Kompetensi Pustakawan Dalam Mencegah Tindakan Bibliocrime
Universitas Islam Nusantara; Universitas Islam Nusantara; Universitas Islam Nusantara; Universitas Islam Nusantara
Abstrak
Data buku yang didaftarkan sebanyak 541 eksemplar, meliputi 503 eksemplar buku rusak ringan dan 38 eksemplar buku rusak berat karena faktor manusia di ruang baca dewasa. kerusakan buku karena faktor manusia, sering dibaca oleh pengguna sehingga buku rusak atau tergores. Penelitian ini membahas mengenai pencegahan Bibliocrime dan kompetensi pustakawan dalam mencegah Bibliocrime. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui soft kompetensi pustakawan ditinjau dari prestasi dan tindakan, orientasi pelayanan pelanggan, pengendalian diri dalam bentuk fisik, elektronik dan prosedural untuk mencegah Bibliocrime pada Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Provinsi Jawa Barat. Metode penelitian dalam penelitian ini, peneliti menggunakan paradigma konstruktivisme dalam paradigma penelitiannya. Metode yang digunakan menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Teori yang digunakan menggunakan Spencer & Spencer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pustakawan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Provinsi Jawa Barat sudah memiliki soft kompetensi pustakawan dalam mencegah tindakan bibliocrime pada koleksi perpustakaan dalam bentuk fisik, elektronik dan prosedural. Namun, soft kompetensi pustakawan tersebut apabila dilihat dari aspek achievement and action, customer service orientation, dan selft control masih tergolong level yang rendah. meningkatan soft kompetensi pustakawan dalam menghadapi bibliocrime dengan cara mengadakan studi banding, mengikuti seminar dan mengadakan FGD terhadap topik yang berkaitan dengan bibliocrime.
Abstract
The book data registered was 541 copies, including 503 copies of books that were slightly damaged and 38 copies of books that were heavily damaged due to human factors in the adult reading room. damage to books due to human factors, often read by users so that the books are damaged or scratched. This research discusses the prevention of Bibliocrime and the competence of librarians in preventing Bibliocrime. The aim of this research is to determine the soft competence of librarians in terms of achievements and actions, customer service orientation, self-control in physical, electronic and procedural forms to prevent bibliocrime in the Regional Library and Archives Service of West Java Province. The research method in this research is that the researcher uses the constructivism paradigm in his research paradigm. The method used uses a qualitative approach with descriptive methods. The theory used uses Spencer & Spencer. The results of the research show that librarians at the West Java Province Regional Library and Archives Service already have librarian soft competence in preventing bibliocrime in library collections in physical, electronic and procedural forms. However, the librarian's soft competence when viewed from the aspects of achievement and action, customer service orientation, and self-control is still at a low level. increasing the soft competence of librarians in dealing with bibliocrime by conducting comparative studies, attending seminars and holding FGDs on topics related to bibliocrime .
Keywords:
bibliocrime
· upaya pencegahan
· perpustakaan umum daerah provinsi jawa barat
Introduction
