Kembali
16
1
2020 Anuva: Jurnal Kajian Budaya, Perpustakaan, dan Informasi Vol 4 · 3 ISSN 2598-3040

Perubahan dan Problematika Perpustakaan Menghadapi Normal Baru

Universitas Diponegoro

Abstrak

Penelitian ini membahas tentang perubahan dan problematika penyelenggaraan perpustakaan menghadapi Normal Baru. Situasi dan kondisi pandemi Covid-19 saat ini, memaksa perpustakaan untuk bergerak dinamis. Kondisi perpustakan yang masih bisa bertahan hingga saat ini, tidak bisa dipungkiri karena perpustakaan telah terbiasa melibatkan Teknologi Informasi, sehingga di prediksi perpustakaan masih ada harapan. Normal baru adalah sebuah peristiwa, atau status, atau era yang sebelumnya asing, atau situasi atipikal yang telah menjadi standar, atau kebiasaan baru. Normal baru membuat perpustakaan harus menata ulang, dimana interaksi tatap muka dan interaksi layanan mungkin tidak lagi disukai, dimana koleksi dalam format fisik mungkin menjadi susah untuk diakses berganti menjadi koleksi digital, dan dimana belajar kelompok akan tinggalkan menjadi pembelajaran berbasis daring, menjaga jarak sosial di perpustakaan dengan aman. perpustakaan dapat memanfaatkan krisis ini untuk membuat koleksi dan layanan baru dan inovasi untuk meningkatkan layanan perpustakaan berdasarkan analisis dan tren yang sedang terjadi. Karena perpustakaan telah belajar dan tumbuh selama masa karantina dan perpustakaan siap utuk menyongsong normal baru.

Abstract

This research discusses the changes and problems in organizing the library in facing the New Normal. The current situation and conditions of the Covid-19 pandemic, forcing libraries to move dynamically. The condition of the library, which can still survive today, cannot be denied because libraries are used to involving Information Technology, so the predictions of libraries are still hopeful. The new normal is an event, or status, or era that was previously foreign, or an atypical situation that has become a new standard, or habit. The new normal makes libraries have to reorganize, where face-to-face interactions and service interactions may no longer be preferred, where collections in physical formats may become difficult to access turn into digital collections, and where group learning will leave to online-based learning, maintaining social distancing in library safely. libraries can take advantage of this crisis to create new collections and services and innovations to improve library services based on current analysis and trends. Because libraries have learned and grown during the quarantine period and libraries are ready to welcome the new normal.
Keywords: change · problematics · libraries · new normal

