Kembali
16
1
2022 Anuva: Jurnal Kajian Budaya, Perpustakaan, dan Informasi Vol 6 · 1 ISSN 2598-3040

Penggunaan Internet sebagai Sumber Informasi pada Generasi Baby boomer berdasarkan Kemampuan Literasi Informasi

Universitas Diponegoro; Universitas Diponegoro

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengeskplorasi pengalaman penggunaan internet sebagai sumber informasi pada generasi Baby boomer berdasarkan kemampuan literasi informasi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan menggunakan fenomenografi. Teknik pengambilan data yang digunakan ialah menggunakan teknik wawancara terstruktur dengan menggunakan informan yang didapat melalui purposive sampling. Metode analisis yang digunakan adalah fenomenografi. Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat lima kategori pengalaman penggunaan internet bagi generasi baby boomer. Kategori tersebut terbagi menjadi: 1. Buta terhadap internet, tidak menguasai penggunaan internet dengan baik; 2. Menguasai namun tidak menjadi andalan, mampu menggunakan internet namun tidak dijadikan sumber utama. Sub kategori 2 hanya menguasai sebagian saja dan masih memiliki kesulitan; 3. Mengandalkan secara buta, memiliki preferensi penggunaan internet sebagai sumber informasi namun tidak kritis dalam memilah informasi; 4. Mengandalkan namun tidak menguasai, memiliki preferensi terhadap internet namun tidak dapat menguasai sepenuhnya; 5. Andal untuk digunakan, paham betul terhadap penggunaan internet.

Abstract

This study aims to explore internet usage experience as information source in baby boomer generation based on their information literacy ability. The method used in this research is qualitative method with phenomenography. The data collection technique used in this research is structured interview with informat gathered from purposive sampling technique. The analysis method used in this research is phenomenography. The result shows there are five categories in experiencing the usage of internet of baby boomer. Those categories are: 1. Blind towards the internet, showing no capability of using the internet; 2. Capable yet not relying, able to use the internet but not used as primary source of information. Sub category 2 partially capable, still have some difficulties; 3. Blindly relying, have prefrences toward internet albeit not critical in processing the informations; 4. Relying but not fully capable, have prefrence on using internet as a primary source but not fully capable on using it; 5. Reliable to use, fully understand on using the internet
Keywords: information literacy · baby boomer · internet

Introduction

Perkembangan zaman saat ini sudah semakin maju. Segala sesuatu yang sebelumnya harus dilakukan secara manual sudah dapat dilakukan secara otomatis dan cepat. Perkembangan informasi pun yang sebelumnya bergerak lamban dapat tersebar dengan cepat. Apabila dahulu masyarakat harus menunggu surat kabar untuk mengetahui kabar terkini, sekarang hanya dalam hitungan detik berita terbaru dapat sampai ke tangan masyarakat. Hal ini terjadi dengan adanya perkembangan teknologi. Salah satu perkembangan teknologi yang membantu perkembangan lalu lintas informasi adalah internet. Berdasarkan Ensiklopedia Britannica internet merupakan sebuah arsitektur sistem yang merevolusi bentuk komunikasi dengan menghubungkan berbagai jaringan-jaringan komputer di seluruh dunia (Kahn and Dennis, 2019). Dapat disimpulkan dengan adanya internet semua masyarakat di seluruh dunia dapat secara teknis terhubung satu sama lain. Jarak antara satu orang dengan orang lain seolah tidak ada dalam dunia maya. Seseorang dapat berkomunikasi dengan orang lain dalam belahan dunia lain hanya dalam hitungan detik saja. Akses internet pun dapat dikatakan sangatlah mudah. Hanya dengan berbekal telepon genggam pintar dan layanan internet dari internet service provider, seluruh masyarakat dapat menikmati dan memanfaatkan internet sesuai dengan kebutuhannya. Umumnya internet digunakan untuk keperluan rekreasi dan komunikasi, namun tidak mengurangi kemungkinan bahwa internet juga menjadi sumber informasi bagi masyarakat. Internet juga memiliki banyak fitur dalam mengantarkan informasi, salah satunya adalah RSS Feed yang mengantarkan informasi dari berbagai sumber langsung kepada pengguna internet. Pengguna internetpun dapat dikatakan sangat besar, dengan data dari statista, sebuah situs jejaring yang mengumpulkan berbagai macam data dan statistik, menunjukkan pada Januari 2021 pengguna internet sudah hampir mencapai 4,66 miliar pengguna (Jonson, 2021). Berdasarkan data ini dapat dikatakan bahwa internet sudah merupakan bagian dari kehidupan masyarakat. Meski memiliki banyak kelebihan, internet tidak luput dari kekurangan yakni dari banyaknya informasi yang tersedia di internet pasti terdapat juga disinformasi atau penyampaian informasi yang salah. Hal ini akan menjadikan kredibilitas dari internet dapat diragukan. Banyaknya sumber-sumber yang meragukan juga dapat berdampak pada pemahaman warga terhadap informasi yang beredar. Banyaknya informasi dan data yang ada di internet juga akan membuat penggunanya menjadi kewalahan. Mitchell dari BBC Sciencefocus mengatakan bahwa dapat diestimasi jumlah data yang ada di internet sudah mencapai 1,2 juta terabytes data informasi. Dengan jumlah data sebanyak ini maka diperlukan keahlian khusus untuk memilah informasi yang dirasa benar. Penyebaran dari disinformasi ini sendiri juga dapat dikaitkan dengan penggunanya yang menyebarkan informasi yang salah tersebut lebih lanjut. Guess (2019), mengatakan bahwa kalangan pengguna internet yang sudah berumur merupakan bagian masyarakat yang paling sering tertipu dengan berita bohong atau hoax dibandingkan dengan pengguna internet kalangan muda, dengan dikatakan bahwa pengguna dengan usia 65 tahun ke atas tujuh kali lebih sering membagikan berita bohong atau hoax dibandingkan dengan pengguna yang lebih muda, studi ini dilakukan di Amerika Serikat. Hal ini menunjukkan kekhawatiran terhadap kemampuan literasi informasi masyarakat pengguna internet terutama dalam aspek memilah informasi yang sekiranya dirasa cukup benar dan bebas dari disinformasi. Literasi informasi merupakan sebuah keahlian atau kemampuan seseorang untuk mengenal dan