Perpustakaan umum merupakan pusat informasi lokal yang menyediakan semua jenis pengetahuan serta informasi untuk penggunanya. Jasa perpustakaan umum disediakan atas dasar persamaan akses bagi semuanya, tanpa memandang usia, ras, jenis kelamin, agama, kebangsaan, bahasa atau status sosial. Salah satu fungsi utama perpustakaan adalah menjaga dan melestarikan sumber - sumber informasi. Oleh karena itu, segala bentuk tindakan yang dapat merusak keutuhan informasi yang ada dalam perpustakaan perlu dicegah dan ditanggulangi sehingga informasi tersebut bisa dimanfaatkan oleh seluruh pemustaka. Tindakan yang dapat merusak keutuhan informasi yang ada di perpustakaan adalah tindakan Bibliocrime atau penyalahgunaan koleksi. Tindakan Bibliocrime di perpustakaan merupakan sebuah tindakan penyalahgunaan koleksi perpustakaan, seperti pencurian, perobekan, peminjaman tidak sah, dan vandalisme. Tindakan ini tentunya merugikan pihak perpustakaan serta akan mengurangi nilai guna informasi tersebut. Menurut Maryani dan Herlina (2019), Bibliocrime adalah suatu bentuk tindakan kejahatan terhadap koleksi . Sejalan dengan itu, menurut Obiagwu (Damayanti, Sukaesih & Rainathami, 2015) blibiocrime tindakan penyalahgunaan koleksi dapat digolongkan menjadi empat, yaitu pencurian (theft), penyobekan (mutilation), peminjaman tidak sah (unauthorized borrowing), dan vandalisme (vandalisme). Hal seperti inilah mempengaruhi layanan perpustakaan. Perpustakaan seperti biasa diharuskan selalu mengatur koleksinya, buku atau non buku agar selalu dapat digunakan oleh pengguna. Syaikhu dan Ginting dalam Latif (2016), menyebutkan bahwa perilaku pemustaka yang melakukan tindakan Bibliocrime di perpustakaan tentunya akan mengalami kerugian. Pertama pada perpustakaan tersebut, akan mengalami kerugian finansial maupun kerugian sosial. Perpustakaan akan merasakan kerugian finansial akibat tindak Bibliocrime karena perpustakaan akan mengeluarkan biaya tambahan untuk memperbaiki buku yang terkena tindak Bibliocrime atau bahkan harus membeli koleksi baru jika koleksi itu hilang dari perpustakaan. Padahal koleksi perpustakaan merupakan bagian terpenting dari perpustakaan (Indah, 2021). Merawat dan menjaga koleksi perpustakaan merupakan kewajiban bagi semua masyarakat termasuk pemustaka, sebagaimana yang disebutkan dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan Bab VII pasal 6 ayat 1 menyebutkan bahwa masyarakat berkewajiban menjaga dan memelihara kelestarian koleksi perpustakaan, menjaga kelestarian dan keselamatan sumber daya perpustakaan di lingkungannya. Hal ini dikarenakan adanya kerusakan pada koleksi perpustakaan dapat menimbulkan informasi menjadi rusak, tidak dapat diakses dan hilang baik secara sementara maupun permanen (Haryanto dalam Indah, Dwirinanti &Ramatullah, 2023). Perpustakaan Umum Daerah Provinsi Jawa Barat sebagai salah satu perpustakaan umum yang menerapkan sistem layanan Open access, sehingga dengan sistem tersebut bahan pustaka yang dilayankan oleh perpustakaan akan rentan terjadi tindak Bibliocrime. Hal ini terjadi karena dengan sistem layanan Open access maka pemustaka di Perpustakaan Umum Daerah Provinsi Jawa Barat secara langsung bersentuhan dengan bahan pustaka, seperti pemustaka secara langsung ke rak buku untuk mencari dan mengambil koleksi bahan pustaka sesuai dengan kebutuhan mereka. Sesuai dengan perkembangan teknologi informasi kemampuan soft kompetensi pustakawan Perpustakaan Umum Daerah Provinsi Jawa Barat sangat dibutuhkan untuk kualitas dan kemajuan setiap perpustakaan. Untuk memenuhi kebutuhan setiap pemustaka khususnya dalam hal pencegahan tindakan Bibliocrime agar tidak terjadi, maka pustakawan harus memiliki kemampuan yang lebih profesional baik yang diperoleh dari dunia pendidikan atau lainnya. Sebagaimana telah disebutkan dalam Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 pasal 1 ayat 8 tentang Perpustakaan menyebutkan bahwa, pustakawan adalah seseorang yang memiliki kompetensi yang diperoleh melalui pendidikan dan/atau pelatihan kepustakawanan serta mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk melaksanakan pengelolaan dan