Pelayanan perpustakaan desa berbasis inklusi sosial di Perpustakaan Desa Jendela Dunia Kabupaten Kuningan Jawa Barat
Universitas Padjadjaran; Universitas Padjadjaran; Universitas Padjadjaran
Abstrak
Pendahuluan. Perpustakaan desa/kelurahan merupakan perpustakaan umum yang mendukung kegiatan pendidikan masyarakat pedesaan. Perpustakaan desa diharapakan bertransformasi menjadi perpustakaan berbasis inklusi sosial. Penelitian bertujuan untuk mengetahui layanan dan kegiatan Perpustakaan Desa Jendela Dunia yang berbasis inklusi sosial. Metode penelitian. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Data analisis. Teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi, studi pustaka. Hasil dan Pembahasan. Perpustakaan Desa Jendela Dunia telah berbasis inklusi sosial dilihat dari aspek pengembangan koleksi yang berorientasi pada kebutuhan masyarakat, perpustakaan digital yang berbasis website, menyelenggarakan pelatihan komputer, kerajinan tangan, kesenian, dan senam kesegaran jasmani, menyelenggarakan layanan inovatif KOBOK, sepeda keliling, sekolah lapangan dan mendukung literasi kesehatan melalui Posyandu dan Posbindu. Kesimpulan dan Saran. Perpustakaan Desa Jendela Dunia merupakan perpustakaan berbasis inklusi sosial yang dikelola secara kreatif dan mendapatkan dukungan dari kepala desa. Perpustakaan ini dapat menjadi model bagi perpustakaan desa lain dalam memanfatkan potensi desa. Perpustakaan Desa Jendela Dunia disarankan membuka pelatihan bagi pengelola perpustakaan di luar desa.
Abstract
Introduction. A village library is a public library that support rural community education activities. The village library should be transformed into a sosial inclusion-based library. The paper aims to explore services and activities of Jendela Dunia Village Library based on sosial inclusion. Data Collection Method. This paper used a qualitatative research method with a case study approach. Data Analysis. The data collection techniques were conducted through interviews, observations, and library studies. Results and Discussion. The Jendela Dunia Village Library has been run based on sosial inclusion considering aspects of collection development to support the needs of the community with a web-based digital library. Several activities have also been conducted such as organising training of computer, making handicrafts, arts, and gymnastics, organisings innovative KOBOK services, managing mobile reading bicycles, and supporting health literacy through Posyandu and Posbindu. Conclusion. Jendela Dunia Village Library is a sosial inclusion-based library that is creatively managed and has the full support of the village leader. This can be a model for other village libraries in utilizing the potential of the village. Jendela Dunia Village Library also opens training sfor library managers outside the village.
Keywords:
library services
· sosial inclusion
· village library
· jendela dunia
Introduction
A. PENDAHULUAN Perpustakaan merupakan institusi penyedia sumber informasi terseleksi untuk didayagunakan oleh masyarakat yang menjadi target layanannya. Perpustakaan pun harus dapat memenuhi kebutuhan informasi pemustaka. Fujiwara et al. (2019) mengatakan bahwa perpustakaan memiliki peran sosial yang penting sebagai repositori pengetahuan, pengembangan pendidikan, dan sebagai ruang komunitas fisik yang dapat diakses secara bebas. Dengan demikian, perpustakaan harus memiliki fungsi yang strategis dalam kehidupan masyarakat. Perpustakaan berperan sebagai sarana pengembangan intelektual sehingga pengembangan perpustakaan idealnya merupakan bagian dari pembangunan pendidikan dan karakter masyarakat. Perpustakaan harus menyediakan pelayanan perpustakaan yang beragam karena sebagian besar pelayanan perpustakaan diberikan aksesnya secara bebas. Selain itu, perpustakaan harus memberikan manfaat secara langsung kepada pemustaka, misalnya memberikan perubahan kesejahteraan dari dampak pelayanan perpustakaan terhadap kesejahteraan pemustaka (Fujiwara et al., 2019). Perpustakaan umum sebagai perpustakaan yang melayani masyarakat secara luas tentunya harus memberikan kontribusi dalam meningkatkan kualitas hidup tiap individu, contohnya Perpustakaan Nasional Republik Indonesia yang telah membina perpustakaan di seluruh daerah Indonesia melalui berbagai program literasi (Nidya, 2019). Secara umum, perpustakaan yang berbasis inklusi sosial telah membantu masyarakat untuk mengembangkan keahlian masing-masing individu (Permana, 2019). Dengan demikian, perpustakaan berbasis inklusi sosial harus mengembangkan layanannya agar relevan dengan kebutuhan sosial semua lapisan masyarakat dengan tujuan meningkatkan kemampuan sosial ekonomi individu. Perpustakaan berbasis inklusi sosial dapat didefinisikan sebagai, “Perpustakaan yang menawarkan jasa layanan informasi yang terbuka kepada seluruh masyarakat dengan berbagai perbedaan latar belakang, karakteristik, kemampuan, status, kondisi, etnik, maupun budaya untuk mengembangkan potensi diri untuk peningkatan ekonomi” (Utami & Prasetyo, 2020). Perpustakaan melalui program berbasis inklusi sosial telah melakukan transformasi menjadi perpustakaan yang mampu mengembangkan berbagai jenis layanan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat sebagai target pelayanan perpustakaan. Maka pengetahuan dan keterampilan masyarakat pun dapat berkembang. Salah satu jenis perpustakaan yang memiliki program berbasis inklusi sosial terdapat di perpustakaan desa. Perpustakaan desa merupakan salah satu jenis perpustakaan umum yang berkedudukan di suatu desa/kelurahan sehingga lebih mudah diakses oleh masyarakat yang berada di suatu wilayah pedesaan. Salah satu perpustakaan desa yang dapat dikategorikan sudah dikelola dengan baik adalah Perpustakaan Desa Jendela Dunia di Desa Pasayangan, Kecamatan Lebak Wangi, Kabupaten Kuningan Jawa Barat. Mengacu pada Omeluzor et al. (2017), perpustakaan desa sebagai pusat informasi dan komunitas untuk penyediaan materi informasi yang memadai dan relevan tentang masalah-masalah yang memengaruhi masyarakat desa, seperti kelahiran anak, pengendalian