Introduction

Sejak merebaknya wabah COVID-19 pada awal Maret 2020. Masyarakat Dunia merasakan perubahan yang sangat radikal, dan banyak yang belum siap menghadapi perubahan ini. Masyarakat tidak pernah membayangkan akan adanya tatanan baru ini, yang memaksa kita untuk melakukan kebiasaan yang sangat berbeda dari kebiasaan yang sebelumnya. Covid-19 memaksa kita harus bekerja dari rumah atau mengelola semua aktifitas pekerjaan kita dari jarak jauh. Pergeseran radikal yang sangat besar ini menunjukkan bahwa masa depan akan berbeda, dan kita perlu mempersiapkan diri menghadapi era baru. Menurut Levenson (2020) era baru ini menuntut kita untuk memiliki kompetensi, ketangkasan, keingintahuan, mitigasi risiko, belajar dengan mengeksplorasi, belajar dengan melakukan, tetapi dengan fokus, akan menjadi norma untuk kelangsungan hidup dan daya saing. Pandemi telah menyentuh isu-isu utama kehidupan masyarakat, sektor utama kehidupan masyarakat yang paling terkena dampak adalah industri fisik dan padat karya. Pandemi memaksa masyarakat untuk mendefinisi ulang tentang apa yang di yakini dan bereaksi terhadap krisis kehidupan yang akan datang, bagaimana cara berpikir baru, bagaimana masyarakat memvisualisasikan peran baru terhadap kebutuhan generasi berikutnya. Oleh karena itu, diperlukan cara baru dalam membangun dan mengelola kompetensi untuk menghadapi era yang penuh tantangan ini. Termasuk dalam sektor pendidikan dan pendidikan berkelanjutan di perpustakaan. Situasi dan kondisi pandemi saat ini, memaksa perpustakaan untuk bergerak dinamis. Kondisi perpustakan yang masih bisa bertahan hingga saat ini, tidak bisa dipungkiri karena perpustakaan telah terbiasa melibatkan Teknologi Informasi, sehingga di prediksi perpustakaan masih ada harapan. Fatmawati (2018) mengemukakan bahwa perpustakaan selalu mengalami pergeseran (shifting) dengan menyesuaikan tren perkembangan global, tuntutan teknologi, dan kebutuhan pengguna yang dilayani. Tentu, kondisi itu akan menjadi tantangan sekaligus peluang bagi pustawakawan untuk berperan lebih signifikan dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya secara profesional. Dengan sedikit waktu perencanaan, perpustakaaan mengambil keputusan untuk menutup fasilitas perpustakaan untuk melindungi keselamatan sataf perpustakaan dengan bekerja dari rumah dan pengguna perpustakaaan pindah ke layanan online saja. Tantangan pustakawan masa kini sangat kompleks. Pustakawan era baru dapat menjadi kontributor utama pengembangan, pemasaran dan penggunaan produk informasi (Laili, 2012). Bersyukur, bertahun-tahun perpustakaan telah terbiasa mengkurasi konten fisik menjadi digital, memberikan banyak peluang untuk berinteraksi dan memberikan layanan kepada penelitian dan penggunanya. Kebiasaan perpustakaan terhadap pengembangan antarmuka pencarian (opac) yang kuat dan tampilan web telah membantu perpustakaan dengan baik selama transisi masa pandemi ini. Perpustakaan dapat melakukan pendekatan dengan cara membuka diri pada kemungkinan perubahan kemudian berupaya menemukan keunggulan lain yang bisa ditonjolkan (Buheji, M.2020). Penelitian ini membahas tentang pergeseran paradigma Perubahan Dan Problematika Perpustakaan Menghadapi Normal Baru. Menurut Kamus Oxford (2020) mendefinisikan, bahwa Normal Baru sebagai sebuah peristiwa, atau status, atau era yang sebelumnya asing, atau situasi atipikal yang telah menjadi standar, atau biasa, atau diharapkan. Kompleksitas perubahan yang terjadi di dunia perpustakaan sebagai dampak Pandemi mengharuskan peneliti membatasi pembahasan pada perubahan dan problematika penyelenggaraan perpustakaan menghadapi Normal Baru. Dimana interaksi tatap muka dan interaksi layanan mungkin tidak lagi disukai, dimana koleksi dalam format fisik mungkin menjadi susah untuk diakses berganti menjadi koleksi digital, dan dimana belajar kelompok akan tinggalkan menjadi pembelajaran berbasis daring, demi menjaga jarak sosial di perpustakaan yang hanya dapat menampung setengah dari pengguna perpustakaan yang dulu dengan aman. Juga perpustakaan dapat memanfaatkan krisis ini untuk membuat koleksi dan layanan baru dan inovatif untuk meningkatkan layanan perpustakaan berdasarkan analisis dan tren yang sedang terjadi, tentang bagaimana lanskap perpustakaan dapat berubah dalam hal koleksi, layanan, ruang, dan pengoperasian, dengan harapan dapat menginspirasi pemikiran baru dan dialog berkelanjutan.

Method

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi literatur, Peneliti mengumpulkan data-data penelitian memalui membaca dan mencatat serta mengolah bahan pustaka. Dengan menekankan pada kekuatan analisis sumber dan data penelitian berupa teori dan konsep yang mengarah kepada pembahasan. Pada penelitian ini, setelah melakukan review, peneliti kemudian merangkum, menganalisis, melakukan telaah kritis dan mendalam dari hasil penilitian sebelumya (Wahono, 2016). Tujuan penelitian ini adalah untuk memecahkan masalah aktual yang sedang dihadapi sekarang ini. Kompleksitas perubahan yang terjadi di dunia perpustakaan sebagai dampak Pandemi mengharuskan peneliti membatasi pembahasan pada perubahan dan problematika terhadap penyelenggaraan perpustakaan dan pustakawan menghadapi Normal Baru. Pendekatan khusus yang di lakukan pada penelitian ini menggunakan studi literatur terhadap konsep keilmuan bidang perpustakaan dan informasi (Pendit, 2003). Dimasa yang akan datang, kemungkinan besar kegiatan berinteraksi, tatap muka dan interaksi layanan mungkin tidak lagi disukai, dimana koleksi dalam format fisik mungkin menjadi susah untuk diakses berganti menjadi koleksi digital, dan dimana belajar kelompok akan tinggalkan menjadi pembelajaran berbasis daring, demi menjaga jarak sosial di perpustakaan yang hanya dapat menampung setengah dari pengguna perpustakaan yang dulu dengan aman. Juga perpustakaan dapat memanfaatkan krisis ini untuk membuat koleksi dan layanan baru dan inovatif untuk meningkatkan layanan perpustakaan.