pelayanan perpustakaan. Permasalahan yang dilakukan peneliti di lokasi penelitian mendapati bahwa terdaftar 541 eksemplar data buku diantaranya terdapat 503 eksemplar buku yang rusak ringan dan terdapat 38 eksemplar buku yang rusak berat akibat faktor manusia yang terdapat di ruang baca dewasa. kerusakan buku akibat faktor manusia, sering dibaca oleh pemustaka sehingga buku tersebut mengalami kerusakan atau lecet. Pustakawan Perpustakaan Umum Daerah Provinsi Jawa Barat telah memperoleh pelatihan kepustakawanan diantaranya yaitu pelatihan penciptaan fungsional pustakawan dan seminar peningkatan kompetensi pustakawan dan SDM perpustakaan yang dilaksanakan di Perpustakaan Umum Daerah Provinsi Jawa Barat. Menurut Moeheriono dalam Pramularso (2018) kompetensi besar dipengaruhi oleh beberapa fakta, baik dari dalam (internal) maupun dari luar (eksternal), yaitu diantarannya adalah bakat bawaan, bakat yang sudah ada dan melekat sejak mereka dilahirkan, Motivasi kerja yang tinggi, Sikap, Motif, dan Nilai cara pandang, Pengetahuan yang dimiliki dari pendidikan formal maupun non formal, Keterampilan atau keahlian yang dimiliki, Lingkungan hidup atau kehidupan mereka sehari-hari. Kompetensi menurut model Spencer & Spencer (1993), yaitu kemampuan merencanakan dan mengimplementasikan (achievement and action) . Kompetensi ini meliputi bekerja untuk memenuhi standar yang ditetapkan oleh manajemen, menetapkan dan bertindak dalam meraih sasaran diri sendiri dan orang lain, fokus pengoptimalan dalam penggunaan sumber daya, melakukan perhitungan terhadap resiko enterpreneuria, mampu melayani pelanggan atau customer service orientation, meliputi: mencari informasi kebutuhan pelanggan, mengambil tanggung jawab pribadi untuk menyelesaikan masalah pelayanan ke pelanggan bertindak sebagai orang penasehat terhadap kebutuhan dan masalah pelanggan kemampuan bersikap dewasa, pengendalian diri (selft control), meliputi tidak mudah marah, tetap tenang dalam situasi yang rumit, memiliki respon yang baik dalam menghadapi suatu masalah. Dari ketiga kelompok kompetensi tersebut menjelaskan bahwa terdapat tiga jenis kompetensi yang tepat untuk menjadi indikator dalam kompetensi pustakawan yang diambil dari setiap masing-masing kelompok kompetensi generik menurut model Spencer & Spencer (1993), yaitu Achievement and action (kemampuan merencanakan dan mengimplementasikan), Customer service Orientation (berfokus pada pelanggan), dan Selft Control (mampu mengendalikan diri dalam situasi apapun). Studi pendahuluan yang dilakukan peneliti di lokasi penelitian mendapati bahwa terdaftar 541 eksemplar data buku diantaranya terdapat 503 eksemplar buku yang rusak ringan dan terdapat 38 eksemplar buku yang rusak berat akibat faktor manusia yang terdapat di ruang baca dewasa. kerusakan buku akibat faktor manusia, sering dibaca oleh pemustaka sehingga buku tersebut mengalami kerusakan atau lecet. TINJAUAN PUSTAKA Dalam suatu penelitian diperlukan dukungan dari hasil-hasil penelitian yang telah ada sebelumnya, tentunya berkaitan dengan penelitian yang penulis teliti. Pertama, Sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Artika & Juvitasari (2022), yang berjudul “Pustakawan dalam menghadapi vandalisme bahan pustaka di Perpustakaan Daerah Tulungagung”, yaitu kendala dan pencegahan. Kedua, Penelitian mengenai permasalahan diatas juga dilakukan Yuliana (2017) yang berjudul “Peran pustakawan dalam manajemen konflik di perpustakaan” . Penelitian ini berfokus pada seseorang pustakawan dapat berperan dengan baik dalam organisasinya untuk menyelesaikan gesekan-gesekan yang terjadi di dunia perpustakaan. Ketiga, Penelitian yang dikaji mengenai permasalahan di atas juga dilakukan Walib (2020) yang berjudul “Peran pustakawann dalam menanggulangi tindak