PERILAKU PENEMUAN INFORMASI BERDASARKAN TEORI WILSON DI PERPUSTAKAAN UIN SUNAN KALIJAGA PADA MAHASISWA PASCASARJANA ILMU PERPUSTAKAAN DAN INFORMASI
Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta
Abstrak
Artikel ini bermaksud menjelaskan perilaku mahasiswa dalam penemuan informasi guna menunjang kebutuhan informasi dalam pengerjaan tugas kuliah pada mahasiswa pascasarjana S2 jurusan ilmu perpustakaan dan informasi kelas A tahun 2017. berdasarkan teori Wilson perilaku penemuan informasi itu dipengaruhi oleh empat faktor: perhatian pasif, pencarian aktif, pencarian pasif, dan pencarian berlanjut. Untuk itu penulis tertarik mengulas artikel yang berjudul perilaku penemuan informasi berdasarkan teori Wilson diperpustakaan UIN Sunan Kalijaga pada mahasiswa pascasarjana S2 jurusan ilmu perpustakaan dan informasi kelas A tahun 2017. jenis penelitian yang digunakan yaitu penelitian kualitatif deskriptif, data yang dkumpulkan melalui studi literature, observasi, dan wawancara. diakhir artikel ini menghasilkan beberapa temuan data yang menarik dari temuan tersebut dapat menggambarkan karakteristik, jenis, atau pola perilaku mahasiswa dalam melakukan penemuan informasi.
Abstract
This article intends to explain the behavior of students in the discovery of information to support information needs in working on college assignments for postgraduate students majoring in library science and information class A in 2017. Based on Wilson's theory of information discovery behavior is influenced by four factors: passive attention, active search, search passive, and the search continues. For this reason, the authors are interested in reviewing an article entitled information discovery behavior based on Wilson's theory in the library of UIN Sunan Kalijaga for postgraduate students majoring in library and information science class A in 2017. This type of research is descriptive qualitative research, data collected through literature studies, observation and interview. At the end of this article produced some interesting data findings from these findings can describe the characteristics, types, or patterns of behavior of students in conducting information discovery.
Keywords:
Perilaku Penemuan Informasi
· Teori Wilson
· Hambatan Dalam Perilaku Penemuan Informasi
Introduction
Kebutuhan informasi di dalam dunia pendidikan merupakan kebutuhan wajib yang digunakan setiap hari. Kebutuhan informasi akan menjadi masalah ketika kebutuhan tersebut tidak dapat dirumuskan dengan baik sehingga tidak dapat terpenuhi. Kebutuhan informasi dirasa sangat penting karena berkaitan dengan kegiatan sehari – hari. Dalam kenyataannya kebutuhan seseorang dengan orang lain pastilah berbeda hal itu karena perbedaan minat dan tugas dari masing – masing individu. Tetapi suatu hal yang ter penting dari sebuah kebutuhan informasi yaitu bagaimana cara memenuhi kebutuhan tersebut dengan mencari informasi yang relevan dan tepat. Faktanya semua orang akan berusaha mencari informasi yang diperlukannya. Dalam kehidupan sehari – hari kenyataan yang terjadi dan dihadapi Mahasiswa yaitu menghadapi kebutuhan informasi setiap hari dalam proses belajar mengajar. Kebutuhan informasi adalah latihan bagi mereka . ( Triwansyah,2011.1) . untuk menambah pengetahuan mahasiswa. Permasalahan yang diberikan kepada mereka menjadi latihan bagi mereka untuk menemukan penyelesaian atau jawaban dan penyelesaian tersebut menjadi pengetahuan baru bagi mereka. Jadi sekarang ini informasi tidak hanya dianggap sebagai bahan pelengkap, namun sebagai bahan yang menjadi faktor utama yang menentukan kesuksesan atau kegagalan, oleh karena itu informasi harus dikelola dengan baik. Karena informasi adalah data yang diolah menjadi bentuk yang lebih berguna, lebih berarti dan bermanfaat bagi penggunanya. Tugas kuliah merupakan tugas yang dimiliki oleh setiap mahasiswa dalam dunia akademis perkuliahan. Oleh sebab itu, perilaku penemuan informasi dalam mengerjakannya berkaitan