Kembali
16
1
2021 PUBLIS (Publication Library and Information Science) Vol 5 · 2 ISSN 2598-7852

DAMPAK TRANSFORMASI PERPUSTAKAAN DESA BERBASIS INKLUSI SOSIAL TERHADAP KESEJAHTERAAN MASYARAKAT

Universitas Muhammadiyah Ponorogo; Universitas Muhammadiyah Ponorogo; Universitas Muhammadiyah Ponorogo; Universitas Muhammadiyah Ponorogo; Universitas Muhammadiyah Ponorogo

Abstrak

Artikel ini bertujuan untuk menganalisa dampak transformasi perpustakaan desa berbasis inklusi sosial di Desa Manuk Kecamatan Siman Kabupaten Ponorogo dalam meningkatkan kualitas kehidupan dan kesejahteraan masyarakat. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dengan pendekatan analisis deksriptif. Teknik pengumpulan data dengan in-depth interview, participant observation, dan documentation study. Teknik analisis data dengan data collection, data condensation, data display, dan drawing and verifying conclusion. Hasil penelitian diperoleh bahwa dampak transformasi perpustakaan desa berbasis inklusi sosial di Desa Manuk Kecamatan Siman telah berjalan sejalan dengan konsep transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial Woro Titi Haryanti, yaitu: pertama, perpustakaan Desa Manuk telah bertransformasi menjadi sarana peningkatan kesejahteraan masyarakat; pusat solusi dalam mengatasi berbagai problematika kehidupan masyarakat; pusat ilmu pengetahuan dan kebudayaan (learning center) dan pusat pengembangan minat dan bakat masyarakat; dan kedua; dampak transformasi perpustakan Desa Manuk berbasis inklusi sosial ini sangat berdampak significant bagi masyarakat Desa Manuk dan masyarakat umum ditandai dengan (a) adanya peningkatan literasi informasi berbasis teknologi dan informasi, dilihat dari bertambahnya wawawan dan pengetahuan, dan nilai sekolah yang bagus; dan (b) peningkatan kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat, dilihat dari meningkatnya pendapatan, kesehatan, dan mendapatkan pekerjaan, dan lain sebagainya.

Abstract

This article aims to analyze the impact of social inclusion-based village library transformation in Manuk Village, Siman District, Ponorogo Regency in improving the quality of life and community welfare. This research uses qualitative research with descriptive analysis approach. Data collection techniques are in-depth interviews, participant observation, and documentation study. Data analysis techniques with data collection, data condensation, data display, and drawing and verifying conclusion. The results showed that the impact of social inclusion-based village library transformation in Manuk Village, Siman District has been running in line with Woro Titi Haryanti's concept of social inclusion-based library transformation, namely: first, Manuk Village library has been transformed into a means of improving community welfare; a solution center in overcoming various problems of community life; a center for science and culture (learning center) and a center for developing community interests and talents; and second; the impact of the transformation of the Manuk Village library based on social inclusion has a very significant impact on the people of Manuk Village and the general public as indicated by (a) an increase in information literacy based on technology and information, seen from the increase in interviews and knowledge, and good school grades; and (b) increasing the welfare and prosperity of the community, as seen from the increase in income, health, and getting a job, etc.
Keywords: transformation · village library · sosial inclusion

Introduction

Pembangunan bangsa ini tidak terlepas dari visioner cemerlang dari founding fathers Negara yang memiliki cita-cita luhur dalam mencerdaskan kehidupan bangsa dan memajukan kesejahteraan umum (Arifin, S., & Muslim, M.O.H, 2020). Mengemban dan mewujudkan amanah ini secara konstitusi melalui education development yaitu pendidikan karakter yang berkualitas bagi seluruh warga Negara. Pendidikan dapat mendorong terwujudnya kecerdasan kehidupan bangsa (Cahyati, A. E., Katni, K., & Ariyanto, A, 2020). Pendidikan dapat melahirkan generasi yang cerdas dan berpengetahuan luas serta memiliki ketrampilan, menguasai teknologi menuju transformasi sosial menuju masyarakat berkemajuan, mandiri dan sejahtera (Juarman, J., Susanto, H., & Kurnianto, R, 2021). Perpustakaan dan pendidikan merupakan sebuah kesatuan dari sebuah upaya didalam mengembangkan strategi kebudayaan untuk mewujudkan society literate melalui gerakan literasi yang bersifat kolektif (Saputro, A. S, 2018). Literacy dan literate society merupakan puncak dari proses panjang pendidikan formal, informal, non-formal yang ditempuh masyarakat yang terwujud dalam suatu gerakan kebuadayaan yang bersifat kolektif (Sardjoko, 2018). Perpustakaan memiliki kontribusi besar dalam mewujudkan masyarakat yang berpengetahuan (knowledge society) (Nashihuddin, W., & Suryono, F, 2018), akan tetapi sampai saat ini masih banyak dari masyarakat yang meragukan keberadaan perpustakaan sebagai pusat pemberdayaan dan pengembangan masyarakat, dan acapkali masih dianggap kurang optimal peranannya didalam menciptakan iklim kesejahteraan bagi masyarakat (Pasaribu, 2018). Perpustakaan masih dianggap sebagai hal yang kurang berkontribusi dalam kesejahteraan. Seyogyanya perpustakaan menjadi salah satu bagian strategis didalam mengentaskan kemiskinan, membangun kemandirian, meningkatkan taraf hidup masyarakat. Langkah tepat menjadikan perpustakaan sebagai tempat pembelajaran sepanjang hayat (lifelong learning) akan tetapi nilai kepatutan perpustakaan dimasyarakat tersisihkan dengan perkembangan teknologi informasi, sehingga perpustakaan sebagai institusi publik dalam memobilisasi pengetahuan akan mengalami distrust bagi masyarakat (Nashihuddin, W, 2021). Kondisi ini harus menjadi sebuah upaya perpustakaan untuk merubah paradigma perpustakaan sehingga mampu membentuk mayarakat yang berpengetahuan (knowlade society). Terbentuknya penguasaan pengetahuan masyarakat akan mampu mendorong adanya kehidupan yang lebih maju dan sejahtera, sehingga mampu meningkatkan kualitas kehidupan menjadi lebih baik (Rachman, et.al, 2019). Perpustakaan harus melakukan transformasi sehingga mampu bertahan dan berkiprah lebih baik lagi, sehingga terwujud perpustakaan yang mendukung perubahan dan kemajuan masyarakat (Woro Titi Haryati, 2019). Bentuk transformasi perpustakaan masyarakat saat ini adalah transformasi berbasis inklusi sosial (Haryanto, H, 2020), yang tidak hanya untuk mempertahankan keberlangsungan dan keberadaan perpustakaan, namun juga mengarahkannya menjadi bagian didalam mencapai Sustainable Development Goals (SDG’s), yaitu program pembangunan berkelanjutan yang selaras dengan misi Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) melalui pencangan resolusi pembangunan bersama hingga tahun 2030 (Ramadhani, R. W, 2020). Indonesia menjadikan SDG’s sebagai tujuan pembangunan berkelanjutan jangka panjang yang memiliki 17 tujuan dan 169 capaian yang terukur dan hal ini telah disepakati oleh 193 negara (Rachman, et.al, 2019; Haryanti, W. T, 2019). Model inilah yang dijadikan public libraries perpustakaan umum dan desa untuk ikut membantu program pemerintah Indonesia dalam percepatan pengentasan kemiskinan. Program ini menjadi prioritas nasional yang telah dicanangkan oleh Bappenas (Badan Perencanaan Pembangunan Nasional) bersama Perpustakaan Nasional RI (Wiyono, E, 2021; Safira, F., & Laksmi, L, 2021). Selain itu, program ini juga terus digulirkan oleh pemerintah melalui Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) dan Perpustakaan Nasional RI yang dirancang pada Rancangan Kebijakan Pembangunan (RKP) 2019 (Djaenudin, M., & Trianggoro, C, 2020). Menggulirkan program ini bukan tanpa sebab, perlu di ketahui bahwa Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia telah mengalami penurunan sejak tahun 2015 dengan menempati urutan ke 113 dari 188 negara. Dimana, salah satu penilaian indikator tinggi rendahnya IPM tersebut ditentukan dari reading performance yang ditunjukkan oleh masyarakat Negara. Hal ini juga senada dengan laporan Badan Pusat Statistik (BPS) Tahun 2017, dimana hasil laporan tersebut menunjukan 27,7 juta penduduk di Indonesia masih termasuk miskin dan 62% diantaranya tinggal di pedesaan, kondisi ini mengakibatkn pembangunan tidak merata dan menimbulkan kemiskinan (Mochammad, R., et.al, 2020). Melihat pada hasil laporan tersebut, maka salah satu upaya untuk mempercepat pengurangan angka kemiskinan tersebut dengan menerapkan program literasi untuk kesejahteraan dan peningkatan kualitas kehidupan masyarakat. Program ini sejalan dengan Kebijakan Dana Alokasi Khusus Perpustakaan Daerah Tahun 2019 (Provinsi, Kabupaten dan Kota) untuk mendukung kebijakan penguatan literasi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat (Sardjoko, 2018). Program literasi ini dikembangkan dengan menggunakan bantuan Dana Alokasi Khusus (DAK) Tahun 2019 untuk pemerintahan provinsi sampai tataran pemerintah desa dengan menggunakan istilah “Replika Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial” (Putri, R. P, 2020). Jumlah penerima DAK ini kurang lebih sejumlah 300 Desa/Kelurahan, 60 Kabupaten, dan 21 Provinsi yang telah memiliki komitmen tinggi untuk mengembangkan progam transformasi berbasis inklusi sosial ini di daerahnya (Utami, D., & Prasetyo, W.D, 2019). Ponorogo merupakan salah satu kabupaten yang menerima Dana Alokasi Khusus yang diperuntukkan