Kembali
16
1
2020 Anuva: Jurnal Kajian Budaya, Perpustakaan, dan Informasi Vol 4 · 4 ISSN 2598-3040

Proses Fonologis Satuan Hitung Dalam Bahasa Jepang: Kajian Transformasi Generatif

Universitas Diponegoro; Universitas Diponegoro

Abstrak

Pembelajar asing bahasa Jepang sering mengalami kesulitan dalam memperlajari satuan hitung bahasa Jepang adalah adanya variasi satuan hitung yang banyak. Selain penyebab itu ternyata dalam satuan hitung bahasa Jepang terjadi perubahan bunyi pada angka maupun pemarkah satuannya dalam suatu kondisi tertentu. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan dan membuat suatu kaidah tentang asimilasi konsonan dengan konsonan yang ada dalam satuan hitung bahasa Jepang. Kaidah yang dibuat dalam penelitian ini dapat membantu dan mempermudah para pembelajar asing bahasa Jepang untuk memahami perubahan bunyi yang terjadi dalam satuan hitung bahasa Jepang. Data yang diambil dan digunakan dalam penelitian ini adalah data yang berupa transkripsi fonetis dari satuan hitung bahasa Jepang yang ada didalam bahan ajar buku Minna no Nihongo I. Teori yang digunakan pada penelitian ini adalah teori fonologi generatif dengan melihat fitur distingtif dari setiap segmen. Metode yang digunakan adalah metode padan teknik dasar pilah unsur penentu. Hasil dari penelitian ini adalah adanya penambahan [+voiced] pada pemarkah satuan hitungnya yang menyebabkan [ҫ] / [h]  [b] dan [s]  [z] jika pemarkahnya tidak berawalan bunyi konsonan [d], [k], [m], [s] yang diikuti bunyi vokal [a], atau [h]/[ҫ] yang didahului vokal [o]. Selain itu tidak ditemukan perubahan dari [+voiced] menjadi [-voiced].

Abstract

Japanese foreign learners often experience difficulties in learning Japanese counting units due to the many variations in counting units. Apart from these causes, there is a sound change in the numbers and unit markers under certain conditions. The purpose of this study is to describe and make rules regarding the assimilation of consonants with consonants contained in Japanese counting units. The rules made in this study can help and make it easier for foreign Japanese learners to understand the sound changes that occur.The data taken and used in this research are data in the form of phonetic transcriptions from Japanese counting units contained in Minna no Nihongo I teaching materials. The theory used in this research is generative phonological theory by looking at the distinctive features of each segment. The method used is the equivalent method of the basic technique of sorting the determinants. The result of this research is the addition of [+ voiced] to the counting unit marker which causes [ҫ] / [h] [b] and [s] [z] if the marker does not start with a consonant sound [d], [k], [m], [s] followed by a vowel sound [a], or [h] / [ҫ] which is followed by a vowel [o]. In addition, there are no changes found from [+ voiced] to [-voiced].
Keywords: phonological process · distinctive features · arithmetic units · japanesen

