Kembali
16
1
2022 Anuva: Jurnal Kajian Budaya, Perpustakaan, dan Informasi Vol 6 · 4 ISSN 2598-3040

Makna Microlibrary Warak Kayu di Randusari Kecamatan Semarang Selatan Kota Semarang Bagi Penggagas dan Masyarakat

Universitas Diponegoro; Universitas Diponegoro

Abstrak

Penelitian ini membahas makna Microlibrary Warak Kayu di Randusari, Kecamatan Semarang Selatan, Kota Semarang, Jawa Tengah. Microlibrary Warak Kayu merupakan salah satu perpustakaan yang telah berdiri pada tahun 2020 di Kota Semarang. Microlibrary Warak Kayu memiliki tujuan untuk meningkatkan minat baca masyarakat Kota Semarang dengan menerapkan desain bangunan yang unik. Keberadaan Microlibrary Warak Kayu menjadi salah satu fenomena baru di tengah masyarakat Kota Semarang. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui bagaimana penggagas dan masyarakat memaknai keberadaan Microlibrary Warak Kayu. Metode penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Data dianalisis dengan menggunakan analisis tematik. Teknik pengambilan data menggunakan observasi, studi dokumen, dan wawancara. Observasi dilakukan dengan melakukan pengamatan secara langsung di lokasi penelitian,media sosial dan artikel online. Studi dokumen dilakukan pada dokumen yang berkaitan dengan pembangunan dan kegiatan Microlibrary Warak Kayu. Wawancara semi-terstruktur dilakukan dengan dua penggagas, satu pengelola, dan lima masyarakat pengguna sebagai informan. Temuan penelitian menunjukkan adanya interaksi yang terjalin antara motif penggagas dengan pemikiran masyarakat pengguna. Hal tersebut menghasilkan makna Microlibrary Warak Kayu sebagai bentuk inovasi perpustakaan, sumber informasi, sarana edukasi dan rekreasi, serta aset Kota Semarang. Selain itu, diketahui masyarakat Kota Semarang mengalami peningkatan dalam minat baca. Hasil penelitian memiliki manfaat bagi Microlibrary Warak Kayu dalam mengembangkan layanannya sehingga dapat dimaknai secara lebih dalam oleh masyarakat pengguna. Lebih lanjut, hasil penelitian dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam pembangunan microlibrary lainnya.

Abstract

The study discussed the meaning of the Microlibrary Warak Kayu. The Microlibrary Warak Kayu is a library that was established in 2020 in Semarang City. The Microlibrary Warak Kayu aims to increase the reading interest of people by implementing unique building designs. The existence of the Microlibrary Warak Kayu is a new phenomenon among people in Semarang City. The purpose of this study is to find out how the initiators and the community interpret the existence of the Microlibrary Warak Kayu. The study used qualitative with a phenomenological approach. Thematic analysis used to analyze the collected data. To collect data, the researcher used observation, document study, and interviews. The observation was done by observing the research location,social media and online articles. The document study was done by using document about construction and the Microlibrary Warak Kayu’s activity. The semi-structured interview was done with two initiators, one manager, and five users as informants. The result of study show an interaction between the initiator's motives and the thoughts of the user community. This resulted in the meaning of the Microlibrary Warak Kayu as a form of library innovation, a source of information, educational and recreational facilities, and an asset for the City of Semarang. In additon, it is known that the people of Semarang City have increased their interest in reading. The findings could be useful for the Microlibrary Warak Kayu in expanding the services to be more interpreted by the users. In addition, the findings could be considered in developing other microlibraries.