erat dengan hasil yang diperoleh oleh setiap mahasiswa. Hal itu tentu saja mempengaruhi nilai atau prestasi yang dimilikinya. Untuk itu diperlukan kajian lebih lanjut untuk mencari tahu bagaimana perilaku penemuan informasi yang dimiliki oleh setiap mahasiswa guna menunjang pengerjaan tugas kuliahnya. Sebagai mahasiswa tentu saja mempunyai kompleksitas informasi yang lebih dinamis daripada seorang pelajar. Oleh karena itu pemahaman yang baik dan user education akan mempengaruhi mahasiswa dalam menjalani kehidupan akademisnya di lingkungan kampus. Fakultas interdisplinary Islamic studies jurusan ilmu perpustakaan dan informasi mengarahkan mahasiswanya agar mampu menjawab era informasi yang semakin berkembang bersamaan dengan teknologi yang semakin pesat. Untuk itu hal ini perlu didukung dengan kemampuan mahasiswa memahami materi kuliah yang diberikan serta kemampuan untuk menganalisa persoalan kebutuhan informasi yang terjadi di masyarakat. Sehingga perlu diamati bagaimana cara dan perilaku mereka dalam menemukan dan mencari informasi dengan berbagai kemampuan yang didapatnya ketika kegiatan perkuliahanya serta prestasi akademiknya yang akan memberikan wacana untuk membentuk pola pemikiran mahasiswa yang lebih praktis dan dinamis sehingga memunculkan keseimbangan pemahaman yang benar mengenai prestasi akademik dan softskill nya. Wilson mengatakan bahwa perilaku informasi merupakan keseluruhan perilaku seseorang dalam memanfaatkan sumber informasi, termasuk didalamnya terdapat perilaku penemuan informasi dan penggunaan informasi secara aktif maupun pasif. Artinya mahasiswa dalam memenuhi kebutuhan informasinya bisa saja melalui perilaku penemuan informasi ( information seeking behavior) upaya ini dapat mahasiswa lakukan dengan berinteraksi melalui sistem hastawi seperti surat kabar, buku dan literatur. Selain itu juga bisa melalui perilaku pencarian informasi ( searching information behavior) yaitu pencarian informasi yang lebih terfokus pada sistem informasi (Wilson, T.D.1981.37) Dalam teori Wilson penemuan informasi juga dapat dilihat bahwa perilaku informasi merupakan proses yang berkaitan dengan pengolahan dan pemanfaatan informasi dalam kehidupan seseorang. Selanjutnya, bahwa kebutuhan akan informasi tidak langsung berubah menjadi perilaku mencari informasi, melainkan harus dipicu terlebih dahulu oleh pemahaman seseorang tentang persoalan dalam hidupnya ( Wilson, T.D.1999 , 245) . Dengan ditemukannya berbagai kompleksitas yang terdapat pada realita diatas maka kajian mengenai perilaku penemuan informasi mahasiswa dalam menunjang pengerjaan tugas kualiahnya dan itu perlu untuk dilanjutkan guna memberikan motivasi pada mahasiswa serta memberikan umpan balik pada dosen, Fakultas dan Universitas sebagai sarana mengembangkan daya kembang pemikiran mereka. situasi yang dikaji dalam penelitian ini adalah mahasiswa pascasarjana S2 IPI A dalam mengalami kurangnya akan informasi ataupun kurang pengetahuan yang mereka miliki baik bersifat umum maupun yang berhubungan dengan materi perkuliahan seperti tugas perkuliahan yang mengharuskan mereka mencari pemecahan dari masalah yang dihadapi. berdasarkan latar belakang masalah yang telah duiraikan di atas peneliti tertarik mengadakan penelitian untuk mengetahui bagaimana perilaku penemuan informasi berdasarkan teori Wilson di perpustakaan Uin Sunan Kalijaga pada mahasiswa pascasarjana S2 ilmu perpustakaan dan informasi kelas A tahun 2017. Dari latar belakang masalah diatas dapat dirumuskan masalah sebagai berikut: 1. Bagaimana perilaku penemuan informasi berdasarkan teori Wilson di perpustakaan Uin Sunan Kalijaga pada mahasiswa pascasarjana S2 Ilmu perpustakaan dan informasi kelas A tahun 2017 ? 2. Faktor - faktor apa saja yang menjadi hambatan yang ditemui mahasiswa pascasarjana S2 Ilmu perpustakaan dan informasi kelas A tahun 2017 dalam penemuan informasi beradasarkan teori wilson di Perpustakaan Uin Sunan Kalijaga guna kegiatan akademik ?