Introduction

Satuan hitung dalam bahasa Jepang jumlahnya cukup banyak dan sebagian dipelajari pada level dasar. Materi ini dapat dipelajari pada buku-buku level dasar, seperti pada buku Minna no Nihongo 1 bab 11. Meskipun hanya sebagian satuan hitung bahasa Jepang dipelajari pada level dasar, tetapi materi ini dinilai sebagai salah satu materi yang sulit dipelajari oleh pembelajar asing. Selain macamnya yang banyak, penyebab kesulitan mempelajari satuan hitung bahasa Jepang adalah adanya perubahan bunyi. Sebagai contoh perubahan bunyi tersebut adalah angka 3 [saŋ] yang mengalami perubahan pada kondisi tertentu menjadi [san] seperti dalam “3 orang” [sanniŋ] ataupun [sam] seperti dalam “3 batang” [samboŋ]. Selain itu, adanya perubahan bunyi yang terjadi pada pemarkah satuannya, sebagai contoh satuan untuk menghitung benda yang panjang menggunakan [hoŋ] tetapi berubah menjadi [boŋ] dalam kondisi tertentu. Kesalahan pengucapan yang disebabkan oleh adanya perubahan bunyi yang tidak tepat dapat mengakibatkan kesulitan mitra tutur dalam memahami tuturan penutur. Kesalahan pengucapan bunyi yang terjadi terkadang dapat merubah makna dari tuturan tersebut. Sebagai contoh [seƞ] yang berarti “seribu” , sedangkan [ni] yang berarti “dua” makan untuk menyatakan “dua ribu” menjadi [niseƞ], akan tetapi ketika digabungkan dengan [saƞ] yang berarti “tiga” tidak menjadi [sanseƞ] untuk menyatakan “tiga ribu”. Kata [sanseƞ] dalam bahasa Jepang berarti “ikut perang”, sedangkan untuk “tiga ribu” dalam bahasa Jepang diucapkan dengan [sanzeƞ]. Perubahan bunyi yang terjadi pada satuan hitung bahasa Jepang disebabkan karena adanya proses pembentukan kata dari dua buah morfem (angka dan pemarkah satuan hitung). Perubahan bunyi yang disebabkan oleh proses pembentukan kata disebut morfofonemis. Morfofonemis adalah perubahan fonem yang disebabkan adanya proses morfologi, dalam hal ini adalah pembentukan kata antara angka dan pemarkah satuan hitung dalam bahasa Jepang. Penelitian tentang proses fonologis dengan teori transformasi generatif sudah dilakukan oleh beberapa peneliti sebelumnya, diantaranya penelitian yang dilakukan oleh Erawati (2012) mengenai asimilasi fonemis bahasa Jawa kuno salah satu tipe morfofonemik. Hasilnya penggabungan /a/ + /i//e/, /a/+/u//o/, proses fonemis antara /u/+/a//w/, /i/+/a//y/, proses fonemis dalam proses morfofonemik dengan nasal berupa keselarasan fitur, pelesapan, dan satu proses fonologis berupa bunyi luncuran antar vokal sehingga dalam bahasa Jawa kuno ditemukan asimilasi fonemis resiprokal, asimilasi fonemis progresif, asimilasi fonemis regresif, dan satu penyisipan bunyi luncuran nasal /n/. Penelitian yang berikutnya dilakukan oleh Sulihiningtyas (2013) tentang proses fonologi bahasa Belanda dengan hasil berupa proses fonologis dalam kata majemuk yang penulisannya menjadi satu terjadi asimilasi progresif (penambahan [-voiced]) dan asimilasi regretif (penambahan [+voiced]), pelesapan bunyi [t] diantara dua obtruent, dan penyisipan bunyi labial [p] diantara bunyi [t] dan [i]. Penelitian yang selanjutnya oleh Muslihah (2018) tentang proses penyerapan bahasa Inggris ke dalam bahasa Jepang. Hasilnya ditemukan beberapa proses fonologis berupa penambahan segmen /u/ dan /o/ di tengah dan akhir kata, substitusi fonem /l/ menjadi /r/, substitusi fonem /v/ menjadi /b/, subtsitusi fonem /t/ menjadi /c/, dan penambahan segmen /i/ diposisi akhir setelah fonem /t/ dan /d/. Perbedaan dari penelitian ini dengan penelitian terdahulu yaitu pada objek dan fokus yang diteliti. Objek dan fokus penelitian pertama dan kedua berupa proses fonologis pada bahasa Jawa dan bahasa Belanda, sedangkan pada penelitian ketiga berupa kata serapan dalam bahasa Jepang dari bahasa Inggris. Objek dan fokus yang sekaligus menajdi tujuan dari penelitian ini adalah proses asimilasi antara konsonan dengan konsonan serta kaidahnya berdasar teori tranformasi generatif pada satuan hitung dalam bahasa Jepang. Kaidah yang dihasilkan dari penelitian ini diyakini dapat mempermudah para pengajar maupun pembelajar bahasa Jepang khususnya tentang satuan hitung dalam bahasa Jepang. 