Kembali
16
1
2022 Anuva: Jurnal Kajian Budaya, Perpustakaan, dan Informasi Vol 6 · 2 ISSN 2598-3040

Literasi Informasi Relasional Penulis Karya Fiksi dalam Proses Kepenulisan Karya Fiksinya : Sebuah Kajian Systematic Literature Review pada Database Tandofline

Universitas Diponegoro; Universitas Diponegoro

Abstrak

Dalam proses kepenulisan fiksi, terdapat kegiatan yang perlu dilakukan yakni menjaga keakuratan unsur nyata yang telah dimasukkan kedalam karya fiksi. Ketidakakuratan dapat memunculkan masalah bagi censorship karya tulisnya serta image penulis karya fiksi tersendiri. Penelitian ini bertujuan untuk menjabarkan ragam pengalaman literasi informasi relasional para penulis karya fiksi, dipilihnya model relasional karena berfokus pada perbedaan setiap penulis mendapati pengalamannya masing-masing. Penulis karya fiksi memiliki cakupan yang ditentukan melalui metode penelitian systematic literature review. Pendekatan metode penelitian berupa meta-sintesis atau konfiguratif dengan cara meta-agregasi untuk menjawab research question yang merupakan tahap planning. Tahap conducting berupa persempitan dari 30 artikel yang diperoleh dengan kriteria inklusi dan eksklusi melalui database ilmiah tandofline. Kemudian dipersempit kembali dengan penilaian qualitas menyisakan 5 artikel. Tahap reporting menunjukan adanya pengalaman literasi informasi relasional penulis karya fiksi berupa kolaborasi dengan ilmuwan, literasi dokumen oral atau tertulis, serta pengalaman atau pengamatan pribadi.

Abstract

During a fiction’s writing process, there are activities that need to be carried out, namely maintaining the accuracy of the real elements that have been included in fictions. Inaccuracies can create problems such as censorship and a ruined image of fiction writer itself. This study aims to describe the various experiences of relational information literacy of fiction’s writer, the relational model was chosen because it focuses on the differences in each writer's experience. Fiction’s writers have been scoped that is determined through a systematic literature review research method. The research method approach is meta-synthesis or configuration by using meta-aggregation to answer the research question as the planning stage. The conducting stage is narrowing down of 30 articles obtained through inclusion and exclusion criteria with scientific tandofline database. Then it was narrowed down again with quality assessment leaving 5 articles. The reporting stage shows the existence of fiction writers’ relational information literacy experiences in the form of collaborations with scientists, oral or written document literacy, as well as personal experiences or observations.
Keywords: relational information literacy · systematic literature review · fiction writer · writing process

Introduction

Karya fiksi biasa dikenali sebagai salah satu bentuk hiburan yang dapat digunakan sebagai pelarian diri untuk para pembaca dan juga penulis dari kehidupan nyata (Papac, 2017). Karya fiksi juga merupakan karya yang mencoba untuk menggabungkan apa yang realistis dan apa yang merupakan karangan (Wood, 2013), dan banyaknya hal menarik untuk diketahui seputar keberhasilan para penulis karya fiksi mencari kemudian mengetahui informasi terkait unsur realita dibalik karyanya serta penggabungan dengan karangannya. Penulis karya fiksi juga menciptakan suatu karya tulis yang berasal dari imajinasi, karya tulis ini lebih bersifat menghibur karena menceritakan suatu kejadian atau kehidupan seseorang atau sesuatu sepenuhnya berasal dari imajinasi pencipta (Farner, 2014). Penulis karya fiksi dalam penelitian ini mencakup penulis fiksi yang dibahas dalam artikel internasional sehingga cenderung berasal dari negara yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa utamanya. Systematic literature review sebagai metode penelitian ini penting dilakukan terhadap pengalaman literasi informasi relasional para penulis fiksi terkait proses kepenulisannya, karena ketepatan hasil yang dapat diperoleh melalui review protocol dalam systematic literature review. Terlebih lagi, penulis karya fiksi yang dikaji sebagian besar merupakan penulis ternama dan diteliti dari setiap sumber literatur berupa penelitian ilmiah sehingga validitas informasinya bernilai lebih kredibel. Hal ini dipertimbangkan dengan efisiensi waktu dan tenaga yang lebih mudah jika dilakukan pengkajian pada berbagai sumber literatur elektronik (Stewart et al., 2016). Dengan demikian, konsep literasi informasi dalam penelitian ini dapat juga menggunakan metode systematic literature review karena keterhubungannya dengan dunia pendidikan yang biasanya diterapkan pada aktivitas pembelajaran (Hicks, 2013) Proses kepenulisan fiksi tidak lepas dari imajinasi, dan tidak ada batasan untuk penulisan fiksi tentunya. Terdapat contoh seorang penulis bernama Daniel yang menuliskan fiksi atas kendalinya, namun merasa malu karena adanya teguran dari