IMPLEMENTASI FUNGSI PENGORGANISASIAN TAMAN BACAAN MASYARAKAT (STUDI KASUS PADA MICROLIBRARY TAMAN BIMA KOTA BANDUNG)
Universitas Pendidikan Indonesia; Universitas Pendidikan Indonesia; Universitas Pendidikan Indonesia
Abstrak
Penelitian ini merupakan penelitian kombinasi yang bertujuan untuk mengetahui bagaimanakah implementasi fungsi pengorganisasian Microlibrary oleh masyarakat, Penelitian ini dilakukan di Microlibrary yang berlokasi di Jalan Bima Utara Kelurahan Arjuna Kecamatan Cicendo Kota Bandung. Penelitian ini menggunakan model studi kasus dengan metode deskriptif. Penentuan sampel dalam penelitian kualitatif dilakukan dengan teknik nonprobability sampling yakni purposive sampling, sedangkan penentuan sampel dalam penelitian kuantitatif dilakukan dengan teknik accidental sampling. Sampel dalam penelitian ini terdiri atas tiga orang informan yaitu pengelola dan mitra kerja Microlibrary yang memenuhi kriteria yang telah ditentukan dan 77 orang responden yang merupakan pemustaka Microlibrary. Simpulan yang diperoleh adalah pengorganisasian di Microlibrary belum terimplementasi dengan optimal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tahap perencanaan pengelolaan Microlibrary belum terlaksana dengan optimal. Selain itu Karang Taruna yang merupakan Sumber Daya Manusia utama dalam pengelolaan Microlibrary belum dilibatkan secara aktif sehingga pembagian kerja adalah berdasarkan pengelola aktif saja yang hanya berjumlah dua orang. Selain itu belum terdapat visi misi dan struktur organisasi yang baku merupakan salah satu indikator belum terimplementasikannya fungsi pengorganisasian di Microlibrary. Maka disarankan kepada pengelola Microlibrary sebaiknya dibuat visi misi serta struktur organisasi baku agar proses pengorganisasian berjalan dengan optimal.
Abstract
This research is a mixed method research which aiming to find out how the function implementation of organizational Microlibrary by the citizen. This research was conducted at a Microlibrary located in Bima Utara Street, Arjuna, Cicendo Subdistrict, Bandung City. This research used descriptive method with study case model. The determination of the samples in qualitative research was conducted with nonprobability sampling technique namely purposing sampling, while the determination of samples in quantitative research was conducted with accidental sampling technique. Three informants, managers and Microlibrary partner who met the criteria that have been determined and 77 respondent who are the users of the Microlibrary. The conclusion obtained is that the organizational of the Microlibrary has not been implemented optimally. The result shows that the planning stage of Microlibrary management has not been implemented optimally. Besides Karang Taruna as the main human resources in managing the Microlibrary hasn't involved actively so the task distributions only based on active organizers which are only 2 people. In addition, there is no vision and standard organizational structure as an indicator that the organizational function in Microlibrary has not been implemented. So, it is suggested to Microlibrary manager to necessarily plan out and arrange the vision also the standard organizational struture in order to optimize the organizational process.