mengetahui informasi yang didapat serta mampu menggunakannya dengan tepat. ALA mengatakan bahwa seseorang yang literat informasi adalah seseorang yang mampu mengenali informasi, mengetahui kapan informasi tersebut akan digunakan, mampu mengevaluasi informasi yang didapat, dan menggunakan informasi tersebut secara efektif (2006). Kemampuan literasi informasi menurut SCONUL terbagi menjadi tujuh pilar yaitu: identifikasi; cakupan; perencanaan; pengumpulan; evaluasi; mengelola; dan menyajikan. Seseorang dapat dikatakan telah memliliki kemampuan literasi informasi yang baik ketika mereka dapat melakukan ketujuh hal tersebut dengan baik (Bent and Stubbings, 2011). Penelitian ini dilakukan mengingat pesatnya persebaran informasi yang ada di internet. Banyaknya informasi yang ada di internet menyebabkan pentingnya untuk melihat kemampuan seseorang dalam mencari dan memilah informasi yang ada di internet. Hal ini akan menjadi lebih penting lagi terhadap generasi Baby boomer mengingat bahwa generasi tersebut merupakan golongan generasi yang tidak tumbuh bersamaan dengan teknologi internet yang ditunjukkan dengan baru mulai beredarnya world wide web di muka publik pada tahun 1991, 27 tahun setelah berakhirnya generasi Baby boomer. Pada penelitian ini akan dilihat mengenai pengalaman baby boomer dalam menggunakan internet sebagai sumber informasi berdasarkan dengan kemampuan dari literasi informasi individu masing-masing. Baby boomer yang akan diteliti juga berdomisili di Jabodetabek khususnya di kota Jakarta dan Bekasi dengan pertimbangan bahwa kedua kota tersebut sudah memiliki perkembangan infrastruktur yang cukup maju untuk mengakomodir penggunaan internet dalam kehidupan sehari-hari terutama untuk dijadikan sebagia sumber informasi. 2. Landasan Teori Sebuah penelitian yang ditulis oleh Oluwole Olumide Durodolu dan Samuel Kelechukwu Ibenne (2020) berjudul “The Fake News Infodemic VS. Information Literacy” (Infodemi Berita Bohong Melawan Literasi Informasi). Penelitian Oluwole Olumide Durodolu dan Samuel Kelechukwu meneliti mengenai fenomena infodemic yang terjadi selama masa pandemi virus Corona. Tujuan dari penelitian berikut adalah meneliti bagaimana literasi informasi dapat memerangi infodemic yang terjadi selama masa pandemi. Durodolu dan Kelechukwu menunjukkan bahwa diperlukannya literasi informasi untuk menangani permasalahan infodemic karena dengan kemampuan literasi informasi seseorang dapat dengan lebih kritis menentukan kualitas dari informasi yang didapatkannya. Sebuah penelitian yang ditulis oleh Magnus Osahon Igbinovia, Omorodion Okuonghae, dan John Oluwaseye Adebayo (2020) berjudul “Information Literacy Competence in Curtailing Fake News About COVID-19 Pandemic Among Undergraduates in Nigeria” (Kompetensi Literasi Informasi dalam Menangani Berita Bohong mengenai Pandemi COVID-19 pada Mahasiswa di Nigeria). Penelitian Magnus Osahon Igbinovia, Omorodion Okuonghae, dan John Oluwaseye Adebayo meneliti mengenai penyebaran informasi yang terjadi selama masa pandemi virus COVID-19. Tujuan dari penelitian Magnus Osahon Igbinovia, Omorodion Okuonghae, dan John Oluwaseye Adebayo adalah untuk menginvestigasi letak kompetensi literasi informasi dalam menentukan berita palsu atau bohong mengenai COVID-19 pada mahasiswa di Nigeria. Magnus Osahon Igbinovia, Omorodion Okuonghae, dan John Oluwaseye Adebayo menunjukkan kemampuan kompetensi literasi informasi mengakibatkan mampunya mahasiswa untuk mengetahui kebutuhan informasinya serta mampu untuk mengidentifikasi sumber yang reliabel. Sconul mengatakan bahwa kemampuan literasi informasi terdiri dari tujuh buah pilar yakni: 1. identifikasi, Artinya seseorang mampu untuk mengidentifikasi kebutuhan informasi pribadinya ; 2. cakupan, artinya seseorang mengetahui informasi apa saja yang tersedia serta mengetahui celah informasi yang dimilikkinya atau mengetahui apa yang belum diketahui; 3. perencanaan, yaitu seseorang melakukan strategi pencarian yang diperlukan untuk mendapatkan informasinya; 4. pengumpulan, yaitu kemampuan untuk melokasi dan mengakses berbagai macam data dan informasi yang diperlukan; 5. evaluasi, yakni kemampuan untuk mengulas, membandingkan, dan mengevaluasi kualitas dari informasi yang didapatkan; 6. pengelolaan, yaitu kemampuan untuk mengorganisir informasi yang didapatkannya; 7. penyajian, yaitu suatu kemampuan untuk menerapkan informasi atau pengetahuan yang didapat. (Bent and Stubbings, 2011). Generasi berdasarkan kamus daring Cambridge adalah sekelompok orang yang memiliki usia yang sama dalam kelompok masyarakat (Cambridge Dictionary, n.d.). Generasi sendiri terbagi menjadi dua makna, generasi sebagai penghubung kekerabatan dan generasi sebagai anggota dari kelompok usia tertentu yang berbagi karakteristik sosial tertentu (Biggs, 2007). Kelompok generasi dianggap penting karena mampu untuk melihat dan memahami perbedaan pengalaman formatif terhadap perkembangan dunia dengan siklus hidup dan proses pertambahan usia untuk membentuk pandangan masyarakat terhadap dunia (Dimock, 2019). Baby boomer merupakan generasi yang terlahir pada tahun 1946 sampai dengan 1964 (BBC, n.d.). Baby boomer sendiri dikatakan sebagai generasi yang memiliki karakteristik sebagai berikut: 1. Menghargai kerjasama dan diskusi kelompok; 2. Memandang pekerjaan dengan perspektif berorientasi pada proses; 3. Percaya bahwa pencapaian didapatkan dengan bekerja keras; 4. Menghargai komtimen dan loyalitas; 5. Percaya pada pengorbanan untuk mencapai kesuksesan; 6. Mencari pekerjaan jangka panjang (Jorgensen, 2003). Internet telah menjadi tempat untuk pencarian informasi dikarenakan internet membentuk banyak pertanyaan pencarian strategis bagi pengguna informasi, ahli informasi, dan industri informasi (Nicholas et al., 2000). Penggunaan internet secara global meningkat dari 413 juta pengguna pada tahun 2000 sampai 3,4 miliar pengguna pada tahun 2016 (Roser et al., 2015). Penggunaan situs pencari seperti Google telah melakukan 12,38 miliar pencarian hal ini menunjukkan besarnya penggunaan internet untuk pencarian informasi (Clement, 2021). Penggunaan internet sebagai sumber informasi juga digemari karena alasan bahwa internet mudah dipahami, penting, menguntungkan, dapat dipercaya, dan akurat (Rhoades et al., 2008).