Method
Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif - kualitatif. Metode deskriptif kualitatif merupakan metode yang mengkaji secara spesifik mengenai semua aktivitas, proses dan objek sesuai dengan fenomena yang terjadi di lapangan. (Sulistyo - Basuki,2006.110.) Metode pengumpulan datanya, yaitu dengan menggunakan studi literatur, observasi dan wawancara. Dalam penelitian ini objek yang digunakan adalah mahasiswa di jurusan Ilmu perpustakaan dan informasi kelas A tahun 2017. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah wawancara. Menggunakan metode wawancara semi terstruktur atau lebih mendalam untuk menggali informasi yang dibutuhkan oleh peneliti. III. PEMBAHASAN 1. Pengertian Perpustakaan Perpustakaan menurut beberapa pendapat diantaranya adalah sebagai berikut: Menurut Soejono Trimo, bahwa pengertian perpustakaan adalah salah satu alat yang vital dalam setiap program pendidikan, pengajaran, dan penelitian bagi setiap lembaga - lembaga pendidikan dan ilmu pengetahuan. ( Soejono Trimo, 1992.1. ) Jonner Hasugian juga mengungkapkan definisi Perpustakaan adalah koleksi atau sekumpulan koleksi buku atau bahan lainya yang diorganisasikan dan dipelihara untuk penggunaan atau keperluan (membaca, konsultasi, belajar, meneliti), dikelola oleh pustakawan dan staf terlatih lainya dalam rangka menyediakan layanan untuk memenuhi kebutuhan pengguna. ( Jonner Hasugian, 2009.70. ) 2. Pengertian Informasi Informasi adalah suatu rekaman fenomena yang diamati, atau bisa juga berupa putusan - putusan yang di buat serta kumpulan data yang diproses dan diolah menjadi data yang memiliki arti bagi penerimanya yang menggambarkan suatu kejadian - kejadian dan dapat digunakan sebagai alat bantu untuk pengambilan suatu keputusan. Suatu sistem tidak akan berjalan baik tanpa adanya informasi ( Yusuf, Pawit M. dan Priyo Subekti, 2010. 1 ) . Jadi, Informasi intinya yaitu rekaman Kejadian. kejadian adalah peristiwa yang terjadi pada suatu saat di suatu tempat, tepatnya adalah pertemuan antara ruang dan waktu. Contoh, di sini, di tempat ini , dan pada saat ini kita semua sedang mengalami peristiwa tertentu ( Yusuf, Pawit M. dan Priyo Subekti, 2010. 4) Berdasarkan penjelasan diatas penulis dapat memahami, bahwa Informasi itu merupakan suatu peristiwa atau kejadian, apa pun bentuk kejadiannya. Bahkan kejadian yang sifatnya sungguhan ataupun kejadian yang tidak nyata. 3. Model Perilaku Penemuan Informasi Perilaku penemuan informasi terjadi karena adanya kebutuhan informasi yang dirasakan seseorang. Kebutuhan tersebut bisa disebabkan oleh desakan dari luar seperti tugas - tugas yang harus diselesaikan, ataupun karena faktor dari dalam yaitu untuk mewujudkan kepuasan dirinya. Faktor - faktor yang mempengaruhi penemuan informasi adalah pencari informasi, keadaan/masalah informasi, bidang pengetahuan, sistem penelusuran dan hasil yang didapat. Menurut Wilson dalam Siatri yang dikutip oleh pawit memberikan definisi information seeking behavior sebagai perilaku pencarian informasi yang bertujuan untuk mencari informasi yang dibutuhkan. dalam pencarian informasinya, individu akan berrinteraksi atau menggunakan system pencarian manual melalui media tekstual seperti buku, Koran, majalah ilmiah dan perpustakaan, atau juga dapat menggunakan media yang berbasis computer seperti internet. dengan kata lain perilaku pencarian informasi adalah suatu kegiatan atau aktivitas dari individu dalam mencari informasi yang dibutuhkan atau diinginkan dengan suatu tujuan tertentu. ( Yusup, Pawit M.1995.104) Dari pengertian di atas proses penemuan informasi adalah kegiatan mengumpulkan informasi yang diperoleh dari berbagai sumber yang kemudian di aplikasikan ke dalam struktur pengetahuan seseorang. Menurut teori Wilson yang dikutip oleh Cahyo Nur Indah pada buku Putu Laxman Pendit menjelaskan model teori perilaku informasi adalah: Dalam teori Wilson di atas dapat dilihat bahwa perilaku informasi merupakan proses yang berkaitan dengan pengolahan dan pemanfaatan informasi dalam kehidupan seseorang. Selanjutnya, bahwa kebutuhan akan informasi tidak langsung berubah menjadi perilaku mencari informasi, melainkan harus dipicu terlebih dahulu oleh pemahaman seseorang tentang persoalan dalam hidupnya. Seperti sesorang yang mengalami proses dengan beberapa tahapan - tahapan, yang dapat dimulai dari : (Yusup, Pawit M, 1995 . 5 - 6 ) a. Konteks kebutuhan informasi yaitu dimana seseorang sudah mulai memiliki pemikiran mengenai informasi apa yang sebenarnya dibutuhkan, atau dapat dikatakan sudah memiliki gambaran mengenai informasi apa yang harus dicarinya yang terkait dengan pemenuhan kebutuhan karakteristik personal dengan melibatkan aspek kognitif, afektif, integrasi personal, integrasi sosial dan berkhayal. b. Mekanisme pengaktifan pertama yaitu tahap seseorang dimana mulai berfikir tentang bagaimana cara mendapatkan suatu informasi dalam pemecahan suatu persoalan dengan didorong motivasi yang kuat. Pada tahap ini faktor psikologis sangat berperan dalam diri seseorang, misalkan seseorang yang membutuhkan dorongan atau semangat dari orang tua, dosen, teman dalam proses pemenuhan kebutuhan