergantung pada skill pustakawan hari ini untuk melihat tantangan masa depan dan cara mengimplementasikannya di masa sekarang

Abstract

In the era of disruption, librarians face complex challenges to continue to play a role (value) and positively impact the information society. This paper aims to try to provide a view of the skills needed for the future librarian profession. The librarian profession can survive in an era of uncertainty depending on the skills of today's librarians to see future challenges and how to implement them in the present.
Keywords: Librarian profession · Covid-19 · Disruption era · Librarianship · Academic library

Introduction

Di era disrupsi, pustakawan telah diperhadapkan dengan tantangan yang sangat kompleks untuk tetap memiliki peran (value) dan dampak positif bagi masyarakat informasi. Apalagi saat ini, seluruh dunia telah diguncang adanya pandemi Covid-19 yang telah memaksa perpustakaan seluruh dunia untuk membatasi bahkan menutup penuh layanan fisik (IFLA, 2020). Di sisi lain, perubahan budaya baca masyarakat dan penelusuran informasi kearah digital meningkat (Kemp, 2021; The Digital Reader, 2020) Akibatnya, perpustakaan dipaksa untuk melakukan lompatan perubahan secara menyeluruh dan mendasar (revolusioner) dalam rangka mempertahankan perannya. Keberadaan perpustakaan bergantung pada kemampuan pustakawan berdaptasi terhadap perubahan. Tentu saja, masa depan pustakawan, profesi yang cukup lama dan mapan, dipertaruhkan. Artikel ini bertujuan untuk memberikan pandangan tentang kemampuan (skill) yang diperlukan bagi profesi pustakawan masa depan. Profesi pustakawan tetap bisa bertahan dalam era ketidakpastian bergantung pada skill pustakawan hari ini untuk melihat tantangan masa depan dan cara mengimplementasikannya di masa sekarang. Dampak Covid-19 bagi perpustakaan, pustakawan dan masyarakat Munculnya Pandemi covid-19 bagaikan gempa bumi berkekuatan besar yang berdampak besar bagi aktifitas sosial masyarakat dunia. Perubahan ini merupakan cataclysmic change yaitu fenomena sosial yang tidak terkontrol (Greer, Grover, & Fowler, 2013, p. 35). Dalam konteks perpustakaan, perubahan yang disruptif ini telah berdampak pada perubahan teknologi, pendanaan dan harapan masyarakat yang dilayani(Lawton, 2016, p. 5). Perpustakaan dipaksa untuk menyediakan infrastruktur teknologi yang efektif dengan anggaran yang minimal dan tepat sasaran yaitu sesuai dengan harapan masyarakat yang dilayani. Gambaran dampak covid-19 terhadap perubahan perpustakaan, pustakawan dan masyarakat dapat diuraikan di bawah ini: Dampak bagi masyarakat Saat ini, budaya baca dan perilaku masyarakat dalam penelusuran informasi lebih nyaman menggunakan akses internet atau melalui media sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pandemi covid-19 telah mempengaruhi kebiasaan membaca masyarakat dunia sebesar 35%. Sementara kebiasaan membaca masyarakat Indonesia menempati urutan 16 di Dunia dengan lama baca ratarata 6 jam per minggu dan peringkat 3 di Asia Tenggara setelah Thailand dan Filipina (The Digital Reader, 2020). Sementara masyarakat pengguna internet menghabiskan waktu rata-rata 7 jam perhari atau 42% dari saat bangun tidur (Kemp, 2021). Peningkatan kebiasaan membaca dan perubahan perilaku pencarian informasi masyarakat dunia, termasuk Indonesia, menjadi peluang sekaligus ancaman bagi keberadaan perpustakaan dan profesi pustakawan di masa depan. Dampak bagi Perpustakaan Perpustakaan di seluruh dunia beragam dalam merespon dampak covid-19 sesuai dengan kebijakan masing-masing negara, termasuk Indonesia. IFLA memberikan informasi upaya perubahan yang dilakukan oleh berbagai jenis perpustakaan di seluruh dunia. Perubahan penting yang dilakukan antara lain membatasi layanan fisik hingga penutupan penuh, menyediakan layanan dari jarak jauh, menyediakan sumberdaya informasi online, menyediakan informasi tentang pencegahan penyebaran covid-19, dan menggunakan media sosial sebagai sarana promosi (IFLA, 2020) Beragamnya respon