2. Landasan Teori Landasan teori yang digunakan dalam penelitian ini diawali dengan pemaparan sistem fonologi bahasa Jepang. Secara fonemik bahasa Jepang mempunyai 5 vokal yaitu /a, i, u, e, o/. Sedangkan konsonan dalam bahasa Jepang terdiri dari /k, g, s, z, t, d, c, n, h, b, p, m, r/ dan semi vokal /j, w/. Sistem bahasa Jepang mempunyai kaidah berupa bunyi vokal bisa berada diawal, tengah, dan akhir kata, tetapi bunyi konsonan dan semi vokal hanya bisa berada diawal atau tengah kata, kecuali konsonan N yang bisa berada diawal, tengah, dan akhir kata. Oleh karena itu kata yang terbentuk selalu berakhiran bunyi vokal atau konsonan N. Dari sistem bahasa Jepang yang berlaku dapat disimpulkan bahwa proses asimilasi konsonan dengan konsonan dalam bahasa Jepang yang disebabkan oleh proses morfologi yang terjadi pasti antara konsonan N dengan konsonan N atau konsonan yang lainnya. Kerangka teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah transformasi generatif. Teori ini dapat diawali dengan pembahasan terkait fitur distingtif. Menurut Schane (1992: 26) segmen merupakan satuan terkecil yang tak dapat dibagi lagi dalam analisis fonologis. Setiap segmen pasti mempunyai ciri dan sifat tertentu yang membedakan dengan segmen yang lain. Ciri pembeda itu disebut sebagai fitur distingtif. Scane (1992: 28-35) menyatakan bahwa fitur distingtif dari sebuah segmen dalam fonologi generatif didasarkan pada ciri (1) kelas utama (silabis, sonoran, konsonantal); (2) cara artikulasi (kontinuan, penglepasan tertunda, striden, nasal, lateral); (3) daerah artikulasi (anterior, koronal); (4) batang lidah (tinggi, rendah, belakang); (5) bentuk bibir (bulat); (6) tambahan (tegang, bersuara, aspirasi, glotalisasi); (7) prosodi (tekanan, panjang). Fitur distingtif digambarkan dalam ciri biner dengan tanda plus (+) untuk menunjukkan kehadiran dari fitur yang menjadi ciri dan minus (-) untuk menunjukkan ketidakhadiran (Katamba, 1996: 42). Berikut ini adalah tabel yang menunjukkan karakterisasi segmen-segmen berdasar fitur distingtif yang dikemukakan oleh Odden (2005: 148-149) yang disesuaikan dengan bunyi dalam bahasa Jepang: Tabel 1. Karakterisasi segmen-segmen berdasar fitur distingtif untuk konsonan dan vokal p t ҫ k b d j g s z h m n ɳ r y w a i ɯ e o kons + + + + + + + + + + + + + + + + + son - - - - - - - - - - - + + + + + + sil - - - - - - - - - - - - - - - - - kont - - - - - - - - + + + - - - + + + nas - - - - - - - - - - - + + + - - - lat - - - - - - - - - - - - - - - - - ant + + - - + + - - + + - + + - - + - kor - + + - - + + - + + - - + - + + + voi - - - - + + + + - + - + + + + + + ting - - - + - - - + - - - - - + + + + - + + - - rend - - - - - - - - - - - - - - - - - + - - - - blkg - - - + - - - + - - - - - + + - + + - + - + blt - - - - - - - - - - - - - - + - + - - + - + Dalam kaidah fonologi generatif tidak harus semua fitur distingtif disebutkan, diperlukan redundansi segmennya yaitu dengan menyebutkan spesifikasi minimummnya tetapi sudah mampu menggambarkan segmen-segmen tertentu (Schane, 1992: 44). Sebagai contoh untuk menyebutkan distingtif fitur dari [b] cukup menggunakan [-son] untuk ciri kelas utama, tanpa menyebutkan [+kons] sudah dapat dipahami. Karena setiap pasti bunyi konsonan. Kaidah fonologi generatif secara umum dapat digambarkan seperti berikut ini: A  B / X __Y Kaidah tersebut dapat dibaca bunyi A berubah menjadi bunyi B ketika muncul setelah bunyi X dan atau sebelum bunyi Y. Penulisan kaidah tersebut juga melibatkan penggunaan fitur distingtif untuk segmen imput (A), output (B), maupun lingkungannya ( X dan atau Y). Segmen tersebut pada umumnya ditandai dengan beberapa ciri saja dan menghindari penandaan yang berlebihan (redundancy). Schane (1973: 5052) menyebutkan bahwa proses asimilasi dapat terjadi karena 4 hal, yaitu vokal berasimilasi dengan vokal, vokal berasimilasi dengan konsonan, konsonan berasimilasi dengan vokal, dan konsonan berasimilasi dengan konsonan. Sebagai contoh dalam bahasa Perancis terdapat proses asimilasi konsonan berasimilasi dengan konsonan sebagai berikut: bt  pt, gs  ks, ds  ts. Proses asimilasi pada bahasa Perancis tersebut jika dibuat kaidahnya sebagai berikut: [- son]  [- voiced] / __ - son - voiced Dari kaidah tersebut dapat dikatakan bahwa setiap bunyi yang dibunyikan tanpa adanya fibrasi secara otomotis pada pita suara akan berubah menjadi tak bersuara (voice less) ketika muncul sebelum bunyi dengan ciri kelas utama sama [-son] dan tak bersuara (voice less).