salah satu pembacanya yang masih seorang bocah terkait ketidakakuratan dalam karya fiksinya (Wolsey, 2014). Ada beberapa peralatan penting yang diperlukan dalam proses kepenulisan fiksi, yakni membaca, bertanya ke sekitar, dan double-checking (Wolsey, 2014). Dalam kepenulisan fiksi, penulis karya fiksi juga seringkali menempatkan kisah mereka di tempat, era atau momen yang nyata, dan dari hal tersebut, muncul juga masalah seperti ketidakakuratan penempatan unsur nyata, terdapat contoh kasus menunjuksn pembaca yang tidak ingin membaca lagi novel dari penulis fiksi tertentu, dikarenakan ketidakakuratan penempatan telefon yang belum diciptakan pada saat latar waktu kisah fiksi tersebut berlangsung (Osborne, 2010). Adapun kasus lain seperti adanya daftar buku tersensor oleh American Library Association dimana suatu buku dapat terkena censorship atau dianggap sebagai challenged books yaitu inaccuracy (ketidakakuratan). Dengan demikian, ketidakakuratan merupakan salah satu tantangan setiap karya fiksi yang memiliki unsur nyata dan perlu lebih dibenahi melalui penelitian ini, dengan mengkaji mengenai literasi informasi relasional para penulis karya fiksi, keragaman literasi informasi mereka guna memvalidasi ulang unsur nyata dalam karyanya dan menghindari hal yang tidak diinginkan layaknya censorship ataupun agar memberikan kesan lebih realistis kepada pembaca, sehingga dapat memunculkan ikatan lebih yang memunculkan rasa lebih terhubung antara karakter dalam karya fiksi dengan pembaca. 2. Landasan Teori 2.2 Konsep Proses Kepenulisan Terdapat tiga kegiatan yang bisa dilakukan dalam proses kepenulisan, yakni membaca, bertanya ke sekitar dan double-checking (Wolsey, 2014). Ketiganya penting dalam proses menulis karya apapun termasuk fiksi, dan dijelaskan bahwa penulis harus memiliki kecerdasan dalam berpikir dan memahami konten yang akan mereka tuliskan, tidak hanya keahlian dalam menulis saja. Diberikan contoh juga oleh Wolsey bahwa masalah yang menginisiasi tiga kegiatan dalam proses kepenulisan tersebut adalah saat penulis karya fiksi tidak memasukkan unsur nyata kedalam karyanya secara akurat, dan berdampak pada image penulis yang menurun. Kemudian ditunjukkan bahwa memang beberapa penulis memasukkan unsur nyata dalam karyanya, dan perlunya ada perhatian terhadap keakuratan unsur tersebut jika penulis tidak ingin merasa malu atau kehilangan minat dari para pembaca (Osborne, 2010). Osborne juga menyebutkan bahwa memang tidak ada batasan untuk semua bentuk karangan diciptakan dalam karya fiksi. Proses kepenulisan fiksi perlu adanya kegiatan wawancara oleh penulis karya fiksi dengan subjek terkait unsur nyata yang hendak dimasukkan kedalam karyanya (Lowdermilk, 2019). Lowdermilk menggunakan teori dari Charlotte L. Doyle (1998) terkait seed incident yaitu unsur nyata dalam karya fiksi. Selanjutnya dalam penelitian ini, peneliti menggunakan konsep proses kepenulisan fiksi baik itu dari Wolsey ataupun Osborne, keduanya saling melengkapi dan penting untuk menjadi landasan utama mengapa ditelitinya proses kepenulisan fiksi, serta penunjukan bahwa memang terdapat unsur nyata di karya fiksi yang memerlukan pemastian keakuratan selama proses kepenulisannya. Sedangkan Lowdermilk memang juga relevan untuk digunakan, namun ia menggunakan teori dari Doyle terkait seed incident yang istilahnya tidak sering muncul dalam sumber literatur proses kepenulisan. Maka tidak dapat peneliti masukkan dalam proses pencarian sumber literatur nanti, sehingga penelitian Lowdermilk tetap hanya menjadi penelitian terdahulu yang peneliti gunakan gap analisisnya sebagai acuan inovasi penelitian ini. 2.3 Konsep Literasi Informasi Relasional Literasi informasi adalah kumpulan kemampuan yang mengharuskan individu untuk mengenali saat informasi dibutuhkan dan memiliki kemampuan (Bruce, 1997). Dalam hal ini guna dapat menemukan, mengulas, dan menggunakan informasi yang dibutuhkan dengan efektif. Bruce juga memaparkan mengenai jenis literasi informasi dengan model relasional dimana lebih memperhatikan pada keberagaman pengalaman yang dialami oleh semua pencari informasi dalam kegiatan literasi informasi, berdasarkan penjelasan mereka masing-masing (Bruce, 1997). Terdapat penjelasan mengenai penelitian literasi informasi relasional yang dilakukan oleh para pustakawan dan staf akademik di Universitas Central Queensland (CQU) melalui pengidentifikasian contoh perilaku setiap mahasiswa yang diartikan sebagai bukti dari model relasional (Catts, 2005). Para pustakawan dan staf akademik meneliti literasi informasi relasional berfokus pada perbedaan pengalaman dari setiap mahasiswa tersebut, khususnya dalam mencari atau menelusuri informasi. Ada juga definisi lain oleh Vezzosi mengenai literasi informasi relasional yang tentu saja tidak terlepas dari Bruce karena relasional model sendiri merupakan konsep asli buatan Bruce. Adanya kaitan model relasional dengan teori Morin (1993) karena penggunaam kata fenomena dalam mengartikan literasi informasi relasional, yakni merupakan hal yang ecosystemic atau cara menyeluruh dalam memahami dunia, serupa dengan pengartian literasi informasi relasional yang fenomenal, yaitu berfokus pada bagaimana setiap cara di dunia ini dialami (Vezzosi, 2004). Peneliti menggunakan konsep literasi informasi Bruce karena dari Catts maupun Vezzosi sama-sama menggunakan teori relasional milik Bruce sebagai acuan utama. 