Method

Penelitian ini merupakan penelitian yang menggunakan metode kualitatif dengan fenomenografi. Alasan digunakan metode ini adalah untuk memetakan beragam cara seseorang menanggapi pengalaman dan memahami fenomena yang terjadi di sekitarnya secara kualitatif (Bowden, 2000). Dalam memilih informan, penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling dengan kriteria: 1. Menggunakan internet untuk pencarian informasi serta sebagai sumber informasi; 2. Lahir tahun 1946 – 1964, dan; 3. Bersedia untuk menjadi partisipan. Metode pengumpulan data dilakukan dengan wawancara terstruktur kepada sembilan informan, observasi dengan melihat pola penyebaran informasi yang didapat, dan studi dokumentasi. Setelah data terkumpul, dilakukan analisa untuk menentukan kritera yang kemudian kriteria tersebut dibentuk menjadi kategorikan untuk memudahkan dalam penyajian data. Kemudian ketika data sudah jenuh dilakukan penarikan kesimpulan.

Result & Discussion

4.1 Kategori 1: Buta terhadap Internet Pada kategori ini digambarkan bahwa responden memiliki pengetahuan yang minim mengenai penggunaan internet. Responden merasa adanya pengalaman positif dalam penggunaan internet namun secara keseluruhan responden tidak dapat menggunakan internet sebagai sumber informasi dengan baik. Dalam segi identifikasi informasi yang dibutuhkan responden menunjukkan bahwa responden melakukan identifikasi mengenai kebutuhan informasi yang dimiliki olehnya yang diperlihatkan bahwa responden mengetahui informasi apa yang ingin didapatkan yaitu mengenai berita yang sedang terjadi, hal ini ditunjukkan berdasarkan jawaban responden yang mengatakan “(Informasi yang dicarai merupakan) berita yang ada hari ini.” dan “Informasi berupa berita mengenai kejadian yang terjadi.” (R, 8 Juni 2021). Jawaban responden menunjukkan bahwa responden melakukan identifikasi informasi yang dibutuhkannya yang ditunjukkan bahwa responden memiliki kebutuhan informasi mengenai berita yang sedang terjadi. Meski demikian responden tidak menggunakan internet sebagai sumber informasi yang dibutuhkannya dari identifikasi yang dilakukan oleh R melainkan menggunakan media konvensional seperti televisi dan surat kabar, hal ini diperkuat dengan pernyataan responden yang mengatakan “(mencari informasi dengan) menonton tv, baca surat kabar, tanya teman dan keluarga” (R, 8 Juni 2021). Dalam segi cakupan ditunjukkan bahwa responden menggunakan surat kabar, televisi, dan rekan sebagai sumber informasinya yang dikatakan bahwa ” Nonton tv, baca surat kabar, tanya teman dan keluarga.” (R, 8 Juni 2021). Penjelasan tersebut menunjukkan bahwa cakupan informasi R cukup beragam namun internet tidak dijadikan salah satu cakupan sumber informasi, meski demikian R menunjukkan penggunaan berbagai macam sumber informasi. Pada aspek perencanaan responden mengatakan bahwa dia tidak pernah melakukan perancanaan seutuhnya dalam pencarian sumber informasi yang dikatakan R “Tidak pernah (melakukan perencanaan)” (8 Juni 2021). Perencanaan meliputi penyiapan di mana seseorang akan mencari informasi dan bagaimana mencari informasi tersebut. Hal tersebut tidak ditunjukkan oleh R baik secara eksplisit maupun implisit dalam jawaban responden. Responden tidak menunjukkan proses pengumpulan, pengumpulan sendiri dideskripsikan sebagai cara seseorang mengumpulkan informasi tersebut. R menunjukkan bahwa ia tidak melakukan pengumpulan secara baik yang ditunjukkan jarangnya responden mencari informasi sendiri berdasarkan pernyataan responden sebagai berikut “(mencari informasi) dengan menanyakan kepada orang lain” (R, 8 Juni 2021). Responden tidak mengorganisir informasi yang didapat, hal ini ditunjukkan ketika responden mendapat informasi dari orang lain ditujunkkan pada jawaban R “Simpan chatnya tidak saya hapus.” ( 8 Juni 2021). Pernyataan tersebut menunjukkan R hanya menyimpan pesannya saja tapi tidak mengorganisir informasi tersebut selain itu ditunjukkan juga bahwa informai yang disimpan oleh R hanyalah informasi yang didapat dari chat saja sedangkan informasi yang didapat dari media lain tidak disimpan. Hal ini juga menunjukkan bahwa R tidak mengelola informasi yang didapat. Hasil analisis juga menunjukkan bahwa responden tidak mampu melakukan proses evaluasi. Evaluasi sendiri yakni sebuah kegiatan untuk menguji kualitas dari informasi yang didapat hal ini tidak dilakukan oleh R yang dikatakan bahwa R “Tidak mampu, karena yang mengirim berita lebih dari 1 orang jadi saya bingung untuk mengetahui mana yang benar” (8 Juni 2021). Pernyataan tersebut tidak hanya menunjukkan bahwa banyaknya informasi menyebabkan R merasa kewahalan, tapi juga menunjukkan ketidak mampuan R untuk mengevaluasi informasi yang didapat secara mandiri. Responden sendiri memiliki kecenderungan untuk menggunakan media konvensional sebagai sumber utama informasi yang dibutuhkannya ditunjukkan berdasarkan pernyataan responden yang mengatakan “Ada seperti koran, majalah. Karena menggunakan koran lebih mudah mengetahui (kebenaran) berita” (R, 8 Juni 2021). Responden menunjukkan bahwa responden tidak memiliki preferesi menggunakan media internet sebagi sumber informasinya yang disebabkan media konvensional seperti surat kabar dianggap lebih mudah untuk mengetahui kebenaran dari informasi yang tersedia. Media internet yang digunakan hanyalah sebagai alat bantu untuk menanyakan kepada kerabat mengenai informasi yang dibutuhkan seperti yang dikatakan responden sebagai berikut “Pernah dengan wa tanya teman atau keluarga.” (R, 8 Juni 2021). Ini menunjukkan bahwa responden tidak mampu melakukan pencarian informasi secara mandiri, hal ini juga diperkuat dengan pernyataan responden mengenai penggunaan internet sebai berikut “...saya tidak begitu mengerti menggunakan internet.” (R, 8 Juni 2021). Informasi yang umumnya didapatkan oleh responden berupa kabar atau berita yang sedang terjadi yang dikatakan “Informasi berupa berita mengenai kejadian hari ini.” (R, 8 Juni 2021). Dalam pencarian informasi itu sendiri responden lebih sering menggunakan media konvensional seperti televisi, dan surat kabar. Responden juga mengatakan lebih menyukai