Kembali
16
1
2024 Al Maktabah: Jurnal Kajian Ilmu dan Perpustakaan Vol 9 · 1 ISSN 2657-2346

Peran Pustakawan UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu dalam Mengelola Perpustakaan Digital di Era Society 5.0

Universitas Bengkulu; Universitas Bengkulu; Universitas Bengkulu

Abstrak

Perpustakaan yang ideal adalah yang dikelola efisien dan memanfaatkan teknologi terkini, serta memberikan akses maksimal kepada pemustaka. Penelitian ini fokus pada peran krusial pustakawan dalam mengelola perpustakaan digital di UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu, yang dianggap sebagai komponen penting dalam mendukung perkembangan pengetahuan di era Society 5.0. Fokus masalah penelitian adalah mengeksplorasi sejauh mana pemahaman dan penerapan teknologi oleh pustakawan dalam mengoptimalkan perpustakaan digital. Tujuan penelitian adalah untuk mengidentifikasi tantangan yang dihadapi pustakawan dalam mengelola perpustakaan digital dan merumuskan strategi peningkatan kemampuan teknologi mereka guna memastikan layanan yang efisien. Penelitian ini menggunkan metode analisis deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Penelitian kualitatif postpositivisme ini melibatkan peneliti sebagai instrumen utama, dengan data diperoleh dari tinjauan literatur dan dokumen resmi. Penggunaan teknik purposive sampling untuk memilih 5 informan (3 pustakawan, 2 pemustaka) dan menerapkan metode triangulasi melalui observasi, wawancara, serta analisis data. Proses analisis mencakup pengumpulan, pengorganisasian, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Temuan menunjukkan bahwa hanya 3 dari 9 pustakawan yang aktif terlibat dalam meningkatkan pemahaman dan kemampuan mereka terkait perpustakaan digital. Berdasarkan hasil penelitian, menunjukkan bahwa perpustakaan digital UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu menghadapi tantangan anggaran untuk pembaruan koleksi, serta kendala kecepatan jaringan. Namun, keberhasilan dalam manajemen hak cipta, antarmuka pengguna yang ramah, dan promosi yang efektif telah meningkatkan kepuasan pengguna dan penggunaan sumber daya digital. Pustakawan bertanggung jawab mengelola dan menyediakan informasi, serta memegang peran penting dalam akses ini. Optimasi pengetahuan pustakawan akan memainkan peran kunci dalam mendukung keberhasilan perpustakaan digital di masa mendatang.

Abstract

The ideal library is one that is managed efficiently and utilizes the latest technology, and provides maximum access to users. This research focuses on the crucial role of librarians in managing digital libraries at UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu, which is considered an important component in supporting the development of knowledge in the era of Society 5.0. The focus of the research problem is to explore the extent of understanding and application of technology by librarians in optimizing digital libraries. The purpose of the study is to identify the challenges librarians face in managing digital libraries and formulate strategies to improve their technological capabilities to ensure efficient services. This research uses a descriptive analysis method with a qualitative approach. This qualitative postpositivism research involves researchers as the main instrument, with data obtained from literature reviews and official documents. The use of purposive sampling techniques to select 5 informants (3 librarians, 2 users) and apply the triangulation method through observation, interviews, and data analysis. The analysis process includes collecting, organizing, presenting data, and drawing conclusions. The findings show that only 3 out of 9 librarians are actively involved in improving their understanding and ability regarding digital libraries. Based on the results of the study, it shows that the digital library of UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu faces budget challenges for updating collections, as well as network speed constraints. However, successes in copyright management, friendly user interfaces, and effective promotion have increased user satisfaction and use of digital resources. Librarians are responsible for managing and providing information, and play an important role in this access. Librarians' knowledge optimization will play a key role in supporting the success of digital libraries in the future.
Keywords: Perpustakaan Digital · Peran Pustakawan · Pengembangan Kemampuan · Teknologi Informasi