bibliocrime studi kasus pada UPT Perpustakaan UIN Alauddin Makasar” . Penelitian ini berfokus pada peran pustakawan dalam menanggulangi tindak bibliocrime, yaitu penyebab dan kerugian dari tindakan bibliocrime. Persamaan penelitian ini adalah sama-sama menggunakan metode kualitatif deskriptif. Perbedaan penelitian ini adalah permasalahan penelitian. Perbedaan penelitian ini dengan ketiga penelitian sebelumnya terdapat pada penggunaan teori yang digunakan yaitu Spencer & Spencer (1993) untuk mengetahui kompetensi pustakawan dalam mencegah bibliocrime. Bibliocrime adalah sebuah perilaku kejahatan kriminal yang dilakukan dalam wilayah perpustakaan yaitu terhadap bahan pustaka, sehingga menciderai wujud bahan pustaka. Istilah bibliocrime juga sering disebut dengan tindakan penyalahgunaan terhadap bahan pustaka . Dalam menanggulangi bibliocrime di perpustakaan maka diperlukan kompetensi pustakawan. Hal ini dikareana menurut Spencer & Spencer (1993), kompetensi adalah karakteristik yang mendasari individu yang bersifat kausal terkait dengan kinerja efektif dan/atau unggul yang mengacu pada kriteria dalam suatu pekerjaan atau situasi. Adapun kompetensi ini terdiri terbagi menjadi beberapa model, yaitu, pertama, kompetensi yang berorientasi pada pencapaian (achievement orientation) . Orientasi Pencapaian adalah satu-satunya karakter pembeda yang paling sering dari kontributor teknis unggul. Fokus utamanya adalah pada pengukuran kinerja atau hasil terhadap standar keunggulan dan seterusnya meningkatkan hasil atau kinerja dalam beberapa cara . Kedua, dampak dan pengaruh (impact and influence) . Kompetensi dampak dan pengaruh adalah salah satu pembeda yang paling sering disebutkan dari teknis/profesional unggul. Teknis/profesi juga terutama menggunakan Persuasi Langsung didukung oleh data, contoh atau demonstrasi konkrit, fakta dan angka, dan presentasi grafis . Ketiga, kompetensi pemikiran konseptual dan pemikiran analitis (conceptual thinking and analytical thinking) . Gabungan kedua kompetensi ini akan menjadi pembeda yang paling sering bintang teknis/profesional. Kompetensi kognitif lebih sering disebutkan dalam kelompok pekerjaan ini daripada banyak pekerjaan lainnya. Dalam kelompok ini, ragam dan kekuatan kompetensi kognitif terkait dengan derajat orientasi riset-ilmu pada posisi tersebut. Keempat, kompetensi prakarsa (initiative) . Inisiatif muncul sebagai keuletan dan ketekunan dalam bertahan dengan masalah yang sulit sampai selesai. Antusiasme untuk percobaan dan hadiah dalam kesegeraan umpan balik ini menjelaskan beberapa kegigihan perancang konseptual dalam pemecahan masalah . Kelima, kompetensi percaya diri (selft confidence) berkaitan dengan keyakinan diri adalah karakteristik pribadi utama dari profesional teknis yang unggul.
Method
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Kualitatif dipilih karena penelitian ini menjelaskan mengenai fenomena yang ada di lingkungan masyarakat sehingga untuk mencari, dan memahami fenomena tersebut. dan metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif. Metode merupakan upaya yang dapat dilakukan oleh peneliti dalam mengumpulkan data-data dan mencari kebenaran masalah yang diteliti. Metode kualitatif ini dirancang untuk mengumpulkan informasi tentang keadaan-keadaan yang nyata sekarang, tentang apa yang dialami oleh subyek penelitian dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa. Penelitian kualitatif Menurut Bodgan dan Taylor (1975: 5) dalam buku Memahami Penelitian Kualitatif mendefinisikan penelitian kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. Menurut mereka, pendekatan ini diarahkan pada latar dan individu tersebut secara holistik (utuh). Jadi, dalam hal ini tidak boleh mengisolasikan individu atau organisasi ke dalam variabel atau hipotesis, tetapi perlu memandangnya sebagai bagian dari suatu keutuhan. Sependapat dengan definisi tersebut, Menurut Kirk dan Miller (1986: 9), mendefinisikan bahwa penelitian kualitatif adalah tradisi tertentu dalam ilmu pengetahuan sosial yang secara fundamental bergantung pada pengamatan pada manusia dalam kawasannya sendiri dan berhubungan dengan orang-orang tersebut dalam bahasanya dan dalam peristilahannya. Tabel 1.1 Profil Informan Pustakawan No. Nama Gol. Pustakawan 1. (A) Pustakawan Ahli 2. (N) Pustakawan Mahir Sumber : Penulis 2023