surat kabar karena dengan surat kabar responden merasa lebih mudah mendapatkan berita yang didasarkan pada pernyataan responden sebagai berikut “(mencari informasi dengan) menonton tv, baca surat kabar, tanya teman dan keluarga.” serta “Ada (media lain yang lebih saya suka) seperti koran majalah. Karena menggunakan koran lebih mudah mengetahui berita.” (R, 8 Juni 2021). Responden menunjukkan adanya kesadaran perlunya evaluasi dari suatu informasi namun responden menunjukkan ketidak mampuannya untuk mengevaluasi informasi tersebut secara mandiri dan lebih mengandalkan bantuan orang lain. Responden juga memiliki tendensi menyebarkan informasi namun tidak ditunjukkan kalau responden melakukan pengecekan ulang mengenai informasi yang disebarkan. Responden juga mengaku bahwa merasa sulit untuk mengevaluasi kebenaran suatu informasi dikarenakan responden kewalahan dengan banyaknya informasi yang tersedia seperti yang dinyatakan sebagai berikut “Tidak mampu (mengevaluasi), karena yang mengirim berita itu lebih dari 1 orang jadi saya bingung mana yang benar.” (R, 8 Juni 2021). Dalam kehidupan sehari-hari responden merasa terbantu dengan adanya internet namun aspek membantu responden bukanlah aspek informasi melainkan aspek komunikasi yang memudahkan responden untuk berkomunikasi dengan teman dan keluarga seperti yang dikatakan responden sebagai berikut “Sangat membantu karena saya bisa komunikasi dengan teman dan keluarga” (R, 8 Juni 2021). Berdasarkan analisa berikut dapat dikatakan responden sangat awam menggunakan internet sebagai sumber informasi dengan ditunjukkannya bahwa responden tidak mengerti secara penuh mengenai penggunaan internet, responden juga tidak mampu untuk mengevaluasi kebenaran informasi yang ada, hal ini mengakibatkan preferensi responden dalam menggunakan media kovensional sebagai sumber informasi utama. Dari segi identifikasi responden menunjukkan sedikit aspek tersebut yang ditunjukkan bahwa responden memiliki kebutuhan informasi mengenai berita yang sedang terjadi hal ini diperlihatakan denga penggunaan televisi dan surat kabar. Cakupan informasi yang dimiliki oleh responden cukup beragam meliputi surat kabar, televisi, dan rekan, meski demikian responden tidak menjadikan internet sebagai cakupan yang disebabkan keterbatasan kemampuan penggunaan internet responden. Secara umum responden tidak melakukan perencanaan dalam pencarian informasi, R menunjukkan hanya menerima informasi secara insidentil saja baik mendapatkan berita dari televisi, surat kabar atau dari rekannya. R tidak mampu melakukan evaluasi ditunjukkan atas dasar kesulitannya untuk memverifikasi kebenaran informasi yang didapat karena banyaknya informasi, minimnya penggunaan internet juga menunjukkan bahwa R akan kesulitan melakukan verifikasi informasi yang bukan berita. Dalam pengelolaan informasi R menyimpan informasi yang didapatkannya namun R tidak mengorganisir informasi-informasi tersebut. Dari segi penyajian R menyajikan informasi yang didapat dengan menyebarkan informasi tersebut kepada rekan-rekannya 4.2 Kategori 2: Menguasai Namun Tidak Menjadi Andalan Pada kategori ini responden menunjukkan penggunaan internet sebagai sumber informasi meskipun penggunaan media konvensional masih lebih diminati. Penggunaan internet sendiri berarti responden menjadikan internet sebagai salah satu sumber informasinya. Hal ini ditujukkan berdasarkan pernyataan M, DS, HS, SP yang masing masing mengatakan: “Pernah (mencari informasi) melalui tv ,internet” (M, 9 Juni 2021) “Internet – google, media cetak” (DS, 9 Juni 2021) “Pernah melalui media surat kabar, telivisi, dan internet” (HS, 9 Juni 2021) “Surat Kabar, Radio, Televisi kadang Google” (SP, 10 Juni 2021) Informasi yang didapatkan juga beragam meliputi agama, kesehatan, manajemen, olah raga dan informasi umum. Keempat responden ini juga merasa internet membantu dalam kesehariannya dengan alasan informasi dari internet cepat, banyak, mudah, dan membantu kehidupan sehari-hari seperti yang dinyatakan berikut ini: “Membantu sekali karena informasi cepat” (M, 9 Juni 2021) “Sangat membantu, karena sangat mempermudah akses informasi” (DS, 9 Juni 2021) “Cukup membantu, karena informasi di internet banyak” (HS, 9 Juni 2021) “Sangat membantu, mempermudah apa yang akan kita lakukan dan kerjakan” (SP, 10 Juni 2021) Pernyataan berikut menunjukkan bahwa adanya pengalaman positif dari penggunaan internet yang disebabkan dari kemudahan yang diberikan oleh internet serta didapatkannya rasa keterbantuan dari penggunaan internet. Keempat responden tersebut juga sadar akan perlunya kemampuan literasi informasi yang ditunjukkan dengan responden merasa perlunya berhati-hati dalam mendapatkan informasi dengan sadarnya akan kebaradaan hoax, perlunya melakukan double check, dan membandingkan sumber. “Tidak selalu (dapat dipercaya) karna banyak berita hoax juga” (M, 9 Juni 2021) “Tidak semua informasi dapat dipercaya, karenanya kita harus mencari informasi lain juga misalnya dari TV” (DS, 9 Juni 2021) “Tidak semua. Krn tergantung siapa yang upload atau sumber nya” (HS, 9 Juni 2021) “Bisa , tapi harus tanya kepada orang lain dan (melihat) berita dari TV dan Radio” (SP, 10 Juni 2021) Pernyataan tersebut menunjukkan kesadaran akan kepentingan literasi informasi terutama pada aspek evaluasi karena responden menunjukkan bahwa banyaknya informasi di internet dapat menjadikan kualitas informasi yang didapat cukup rendah dan perlunya untuk mengevaluasi informasi yang didapatkan. Responden juga menunjukkan kemampuan literasi informasi yang cukup baik yang ditunjukkan dengan melakukan pengecekan ulang terhadap informasi yang didapat, mencari tahu kebenaran dari sumber lain, melakukan cek fakta, dan menyakan sumber asal informasi. “Selalu (mengevaluasi kebenaran) dengan me recheck dengan yang lain mengenai kebenarannya” (DS, 9 Juni 2021) “Sesuaikan (informasi yang didapat) dengan berita di tv atau surat kabar. Konfirmasi di google dengan cek fakta” (HS, 9 Juni 2021) “Tanyakan sumber pada pengirim berita dan lihat info di TV juga berita di Radio jika ada” (SP, 10 Juni 2021) SP juga menunjukkan uji coba