2.4 Konsep Literasi Informasi dalam business writing Literasi informasi merupakan kemampuan yang penting dan dapat meningkatkan business writing, business writing merupakan kemampuan menulis dalam bidang bisnis, sebagai salah satu bentuk implementasi penting dibawah komunikasi bisnis (Katz et al., 2010). Katz mengemukakan bahwa untuk bidang komunikasi bisnis secara umum, rintangannya adalah untuk mengakui bahwa literasi informasi berperan sebagai kemampuan yang dapat meningkatkan kualitas praktik komunikasi bisnis. Dalam pengajaran mengenai literasi informasi juga pernah disebutkan mengenai kegunaan literasi informasi dalam topik instruksi bisnis (Fiegen, 2011). Serta adanya praktik yang dilakukan oleh Jacobson (1993) dalam (Fiegen, 2011) yang menggunakan teori kognitif dalam menggunakan pengajaran literasi informasi dalam bidang bisnis, disebutnya sebagai business information literacy. Integrasi antar literasi informasi dan kurikulum bisnis pernah dilakukan secara efektif, integrasi tersebut membutuhkan kolaborasi antar fakultas bisnis dan pustakawan (Wu & Kendall, 2006). Literasi informasi dalam mahasiswa departemen bisnis dibutuhkan, guna meningkatkan kemampuan mereka dalam mencari sampai dengan memahami informasi yang dibutuhkan dalam perpustakaan. Hal ini ditegaskan kembali oleh Atkinson dan Figueroa (1997) dalam (Wu & Kendall, 2006) bahwa saat dilakukannya kolaborasi antar para professor bisnis dan pustakawan terkait literasi informasi, para mahasiswa terkait menjadi handal dalam menggunakan sumber literatur yang relevan serta kemampuan penelitian mereka juga meningkat. Peneliti mendalami bahwa kepenulisan fiksi para penulis dengan business writing ini merupakan kedua hal yang serupa, sama-sama ditujukan untuk meningkatkan kualitas dan hasil kerja para profesional yang kemudian merujuk pada penghasilan dari kerja mereka, atau biasa disebut sebagai gaji, insentif ataupun penghargaan kerja secara umumnya. Dengan demikian, peneliti menggunakan konsep dari Katz et al (2010) yang lebih relevan pengartian penulisan bisnis dengan penulisan karya fiksi karena sama-sama secara komersial mendapatkan keuntungan berupa uang, ketenaran, pemenuhan hobi untuk pencapaian diri atau bahkan sekedar mengkontribusikan ide dari pikiran penulis ke suatu keilmuan atau hiburan. Guna karya tulis tersebut diterbitkan atau mendapatkan pengakuan positif dari sasaran pembaca, penulis fiksi dalam penelitian ini perlu memiliki kemampuan literasi informasi. Didukung dengan jika terdapat unsur nyata dalam karya mereka, karena bentuk tulisan yang mereka hasilkan serupa dengan business writing, ditujukan untuk memberikan manfaat dalam keberlangsungan suatu pekerjaan sampai dengan pencapaian tujuan yang menghasilkan keuntungan. Walaupun literasi informasi yang dimaksud dalam business writing mengacu pada versi American College dan Research Libraries (ACRL) yakni behavioral, peneliti dapat mengkaitkannya dengan literasi informasi relasional sehingga lebih cocok dan fleksibel untuk diteliti dengan cara pemvalidasian penulis dalam memenuhi karya fiksinya.

Method

Pada bab ini, peneliti menjelaskan metode penelitian yang akan digunakan, beserta latar belakang dan pengimplementasian metode melalui tahapan sampai dengan proses analisis data yang akan dilakukan. Peneliti menggunakan tahapan yang diawali dengan research question, search process, kriteria inklusi dan eksklusi, quality assessment (Kitchenham et al., 2009) dan tahapan tambahan berupa teknik pengumpulan data, dan sintesis data (Apriliani et al., 2020). 3.1 Objek Penelitian Objek penelitian ini adalah pengalaman literasi informasi relasional penulis fiksi. Objek diperoleh dari berbagai sumber informasi ilmiah elektronik dengan kriteria tertentu yang terkait dengan topik penelitian (Xiao & Watson, 2017). 