Method

Penelitian ini termasuk penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Data yang diteliti berupa perubahan bunyi yang terjadi karena proses penambahan morfem pada satuan hitung bahasa Jepang. Penelitian ini menggunakan metode padan teknik dasar pilah unsur penentu (Sudaryanto, 2015: 25-36). Metode ini digunakan untuk memilah unsur penentu dari data yang terkumpul, setelah itu digunakan teknik lanjutan hubung banding menyamakan dan membedakan. Sedangkan untuk tahapan penelitian ini dapat dibagi menjadi tahap pengumpulan data, analisis data dan penyajian hasil. Data penelitian ini dikumpulkan dari satuan hitung yang ada di dalam buku Minna no Nihongo I. Data yang terkumpul ditranskipsikan secara fonetis berdasarkan transkripsi fonetis bahasa Jepang yang disesuaikan dengan IPA (International Phonetic Alphabet) oleh Koizumi (1993) dan Kashima (1997). Setelah itu diambil data yang menunjukkan asimilasi konsonan dengan konsonan, yaitu satuan hitung yang didahului oleh bunyi [saŋ] yang berarti “tiga”, [joŋ] yang berarti “empat”, dan [naŋ] yang berarti “berapa”. Selain itu data untuk angka 2 ([ni] berakhiran vokal) pada satuan hitung dimunculkan dengan tujuan untuk menunjukkan underlying form (UF) dari pemarkah satuan hitung tersebut. Sedangkan untuk angka 1, 5, 6, 7, 8, dan 9 tidak dimunculkan karena seperti angka 2 yang berakhiran dengan vokal. Tahap analisis data yang sudah terkumpul diawali dengan menentukan fonem dari alofon [n], [ƞ] dan [m] serta kaidahnya. Sedangkan tahap yang terakhir dilakukan setelah analisis data adalah peyajian data. Data yang sudah terkumpul akan ditampilkan berdasar urutan data pemarkah satuan hitung yang digabung dengan angka “dua” [ni], data yang digabung dengan pemarkah yang mengalami perubahan bunyi dan tidak untuk angka “tiga”, “empat” maupun “berapa”.