Keywords: library meaning · microlibrary · microlibrary Warak Kayu · Semarang City

Introduction

Perpustakaan merupakan tempat yang menyediakan berbagai sumber informasi. Melalui programnya, perpustakaan membantu pemerintah untuk membantu mencerdaskan bangsa. Dalam Undang-undang Nomor 47 Tahun 2007 berbagai jenis perpustakaan telah didirikan mulai dari perpustakaan nasional, perpustakaan umum, perpustakaan sekolah, perpustakaan perguruan tinggi, perpustakaan khusus, dan seiring perkembangan teknologi perpustakaan elektronik juga menjadi ide baru. Dalam perkembanganya perpustakaan diharapkan lebih mendekatkan diri kepada masyarakat sebagai bentuk pemerataan fasilitas belajar. Salah satu perpustakaan umum yang mendekatkan diri kepada masyarakat sedang berkembang di Indonesia dikenal dengan nama microlibrary. Microlibrary merupakan perpustakaan umum yang berfungsi untuk memenuhi kebutuhan informasi masyarakat secara berkelanjutan sekaligus meningkatkan kinerja melalui bahan bangunan dan konsep ramah lingkungan (Lafargeholcim, 2018). Salah satu microlibrary berhasil didirikan dan memiliki desain unik hingga disorot oleh mata dunia adalah Microlibrary Warak Kayu. Desain Microlibrary Warak Kayu berhasil meraih penghargaan Popular Choice dalam ajang penghargaan arsitek Architizer A+ Awards 2020 dalam kategori perpustakaan dan pada awal tahun 2021 microlibrary ini juga mendapatkan penghargaan bergengsi Building of The Year dari ArchDaily (Alexander, 2021). Microlibrary Warak Kayu menyediakan berbagai fasilitas yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar. Fasilitas tersebut diantaranya yaitu ada berbagai koleksi bahan pustaka, tempat bermain dan ruang komunitas. Fasilitas yang disediakan Microlibrary Warak Kayu berfungsi untuk mendukung peningkatan minat baca masyarakat Kota Semarang terutama anak-anak. Dilansir dalam media berita menyebutkan minat baca masyarakat kota Semarang mengalami peningkatan dan harus terus didukung dengan penyediaan fasilitas membaca bagi masyarakat (Jawapos, 2019). Seperti yang diungkapkan oleh pegiat literasi bahwa salah satu pendukung peningkatan minat baca adalah menyediakan fasilitas bacaan bagi masyarakat (Solihin et al., 2019). Hadirnya Microlibrary Warak Kayu menjadi jawaban akan pentingnya penambahan fasilitas membaca bagi masyarakat Kota Semarang. Bagi sebagian orang, Microlibrary Warak Kayu dianggap sebagai perpustakaan pada umumnya yang menyediakan fasilitas membaca. Akan tetapi, ada kemungkinan bahwa penggagas dan masyarakat tidak hanya menganggap microlibrary ini hanya sekedar tempat membaca. Pada kenyataannya, Microlibrary Warak Kayu memiliki peran ganda yaitu sebagai perpustakaan sekaligus destinasi kunjungan. Microlibrary Warak Kayu juga berdiri dengan keunikan dan berbagai fasilitas yang menarik hingga memungkinkan jika penggagas dan masyarakat mampu untuk memaknai keberadaan Microlibrary Warak Kayu yang berasal dari pemikiran mereka sendiri. Pemikiran tersebut kemudian ditinjau dengan teori konstruksi sosial untuk mengetahui esensi dari pemikiran penggagas dan masyarakat atas keberadaan Microlibrary Warak Kayu. Sampai saat ini permasalahan mengenai membaca dan fasilitas baca belum dapat terselesaikan, akan tetapi penggagas microlibrary yang tidak memiliki background keilmuan tentang perpustakaan hadir dengan membawa berbagai konsep baru. Konsep barunya mengedepankan konsep berkelanjutan baik dalam hal pembelajaran menarik maupun ramah lingkungan. Berdasarkan penelusuran yang telah dilakukan terkait Microlibrary Warak Kayu, belum ditemukan penelitian yang secara khusus membahas microlibrary ini baik di Google Scholar, Portal Garuda maupun pada Sinta. Bahkan hanya sedikit artikel yang menyorot microlibrary. Melihat kenyataan ini, peneliti tertarik untuk mengkaji bagaimana penggagas dan masyarakat memandang keberadaan Microlibrary Warak kayu. Hasilnya apakah pemikiran penggagas sama seperti pemikiran masyarakat dan bagaimana penggagas dan masyarakat pada akhirnya memaknai keberadaan Microlibrary Warak Kayu. Dengan demikian judul penelitian ini yaitu “Makna Microlibrary Warak Kayu di Randusari Kecamatan Semarang Selatan Kota Semarang Jawa Tengah Bagi Penggagas Dan Masyarakat”. 