untuk program transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial pada tahun 2019 dan tersebar di lima Desa. Salah satunya adalah Desa Manuk yang terletak di Kecamatan Siman dan telah melaksanakan program tersebut. Seiring perkembangannya, perpustakaan masyarakat Desa Manuk telah berhasil meraih Juara Tiga pada Lomba Perpustakaan Desa Provinsi Jawa Timur dan berhasil masuk 10 besar versi Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Berbagai kegiatan berbasis pemberdayaan masyarakat yang memiliki tujuan peningkatan kualitas hidup dan kesejahteraan masyarakat melalui berbagai kegiatan yang melibatkan masyarakat langsung (community engagement) dan berkelanjutan memiliki impact kepada masyarakat disekitar perpustakaan desa. Berdasarkan paparan diatas, maka kajian ini yang akan melihat dampak pelaksanaan transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial di Desa Manuk Kecamatan Siman Kabupaten Ponorogo, sehingga berkontribusi dalam meningkatkan kesejahteraan dan kualitas hidup masyarakat. Perpustakaan ini juga dalam pelaksanaan kegiatan pemberdayaan dan pengembangan masyarakatnya telah turut memanfaatkan jejaring ke berbagai pihak baik pemerintah, perguruan tinggi dan swasta. Selain itu, keunggulan dan keunikan yang telah dikembangkan telah menjadikan perpustakaan masyarakat Desa Manuk menjadi salah satu “pilot project” desa yang mengembangkan Program Transformasi Perpustakaan Masyarakat Berbasis Inklusi Sosial di Negara Indonesia. Transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial merupakan sebuah pelayanan perpustakaan yang bekerjasama dalam suatu komunitas dan memiliki komitmen yang tinggi untuk kesejahteraan masyarakat pengguna melalui literasi informasi berbasis ICT (Information communication technology) menjadi wahana “life long learning” pembelajaran sepanjang hayat yang mampu mengentaskan kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan (Safira, F., & Laksmi, L, 2021). Transformasi ini juga merupakan salah satu wadah pembelajaran bagi masyarakat yang berkesinambungan dan sepanjang hayat, karena perpustakaan tidak hanya sebagai pelestarian naskah, penyimpanan buku, tetapi juga dapat dimanfaatkan sebagai pusat pengetahuan dan peradaban yang diharapkan mampu memperkuat peran dan fungsinya dengan konsep transformasi berbasis inklusi sosial (Bondar, A., 2019). Menurut Muddiman, et.al (2000), “libraries as gatekeepers and library buildings need to become a genuinely shared local space where people can go both individually and collectively to use resources and equipment, access information and receive help and support appropriate to their needs”. Perpustakaan dapat dimaknai sebagai penjaga gerbang yang menganalisis dan memenuhi kebutuhan masyarakat setempat dan bekerja untuk memfasilitasi pengembangan keterampilan dan literasi masyarakat (Sant-Geronikolou, S, et.al, 2019). Perpustakaan berbasis inklusi sosial merupakan salah satu pengembangan perpustakaan yang dapat dimanfaatkan sebagai pusat pembelajaran sepanjang hayat, bukan hanya sebagai sumber informasi, akan tetapi juga bertransformasi sebagai pusat sosial budaya, serta mampu memberdayakan masyarakat sebagai komunitas lokal yang selalu berupaya menumbuhkan kesejahteraan masyarakat (Haryanti, W. T, 2019). Selain itu juga, perpustakaan berkontribusi besar dalam membangun knowledge society dan akan memajukan peradaban (Winberry, J., & Potnis, D., 2021). Peran perpustakaan disini untuk mewujudkan knowledge society melalui literasi kepada masyarakat. Literasi tersebut, secara konfensional dipahami hanya sebatas pada literasi dasar yaitu: “calistung” yang tercermin pada kemampuan baca, tulis dan hitung (read, write, arithmetic). Pemahaman ini, masih perlu diperjelas bahwa yang dinamakan literasi dasar terdiri dari literasi dalam bidang bahasa dan sastra, numerasi atau angka, sains, digital, finansial, serta budaya dan kewargaan (Kemendikbud, 2017). Sebagaimana UNESCO menjelaskan bahwa literasi “more than reading and writing, but how about we comunivate in society. It’s about social practices and relationship about knowledge, language, and culture” (UNESCO, 2003). Literasi sendiri telah lama mengalami pembaharuan dan pemutakiran dan mencakup aspek cognitive skills yang melandasi dan mampu berpikir kritis, logis serta memiliki analisis yang baik yang diperoleh dalam proses pembelajaran sehingga segenap potensi dapat berkembang dengan baik menjadikan individu-individu yang berkualitas (Haryanto, W. T, 2019). Kemampuan ini merupakan pijakan didalam mengembangkan ilmu pengetahuan serta menguasai teknologi, yang pada akhirnya di implementasikan ke dalam kegiatan yang memberi dampak kebermanfaat ekonomi dan kesejahteraan (Bondar, A., 