Discussion

Normal baru datang untuk memastikan komunitas dan organisasi perpustakaan merespon dengan cepat dan beradaptasi terhadap perubahan. Hal ini menujukan bahwa dunia akan lebih siap untuk kebangkitannya kembali dengan posisi yang lebih kuat setelah setiap guncangan, atau krisis atau tantangan global. Karena pandemi ini mungkin memiliki serangkaian wabah, diharapkan ada fase berbeda di mana kita perlu bereaksi, kemudian menyadari dan merefleksikan esensi dari tantangan hidup besar yang tiba-tiba. Karena dunia akan berusaha untuk melanjutkan aktivitasnya menuju produktivitas yang lebih baik dan pertumbuhan yang progresif, ia perlu melewati ketidakjelasan dan perlu membentuk kembali dirinya sendiri agar sesuai dengan prasyarat normal baru berikutnya (Helyer dan Lee, 2014). Menurut Meister (2020) mencatat bahwa dalam normal baru, kita akan menyaksikan perubahan dalam kecepatan dan kualitas pelatihan untuk pekerja jarak jauh. Untuk memenuhi tuntutan Normal Baru, perpustakaan diharapkan tanggap terhadap reliabilitas. Artinya, pengelola perpustakaan perlu memastikan bahwa semua aktivitas yang dilakukan aman dan tidak menimbulkan masalah lebih lanjut, sehingga memastikan bahwa semua skenario yang berbeda telah dipertimbangkan. Perpustakaan Perlu untuk meningkatkan layanan perpustakaan berdasarkan analisis dan tren yang sedang terjadi, tentang bagaimana lanskap perpustakaan dapat berubah dalam hal koleksi, layanan, ruang, dan pengoperasian, dengan harapan dapat menginspirasi pemikiran baru dan dialog berkelanjutan. Peneliti menfokuskan pada pembahasan tentang pergeseran paradigma Perubahan Dan Problematika Perpustakaan Menghadapi Normal Baru. 3.1. Perubahan Dan Problematika Dalam Pengadaan Koleksi Perpustakaan Dimasa pandemi ini, telah terjadi perubahan yang sangat radikal, salah satunya adalah betapa tidak relevannya koleksi dalam bentuk cetak. Bagaiman tidak, potensi penyebaran virus akan rentan terjadi, salah satunya adalah lewat buku, kita bisa membayangkan suatu saat perpustakaan menghentikan akses terhadap koleksi tercetak karena kekhawatiran penyebaran virus. Perubahan dan kendala dalam pengadaan koleksi perpustakaan dapat di atasi dengan melakukan Digitalisasi massal terhadap koleksi dan membuka akses seluas luasnya koleksi dan arsip perpustakaan. Perpustakaan wajib bersyukur, karena selama bertahun-tahun, pengampu kebijkan perpustakaan, pustakawan dan penelitian telah terlibat saling bahu-membahu dalam upaya digitalisasi koleksi tercetak, meskipun masalah hak cipta perlu diselesaikan, dimasa pandemi seperti sekarang ini, perpustakaan hendaknya terus mengupayakan digitalisasi massal dengan memanfaatkan perjanjian penyimpanan kolaboratif yang saat ini didedikasikan untuk pelestarian koleksi tercetak, untuk membuat koleksi cetak perpustakaan lebih mudah diakses. Bagi perpustakaan universitas, hendaknya perlu mempersiapkan Digitalisasi koleksi khusus seperti skripsi, tesis dan disertasi, juga karya penelitian civitas akademika lainnya. Ironisnya, koleksi khusus dan arsip penelitian ini sering kali hanya di jajarkan di rak perpustakaaan dan hanya tersedia untuk akses langsung. Dimasa yang akan datang para pustakawan telah ditantang untuk menyediakan materi dan layanan penelitian secara online selama penutupan COVID-19. Perhatikan peningkatan upaya digitalisasi arsip di tahun-tahun mendatang, dengan mengubah konten digital dari metode pengawetan atau pratinjau, menjadi titik akses utama untuk koleksi berbasis digital. Selama beberapa tahun ke depan, perpustakaan akan melihat dan menyaksikan penggunaan sumber daya berbasis elektronik dan digital akan semakin diminati dan kian meroket. perpustakaan perlu menghabiskan lebih banyak waktu dan uang untuk mengembangkan koleksi berbasis elektronik dan digital ini. Selain anggaran, problematika dalam perubahan tersebut juga datang dari hak cipta. Meskipun hanya melindungi pembuatnya, hak cipta selalu menjadi batasan yang tidak masuk dalam rahan perpustakaan. Untuk mensiasati Hak Cipta, perpustakaan dapat menggunakan koleksi dengan istilah “penggunaan wajar” penggunaan wajar mengatur penggunaan materi berhak cipta untuk pendidikan. Pustakawan harus memberikan lebih banyak pendidikan hak cipta, serta mendorong penulis untuk menggunakan lisensi creative commons dan melobi untuk undang-undang hak cipta yang lebih fleksibel. 3.2. Perubahan Dan Problematika Dalam Layanan Perpustakaan Dari segi pelayanan perpustakaaan, keadaan Normal baru mengharuskan perpustakaan mengintegrasikan sistem pelayanan secara langsung yang disediakan (self service). Kedepan, mungkin tidak akan kita jumpai penggunaan peraalatan elektronik secara bergaintian (opac) di perpustakaaan, layanan perpustakaan akan diganti dengan layanan mandiri lewat smartpone, kedepannya perpustakaan akan meminimalisir sentuhan: melakukan transasksi koleksi secara mandiri, pengambilan dengan memanfaatkan Drob Book, koleksi yang dilengkapi dengan barkode dan layanan antar kirim koleksi. Pada akhirnya perpustakaan akan membatasi pengguna perpustakaan untuk unjungi perpustakan, tanpa mengurangi layanan perpustakaan kepada mereka. Perubahan selanjutnya adalah dengan menghidupkan kembaili program Liaison