2. Landasan Teori 2.1 Definisi Perpustakaan Dalam bahasa Indonesia, istilah “perpustakaan” berasal dari kata “pustaka” yang artinya buku dengan awalan “per” dan akhiran “an” yang memiliki arti tempat atau sarana. Jadi berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia perpustakaan memiliki arti ruang, tempat, atau gedung yang kegiatannya melakukan pemeliharaan dan penggunaan koleksi bahan buku bacaan dan sebagainya. Menurut Garnar dan Tonyan (2021) dalam penelitiannya mengungkapkan bahwa perpustakaan merupakan tempat yang tenang untuk membangkitkan rasa belajar dan menginspirasi pengguna untuk fokus, berkonsentrasi dan mulai bekerja. Kemudian, perpustakaan tidak hanya tempat untuk mencari buku saja akan tetapi juga membagikan pengetahuan, berbagi pengalaman, mengembangkan hobi dan kegiatan bedah buku (Supriatna, 2018). Perpustakaan merupakan tempat yang menyediakan akses informasi dan tempat belajar sekaligus rekreasi yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat. Perpustakaan juga menjadi akses belajar non-formal masyarakat yang belum memiliki kesempatan mengampu pendidikan di bangku sekolah. Selain itu, perpustakaan menjadi tempat pengembangan bakat sekaligus budaya bangsa. Selanjutnya, perpustakaan sebagai salah satu lembaga pencerdas bangsa yang saat ini masih jauh dari kata populer dan tidak menarik (Lafargeholcim, 2018). Hal tersebut memicu berbagai jenis perpustakaan hadir di lingkungan masyarakat sebagai bentuk mendekatkan diri kepada masyarakat. Jenis-jenis perpustakaan hadir dengan tujuan masing-masing bentuknya dalam menjangkau masyarakat pengguna. Salah satu jenis perpustakaan baru yang sedang berkembang yaitu microlibrary. Microlibrary menjadi bagian dari kategori perpustakaan umum sebab dalam penyelenggaraannya melibatkan peran pemerintah, dana umum, dan ditujukkan untuk masyarakat umum. Seperti pada pengertian perpustakaan umum menurut Undang-undang Nomor 47 Tahun 2007 yang menyatakan bahwa perpustakaan umum merupakan perpustakaan yang diselenggarakan oleh pemerintah dalam lingkup provinsi, kabupaten, kecamatan, ataupun desa serta dapat diselenggarakan oleh masyarakat. Hal tersebut dipertegas kembali menurut pendapat Sulistyo-Basuki (1993) yang mendefiniskan perpustakaan umum merupakan perpustakaan yang dibiayai dari dana umum, baik sebagian atau seluruhnya, terbuka untuk masyarakat mum tanpa membeda-bedakan usia, jenis kelamin, kepercayaan, agama, ras, pekerjaan, keturunan, serta memberikan layanan secara gratis untuk umum. Pada tahun 2012 biro kantor arsitek Suryawinata Haizelman Architectur Urbanism (SHAU) menawarkan proposal tentang perpustakaan yang dibangun dengan melibatkan stakeholder (pemerintah, komunitas, dan arsitek SHAU) ke arah yang baru dengan nama microlibrary. Pada akhirnya, microlibrary mulai berkembang dari tahun 2016 hingga saat ini dan menjadi salah satu jenis perpustakaan umum dalam versi lebih kecil. 2.2 Konsep Pemaknaan Makna dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah arti. Arti yang dimaksudkan dalam penelitian yaitu microlibrary. Makna juga erat kaitannya dengan teori semiotika (Ersyad, 2021) Pierce menganggap semiotika berobjekan sebagai tanda dan menganalisisnya menjadi ide, objek, dan makna. Ide dapat dikaitkan dengan simbol, sedangkan makna adalah beban yang terdapat dalam simbol yang mengacu kepada objek tertentu. Dalam penelitian ini makna dilihat dari kehidupan sosial masyarakat dalam kegiatan dan pandangan terkait dengan microlibrary. Maka, dapat disimpulkan makna atau nilai merupakan pengertian yang diberikan kepada suatu bentuk keabsahan yang memberikan dampak terhadap kehidupan sosial. Pemaknaan berarti memberikan makna terhadap suatu objek menurut apa yang dirasakan individu. Konsep pemaknaan dapat dikatakan sebagai upaya untuk