kelahiran, kesehatan remaja, buta huruf, dan keputusan pemerintah. Perpustakaan desa yang efektif akan membantu meningkatkan kondisi kehidupan dan kualitas hidup masyarakat desa. Perpustakaan Desa Jendela Dunia merupakan perpustakaan desa di Desa Pasayangan yang telah berhasil menjadi juara I lomba perpustakaan desa tingkat Jawa Barat tahun 2020. Perpustakaan ini telah berhasil mengajak masyarakat untuk ikut peduli dalam kegiatan literasi di lingkungan desa. Perpustakaan Desa Jendela Dunia telah mempraktikkan pengelolaan perpustakaan tingkat desa yang patut dicontoh oleh perpustakaan desa lainnya. Hal ini menjadikan perpustakaan meraih prestasi juara, sedangkan perpustakaan desa di tempat lain masih dikelola secara sederhana dan mengalami berbagai keterbatasan. Peneliti melihat bahwa kiprah Perpustakaan Desa Jendela Dunia menarik untuk diteliti dan sebagai temuan penelitian yang unik dari representasi sebuah perpustakaan desa. Penelitian mengenai perpustakaan desa memang telah dilakukan beberapa peneliti, misalnya penelitian dari Strover et al. (2020), Xia (2016), Omar et al. (2015), Griffis and Johnson (2014), dan Rodiah et al. (2018). Penelitian pertama, Strover et al. (2020) meneliti mengenai peran 24 perpustakaan desa yang memberikan fasilitas WiFi pada masyarakat Kansas dan Maine. Masyarakat terbantu dalam pemenuhan akses internet melalui hostpot dari perpustakaan sehingga menambah kepercayaan masyarakat lokal kepada perpustakaan. Penelitian kedua dari Xia (2016) mengenai program Liren Rural Library (LRL) di Tiongkok. Program ini sebagai ruang publik masyarakat secara offline mulai dari kegiatan diskusi kebudayaan, pembacaan buku, ruang bertukar ide, dan kegiatan pendidikan lainnya dengan Liren College. Namun dalam kiprah Liren Rural Library di masyarakat, keberadaannya tidak ditoleransi oleh pemerintah dan digantikan perpustakaan lainnya sesuai kehendak pemerintak Tiongkok. Penelitian ketiga, Omar et al. (2015) mengenai peran perpustakaan desa di Malaysia dalam memenuhi kebutuhan informasi masyarakat desa khususnya generasi muda. Hasil penelitiannya memperlihatkan adanya keterkaitan antara penggunaan perpustakaan dan ketersediaan koleksi. Perpustakaan desa di Malaysia harus merancang pengembangan koleksinya untuk disesuaikan dengan jumlah pemustaka dari kalangan muda. Penelitian keempat, Griffis and Johnson (2014), mengenai penelitian perpustakaan desa di Ontario, Kanada. Perpustakaan desa telah memiliki program untuk membantu masyarakat secara ekonomi dan sosial namun hal ini masih belum berjalan dengan baik/ Hal ini karena program perpustakaan dengan program pemerintah yang serupa belum sinkron. Terakhir penelitian Rodiah et al. (2018) mengenai beberapa kelemahan yang dijumpai di perpustakaan desa, di antaranya staf perpustakaan yang tidak profesional, fasilitas yang belum memadai, dana terbatas, dan minat kunjung perpustakaan yang masih rendah. Namun, ada pula beberapa perpustakaan desa yang sudah dikelola dengan baik sehingga dapat dikategorikan sebagai perpustakaan yang sudah bertransformasi menjadi perpustakaan desa berbasis inklusi sosial. Berdasarkan 5 rujukan penelitian terdahulu di atas, terlihat bahwa perpustakaan desa memiliki peran membantu masyarakat desa di kehidupan sosialnya. Perpustakaan desa membantu masyarakat untuk literat dalam berbagai bidang sehingga dinamakan perpustakaan yang berbasis inklusi sosial. Demikian halnya dengan Perpustakaan Desa Jendela Dunia. Perpustakaan ini telah membantu memberdayakan masyarakat desa di kehidupan sosialnya. Pemberdayaan sendiri dalam konteks pemikiran merupakan suatu pembangunan yang berpusat pada rakyat. Pemberdayaan lebih merujuk kepada aksi bersama untuk memperbaiki kualitas hidup di masyarakat dan hubungan di antara organisasi masyarakat. Perpustakaan yang melakukan transfromasi ke layanan berbasis inklusi sosial dapat diamati dari koleksi, tempat atau lokasi, profil atau visi misi perpustakaan, Teknologi Informasi Dan Komunikasi (TIK), dan pustakawan (Utami & Prasetyo, 2019). Idealnya perpustakaan desa merupakan perintis perpustakaan yang sudah bertransformasi menjadi perpustakaan berbasis inklusi sosial, namun fakta di lapangan menunjukkan bahwa masih banyak perpustakaan desa dalam kondisi memprihatinkan karena dikelola seadanya dengan segala keterbatasan. Perpustakaan desa masih memiliki keterbatasan dalam berbagai hal baik sumber daya manusia, fasilitas, maupun sumber daya keuangan. Dengan demikian pelayanan kepada masyarakat pun masih sangat terbatas. Hal ini berakibat pada rendahnya pemanfaatan perpustakaan oleh masyarakat. Idealnya perpustakaan desa harus menjadi sumber informasi bagi masyarakat sehingga masyarakat menjadi lebih berdaya. Berdasarkan pada pengamatan di lapangan Perpustakaan Desa Jendela Dunia Kabupaten Kuningan dengan segala keterbatasannya berusaha untuk terus mengembangkan pelayanan perpustakaan. Berbagai langkah dilakukan untuk membantu masyakat dalam memperoleh informasi. Perpustakaan Desa Jendela Dunia Kabupaten memanfaatkan koleksi perpustakaan yang telah didapatkan dari berbagai sumber, misalnya pembelian dan sumbangan. Pengelola perpustakaan mencoba tidak bergantung menunggu kiriman sumbangan koleksi namun harus memanfaatkan koleksi agar informasinya tersampaikan kepada pemustaka. Bagi beberapa perpustakaan, apabila tidak ada koleksi maka pelayanan tidak akan berjalan. Perpustakaan Desa Jendela Dunia berbeda dengan perpustakaan lainnya. Kepala perpustakaan dan pengelola perpustakaan bersama-sama aktif memberdayakan masyarakat melalui layanan inklusi sosial. Penelitian mengenai pelayanan perpustakaan desa berbasis inklusi sosial di Perpustakaan Desa Jendela Dunia Kabupaten Kuningan Jawa Barat memiliki tujuan untuk mengkaji bagaimana proses pengelolaan perpustakaan Desa Jendela Dunia dilihat dari aspek pengembangan koleksi, fasilitas dan teknologi informasi, inovasi layanan perpustakaan sebagai upaya pemberdayaan masyarakat, dan untuk menjelaskan kendala yang dihadapi dalam pengelolaan perpustakaan yang bersangkutan. Penelitian ini dirasa baru dengan penelitian perpustakaan