Librarian di perpustakaan. Program Liaison Librarian suatu program yang sangat menarik, dimana pustakawan harus secara aktif memaksimalkan dan menjalin komunikasi dengan semua pengguna di perpustakaan, pustakawan melakukan diskusi dan harus menyediakan waktu untuk berkonsultasi mengenai segala kebutuhan pemustaka mengenai kebutuhan informasi dan sumber-sumber informasi lainya (husna,2018). perpustakaan mengadakan kursus online sangat penting untuk memastikan siswa memperoleh keterampilan literasi informasi. Pustakawan dapat membantu anggota perpustakaan untuk mengembangkan konten kursus, mengajar bersama, memberikan konsultasi penelitian, mengadakan jam kerja virtual online, dan membantu dalam mengidentifikasi dan menautkan konten kursus. Hambatan dalam penelitian sebab di tutupnya fasilitas laboratorium dan pembatasan dalam penggunaannya bagi penelitian fakultas. Dapat di manfaatkan oleh perpustakaan dengan mengembangkan lingkungan online bagi anggota fakultas untuk berkolaborasi lewat daring. Banyak perpustakaan yang sudah memiliki fasilitas laboratorium virtual, dapat dikembangkan untuk membantu para peneliti yang tidak dapat melakukan eksperimen fisik. Peneliti juga membutuhkan tempat untuk menyimpan data dan mendistribusikan penelitiannya. Perpustakaan dapat menggunakan alat seperti ORCID untuk menghubungkan gateway pilihan dengan repositori kelembagaan untuk mengembangkan platform penelitian yang komprehensif bagi para peneliti. Hambatan selanjutnya adalah Perpustakaan masih enggan merangkul teknologi pengawasan kecerdasan buatan berbasis teknologi AI yang dapat dimanfaatkan untuk memberikan hasil pencarian yang lebih disesuaikan, memantau jarak sosial, dan mengintegrasikan perpustakaan ke asisten pribadi. Perpustakaan harus memikirkan kembali situs web karena website mewakili jalur utama interaksi bagi pelanggan. Mengikuti prinsip kegunaan, bangun situs web perpustakaan menjadi lebih ramah pengguna, responsif, dan dapat disesuaikan. 3.3. Perubahan Dan Problematika Dalam Aksesibel Ruang Perpustakaan Perubahan terhadap Desain perpustakaan yang cenderung terbuka dan memiliki ruang belajar kolaboratif akan berubah pasca-COVID-19. Merenggangkan posisi meja dan kursi diperlukan untuk mendorong jarak sosial. Menantisipasi hal tersebut, perpustakaan dapat memanfaatkan teknologi untuk membantu pemustaka menghindari kelompok maupun individu dengan melakukan edukasi terhadap siswa untuk memanfaatkan suber daya pendidikan terbuka, buku teks gratis atau berbiaya rendah, dan materi pembelajaran yang memberikan personalisasi guru sekaligus menurunkan biaya pendidikan siswa. OER akan diminati karena fakultas mencari alternatif selain buku teks cetak besar. Perpustakaan juga dapat memperkenalkan dan mengelola sistem pekerjaan rumah gratis dan laboratorium virtual untuk meningkatkan keterlibatan siswa secara online. Perpustakaan dapat membantu fakultas dalam pengembangan kursus online. Pembuatan video tutorial dan instruksional berbasis OER dan sejenisnya. Problematika yang lebih besar ada dalam akses ruang perpsutakaan adalah dengan hilangnya teknologi publik. Komputer publik mungkin menjadi bagian dari masa lalu di dunia pasca COVID-19. Suatu saat Laboratorium komputer mulai menghilang dari kampus, dan Perpustakaan akan mendorong siswa untuk membawa perangkat mereka sendiri dan menyediakan lingkungan kerja siswa yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan individu. Rutinitas pembersihan baru perlu dikembangkan untuk memastikan sirkulasi teknologi yang aman jika terus berlanjut. 3.4. Perubahan Dan Problematika Dalam Jam Operasional Perpustakaan Perubahan dalam segi Keamanan pustakawan menjadi prioritas utama, dengan membekali pustakawan dengan alat pelindung bagi karyawan di garis depan agar aman dan nyaman berinteraksi dengan pemustaka. Perlu diadakan roling dan pembagian waktu bekerja dalam shift, saat awal pandemi covid-19, Perpindahan ke kantor dari rumah (work from home) terbukti memberikan pengalam baru, dan menantang bagi pustakawan, karena pustakawan tetap diminta untuk memberikan pelayanan, dan mempelajari teknologi kolaboratif baru dengan cepat dengan menggunakan Zoom dan WebEx, Microsoft Teams, Box, dan Google Dokumen. Sebagian besar menerima pengalaman belajar yang imersif ini. Perpustakaan harus memanfaatkan momentum ini, memberikan pelatihan teknologi tambahan dan mengidentifikasi keterampilan teknologi yang penting bagi karyawan dalam keadaan normal baru ini. Dengan pembatasan perjalanan, pengembangan profesional online juga menjadi penting. Hal yang menjadi problematika terhadap perubahan tersebut adalah berkurangnya anggaran. Perpustakaan perlu mengembangkan strategi baru untuk menegosiasikan kesepakatan yang lebih baik dengan penerbit dan melobi untuk akses yang lebih besar ke media streaming dan ebooks, yang lebih banyak dan lebih murah dapat diakses oleh individu daripada perpustakaan. Model akses baru juga perlu dikembangkan. Implikasi keuangan jangka panjang COVID-19, serta peningkatan inflasi selama bertahun-tahun oleh penerbit, telah menyebabkan beberapa lembaga memikirkan kembali lisensi multitahun untuk paket jurnal besar yang di langgan di perpustakaan.