Keywords:
Microlibrary
· Organizing
· Citizen's Reading Park
Introduction
Kebutuhan masyarakat akan sumber informasi dan ilmu pengetahuan yang benar dan akurat adalah salah satu indikasi bahwa masyarakat membutuhkan p e r p u st a k a a n . D is amp i n g i t u , perpustakaan pun dituntut agar dapat memenuhi kebutuhan informasi, penelitian, rekreasi bagi masyarakat dengan profesional dan proporsional. Perpustakaan harus melibatkan unsur masyarakat dalam penyelenggaraannya agar terjalin sinkronisasi antara informasi yang dibutuhkan dengan sumber informasi yang tersedia kelak. Perpustakaan yang didirikan dan dikelola oleh masyarakat secara aktif disebut perpustakaan masyarakat (Sutarno NS, 2006b). Berbeda dengan pendapat tersebut, menurut Kalida (2014, hlm. 3) “lembaga yang melayani kebutuhan masyarakat akan informasi mengenai ilmu pengetahuan dalam bentuk bahan bacaan dan bahan pustaka lainnya serta dikelola oleh masyarakat disebut Taman Bacaan Masyarakat (TBM)”. Untuk memperjelas pemahaman tentang TBM dan perbedaannya dengan perpustakaan dapat ditinjau dari definisi perpustakaan menurut Undang-undang Nomor 43 Tahun 2007 dalam Bab 1 Pasal 1 ayat 1 yang menyatakan bahwa “perpustakaan adalah institusi pengelola koleksi karya tulis, karya cetak, dan/atau karya rekam secara profesional dengan sistem yang baku guna memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi para pemustaka”. Pengertian TBM sendiri menurut Kemendikbud dalam Petunjuk Teknis Pengajuan, Penyaluran, dan Pengelolaan Bantuan Taman Bacaan Masyarakat Rintisan tahun 2013 yaitu TBM adalah sarana atau lembaga pembudayaan kegemaran membaca masyarakat yang menyediakan dan memberikan layanan di bidang bahan bacaan berupa: buku, majalah, tabloid, koran, komik, dan bahan multimedia lain yang dilengkapi dengan ruangan untuk membaca, diskusi, bedah buku, menulis, dan kegiatan literasi lainnya, dan didukung oleh pengelola yang berperan sebagai motivator. Dari kedua pengertian di atas terlihat persamaan dan perbedaan antara Perpustakaan dan Taman Bacaan Masyarakat, dari segi persamaan keduanya memilki tujuan yang sama yaitu memenuhi kebutuhan masyarakat akan informasi baik untuk kegemaran membaca maupun berbagai fungsi seperti pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi rekreasi. Akan tetapi, dalam pengertian di atas juga terdapat perbedaan yang terlihat dari segi pengelola. Pengelola perpustakaan disebut profesional sedangkan di TBM pengelola berperan sebagai motivator yang bisa berasal dari unsur masyarakat sekitar. Dari segi institusi terlihat bahwa perpustakaan dikelola dengan sistem yang baku sedangkan TBM membudayaan k e g e m a r a n m e m b a c a d e n g a n menyediakan koleksi maupun kegiatan literasi lainnya sehingga sistem pengelolaannya bersifat informal. Selain itu, dalam hal ruang lingkup pemustaka, p emu st a k a TBM l e b i h s emp i t dibandingkan dengan perpustakaan. Pemustaka TBM pada umumnya adalah masyarakat setempat. Selanjutnya setelah perpustakaan selesai didirikan maka langkah selanjutnya perpustakaan tersebut akan beroperasi melaksanakan tugas dan fungsinya sesuai dengan tujuan yang telah dirumuskan pada tahap perencanaan. Menurut Sutarno NS (2006a, hlm. 139) “tindak lanjut untuk menjalankan rencana disebut pengorganisasian”. Dalam pembahasan mengenai pengorganisasian perpustakaan, (Lasa Hs, 2007, hlm. 26) menjabarkan bahwa “pengorganis a si an pe rpust aka an merupakan penyatuan langkah-langkah dari seluruh kegiatan yang akan dilaksanakan oleh elemen-elemen dalam suatu lembaga perpustakaan”. Microlibrary yang terletak di Taman Bima Kota Bandung dalam pendirian Microlibrary diprakarsai oleh masyarakat