informasinya. c. Variabel perantara didalam variabel perantara ini terdapat 5 (lima) sub bagian yang dapat mendukung ataupun menghambat seseorang dalam menemukan informasi, adapun penjelasan sebagai berikut : 1. kondisi psikologis seseorang bahwa seseorang yang sedang risau atau cemas akan memperlihatkan perilaku informasi yang berbeda dibandingkan dengan seseorang yang sedang gembira. Seperti yang dijelaskan Dr. Wayne Dryer dalam Leila Ch. Budiman bahwa berbagai kecemasan yang diderita itu sebenarnya tanpa didasari menyenangkan kita, karena ada imbalannya. Orang jadi ”bersimpati” pada kita. Sementara itu, kita pun secara tidak sadar sebenarnya sedang menghindar dari tugas yang lebih sulit, yaitu berbuat sesuatu untuk mengatasi apa yang sedang kita cemaskan. ( Budiman, Leila Ch, 1999. 17) 2. demografis, dalam arti luas menyangkut kondisi sosial - budaya seseorang sebagai bagian dari masyarakat tempat ia hidup dan berkegiatan. Kita dapat menduga bahwa kelas sosial juga dapat mempengaruhi perilaku informasi seseorang, walau mungkin pengaruh tersebut lebih banyak ditentukan oleh akses seseorang ke media perantara. Perilaku seseorang dari kelompok masyarakat yang tidak memiliki akses ke Internet pastilah berbeda dari orang yang hidup dalam fasilitas teknologi melimpah. 3. Peran Seseorang Di Masyarakat, Khususnya dalam hubungan inter personal, ikut mempengaruhi perilaku informasi. Misalnya, perilaku penemuan informasi kalangan aktivis kampus akan berbeda dengan perilaku penemuan informasi mahasiswa non - aktivis. Jika seorang aktivis dan seorang mahasiswa berhadapan dengan dosen, peran mereka akan ikut mempengaruhi cara mereka bertanya, bersikap, dan bertindak dalam kegiatan mencari informasi. 4. Lingkungan, dalam hal ini adalah lingkungan terdekat maupun lingkungan yang lebih luas, sebagaimana terlihat di gambar sebelumnya ketika Wilson berbicara tentang perilaku orang perorangan. 5. Karakteristik sumber informasi, Karakter media yang akan digunakan dalam mencari dan menemukan informasi berkaitan dengan faktor demografis. Menurut Putu dalam bukunya dimana orang - orang yang terbiasa dengan media elektronik dan datang dari strata sosial atas pastilah menunjukkan perilaku informasi berbeda dibandingkan mereka yang sangat jarang terpapar media elektronik, baik karena keterbatasan ekonomi maupun karena kondisi sosial - budaya. (Putubuku,2008. 4). Kelima faktor di sini, menurut Wilson, akan sangat mempengaruhi bagaimana akhirnya seseorang mewujudkan kebutuhan informasi dalam bentuk perilaku informasi. Model teori perilaku informasi di atas menggambarkan bahwa kebutuhan informasi memiliki faktor - faktor penghalang dan pengenalan perilaku penemuan informasi. Penggunaan istilah intervenning variable yaitu menjelaskan hambatan - hambatan yang dihadapi pada saat proses penemuan informasi yang didukung oleh tiga teori yaitu teori tentang stres dan cara mengatasi masalah, teori resiko dan imbalan, dan teori belajar sosial. Kemudian menunjukkan tipe perilaku penemuan informasi yang sebelumnya sebagai pencari aktif kemudian menjadi fokus perhatian dan informasi tersebut bisa diolah dan dimanfaatkan. ( Cahyo Nur Indah.2002.5) d. Mekanisme pengaktifan kedua, pada tahap ini juga ikut menentukan perilaku penemuan sesorang yaitu bagaimana pandangan seseorang terhadap resiko dan imbalan yang akan diperoleh jika ia benar - benar melakukan penemuan informasi. Resiko yang dimaksudkan yaitu hambatan yang dihadapi untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan diantaranya biaya, kemudahan akses, waktu untuk memperoleh informasi.yang dibutuhkan. ( Cahyo Nur Indah.2002.10) Selanjutnya model Wilson juga mengungkapkan empat perilaku penemuan informasi yaitu: (Putubuku, 2008.8) 1. Perhatian pasif ( passive attention ) Dimana perilaku ini tidak bermaksud untuk mencari informasi seperti mendengarkan radio atau menonton program televisi. Misalnya secara tidak sengaja menonton telivisi yang memberikan informasi mengenai kegiatan akademis atau perkuliahan. 2. Pencarian aktif ( active search ) Merupakan jenis pencarian yang dimana seorang individu secara aktif mencari informasi. Misalnya mahasiswa IPI A 2017 mencari informasi akademis dengan berkonsultasi dengan dosen wali atau pihak akademik secara langsung di kampus. 3. Pencarian pasif ( passive search ) Merupakan suatu perilaku pencarian informasi yang kebetulan relevan dengan kebutuhan individu. Misalnya dosen memberikan informasi relevan mengenai mata kuliah dan point - point informasi tentang mata kuliah tersebut dan dengan informasi tersebut tanpa sengaja telah memenuhi kebutuhan informasi mahasiswa. 4. Pencarian berlanjut ( ongoing search ) Penemuan terus menerus merupakan pencarian informasi yang dilakukan individu secara terus menerus ketika kebutuhannya belum terpenuhi dan pencarian aktif menjadi kerangka dasar gagasan, keyakinan, nilai, dan sejenisnya dalam menemukan informasi serta memperbarui atau memperluas kerangka kerja seseorang. Misalnya mahasiswa IPI A 2017 mencari informasi selain pada dosen atau pihak akademis tetapi pada teman, browsing di internet, membaca buku ketika informasi yang dicari belum terpenuhi.