menyatukan dan menyusun realitas sosial yang muncul dari masyarakat akan suatu fenomena. Demikian, hal tersebut nantinya akan menghasilkan sebuah makna yang lengkap. Realitas adalah fakta sosial yang bersifat eksternal, umum, dan memiliki kemampuan untuk memaksa kesadaran setiap individu (Dharma, 2018). Secara gamblangnya, realitas sosial merupakan kenyataan-kenyataan yang terjadi di lingkungan masyarakat. Dalam penelitian digunakan teori motif untuk penggagas dan teori konstruksi social bagi masyarakat pengguna. Hal tersebut digali untuk menghasilkan makna keduanya. Dalam fenomenologi, teori motif digunakan sebagai acuan untuk menggali tujuan ataupun alasan seseorang dalam melakukan suatu tindakan. Oleh sebab itu, agar dapat memahami fenomena yang dialami subjek penelitian secara mendalam dan komprehensif perlu menggunakan pendekatan teori yang dikemukakan oleh Alfred Schutz. Tujuan dari teori Schutz adalah untuk memahami motif-motif yang melekat pada tindakan subjek penelitian (Fatimah et al., 2016). Motif yang dikemukakan oleh Schutz menggunakan istilah in-order-to (motif agar) dan because motive (motif karena) (Schutz, 1962). In-order-to merujuk pada sebuah tindakan tidak lebih dan tidak kurang dari tindakan itu sendiri ditujukan dalam konsep future perfect tense. Sedangkan, because motive merujuk pada sebuah tindakan mengacu kepada sesuatu yang mendahului tindakan tersebut (yang telah terjadi dimasa lampau) (Miranti, 2014). Pada masyarakat menggunakan teori konstruksi sosial yang terdiri dari tiga momen simultan yaitu eksternalisasi (penyesuaian diri dengan sosio-kultural sebagai produk manusia), objektivasi (interaksi sosial dalam dunia intersubjektivitas yang dilembagakan atau mengalami proses institusionalisasi), dan internalisasi (individu mengidentifikasi diri dengan lembaga sosial atau organisasi tempat individu menjadi anggotanya) (Berger & Luckman, 1990). Menurut Dharma (2018), eksternalisasi itu adalah kedirian manusia yang terus dicurahkan kepada dunia sosialnya dalam aktivitas fisik dan mental. Selain itu, eksternalisasi merupakan sebuah kebutuhan anthropologis yang tidak dapat dielakkan, yaitu keberadaan manusia tidak mungkin terjadi dalam lingkungan internal yang tertutup dan statis (Dharma, 2018). Proses eksternalisasi merupakan proses munculnya sebuah pemikiran manusia yang dicurahkan dari dalam dirinya ke lingkungan sekitarnya. Pemikiran tersebut kemudian menjadi realitas subjektif atau kenyataan yang hadir dari dalam diri manusia. Proses objektivasi yaitu interaksi yang terjadi antara individu satu dengan lainnya dalam dunia intersubjektif mengalami kelembagaan baik materiil maupun non-materiil (Berger & Luckman, 1990). Ketika dua orang atau lebih saling berinteraksi kemudian membentuk sebuah pola yang dihayati oleh masing-masing individu sebagai fakta hasil interaksi, hal ini yang akan menjadi suatu realitas objektif. Realitas ini juga memungkinkan hasil pengalaman dari luar individu yang dianggap kenyataan oleh tiaptiap individu (Berger & Luckman, 1990). Proses selanjutnya yaitu internalisasi yang merupakan proses pengidentifikasian diri individu dengan lembaga atau organisasi sosial dengan individu sebagai anggotanya (Berger & Luckman, 1990). Setelah realitas sosial dilembagakan dalam struktur sosial, individu memahami dan mengalaminya sendiri secara mandiri. Proses pemahaman ini adalah internalisasi dari apa yang disebut individu sebagai realitas sosial. Untuk dapat mencapai internalisasi, setiap individu mendapatkan sosialisasi terlebih dahulu (Dharma, 2018). Menurut Berger dan Luckman sosialisasi sendiri dibagi menjadi dua: primer dan sekunder. Sosialisasi primer adalah sosialisasi yang pertama dialami oleh individu, yaitu pada masa kanak-kanak, yang dengan itu ia menjadi anggota masyarakat. Sedangkan sosialisasi sekunder adalah proses-proses lanjutan yang mengimbas individu yang sudah tersosialisasi itu ke dalam sektor-sektor baru dunia objektif masyarakatnya (Berger & Luckman, 1990).