terhadap perubahan di atas juga dipengaruhi oleh kemampuan sumberdaya yang dimiliki perpustakaan (layanan, infrastruktur teknologi, pustakawan, anggaran) dan kebutuhan masyarakat yang di layani. Perpustakaan nasional, perpustakaan umum, perpustakaan perguruan tinggi, perpustakaan sekolah, perpustakaan khusus akan berbeda dalam inovasinya. Namun, perpustakaan sekolah di Indonesia mayoritas tidak berdaya karena keterbatasan sumberdaya yang dimiliki. Selain itu, minimnya pustakawan sekolah, perpustakaan sekolah selama ini belum cukup mampu untuk membuktikan perannya dalam meningkatkan pembelajaran siswa. Dampak bagi pustakawan Pustakawan memiliki peran penting dalam perubahan perpustakaan hari ini. Pustakawan hari ini telah menggunakan berbagai media sosial dan internet untuk mempromosikan layanan baru kepada masyarakat. Namun perlu dicatat bahwa pustakawan tidak hanya dituntut untuk menyediakan akses sumber daya informasi online, infrastruktur teknologi, tapi juga apa yang dilakukan pustakawan dapat memberikan value positif bagi organisasi (Lawton, 2016, p. 274). Contoh inovasi perpustakaan perguruan tinggi Selanjutnya, berdasarkan pengamatan, berikut gambaran umum inovasi layanan perpustakaan perguruan tinggi di Indonesia dan keterlibatannya dalam penanggulangan covid-19. Jenis layanan yang diselenggarakan: 1. Menyediakan informasi tentang tindakan pencegahan Covid-19.  Menyediakan informasi di laman web dan media sosial yang merujuk pada lembaga pemerintah secara real time atau memberikan panduan singkat tentang protokol pencegahan penularan COVID-19  Menyediakan publikasi ilmiah tentang mekanisme, penyebaran/penularan, diagnosa, pengobatan dan pencegahan. 2. Menyediakan informasi akses sumber informasi ilmiah online.  Perpustakaan membuat panduan koleksi elektronik yang bisa diakses secara online baik yangdilanggan dan open access  Membangun sumberdaya informasi pendidikan terbuka dengan menyeleksi dan mengumpulkan buku eletronik akses terbuka. 3. Menyelenggarakan program literasi informasi secara online dengan memanfaatkan zoom, google meet, dan lain-lain. 4. Mengadakan webinar nasional dan internasional tentang best practise layanan masa pandemi covid-19 dan tantangan perpustakaaan masa depan 5. Menyediakan layanan terbatas perpustakaan konvensional selama masa pandemi covid-19 dengan tetap mengikuti protokol kesehatan.  Layanan tatap muka bagi mahasiswa yang sedang mengurus bebas pustaka  Layanan terbatas peminjaman buku dengan membatasi jumlah peminjam perharinya.  Layanan pengembalian buku melalui kurir atau ekspedisi  Layanan pengembalian denda melalui rekening bank dan pembayaran melalui transaksi emoney. 6. Pustakawan melakukan kajian/penelitian tentang dampak covid-19 bagi perpustakaan. Jenis Media dan tools yang digunakan:  Laman web perpustakaan  Media sosial seperti twitter, instagram, facebook, whatapp, telegram.  Google meet, zoom  Youtube  Canva  dan lain-lain Upaya perubahan layanan di atas merupakan bukti bahwa pustakawan mampu untuk melakukan perubahan. Namun, upaya ini perlu diteliti untuk mengetahui seberapa besar dampaknya bagi organisasi. Tantangan dan peluang profesi pustakawan Indonesia hari ini Tantangan: Visibilitas profesi pustakawan menurun di masyarakat Uraian di atas, telah meneguhkan bahwa pustakawan mampu untuk melakukan perubahan di masa sulit ini untuk melakukan inovasi layanan secara cepat. Pustakawan telah menunjukkan eksistensi sebagai profesional informasi yang mampu berdaptasi dengan teknologi dan harapan masyarakat yang dilayani. Hal ini sesuai dengan peran baru profesi pustakawan bahwa pustakawan tidak hanya melakukan peran tradisional sebagai orang yang hanya mengorganisasi dan menyimpan buku, jurnal dan sumber informasi lainnya tetapi mampu melakukan peran barunya untuk mempertemukan kebutuhan masyarakat yang dilayaninya (Greer et al., 2013, p. 13). Namun, keterbatasan infratruktur dan anggaran, tidak semua putakawan mampu melakukan perubahan ini Pentingnya peran pustakawan dalam menjaga