Result & Discussion
Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Provinsi Jawa Barat telah mengalami beberapa kali perubahan nama. Sebagai cikal bakalnya bernama Perpustakaan Negara yang didirikan tanggal 23 Mei 1956 berdasarkan surat keputusan menteri pendidikan pengajaran dan kebudayaan nomor 29103/S di 19 provinsi, salah satunya yaitu Bandung yang berlokasi di Jl. Diponegoro dan induk organisasinya adalah Biro Perpustakaan dan Pembinaan Buku. Setelah terbit surat keputusan menteri pendidikan dan kebudayaan nomor 095/1967 tanggal 6 Desember 1967, ditetapkan bahwa lembaga perpustakaan merupakan induk organisasi perpustakaan Negara, kemudian berdasarkan surat keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan nomor 079/1975 Organisasi Perpustakaan Negara menjadi pusat pembinaan perpustakaan. Empat tahun kemudian, tepatnya tanggal 29 Mei 1979 Menteri Pendidikan dan Kebudayaan mengeluarkan surat keputusan nomor 095/0/1979 tentang penetapan pengalihan nama perpustakaan Negara menjadi Perpustakaan Wilayah, sementara induk organisasinya masih Pusat Pembinaan Perpustakaan. Adanya penggabungan Pusat Pembinaan Perpustakaan dan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia berdasarkan keputusan Presiden nomor 11 tahun 1989 tanggal 6 Maret 1989 tentang Perpustakaan RI, pasal 14 (1) nama Perpustakaan Wilayah berubah lagi menjadi Perpustakaan Daerah Jawa Barat dan sebagai induk organisasi adalah Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Terbitnya keputusan Presiden nomor 50 tahun 1997 tentang Perpustakaan Nasional RI, maka selaras pasal 16 (1) nama Perpustakaan Daerah Jawa Barat berubah lagi menjadi Perpustakaan Nasional Provinsi Jawa Barat. Banyaknya pengguna atau pemustaka yang memanfaatkan Perpustakaan Umum Daerah Provinsi Jawa Barat sebagai wadah untuk menemukan informasi, menyebabkan koleksi yang dimiliki tentunya rawan terhadap tindak penyalahgunaan koleksi. Soft kompetensi pustakawan dalam bentuk keamanan fisik, elektronik dan prosedur dalam hal Achievement and Action, Customer Service Orientation dan Self Control dalam teori Spencer and Spencer (1993) yaitu: Soft kompetensi pustakawan dalam bentuk keamanan fisik, elektronik dan prosedur dalam hal Achievement and Action, Customer Service Orientation dan Self Control Keamanan fisik dalam hal Achievement and Action yaitu kompetensi semangat untuk mencapai target kerja atau kinerja pustakawan didalam melakukan perlindungan fisik dalam keamanan fisik buku, kompetensi kinerja pustakawan Perpustakaan Umum Daerah Provinsi Jawa Barat yang dilakukan yaitu melakukan langkah-langkah baik itu dengan memanfaatkan teknologi, pemantauan di pintu masuk ruang baca selain dari keamanan fisik buku yang sudah di terapkan yaitu sudah ada pengaman buku yang disebut tattle tap, melakukan pemantauan secara langsung, menegur pemustaka secara langsung. Melihat kinerja atau usaha yang dilakukan pustakawan jika dilihat pada teori spencer and spencer pada aspek achievement and action baru mencapai level ke satu sesuai penjelasan indikator. Hal ini menunjukan bahwa soft kompetensi pustakawan Perpustakaan Umum Daerah Provinsi Jawa Barat masih rendah. Keamanan fisik dalam hal Customer Service Orientation