Method

Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Metode kualitatif adalah cara untuk memahami fenomena yang dialami oleh subjek penelitian seperti perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dan lain-lain secara holistic dan dengan cara deskripsi (Harahap, 2020). Penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi ini digunakan untuk menggali pengalaman individu dan pemahaman subjektiff terhadap sebuah konsep atau fenomena (Creswell, 2013). Kemudian informan yang digunakan yaitu penggagas dan masyarakat. Informan masyarakat dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Teknik purposive sampling merupakan penentuan informan dengan mempertimbangkan beberapa kriteria tertentu (Sugiyono, 2019). Adapun teknik pengambilan data yang digunakan ialah observasi, wawancara, dan studi dokumen. Data yang telah diperoleh kemudian diolah dan dianalisi menggunakan thematic analysis. Thematic analysis merupakan sebuah metode analisis data yang digunakan dalam mengidentifikasi dan menganalisis pola atau tema yang dianggap penting dalam suatu data penelitian (Braun & Clarke, 2006). Thematic analysis meliputi mamahami data, menyusun kode, mencari tema, meninjau tema, mendefinisikan dan menamai tema, dan membuat laporan.

Result & Discussion

4.1 Microlibrary Warak Kayu Sebagai Bentuk Inovasi Perpustakaan Penggagas microlibrary merupakan seorang yang tidak memiliki latar belakang keilmuan tentang perpustakaan namun berkeinginan untuk dapat memberikan fasilitas bacaan kepada masyarakat. Keinginan tersebut yang menjadi awal perkembangan microlibrary di Indonesia. Kemudian, permasalahan Kota Semarang yang disorot penggagas yaitu minat baca masyarakat yang rendah, fasilitas bacaan yang kurang dan perpustakaan yang tidak populer. Selanjutnya, penggagas mengkreasikannya dengan membangun Microlibrary Warak Kayu dengan desain unik. Desain unik Microlibrary Warak Kayu dilengkapi dengan fasilitas bermain, perpustakaan, dan ruang komunitas. Masyarakat pengguna terutama anak-anak menjadi sasaran pengguna Microlibrary Warak Kayu dalam mengenalkan perpustakaan dan membaca. Dalam kegiatanya, masyarakat pengguna menangkap hal tersebut dan memanfaatkan Microlibrary Warak Kayu sebagai tempat membaca dan bermain. Ketika masyarakat berkunjung ke Microlibrary Warak Kayu, mereka tidak hanya membaca namun juga bermain dengan fasilitas yang disediakan. Selain itu, ada kebiasaan yang berhasil terrealisasikan yaitu anak-anak sekitar mulai melakukan kunjungan rutin setiap sore sebelum bermain di lapangan. Hal ini menjadi tolok ukur tercapainya tujuan Microlibrary Warak Kayu dalam mengenalkan perpustakaan dan membaca ke masyarakat. Microlibrary Warak Kayu adalah perpustakaan baru yang hadir karena inovasi dari penggagas. Inovasi tersebut adalah ruang Microlibrary Warak Kayu dapat dimanfaatkan sebagai tempat membaca dan bermain yang nyaman. Kehadiran Microlibrary Warak Kayu menjadi bentuk inovasi perpustakaan dan telah ditangkap oleh masyarakat sebagai ruang membaca dan bermain yang nyaman sekaligus memberikan dampak pada peningkatan minat baca anak-anak dan masyarakat Kota Semarang. Microlibrary Warak Kayu juga dapat dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan baik komunitas maupun perpustakaan. Namun, hal tersebut belum terlaksana sepenuhnya sebab adanya pandemi Covid19 dan untuk saat ini masyarakat pengguna menganggap bahwa Microlibrary Warak Kayu sebagai tempat untuk membaca sekaligus bermain yang nyaman. Meskipun tujuan desain pembangunan Microlibrary Warak Kayu belum tersampaikan sepenuhnya namun tidak menutup fakta bahwa masyarakat telah menangkap inovasi Microlibrary Warak Kayu. Meskipun tujuan dari Microlibrary Warak Kayu sebagai perpustakaan dan komunitas belum terlaksana sepenuhnya namun dari pendapat pengggas dan kebiasaankebiasaan yang dilakukan oleh masyarakat membangun makna Microlibrary Warak Kayu sebagai bentuk inovasi perpustakaan sebab memberikan pandangan baru pada perpustakaan yaitu sebagai tempat membaca sekaligus bermain yang nyaman. 