desa lainnya karena Perpustakaan Desa Jendela Dunia telah melakukan transformasi berbasis inklusi sosial sejalan dengan program Perpustakaan Nasional. Dengan demikian, penelitian ini diharapkan menjadi rujukan bagi pengelola perpustakaan desa di tempat lain, dan penelitian-penelitian selanjutnya mengenai transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial. B. TINJAUAN PUSTAKA Perpustakaan desa merupakan perpustakaan umum yang hadir di tengah masyarakat dalam lingkungan suatu desa. Oleh karena itu, target layanannya adalah masyarakat yang bertempat tinggal di wilayah desa yang bersangkutan. Dengan demikian perpustakaan desa merupakan tempat sumber informasi yang paling dekat dengan masyarakat. Perpustakaan desa seharusnya mampu memenuhi kebutuhan informasi masyarakat melalui berbagai koleksi yang disediakannya. Pada umumnya koleksi sumber informasi yang ada di perpustakaan desa dalam format cetak berupa buku, majalah, surat kabar, dan sebagainya. Dengan demikian masyarakat harus mengunjungi perpustakaan untuk memperoleh koleksi dan memanfaatkannya. Hal ini merupakan satu kelemahan yang dimiliki perpustakaan desa sehingga hanya kelompok masyarakat tertentu yang memiliki motivasi dan minat baca tinggi datang ke perpustakaan desa. Perpustakaan desa sebagai sarana untuk meningkatkan minat membaca harus siap mendekatkan diri pada masyarakat. Artinya fungsi perpustakaan desa harus lebih dioptimalkan dengan melakukan inovasi dalam menyediakan berbagai layanan. Perpustakaan desa harus melakukan transformasi dari perpustakaan desa yang melayani kebutuhan administratif ke perpustakaan berbasis inklusi sosial yang mampu memenuhi kebutuhan informasi, pendidikan, ekonomi, rekreasi, dan kebutuhan sosial semua lapisan masyarakat. Menurut Irsan (2019), jika dahulu perpustakaan sibuk dengan urusan teknik administratif maka sekarang sudah saatnya perpustakaan diarahkan agar inklusif memperhatikan aspek sosial budaya sehingga diharapkan semua lapisan masyarakat akan tertarik untuk memanfaatkan perpustakaan tersebut. Ayoung et al. (2020) menambahkan bahwa perpustakaan umum telah mencoba berbagai cara inovatif untuk melayani atau menjangkau klien untuk mempromosikan pembelajaran seumur hidup. Begitu pun perpustakaan desa sebagai bagian dari perpustakaan umum yang berada di desa. Kepala perpustakaan dan pustakawan harus aktif mencari pemustaka atau menarik pemustaka datang ke perpustakaan. Selain itu, perpustakaan umum memiliki peran penting membantu pemustaka yang memiliki hambatan secara sosial. “[..] Public libraries can also offer free access to computers, information as well as access to government, health and community resources, for example, updates on job opportunities. In short, public libraries can help resolve social exclusion and promote social inclusion by offering a safe place, and a safe learning environment, as well as providing free information and services” (Lo et al., 2019). Perpustakaan dapat menawarkan akses gratis komputer, informasi sebagai akses ke sumber daya pemerintah, kesehatan dan komunitas, dan pembaruan tentang peluang kerja. Perpustakaan umum dapat membantu masyarakat yang merasa terkucilkan melalui inklusi sosial dengan menawarkan tempat yang aman, lingkungan belajar yang aman, menyediakan informasi dan layanan yang dapat diakses secara bebas. Walaupun demikian, Khairunisa (2020) mengutarakan bahwa dalam pengembangan perpustakaan berbasis inklusi sosial masih memiliki kendala, misalnya di Dinas Perpustakaaan dan Arsip Daerah Provinsi Jambi menghadapi kendala terbatasnya anggaran dana dan jaringan internet yang belum kuat. Kemudian Dinas Perpustakaaan dan Arsip Daerah Provinsi Jambi dalam menghadapi kendala ini melakukan kerjasama dengan para stakeholder dan memanfaatkan anggaran yang ada. Inklusi sosial sendiri dikatakan sebagai masyarakat yang mampu mendapatkan sumber daya yang ada, peluang, dan mendapatkan kesempatakan untuk belajar, bekerja, terlibat, dan bersuara (Bridge & Carnemolla, 2014). Ozili (2020) memaparkan bahwa ada 7 indikator inklusi sosial yang diidentifikasi dari kebijakan dan literatur akademik, yakni kualitas gender, keadilan penggunaan sumber daya publik, pembangunan sumber daya manusia, perlindungan sosial, diskriminasi, kelestarian lingkungan, dan teknologi sosial. Ada pula 3 indikator tambahan seperti keahlian pengembangan sosial, teknologi sosial, dan penciptaan ruang rekreasi yang dibutuhkan masyarakat. Untuk itu, perpustakaan harus menciptakan pelayanan berbasis inklusi sosial sebagai bentuk pemberdayaan masyarakat dan tentunya menarik masyarakat mau menggunakan pelayanan perpustakaan. Setiap perpustakaan provinsi, kota, kabupaten, bahkan desa mulai membangun pelayanan perpustakaan berbasis inklusi. Salah satunya pada Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah Provinsi Jambi, “Melalui beberapa strategi, yaitu melibatkan peran aktif pustakawan, mengeluarkan regulasi kebijakan dan pembentukan tim sinergi, melakukan Stakeholder Meeting, peluncuran Ipustaka Jambi, dan melakukan kegiatan Peer Learning Meeting” (Khairunisa, 2020). Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah Provinsi Jambi menyelenggarakan kegiatan sedemikian rupa untuk mengenalkan pelayanan perpustakaan ke masyarakat Jambi. Utami dan Prasetyo (2019) menjelaskan beberapa perbedaan perpustakaan dengan paradigma lama dengan perpustakaan yang sudah melakukan transformasi menjadi perpustakaan berbasis inklusi sosial. Aspek pertama adalah dari segi koleksi perpustakaan. Perpustakaan dalam paradigma lama proses pengadaan koleksi biasanya belum memperhatikan kebutuhan informasi masyarakat sehingga banyak koleksi yang tidak relevan. Adapun pada perpustakaan yang sudah melakukan transformasi, perpustakaan harus berperan sebagai fasilitator dalam pertumbuhan ekonomi. Maka, perpustakaan harus menyediakan koleksi yang dapat memenuhi kebutuhan informasi masyarakat. Aspek kedua yaitu perpustakaan sebagai tempat. Pada perpustakaan dalam paradigma lama, perpustakaan hanya sebagai tempat menyimpan buku-buku di rak. Adapun pada perpustakaan yang sudah melakukan