3.2 Pemilihan Metode Penelitian Peneliti memilih systematic literature review karena dibutuhkannya sumber informasi ilmiah yang beragam untuk mengetahui objek penelitian ini, melalui sumber-sumber informasi tersebut kemudian membantu menyelesaikan perumusan masalah penelitian. Kondisi yang memudahkan dan hasil pencarian informasi disesuaikan dengan pemenuhan tinjauan pustaka sebelumnya, ditemukan bahwa sumber informasi yang bersifat digital tersedia lebih banyak serta lebih memungkinkan untuk digunakan (Xiao & Watson, 2017). Systematic literature review memiliki 3 tahap, yaitu planning, conducting dan reporting (MacLure et al., 2016). Planning merupakan perencanaan yang terkandung dalam tahap research question agar dapat terlaksana secara sistematis dan terfokus apa yang hendak dicari dan direncanakan. Conducting adalah memperoleh data diawali dengan taha-tahap yang terkandung dalam review protocol, yakni search process, kriteria inklusi dan eksklusi, serta quality assessment. Selanjutnya adalah reporting yakni melaporkan hasil akhir (Apriliani et al., 2020), reporting dilakukan melalui tahap sintesis data dimana peneliti akan mengkaji setiap hasil reporting dan disintesisikan guna menjawab tahap planning yaitu research question. Dalam meta-sintesis terdapat dua pendekatan, salah satunya yang peneliti gunakan adalah meta-agregasi (meta-aggregation) untuk menjawab research questions melalui rangkuman dari seluruh hasil pencarian penelitian yang diperoleh melalui conducting (Siswanto, 2012). 3.3 Pertanyaan Penelitian (Research Question) RQ1 : Bagaimana ragam pengalaman literasi informasi relasional penulis karya fiksi selama proses kepenulisan yang memiliki unsur nyata dalam karyanya? Dipilihnya research question ini dikarenakan relevansinya dengan apa yang akan diteliti. Research question juga spesifik pada permasalahan yang perlu dijawab (Perry & Hammond, 2002), serta disesuaikan dengan perumusan masalah pada penelitian ini. 3.4 Review Protocol Review protocol berperan sebagai pendekatan dan metode apa yang digunakan, serta dirumuskan sebelum pencarian sumber literatur dieksekusi (Tummers et al., 2021). Review protocol menunjukan kompleksitas proses eksekusi pencarian sumber literatur, karena systematic review harus dilakukan dengan metodologi yang ketat (Perry & Hammond, 2002) agar menjauhi bias data. 3.4.1 Proses Pencarian (Search Process) Conducting dilakukan pada tahap ini tiga database akademik yang peneliti gunakan, yaitu tandfonline.com. Sebelum dilakukannya conducting secara keseluruhan, peneliti sudah terlebih dahulu mencari artikel sample di google scholar guna memastikan bahwa apa yang hendak dicari memang tersedia. Google scholar digunakan karena menunjukan hasil dari berbagai database ilmiah lain (Cooke & Donlan, 2008). Peneliti menemukan artikel oleh Rebecca Martin (1998) yang relevan, namun berasal dari jurnal diluar kesusastraan sehingga diperlukan perluasan cakupan database ilmiah yang interdisiplin. Dipilihnya Tandofline dikarenakan database ilmiah tersebut beberapa kali muncul melebihi database lain dalam menunjukan artikel yang relevan saat peneliti sedang mencari artikel-artikel sample, sehingga peneliti tertarik untuk lanjut mencari pada database ilmiah. 3.4.2 Kriteria Inkulsi dan Ekslusi Tahap ini termasuk pada conducting, hasil pencarian penelitian akan dipersempit melalui kriteria yang akan ditentukan oleh peneliti (Kitchenham et al., 2009). Berikut kriterianya: 1. Data diperoleh dari tiga database akademik yang berbeda dengan masing-masing telah terindeks atau peer-reviewed, hal ini dikarenakan para peneliti dari berbagai disiplin ilmu seringkali menggunakan batasan tiga database akademik dalam pemenuhan penelitiannya (Xiao & Watson, 2017) 2. Data memiliki kajian serupa yaitu mengenai proses kepenulisan karya fiksi, hal ini dapat menjawab research question sebagai permasalahan utama untuk nanti dapat diselesaikan. 3. Data menggunakan fitur advanced search pada rumus logika Boolean dan mempersempit dengan hanya memunculkan hasil data yang berupa artikel pada advanced atau faceted search jika tersedia. Pencarian yang memerlukan hasil spesifik sangat terbantu dengan penggunakan operator boolean yang juga memungkinkan pemotongan kata di pernyataan pencarian dan penentuan penempatan kata kunci yang spesifik di dokumen tertentu (Rowley & Slack, 2004). Data yang dikumpulkan dipersempit dengan hanya memasukkan hasil pencarian berdasarkan 30 artikel pertama dengan kriteria best first yang most relevant. Dibutuhkannya sumber literatur dari berbagai tahun mengenai penulis karya fiksi yang hidup di era yang tidak terbatas persempitannya, maka peneliti mengandalkan fitur best first yang most relevant. Best first berpengaruh besar dalam memberikan hasil pencarian sesuai dengan persempitan yang dipilih, bisa itu berupa relevansi, popularitas, dan tanggal (Morville & Callender, 2010). Best first juga prioritas utama untuk diperhatikan dalam pencarian di mesin penelusuran, semakin kebawah hasil pencarian maka semakin tidak sesuai dengan apa yang dicari (Morville & Callender, 2010), maka dari itu peneliti hanya memilih 30 artikel pertama. Selain itu, peneliti tentu memilih best first berdasarkan relevansi karena dibutuhkannya kata kunci presisi berada pada keseluruhan artikel yang dicari. 