2019). Selain itu, literasi juga mampu memberikan sebuah kontribusi pada pembangunan ekonomi dan kesejahteraan, serta peningkatan kualitas kehidupan bagi masyarakat. Kontribusi tersebut dapat terlaksana melalui pendekatan pelayanan perpustakaan yang berkomitmen dalam meningkatkan kualitas kehidupan dan kesejahteraan masyarakat dan disebut sebagai Program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (Haryanti, W. T, 2019) Gambar 1. Kebijakan Transformasi Perpustakaan Gambar diatas, menjelaskan bahwa proses transformasi perpustakaan memiliki tiga tujuan, meliputi: pertama, pengembangan pelayanan perpustakaan berbasis inklusi sosial melalui pemerataan pelayanan perpustakaan berbasis ICT (libraries service based ICT) dan pendampingan masyarakat sebagai bentuk literasi informasi, serta kemampuan berjejaring merupakan bentuk kerjasama dengan berbagai lembaga; kedua, peningkatan budaya baca (reading culture) berbasis keluarga, sehingga tercipta komunitas dan kader literasi di masyarakat; dan ketiga, meningkatkan preservasi bahan pustaka dan naskah kuno serta pelestarian terhadap content didalamnya yang berbentuk informasi yang memiliki kegunaan dalam meningkatkan literasi (Haryanti, W. T, 2019). Berdasarkan hal diatas, pada dasarnya transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial memfokuskan pada dua orientasi, yaitu (1) Orientasi transformasi pada dampak (outcome) yang terjadi pada suatu komunitas ataupun masyarakat, hal ini dikarenakan perpustakaan menjadi sub-bagian dalam sistem kemasyarakatan; dan (2) Orientasi pelayananan yang lebih menekankan pada pendekatan kemanusiaan (humanistic approach), dan juga berbasis pada system social approach atau pendekatan sosial. Untuk itu, perpustakaan harus dirancang, agar memiliki nilai kebermanfaatan yang tinggi bagi masyarakat melalui pendekatan inklusif perpustakaan umum mampu menjadi ruang terbuka bagi masyarakat untuk memperoleh solusi, mengembangkan potensi dan talenta bagi masyarakat (Pasaribu, 2018), sehingga perpustakaan dapat dimanfaatkan oleh masyarakat Desa sebagai pusat pembelajaran (learning center) sepanjang hayat dan juga sebagai pusat kegiatan masyarakat yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan dan kualitas kehidupan masyarakat melalui Program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial.

Method

Metode yang digunakan dalam kajian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan deskriptif analisis (Ulfatin, N, 2015). Suatu pendekatan untuk menggali dan memahami makna individu atau kelompok yang dianggap berasal dari masalah sosial atau manusia. Proses penelitian melibatkan pertanyaan yang muncul dan prosedur, data biasanya dikumpulkan dalam pengaturan peserta, analisis data dibangun secara induktif dan peneliti membuat interpretasi terhadap makna data, dan juga melakukan analisa terhaap literature yang besandar pada teori dan konsep yang berhubungan dengan penelitian (Creswell, 2014). Lokasi penelitian ini berada pada Perpustakaan Desa Manuk Kecamatan Siman Kabupaten Ponorogo Jawa Timur. Teknik pengumpulan data dengan in-depth interview, participant observation, dan documentation study. Teknik analisis data dengan data collection, data condensation, data display, dan drawing and verifying conclusion (Miles, M.B, Hubberman, A.M, & Saldana, J, 2014). Sedangkan pengecekan keabsahan data menggunakan empat kriteria untuk mencapai keabsahan data yaitu creadibility; transferability; dependability; dan confirmability.

Result

1. Transformasi Perpustakaan DesaManuk Berbasis Inklusi Sosial a. Perpustakaan Desa Manuk Sebagai Sarana Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat Salah satu perpustakaan Desa di Kabupaten Ponorogo yang telah tumbuh dan berkembang melalui program transformasi berbasis inklusi sosial adalah perpustaaan Desa Manuk, yang terletak di Kecamatan Siman. Perpustakaan Desa Manuk saat ini telah memasuki tahun keempat. Perpustakaan ini, awal mula dirintis pada bulan April tahun 2017, yang diprakarsai oleh salah satu pemuda Desa Manuk dan juga merupakan perangkat desa, yaitu: saudara Yayan Murdiyono. Awal mulanya, perpustakaan Desa Manuk ini didirikan dengan tujuan untuk memajukan menumbuhkan, meningkatkan dan mengembangkan kepedulian masyarakat Desa Manuk terhadap minat baca, dan hadirnya perpustakaan ini juga sangat di dukung oleh Kepala Desa Manuk dengan menerbitkan Surat Keputusan tentang Pendirian Perpustakaan Desa Manuk yang telah diinstruksikan oleh Pemerintah Propinsi Jawa Timur. Pada awal berdirinya, perpustakaan ini belum melibatkan masyarakat Desa Manuk secara luas, hanya beberapa masyarakat saja yang kebetulan berkunjung di Kantor Desa Manuk atau masyarakat yang datang karena ada kegiatan di Kantor Desa Manuk, seperti kegiatan posyandu ataupun kegiatan yang lainnya. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Yayan Murdianto, selaku Kepala Perpustakaan Desa Manuk: “Iya bu, awal berdirinya perpustakaan Desa Manuk ini belum melibatkan masyarakat, hanya persetujuan Kepala Desa Manuk saja, dan kebetulan juga ada program dari Propinsi Jawa Timur, untuk menghidupkan dan mengaktifkan Perpustakaan Desa. Hanya saja, masyarakat yang kebetulan berkunjung ke Kantor Desa atau masyarakat yang datang ke Kantor Desa untuk kegiatan posyandu atau keperluan lainnya, dapat mengetahui keberadaan perpustakaan ini, dengan adanya buku-buku yang saya bawa ke Kantor Desa Manuk dalam rangka mengenalkan perpustakaan ini pada masyarakat Desa Manuk” (3 Juli 2021). Pada awal terbentuknya, keberadaan perpustakaan Desa Manuk belum mempunyai sarana tetap dalam penyelenggaraannya, hal ini disebabkan perpustakaan ini masih pada tahap pengenalan pada masyarakat. Pengenalan perpustakan ini dilaksanakan melalui kegiatan posyandu, PKK, dan kegiatan lainnya. Proses pengenalan ini tidak sebentar, pengelola perpustakaan terus berupaya mengenalkan keberadaannya kepada masyarakat Desa Manuk. Barulah pada awal tahun 2019, keberadaan dan penyelenggaraan perpustakaan Desa Manuk mulai mendapatkan apresiasi dan dukungan dari masyarakat Desa Manuk. Kerja keras pengelola perpustakaan Desa Manuk untuk mengenalkan perpustakaan tidak berhenti begitu saja, namun terus dilakukan sampai sekarang. Sebagaimana yang dikemukakan oleh saudari Dian selaku masyarakat dan pengguna Perpustakaan Desa Manuk: “Saya sudah merasakan manfaat perpustakaan desa Manuk. Salah satunya adalah saya telah mengikuti berbagai macam pelatihan dan kegiatan lainnya yang diadakan oleh perpustakaan, dimana sebelumnya pelatihan ini belum pernah ada. Keberadaan perpustakaan ini, saya tidak tahu lebih tepatnya kapan, tetapi saya sudah merasakan manfaat keberadaan perpustakaan desa Manuk ini” (3 Juli 2021). Berdasarkan uraian diatas, menunjukkan bahwa transformasi perpustakaan Desa Manuk sebagai sarana peningkatan kesejahteraan masyarakat telah berjalan dengan baik, dimana pada awalnya belum dikenal oleh masyarakat, lambat laun terus berkembang dan berjalan dengan baik, hal ini dapat dilihat dari manfaat yang didapat oleh masyarakat akan keberadaan perpustakaan ini, dan juga ditambah dengan meningkatnya dukungan dan apresiasi masyarakat untuk menjadikan perpustakaan Desa Manuk maju dan terus berkembang. Selain itu, perpustakaan ini telah menjadi program dari Kepala Desa Manuk, dimana pada awal tahun 2019, Desa Manuk mendapatkan Dana Alokasi Khusus dari Pemerintah Propinsi Jawa Timur, dan akhirnya perpustakaan Desa Manuk dapat memiliki bangunan sendiri, dimana awal keberadaaannya masih berbentuk kegiatan pojok baca yang berada di Kantor Desa, rumah Kepala Desa Manuk dan rumah warga masyarakat. b. Perpustakaan Desa Manuk Sebagai Solusi dalam Mengatasi Problematika Kehidupan Masyarakat Sejak awal berdirinya hingga saat ini, keberadaan perpustakaan Desa Manuk, meskipun berada di Desa, namun telah banyak melakukan transformasi untuk memberikan pelayanan pada masyarakatnya, sesuai keberadaan perpustakaan sebagai layanan public (public service). Keberadaan perpustakaan Desa Manuk telah mengalami transformasi yang telah memberikan manfaat dan solusi dalam mengatasi permasalahan yang terjadi di kehidupan masyarakat, dengan cara mengatasinya melalui berbagai kegiatan yang bermanfaat bagi masyarakat dan disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat. Hal diatas, tentunya yang membedakan antara perpustakaan Desa Manuk dengan desa lainnya, yaitu adanya komitmen dalam memberikan solusi atas problematika kehidupan, serta dalam rangka meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat. Sebagaimana disampaikan Ibu Nanik, selaku masyarakat dan pengguna perpustakaan Desa Manuk: “Keberadaan perpustakaan Desa Manuk telah memberikan manfaat yang luar biasa bagi masyarakat, dimana banyak sekali dilaksanakan kegiatan kemasyarakatan mbak, salah satunya yang saya ikuti membuat keset dan membuat hantaran yang dihiasi uang dan keranjang. Ini menambah keterampilan saya dan membuat saya mampu membuat sendiri, mudah-mudahan kedepan bisa produksi. Desa Manuk ini, setelah ada perpustakaan, semakin banyak kegiatan yang memberikan manfaat bagi masyarakat” (7 Juli 2021). Hal senada juga dikemukakan oleh Ibu Murdiyati, selaku Ketua Ibu PKK Desa Manuk: “Keberadaan perpustakaan Desa Manuk semakin bermanfaat bagi masyarakat dan mampu menjawab permasalahan yang berkembang di masyarakat melalui kegiatan yang inovatif dan kreatif, walaupun penyelenggaraannya tetap melibatkan pihak ketiga mbak, karena