transformasi, perpustakaan sebagai wahana rujukan informasi dalam mencari solusi permasalahan. Aspek ketiga adalah dari segi keadaan atau fungsi perpustakaan. Perpustakaan dalam paradigma lama pada umumnya hanya berfungsi sebagai ruang baca yang sepi. Adapun pada perpustakaan yang sudah melakukan transformasi akan menjadi pusat kegiatan masyarakat dalam pengembangan potensi diri. Aspek keempat adalah dari segi pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). Perpustakaan dalam paradigma lama minim sentuhan TIK sedangkan perpustakaan yang sudah melakukan transformasi sudah memanfaatkan TIK sebagai sarana akses sumber informasi. Aspek kelima adalah dari segi staf perpustakaan (pustakawan). Perpustakaan dalam paradigma lama, pustakawan bersikap pasif, hanya sebagai penjaga buku. Perpustakaan yang sudah melakukan transformasi, pustakawan memiliki peran sebagai mediator yang aktif dalam membantu para pencari informasi dalam menemukan informasi yang dibutuhkannya (Utami et al., 2019). Selanjutnya perpustakaan dikembangkan menjadi tempat masyarakat melakukan kegiatan berbagi pengetahuan dan keahlian sehingga bisa melakukan kreasi dan menghasilkan sesuatu yang bernilai (makerspace).Makerspace didefinisikan sebagai, “tempat orang berkumpul untuk berbagi sumber daya dan pengetahuan, mengerjakan proyek, jaringan, dan membangun (Nihayati & Wijayanti, 2019). Sementara Burke (2015) mengungkapkan bahwa, makerspaces adalah kombinasi dari komunitas pengguna, kumpulan alat, dan keinginan untuk membuat, bertukar pengetahuan, dan berbagi apa saja. Adapun dalam konteks perpustakaan, Burke (2015) menekankan bahwa otoritas ada pada perpustakaan tergantung bagaimana perpustakaan menafsirkan dan mengembangkan bentuk makerspace akan seperti apa. Utami and Prasetyo (2020) menambahkan bahwa konsep perpustakaan sebagai makerspace diartikan sebagai perpustakaan yang dikondisikan sebagi tempat komunitas sosial masyarakat dalam saling berbagi keahlian dan pengetahuan. Du (2019) menulis bahwa sesuai demografi pemuda, perpustakaan desa harus dirancang untuk menarik generasi muda. Hal ini berawal dari perkembangan teknologi pembelajaran, kurangnya persiapan remaja yang memadai untuk angkatan kerja, pentingnya pembelajaran yang terhubung, dan perlunya kesempatan belajar interaktif bagi kaum muda. Kesulitan menjangkau remaja di komunitas pedesaan dapat diatasi melalui pengembangan pelatihan, membuat model makerspace, dan menghasilkan kegiatan pembelajaran yang terhubung untuk generasi muda. Dengan demikian, perpustakaan yang sudah bertransformasi menjadi perpustakaan berbasis inklusi sosial telah melakukan perubahan dirinya secara total. Walaupun demikian, pustakawan dan pengelola perpustakaan membutuhkan motivasi dan semangat untuk berubah dari para pengambil kebijakan atau pihak-pihak lain dalam ekosistem perpustakaan.
Method
Penelitian ini menggunakan metode studi kasus melalui pendekatan kualitatif.Studi kasus membantu menggambarkan fenomena pelayanan perpustakaan desa berbasis inklusi sosial di Perpustakaan Desa Jendela Dunia Kabupaten Kuningan Jawa Barat melalui pertanyaan mengapa Perpustakaan Desa Jendela Dunia memberikan pelayanan desa berbasis inklusi sosial dan bagaimana proses pengelolaan perpustakaan Desa Jendela Dunia dilihat dari aspek pengembangan koleksi, fasilitas dan teknologi informasi, inovasi layanan perpustakaan sebagai upaya pemberdayaan masyarakat, dan untuk menjelaskan kendala yang dihadapi dalam pengelolaan perpustakaan yang bersangkutan. Jenis studi kasus yang digunakan ialah single case, di mana kasus yang ditemui merupakan fenomena yang unik atau khas dan kasus yang umum untuk menambah pemahaman pengetahuan (Prihatsanti etal., 2018). Pelayanan berbasis inklusi sudah banyak diadakan di setiap perpustakaan. Namun, sedikit perpustakaan yang konsisten melakukannya hingga mendapatkan predikat juara tingkat Jawa Barat. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan wawancara, observasi langsung, dan studi pustaka. Pertama, kegiatan wawancara telah dilakukan pada 4 orang informan, yaitu kepala desa Pasayangan sebagai penanggung jawab Perpustakaan Desa Jendela Dunia, Kepala Perpustakaan Desa Jendela Dunia, dan 2 orang staf perpustakaan Desa Jendela Dunia. Kedua, kegiatan observasi langsung dilakukan peneliti dengan berkunjung ke Perpustakaan Desa Jendela Dunia untuk mengamati aktivitas perpustakaan tersebut. Ketiga, kegiatan studi pustaka yaitu mempelajari berbagai literatur baik tercetak maupun dalam format digital yang relevan dengan tema penelitian. Data penelitian dianalisis secara deskriptif dengan didukung melalui konsep yang relevan sebagai hasil kajian pustaka. Pertama, kegiatanwawancara dan observasi dalam mendapatkan data secara langsung bersumber dari data primer melalui korespondensi dan pengamatan secara tepat situasi di lokasi, kehidupan, suasana kehidupan, dan partisipasi dalam berbagai kegiatan. Observasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi partisipasi dan non partisipasi yang disesuaikan dengan objek atau sasaran yang diamati. Observasi partisipatif merupakan observasi yang dilakukan dengan mengamati dan terlibat langsung secara aktif pada objek yang diteliti. Kedua, setelah data terkumpul, kegiatan analisis data. Analisis data adalah proses mencari dan menghimpun data secara sistematis yang diperoleh dari wawancara, catatan lapangan, dan dokumenter dengan menyusun data berdasarkan kategori, mendeskripsikannya menjadi beberapa unit, mensintesis dan menyusun polanya, memilih apa yang penting dan apa yang akan dipelajari, membuat kesimpulan agar mudah dipahami, dan studi literatur. Tujuan analisis data adalah mempersempit dan membatasi temuan menjadi satu data yang lebih tertata dan bermakna. Ketiga, setelah membaca, mempelajari, dan menganalisis, langkah selanjutnya adalah melakukan reduksi data dengan melakukan abstraksi. Abstraksi merupakan upaya untuk membuat ringkasan dari inti, proses, dan pernyataan yang diperoleh dari lapangan agar tetap bermakna. Tahap terakhir dari analisis data ini adalah melakukan pemeriksaan keabsahan data.
