Kembali
16
1
2020 Anuva: Jurnal Kajian Budaya, Perpustakaan, dan Informasi Vol 4 · 1 ISSN 2598-3040

Strategi Peningkatan Minat Baca Kelompok Tunanetra melalui Media Audiobook (Studi pada SLB-A Bina Insani Bandar Lampung)

Universitas Lampung; Universitas Lampung

Abstrak

Penggunaan buku audio dianggap lebih efektif karena kelompok tunanetra biasanya lebih fokus dalam hal pendengaran. Media audio dapat memaksimalkan indra yang masih dimiliki oleh orang buta, indera pendengaran. Audiobook merupakan rekaman teks buku atau tulisan lisan dalam bentuk audio yang dapat didengarkan oleh audien dengan isi/substansi sama seperti ketika mereka membaca buku. Audiobook sendiri memiliki banyak manfaat dibandingkan dengan media lainya apalagi sebagai alternative media pembelajaran. Sebagai media pelajaran bagi kelompok tunanetra, dengan menggunakan Audiobook secara tidak langsung dapat menguasai teknologi informasi atau IPTEK. Dengan koleksi bacaan yang lebih variatif sehingga mampu mendorong siswa SLB-A Bina Insani untuk meningkatkan minat baca. Tujuan akhir penulis untuk SLB-A Bina Insani yaitu diharapkan dapat membantu dalam meningkatkan minat baca di SLB-A Bina Insani, dikarenakan jenjang Sekolah Dasar (SD) menjadi titik awal pengembangan kemampuan literasi di pendidikan formal. Di level ini, peserta didik dikenalkan dengan keterampilan literasi dasar yaitu keterampilan mendengarkan, berbicara, membaca dan menulis. Keterampilan ini akan berkembang dengan adanya pembiasaan dan bertujuan untuk menciptakaan SDM yang unggul dan mandiri di era revolusi industri 4.0.

Abstract

The use of audio books is considered more effective because the blind people community are usually more focused in terms of hearing. Audio media can maximize the senses that are still owned by the blind, the sense of hearing. Audiobooks are recorded text of books or oral writings in audio form that can be listened to by the audience with the same content / substance as when they are reading a book. Audiobook itself has many benefits compared to other media especially as an alternative learning media. As a medium of learning for blind people community, by using Audiobook can indirectly master information technology or science and technology. With a collection of reading that is more varied so that it can encourage SLB-A Bina Insani students to increase interest in reading. The final goal of the writer for SLB-A Bina Insani is that it is expected to help in increasing interest in reading at SLB-A Bina Insani, because the level of Elementary School (SD) is the starting point for developing literacy skills in formal education. At this level, students are introduced to basic literacy skills, namely listening, speaking, reading and writing skills. This skill will develop with the habituation and aim to create superior and independent human resources in the era of the industrial revolution 4.0.
Keywords: audiobook · blind people · interest in reading