setempat, dikelola dengan sistem yang tidak baku serta gedungnya yang marupakan hasil kerjasama antara beberapa elemen masyarakat adalah tiga indikator bahwa Microlibrary memenuhi kriteria TBM dibandingkan dengan perpustakaan. B e r d a s a r k a n o b s e r v a s i pendahuluan pada hari Rabu, 28 September 2016 yang difokuskan pada aspek pengorganisasian taman bacaan oleh masyarakat, pengorganisasian TBM di Microlibrary belum optimal. Hal ini ditandai dengan kondisi Microlibrary yang belum memiliki perencanaan yang baik dalam mengelola TBM sehingga koleksi yang dimiliki belum terkelola dengan baik, program-program belum terlaksana dengan rutin, teknis pelayanan kepada pemustaka belum jelas, bahkan aturan yang bersifat dasar mengenai penggunaan fasilitas pun belum terlaksana dengan baik. Selain itu, di Microlibrary belum terdapat desain teknis struktur kerja, belum terdapat pembagian wewenang antar elemen masyarakat yang terlibat, dan belum ada pembagian kerja secara pasti dan tertulis diantara pengurus karang taruna dalam mengelola Microlibrary. Robins dan Coulter (dalam Sule & Saefullah, 2009, hlm. 96) mendefiniskan perencanaan sebagai “sebuah proses yang dimulai dari penetapan tujuan organisasi, menentukan strategi untuk pencapaian tujuan organisasi tersebut secara menyeluruh, serta memutuskan sistem perencanaan yang menyeluruh untuk m e n g i n t e g r a s i k a n d a n mengkoordinasikan seluruh pekerjaan organisasi hingga tercapainya tujuan organisasi”. Bryson (dalam Kurniasari, 2012, hlm. 7) mengemukaan tahapan dalam membuat rencana strategis terdiri dari enam tahap berupa penetapan visi dan misi, penilaian lingkungan, analisis k e b u t u h a n , p e n e t a p a n t u j u a n , perencanaan program, serta evaluasi. Pengorganisasian (organizing) adalah “memutuskan bagaimana cara terbaik untuk mengelompokan aktivitas dan sumber daya organisasi” (Grifin, 2004, hlm. 322). Stoner dkk. (dalam Sule & Saefullah, 2009, hlm. 152) menjabaran bahwa tahap pengorganisasin terdiri dari empat tahap yakni:1) Pembagian Kerja (Division of Work), 2) Pengelompokan Pekerjaan (Departmentalization), 3) Penentuan Relasi Antarbagian dalam Organisasi (Hierarchy), 4) Mekanisme untuk Mengintegrasikan Aktivitas Antarbagian dalam Organisasi atau Koordinasi (Coordination).
Method
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif studi kasus dengan pendekatan kombinasi. Subjek dalam penelitian ini adalah 3 orang dari pengelola dan mitra kerja Microlibrary, dan pemustaka dengan jumlah sampel sebanyak 77 orang. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa pedoman wawancara, observasi dan doumentasi serta angket menggunakan skala Guttman untuk mengetahui upaya implementasi fungsi pengorganisasian TBM oleh masyarakat, dengan prosedur analisis data menggunakan analisis kualitatif dan teknis analisis deskriptif.
Result & Discussion
Peneliti bermaksud mengetahui t ahap pe r enc ana an penge lol a an Microlibrary melalui enam hal yakni visi misi Microlibrary, analisis SWOT Microlibrary, tujuan Microlibrary, program Microlibrary, rancangan teknis pengelolaan Microlibrary, dan mitra kerja Microlibrary. Visi Misi Microlibrary Berdasarkan hasil penelitian, terdapat beberapa jawaban yang dikemukakan oleh informan, tetapi mengarah pada satu tujuan yang sama yaitu visi dan misi utama Microlibrary a d a l a h m e m f a s i l i t a s i d a n menumbuhkembangkan minat baca masyarakat. Berdasaran penelitian dapat diketahui sebagian besar (84,4%) responden menjawab tidak melihat visi dan misi tertempel di Microlibrary. Sebagian besar tersebut menunjukkan bahwa visi dan misi Microlibrary memang belum ada, hal ini sejalan dengan hasil observasi peneliti dan dengan jawaban yang dipaparkan oleh informan. Analisi SWOT Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, informasi yang didapatkan t e n t a n g a n a lisis SWOT d a l am penyelenggaraan Microlibrary adalah sebagai berikut: a. Kekuatan 1) Kondisi Microlibrary yang cukup strategis baik dalam hal lokasi maupun kondisi masyarakat sehingga dinilai berpotensi jika dijadikan sebagai percontohan untuk Microlibrary yang akan datang. 