Result & Discussion
Perpustakaan Desa Jendela Dunia beralamat di Jl. Raya Ki Gedeng Luragung Desa Pasayangan, Kecamatan Lebak Wangi, Kabupaten Kuningan menempati ruangan dengan luas kurang lebih 96 m2. Perpustakaan ini dikelola oleh seorang kepala perpustakaan dengan kualifikasi akademik sarjana pendidikan dan tiga orang staf yang terdiri dari satu orang yang bertugas di bagian pengadaan dan pengelolaan koleksi, satu orang di bidang pelayanan, dan satu orang yang ditunjuk sebagai bunda literasi. Bunda literasi bertugas mengembangkan budaya baca dan memfasilitasi kebutuhan masyarakat melalui membaca. Perpustakaan Desa Jendela Dunia mendapatkan dana dari APBDes Desa Pasayangan yang setiap tahunnya mendapatkan sekitar 6 persen dari keseluruhan anggaran desa. Perpustakaan Desa Jendela Dunia pada tahun 2019 telah berhasil menjadi juara I Lomba Perpustakaan Desa tingkat Kabupaten Kuningan dan tahun 2020 menjadi juara I Lomba Perpustakaan Desa Tingkat Provinsi Jawa Barat. Perpustakaan ini dinilai telah berhasil menjadi perpustakaan desa yang memiliki inovasi yang tinggi sehingga layak disebut sebagai perpustakaan desa yang telah bertransformasi menjadi perpustakaan berbasis inklusi sosial. Perpustakaan Desa Jendela Dunia masih konsisten memberikan pelayanan yang berbasis inklusi sosial kepada masyarakat Desa Pasayangan. Hal ini sesuai dengan salah satu visi perpustakaan, “Sebagai sumber belajar warga desa guna mendukung kegitan belajar mengajar yang terdepan sebagai investasi sumber daya pengetahuan yang cukup lengkap” (Perpustakaan Jendela Dunia, 2020). Perpustakaan pun menyediakan kegiatan pelayanan yang menyesuaikan kebutuhan masyarakat desa yang terencana berupa program jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang dalam upaya melayankan koleksi dan mencoba memberdayakan masyarakat Desa Pasayangan. Perpustakaan Desa Jendela Dunia komitmen merancang di setiap pelayanan perpustakaan untuk “Menciptakan dan mendayagunakan masyarakat yang terampil” (Perpustakaan Jendela Dunia, 2020). Hal ini dilatarbelakangi masyarakat Desa Pasayangan yang memiliki tipologi mata pencaharian “Persawahan, perladangan, perkebunan, peternakan, jasa dan perdagangan” (Desa Pasayangan Kecamatan Lebakwangi Kabupaten Kuningan, 2020). Pengelola perpustakaan pun mendekatkan koleksi dan sarana prasarana perpustakaan untuk dimanfaatkan masyarakat desa dan mencoba membangun masyarakat desa yang mandiri. Hal ini terlihat dari hasil wawancara dengan pengelola perpustakaan yang menyatakan bahwa “Agar perpustakaan dapat dimanfaatkan oleh masyarakat secara luas kami mengembagkan berbagai layanan langsung misalnya Layanan Darling (sepeDA Read keliLING), tersedianya kotak Buku Digital di 2 Dusun yakni Dusun Kaler dan Kidul, tersedia Sekolah lapang di Dusun Kaler” (I. A., wawancara, 2020). Selain itu, Perpustakaan Desa Jendela Dunia dalam memberikan pelayanan perpustakaan berbasis inklusi sosial menggunakan beberapa inovasi yang tinggi, di antaranya bidang pengembangan koleksi, pelayanan, penerapan teknologi informasi, dan kerja sama. Pengembangan Koleksi Perpustakaan Desa Jendela Dunia dalam kegiatan pengembangan koleksi telah memiliki koleksi buku dengan cakupan subyek pertanian, pendidikan, kesehatan, pemberdayaan masyarakat, dan koleksi buku cerita. Hal ini dikemukan oleh pengelola perpustakaan desa bahwa “Kami berusaha menyediakan koleksi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Kebutuhan masyarakat dilihat dari profil masyarakat Desa Pasayangan. Koleksi yang dibutuhkan berkaitan dengan mata pencaharian masyarakat“ (I. Alli, wawancara, December 15, 2020). Berdasarkan hasil observasi koleksi yang tersedia yaitu koleksi khusus untuk anak-anak yang terdiri dari koleksi buku dan mainan edukatif seperti puzzle alfabet, susun ring, lego, horse ball, blokus, dan permainan tradisional congklak. Tersedia pula koleksi sarana untuk difabel seperti tongkat lipat dan tongkat permanen untuk mereka yang tuna daksa. Para tuna netra pun disediakan koleksi Al Qur'an, majalah, dan bahan bacaan lainnya dengan huruf braille, reglet serta stylus untuk alat menulis. Ada dua orang penduduk Desa Pasayangan yang tuna netra dan mereka aktif sebagai pemustaka Perpustakaan Desa Jendela Dunia. Disamping itu, Perpustakaan Desa Jendela Dunia juga dikunjungi oleh kaum tuna netra dari desa tetangga di wilayah Kecamatan Lebakwangi. Keberadaan sarana tersebut menunjukkan bahwa Perpustakaan Desa Jendela Dunia sudah berbasis inklusi sosial, yaitu memberikan akses dan menyediakan koleksi untuk kebutuhan mereka yang difabel. Pelayanan Langkah yang dilakukan Perpustakaan Desa Jendela Dunia dalam memberikan pelayanan kepada para penyandang disabilitas senada dengan yang diutarakan Grassi (2018), yang menuturkan bahwa perpustakaan harus membangun komunikasi yang bagus dengan generasi muda dalam mensosialisasikan pelayanan bagi penyandang disabilitas dengan mengajak berperan aktif membantu pengelola perpustakaan. Salah satunya ialah menumbuhkan relawan dalam membantu pengelola perpustakaan menyediakan dan melayankan kebutuhan informasi bagi penyandang disabilitas. Koleksi Perpustakaan Desa Jendela Dunia sendiri bersumber dari pembelian dan sumbangan. Sumbangan koleksi buku banyak diberikan oleh Bapusipda Jawa Barat, Disarsipus Kabupaten Kuningan, Gubernur Jawa Barat berupa micro library, dari para penulis buku, dan dari masyarakat Desa Pasayangan. Selain itu, proses pengembangan koleksi melalui pembelian diawali dengan memperhatikan keinginan atau kebutuhan informasi masyarakat, sehingga buku-buku yang dibeli bisa memenuhi kebutuhan mereka. Dana untuk pembelian koleksi perpustakaan berasal dari dana perpustakaan yang bersumber dari APBDes. Perpustakaan Desa Jendela Dunia dalam kegiatan inovasi pelayanan perpustakaan telah menyelenggarakan layanan peminjaman buku untuk dibawa pulang dan layanan koleksi perpustakaan lainnya yang hanya boleh dibaca di perpustakaan seperti surat kabar dan bahan bacaan lainnya. Perpustakaan pun menyediakan ruang lesehan bagi mereka yang ingin membaca di perpustakaan. Selanjutnya disediakan ruang khusus koleksi