yaitu kompetensi pustakawan yang berorientsi pada kebutuhan pelanggan atau pemustaka dalam keamanan fisik buku, kompetensi pustakawan Perpustakaan Umum Daerah Provinsi Jawa Barat dalam kebutuhan pemustaka yaitu pustakawan melakukan perawatan koleksi, rutin melakukan shelving buku, menjaga kebersihan ruangan seperti lemari, rak buku agar bebas dari debu, pustakawan mengingatkan pemustaka agar tidak membawa makanan maupun minuman di dalam perpustakaan. Sedangkan ceceran makan dan tumpahan minuman mengundang kehadiran serangga yang merupakan musuh-musuh bahan pustaka selain dari pada itu untuk kenyamanan dan pemenuhan kebutuhan pemustaka. Jika dilihat pada teori Spencer & Spencer (1993) pada aspek Customer Service Orientation baru mencapai level tiga sesuai penjelasan indikator. Hal ini menunjukan bahwa soft kompetensi pustakawan Perpustakaan Umum Daerah Provinsi Jawa Barat masih rendah. Keamanan fisik dalam hal Self Control, yaitu kompetensi pustakawan dalam pengendalian diri dalam menjaga emosional, kompetensi pengendalian diri dalam menjaga emosional pustakawan Perpustakaan Umum Daerah Provinsi Jawa Barat yaitu pustakawan melakukan pencegahan Bibliocrime terhadap pemustaka dengan melakukan pembicaraan baik-baik kepada pemustaka dengan memberikan respon positif dengan mengontrol emosinya, menghindari stress, menahan godaan dan bersikap tenang. Hal ini dilakukan pemustaka ketika ada pemustaka yang melakukan hal yang tidak baik terhadap fisik buku. Jika dilihat dari teori Spencer & Spencer (1993), pada aspek Self Control baru mencapai level 5 dari keseluruhan level nya yang mencapai level 6. Soft kompetensi pustakawan dalam bentuk keamanan elektronik dalam hal achievement and action, customer service orientation dan self control Keamanan elektronik dalam hal achievement and action yaitu kompetensi semangat untuk mencapai target kerja atau kinerja pustakawan. Pustakawan Perpustakaan Umum Daerah Provinsi Jawa Barat telah menerapkan berbagai keamanan elektronik yang dipasang oleh pustakawan dengan maksud untuk mengantisipasi ataupun mengatasi tindakan Bibliocrime alat elektronik yang dimaksud yakni Security gate (gerbang keamanan), pemasangan CCTV (Closed Circuit Television). Selain dengan menggunakan alat elektronik pustakawan juga memiliki inisiatif melakukan tindakan lain yaitu dengan memantau pemustaka ketika mencari buku. Jika dilihat dari teori spencer dan spencer pada aspek achievement and action kompetensi pustakawan baru mencapai level 1 dari keseluruhan level yang mencapai level 8. Hal ini menunjukan bahwa soft kompetensi pustakawan Perpustakaan Umum Daerah Provinsi Jawa Barat masih rendah. Keamanan elektronik dalam hal Customer Service Orientation, yaitu kompetensi pustakawan yang berorientsi pada kebutuhan pelanggan atau pemustaka. Kompetensi pustakawan Perpustakaan Umum Daerah Provinsi Jawa Barat, yaitu pustakawan melakukan bantuan kepada pemustaka dalam hal pencarian koleksi buku di aplikasi OPAC agar memudahkan pemustaka mencari buku termasuk pemustaka yang masih gagap teknologi. Jika dilihat dari teori spencer and spencer pada aspek customer service orientation kompetensi pustakawan baru mencapai level 1 dari keseluruhan level yang mencapai level 9. Hal ini menunjukan bahwa soft kompetensi pustakawan Perpustakaan Umum Daerah Provinsi Jawa Barat masih rendah. Keamanan elektronik dalam hal Self Control yaitu kompetensi pustakawan dalam pengendalian diri dalam menjaga emosional, kompetensi pengendalian diri dalam menjaga emosional pustakawan Perpustakaan Umum Daerah Provinsi Jawa Barat jika dilihat dari teori spencer and spencer belum mencapai level kompetensi self control. Hal ini menujukan bahwa soft kompetensi Pustakawan Perpustakaan Umum Daerah Provinsi Jawa Barat sangat rendah. Soft kompetensi