2) Sudah terselenggara perpustakaan jalanan dengan konsep Gerobak Baca Keliling (GobakCling). 3) K e h a d i r a n M i c r o l i b r a r y menjadikan lingkungan sekitar lebih bersih karena pada mulanya lingkungan sekitar adalah lingkungan kumuh karena banyak pedang kaki lima yang berjualan secara sembarangan. b. Kelemahan 1) Pengelola masih belum memiliki k emamp u a n d a s a r u n t u k mengelola sebuah TBM. 2) K u r a n g n y a p e m a h a m a n masyarakat sekitar mengenai perpustakaan dan literasi sehingga pengelola harus gencar dalam melakukan sosialisasi. 3) Perawatan gedung membutuhkan dana yang besar dan keahlian khusus. c. Kesempatan 1) Desain gedung Microlibrary yang unik dan mewah dapat dan telah menorehkan prestasi dan juga minat kunjung masyarakat luas. 2) Membangun kekompakan serta membangun interaksi yang solid di lingkungan masyarakat. d. Ancaman 1) Masyarakat sekitar Microlibrary kurang kooperatif dan proaktif. 2) Karang Taruna khususnya pemuda lingkungan setempat belum m e m p r i o r i t a s k a n u n t u k mensukseskan penyelengaraan Microlibrary. 3) Lokasi Microlibrary kurang aman karena sering terjadi pencurian, hipnotis. Tujuan Microlibrary Berdasarkan hasil wawancara dengan informan, peneliti mendapatkan informasi bahwa tujuan jangka pendek Microlibrary adalah mempromosikan dan merubah paradigma masyarakat tentang Microlibrary sehingga jika kedua tujuan tersebut terpenuhi maka tujuan utama Mi c rolibrar y untuk menj adikan Microlibrary sebagai pusat sumber belajar pun dapat terpenuhi. Selain tujuantujuan tersebut, pembinaan SDM dari unsur masyarakat yang siap untuk mengelola Microlibrary pun menjadi tujuan yang hendak dicapai. Program Microlibrary Program di Microlibrary bertujuan untuk memenuhi kebutuhan ilmu pengetahuan, informasi, penumbuhan literasi serta kebutuhan rekreasi edukasi maupun rekreasi kultural masyarakat setempat. Sehingga tujuan TBM sebagai tempat sumber belajar, sumber informasi, widya budaya dan tempat rekreasi edukasi dapat terpenuhi. Adapun program yang dilaksanakan di Microlibrary adalah 1) Story Telling bekerjasama dengan komunitas Ruang Mengabdi. 2) Raja & Ratu Buku 3) 15 menit membaca sebelum latihan BKC (Karate Kid) 4) Kunjungan sekolah Sekitar Kelurahan Arjuna Kecamatan Cicendo 5) Kelas Film 6) Seminar Perpustakaan 7) Mensosialisasikan Microlibrary Lewat Perlombaan. 8) Mensosialisasikan Microlibrary Lewat Media Sosial. 9) Kelas Kabaret 10) Bansos (Bantuan Sosial Bagi Orang Mustahik) P e n e l i t i a n m e n u n j u k k a n pengetahuan pemustaka tentang program Microlibrary. Sebagian besar (93,5%) responden menjawab mengetahui program di Microlibrary. Data tersebut menunjukkan bahwa program yang dilaksanakan di Microlibrary terlaksana sehingga pemustaka mengetahui program tersebut. Rancangan Teknis Pengelolaan Microlibrary Berdasarkan informasi yang didapatkan rancangan teknis di Microlibrary adalah sebagai berikut: a. Pengadaan S u m b e r k o l e k s i b u k u Microlibrary adalah dari Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah, Dompet Dhuafa dan dari sumbangan masyarakat. Adapun teknik yang digunakan untuk pengadaan adalah selain pengelola yang memilih subjek