sebagai bentuk evaluasinya. “Bila (informasi mengenai) pengobatan alternatif dicoba dahulu pada diri sendiri , jika itu dapat mengobati atau mengurangi rasa sakit baru deh sebarkan ke orang lain” (SP, 10 Juni 2021) Hal tersebut menunjukkan bahwa responden melakukan evaluasi atas informasi yang didapat. Salah satu aspek evaluasi yang dilakukan oleh responden yaitu dengan menguji sumber. Dari pernyataan di atas juga ditunjukkan bahwa responden melakukan pengumpulan informasi untuk menguji informasi yang didapat. Pengumpulan dilakukan dengan menggunakan media lain sebagai pebanding informasi yang didapat. Meskipun memiliki kemampuan evaluasi yang baik keempat responden menyatakan masih lebih menyukai media konvensional sebagai sumber informasi dengan alasan lebih mudah, terpercaya, dan lebih akurat. “(Lebih suka) TV karna saya lebih percaya berita dari TV” (M, 9 Juni 2021). “Media TV, krn informasinya lebih akurat dan lebih cepat sampai ke kita” (DS, 9 Juni 2021). “Surat kabar nasional. Krn sdh melalui proses check n recheck” (HS, 9 Juni 2021). “Televisi, jangkauannya lebih luas dan ada tamggung (tanggung) jawabanya” (SP, 10 Juni 2021) Pernyataan di atas menunjukkan bahwa meskipun responden menggunakan internet sebagai sumber informasi responden masih lebih memilih media konvensional sebagai sumber utama. Hal ini diperkuat dengan pernyataan responden mengenai banyaknya informasi yang diragukan kebenarannya di internet dan media konvensional lebih mudah untuk dipercaya karena adanya pertanggung jawaban yang jelas dibandingkan sumber internet yang terkadang minim pertanggung jawabannya. Dalam aspek identifikasi, yaitu mengenai kesadaran akan informasi yang dibutuhkan, keempat responden menunjukkan sudah adanya kesadaran mengenai informasi yang dibutuhkan hal ini ditunjukkan berdasarkan informasi yang ingin dicari seperti yang dikatakan sebagai berikut “(Mencari informasi tentang) pengajian, kesehatan” (M, 9 Juni 2021). “Informasi yang up to date yang sedang terjadi secara umum” (DS, 9 Juni 2021). “(Informasi mengenai) Manajemen” (HS, 9 Juni 2021), “(Informasi mengenai) Olah raga dan Kesehatan” (SP, 10 Juni 2021) Hal tersebut menunjukkan bahwa responden memiliki kebutuhan informasi dan mampu mengidentifikasi informasi apa yang dibutuhkan. Identifikasi juga ditunjukkan secara implisit pada paragraf sebelumnya mengenai evaluasi ditunjukkan ketika responden menggunakan media lain atau mencari ulang informasi tersebut untuk menguji kebenarannya. Untuk melakukan kegiatan ini diperlukan identifikasi informasi yang dibutuhkan, maka dapat dikatakan bahwa responden melakukan identifikasi. Aspek cakupan ditunjukkan pada responden mengenai kemampuan pengguna untuk menilai pengetahuan yang dimiliki serta penggunaan berbagai macam sumber informasi. Hal ini ditunjukkan dengan responden mecari tahu mengenai kebenaran informasi yang didapat sesuai dengan pengetahuan yang dimiliki oleh responden pada saat melakukan pencarian informasi. Cakupan juga lagi-lagi ditunjukkan pada paragraf evaluasi kita responden menyadari adanya pengetahuan yang tidak dimiliki mengenai topik tertentu sehingga diperlukannya untuk melakukan evaluasi. Dalam bagian penggunaan berbagai macam sumber informasi juga ditunjukkan pada pernyataan-pernyataan responden sebelumnya mengenai penggunaan berbagai sumber informasi termasuk media konvensional. Aspek perencanaan, yakni mengenai persiapan mengenai bagaimana seseorang mendaptkan informasi, juga sudah dilakukan oleh responden yang dilakukan dengan mencatat informasi yang akan dicari serta menyesuaikan waktu yang diperlukan untuk mendengarkan informasi atau berita dari media konvensional seperti yang dijelaskan sebagai berikut: “Mencatat beberapa info yang akan dicari” (HS, 9 Juni 2021). “Jika dari TV memilih stasiun TV yang akan ditonton. Jika dari Google menyiapkan yang akan dicari” (SP, 10 Juni 2021). “...pada jam terntentu seperti jam ( 12.00 , 20.00 , 22.00)” (SP, 10 Juni 2021) Pernyataan berikut menunjukkan bahwa responden benar-benar mempersiapkan strategi untuk mendapatkan informasi yang dilakukan cukup matang. Responden juga melakukan pengumpulan terhadap informasi yang dibutuhkannya. Pengumpulan, yang berarti kemampuan untuk menggunakan dan akses berbagai sumber informasi, umumnya dilakukan untuk menguji informasi yang didapat. Responden melaukan pengumpulan menggunakan media konvensional seperti televisi, surat kabar, dan radio serta responden juga menggunakan media internet. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya responden melakukan berbagai macam bentuk evaluasi dalam menilai kualitas informasi yang didapatkannya. Dalam aspek mengelola, yang berarti cara seseorang menyimpan dan mengorganisir informasi, responden menunjukkan bahwa mereka melakukan penyimpanan pada informasi yang mereka dapatkan seperti dikatakan sebagai berikut “Di simpan di hp dan diterapkan” (M, 9 Juni 2021). “Iya (disimpan), di catatan yang ada di hp” (DS, 9 Juni 2021). “Simpan di laptop” (HS, 9 Juni 2021), “Iya di simpan” (SP, 10 Juni 2021). Meski demikian responden tidak secara eksplisit maupun implisit mengatakan bahwa mereka mengorganisir informasi yang didapatkan. Responden hanya menyatakan bahwa mereka menyimpan informasi tersebut tidak diketahui apabila mereka juga mengorganisir informasi yang disimpan. Semua responden juga menyajikan, yang berarti menyajikan informasi yang didapat ke pada orang lain. Penyajian dilakukan dengan cara menyebarkan informasi yang dirasa benar kepada orang lain serta dirasa penting dan bermanfaat. Hal ini dikatakan sebagai berikut: “Pernah” (M, 9 Juni 2021). “Sering sekali terutama informasi yang penting dan mencegah hoax” (DS, 9 Juni 2021). “Kadang-kadang kalau informasi itu penting dan benar berdasarkan sumber lain” (HS, 9 Juni 2021). “Pernah dan sering bila menurut saya itu bermanfaat” (SP, 10 Juni 2021) Berdasarkan jawaban-jawaban responden dapat dikatakan bahwa internet bukan merupakan sumber utama dari responden yang disebabkan preferensi responden terhadap media kovensional yang dirasa lebih mudah tetapi responden juga menunjukkan kemampuan literasi informasi