Result & Discussion

Proses pendeskripsian dan pembuatan kaidah asimilasi konsonan dengan konsonan pada satuan hitung bahasa Jepang adalah sebagai berikut: a. Menentukan fonem dari alofon [n], [ŋ], dan [m] Dari data satuan hitung bahasa Jepang berikut ini ditentukan terlebih dahulu fonem dari alofon [n], [ŋ], dan [m]. Tabel 2. Data penelitian asimilasi konsonan dengan konsonan dalam satuan hitung bahasa Jepang Bahasa Jepang Arti Bahasa Jepang Arti 2匹 2 ekor [niҫiki] 4匹 [jonҫiki] 4 ekor 2本 2 batang [nihoŋ] 4本 [jonhoŋ] 4 batang 2杯 2 gelas [nihai] 4杯 [jonhai] 4 gelas 2足 2 pasang [nisokɯ] 4足 [jonsokɯ] 4 pasang 2台 2 unit [nidai] 4台 [jondai] 4 unit 2回 2 kali [nikai] 4回 [joŋkai] 4 kali 2個 2 buah [niko] 4個 [joŋko] 4 buah 2枚 2 lembar [nimai] 4枚 [jommai] 4 lembar 2歳 2 tahun [nisai] 4歳 [jonsai] 4 tahun 2冊 2 jilid [nisaʦɯ] 4冊 [jonsaʦɯ] 4 jilid 3匹 3 ekor [sambiki] 何匹 [nambiki] berapa ekor 3本 3 batang [samboŋ] 何本 [namboŋ] berapa batang 3杯 3 gelas [sambai] 何杯 [nambai] berapa gelas 3足 3 pasang [sanzokɯ] 何足 [nanzokɯ] berapa pasang 3台 3 unit [sandai] 何台 [nandai] berapa unit 3回 3 kali [saŋkai] 何回 [naŋkai] berapa kali 3個 3 buah [saŋko] 何個 [naŋko] berapa buah 3枚 3 lembar [sammai] 何枚 [nammai] berapa lembar 3歳 3 tahun [sansai] 何歳 [nansai] berapa tahun 3冊 3 jilid [sansaʦɯ] 何冊 [nansaʦɯ] berapa jilid Berdasar data diatas dapat ditentukan batasan (environment) kemunculan konsonan N sebagai berikut: [n] posisi awal, sebelum bunyi [d], [s], [z] (alveolar), [h] glottal, [ҫ] (palatal) [m] sebelum [b] (bilabial) [ŋ] sebelum bunyi [k], posisi akhir Kemunculan konsonan N yang berbunyi [n], [m], dan [ŋ] ditemukan bahawa alofon [n] dianggap sebagai elsewhere, karena muncul pada posisi lebih banyak variasinya dibanding dengan alofon [m], dan [ŋ]. Karena penelitian ini terbatas pada asimilasi konsonan dengan konsonan yang terjadi karena morfofonemis, sehingga kaidah yang muncul pada posisi awal dan posisi akhir tidak dimasukkan kedalam kaidah pada penelitian ini, sehingga kaidah perubahannya menjadi: i. Kaidah pertama fonem /n/ menjadi [m] /n/  [m] / __ [m]/[b] + nasal + ant + kor + ant - kor + kons  __ - kont + ant - kor Dari kaidah ini dapat dijelaskan bahwa fonem /n/ berubah menjadi alofon [m] jika muncul sebelum bunyi konsonan yang mempunyai ciri tempat artikulasi yang sama dengan alofon [m]. Proses fonologis yang terjadi adalah asimilasi tempat artikulasi karena terjadi kesamaan tempat artikulasi [+ant] dan [-kor]. ii. Kaidah kedua fonem /n/ menjadi [ŋ] /n/  [ŋ] / __ [k] + nasal + ant + kor - ant - kor + kons  __ - kont - ant - kor Dari kaidah ini dapat dijelaskan bahwa fonem /n/ berubah menjadi alofon [ŋ] jika muncul sebelum bunyi konsonan hambat [- kont] yang mempunyai ciri tempat artikulasi yang sama dengan alofon [ŋ]. Pada kaidah kedua proses fonologis yang terjadi adalah asimilasi tempat artikulasi karena terjadi kesamaan tempat artikulasi [-ant] dan [- kor]. Dari kaidah pertama dan kedua dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa proses asimilasi yang terjadi pada fonem /n/ menjadi [m] atau [ŋ] disebabkan karena kesamaan tempat artikulasi. Karena