Result & Discussion
4. Perilaku Penemuan Informasi di Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga Pada Mahasiswa Pascasarjana S2 Jurusan Ilmu Perpustakaan Dan Informasi Kelas A tahun 2017 Dalam perilaku penemuan informasi tidak lepas dari apa yang menjadi kebutuhan informasi, yakni kebutuhan mahasiswa pascasarjana S2 IPI A tahun 2017 bagaimana menunjang kegiatan akademis. Oleh karena itu mahasiswa pascasarjana S2 IPI A tahun 2017 akan membentuk perilaku penemuan informasi yang sesuai dengan konteks kebutuhan informasi di jurusan ilmu perpustakaan dan informasi. Menurut Case dalam Frison yang dikutip oleh Cahyo Nur Indah perilaku penemuan informasi di defenisikan sebagaimana orang - orang membutuhkan, mencari, memberi dan menggunakan informasi dalam konteks yang berbeda, sedangkan menurut case perilaku informasi mencakup penemuan informasi serta totalitas lain yang disengaja atau perilaku pasif (seperti melihat sekilas atau menjumpai informasi), serta perilaku yang tidak melibatkan penemuan informasi aktif. Sedangkan menurut teori Wilson yang dikutip oleh Putu Laxman Pendit mengenai model keduanya. Wilson mengungkapkan ada empat perilaku penemuan informasi yakni perhatian pasif, pencarian aktif, pencarian pasif, dan pencarian berlanjut (Cahyo Nur Indah.2002.13) 1. Perhatian Pasif ( passive attention ) Ialah dimana perilaku ini tidak bermaksud untuk mencari informasi seperti mendengarkan radio atau menonton program televisi. Berdasarkan wawancara bersama informan pada tanggal 23 November 2017 dengan pertanyaan, Pernakah anda mendapatkan informasi di perpustakaan secara tidak sengaja ? menurut pendapat shifa, “pernah jadi pada waktu itu saya sedang mengerjakan tugas di ruang serial dan tanpa sengaja saya menemukan jurnal di rak display yang menurut saya informasinya menarik dan ternyata benar setelah saya baca dan ada informasi didalamnya yang sedang saya butuhkan” sependapat pula dengan Khairin Nizomi “saya pernah jadi waktu itu saya sedang berada di perpustakaan membaca di meja baca secara tidak sengaja saya menemukan buku di meja tersebut tentang hadist pada saat membacanya ternyata di dalam buku tersebut ada informasi yang sedang saya butuhkan untuk materi tugas saya. kemudian sari wahdati pun mengungkapkan saya juga pernah jadi pada waktu itu saya sedang membuka website perpustakaan UIN Sunan Kalijaga secara tidak sengaja menemukan informasi tentang Muhamadiyah dan NU yang pada saat itu saya membutuhkan informasi itu sebagai materi tugas saya. Dari pernyataan informan di atas penulis dapat mengambil kesimpulan bahwa perhatian pasif pada perilaku penemuan informasi sering terjadi karena adapun informasi yang diperoleh mahasiswa IPI A 2017 dari penggunaan sumber informasi di perpustakaan UIN Sunan Kalijaga tersebut seperti informasi yang berkaitan dengan materi kuliah, dan materi tugas perkuliahan. 2. Pencarian aktif ( active search ) Merupakan jenis pencarian dimana seorang individu secara aktif mencari informasi, berdasarkan wawancara bersama informan pada tanggal 23 November 2017 dengan pertanyaan “ Bagaimana usaha anda dalam mendapatkan informasi yang diinginkan di perpustakaan ? Sari Wahdati mengungkapkan “ Usaha aku dalam mendapatkan informasi yang aku inginkan pertama kali aku menuju OPAC misalnya kan untuk sekarang ini aku lagi membutukan informasi untuk makalah Pak Subaidi judul makalahku kan perbandingan kaidah sholat antara Muhamadiyah dan NU tentang Qunut jadi di OPAC aku langsung melakukan pencarian tentang metode pengkajian Islam setelah itu aku juga mencari buku tentang Kemuhammadiyahan, ke NU an dan buku tentang hukum sholat dan tata cara dalam sholat, setelah aku mendapatkan informasinya aku langsung melakukan pencarian ke rak - rak yang telah di tunjuk dari OPAC. sedangkan menurut Shifa” kalo saya hal yang pertama yang saya lakukan yaitu mencari dulu di OPAC tentang topic atau materi yang ingin saya cari, setelah itu saya catat nomor panggilnya lalu saya menuju ke rak buku untuk mencari buku yang telah ditunjukan dari OPAC. Lalu Khairin Nizomi mengungkapkan” kalo saya hal yang pertama saya lakukan ialah saya bertanya kepada pustakawan soalnya saya belum terlalu paham apa itu OPAC, jadi saya bertanya dimana letak buku dengan topic yang saya inginkan setelah itu saya langsung mencari bukunya di rak yang ditunjukan pustakawan. Berdasarkan pendapat dari informan di atas penulis mengambil kesimpulan bahwa Mahasiswa IPI A tahun 2017 dalam perilaku penemuan informasi pada jenis pencarian aktif ada berbagai pola dan cara sesuai dengan pemahaman masing - masing ada yang melalui OPAC dan bertanya pada pustakawan, adapun informasi yang dibutuhkan mahasiswa IPI A tahun 2017 yakni informasi mengenai materi kuliah dan materi tugas perkuliahan. 