sehingga membantu responden dalam pemilahan informasi yang sesuai yang didapat dari internet. Responden juga merasa terbantu dengan keberadaan internet yang dianggap mempermudah askes informasi. Dalam kategori ini terlihat bahwa responden cukup menguasai penggunaan internet meskipun begitu terlihat bahwa responden tidak mengandalkan internet sebagai sumber informasi melainkan hanya sebagai alat bantu saja. Responden masih mengedepankan penggunaan media konvensional yang dianggap masih lebih mudah dalam mengetahui kualitas informasinya. Kemampuan literasi informasi yang ditunjukkan oleh responden juga cukup baik. Responden melakukan identifikasi yang ditunjukkan dengan adanya kesadaran mengenai informasi yang dibutuhkan. Responden juga memiliki cakupan yang baik ditunjukkan dengan adanya kesadaran atas keterbatasan pengetahuan yang dimiliki. Responden juga melakukan perencanaan dengan mempersiapkan mengenai apa yang ingin dicari dan di mana informasi tersebut akan didapatkan. Responden juga melakukan pengumpulan informasi yang dilakukan dengan menggunakan berbagai sumber informasi. Responden juga menunjukkan mampu untuk melakukan evaluasi dari informasi yang didapatkannya. Responden menunjukkan bahwa mereka mengelola informasi namun pengelolaan hanya sebatas penyimpanan informasi saja. Dan terakhir responden menyajikan informasi yang mereka dapat dengan menyebarkan informasi tersebut kepada orang lain. Secara keseluruhan responden menunjukkan bahwa mereka memiliki pengalaman yang baik dengan internet, dan merasa terbantu serta responden juga memiliki kemampuan literasi informasi yang cukup baik namun dapat dikatakan bahwa meskipun literasi informasi yang dimiliki responden cukup baik mereka tidak dapat secara baik menerapkan kemampuan tersebut dalam penggunaan internet yang dikatakan bahwa responden masih merasa bahwa media konvensional seperti televisi, radio, dan surat kabar masih lebih mudah untuk diketahui kebenarannya. 4.2.1 Sub Kategori 2: Internet Bukanlah yang Utama dan Memilliki Kemampuan Literasi Informasi Parsial Kategori ini terbentuk karena adanya kesamaan dalam pengalaman penggunaan internet namun terdapat sedikit perbedaan yang terjadi pada kategori ini. Perbedaan tersebut adalah kemampuan literasi informasi dari responden itu sendiri. Meskipun responden menunjukkan kemampuat literasi informasi yang baik namun sebagian menunjukkan bahwa ada sedikit kesulitan dalam mengevaluasi kebenaran suatu informasi dari internet terutama jika informasi tersebut berada di luar ranah pengetahuan responden tersebut. Hal ini ditunjukkan berdasarkan pernyataan M dan DS sebagi berikut: “Kalo (informasi) ttg agama saya lihat dihadist dan quran tp kalo (informasi) yang saya tidak tahu tanya teman”. (M, 9 Juni 2021). “Kadang2 mampu kadang2 tidak. Kalau informasinya saya mengerti saya tau saya bisa cek kebenerannya” (DS, 9 Juni 2021) Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa kemampuan literasi informasi responden dalam mengevaluasi informasi hanya sebatas pengetahuan yang dimengerti oleh responden. Untuk informasi yang berada di luar pengetahuan responden, responden tidak dapat melakukan evaluasi secara baik. 4.3 Kategori 3: Mengandalkan secara Buta Pada kategori ini responden menunjukkan penggunaan internet sebagai sumber informasi yang cukup sering yang ditunjukkan dengan penggunaan internet sebagai media utama sumber informasi seperti yang dikatakan oleh AS “Pernah (mencari informasi sendiri). (Menggunakan) media internet” (AS, 6 Juni 2021). AS menunjukkan melakukan identifikasi informasi yang dibutuhkan. Informasi yang biasa dicari meliputi kesehatan, masakan, dan juga berita. AS juga menunjukkan kemampuan menggunakan internet yang dikatakan “(mencari informasi dengan) browsing sendiri. Kadang minta bantuan orang lain” (AS, 6 Juni 2021). AS mengaku tidak pernah melakukan evaluasi ketika mendapatkan informasi. AS merasa terbantu dengan adanya internet karena menurutnya dengan internet AS cepat mendapatkan informasi. AS juga tidak memiliki preferensi media lain dan lebih mengunggulkan menggunakan internet. Berdasarkan dari jawaban responden, responden menunjukkan minimnya kemampuan literasi informasi. Kemampuan literasi informasi yang ditunjukkan AS hanyalah kemampuan identifikasi untuk mencari informasi yang diinginkan namun AS tidak menjelaskan mengenai cakupan informasinya. AS juga tidak melakukan perencanaan yang mendetail dalam pencarian informasinya. Perencanaan yang dilakukan hanya sebatas menggunakan internet untuk mencari informasi yang dibutuhkan. AS melakukan pengumpulan dengan cara “Browsing sendiri. Kadang minta bantuan orang lain.” (AS, 6 Juni 2021). Meski demikian AS tidak melakukan evaluasi terhadap informasi yang didapatkannya sama sekali. AS mengelola informasi yang didapat dengan cara menyimpan informasi tersebut dalam buku. AS juga tidak menyajikan informasi yang didapat yang dikatakan bahwa AS menyimpan informasinya untuk dirinya sendiri saja. Jawaban AS menunjukkan bahwa AS lebih memilih media internet sebagai sumber informasi dan AS tidak melakukan kemampuan literasi informasi karena alasan yang tidak disebutkan. AS juga sepenuhnya mempercayai informasi yang di dapat dari internet hal ini menunjukkan kurangnya kemampuan literasi informasi AS dalam pengujian kebenaran informasi yang didapat. Kemampuan literasi informasi yang ditunjukkan oleh AS hanya sebatas identifikasi, sedikit perencanaan, dan menyajikan. Hal ini menunjukkan bahwa AS memiliki kemampuan literasi informasi yang cukup rendah meski demikian AS tetap mengatakan bahwa internet merupakan sumber utama dari informasi yang dibutuhkannya. 