perpustakaan tetap pada visinya, ternyata belum berdampak pada peningkatan visibilitas pustakawan. Berdasarkan penelusuran melalui Google Trends, visibilitas pustakawan di Indonesia selama 16 tahun terakhir (1 Pebruari 2004- 28 Pebruari 2021) dengan membandingkan kata kunci perpustakaan, pustakawan, library dan librarian (Grafik 1). Popularitas perpustakaan dan pustakawan cenderung menurun. Rata-rata skor popularitas untuk kata Library=22, perpustakaan=27, librarian=1 dan pustakawan=1. Sementara skor popularitas penuh yang digunakan adalah100. Penurunan popularitas/visibilitas perpustakaan dan pustakawan yang terjadi di Indonesia, juga terjadi di seluruh dunia (Grafik 2). Grafik 1. Google Trends-penelusuran di Indonesia (https://trends.google.com/trends/) Grafik 2. Google Trends-Penelusuran seluruh dunia (https://trends.google.com/trends/) Menurunya visibilitas profesi pustakawan ini, bisa jadi pertama, karena pandangan masyarakat mengganggap profesi perpustakaan sebatas sebagai penjaga buku yang muncul pada beberapa abad yang lalu, padahal peran perpustakaan terus mengalami pergeseran hingga sekarang. Pandangan masyarakat berabad yang lalu telah mencengkeram hingga di masa sekarang. Kedua, karena pustakawan masih kebanyakan memberikan pelayanan terbatas pada ketersediaan berbagai informasi (supermarket), dan sebagian kecil pustakawan yang terlibat langsung dalam pendampingan penggguna saat mereka membutuhkan informasi sehingga dampak langsung belum banyak dirasakan oleh masyarakat. Padahal pemberdayaan pengguna (user empowerment) merupakan kunci utama (key faktor) bagi perubahan paradigma perpustakaan hari ini yang berpusat pada pengguna (Moran & Morner, 2018, p. 64). Konsep pemberdayaan pengguna hampir sama dengan konsep layanan asertif yaitu layanan yang didasarkan pada analisis kebutuhan pemakai (Greer et al., 2013, p. 147). Dalam perubahan paradigma ini, pustakawan memiliki posisi penting untuk berperan sebagai fasilitator atau konektor untuk mempertemukan kebutuhan pengguna. Untuk memerankan diri sebagai konektor, maka pustakawan perlu meningkatkan skills dan pemahaman pengetahuan profesi informasi. Ada empat pengetahuan inti yaitu psikologi informasi, sosiologi inforrmasi, manajemen organisasi informasi dan teknik informasi (Greer et al., 2013, pp. 82–83). Perubahan paradigma perpustakaan ditunjukkan pada Gambar 1. Gambar 1. Perubahan Paradigma Perpustakaan (Moran, B. B., Morner, C. J., & Stueart, R. D. (2018) Walaupun keberadaan perpustakaan tetap penting dalam menyediakan informasi kepada masyarakat di masa datang. Sejarah membuktikan, perpustakaan mampu berdaptasi dengan perubahan lingkungannya. Meskipun ada sebagian yang kemudian harus dikurangi perannya bahkan ditutup karena ketidakberdayaannya dalam melakukan perubahan. Penting untuk dicatat bahwa kunci utama keberhasilan perubahan perpustakaan adalah kemampuan pustakawan merespon tantangan yang dihadapi hari ini dan merencanakan strategi masa depan. Namun, kemampuan pustakawan sebagai agen perubahan belum cukup mengubah pandangan masyarakat terhadap profesi pustakawan. Visibilitas pustakawan semakin menurun ini merupakan tantangan bagi pustakawan Indonesia dan seluruh dunia. Peluang: Jumlah perpustakaan dan pustakawan meningkat Disamping profesi perpustakaan menghadapi tantangan, juga memiliki peluang untuk tetap tumbuh sebagai profesi yang menjanjikan di masa depan. Berdasarkan Grafik 3, jumlah perpustakaan di Indonesia nomor dua di dunia sebanyak 164.610. Sedangkan urutan pertama ditempati oleh India, sebanyak 323.605 perpustakaan. Di urutan ketiga adalah Rusia, dengan 113.440 perpustakaan dan 105.831 perpustakaan di China (Zulfikar, 2019). Grafik 3. Peringkat empat besar Negara yang memiliki Perpustakaan Sementara Grafik 4, menunjukkan jumlah pustakawan di Indonesia sampai saat ini sebanyak 11.960 (Perpustakaan Nasional RI, 2021). Hal ini menunjukkan perbandingan perpustakaan dan pustakawan di Indonesia adalah jumlah perpustakaan lebih banyak dari jumlah