Introduction

Dalam era globalisasi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi pengaruh untuk menjadikan sumber daya manusia sebagai aset masa depan bangsa yang perlu dikembangkan, hal ini sangat diperlukan dalam mendukung dan mensukseskan pembangunan nasional. Bangsa yang besar adalah bangsa membaca, belajar, bekerja, berkarya dan berpretasi. Membaca sangat penting dalam era globlasisasi ini, karena dengan membaca seseorang dapat memperoleh pengetahuan yang lebih mendalam tetang sesuatu, lalu dapat menganalisis aspek-aspek yang telah dibaca. Secara singkat membaca dapat memperoleh hasil, baik informasi , definisi, pengetahuan, keterampilan , motivasi maupun fakta yang disajikan dalam buku bacaan. Salah satu upaya dalam mensukseskan pembagunan nasional adalah melalui pengembangan minat dan baca dan di dukung dengan sarana seperti Perpustakaan Sekolah. Oleh karena itu, peserta didik yang normal maupun peserta didik yang mempunyai keterbatasan termasuk peserta didik tuna netra dapat menggunakan fasilitas perpustakaan. Hal ini sesuai dengan Undang-Undang No.43 Tahun 2007 tentang perpustakaan yang berbunyi bahwa “masyarakat yang memiliki cacat, kelainan fisik, emosional, mental, intelektual, dan sosial berhak memperoleh layanan perpustakaan yang disesuaikan dengan kemmapuan dan keterbatasaan masing-masing.” Berdasarkan penjelasan tersebut, bahwa peserta didik yang mempunyai keterbatasan memperoleh hak yang sama dalam memperoleh pendidikan fasilitas-fasilitas seperti peserta didik normal pada umumnya. Pengelolaan perpustakaan khusus kelompok disabilitas tunanetra harus menjadi perhatian ekstra oleh para stakeholder dan pemerhati dunia pendidikan, dikarenakan perpustakaan merupakan jantungnya sekolah dan sebagai media untuk menumbuhkan minat baca kelompok disabilitas tunanetra. Sekolah Luar Biasa (SLB-A) Bina Insani merupakan salah satu sekolah khusus penyandang tuna netra di kota Bandar Lampung. Studi awal yang dilakukan oleh penulis diketahui mayoritas minat baca anak didik di SLB-A Bina Insani masih tergolong rendah, salah satu faktor yang mempengaruhi adalah masih adanya perintah dari guru kepada siswa untuk datang ke perpustakaan, jika tidak digiring keperpustakaan sepertinya anak kurang berminat untuk datang. Salah satu program untuk meningkatkan minat baca di SLB-A Bina Insani yaitu dengan melakukan kegiatan Gerakan Literasi Sekolah membaca selama 15 menit pada jam awal masuk. Berdasarkan Undang-undang No. 4 Tahun 1997 tentang Penyandang Cacat, menyatakan bahwa “setiap lembaga pendidikan memberikan kesempatan dan perlakauan yang sama kepada penyandang cacat sebagai peserta didik pada satuan, jalur, jenis, dan jenjang pendidikan sesuai dengan jenis dan derajat kecacatanya.” Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa kaum disabilitas memiliki hak yang sama dalam pemanfaatan teknologi, informasi dan komunikasi. Potensi yang akan di dapat dalam peningkatan minat baca adalalah membantu para disabilitas agar menjadi pribadi yang berpengetahuan dan mandiri minimal untuk dirinya sendiri. Jika memiliki pengetahuan maka akan membantu dalam menciptakan sumber daya manusia yang unggul. Jenjang sekolah dasar (SD) menjadi titik awal pengembangan kemampuan literasi di pendidikan formal. Di level ini, peserta didik dikenalkan dengan keterampilan literasi dasar yaitu kemampuan keterampilan mendengarkan, berbicara, membaca dan menulis. Keterampilan ini akan berkembang memlaui kebiasaan. Hambatan dalam peningkatan minat baca dalam lingkungan disabilitas tunanetra adalah tidak semua SLB memiliki sarana prasana yang memadai untuk membantu meningkatkan minat baca para tunanetra. Sarana prasana untuk membantu dalam hal meningkatkan minat baca selain buku format Braille dapat menggunakan audiobooks. Pengguanaan audiobooks dinilai lebih efektif dikarenakan tunanetra biasanya lebih fokus dalam hal pendengaran. Sehingga media audio dapat memaksimalkan indera yang masih dimiliki tunanetra yaitu indera pendengaran. Dengan demikian penulis tertarik dalam hal melakukan riset tentang strategi peningkatan minat baca kelompok tunanetra melalui audiobook dan efektifitas media Audiobook dalam meningkatkan minat baca siswa/i tunatera Sekolah Luar Biasa (SLB-A) Bina Insani Bandar Lampung. 2. Landasan Teori Urgensi Minat Baca khusus tunanetra Tunanetra adalah sebutan bagi seseorang yang memiliki hambatan dalam mengguanakan indera penglihatanya atau tidak berfungsi indera pengelihatanya dari tingkatan ringan sampai benar-benar buta. Menurut Wardani et al., (2009), Berdasarkan data yang diperoleh penyandang disabilitas sebesar 2,45% dari jumlah penduduk Indonesia dengan presentase terbesar adalah disabilitas mengenai kesulitan melihat atau tunanetra. Namun banyaknya penyandang tunanetra tidak diikuti dengan akses pendidikan yang mudah.Sesuai dengan Undang-undang No. 4 Tahun 1997 tentang Penyandang Cacat, menyatakan bahwa : “Setiap lembaga pendidikan memberikan kesempatan dan perlkauan yang sama kepada penyandang cacat sebagai peserta didik pada satuan, jalur, jenis, dan jenjang pendidikan sesuai dengan jenis dan derajat kecacatanya.” Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa kelompok disabilitas memiliki hak yang sama dalam pemanfaatan teknologi,informasi dan komunikasi. Jenjang sekolah dasar (SD) menjadi titik awal pengembangan kemampuan literasi di pendidikan formal. Di level ini, peserta didik dikenalkan dengan keterampilan literasi dasar yaitu kemampuan keterampilan mendengarkan, berbicara, membaca dan menulis. Keterampilan ini akan berkembang melalui pembiasaan. Hambatan penglihatan berdampak pada kesulitan anak untuk memahami sesuatu yang bisa ditangkap oleh mata, tetapi dilakukan melalui bacaan. Bagi tunanetra membaca dapat dilakukan dengan media Braille maupun audio. Menurut kemendikbud (2015) agar pelaksanaan literasi bagi peserta didik dengan hambatan pengelihataan dapat berjalan dengan baik ada dua hal yang harus diperhatikan yaitu ketersediaan sarana prasarana serta aktivitas pembelajaraan. Terdapat Penelitian sebelumnya oleh Camalia, Fayeza (2016) bertujuan mengembangkan media audiobook dilengkapi dengan alat peraga dalam pembelajaran IPA Fisika materi getaran dan gelombang di SLB-A (Tunanetra) yang teruji kelayakan dan keefektifannya. Jadi menurut penulis memang media Audiobook dirasa tepat sebagai strategi peningkatan minat baca kelompok tunanetra. Karakteristik Tunanetra Dilihat dari kemampuan matanya, yang termasuk tunanetra adalah : a) Kelompok yang mempunyai acuity 20/70 feet (6/21 meter) artinya ia bisa melihat dari jarak 20 feet sedangkan anak normal dari jarak 70 feet ini tergolomg kurang lihat (low vision) . b) Kelompok yang hanya dapat membaca huruf E paling besar pada kartu snellen dari jarak 20 feet . c) Tuna netra sangat sedikit kemampuan melihatya sehingga ia hanya mengenal bentuk dan objek . d) Kelompok tuna netra yang hanya mempunyai Ligt projection (dapat melihat terang serta gelap dan dapat menunjuk sumber cahaya). e) Kelompok yang hanya mempunyai presepsi cahaya (light Perception) yaitu hanya bisa melihat cahaya terang dan gelap. f) Kelompok yang tidak mempunayi presepsi cahaya ( no light perception) yang disebut dengan buta total (totally blind). (Fayeza, 2016) Tunanetra adalah sebutan bagi seseorang yang memiliki hambatan dalam mengguanakan indera penglihatanya atau tidak berfungsi indera pengelihatanya dari tingkatan ringan sampai benar-benar buta. Menurut Wardani et al dalam Fayeza (2016), Berdasarkan data yang diperoleh penyandang disabilitas sebesar 2,45% dari jumlah penduduk Indonesia dengan presentase terbesar adalah disabilitas mengenai kesulitan melihat atau tunanetra. Namun banyaknya penyandang tunanetra tidak diikuti dengan akses pendidikan yang mudah. Indera pengelihatan menjadi tidak berfungsi dikarenakan dapat dsebabkan oleh dua faktor yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal adalah faktor dari dalam diri individu antara lain faktor keturunan. Lalu faktor eksternal adalah dari luar yaitu, penyakit-penyakit rubella, siplis,glaucoma.kekurangan vitaminA, terkena zat kimia, serta kecelakaan. Konsep Audiobook Audiobook merupakan rekaman teks buku atau tulisan lisan dalam bentuk audio yang dapat didengarkan oleh audien dengan isi sama seperti ketika mereka membaca buku (Anwas : 2014). Menurut Arsyad dalam Anwas (2014) media audio merupakan sumber bahan ajar yang murah, mudah dijangkau oleh warga , dan mudah digandakan oleh siswa merekam materi pelajaran serta urutan penyajianya jadi tetap, pasti dan dapat berfungsi sebagai media instuksional untuk belajar sendiri. Narator sebagai orang yang akan menyampaikan akan membacakan kata demi kata, memaknai gambar dan ilustrasi yang terdapat dalam isi buku cetak. Audiobook dapat diakses dengan mudah, dapat melalui Gadget, dan komputer/laptop. Sejarah lahirnya Audiobook memang ditunjukan untuk membantu kaum disabilitas terutama yang tuna netra, begitu pula kelompok masyarakat yang tidak bisa membaca atau tunaaksara. Menurut Rubery sebagaimana dikutip Anwas (2014), audiobook secara umum digolongkan menjadi dua jenis yaitu unabridge dan abridge. Unabridge adalah jenis audiobook yang buku cetaknya dibacakan secara lengkap, sedangkan abridge adalah jenis audiobook dalam pembacaanya buku cetaknya dibatasi. Pengurangan ini tidak mengurangi tujuan atau makna dari isi Audiobook itu sendiri, akan tetapi agar isinya lebih mudah di pahami oleh para kelompok tuna netra. Pembuataan audiobook perlu memperhatikan syarat berikut yaitu secara materi benar dan dapat dipertanggungjawabkan dan dikemas secara menarik dengan diberi alunan musik atau sound effect . Menurut Arsyad (2008) media audio memiliki kekuataan dalam suara music atau sound effect. Tahapan pembuataan Audiobook sendiri dimulai dengan analisis kebutuhan sasaran, pembuataan rancangan , produksi/rekamanan dan editing , review revisi, uji coba, dan pemanfaatan.