anggaran perpustakaan tentunya belum memadai dengan banyaknya kegiatan yang diselenggarakan. Nah, supaya kegiatan berjalan baik, maka perlu bekerjasama seperti kerjasama dengan ibu-ibu PKK dalam menjalankan program peningkatan kompetensi masyarakat dengan memberi pelatihan keterampilan yang dibutuhkan oleh masyarakat atau kegiatan lainnya yang dapat mendukung peningkatan kompetensi masyarakat, seperti pelatihan kerajinan, literasi untuk ibu hamil dan lainnya” (wawancara 13 Juli 2021). Berdasarkan uraian diatas, menunjukkan bahwa transformasi perpustakaan Desa Manuk sebagai solusi dalam mengatasi problematika kehidupan masyarakat telah berjalan dengan baik, sehingga perpustakaan Desa Manuk mampu berinovasi untuk dapat menjadi solusi alternatif dalam mengatasi problematika melalui berbagai kegiatan dalam rangka meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat Desa Manuk. Selain itu, keberadaan perpustakaan Desa Manuk tentunya tidak akan lepas dari komitmen dari pengelola perpustakaan untuk dapat memberikan pelayanan yang prima kepada masyarakat dan pengguna perpustakaan dan solusi atas berbagai problematika kehidupan yang terjadi di masyarakat Desa Manuk. c. Perpustakaan Desa Manuk Sebagai Pusat Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan Sejak berdirinya, perpustakaan Desa Manuk terus berupaya untuk menjadi pusat ilmu pengetahuan dan kebudayaan bagi masyarakat Desa Manuk. Berbagai upaya terus diupayakan pengelola perpustakaan dan menyesuaikan pengembangannya dengan kebutuhan masyarakat Desa Manuk dan masyarakat umum. Salah satu upaya pengembangan yang telah dilakukan oleh pengelola perpustakaan, yaitu mencukupi ketersediaan koleksi buku-buku dan sarana lainnya yang tentunya mengarah pada kebutuhan pengguna perpustakaan, sehingga nantinya perpustakaan ini dapat menjadi rujukan bagi pengguna perpustakaan dalam menjawab problematika yang dihadapinya, dan juga dapat menjadi pusat keilmuan, pengetahuan, dan kebudayaan bagi masyarakat Desa Manuk dan masyarakat umum lainnya. Adapun statistik jumlah koleksi buku-buku dan sarana lainnya di perpustakaan Desa Manuk Tahun 2019/2020, adalah sebagai berikut: Pada Tahun 2019, 500 Judul, 1.000 Eksemplar; dan Tahun 2020, 623 Judul dan 1.285 Eksemplar (Sumber: Data Pengolahan Perpustakaan Desa Manuk Tahun 2019/2020). Pengembangan perpustakaan Desa Manuk tidak hanya pada pencukupan kebutuhan koleksi buku dan sarana lainnya, namun juga membenahi pelayanannya dengan menerapkan tiga jenis akses dalam layanan perpustakaan Desa Manuk, yaitu: (a) akses layanan terbuka (open access); (b) akses layanan tertutup (close access); dan (c) akses layanan campuran (mixed access). Pengembangan melalui ketiga akses layanan ini, ada hubungannya dengan cara bagaimana perpustakaan Desa Manuk memberikan kemudahan bagi masyarakat untuk menemukan buku-buku rujukan dan bahan pustaka dalam mencari informasi dan menambahkan wawasan kelilmuan, pengetahuan, dan kebudayaan. Selain itu, terdapat beberapa jenis layanan lainnya yang telah diterapkan oleh pengelola perpustakaan Desa Manuk dalam memberikan kemudahan bagi masyarakat, yaitu: (a) Layanan sirkulasi; (b) layanan bimbingan pembaca; (c) layanan audio visual; (d) layanan internet; dan (e) layanan silang layan (Sumber: Data Pengolahan Perpustakaan Desa Manuk Tahun 2019/2020) Berdasarkan uraian diatas, menunjukkan bahwa transformasi perpustakaan Desa Manuk sebagai pusat ilmu pengetahuan dan kebudayaan telah berjalan dengan baik, sehingga perpustakaan Desa Manuk mampu memberikan pelayanan yang prima bagi masyarakat Desa Manuk dan masyarakat umum. Segala upaya dalam pengembangan perpustakaan Desa Manuk telah diupayakan oleh pengelola perpustakaan antara lain: mencukupi kebutuhan buku-buku yang disesuaikan kebutuhan masyarakat, menerapkan tiga akses dalam layanan perpustakaan Desa Manuk, yaitu: open access, close access, dan mixed access; dan menerapkan lima jenis layanan untuk memberikan kemudahan bagi masyarakat dalam mencari informasi dan wawasan keilmuan, pengetahuan, dan kebudayaan, yaitu: layanan sirkulasi, layanan bimbingan pembaca, layanan audio visual, layanan internet, dan layanan silang layan. Selain itu, pengembangan perpustakaan Desa Manuk tentunya tidak akan lepas dari kegigihan dan kerja keras yang diberikan pengelola perpustakaan dan dibarengi dengan dukungan Kepala Desa Manuk untuk dapat menjadikan perpustakaan Desa Manuk menjadi pusat ilmu pengetahuan dan kebudayaan di Desa Manuk secara khusus, dan Kabupaten Ponorogo secara umumnya. d. Perpustakaan Desa Manuk Sebagai Pusat Pengembangan Minat dan Bakat Masyarakat Dalam pengem bangannya, perpustakaan Desa Manuk mempunyai slogan “dari membaca aku bisa”. Slogan inilah yang menjadikan