4.4 Kategori 4: Mengandalkan Namun Tidak Menguasai Pada kategori ini ditunjukkan adanya penggunaan internet sebagai sumber informasi B dan I menunjukkan bahwa mereka menjadikan internet sebagai sumber utama dari informasi yang didapat yang ditunjukkan berdasarkan pernyataan berikut: “Pernah (mencari informasi) menggunakan internet” (B, 14 Juni 2021). “Internet kadang tv. Lebih suka internet soalnya kalo internet kita bisa cari apa yang dimau kapan saja kalau tv kan harus nunggu jam tertentu” (I, 14 Juni 2021). Pernyataan I di atas juga menunjukkan adanya preferensi dalam penggunaan internet karena kemudahannya dalam mengakses informasi yang dibutuhhkan. B dan I menunjukkan kesadaran akan perlunya kemampuan literasi informasi dengan menunjukkan perlunya dilakukan pengecekkan sumber seperti yang dikatakan sebagai berikut: “(Informasi dari internet) dapat dipercaya, caranya dengan melakukan klarifikasi dari sumber yang disebutkan pada informasi tersebut” (B, 14 Juni 2021). “Bisa dikatakan seperti dengan mencari sumber yang lain” (I, 14 Juni 2021) B dan I menunjukkan bahwa mereka melakukan identifikasi pada informasi yang mereka butuhkan hal ini ditunjukkan dengan pernyataan mengenai informasi yang dicari sebagai berikut: “Hal-hal yang terkait dengan islam” (B, 14 Juni 2021). “Tentang resep makanan” (I, 14 Juni 2021) B dan I juga menunjukkan cakupan pengetahuan yang dimiliki dengan menyadari keterbatasan pengatahuan pada sumber informasi yang didapat yang dikatakan sebagai berikut: “Pernah (mengevaluasi) tapi kadang kadang saja. (Dilakukan) dengan mencari informasi dari sumber lain” (B, 14 Juni 2021). “Mencari tahu dari sumber-sumber yang lain jika menemukan kejanggalan” (I, 14 Juni 2021) Meskipun jawaban responden mengenai evaluasi informasi namun secara implisit dapat dikatakan bahwa responden menyadari cakupan pengetahuan yang dimiliki. Cakupan dapat dikatakan bahwa seseorang menyadari bahwa dia tidak mengetahui mengenai hal tertentu. Ketika responden melakukan evaluasi makan dapat dikatakan bahwa responden menyadari bahwa mereka tidak memiliki pengetahuan mengenai informasi yang didapat sehingga mereka melakukan proses evaluasi untuk mencari tahu. Dalam segi perencanaan B tidak mengkonstruksi strategi pencarian informasi yang mendetail dikatakan bahwa “Tidak pernah, dadakan saja” (B, 14 Juni 2021). Sedangkan I mengatakan hanya terkadang dalam melakukan perencanaan. Namun perencanaan yang singkat dilakukan dengan ditunjukkannya bahwa responden akan menggunakan internet untuk mencari informasi yang dibutuhkan. B dan I melakukan pengumpulan informasi dengan melakukan pencarian melalui Google yang dikatakan sebagai berikut: “Mengetik materi yang diperlukan di Google” (B, 14 Juni 2021) “Membuka Google dan mencari informasi yang diinginkan” (I, 14 Juni 2021) Pengumpulan informasi juga ditunjukkan pada pernyataan sebelumnya yang mengatakan bahwa responden melakukan pencarian sumber-sumber lain sebagai keperluan evaluasi. Meski demikian tidak ditunjukkan secara jelas sumber-sumber lain seperti apa yang digunakan oleh responden. Namun meskipun B dan I menunjukkan kesadaran akan perlunya evaluasi pada informasi yang didapat mereka mengaku tidak dapat melakukan evaluasi itu sendiri yang disebabkan kebingungan mengenai informasi yang ada serta mereasa sulit untuk mengenali sumber informasi tersebut “Sering tidak mampu karena sulit mencari / mengenal sumber informasinya” (B, 14 Juni 2021) “Tidak mampu karena sering bingung dengan informasi yang ada” (I, 14 Juni 2021) Ketidak mampuan ini juga terlihat pada pernyataan B saat menjelaskan mengenai menyebarkan informasi yang didapat “Bila informasi (yang didapat) saya rasa benar, share ke WAG yang lain” (B, 14 Juni 2021) hal ini menunjukkan kurangnya kemampuan literasi informasi dari B yang ditunjukkan dengan tidaknya dilakukan pengecekkan ulang atau evaluasi informasi yang didapatkan. Hal yang sama juga ditunjukkan oleh I mengenai pertanyaan yang sama “Dibaca saja jika benar dan bagus akan diinformasikan ke temen” (I, 14 Juni 2021). Meskipun demikian B dan I pernah melakukan evaluasi informasi yang didapat meskipun tidak dilakukan dengan sering berdasarkan pernyataan berikut: “Pernah (mengevaluasi) tapi kadang kadang saja. (Dilakukan) dengan mencari informasi dari sumber lain” (B, 14 Juni 2021). “Mencari tahu dr sumber2 yang lain jika menemukan kejanggalan” (I, 14 Juni 2021) B dan I mengelola informasi yang didapat dengan melakukan penyimpanan informasi yang didapat dalam perangkat mereka masing masing. Yang dikatakan sebagai berikut: “Simpan file di HP” (B, 14 Juni 2021) “Menyimpan di file” (I, 14 Juni 2021) Namun tidak ditunjukkan apabila responden melakukan organisasi informasi yang mereka dapat. B dan I juga menunjukkan bahwa mereka menyajikan informasi yang mereka dapat dengan menyebarkan informasi tersebut ke orang lain seperti yang dikatakan sebagai berikut: “Bila informasi (yang didapat) saya rasa benar, share ke WAG yang lain” (B, 14 Juni 2021) “Dibaca saja jika benar dan bagus akan diinformasikan ke temen” (I, 14 Juni 2021). B dan I juga mengatakan bahwa internet merupakan preferensi dari sumber informasi dengan mengatakan tidak ada media lain yang disukai sebagai sumber informasi. Selebihnya B dan I merasa internet membantu karena memudahkan pencarian informasi serta membantu menambah pengetahuan, “Ya..., karena sangat memudahkan dalam mencari info / data yang dibutuhkan. Lebih mudah, karena di internet semua informasi yang dibutuhkan sudah terangkum seluruhnya” (B, 14 Juni 2021). “Ya membantu banyak yang saya tidak tau jadi lebih tau. Apa yang kita butuhkan dengan mudah didapatkan” (I, 14 Juni 2021) Secara keseluruhan respon B dan I menunjukkan bahwa internet merupakan sumber informasi yang diunggulkan oleh kedua responden. Responden juga menunjukkan adanya sedikit pengetahuan mengenai kemampuan literasi informasi meskipun tidak mampu untuk mempraktikkannya. Hal ini menunjukkan adanya kekurangan pada kemampuan literasi informasi responden. B dan I terutama pada aspek evaluasi informasi yang didapat. Hal ini ditunjukkan dengan kemampuan B dan I dalam menggunakan internet sebagai sumber informasi namun B dan I kurang memiliki kemampuan untuk membuktikan atau menentukan kebenaran dari informasi tersebut. juga menunjukkan bahwa internet sangat membantu dalam kehidupan kesehariannya yang ditunjukkan dengan banyaknya informasi yang ada serta mudah didapatkan. Pada aspek lain seperti identifikasi B dan I menunjukkan bahwa mereka mampu mengidentifikasi kebutuhan informasi mereka. B dan I juga menunjukkan cakupan pengetahuan mereka dengan menyadari kurangnya pengetahuan mengenai topik tertentu. B dan I melakukan perencanaan sederhana dalam pencarain sumber informasinya. B dan I juga melakukan pengumpulan informasi namun tidak dijelaskan secara detail dari mana saja sumber informasi didapatkan. Evaluasi seperti yang telah dijelaskan sebelumnya dilakukan oleh responden namun tidak maksimal, dikarenakan adanya kendala dalam memahami sumber. Dalam segi pengelolaan informasi B dan I menyimpan informasi yang mereka dapat namun tidak diketahui apabila mereka mengorganisir informasi tersebut. B dan I menyajikan informasi yang didapat dengan menyebarkan informasi tersebut kepada orang lain. Dapat disimpulkan B dan I mengungguli penggunaan internet dalam sumber informasi meski demikian B dan I tidak mampu secara maksimal melakukan evaluasi terhadap sumber informasi yang didapat. 