Method

Riset ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data sebagai berikut : 1. Observasi Cara ini dilakukan dengan mengadakan pengamatan dengan terjun langsung ke lokasi, yaitu SDLB Bina Insani , dengan cara ini dapat memberikan data yang akurat dan dapat di pertangung jawabkan kebenaranya. 2. Wawancara Narasumber pada penelitian ini adalah kepala sekolah, guru dan pustakawan SDLB Bina Insani. 3. Studi Pustaka Teknik Pengumpulan Data adalah dengan menggali informasi dari buku-buku, jurnal dan media internet. 4. Teknik Triangulasi, yaitu teknik pengumpulan data yang bersifat menggabungkan dari berbagai teknik pengumpulan data yang telah ada atau membandingkan dan mengecek balik derajat keabsahan suatu data/informasi yang telah didapat dengan membandingkan data dari hasil teknik pengumpulan data yang lain. Sehingga, dengan teknik ini dapat diperoleh data yang akurat dan absah. Dengan menggunakan teknik pengumpulan data triangulasi, maka sebenarnya peneliti mengumpulkan data sekaligus menguji kredibilitas data, yaitu mengecek kredibilitas data dengan berbagai teknik atau cara dan berbagai sumber data (Sugiyono, 2006:273). Setelah seluruh data berhasil dihimpun, langkah selanjutnya dilakukan pengolahan dan analisis data. Dalam penelitian ini menggunakan teknik analisis data deskriptif kualitatif dengan sistem reduksi data.