adanya kesamaan tenpat artikulasi ini maka dari kedua kaidah tersebut dapat dibuat suatu kaidah gabungan sebagai berikut: /n/  [m] / __ [m]/[b] /n/  [ŋ] / __ [k] + nasal + ant + kor α ant β kor + kons  __ - kont α ant β kor Dari kaidah gabungan di atas dapat dijelaskan bahwa fonem /n/ akan berubah menjadi alofon [ŋ] atau [m] jika muncul sebelum konsonan hambat [-kont] yang mempunyai kesamaan ciri tempat artikulasi. b. Mengalami perubahan bunyi konsonan awal pemarkah satuannya. Analisis data yang mengalami perubahan bunyi pada pemarkah satuannya, yaitu: i. Perubahan fonem /ҫ/ menjadi [b]. Fonem /ҫ/ dianggap sebagai underlying form. Perubahan bunyi ini terjadi seperti pada data berikut ini: Bahasa Jepang Arti 2匹 [niҫiki] 2 ekor 3匹 [sambiki] 3 ekor 何匹 [nambiki] berapa ekor Kaidah fonologi strukutural sebagai berikut: /ҫ/  [b] / [m] __ Sedangkan kaidah fonologi generatifnya sebagai berikut: - son + kont - ant + kor - son + nasal + ant  - kor - kont + ant __ - kor + voiced Pada kaidah tesebut proses fonologis yang terjadi adalah asimilasi tempat artikulasi karena terjadi kesamaan tempat artikulasi pada output dan lingkungannya [+ ant] dan [-kor]. ii. Perubahan fonem /h/ menjadi [b]. Fonem /h/ dianggap sebagai underlying form. Perubahan bunyi ini terjadi seperti pada data berikut ini: Bahasa Jepang Arti 2本 [nihoŋ] 2 batang 3本 [samboŋ] 3 batang 何本 [namboŋ] berapa batang 2杯 [nihai] 2 gelas 3杯 [sambai] 3 gelas 何杯 [nambai] berapa gelas Kaidah fonologi strukutural: /h/  [b] / [m] __ Sedangkan kaidah fonologi generatifnya sebagai berikut: - son + kont - ant - kor - son + nasal + ant  - kor - kont + ant __ - kor + voiced Pada kaidah tersebut proses fonologis yang terjadi adalah asimilasi tempat artikulasi karena terjadi kesamaan tempat artikulasi pada output dan lingkungannya [+ ant] dan [-kor]. iii. Perubahan fonem /s/ menjadi [z]. Fonem /s/ dianggap sebagai underlying form. Perubahan bunyi ini terjadi seperti pada data berikut ini: Bahasa Jepang Arti 2足 [nisokɯ] 2 pasang 3足 [sanzokɯ] 3 pasang 何足 [nanzokɯ] berapa pasang Kaidah fonologi strukutural: /s/  [z] / [n] __ Sedangkan kaidah fonologi generatifnya sebagai berikut: - son + nasal + ant + kor + kont  + voiced __ + ant + kor Pada kaidah tesebut proses fonologis yang terjadi adalah asimilasi tempat artikulasi karena terjadi kesamaan tempat artikulasi pada input, output dan lingkungannya [+ ant] dan [+kor]. Dari ketiga kaidah fonologi generatif diatas (i, ii, iii) dapat disimpulkan bahwa proses asimilasi yang terjadi pada fonem /ҫ/  [b], /h/  [b], dan /s/  [z] dikarenakan adanya karena kesamaan tempat artikulasi output dan lingkungannya. Selain itu setiap output mendapatkan penambahan [+voiced]. c. Tidak mengalami perubahan bunyi konsonan awal pemarkah satuannya Pada pembahasan diatas ditemukan beberapa kaidah yang mengatur proses perubahan bunyi yang disebabkan adanya kesamaan tempat artikulasi output dengan lingkungannya yang menyebabkan penambahan [+voiced] pada output. Akan tetapi pada beberapa data berikut ini, meskipun terjadi asimilasi antara konsonan dengan konsonan pada satuan hitung