4.2 Microlibrary Warak Kayu Sebagai Sumber Informasi Dalam upaya meningkatkan minat baca masyarakat Kota Semarang, penggagas menyediakan buku bacaan agar dapat diakses dan dimanfaatkan oleh masyarakat. Selanjutnya penggagas juga membantu masyarakat Kota Semarang dengan menyediakan buku bacaan terutama untuk anak-anak. Buku bacaan anak-anak memiliki harga yang memang belum dapat dijangkau oleh semua masyarakat Kota Semarang. Dengan penyediaan buku oleh Microlibrary Warak Kayu secara tidak langsung membantu meringankan keuangan masyarakat Kota Semarang sekaligus memberikan kesempatan belajar bagi siapapun. Masyarakat pengguna menangkap hal tersebut dan memanfaatkan Microlibrary Warak Kayu sebagai tempat pencarian kebutuhan informasi. Masyarakat menemukan berbagai macam buku bacaan yang disukai dan dibutuhkan. Kemudian masyarakat mulai membaca dan belajar secara mandiri untuk menambah pengetahuan. Berdasarkan kenyataan-kenyataan yang diketahui, Microlibrary Warak Kayu dimanfaatkan sebagai tempat mencari, menemukan, dan menggunakan buku bacaan guna meningkatkan wawasan pengetahuan. Kenyataan tersebut telah dipahami bersama (realitas objektif) melalui proses objektivikasi. Hal ini menujukkan Microlibrary Warak Kayu dimanfaatkan sebagai tempat sumber informasi. Masyarakat pengguna telah memahami bersama bahwa Microlibrary Warak Kayu sebagai tempat sumber informasi yang menambah pengetahuan, dan koleksi Microlibrary Warak Kayu memiliki peran penting pada kegiatan sumber informasi. Dengan berkunjung ke Microlibrary Warak Kayu, masyarakat pengguna memanfaatkan microlibrary sebagai sumber informasi, dan menyadari bahwa perpustakaan adalah tempat belajar, menambah wawasan dan pengetahuan, serta berbagai macam informasi yang bermanfaat. Kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat pengguna menunjukkan kegiatan yang terinformasikan. Adanya kesesuaian pendapat masyarakat pengguna dengan ketersediaan koleksi Microlibrary Warak Kayu. Buku yang ada di Microlibrary Warak Kayu dijadikan sebagai sumber bacaan guna memenuhi kebutuhan informasi masyarakat pengguna. Pada akhirnya kenyataan Microlibrary Warak Kayu sebagai sumber informasi telah dipahami bersama (realitas objektif) melalui proses objektivikasi. Kenyataan ini hadir dari kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan secara terus menerus dan menjadi sebuah kenyataan baru di Microlibrary Warak Kayu. Kenyataan baru ini akan menjadi kenyataan yang dipahami diri sendiri (realitas subjektif) oleh masyarakat yang baru mengetahui kenyataan Microlibrary Warak Kayu melalui proses internalisasi baik pengenalan maupun sosialisasi. 