Result & Discussion

Strategi Peningkatan Minat Baca melalui Audiobook Dalam meningkatkan minat baca siswa tunanetra, tentunya tidak mudah. Perlunya cara ataupun strategi dalam meningkatkan minat baca siswa tunanetra. Adapun strategi yang dilakukan perpustakaan untuk meningkatkan minat baca siswa tunanetra, adalah sebagai berikut : a) Menyediakan sarana prasarana yang mendukung b) Bekerjasama dengan perpustakaan daerah setempat c) Memberikan koleksi yang baru dan menarik d) Bekerjasama dengan para stakeholder seperti pustakawan, guru dan investor. Sarana prasana untuk menunjang peningkatan minat dan baca di SDLB Bina Insani, sudah disediakan buku Braille, pihak sekolah pun mempergunakan dana bos untuk membeli beberapa koleksi buku dan pihak sekolah telah mempersiapkan CD untuk membantu peningkatan minat baca. Tetapi siswa yang berminat untuk membaca hanya beberapa siswa saja. Seiring perkembangan teknologi dan informasi pihak sekolah pun sudah seharusnya memanfaatkan perkembangan IPTEK yang ada, solusi yang ditawarkan dalam strategi peningkatan minat baca siswa tunanetra SLB Bina Insani yaitu menggunakan Audiobook yang bisa diakses melalui gadget hp/laptop/komputer. Pembuataan dan penggunaan audiobook perlu memperhatikan syarat berikut yaitu secara materi benar dan dapat dipertanggungjawabkan dan dikemas secara menarik dengan diberi alunan musik atau sound effect. Menurut Arsyad (2008) media audio memiliki kekuataan dalam suara musik atau sound effect. Tahapan pembuataan Audiobook sendiri dimulai dengan analisis kebutuhan sasaran, pembuataan rancangan , produksi/rekamanan dan editing , review revisi, uji coba, dan pemanfaatan. Efektifitas penggunaan media Audiobook Audiobook merupakan rekaman teks buku atau tulisan lisan dalam bentuk audio yang dapat didengarkan oleh audien dengan isi sama seperti ketika mereka membaca buku (Anwas : 2014). Audiobook sendiri memiliki banyak manfaat dibandingkan dengan media lainya apalagi sebagai alternative media pembelajaran . manfaat media audiobook dalam pembelajaran antara lain: 1. Audiobook merupakan media yang fleksibel untuk digunakan setiap individu dimanapun dan kapanpun tanpa harus repot-repot membaca buku. 2. Audiobook subtansinya sama persis dengan buku teks maupun buku fiksi. 3. Audiobook media yang dapat didistribusikan secara mudah baik melalui teknologi broadcast, teknologi online (internet) , serta teknologi offline (CD, Hardisk, Flashdisk) dan lain-lain. 4. Audiobook media yang mudah diakses atau digunakan dapat melalui gadget maupun laptop sehingga dapat menyesuaikan tempat jika ingin digunakan. 5. Audiobook membantu penyandang cacat terutama kaum tunanetra. 6. Audiobook produksinya lebih efesien dan praktis hanya menggunakan alat perekam suara. 7. Audiobook dapat menyelamatkan buku-buku kuno yang versi cetaknya sudah rusak. Sehingga dapat disimpulkan jika audiobook pengunaanya lebih efektif dan efesien dalam penyampaian pengetahuan maka dari itu dapat membatu dalam peningkatan minat baca. Sebagai media pelajaran bagi kelompok tunanetra, dengan menggunakan Audiobook secara tidak langsung dapat menguasai teknologi informasi atau IPTEK. Dengan koleksi bacaan yang lebih variatif sehingga mampu mendorong siswa SLB Bina Insani untuk meningkatkan minat baca. Sehingga strategi ini diharapkan mampu menarik siswa untuk mengujungi perpustakaan dan memanfatkan audiobook dalam meningkatkan minatbaca. Harus diterapkanya kegiataan wajib di SLB Bina Insani untuk siswa nya mengunjungi perpustakaan setiap 1 minggu sekali dalam waktu 2 jam untuk membaca buku melalui audiobook, memutar audiobook yang disukai siswa, untuk memanfaatkan salah satu fungsi perpustakaan sebagai tempat rekreasi/refreshing. Pihak sekolah juga diharapkan dapat mengalokasisan dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah) agar dipergunakan dalam pengadaan koleksi perpustakaan yaitu audiobook baik berupa CD maupun penambahan gadget/hp/ipad/laptop khusus. Jadi fasilitas audiobook yang disediakan pihak sekolah dapat disesuaikan dengan kebutuhan atau jumlah siswa yang ada di SLB-A Bina Insani Bandarlampung. Selanjutnya konsep strategi peningkatan minat bca di SLB-A Tunanetra Bandarlampung dapat dilihat pada bagan visualisasi 1 dibawah ini: Bagan 1. Gagasan Strategi Peningkatan Minat Baca Tindakan  Bekerja sama dengan pihak sekolah. Baik dengan guru, pustakawan dan perpustakaan daerah setempat.  Membuat program khusus yaitu : membuat kegiataan, kunjungan ke perpustakaan minimal 2-3x seminggu khusus untuk membaca buku yang siswa tunanetra minati, agar mereka dapat bebas berekspresi. Sehingga pada akhirnya siswa/i dapat menjadi SDM yang unggul dan mandiri Situasi Saat ini Batasan Lingkungan :  Kelompok Tunanetra siswa SDLB Bina Insani Bandar Lampung Potensi Lingkungan :  Fasilitas Peprustakaan pada SDLB Bina Insani Bandar lampung yang cukup memadai sehingga harus dimanfaatkan sebagai media pembelajaraan Situasi : Masih tergolong rendahnya minat baca siswa SDLB Bina Insani, sehingga dibutuhkanya strategi untuk menunjang peningkatan minat baca, salah satu cara untuk meningkatkan minat baca dengan audiobook. SAsaran  Specific Meningkatkan kualitas SDM, melalui meningkatkan minat baca , dengan dibantu media Audiobook.  Measurable Strategi ini sangat mungkin dilakukan karena merupakan media pembelajaran yang memanfatkan teknologi / IPTEK.  Acceptable Strategi ini mendukung salah satu program pemerintah yaitu GLS (Gerakan Literasi Sekolah)  Realistic Pengunaan media Audiobook mudah diakses, dapat diakses melalui gadget/laptop ataupun CD.  Time-bound Dalam penerapan penggunaan audiobook selama 1 bulan, diharapkan sudah ada perubahan yang signifikan . HAmbatan  Faktor Internal Dikarenakan siswa Tunanetra memiliki hambatan dalam hal yaitu fisik, maka dibutuhkan pendamping dalam mengakses media Audiobook  Sarana Prasarana Dikarenakan perpustakaan SLB Tunanetra masih tergabung dari jenjang SD-SMA sehingga dibutuhkan pemisahan ruangan, koleksi sesuai dengan kebutuhan/karakteristik pemustaka. BAntuan Dukungan dalam hal perkembangan teknologi, pihak stake holder yang bersedia menjadi investor/suplai koleksi audiobook agar lebih variatif Tindakan  Bekerja sama dengan pihak sekolah. Baik dengan guru, pustakawan dan perpustakaan daerah setempat.  Membuat program khusus yaitu : membuat kegiataan, kunjungan ke perpustakaan minimal 2-3x seminggu khusus untuk membaca buku yang siswa tunanetra minati, agar mereka dapat bebas berekspresi. Sehingga pada akhirnya siswa/i dapat menjadi SDM yang unggul dan mandiri