3. Pencarian pasif ( passive search ) Merupakan suatu perilaku pencarian informasi yang kebetulan relevan dengan kebutuhan individu. berdasarkan wawancara bersama informan pada tanggal 23 November 2017 dengan pertanyaan “ Apakah anda pernah mendapatkan informasi yang tepat atau sesuai dengan kebutuhan yang diinginkan secara kebetulan melalui sumber informasi yang disediakan perpustakaan ? Menurut pendapat Shifa,” pernah jadi waktu itu saya sedang mencari buku sudah ke OPAC dan mencatat No punggung buku waktu ke rak saya malah menemukan buku lain yang tidak saya cari yang ada di rak itu, sedangkan menurut Khairin Nizomi “ saya pernah menemukan informasi secara tidak sengaja di saat saya sedang melakukan pencarian informasi yang saya butuhkan saat itu saya sedang berjalan menuju ke rak yang ditunjukan oleh pustakawan tiba - tiba saya menemukan buku tentang Al - Quran saya lupa judulnya setelah saya baca ternyata informasi didalam buku tersebut ada materi tugas saya. sedangkan menurut Sari Wahdati “ saya juga pernah menemukan informasi secara tidak sengaja pada saat pencarian informasi di perpustakaan UIN Sunan Kalijaga, saat itu saya mencari sumber informasi melalui OPAC niatnya mau cari buku tentang kemuhammadiyahan ternyata pada saat proses pencarian OPAC malah memunculkan informasi yang lebih spesifik dari kata kunci saya lakukan yang memang pada saat itu saya butuhkan. Dari jawaban wawancara para informan diatas penulis mengambil kesimpulan bahwa pencarian pasif pada perilaku penemuan informasi rata - rata informan menjawab Pernah menemukan informasi secara tidak sengaja pada saat proses pencarian, ternyata informasi yang ditemukan secara tidak sengaja merupakan informasi yang tepat dan sesuai dengan apa yang diinginkan dan dibutuhkan. 4. Pencarian berlanjut ( ongoing search ) Penemuan terus menerus merupakan pencarian informasi yang dilakukan individu secara terus menerus ketika kebutuhannya belum terpenuhi dan pencarian aktif menjadi kerangka dasar gagasan, keyakinan, nilai, dan sejenisnya dalam menemukan informasi serta memperbarui atau memperluas kerangka kerja seseorang. berdasarkan wawancara dengan informan pada tanggal 23 November 2017 dengan pertanyaan “ bagaimana cara anda memilih informasi di perpustakaan UIN Sunan Kalijaga yang benar - benar tepat atau sesuai dengan keinginan anda, ? menurut pendapat Shifa,” jadi pada sebelumnya kan sudah menemukan beberapa buku, dari beberapa buku tersebut dilihat daftar isi nya, lalu dari daftar isi tersebut jika telah sesuai dengan materi atau informasi yang dibutuhkan baru saya melakukan peminjaman pada buku tersebut.” Sedangkan menurut Khairin Nizomi,” sama sependapat dengan pendapat dari Shifa saya juga dalam mendapatkan informasi yang saya butuhkan hal yang saya lakukan adalah mengecek dan memilih buku berdasarkan daftar isi yang mencantuman informasi buku tersebut jika sesuai maka buku akan saya pinjam”. Sedangkan menurut Sari Wahdati” saya memilih dan membaca informasi buku juga melalui daftar isi supaya saya menemukan informasi sesuai dengan keinginan jika telah sesuai buku juga baru akan saya pinjam.” Menurut pendapat dari informan di atas penulis mengambil kesimpulan dalam melakukan pencarian informasi berlanjut mahasiswa IPI kelas A tahun 2017 melakukan beberapa cara dalam memilih informasi yang tepat atau sesuai dengan keinginan mereka. Adapun cara mereka yaitu ; a. memilih informasi yang tepat dengan cara melihat sumberinformasi yang digunakan b. melakukan penyaringan dengan tidak asal ambil sumber informasi c. melihat dan mencocokkan dengan berbagai sumber lainnya d. membaca dan menganalisa kembali informasi yang digunakan untuk memastikan informasi ilmiah tersebut sesuai dengan kebutuhannya karena kebutuhan dalam mengerjakan tugas kuliah tentu saja akan berbeda dengan kebutuhan informasi lainnya. 