4.3 Microlibrary Warak Kayu sebagai Sarana Edukasi dan Rekreasi Microlibrary Warak kayu memberikan kontribusi dalam memenuhi kebutuhan informasi masyarakat pengguna sekaligus meningkatkan pengetahuan. Microlibrary Warak Kayu merupakan tempat sumber informasi yang menjadi saran tepat untuk meningkatkan kemajuan masyarakat Kota Semarang. Microlibrary Warak Kayu juga dianggap sebagai tempat membawa perubahan positif di tempat yang membutuhkan dibuktikan dengan penerimaan penghargaan pada Architizer A+Award 2020. Perubahan-perubahan ini tidak terlepas dari pengaruh bangunan dan koleksi yang dimiliki Microlibrary Warak Kayu. Sejatinya perubahan terjadi sebab adanya pemanfaatan secara terus menerus yang memperoleh pengetahuan dan kemudian membentuk sebuah perilaku. Perubahan yang terjadi yaitu masyarakat mengalami perubahan perilaku baik setelah rutin membaca dan berkunjung ke Microlibrary Warak Kayu. Buku-buku yang disediakan memiliki nilai moral dalam membangun perilaku baik anak, sehingga membaca memberikan dampak pada perubahan perilaku. Selain membaca, Microlibrary Warak Kayu menerapkan peraturan bagi pengunjung ketika memanfaatkan fasilitas yang disediakan dan hal ini menjadi salah satu alasan perubahan sikap atau perilaku masyarakat. Perubahan lain juga dirasakan yaitu peningkatan sosialisasi masyarakat. Manusia merupakan mahluk sosial yang tidak terlepas untuk berkomunikasi satu sama lain. Adanya Microlibrary Warak Kayu memberikan wadah bagi masyarakat dalam menyalurkan kemampuan berkomunikasi. Selanjutnya, bangunan Microlibrary Warak Kayu dengan desain unik memberikan stimulasi positif bagi masyarakat untuk lebih produktif ketika berada di Microlibrary Warak Kayu. Perubahan-perubahan yang dirasakan oleh setiap masyarakat pengguna merupakan hasil interaksi pemanfaatan Microlibrary Warak Kayu. Interaksi tersebut dapat berupa orang dengan buku, orang dengan orang, maupun orang dengan desain Microlibrary Warak Kayu. Hal ini memberikan pengaruh positif terhadap pemahaman dan tindakan masyarakat pengguna setelah adanya pendirian Microlibrary Warak Kayu. Pada akhirnya kenyataan baru telah dipahami bersama (realitas objektif) melalui proses objektivikasi mengenai Microlibrary Warak Kayu sebagai tempat perubahan positif. Perubahan positif yan telah ditunjukkan oleh masyarakat merupakan bentuk dari fungsi perpustakaan sebagai edukasi dan rekreasi bagi masyarakat pengguna. Kemudian, perubahan ini memberikan respon positif terhadap perilaku baik dalam diri sendiri maupun dengan orang lain. Kenyataan baru ini akan dipahami kembali (realitas subjektif) bagi orang yang baru mengetahui tentang Microlibrary Warak Kayu baik melalui proses internalisasi baik pengenalan maupun sosialisasi. 4.4 Microlibrary Warak Kayu Sebagai Aset Kota Semarang Semarang adalah salah satu kota di wilayah Jawa Tengah yang sekaligus merangkap sebagai Ibu Kota Provinsi Jawa Tengah. Kota Semarang memiliki beberapa landmark yang unik sama seperti kotakota yang lain. Lawang Sewu bangunan bekas kantor kereta Hindia Belanda merupakan landmark yang terkenal di Kota Semarang sekaligus sebagai ikon Semarang. Selain Lawang Sewu, masih ada banyak bangunan yang masuk dalam jajaran landmark Kota Semarang. Pada tahun 2020 ada bangunan baru yang telah menyita perhatian dunia yaitu Microlibrary Warak Kayu. Bangunan ini menjadi salah satu ikon landmark baru yang hadir di Kota Semarang. Microlibrary Warak Kayu merupakan perpustakaan mikro pertama di Kota Semarang terutama di daerah Jawa Tengah. Sejak awal berdirinya, Microlibrary Warak Kayu telah menyandang penghargaan di kancah internasional yang sekaligus mengenalkan Kota Semarang di mata dunia. Dalam media berita archdaily.com walikota Semarang Hendi Prihadi telah mengenalkan Microlibrary Warak Kayu ke publik tentang lokasi ini dijadikan salah satu rute pariwisata kota untuk berhenti. Dengan kata lain, microlibrary ini tidak hanya melayani masyarakat lingkungan lokal tetapi juga jaringan yang lebih luas. Hal ini tentu memberikan kontribusi dalam dunia pariwisata Kota Semarang. Selain itu, desain bangunan yang berbeda dari perpustakaan pada umumnya membuat para