pustakawan. Adalah peluang besar bagi keberlangsungan profesi pustakawan di Indonesia dalam jangka panjang. . Grafik 4. Jumlah Pustakawan Berdasarkan Jenis Perpustakaan di Indonesia Budaya baca masyarakat Indonesia meningkat Seperti yang dijelaskan di atas, bahwa dampak Covid-19 telah berkontribusi bagi peningkatan budaya baca masyarakat Indonesia. Sementara dari sisi peringkat pengembangan Sumber Daya Manusia Indonesia peringkat 107 di dunia pada tahun 2020 (UNDP, 2020). Hal ini menunjukkan bahwa pengembangan Sumberdaya Manusia dan kebiasaan membaca masyarakat ini belum ada keseimbangan. Namun menjadi peluang bagi keberlangsungan profesi pustakawan karena sistem pendidikan di Indonesia sudah memperhatikan untuk meningkatkan daya literasi masyarakat Indonesia melalui perpustakaan dengan mengacu pada Undang-Undang Perpustakaan Nomor 43 Tahun 2007. Anak-anak sudah mulai didekatkan dengan lingkungan alam dan menemukan persoalanpersoalan dengan lingkungan. Artinya sistem pendidikan di Indonesia sudah mulai membaik. Apalagi, ada kesadaran tinggi di lembaga pendidikan untuk melaksanakan akreditasi perpustakaan sebagai upaya untuk memaksimalkan peran dalam meningkatkan literasi informasi. kunci utama dalam peningkatan sumberdaya manusia Indonesia yang unggul adalah memiliki kemampuan literasi yang baik. Kemampuan literasi menjadi kunci dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat Indonesia. Masa depan: Profesi pustakawan menjanjikan Walaupun profesi pustakawan kecenderungannya (trend) tidak populer di masyarakat hari ini, namun tidak berarti profesi pustakawan menghilang dari dunia kerja. Justru sebaliknya, menurut laporan penelitian The Future of Skills: Employment in 2030, telah memprediksi profesi pustakawan semakin dibutuhkan di dunia kerja di Amerika. Pada tahun 2030, pustakawan diprediksi sebagai profesi yang menempati urutan kesembilan dengan tingkat pertumbuhan sebesar 70.06% atau sejumlah 131.550 pekerja (Pearson, Nesta, & Oxford University, n.d.). Penelitian ini yang medasarkan pada pengaruh 7 mega tren yaitu perubahan teknologi (technological change), globalisasi (globalization), perubahan demografis (demographic change), ketahanan lingkungan (environmental sustainability), urbanisasi (urbanization), meningkatnya ketimpangan (increasing inequality), dan ketidakpastian politik (political uncertainty) Berikut laporan sepuluh urutan pekerjaan teratas yang akan mengalami peningkatan dan permintaan hingga tahun 2030 di Amerika sebagai berikut: 1. Preschool, Primary, Secondary, and Special Education School Teachers 2. Animal Care and Service Workers 3. Lawyers, Judges, and Related Workers 4. Postsecondary Teachers 5. Engineers 6. Personal Appearance Workers 7. Social Scientists and Related Workers 8. Counselors, Social Workers, and Other Community and Social Service Specialists 9. Librarians, Curators, and Archivists 10. Entertainers And Performers, Sports and Related Workers Gambar 5: change of growing https://futureskills.pearson.com/ Skill pustakawan masa depan Kemudian kemampuan (skill) pustakawan baru yang diperlukan menurut The Future of Skills: Employment in 2030, antara lain: 1. Learning Strategies. Kemampuan memilih dan menggunakan metode dan prosedur pelatihan yang sesuai dengan situasi ketika belajar atau mengajarkan hal-hal baru. 2. Psychology. Pengetahuan tentang perilaku dan kinerja manusia; perbedaan individu dalam kemampuan, kepribadian, dan minat; pembelajaran dan motivasi; metode penelitian psikologi; dan asesmen dan tritmen gangguan perilaku dan afektif. 3. Instructing. Mengajar orang lain bagaimana melakukan sesuatu pekerjaan. 4. Sociology and Anthropology. Pengetahuan tentang perilaku dan dinamika kelompok, tren dan pengaruh sosial, migrasi manusia, etnis, budaya, sejarah dan asal-usulnya. 5. Education and Training. Pengetahuan tentang prinsip dan metode untuk kurikulum dan desain pelatihan, pengajaran untuk individu dan kelompok, dan pengukuran dampak pelatihan. 