anak di mana anak-anak bisa belajar atau membaca koleksi yang telah disediakan di bawah bimbingan staf perpustakaan. Penerapan Teknologi Informasi Perpustakaan Jendela Dunia aktif menyelenggarakan berbagai kegiatan yang melibatkan masyarakat. Kegiatan yang pertama adalah pelatihan komputer dasar dan akses internet untuk dewasa dan anak-anak. Pelatihan diselenggarakan empat kali dalam sebulan atau disesuaikan dengan permintaan dengan pelatih staf desa yang memiliki keahlian dalam teknologi informasi. Pelatihan komputer untuk dewasa bertujuan agar mereka mampu menggunakan perangkat teknologi informasi dengan baik sehingga mereka memiliki keterampilan yang bisa dimanfaatkan untuk berkinerja dengan lebih baik. Selain itu, pelatihan komputer bertujuan meningkatkan literasi digital masyarakat sehingga mereka mampu beraktivitas sosial dengan lebih baik. Masyarakat yang tinggal di desa memang masih harus berjuang dalam mendapatkan akses internet yang bisa didapatkan secara terbuka tanpa ditarik bayaran. Hadirnya Perpustakaan Desa Jendela Dunia yang memberikan akses internet secara terbuka telah membantu masyarakat desa terutama siswa/siswi sekolah yang media belajarnya menggunakan akses internet. Dikatakan bahwa, “As more information migrates to the Internet, and as preferences for how one accesses information and culture change, libraries are chal- lenged to incorporate both the Internet and new user information-seeking behaviors into their operations and philosophy” (Strover et al., 2020, p. 244). Semakin banyak informasi yang bermigrasi ke internet dan sebagai preferensi seorang individu mengakses informasi maka budaya pun berubah. Perpustakaan tertantang untuk menyediakan akses internet dan perilaku pencarian informasi pemustaka masih sesuai filosofi perpustakaan. Perpustakaan Desa Jendela Dunia menyediakan literasi digital agar pemustaka mampu mengikuti perkembangan sosial, ekonomi, dan politik dengan baik. Sebagai contoh, dengan mengikuti pelatihan komputer dan internet mereka mampu melakukan usaha secara online sehingga dapat memperoleh penghasilan yang lebih baik dan meningkatkan tingkat ekonomi. Adapun pelatihan komputer/internet untuk anak-anak bertujuan agar anak-anak memiliki literasi digital sejak dini yaitu mereka mampu menggunakan teknologi dengan lancar dan mampu mengakses internet dengan tepat dan sehat. Mereka dibekali tentang bagaimana memanfaatkan informasi yang ada di internet untuk belajar dan menambah pengetahuan, serta dibangun kesadaran bahwa tidak semua yang ada di internet itu baik. Pelatihan komputer yang diselenggarakan di Perpustakaan Desa Jendela Dunia merupakan contoh bahwa perpustakaan desa telah berkontribusi dalam menyiapkan masyarakat untuk menghadapi era industri 4.0. Perpustakaan yang melakukan transformasi telah berkontribusi dalam mendukung era industri 4.0. (Harususilo, 2019). Keterampilan menggunakan komputer/internet merupakan bagian dari literasi digital yang merupakan salah satu keterampilan yang harus dimiliki oleh masyarakat dalam menghadapi era industri 4.0. Jadi pelatihan komputer dan internet di perpustakaan desa merupakan wujud peran transformasi perpustakaan dalam menghadapi era industri 4.0. Kegiatan inovatif lainnya adalah pendidikan keterampilan pembuatan kerajinan dari limbah kertas dan plastik, pembuatan pupuk organik, dan makanan olahan hasil pertanian. Para peserta pelatihan adalah ibu kader PKK dan rumah tangga. Pelaksanaan pelatihan ini bekerja sama dengan perguruan tinggi. Selanjutnya diselenggarakan pelatihan seni degung, seni drama, dan seni tari untuk remaja yang bertempat di ruang serbaguna Perpustakaan Desa Jendela Dunia. Pelatihan seni diselenggarakan empat kali sebulan dengan pelatih professional pelaku seni dengan honorarium dari dana perpustakaan. Kegiatan ini bertujuan agar para remaja lebih mengenal dan menyukai seni tradisional sehingga mereka mampu melestarikan budaya yang ada di lingkungan mereka sebagai warisan dari para leluhur. Hal ini sangat penting mengingat para remaja sekarang banyak yang lebih menyukai bermain game online atau menonton drama di YouTube sehingga mereka lebih mengenal tokoh-tokoh dan budaya asing daripada budayanya sendiri. Perpustakaan Desa Jendela Dunia melalui kegiatan pelatihan seni telah menunjukkan fungsi pentingnya dalam pelestarian budaya. Hal ini sebagaimana yang dijelaskan Yusup et al. (2017), bahwa perpustakaan desa memiliki beberapa nilai manfaat bagi masyarakat yaitu sebagai nilai sejarah, nilai sosial, nilai pelestarian, dan nilai pewarisan hasil budaya bangsa. Kegiatan lainnya adalah diselenggarakan senam kesegaran jasmani yang diikuti oleh remaja dan para ibu dan bapak. Kegiatan ini bertujuan untuk menumbuhkan literasi kesehatan yaitu agar masyarakat menyadari pentingnya memelihara kesehatan di mana salah satunya melalui berolah raga. Senam kesegaran jasmani diselenggarakan empat kali sebulan dengan pelatih salah seorang staf perpustakaan desa yang kompeten. Berbagai kegiatan pelatihan tersebut menggambarkan bahwa Perpustakaan Desa Jendela Dunia telah berupaya menyelenggarakan berbagai kegiatan yang bisa menarik masyarakat untuk datang ke perpustakaan tersebut. Perpustakaan telah dikembangkan menjadi tempat masyarakat berkegiatan dan berbagi pengetahuan (makerspace) bukan hanya sebagai tempat membaca. Beavers et al. (2019) menuturkan bahwa makerspace mulai terbangun di dunia akademis dan beberapa jenis perpustakaan. Masyarakat dari berbagai disiplin ilmu bergabung untuk mencapai tujuan bersama dalam satu bidang yang disukainya. Kegiatan dan pelatihan yang diadakan Perpustakaan Desa Jendela Dunia setidaknya telah merangsang masyarakat untuk mengetahui minat atau bidang yang disukainya, memperdalamnya, dan bahkan membantu secara nilai ekonomi. Perpustakaan ini menyediakan koleksi berbasis keterampilan yang dapat dipraktikkan pengelola perpustakaan bersama pemustaka. Adapun kegiatan inovatif lainnya di Perpustakaan Desa Jendela Dunia adalah menyediakan Kotak Buku Digital (KOBOK) di dua dusun yaitu Dusun Kaler dan Dusun Kidul. KOBOK merupakan kotak yang berisi bukubuku yang