perpustakaan Desa Manuk terus maju dan berkembang sebagai pusat pengembangan minat dan bakat masyarakat Desa Manuk hingga saat ini. Slogan tersebut, juga mengantarkan perpustakaan Desa Manuk menjadi salah satu perpustakaan yang memperoleh Juara III pada ajang lomba perpustakaan tingkat Propinsi Jawa Timur dan juga termasuk sebagai 10 Besar Perpustakaan Desa terbaik di Negara Indonesia. Kemudian, semenjak memperoleh Dana Alokasi Khusus atau Hibah “Program Replika Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial”, perpustakaan Desa Manuk secara berkesinambungan terus meningkatkan performa pelayanan yang diberikan kepada masyarakat dalam rangka meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran bagi masyarakat Desa Manuk melalui kegiatan pengembangan minat dan bakat. Menurut Yayan Murdiyanto selaku Kepala Perpustakaan Desa Manuk mengatakan bahwa pengembangan minat dan bakat yang diberikan pada masyarakat Desa Manuk dan masyarakat umum dilaksanakan dengan berbagai kegiatan dan pelatihan. Kegiatan dan pelatihan tersebut terpusatkan pada perpustakaan Desa Manuk dan bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat. Kegiatan dan pelatihan tersebut difokuskan untuk mengembangkan minat dan bakat bagi anak-anak, remaja, sampai orang tua. Adapun kegiatan yang dilaksanakan pada perpustakaan Desa Manuk sebagai pusat pengembangan minat dan bakat masyarakat, antara lain sebagai berikut: a. Kegiatan dongeng bagi orang tua dan Kegiatan dongeng, baca, dan mewarnai bagi anak-anak. b. Kegiatan Pelatihan ICT Dan Las Listrik. c. Kegiatan ketrampilan masyarakat Berdasarkan uraian diatas, menunjukkan bahwa transformasi perpustakaan Desa Manuk sebagai pusat pengembangan minat dan bakat masyarakat telah berjalan dengan baik, sehingga perpustakaan Desa Manuk telah mampu menjadikan perpustakaan Desa Manuk sebagai pusat pengembangan minat dan bakat masyarakat, agar dapat menjadi masyarakat yang mandiri, cerdas, aktif dan sejahtera. Selain itu, perpustakaan Desa Manuk juga telah sukses melakukan berbagai inovasi dan kreasi kegiatan yang sangat dibutuhkan masyarakat dalam menunjang peningkatan potensi yang mereka butuhkan, dan tentunya pengembangan ini didapatkan dengan adanya dukungan, kolaborasi dari pemerintah, masyarakat dan lembaga lainnya 2. Dampak Transformasi PerpustakaanDesa Manuk Berbasis Inklusi Sosial Perpustakaan sangat identik sebagai gudang buku, namun hal ini berangsur-angsur mengalami pergeseran peran. Paradigma berpikir masyarakat Desa Manuk dengan statement minor terhadap perpustakaan, mengalami perubahan, karena perpustakaan Desa Manuk telah mampu melakukan transformasi, sehingga mendapat apresiasi dan dukungan, menjawab kebutuhan masyarakat, dan tidak jarang mengatasi problematika kehidupan masyarakat, terutama pada era saat ini yang ditandai dengan pesatnya perkembangan teknologi dan informasi. Transformasi perpustakaan Desa Manuk ini diciptakan oleh pengelola perpustakaan dalam rangka mewujudkan perpustakaan yang menjadi “knowledge and information centre”; mewujudkan perpustakaan yang mampu dijangkau oleh semua elemen masyarakat “libraries for all” (perpustakaan dapat diakses oleh semua orang); dan mewujudkan perpustakaan sebagai pusat sarana dalam mengatasi problematika yang dihadapi masyarakat, pusat pengembangan minat dan bakat, pusat ilmu pengetahuan dan kebudayaan, dan pusat peningkatan kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat. Transformasi perpustakaan Desa Manuk, pada prinsipnya tidak mampu bersendiri dalam menjalankan program kegiatan dan pelatihannya. Dalam pelaksanaannya, masih memerlukan adanya upaya kerjasama untuk memperkuat jejaring dan bertujuan untuk keberhasilan dalam menjalankan program yang telah dicanangkan, yaitu: pertama, mengidentifikasi kebutuhan pemustaka, dimana Identifikasi ini untuk memperoleh gambaran apa yang dibutuhkan masyarakat pengguna dalam meningkatkan kesejahteraan hidupnya; dan kedua, melakukan kerjasama dengan berbagai pihak, dimana kerjasama ini dilakukan dalam rangka mengembangkan dan meningkatkan perpustakaan Desa Manuk. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Pak Je, selaku Petugas Perpustakaan Daerah Kabupaten Ponorogo: “Pada tahun ini, perputakaan daerah terus berupaya untuk menambah jenis koleksi perpustakaan Desa Manuk dengan mendatangkan mobil perpustakaan keliling dengan jadwal yang telah ditentukan” (4 Juli 2021). Selain itu, transformasi perpustakaan Desa Manuk berbasis inklusi sosial ini diselenggarakan melalui berbagai kegiatan dan pelatihan yang disesuaikan dengan kebutuhan yang dibutuhkan masyarakat dan penyelenggataan juga berkerjasama dengan beberapa instansi dan lembaga yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat, dan meningkatkan minat, bakat, potensi, kompetensi, dan keterampilan masyarakat Desa Manuk dan masyarakat umum, antara lain: (a) Balai Latihan Kerja (BLK) Kabupaten Ponorogo dengan menyelenggarakan pelatihan las, pelatihan pengemasan produk olahan, pelatihan peningkatan pembelajaran berbasis jarak jauh (PJJ), dan pelatihan computer; (b) Universitas Muhammadiyah Ponorogo dengan menyelenggarakan pelatihan pendampingan pengolahan perpustakaan digital (digital library); (c) Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia Kabupaten Ponorogo dengan menyelenggarakan pelatihan pengembangan fasilitas-fasilitas Wifi gratis diarea perpustakaan; dan (d) Dinas Pertanian dan Perikanan kabupaten Ponorogo dengan menyelenggarakan pelatihan pengolahan ikan bagi masyarakat Desa Manuk. Transformasi perpustakaan Desa Manuk ini, tentunya sangat berdampak bagi masyarakat Desa Manuk, selain menyediakan informasi dan wawasan, juga memiliki tujuan yang lebih dalam meningkatkan kesejahteraan dan terwujudnya kemakmuran masyarakat. Transformasi perpustakaan Desa Manuk ini juga didukung dengan adanya monitoring dan evaluasi, dimana hal ini bertujuan untuk mengetahui impact atau dampak transformasi perpustakaan Desa Manuk berbasis inklusi sosial. Hal ini sebagaimana yang dikemukakan oleh Bapak Yayan Murdianto, selaku Kepala Perpustakaan Desa Manuk: “Program kegiatan dan pelatihan yang telah direncanakan dan dijalankan di perpustakaan ini, juga dibarengi dengan monitoring dan evaluasi, dimana monitoring dan evaluasi terdiri dari pertama, dilaksanakan setelah program berjalan; dan kedua dampak setelah program berjalan dan diterapkan. Evaluasi dilakukan tiga bulan sekali, sedangkan monitoring dilakukan dengan cara wawancara pada penerima dampak, observasi, serta survey. Monitoring dan evaluasi inilah yang kami jadikan pijakan dalam meningkatkan program-program selanjutnya” (3 Juli 2021). Berikut ini data hasil monitoring dan evaluasi bagi penerima dalam program transformasi perpustakaan Desa Manuk berbasis inklusi sosial, yaitu sebagai berikut: Gambar 2. Data Hasil Monitoring dan Evaluasi Penerima terhadap Dampak Transformasi Perpustakaan Desa Manuk Berdasarkan uraian diatas, menunjukkan bahwa dampak transformasi perpustakaan Desa Manuk berbasis inklusi sosial telah berjalan dengan baik, dimana proses transformasi ini juga didukung dengan adanya monitoring dan evaluasi yang dilakukan oleh pengelola perpustakaan Desa Manuk, sehingga perpustakaan Desa Manuk mampu memberikan pelayanan yang prima dalam mewujudkan masyarakat yang mandiri, cerdas, aktif dan sejahtera dan terus mendapatkan apresiasi, dukungan, kolaborasi dari pemerintah, masyarakat dan lembaga lainnya. Selain itu, transformasi perpustakaan Desa Manuk berbasis inklusi sosial juga berdampak significant bagi masyarakat Desa Manuk dan masyarakat umum ditandai dengan adanya peningkatan literasi informasi berbasis teknologi dan informasi, dilihat dari bertambahnya wawawan dan pengetahuan, dan nilai sekolah yang bagus; dan peningkatan kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat, dilihat dari meningkatnya pendapatan, kesehatan, dan mendapatkan pekerjaan, dan lain sebagainya.

Conclusion

Dampak transformasi perpustakaan Desa Manuk berbasis inklusi sosial telah berjalan dengan baik, dimana proses transformasi ini juga didukung dengan adanya monitoring dan evaluasi yang dilakukan oleh pengelola perpustakaan Desa Manuk, sehingga perpustakaan Desa Manuk mampu memberikan pelayanan yang prima dalam mewujudkan masyarakat yang mandiri, cerdas, aktif dan sejahtera dan terus mendapatkan apresiasi, dukungan, kolaborasi dari pemerintah, masyarakat dan lembaga lainnya. Selain itu, dampak transformasi perpustakaan desa berbasis inklusi sosial di Desa Manuk Kecamatan Siman telah berjalan sejalan dengan konsep transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial Woro Titi Haryanti, yaitu sebagai berikut: Pertama, perpustakaan Desa Manuk telah bertransformasi menjadi sarana peningkatan kesejahteraan masyarakat; pusat solusi dalam mengatasi berbagai problematika kehidupan masyarakat; pusat ilmu pengetahuan dan kebudayaan (learning center) dan pusat pengembangan minat dan bakat masyarakat; Kedua; dampak transformasi perpustakan Desa Manuk berbasis inklusi sosial ini sangat berdampak significant bagi masyarakat Desa Manuk dan masyarakat umum ditandai dengan (a) adanya peningkatan literasi informasi berbasis teknologi dan informasi, dilihat dari bertambahnya wawawan dan pengetahuan, dan nilai sekolah yang bagus; dan (b) peningkatan kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat, dilihat dari meningkatnya pendapatan, kesehatan, dan mendapatkan pekerjaan, dan lain sebagainya.