arsitektur tertarik untuk datang. Tidak hanya dimanfaatkan sebagai perpustakaan, microlibrary ini berkontribusi dalam dunia pariwisata dan dunia arsitektur. Berbagai daya tarik yang melekat pada Microlibrary Warak Kayu membuat bangunan ini dianggap sebagai ikon baru bagi Kota Semarang. Akan tetapi, bangunan ini belum diresmikan oleh pihak pemerintah Kota Semarang sebab beberapa kendala. Tepat pembukaan Microlibrary Warak Kayu pada tahun 2020, Indonesia diterpa pandemi Covid-19 sehingga adanya penundaan pembukaan resmi. Selain itu, pihak pemerintahan Kota Semarang sedang pada masa transisi jabatan walikota sehingga menambah penundaan peresmian bangunan Microlibrary Warak Kayu. Pada makna-makna sebelumnya diketahui adanya indikator-indikator kebermanfaatan dan penyelesaian masalah atas kehadiran Microlibrary Warak Kayu di Kota Semarang. Pemanfaatan Microlibrary Warak Kayu oleh masyarakat pengguna sendiri telah sesuai dengan harapan pengagas yaitu kegiatan membaca dan bermain yang kemudian memberikan dampak pada peningkatan pengetahuan dan membentuk perilaku ke arah positif. Hal tersebut telah dipahami bersama yang mana secara tidak langsung memberikan penilaian bahwa Microlibrary Warak Kayu sebagai salah satu tempat penting bagi Kota Semarang. Kemudian, lokasi yang berada pada rute pariwisata, desain bangunan yang disorot oleh para arsitektur, dan fungsi bangunan sebagai perpustakaan menjadikan Microlibrary Warak Kayu sebagai ikon baru kota semarang dan menjadi salah satu bentuk asset Kota Semarang yang haru dijaga dan dilesterikan.

Conclusion

Terdapat empat makna Microlibrary Warak Kayu di Randusari Kecamatan Semarang Selatan Kota Semarang bagi penggagas dan masyarakat. Makna tersebut antara lain: 1) sebagai bentuk iovasi perpustakaan, 2) sebagai sumber informasi, 3) sebagai sarana edukasi dan rekreasi, serta 4) sebagai aset Kota Semarang. Inovasi perpustakaan merupakan hasil adaptasi atas permasalahan yang terjadi di Kota Semarang yang kemudian dikreasikan dengan pembangunan Microlibrary Warak Kayu. Masyarakat selaku pengguna menangkap hal tersebut dan memanfaatkan Microlibrary Warak Kayu sebagai tempat membaca dan bermain yang nyaman. Makna sebagai sumber informasi dihasilkan dari pemanfaatan masyarakat terhadap kegiatan pencarian kebutuhan informasi di Microlibrary Warak Kayu. Kemudian, dari kegiatan tersebut masyarakat mengetahui kesesuaian koleksi buku dengan kebutuhan informasi yang dibutuhkan. Microlibrary sebagai sarana edukasi dan rekreasi merupakan kegiatan membaca dan belajar yang dilakukan di Microlibrary Warak Kayu. Hal ini menunjukkan adanya perubahan pengetahuan masyarakat setelah membaca buku di Microlibrary Warak Kayu. Selain itu, kegiatan membaca yang dilakukan masyarakat pengguna juga dianggap sebagai kegiatan rekreasi sebab membaca juga menjadi sebuah kegiatan yang menyenangkan bagi masyarakat pengguna. Adanya indikator-indikator kebermanfaatan dan penyelesaian masalah atas kehadiran Microlibrary Warak Kayu memberikan penilaian secara tidak langsung sebagai aset Kota Semarang. Meskipun belum ada dokumen resmi yang menyatakan hal tersebut namun dari kegiatan dan interaksi yang terjalin di Microlibrary Warak Kayu memberikan penilaian sebagai aset yang memberikan manfaat bagi kota sekaligus masyarakat Semarang. Berdasarakan empat makna Microlibrary Warak Kayu yang ditemukan memberikan gambaran bahwa Microlibrary Warak Kayu telah berhasil untuk mencapai misi dalam mengenalkan perpustakaan dan membaca kepada masyarakat Kota Semarang sekaligus memberikan dampak pada peningkatan minat baca masyarakat terutama anak-anak.