dilengkapi digital doorlock. Pemustaka yang ingin mengambil/membaca buku dalam program KOBOK harus menempelkan kartu anggota yang berbasis RFID tepat pada sensor yang telah diberikan simbol sehingga keamanan buku dapat dipantau dengan baik. Kotak Buku Digital (KOBOK) merupakan upaya mendekatkan layanan Perpustakaan Desa Jendela Dunia kepada masyarakat sehingga mereka menjadi terdorong untuk mau membaca. “Melalui layanan Kotak Buku Digital masyarakat memiliki keleluasaan waktu membaca. Kapan pun masyarakat membutuhkan layanan ini bisa digunakan” (I. A., wawancara, December 15, 2020). Kegiatan lainnya sebagai upaya mendekatkan bahan bacaan kepada masyarakat dilakukan dengan layanan Darling (sepeDa Read keliLing) yaitu staf perpustakaan datang mengunjungi beberapa dusun terjauh dari lokasi Perpustakaan Desa Jendela Dunia. Petugas perpustakaan mengendarai sepeda dan membawa sejumlah buku yang terdiri dari berbagai subyek untuk berbagai usia seperti dewasa, remaja, dan anak-anak. Kegiatan ini bertujuan untuk menumbuhkan minat baca karena masih ditemukan masyarakat yang belum memiliki minat baca disebabkan tidak memiliki bahan bacaan dan juga tidak mau datang ke perpustakaan. “Layanan Darling ditujukan untuk mendekatkan koleksi pada masyarakat, sehingga masyarakat mau membaca” (I. A., wawancara, December 15, 2020) Perpustakaan Desa Jendela Dunia juga menyelenggarakan sekolah lapangan, yaitu kegiatan pembelajaran secara non formal yang diselenggarakan di luar ruang perpustakaan dengan tujuan mengajarkan baca tulis kepada mereka yang putus sekolah. Sekolah lapangan ini dikelola oleh seorang kader literasi dengan kualifikasi sarjana pendidikan. Di samping itu perpustakaan juga terlibat dalam mendukung kegiatan Posbindu (pos bina terpadu untuk lansia dan remaja) dan kegiatan Posyandu dengan menyediakan buku-buku kesehatan. Beberapa kegiatan tersebut menggambarkan bahwa Perpustakaan Jendela Dunia berupaya untuk menyelenggarakan berbagai kegiatan yang bisa mendukung peningkatan pengetahuan masyarakat sehingga masyarakat bisa belajar secara mandiri dan secara terus menerus (life long learning). Sesuai upaya yang dilakukan Perpustakaan Desa Jendela Dunia di atas, diharapkan masyarakat menjadi lebih kreatif dan inovatif sehingga taraf ekonomi mereka dapat menjadi lebih baik. Perpustakaan Desa Jendela Dunia dalam aplikasi teknologi informasi telah memiliki perpustakaan digital berbasis Simpusdes Web dan pengelolaan koleksi menggunakan SLIMS. Pemustaka dalam penelusuran koleksi perpustakaan menggunakan Online Public Access Catalog (OPAC) agar mudah menemukan sumber informasi yang mereka butuhkan. Perpustakaan Desa Jendela Dunia pun telah memiliki fasilitas WiFi sehingga pemustaka dapat mengakses internet secara gratis melalui empat unit komputer yang bisa dimanfaatkan saat mengakses internet. Disamping itu, pemustaka bisa memanfaatkan komputer tersebut untuk mengerjakan pekerjaannya, contohnya anak sekolah yang harus mengerjakan tugas sekolahdapat memanfaatkan komputer yang ada di perpustakaan desa. Kerjasama Pengelola perpustakaan dalam pengembangan perpustakaan tidak mungkin bekerja sendirian. Perpustakaan harus melakukan kerjasama dengan berbagai pihak yang relevan sebagai stakeholder perpustakaan. Perpustakaan Jendela Dunia melakukan kerjasama secara formal dengan STIKes Kuningan di mana nota kesepahaman ditandatangani pada bulan Agustus 2020. Bentuk kerjasamanya antara lain penempatan buku-buku tentang kesehatan dan alat peraga kesehatan di perpustakaan desa. Hal ini sangat bermanfaat untuk menunjang kegiatan penyuluhan kesehatan yang dilaksanakan di Posyandu dan Pos Bina Terpadu oleh kader PKK Desa Pasayangan. Selanjutnya dilaksanakan kegiatan silang layan, yaitu anggota Perpustakaan Desa Jendela Dunia boleh meminjam koleksi yang dimiliki Perpustakaan STIKes dan begitu pula sebaliknya. Perpustakaan Desa Jendela Dunia pun melakukan kerjasama dengan Bapusipda Jawa Barat dan Disarsipus Kuningan dalam menerima pembinaan dan bantuan koleksi serta fasilitas perpustakaan lainnya. Di samping itu, dalam rangka pengembangan perpustakaan desa, Kepala Desa Pasayangan selalu bekerjasama dengan para tokoh masyarakat, karang taruna, relawan, dan masyarakat Desa Pasayangan pada umumnya. Kegiatan kerjasama yang telah dilakukan menggambarkan bahwa Kepala Desa Pasayangan terlibat aktif dalam upaya pengembangan Perpustakaan Desa Jendela Dunia. “Perpustakaan desa dikembangkan dalam rangka mendukung visi dan misi pengembangan Desa Pasayangan dalam bidang Pendidikan masyarakat” (N. Juandana, wawancara, December 15, 2020). Oleh karena itu, visi dari Perpustakaan Desa Jendela Dunia adalah menjadikan perpustakaan sebagai jantung pembelajaran, pusat layanan informasi dan pengetahuan, serta sebagai sumber belajar warga desa guna mendukung kegiatan belajar mandiri dan sebagai investasi pengetahuan yang lengkap. Untuk mencapai visi tersebut maka kerjasama antara perpustakaan, dalam hal ini dilaksanakan oleh kepala desa dengan berbagai pihak, maka mutlak harus dilakukan. Perpustakaan dapat menjalin kerjasama dengan pihak di luar perpustakaan untuk membantu terlaksananya kegiatan di perpustakaan. Prasetyawan and Suharso (2015) menulis bahwa kerjasama atau kolaboratif merupakan salah satu contoh dalam kegiatan perencanaan dan penyampaian layanan. Perpustakaan Desa Jendela Dunia dapat tergabung dengan komunitas perpustakaan desa lainnya sebagai wadah komunikasi sesama pengelola perpustakaan. Komunitas menjadi tempat keluh kesah atau tempat saling melengkapi di antara perpustakaan desa dengan banyak kendala. Komunitas membantu pengelola perpustakaan memberikan informasi mengenai pengelolaan perpustakaan desa. Selain itu, Perpustakaan Desa Jendela Dunia pun dapat menjalin kerjasama dengan sekolah-sekolah di Desa Pasayangan dalam menyebarkan informasi pelayanan perpustakaan. Hal ini sesuai penelitian Smith (2014) mengenai kerjasama perpustakaan desa dan sekolah. Perpustakaan desa dapat melakukan kolaborasi dengan siswa/siswi sekolah dalam kegiatan perpustakaan. Maka, pihak sekolah dapat membuat nota kerjasama dengan kepala