Conclusion

Audiobook merupakan rekaman teks buku atau tulisan lisan dalam bentuk audio yang dapat didengarkan oleh audien dengan isi sama seperti ketika mereka membaca buku. Audiobook sendiri memiliki banyak manfaat dibandingkan dengan media lainya apalagi sebagai alternative media pembelajaran. Sebagai media pelajaran bagi kelompok tunanetra, dengan menggunakan audiobook secara tidak langsung dapat menguasai teknologi informasi atau IPTEK. Dengan koleksi bacaan yang lebih variatif sehingga mampu mendorong siswa SLB-A Bina Insani untuk meningkatkan minat baca. Tujuan akhir penulis untuk SLB-A Bina Insani adalah diharapkan dapat membantu dalam meningkatkan minat baca di SLB-A Bina Insani, dikarenakan jenjang Sekolah Dasar (SD) menjadi titik awal pengembangan kemampuan literasi di pendidikan formal. Di level ini, peserta didik dikenalkan dengan keterampilan literasi dasar yaitu keterampilan mendengarkan, berbicara, membaca dan menulis. Keterampilan ini akan berkembang dengan adanya pembiasaan dan bertujuan untuk menciptakaan SDM yang unggul di era revolusi industri 4.0 sehingga kelompok tunanetra ini diharapkan menjadi pribadi yang mandiri.