3.4.3 Penilaian Kualitas (Quality Assessment) Tahap ini sebagai conducting evaluasi atau penyesuaian kembali data yang diperolah dengan kriterianya. Berikut pertanyaan evaluasi untuk tahap ini: QA1 : Apakah data dapat diakses secara digital dan tersedia untuk digunakan oleh peneliti? QA2 : Apakah dijelaskan dalam artikel cara yang dilakukan penulis selama proses kepenulisannya yang hendak atau telah memasukkan unsur nyata kedalam karya? (baik itu secara implisit maupun eksplisit) Kemudian setiap artikel akan diberikan skor untuk pertimbangan bahwa sesuai dengan kriteria dan evaluasi. a.Ya (Y) : Artikel penelitian sesuai dengan pertanyaan pada Quality Assessment b.Tidak (X) : Artikel tidak sesuai dengan pertanyaan Quality Assessment Setiap quality assessment memiliki korelasi dengan research question dan juga kriteria inklusi dan eksklusi. Hal tersebut sebagai penilaian guna lebih memastikan lebih lanjut apakah artikel layak untuk dianalisis dan mampu menjawab research question (Apriliani et al., 2020; Kitchenham et al., 2009; Triandini et al., 2019) Penentuan QA2 diambil berdasarkan kemampuannya terkait pengalaman literasi informasi penulis fiksi. Melalui QA2 akan dijelaskan adanya penyebutan pengalaman literasi informasi penulis fiksi baik itu secara implisit maupun eksplisit sehingga dapat mendukung hasil analisis guna menjawab research question. 3.4.4 Teknik Pengambilan Data Tahap conducting terakhir ini menguraikan teknik pengumpulan data artikel agar mencapai tahap analisis data. Berikut teknik yang dilakukan: 1. Menentukan kata kunci yang berkaitan dengan topik penelitian ini dengan rumus pencarian informasi tabel rumusan berikut ini (Avery, 2017) : Tabel 1. Perumusan Kata Kunci Topic Statement Keyword 1 Keyword 2 Keyword 3 Keyword 4 Fiction Writer in Writing Process, Excluding Non Fiction Fiction Writer Writing Process Non-Fiction 2. Menuju ke database akademik Tandofline, kemudian menuliskan rumusan kata kunci. 3. Menggunakan fitur advanced search pada logika Boolean dan persempitan area judul; Tabel 2. Perumusan Kata Kunci dengan Logika Boolean Fiction Writer All AND Writing All OR Process All AND NOT Non-fiction All 4, Jika tidak terdapat fitur logika boolean yang disediakan namun tetap dapat digunakan perumusannya, maka yang akan digunakan adalah logika boolean secara manual yakni : Tabel 3. Perumusan Kata Kunci dengan Logika Boolean Secara Manual “Fiction Writer” AND “Writing” OR “Process” AND NOT “Non-Fiction” 3.4.5 Sintesis Data Pada tahap ini merupakan reporting, setelah semua data terkumpulkan melalui seleksi dari inclusion and exclusion criteria, kemudian seusai dinilai relevansinya dengan topik penelitian ini melalui quality assessment. Setelah melalui kedua tahap pertimbangan tersebut, hasil data akan dianalisis untuk menjawab research question.

Result & Discussion

Guna melanjutkan pada sintesis data, diperlukan hasil dari quality assessment untuk menunjukan berapa dan artikel apa saja yang akan dikaji Tabel 4. Hasil Quality Assessment NO Penulis Judul Tahun QA1 QA2 Hasil 1 Maria Takolander The uncanny mask and the fiction writer 2021 Y X  2 Craig Barrow On a Moral Fiction Writer's Last Novel: Gardner's Mickelsson's Ghosts 1985 Y X  3 R. Mac Jones ‘Fiction is the Final Draft’: Don DeLillo's Advice to Fiction Writers 2013 Y X  4 Mike Miley … And Starring David Foster Wallace as Himself: Performance and Persona in The Pale King 2016 Y X  5 Tony J. Watson Shaping the story: rhetoric, persuasion and creative writing in organisational ethnography 1995 Y X  6 Robert Graham Sanchia Page, 1983: An excerpt from a novel 2020 Y X  7 Mikhail Zoshchenko & G. Belaia On the Comic in Chekhov 1967 Y X  8 Richard Skeates The infinite city 1997 Y X  9 Amit R. Baishya ‘Because we are not apart, we are a part’: an interview with Vandana Singh 2021 Y Y  10 Hiroko Hirakawa Give Me One Good Reason to Marry a Japanese Man: Japanese Women Debating Ideal Lifestyles 2004 Y X  11 Robert Boyers Anecdotage: Some Stories and Reflections on Psychoanalysis and Literature 2008 Y X  12 Emron Esplin Reading and Re-Reading: Jorge Luis Borges' Literary Criticism on Edgar Allan Poe 2010 Y X  13 Aki Hirota Kirishima Yōko and the Age of Non-Marriage 2004 Y X  14 Beverly A. Smith Ann Petry's In Darkness and Confusion and the Harlem Riot of 1943: Fictional Insights into the Causes and Nature of Collective Violence 2001 Y Y  15 Rebecca Martin Ben Hecht on the Jazz Age: The Scoop and the Scorn 1998 Y Y  16 Louise Bethlehem Lauren Beukes’s post-apartheid dystopia: inhabiting Moxyland 2014 Y X  17 Paul Sharrad Albert Wendt and the Problem of History 2002 Y Y  18 Vincent Lloyd Post-Racial, Post-Apocalyptic Love: Octavia Butler as Political Theologian 2016 Y X  19 A. Urban Science Fiction: Fantasy or Philosophy? 