perpustakaan. Pengelola perpustakaan dan guru di sekolah dapat menyusun kurikulum bersama dalam penggunaan fasilitas pelayanan perpustakaan. Sebenarnya siswa/siswi sekolah di Desa Pasayangan telah menggunakan akses internet perpustakaan dan mengikuti beberapa kegiatan literasi di perpustakaan. Namun, pelayanan perpustakaan belum masuk ke dalam kurikulum sekolah. Kolaborasi ini dapat berupa diskusi pengelola perpustakaan dengan guru, informasi mingguan atau bulanan, dan penggunaan koleksi perpustakaan. Setiap perpustakaan selalu menghadapi kendala dalam melayankan program perpustakaan kepada pemustaka. Perpustakaan Desa Jendela Dunia sendiri ketika memberikan pelayanan berbasis inklusi sosial masih memiliki beberapa kendala. Kendala pertama ialah staf perpustakaan desa yang masih terbatas yaitu hanya 3 orang. Perpustakaan banyak memiliki program sehingga pengelolaan perpustakaan harus melibatkan staf kantor Desa Pasayangan. Kendala kedua ialah masih ada pihak khususnya beberapa tokoh masyarakat yang masih belum mendukung kegiatan inovatif yang diselenggarakan oleh Perpustakaan Desa Jendela Dunia. Untuk mengatasi hal tersebut, maka masyarakat sering diundang ke Desa Pasayangan untuk berdiskusi dan menggali pendapat dan aspirasi sehingga masyarakat merasa keberadaannya dihargai dan diharapkan mendukung dan memiliki partisipasi pada program-program yang diselenggarakan perpustakaan. Berdasarkan hal ini, peran lembaga, kepala perpustakaan, dan pengelola perpustakaan berperan penting menjaga komitmennya untuk terus aktif melayani pemustaka. Ketika Perpustakaan Desa Jendela Dunia menghadapi kendala dalam pengelolaan perpustakaan, hal ini dijadikan sebagai kegiatan evaluasi. Prasetyawan and Suharso (2015), evaluasi penting dilakukan perpustakaan yang memberikan pelayanan berbasis inklusi sosial yang terdiri dari analisis proses pelayanan yang sudah diberikan, aturan pelayanan dan kebijakan sesuai kebutuhan, dan pengaturan kegiatan. Pengelola Perpustakaan Desa Jendela Dunia dalam melakukan kegiatan evaluasi membuat laporan kegiatan bidang pengadaan dan pengolahan, pelayanan dan pemeliharaan. Kepala perpustakaan dengan pengelola perpustakaan akan mengevaluasi kelebihan dan kelemahan dari masing-masing bidang ini. Omeluzor et al. (2017) dalam penelitiannya mengatakan bahwa perpustakaan desa tidak boleh ragu atau segan dalam memberikan pelayanan pendidikan kepada pemustaka. Merujuk hal ini, perpustakaan desa harus mampu meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap berbagai aspek kehidupan, di antaranya kesehatan, ekonomi, pertanian, pendidikan, dan bidang lainnya. Hal ini membawa dampak positif bagi masyarakat dalam menurunkan angka kemiskinan dan meningkatkan kemampuan literat masyarakatnya. Perpustakaan Desa Jendela Dunia sendiri telah berdedikasi melayani masyarakat Desa Pasayangan dengan beragam kegiatan yang diberikan. Perpustakaan desa dengan memberikan akses informasi secara terbuka dapat membantu pemustaka meningkatkan tingkat kesadaran tentang isu-isu yang berkaitan dengan pertanian, kesehatan, pendidikan, kesejahteraan, ekonomi dan ketenagakerjaan. Sesuai demografi wilayah Desa Pasayangan sendiri masyarakatnya bekerja di pertanian, pesawahan, perladangan, jasa, dan perdagangan. Setidaknya, informasi dari perpustakaan desa dapat membantu masyarakat dalam mengambil keputusan dan meningkatkan taraf ekonominya. Selain itu, koleksi perpustakaan dan kegiatan perpustakaan membantu mengurangi masyarakat yang masih buta huruf, terkendala bahasa, dan mengalami pengucilan sosial. Perpustakaan Desa Jendela Dunia yang telah memberikan informasi kepada masyarakat pedesaan akan memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pembangunan desa. Maka, pemerintah desa dan masyarakat desa pun harus aktif mendukung kegiatan perpustakaan. Perpustakaan desa dalam memberikan pelayanan berbasis inklusi sosial tidak dapat berjalan sendiri tanpa dukungan semua pihak. Hasil akhir inklusi sosial ialah pemberdayaan masyarakat. Untuk itu, perpustakaan memiliki peran penting menjembatani dalam menyediakan dan mengadakan kegiatan perpustakaan yang membantu masyarakat mandiri secara finansial, membantu masyarakat memiliki keahlian, dan membantu masyarakat literat akan pendidikan.
Conclusion
Perpustakaan Desa Jendela Dunia bisa dikategorikan sebagai perpustakaan desa yang telah melakukan transformasi menjadi perpustakaan berbasis inklusi sosial. Proses pengembangan koleksi telah mengacu pada kesesuaian dengan kebutuhan masyarakat yang dilayani, termasuk menyediakan koleksi untuk komunitas difabel tuna netra. Perpustakaan Desa Jendela Dunia juga tidak hanya menyelenggarakan layanan yang standar, tetapi telah menyelenggarakan berbagai layanan inovatif seperti pelatihan komputer, pelatihan kesenian, dan kegiatan berolahraga bersama sebagai bagian dari literasi kesehatan. Kegiatankegiatan tersebut menggambarkan bahwa Perpustakaan Desa Jendela Dunia telah berfungsi sebagai makerspace. Selanjutnya layanan-layanan yang diselenggarakan di luar lokasi perpustakaan, seperti KOBOK, Darling (SepeDa Read KeliLing), dan sekolah lapangan, serta keterlibatan dalam kegiatan Posbindu dan Posyandu menunjukkan bahwa Perpustakaan Desa Jendela Dunia terlibat aktif dalam upaya pemberdayaan masyarakat. Perpustakaan Desa Jendela Dunia telah mengaplikasikan teknologi informasi, yaitu layanan perpustakaan berbasis web, memiliki OPAC sebagai alat penelusuran koleksi perpustakaan, dan menyediakan Wi-Fi serta komputer untuk masyarakat yang membutuhkan akses internet. Oleh karena itu, perpustakaan telah berkontribusi pada pembangunan literasi digital masyarakat, sebagai bagian dari upaya mempersiapkan masyarakat untuk berkiprah di era industri 4.0. Kerjasama yang telah dilaksanakan menggambarkan bahwa Perpustakaan Desa Jendela Dunia telah berhasil membangun jaringan yang cukup luas. Keberhasilan yang telah dicapai oleh Perpustakaan Desa Jendela Dunia merupakan hasil kerja keras dan ide kreatif pengelola perpustakaan dan dukungan yang tinggi dari Kepala Desa Pasayangan. Hal tersebut bisa menjadi model bagi perpustakaan desa yang lain.