5. Hambatan - Hambatan Yang Ditemui Dalam Penemuan Informasi Dari hasil analisis penulis di atas mengenai bagaimana Perilaku Penemuan Informasi di Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga Pada Mahasiswa Pascasarjana S2 Jurusan Ilmu Perpustakaan Dan Informasi Kelas A tahun 2017 berkaitan dengan kegiatan akademik dan pengerjaan tugas kuliah, penulis juga menemukan hambatan - hambatan yang dialami oleh mahasiswa Pascasarjana S2 IPI kelas A tahun 2017dalam melakukan proses penemuan informasi. menurut Wilson terjadinya hambatan ketika seseorang membutuhkan informasi dan selama proses penemuan informasi tersebut. mengajukan unsur hambatan dalam model perilaku informasi. Hambatan yang terjadi dalam proses pemenuhan kebutuhan informasi dan proses penemuan informasi ini disebut sebagai Intervening Variable dari perilaku penemuan informasi. menurut Wilson Ada 5 faktor yang akan sangat mempengaruhi bagaimana akhirnya seseorang mewujudkan kebutuhan informasi dalam bentuk perilaku informasi yaitu kondisi psikologi, demografis, peran seseorang, lingkungan, dan karakteristik sumber informasi. ( Putubuku, 2008.4) Pada artikel ini Peneliti memaparkan hasil dari wawancara yang sesuai dengan teori Wilson di atas, yakni hasilnya tidak semua mahasiswa pascasarjana S2 IPI kelas A tahun 2017 mengalami hambatan dalam penemuan informasi. Ada beberapa yang mengalami hambatan tetapi tidak dari semua faktor seperti dalam wawancara Shifa mengungkapkan hambatan yang pernah di alami dalam penemuan informasi diperpustakaan yaitu dari segi kondisi psikologi, menurutnya mahasiswa yang dikejar deadline dalam pengerjaan tugas dan terlalu banyak beban tugas kuliah juga bisa mempengaruhi temu kembali informasi atau penemuan informasi di perpustakaan seperti dikarenakan dalam pencarian informasi dilakukan tergesa - gesa dan ketidak fokusan dalam pencarian informasi sehingga informasi yang didapatkan tidak sesuai dengan yang diinginkan. kemudian faktor kedua yang menjadi hambatan muncul dari peran seseorang dalam penemuan informasi di perpustakaan UIN Sunan Kalijaga, dalam wawancaranya Shifa mengungkapkan hambatan yang kedua ini muncul dari pustakawan repository bagian skripsi, pada saat itu shifa melakukan pencarian informasi di layanan skripsi tetapi informasi yang diinginkan tidak ditemukan lalu shifa mencoba meminta pertolongan dari pustakawan tetapi pustakawan tersebut melayani dengan tidak menyenangkan (Jutek). kemudian faktor yang ketiga yang menjadi hambatan berasal dari karakteristik sumber informasinya pada hambatan ini Shifa menjelaskan adanya kesulitan penelusuran sumber Informasi elektronik terkait jurnal, E - book Dll. hambatan muncul dikarenakan ketidak pahaman prosedur penulusuran sumber elektronik. dari penjelasan di atas penulis mengambil kesimpulan bahwa masih ada mahasiswa yang mengalami hambatan dalam menemukan informasi walaupun tidak banyak dan tidak semua faktor yang disebutkan pada teori Wilson menjadi hambatan, dan hambatan diatas muncul berdasarkan faktor internal dan eksternal yang kemudian menghambat proses penemuan informasi. 6. Cara Mengatasi Hambatan atau Masalah dalam penemuan Informasi berdasarkan teori Wilson di Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga pada mahasiswa pascasarjana S2 IPI kelas A tahun 2017 Berikut peneliti akan menyajikan mengenai bagaiamana mahasiswa pascasarjana S2 IPI kelas A tahun 2017 dalam mengatasi hambatan dalam penemuan informasi. Hampir dari semua mahasiswa pascasarjana S2 IPI kelas A tahun 2017 menyatakan bahwa mereka tetap semangat dan tidak menyerah ketika dalam kesulitan mencari informasi yang dibutuhkan nya mahasiswa pascasarjana S2 IPI kelas A tahun 2017 juga mengungkapakan tidak akan pernah menyerah saat mengalami kesulitan mengakses informasi di perpustakaan sampai pada akhirnya mereka berhasil mendapatkan informasi yang diinginkannya meskipun memerlukan waktu yang cukup banyak. Management waktu atau dengan membagi waktu merupakan salah satu yang dapat digunakan dalam mengatasi hambatan yang dialami oleh mahasiswa pascasarjana S2 IPI kelas A tahun 2017 dalam melakukan penemuan informasi Berkaitan dengan cara bagaimana mengatasi hambatan - hambatan yang telah dibahas peneliti diatas. Hasilnya diantaranya menjawab seperti dengan cara memanage waktu atau membagi waktu, mencari sumber informasi yang cepat atau tepat, dengan cara menggunakan kata kunci yang tepat pada saat pencarian di opac, melakukan sharing atau diskusi, dan memanfaatkan layanan sumber informasi elektronik dengan baik dengan memahami user education yang telah diberikan oleh pihak perpustakaan UIN Sunan Kalijaga.