bahasa Jepang tetapi tidak menyebabkan perubahan bunyi pada awal pemarkah satuannya, yaitu: i. Pemarkahnya berawalan dengan konsonan [d]. Bahasa Jepang Arti 2台 [nidai] 2 unit 3台 [sandai] 3 unit 4台 [jondai] 4 unit 何台 [nandai] berapa unit Tidak adanya perubahan bunyi pada data ini diyakini dikarenakan konsonan [d] mempunyai kesamaan ciri dengan konsonan nasal [+nas] yaitu termasuk konsonan bersuara [+voiced]. ii. Permarkah berawalan dengan konsonan [k]. Bahasa Jepang Arti 2回 [nikai] 2 kali 3回 [saŋkai] 3 kali 4回 [joŋkai] 4 kali 何回 [naŋkai] berapa kali 2個 [niko] 2 buah 3個 [saŋko] 3 buah 4個 [joŋko] 4 buah 何個 [naŋko] berapa buah Meskipun konsonan [k] memiliki kesamaan tempat artikulasi yaitu [-ant] dan [-kor] dengan [ŋ] yang memungkinkan adanya perubahan bunyi, tetapi pada data ini tidak terjadinya perubahan bunyi diyakini dikarenakan konsonan [k] termasuk konsonan dengan ciri batang lidah tinggi [+ting] dan belakang [+blkg] yang berbeda dengan konsonan [ҫ], [h], dan [s] yang termasuk konsonan ciri batang lidah rendah [-ting] dan depan [-blkg]. iii. Pemarkah berawalan dengan konsonan [m] Bahasa Jepang Arti 2枚 [nimai] 2 lembar 3枚 [sammai] 3 lembar 4枚 [jommai] 4 lembar 何枚 [nammai] berapa lembar Tidak terjadinya perubahan bunyi pada data ini diyakini dikarenakan konsonan [m] memiliki kesamaan cara artikulasi yaitu termasuk konsonan nasal [+nas]. Selain itu kosonan [m] termasuk konsonan bersuara [+voiced]. iv. Pemarkah berawalan dengan konsonan [s] yang diikuti vokal [a]. Bahasa Jepang Arti 2歳 [nisai] 2 tahun 3歳 [sansai] 3 tahun 4歳 [jonsai] 4 tahun 何歳 [nansai] berapa tahun 2冊 [nisaʦɯ] 2 jilid 3冊 [sansaʦɯ] 3 jilid 4冊 [jonsaʦɯ] 4 jilid 何冊 [nansaʦɯ] berapa jilid Tidak terjadinya perubahan bunyi pada data ini diyakini dikarenakan vokal setelah konsonan [s] yang berupa [a] berbeda jika dibandingan dengan vokal setelah konsonan [s] pada pembahasan sebelumnya (berupa vokal [o]). Vokal [a] dalam bahasa Jepang diucapkan dengan cara mulut terbuka agak melebar, lidah bagian tengah, dan bentuk bibir tidak bulat. v. Pemarkah berawalan dengan konsonan [h] / [ҫ] yang didahului bunyi vokal [o]. Bahasa Jepang Arti 4本 [jonhoŋ] 4 batang 4杯 [jonhai] 4 gelas 4匹 [jonҫiki] 4 ekor Tidak terjadinya perubahan bunyi pada data ini diyakini dikarenakan vokal sebelum konsonan [h] / [ҫ] berupa [o] yang berbeda jika dibandingan dengan pembahasan sebelumnya. Dari analisis diatas dapat disimpulkan bahwa pemarkah pada satuan hitung bahasa Jepang tidak mengalami perubahan bunyi pada konsonan awal pemarkah satuannya jika pemarkah berawalan bunyi konsonan [d], [k], [m], [s] yang diikuti bunyi vokal [a], dan [h] / [ҫ] yang didahului vokal [o].

Conclusion

Simpulan dari penelitian ini adalah pada proses asimilasi konsonan dengan konsonan menyebabkan penambahan [+voiced] pada output pemarkahnya, sehingga [ҫ] / [h][b] dan [s][z] jika pemarkahnya tidak berawalan bunyi konsonan [d], [k], [m], [s] yang diikuti bunyi vokal [a], atau [h]/[ҫ] yang didahului vokal [o]. Proses asimilasi yang terjadi karena kesamaan tempat artikulasi. Tidak ditemukannya perubahan dari [+voiced] menjadi [-voiced].