1966 Y X  20 Sabrina Fuchs Abrams The Bitch Is Back: A Reappraisal of Mary McCarthy for the 21st Century 2020 Y X  21 Dominic Moran Borges and the Multiverse: Some Further Thoughts 2012 Y X  22 William E. Herman & Bry an K. Herman Humanistic Themes in Science Fiction: An Interview With David A. Kyle 2006 Y Y  23 Monica Boria Echoes of Counterculture in Stefano Benni's Humour 2005 Y X  24 Carlos Scolari DIGITAL ECO_LOGY: Umberto Eco and a semiotic approach to digital communication 2009 Y X  25 Chiara Cigarini Science Fiction and the Avant-Garde Spirit: An Interview with Han Song 2018 Y X  26 Robert Chrisman Aspects of Pan-Africanism 1973 Y X  27 Ulrike Tabbert & Juh ani Rudanko Aspects of Characterisation in James Hadley Chase's Crime Fiction: Multiple Perspectives 2021 X X  28 Joseph McLaren James Matthews: From Cry Rage to the New South African Nation 2016 Y X  29 Joff P. N. Bradley Exhausted philosophy and islands-to-come 2019 Y X  30 Gerald Lynch Norman Duncan's First Short Story Cycle, The Soul of the Street: Correlated Stories of the New York Syrian Quarter 2010 Y X  Keterangan: QA1 : Apakah data dapat diakses secara digital dan tersedia untuk digunakan oleh peneliti? QA2 : Apakah dijelaskan dalam artikel cara yang dilakukan penulis selama proses kepenulisannya yang hendak atau telah memasukkan unsur nyata kedalam karya? (baik itu secara implisit maupun eksplisit)  : Artikel tidak memenuhi Penilaian Kualitas  : Artikel memenuhi Penilaian Kualitas Biru : Artikel yang memenuhi Penilaian Kualitas Melalui database ilmiah tandofline terdapat 5 artikel, diantara total 5 artikel terdapat 1 artikel dengan pengalaman literasi informasi penulis yang eksplisit, berikut tabel berisikan informasi terkait 5 artikel sebelum lanjut ke tahap berikutnya untuk diorganisir: Tabel 5. Kumpulan Informasi Terkait 5 Artikel 1 ‘Because we are not apart, we are a part’: an interview with Vandana Singh Amit R. Baishya (2021) (Judul Karya Fiksi) So Long Been Dreaming Ambiguity and Other Stories Vandana Singh (Penulis Karya Fiksi) Penulis fiksi yang diwawancarai dalam artikel ini bernama Vandana Singh, seorang penulis fiksi ilmiah (science-fiction (sci-fi)) khususnya mengenai perubahan iklim sebagai unsur atau masalah dari dunia nyata. Ia sekaligus juga seorang asosiasi profesor fisika di Perguruan Tinggi Negeri Framingham di Amerika Serikat. Dalam wawancara artikel ini, Singh menjelaskan secara langsung selama proses pembuatan karya fiksinya, Singh sempat berkolaborasi pertama kali pada tahun 2013 dengan Pusat Sains dan Imajinasi dari Perguruan Tinggi Negeri Arizona. Saat itu ia berperan sebagai partisipan dalam proyek Hieroglyph, melalui hal itu ia dapat melakukan penelitian untuk karya fiksinya berbarengan dengan diskusi bersama ilmuwan iklim berbagai jenis yakni ahli kebijakan, ilmuwan polar, antropolog dan bahkan ilmuwan yang tinggal bersama komunitas Inuit di Kanada Utara (Baishya, 2021, p. 8, para. 3). Tidak hanya itu, Singh juga menuliskan karya fiksi mengenai komunitas Dalit, hal ini dapat dianggap sebagai unsur nyata selama proses kepenulisannya, dan meminta beberapa anggota dari komunitas tersebut untuk membaca tulisannya sebelum diterbitkan (Baishya, 2021, p. 12, para. 1) untuk memastikan keakuratan serta lampu hijau secara langsung dari komunitas yang berkaitan. 2 Ann Petry's In Darkness and Confusion and the Harlem Riot of 1943: Fictional Insights into the Causes and Nature of Collective Violence Beverly A. Smith (2001) (Judul Karya Fiksi) In Darkness and Confusion The Street Ann Petry (Penulis Karya Fiksi) Karya fiksinya menggambarkan kondisi kehidupan miskin di Harlem, Amerika Serikat, hal ini merupakan salah satu unsur nyata selama proses kepenulisan dalam karyanya. Sesuai kaitannya dengan sejarah ketika terjadi kerusuhan Harlem yang terekam sejarah pada tahun 1943 yakni tepat dimana Petry berada dan saat itu ia sedang bekerja untuk redaksional People’s Voice. Petry menuliskan berita mengenai permasalahan yang menyebabkan kerusuhan serta kekacauan di jalanan Harlem (Smith, 2001, p. 4, para. 1), kerusuhan tersebut juga merupakan unsur nyata dalam karyanya dan mengindikasi dengan kuat bahwa adanya pengalaman pribadi secara langsung dari Petry untuk bisa menciptakan karya fiksinya tersebut, terlebih lagi ia yang saat itu secara langsung juga meliput keberlangsungan kejadian. Novelnya yang berjudul The Street menjadi sukses dan merupakan novel terlaris pertama ciptaan wanita afrika-amerika karena penjualannya mencapai sejuta. 3 Ben Hecht on the Jazz Age: The Scoop and the Scorn Rebecca Martin (1998) (Judul Karya Fiksi) 1001 Afternoons in Chicago Where The Blues Sound Ben Hecht (Penulis Karya Fiksi) Ben Hecht merupakan penulis karya fiksi di Chicago dari tahun 1914 sampai dengan 1924, ia juga sekaligus merupakan reporter dan disebut dalam artikel, Hecht juga memiliki kemampuan biola yang sangat baik karena telah sehingga banyak observasi akurat terkait era awal musik jazz dalam karya fiksinya (Martin, 1998, p. 20, para. 1). Pada karyanya berjudul 1001 Afternoons in Chicago, ia menunjukan pengetahuan akan judul lagu, grup dan tempat yang sangat ternama pada saat itu, setiap penggambarannya akan elemen musik jazz juga dinilai sangat mendetail dan akurat (Martin, 1998, p. 20, para. 3). Tidak hanya kemampuan pribadi yang mendukung literasi informasi Hecht dalam karyanya untuk menjaga keakuratan unsur nyata selama proses kepenulisannya. Hecht juga melakukan observasi yang baik terhadap suatu tempat, khususnya pada Where the Blues Sound, tempatnya persis pada klub malam di 35th and State Streets dan menggambarkan pada saat itu tahun 1920an, orang berkulit putih dan hitam sama-sama bergaul di klub malam tersebut. Hal tersebut dikonfirmasi oleh Ostransky bahwa memang pada saat itu terdapat klub malam kulit hitam yang terkenal (Martin, 1998, p. 24, para. 3). Situasi terkait musik jazz dan kehidupan malam di Chicago dapat peneliti identifikasi sebagai unsur nyata selama proses kepenulisan pada karya Hecht. 