pustakawan dalam bentuk keamanan prosedur dalam hal achievement and action, customer service orientation dan self control Keamanan prosedur dalam hal Achievement and Action yaitu kompetensi semangat untuk mencapai target kerja atau kinerja pustakawan. Kompetensi pustakawan Perpustakaan Umum Daerah Provinsi Jawa Barat yaitu selain sudah adanya aturan yang diterapkan diruang baca perpustakaan kompetensi pustakawan dalam hal ini pustakawan berfokus pada tugas yang dilakukan dengan selalu mengingatkan kepada pemustaka mengenai aturan yang sudah diterapkan. Pustakawan mengarahkan untuk menyimpan barang atau tas bawaan ke loker tempat menyimpan tas agar tidak dibawa ke ruang baca. Karena untuk mengantisipasi pemustaka melakukan pencurian koleksi dengan cara memasukan koleksi ke dalam tas. Jika dilihat dari teori Spencer and Spencer dalam aspek achievement and action kompetensi pustakawan baru mencapai level 0 dari keseluruhan yang mencapai level 8. Hal ini menunjukan bahwa soft kompetensi pustakawan Perpustakaan Umum Daerah Provinsi Jawa Barat masih sangat rendah. Keamanan prosedur dalam hal Customer Service Orientation, yaitu kompetensi pustakawan yang berorientsi pada kebutuhan pemustaka. Kompetensi pustakawan Perpustakaan Umum Daerah Provinsi Jawa Barat yaitu pustakawan memberikan pelayanan terbaik bagi pemustaka, membantu mencari informasi kebutuhan pemustaka. Jika dilihat dari teori Spencer & Spencer (1993) dalam aspek customer service orientation kompetensi pustakawan baru mencapai level 1 dari keseluruhan yang mencapai level 9. Hal ini menunjukan bahwa soft kompetensi pustakawan Perpustakaan Umum Daerah Provinsi Jawa Barat masih sangat rendah. Keamanan prosedur dalam hal self control yaitu kompetensi pustakawan dalam pengendalian diri dalam menjaga emosional, kompetensi pustakawan Perpustakaan Umum Daerah Provinsi Jawa Barat dalam pengendalian diri dalam menjaga emosional yaitu pustakawan dapat menghindari stress, mengendalikan emosi agar tidak marah saat ada pemustaka yang melanggar aturan perpustakaan. Jika dilihat dari teori Spencer & Spencer (1993) dalam aspek Self Control kompetensi pustakawan baru mencapai level 2 dari keseluruhan yang mencapai level 6. Hal ini menunjukan bahwa soft kompetensi pustakawan Perpustakaan Umum Daerah Provinsi Jawa Barat masih rendah. Adapun Upaya menjaga kemanan fisik yang diterapkan pustakawan Perpustakaan Umum Daerah Provinsi Jawa Barat yaitu, pertama, dengan membuat perancangan arsitektur perpustakaan. Pustakawan lebih difokuskan memantau pada pintu masuk dan keluar karena sangat berpotensi terjadinya pencurian koleksi, perancangan arsitektur perpustakaan meliputi penataan luar dan dalam bangunan perpustakaan. Kedua, menjaga keamanan fisik buku. Untuk keamanan pada fisik buku ditempelkan tattle tap dan 3M yaitu pengaman buku, di aplikasinya itu dia bunyi, seharusnya di setiap ruangan itu ada security gate agar buku yang dibawa pemustaka tanpa melalui prosedur alat tersebut bunyi. security gate agar pemustaka yang mencuri buku tanpa sesuai prosedur itu buku yang dicuri alat security gate nya akan bunyi. Gambar 1. Buku ditempelkan 3M Sumber : Dokumentasi Peneliti, 2023 Upaya menjaga keaman fisik buku yang ketiga adalah dengan membuat personil keamanan . Tugas personil keamanan yaitu berpatroli di dalam perpustakaan maupun di luar perpustakaan serta memanfaatkan CCTV guna melihat situasi ruang perpustakaan. Petugas keamanan atau satpam sangat diperlukan untuk menjaga perpustakaan dari hal yang tidak diinginkan. Kelima, menggunakan teknologi keamanan seperti CCTV . CCTV atau kamera pengintai adalah teknologi yang bisa mengamati segala aktivitas pemustaka di Perpustakaan Umum Daerah Provinsi Jawa Barat, serta hasil rekamannya bisa dijadikan sebagai barang bukti