4.5 Kategori 5: Menguasai Internet Pada kategori ini responden menunjukkan bahwa internet merupakan sumber utama dari kebutuhan informasi. Responden juga menunjukkan kemampuan literasi informasi yang baik dalam menggunakan internet. Responden melakukan identifikasi dalam penggunaan internet yang dikatakan bahwa responden mencari “Informasi yang bersifat umum saja, hanya sebagai bahan pebanding” (D, 17 Juni 2021). D juga menunjukkan cakupan informasinya yang ditunjukkan bahwa D membutuhkan informasi sebagai bahan pebanding untuk menguji kualitas informasi hal ini sesuai dengan salah satu aspek cakupan yang dijelaskan oleh sconul yakni dapat menilai mengenai pengetahuan yang dimiliki saat ini (Bent & Stubbings, 2011). Hal ini ditunjukkan pada pernyataan D yang menunjukkan bahwa D memiliki keterbatasan mengenai pengetahuan akan informasi yang didapat sehingga D mencari informasi lain sebagai pebanding. Namun dari segi perencanaan D mengatakan “Jarang, sebab pencarian tersebut hanya bersifat insidentil biasanya yang saya lakukan adalah saat ingin mengetahui tentang sesuatu yang dibutuhkan” (D, 17 Juni 2021) yang menunjukkan bahwa D tidak melakukan strategi secara khusus dalam pencariaannya. Meskipun tidak memiliki perencanaan secara khusus D menunjukkan sedikit aspek perencanaan yaitu dengan menggunakan media pencari Google sebagai alat bantu pencarian. Dalam mengumpulkan informasi responden menggunakan mesin pencari Google sebagai media utama pencariannya seperti yang dikatakan D sebagai berikut: “Pernah (mencari informasi), biasanya melalui media google” (D, 17 Juni 2021). “Biasanya yang saya lakukan adalah saat ingin mengeetahui tentang sesuatu yang dibutuhkan saya cari melalui google” (D, 17 Juni 2021). D juga menunjukkan kemampuan evaluasi yang baik dengan ditunjukkan dengan seringnya melakukan pencarian informasi sebagai pembanding informasi yang didapatkan “Informasi (yang dicari) yang bersifat umum saja, hanya sebagai bahan pebanding” (D, 17 Juni 2021). Selain itu D juga sangat sering melakukan evaluasi informasi yang didapat yang dikatakan “Saya sering melakukan evaluasi terhadap kebenaran informasi tersebut, evaluasi yang saya lakukan membandingkan dengan media lainnya. Setiap kali mendapatkan informasi yang belum jelas kebenerannya biasanya saya mencari pembanding dengan media lainnya.” (D, 17 Juni 2021) “Un

Conclusion

Berdasarkan analisis hasil penelitian mengenai penggunaan internet sebagai sumber informasi pada generasi baby boomer berdasarkan kemampuan literasi informasi dapat ditarik simpulan bahwa terdapat lima kategori pengunaan internet sebagai sumber informasi berdasarkan kemampuan literasi informasinya yaitu: 1. Buta terhadap internet, yang berarti responden buta atau tidak menunjukkan kemampuan penggunaan internet sebagai sumber informasi bersamaan dengan sedikitnya kemampuan literasi informasi dari responden. Namun responden masih mampu untuk menggunakan internet sebagai alat bantu komunikasi. 2. Menguasai namun tidak menjadi andalan, menunjukkan bahwa responden secara keseluruhan mampu menggunakan internet sebagai sumber informasi namun demikian responden menunjukkan bahwa media konvensional masih dianggal lebih baik dijadikan sebagai sumber informasi dibandingkan dengan media internet. 3. Mengandalkan secara buta, berarti responden sudah menggunakan internet sebagai sumber informasinya namun responden tidak kritis dalam penggunaanya dan sangat minim dalam kemampuan literasi informasinya. 4. Mengandalkan namun tidak menguasai, menunjukkan bahwa responden sudah memilih internet sebagai sumber informasi karena pertimbangan banyaknya informasi yang tersedia serta mudahnya akses informasi. Namun responden masih tidak bisa secara baik menentukan kebenaran suatu informasi berdasarkan kemampuan literasi informasinya. 5. Andal untuk digunakan, pada kategori ini responden sudah merasa bahwa internet bisa untuk diandalkan sebagai sumber informasi, responden juga mampu untuk memilah dan menentukan informasi mana yang benar serta mampu untuk menguji kebenaran suatu informasi hal ini menyebakan responden memiliki preferensi penggunaan internet sebagai sumber informasinya. Hasil dari penelitian juga menunjukkan bahwa terlepas dari preferensi dan pengalaman penggunaan internet sebagai sumber informasi kelima kategori menunjukkan bahwa internet membantu pengguna dalam kehidupan sehari-hari yang dikarenakan banyaknya informasi yang tersedia, serta mudahnya akses informasi. Hasil juga menunjukkan bahwa literasi informasi memiliki peran terhadap pengalaman penggunaan internet sebagai sumber informasi. Berdasarkan penelitian juga ditunjukkan pada beberapa kategori meskipun internet membantu masih ada yang lebih memilih media konvensional yang dikarenakan kemudahannya dalam memastikan keakuratan informasi tersebut, sesuatu yang tidak dimiliki internet karena banyaknya sumber yang tidak dikenali oleh pengguna. Secara keseluruhan meskipun internet dirasa membantu karena banyaknya informasi yang tersedia, banyaknya informasi tersebut juga menjadi kendala bagi pengguna untuk menentukan kebenaran informasi tersebut. Kemampuan literasi informasi juga berperan penuh dalam kemampuan pengguna untuk dapat menggunakan internet sebagai sumber informasi dengan baik.