4 Albert Wendt and the Problem of History Paul Sharrad (2002) (Judul Karya Fiksi) Ola Leaves of the Banyan Tree Sons for the Return Home Flying Fox in a Freedom Tree Albert Wendt (Penulis Karya Fiksi) Albert Wendt adalah penulis karya fiksi sekaligus sejarawan yang seringkali menulis tentang kultur komunitasnya sendiri yaitu Samoa (Sharrad, 2002, p. 109, para. 2). Sharrad menyebutkan bahwa penggunaan kemampuan Wendt terhadap observasi sosial dan data historis dipergunakan dengan baik dengan simbol puitis kemudian dicurahkan kedalam karyanya, hal ini menunjukan bahwa Wendt tidak hanya menggunakan pengetahuan dan pengalaman pribadi, namun juga bacaan terhadap data sejarah untuk mendukung jalan setiap cerita tulisannya (Sharrad, 2002, p. 110, para. 3). Kehidupan pribadi terkait komunitasnya dapat peneliti identifikasi sebagai unsur nyata selama proses kepenulisan dalam karya Wendt. 5 Humanistic Themes in Science Fiction: An Interview With David A. Kyle William E. Herman & Bryan K. (2006) Tidak disebutkan David A. Kyle (Penulis Karya Fiksi) David A. Kyle merupakan penulis sci-fi, seniman dan penerbit, dalam artikel ini tidak disebutkan pendalaman karyanya, hanya melalui wawancara mengenai konsep sci-fi. Kyle juga secara rutin menghadiri konvensi sci-fi dan saat artikel ini diunggah, rutinitas tersebut masih aktif, ia juga promotor sci-fi yang sangat tekun (Herman & Herman, 2006, p. 264, para. 2). Guna menginterpretasikan lebih pada pengalaman literasi informasi penulis yang implisit, peneliti memperhatikan latar belakang pendidikan atau pengetahuan serta kemampuan penulis untuk memastikan bahwa mereka memang eligible untuk berperan sebagai sumber informasi utama pada karya fiksinya sendiri. Baik itu disampaikan penjelasannya oleh peneliti artikel terkait atau latar belakang faktual dari penulis karya fiksi itu sendiri. 4.3 Analisis Data Pada analisis data akan diuraikan sampai dengan sintesis semua informasi dari setiap artikel yang relevan, untuk menjawab research question yang sudah peneliti tentukan. 4.3.1 Uraian Pengalaman Literasi Informasi Relasional Penulis Uraian dilakukan guna mempermudah pemahaman terkait setiap pengalaman yang sudah terorganisir melalui tabel dibawah ini. Setiap uraian yang terorganisir akan membantu pengenalan contoh setiap pengalaman literasi informasi relasional para penulis karya fiksi yang telah terjadi. Juga mempermudah proses pengelompokan selanjutnya pada tabel 6. Uraian Setiap Pengalaman Literasi Informasi Relasional Penulis Karya Fiksi NO Karya Fiksinya Tentang Apa/Siapa? Pengalaman Literasi Informasi Penulis Fiksi Artikel Terkait Penulis Artikel 1 Perubahan Iklim & Kasta Dalit Seorang asosiasi professor fisika Vandana Singh ‘Because we are not apart, we are a part’: an interview with Vandana Singh Amit R. Baishya Kolaborasi dengan Pusat Sains dan Imajinasi di PTN Arizona Ikutserta proyek Hieroglyph Meminta review terlebih dahulu dari beberapa anggota komunitas Dalit sebelum diterbitkan 2 Kerusuhan Harlem tahun 1943 Seorang jurnalis saat kerusuhan terjadi Ann Petry Ann Petry's In Darkness and Confusion and the Harlem Riot of 1943: Fictional Insights into the Causes and Nature of Collective Violence Beverly A. Smith 3 Kehidupan malam di Chicago Seorang reporter Ben Hecht Ben Hecht on the Jazz Age: The Scoop and the Scorn Rebecca Martin Pemain biola yang handal Pernah ke tempat yang ada di karyanya secara langsung 4 Kehidupan dalam suku Samoa Bagian dari sukunya sendiri (Samoa) Albert Wendt Albert Wendt and the Problem of History Paul Sharrad Seorang Sejarawan 5 Sci-fi Rutin hadir di konvensi scifi David A. Kyle Humanistic Themes in Science Fiction: An Interview With David A. Kyle William E. Herman & Brya Promotor sci-fi n K. 4.3.2 Pengelompokkan Pengalaman Literasi Informasi Relasional Penulis Peneliti serta pembaca akan lebih mudah mengenali garis besar pengalaman dari penulis karya fiksi yang telah peneliti dapatkan melalui pengelompokan pada tabel dibawah ini. Pengelompokan ini membantu untuk sintesis akhir yang dapat menjawab research question sebagai tahap terakhir metode yakni reporting. Tabel 7. Pengelompokkan Pengalaman Literasi Informasi Relasional Penulis Fiksi NO Kelompok Pengalaman LI Penulis Fiksi Artikel Terkait Penulis Artikel 1 Literasi dokumen oral/tertulis Albert Wendt Albert Wendt and the Problem of History Paul Sharrad 2 Pengalaman/Skill/Pe ngamatan Pribadi Ann Petry Ann