6. Philosophy and Theology. Pengetahuan tentang sistem filosofis dan agama yang berbeda. Ini termasuk prinsip dasar, nilai, etika, cara berpikir, adat istiadat, praktik, dan dampaknya terhadap budaya manusia. 7. Active Listening. Memberi perhatian penuh pada apa yang dikatakan orang lain, meluangkan waktu untuk memahami poin-poin yang disampaikan, mengajukan pertanyaan yang sesuai, dan tidak menyela pada waktu yang tidak tepat. 8. Oral Expression. Kemampuan mengkomunikasikan informasi dan ide dalam berbicara sehingga orang lain akan mengerti. Sementara dari sisi kajian kepustakawanan yang dilakukan oleh Schwartz (2016) menetapkan 11 skill pustakawan yang digunakan untuk mempredikasi hingga 20 tahun kedepan (2026). Skill pustakawan ini didasarkan pada tren yang sudah terbukti adalah: 1. Advocacy/Politics. Meningkatkan kesadaran akan nilai di antara para pemangku kepentingan, dengan tujuan untuk mempertahankan atau meningkatkan pendanaan, dan membangun komunitas, organisasi, dan memperluas layanan secara efektif kepada masyarakat yang dilayani. 2. Collaboration. Kemampuan untuk bekerja secara kolaboratif untuk mengurangi biaya operasional layanan dan memperluas akses layanan. 3. Communication/People Skills. Kemampuan berkomunikasi secara efektif kepada pemangku kepentingan, staf dan pengguna perpustakaan. 4. Creativity/Innovation. Kemampuan untuk memenciptakan hal baru dan bermanfaat. 5. Critical Thinking. Kemampuan untuk mengidentifikasi, menganalisis, dan memecahkan masalah. 6. Data Analysis. Kemampuan identifikasi data yang diperlukan untuk membuat keputusan; mengetahui cara mengumpulkan, menganalisis, dan mendapatkan wawasan dari data tersebut; dan menyajikan narasi yang menyertainya untuk menjelaskannya kepada orang lain. 7. Flexibility. kemampuan untuk menyeimbangkan fleksibilitas dengan struktur. 8. Leadership. Kemampuan untuk menyesuaikan diri, memahami gaya kerja kepribadian orang lain dan mengetahui pengembangan dirinya. 9. Marketing. Kemampuan memasarkan perpustakaan dan layanan melalui jaringan sosial dan bagaimana bekerja secara kolaboratif. 10. Project Management. Kemampuan melakukan penjadwalan dan perencanaan terkait dengan anggaran, fasilitas, dan pencatatan hibah. 11. Technological Expertise. Keahlian dalam mengembangkan web, literasi teknologi, dan pengkodean dan yang berkaitan dengan perkembangan teknologi baru. Dari hasil dua penelitian di atas menunjukkan tren skill yang dibutuhkan dari sisi perpektif kebutuhan ekonomi (Pearson et al., n.d.) dan dari sisi kajian tren kepustakawanan (Schwartz, 2016) dapat dijadikan panduan bagi perpustakaan dan pustakawan di Indonesia untuk merencanakan strategi pengembangan di masa depan.

Conclusion

Era disrupsi ini telah berdampak pada perubahan teknologi, pendanaan dan harapan masyarakat yang dilayani. Munculnya pandemi covid-19, mempercepat perubahan budaya masyarakat informasi. Perubahan budaya masyarakat informasi menjadi peluang sekaligus ancaman bagi keberadaan perpustakaan dan profesi pustakawan di masa depan. Oleh karena itu, pustakawan dituntut peka terhadap perubahan lingkungan yang semakin cepat. Sejarah membuktikan, pustakawan telah mampu melakukan perubahan dari masa ke masa. Pustakawan telah menunjukkan kemampuan untuk melakukan transformasi teknologi secara masif dalam menciptakan, mengorganisasikan, mendeminasikan, dan menyimpan informasi. Penting untuk dicatat bahwa kunci utama keberhasilan perubahan perpustakaan adalah kemampuan pustakawan merespon tantangan yang dihadapi hari ini dan merencanakan strategi masa depan dan cara mengimplementasikannya di masa sekarang. Perpustakaan yang baik pasti ada pustakawan yang baik, namun pustakawan yang baik belum tentu berada pada perpustakaan yang baik. Berdasarkan prediksi dari laporan penelitian The Future of Skills: Employment in 2030 di atas, pustakawan diprediksi sebagai profesi yang menempati urutan kesembilan dengan tingkat pertumbuhan sebesar 70.06% atau sejumlah 131.550 pekerja merupakan peluang dan juga tantangan bagi pustakawan di masa depan.