jika ada pelanggaran. namun untuk saat ini CCTV sedang tidak berfungsi, dan untuk pemustaka saat ini aman-aman saja tidak tejadi tindakan Bibliocrime. Tetapi sebagai pustakawan sudah berupaya untuk pencegahan Bibliocrime, begitupun alat-alat elektronik keamanan sudah ada. Gambar 2. CCTV diruang Baca Dewasa Sumber: Dokumentasi Peneliti, 2023 Upaya menjaga keaman fisik buku yang keenam adalah memasang Security Gate . Security Gate, yaitu keamanan elektronik atau sebuah teknologi yang diterapkan di pintu masuk perpustakaan sebagai pendeteksi bahan pustaka yang keluar dari perpustakaan. Sistem kerja security gate yaitu secara otomatis bersuara jika terdapat koleksi yang dibawa keluar dari perpustakaan tanpa melalui prosedur yang sudah ditetapkan. Namun, untuk saat ini security gate yang juga tidak berfungsi karena rusak. dan untuk pemustaka saat ini aman-aman saja tidak tejadi tindakan Bibliocrime. Tetapi sebagai pustakawan sudah berupaya untuk pencegahan Bibliocrime, begitupun alat-alat elektronik keamanan sudah ada. Gambar 3 . Security Gate Sumber: Dokumentasi peneliti, 2023 Upaya menjaga keaman fisik buku yang keenam adalah memasang barcode . Barcode adalah sebuah kode berupa baris sejajar secara horizontal berwarna hitam tebal serta tipis yang berfungsi untuk membaca kode koleksi secara otomatis/menggunakan teknologi. Barcode sangat dibutuhkan pada layanan sirkulasi untuk peminjaman bahan pustaka. Ketujuh, terdapat kebijakan dan Prosedur Keamanan yang memuat aturan dan sanksi. Adanya aturan serta sanksi ialah salah satu upaya yang wajib ada di setiap perpustakaan guna meminimalisir Bibliocrime. Dengan adanya aturan serta sanksi pelaku kejahatan bisa mendapatkan efek jera atas perbuatannya. Adanya aturan dan sanksi ini juga sebagai bentuk pedoman pengelolaan kecerdasan emosional pustakawn sebagai penyedia layanan perpustakaan. Hal ini dikarenakan pustakawan untuk menjadi pribadi yang berprestasi memerlukan kemampuan dalam mengelola emosi baik emosi positif maupun emosi negative (Suryanto & Erlianti, 2018). Kedelapan, penyediaan loker supaya pemustaka tidak membawa tas kedalam ruangan koleksi. Hal ini berguna untuk mengantisipasi pemustaka melakukan pencurian koleksi dengan cara memasukkan koleksi kedalam tas. Loker di sebuah perpustakaan disertakan dengan kunci agar barang-barang pemustaka tidak hilang. Kesembilan, memberikan user education atau lumrah disebut dengan pendidikan pengguna . User education merupakan suatu kegiatan seperti wisata perpustakaan, kuliah umum, dan pemanfaatan media audiovisual/simulasi. Pendidikan pengguna juga dapat dilakukan dengan pembuatan papan pengumuman, tata cara memanfaatkan koleksi pustaka dan lain sebagainya.
Conclusion
Dalam menjaga keamanan koleksi dari bibliocrime di Perpustakaan Umum Daerah Provinsi Jawa Barat para pustakawan sudah memiliki soft kompetensi . Hal ini terlihat sudah adanya upaya pencegahan bibliocrime dengan menyediakan perancangan gedung arsitektur yang aman untuk koleksi, ditempelkan tattle tap dan 3M pada setiap koleksi, tersedianya personal keamanan, CCTV, security gate, barcode, kebijakan dan prosedur keamanan berupa sanksi dan aturan perpustakaan, tersedianya loker dan pemberian user education bagi pemustaka. Namun, apabila dilihat dari aspek Achievement and Action, Customer Service Orientation, dan Selft Control untuk soft kompetensi pustakawannya masih tergolong rendah karena rata-rata hanya memenuhi level 1 untuk pencegahan bibliocrime secara fisik, elektronik dan prosedur keamanan koleksi perpustakaan. Adapun saran yang diberikan adalah perlu adanya meningkatan soft kompetensi pustakawan dalam menghadapi bibliocrime dengan cara mengadakan studi banding, mengikuti seminar dan mengadakan FGD terhadap topik yang berkaitan dengan bibliocrime .