Petry's In Darkness and Confusion and the Harlem Riot of 1943: Fictional Insights into the Causes and Nature of Collective Violence Beverly A. Smith Ben Hecht Ben Hecht on the Jazz Age: The Scoop and the Scorn Rebecca Martin Albert Wendt Albert Wendt and the Problem of History Paul Sharrad Vandana Singh ‘Because we are not apart, we are a part’: an interview with Vandana Singh Amit R. Baishya 3 Kolaborasi Ahli Vandana Singh ‘Because we are not apart, we are a part’: an interview with Vandana Singh Amit R. Baishya David A. Kyle Humanistic Themes in Science Fiction: An Interview With David A. Kyle William E. Herman & Bryan K. Keterangan: Biru : Duplikasi data Albert Wendt Oranye : Duplikasi data Vandana Singh 4.3.3 Sintesis Ragam Pengalaman Literasi Informasi Relasional Penulis Salah satu penulis diatas yaitu Vandana Singh melakukan kegiatan literasi informasi yang lengkap. Singh sendiri merupakan ilmuwan perubahan iklim sehingga memiliki pengetahuan pribadi yang kredibel, serta kegiatan lain yang melibatkan beberapa ilmuwan dalam suatu proyek terkait perubahan iklim dimana Singh juga menciptakan karya fiksinya terkait bidang yang didalami. David A. Kyle memiliki rutinitas menghadiri konvensi atau pertemuan sci-fi sehingga hal ini peneliti identifikasi sebagai kolaborasi antar ahli dalam bidang terkait. Sedangkan untuk pengalaman literasi informasi Albert Wendt, Ann Petry dan Ben Hecht, peneliti hanya dapat perkirakan dengan penyebutan indikasi oleh peneliti artikel terkait dengan masing-masing penulis. Albert Wendt, sama seperti Vandana Singh pada tabel tidak hanya berpatok pada satu kegiatan literasi informasi, Wendt melakukan literasi dokumen terkait kultur sukunya yaitu Samoa melalui neneknya yang menjelaskan secara oral atau lisan sejarah Samoa (Sharrad, 2002), kemudian Wendt juga termasuk melakukan literasi informasi dengan penambahan pengetahuan serta pengalaman pribadi yang dialami sebagai bagian dari anggota suku, hal ini disebut oleh Sharrad (peneliti artikel terkait Wendt). Sedangkan Albert Wendt berasal dari suku yang Wendt sendiri jadikan tema atau karakter dalam karya fiksinya, hal ini peneliti jadikan sebagai indikasi bahwa pengalaman literasi informasi yang mereka lakukan berasal dari pengalaman serta pengetahuan pribadi atas komunitas yang mereka sendiri merupakan bagian dari itu. Ann Petry juga memiliki latar belakang bekerja di perusahaan redaksional ketika kerusuhan Harlem terjadi pada tahun 1943, Petry secara langsung menjadi saksi atas kejadian tersebut dan menuliskan karya fiksi yang berlatar belakang dengan kejadian yang sama, sehingga hal ini menjadikan latar belakang ia pribadi eligible sebagai pengalaman literasi informasi pribadi. Serupa juga dengan Hecht yang merupakan seseorang ahli dalam musikal Jazz, disebutkan oleh Rebecca Martin bahwa Hecht adalah pemain biola yang sangat handal, tidak hanya itu, penggambarannya akan klub malam pada tahun 1920an juga dinilai akurat.

Conclusion

Penelitian ini mengkaji tentang ragam pengalaman literasi informasi relasional penulis karya fiksi selama proses kepenulisan karya tulisanya. Proses kepenulisan juga memiliki kegiatan untuk menjaga keakuratan jika karya fiksi memiliki unsur dari dunia nyata, karena terdapat tantangan bagi penulis karya fiksi dengan karya yang tidak akurat, seperti munculnya masalah berupa censorship bagi karyanya, berkurangnya minat dari pembaca, adanya kritik yang membuat penulis fiksi merasa malu. Total 5 artikel diperoleh dengan masing-masing penulis karya fiksi menunjukan kesamaan pengalaman literasi informasi relasional berupa kolaborasi ahli, literasi dokumen oral atau tertulis, serta pengalaman atau pengamatan pribadi. Kolaborasi ahli ditunjukkan melalui Vandana Singh, yakni penulis karya fiksi yang bekerjasama dengan Pusat Sains & Imajinasi dari PTN Arizona dan keikutsertaannya dengan proyek hieroglyph yang berkecimpung seputar topik yang dibahas dalam karya fiksi Singh. Literasi dokumen oral atau tertulis ditunjukkan dengan Albert Wendt sebagai sejarawan secara implisit juga melakukan kegiatan literasi dokumen terkait sukunya yang ia masukkan ke dalam karyanya. Selanjutnya, pengalaman atau pengamatan pribadi yang lebih banyak dilakukan oleh para penulis fiksi, seperti Ann Petry yang pernah menjadi jurnalis saat kerusuhan Harlem tahun 1943 yang merupakan unsur nyata dalam karya fiksinya, Ben Hecht yang pernah mendatangi langsung tempat yang ia deskripsikan dalam karya fiksinya, juga kedetailan alunan musik jazz karena ia sendiri merupakan pemain musik yang handal. Albert Wendt yang merupakan bagian dari suku Samoa sekaligus seorang sejarawan, ia membahas tentang kultur Samoa dalam karya fiksinya. Vandana Singh selain dari kolaborasi ahli, ia juga merupakan ilmuwan sains dan berhubungan dengan topik yang ia bahas dalam karya fiksinya, terakhir yaitu David A. Kyle yang merupakan seorang pegiat sci-fi dan karya fiksinya sebagian besar memiliki tema sci-fi.