Conclusion
Dari penelitian yang berjudul “Perilaku Penemuan Informasi di Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga Pada Mahasiswa Pascasarjana S2 Jurusan Ilmu Perpustakaan Dan Informasi Kelas A tahun 2017” peneliti menemukan beberapa temuan data yang menarik. Dari temuan tersebut dapat menggambarkan karateristik, jenis atau pola perilaku mahasiswa ketika mahasiswa melakukan penemuan informasi. Dari hasil pengumpulan data, dan hasil interpretasi analisis. Maka dapat ditarik kesimpulan bahwa: 1. Perilaku penemuan informasi mahasiswa S2 ilmu informasi dan perpustakan yang Wilson mengungkapkan ada empat perilaku penemuan informasi yakni perhatian pasif, pencarian aktif, pencarian pasif, dan pencarian berlanjut seperti : Perhatian Pasif berdasarkan hasil perhatian pasif pada perilaku penemuan informasi sering terjadi karena adapun informasi yang diperoleh mahasiswa IPI A 2017 dari penggunaan sumber informasi di perpustakaan UIN Sunan Kalijaga tersebut seperti informasi yang berkaitan dengan materi kuliah, dan materi tugas perkuliahan, Pencarian aktif Berdasarkan hasil bahwa Mahasiswa IPI A tahun 2017 dalam perilaku penemuan informasi pada jenis pencarian aktif ada berbagai pola dan cara dalam melakukan temu kembali informasi sesuai dengan pemahaman penggunaan prosedur perpustakaan. Pencarian pasif ( passive search ) berdasarkan hasil pencarian pasif pada perilaku penemuan informasi rata - rata informan menjawab Pernah menemukan informasi secara tidak sengaja pada saat proses pencarian, ternyata informasi yang ditemukan secara tidak sengaja merupakan informasi yang tepat dan sesuai dengan apa yang diinginkan dan dibutuhkan. pencarian berlanjut mahasiswa dalam perilaku pencarian berlanjut mengungkapkan cara mereka dalam menemukan informasi yang diinginkan yaitu memilih informasi yang tepat dengan cara melihat sumber informasi yang digunakan, melakukan penyaringan dengan tidak asal ambil sumber informasi, melihat dan mencocokkan dengan berbagai sumber lainnya, membaca dan menganalisa kembali informasi yang digunakan untuk memastikan informasi ilmiah tersebut sesuai dengan kebutuhannya karena kebutuhan dalam mengerjakan tugas kuliah tentu saja akan berbeda dengan kebutuhan informasi lainnya. 2. Hambatan Yang Dialami Oleh Mahasiswa Dalam Penemuan Informasi pada teori Wilson ada 5 faktor yang mempengaruhi dalam penemuan informasi dan masih ada mahasiswa yang mengalami hambatan dalam menemukan informasi walaupun tidak semua mahasiswa dan juga tidak semua faktor yang disebutkan pada teori Wilson menjadi hambatan hanya 3 faktor saja yaitu : faktor kondisi psikologi dikarenakan tugas kuliah yang deadline sehingga mengakibatkan ketidakfokusan dalam proses penemuan informasi di perpustakaan, faktor peran seseorang dalam penelitian ini fakor ini muncul dari pihak pustakawan yang tidak melayani pemustaka dengan tidak menyenangkan sehingga mempengaruhi dalam penemuan informasi di perpustakaan, faktor karakteristik sumber informasi disini penelusuran sumber informasi elektronik dikarenakan ketidakpahaman mahasiswa dalam prosedur penelusuran Jurnal dan E - book yang dilanggan oleh perpustakaan.