Conclusion

Pandemi memaksa masyarakat untuk mendefinisi ulang tentang apa yang di yakini dan bereaksi terhadap krisis kehidupan yang akan datang, bagaimana cara berpikir baru, bagaimana masyarakat memvisualisasikan peran baru terhadap kebutuhan generasi berikutnya. Oleh karena itu, diperlukan cara baru dalam membangun dan mengelola kompetensi untuk menghadapi Normal Baru ini. Termasuk dalam sektor pendidikan dan pendidikan berkelanjutan di perpustakaan. Dimasa yang akan datang, kemungkinan besar kegiatan berinteraksi, tatap muka dan interaksi layanan mungkin tidak lagi disukai, dimana koleksi dalam format fisik mungkin menjadi susah untuk diakses berganti menjadi koleksi digital, dan dimana belajar kelompok akan tinggalkan menjadi pembelajaran berbasis daring, demi menjaga jarak sosial di perpustakaan yang hanya dapat menampung setengah dari pengguna perpustakaan yang dulu dengan aman. Juga perpustakaan dapat memanfaatkan krisis ini untuk membuat koleksi dan layanan baru dan inovatif untuk meningkatkan layanan perpustakaan. Perpindahan ke kantor dari rumah (work from home) terbukti memberikan pengalam baru bagi pustakawan dalam memberikan pelayanan, dan mempelajari teknologi kolaboratif baru dengan cepat dengan menggunakan Zoom dan WebEx, Microsoft Teams, Box, dan Google Dokumen. Sebagian besar menerima pengalaman belajar yang imersif ini. Perpustakaan harus memanfaatkan momentum ini, memberikan pelatihan teknologi tambahan dan mengidentifikasi keterampilan teknologi yang penting bagi karyawan dalam keadaan normal baru ini. Dengan pembatasan perjalanan, pengembangan profesional online juga menjadi penting. Perpustakaan akan menghadapi pengurangan anggaran, pembekuan perekrutan, dan pembatasan pengeluaran lainnya. perpustakaan perlu merampingkan alur kerja dan melatih kembali karyawan yang ada untuk mengisi peran baru.