buku disesuaikan dengan k e b u t u h a n p e m u s t a k a Microlibrary, pengelola juga melakukan survey kepada pemustaka terkait subjek buku yan diperlukan oleh pemustaka. b. Pengelolaan Di Microlibrary pengelolaan koleksi buku masih di inventaris secara manual ke dalam buku induk. Be lum me l akukan labeling dan stampel. c. Layanan Layanan yang disediakan Microlibrary yaitu layanan membaca, layanan rujukan ( r e f e r e n s i ) , l a y a n a n pembe l a j a r an ma sya r aka t melalui beberapa program yang sudah dibahas pada poin sebelumnya. M i c r o l i b r a r y p e n a h m e n y e d i a k a n l a y a n a n peminjaman kepada pemustaka (sirkulasi), akan tetapi karena koleksi buku Microlibrary belum diolah dengan semestinya s e h i n g g a k o l e k si b u k u Microlibrary belum memiliki identitas. Hal tersebut menjadi s a l a h s a t u p e rtimb a n g a n pengelola akrena riskan akan k e h i l a n g a n m a k a u n t u k sementara tidak ada layanan sirkulasi melainkan hanya layanana referensi saja. d. Sosialisasi Microlibrary melakukan sosialisasi kepada masyarakat sekitar dengan cara jemput bola atau penyebaran informasi melalui mulut ke mulut karena masih banyak masyarakat sekitar yang belum tahu mengenai Microlibrary. Selain i t u , M i c ro l i b r a r y p u n melakukan sosialisasi kepada masyarakat luas dengan dengan memanfaatkan media sosial (Facebook, Twitter dan Instagram). Mitra Kerja Berdasarkan informasi dari hasil peneitian dapat diketahui bahwa mitra kerja Microlibrary terbagi menjadi dua yakni pihak pemerintahan dan pihak swasta.
Conclusion
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, peneliti menyimpulkan bahwa Fungsi Pengorganisasian di Microlibrary belum terimplementasi secara optimal. Hal ini karena belum terdapat visi misi, struktur organisasi baku dan teroptimalkannya Karang Taruna setempat yang merupakan sumber daya manusia utama dalam pengelolaan Microlibrary. Pada perencanaan pengelolaan Microlibrary dapat diketahui bahwa Microlibrary belum memiliki visi dan misi yang baku dan tertulis. Tujuan Microlibrary adalah mempromosikan dan merubah paradigma masyarakat tentang Microlibrary, pembinaan SDM dari unsur masyarakat yang siap untuk mengelola Microlibrary dan menjadikan Microlibrary sebagai pusat sumber belajar masyarkat. Program yang diselengarakan Microlibrary bertujuan untuk memenuhi kebutuhan ilmu pengetahuan, informasi, penumbuhan literasi serta kebutuhan rekreasi edukasi maupun rekreasi kultural masyarakat setempat. Pada aspek pembagian kerja di Microlibrary dapat diketahui bahwa unit kerja yang terdapat di Microlibrary terdiri atas: (1) Pengadaan; (2) Pengolahan; (3) Pelayanan; (4) Perawatan; (5) Promosi dan sosialisasi. Adapun pembagian sistem kerja di Microlibrary adalah berdasarkan hari yakni menggunaan sistem piket antara dua orang pengelola yang aktif dan berdasarkan fungsi yakni berdasarkan unit kerja yang sudah disebutkan sebelumnya. Bentuk hierarki dalam pengelolaan Microlibrary dapat diketahui bahwa Microlibrary belum memiliki struktur organisasi. Namun demikian, berdasarkan informasi dari hasil wawancara, dapat diketahui bahwa bentuk hierarki Microlibrary adalah vertikal dengan kondisi Microlibrary merupakan bagian dari Dompet Dhuafa Jabar sehingga komando tertinggi pada sistem hierarki Microlibrary adalah pimpinan cabang Dompet Dhuafa Jabar. Upaya koordinasi unit kerja di Microlibrary dapat diketahui bahwa Tipe koordinasi yang terjadi diantara pengelola dan mitra kerja Microlibrary adalah tipe horizontal, dimana tujuan koordinasi yang terbangun adalah sebagai upaya penyatuan dan pengarahan segala aktivitas yang terjadi di Microlibrary.