Introduction

Perkembangan perpustakaan yang menuju ke arah perpustakaan digital memiliki dampak yang signifikan pada pelayanannya. Dalam konteks ini, pustakawan harus mampu mengakomodasi permintaan pemustaka untuk akses informasi yang lebih cepat. Dengan kreativitas dari pengelola perpustakaan atau pustakawan, koleksi yang sebelumnya hanya dalam bentuk cetak sekarang dapat diubah menjadi format digital.Oleh karena itu, untuk memenuhi harapan ini, seorang pustakawan perlu beradaptasi dengan perkembangan teknologi informasi. Perpustakaan di institusi pendidikan tinggi seperti UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu memiliki peran penting dan peran pustakawan pun ikut berubah seiring dengan perkembangan perpustakaan. Awalnya, peran pustakawan adalah sebagai pengelola koleksi buku fisik dan penyedia informasi kepada pemustaka. Namun, dengan transformasi menjadi perpustakaan digital, peran pustakawan juga telah berkembang. Pustakawan saat ini tidak hanya mengelola koleksi digital, tetapi juga menjadi fasilitator akses pemustaka ke sumber-sumber elektronik, membantu dalam pencarian informasi, memberikan pelatihan terkait literasi informasi, dan mendukung pemustaka dalam memanfaatkan teknologi informasi. Peran pustakawan menjadi lebih proaktif dalam mendukung pembelajaran dan penelitian di lingkungan perguruan tinggi. Pustakawan di UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu menguasai kompetensi dalam sistem perpustakaan digital, memastikan akses yang efisien ke koleksi digital, dan membantu pengguna dalam literasi informasi digital. Mereka juga terampil dalam teknologi perpustakaan, perlindungan data, hak cipta, dan literasi media sosial. Kemampuan belajar mandiri mereka memungkinkan adaptasi cepat terhadap perkembangan teknologi. Dengan kompetensi ini, mereka memberikan dukungan informasi yang relevan kepada pengguna di era digital. Perpustakaan digital mempengaruhi pelayanan dengan menekankan akses informasi yang lebih cepat. Pustakawan harus beradaptasi dengan teknologi di era Society 5.0, menyeimbangkan layanan fisik dan online, mengembangkan sumber daya manusia, fasilitas, dan bahan pustaka. Untuk meningkatkan ketertarikan, perpustakaan perlu menjadi sarana rekreasi dengan layanan visual yang optimal, bukan hanya tampilan fisik gedung. Perbedaan antara Pustakawan 4.0 dan Pustakawan 5.0 terletak pada fokus penggunaan teknologi. Pustakawan 4.0 lebih memanfaatkan kecanggihan teknologi sebagai komponen utama dalam membuat perubahan dalam dunia perpustakaan, sedangkan Pustakawan 5.0 lebih menekankan penggunaan teknologi modern dengan lebih mengandalkan manusia sebagai komponen utamanya untuk mengendalikan perkembangan teknologi. Hal ini sejalan dengan evolusi dari era Society 4.0 ke Society 5.0, di mana teknologi tidak hanya menjadi alat, tetapi juga menjadi bagian integral dari kehidupan manusia, dengan peran utama manusia dalam mengarahkan penggunaannya. Pustakawan memiliki peran yang sangat penting untuk memajukan perpustakaan. Pustakawan harus segera beradaptasi dengan meng-upgrade kemampuan yang dimilikinya agar perpustakaan tidak habis termakan oleh zaman. Dengan memulai penyelenggaraan pengolahan, layanan berbasis teknologi serta aktivitas perpustakaan sudah tersistem dan terintegrasi dari satu komputer ke komputer lainnya, sehingga satu pekerjaan dapat menyelesaikan pekerjaan lainnya merupakan hal-hal yang perlu ada di dalam perpustakaan. Pustakawan UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu berusaha meningkatkan kualitas pengelolaan dan pelayanan perpustakaan.Pada kondisi saat ini, pustakawan yang mengelola bagian seperti Library Automation System (uinfasbengkulu.ac.id), OPAC, Repository, EJournal, Book Digital (E-Library) sering kali kewalahan karena dari ke-9 pustakawan hanya ada beberapa pustakawan saja yang terampil dalam bidang teknologi informasi digital dan tidak ada pustakawan yang bersetifikasi dalam bidang IT. Namun, terkadang ada hambatan dalam mengelola perpustakaan digital, diantaranya masih ada pemustaka yang belum “melek” dan open minded terhadap kehadiran perpustakaan digital. Dalam penelitian yang berjudul “Transformasi Peran Pustakawan Dalam Mengelola Koleksi Digital Di Perpustakaan Kabupaten Bandung” oleh Zahra Wenning Tyas pada tahun 2023 bertujuan untuk menjelaskan perpustakaan digital, mengidentifikasi keterampilan pustakawan di era digital, dan memahami peran pustakawan dalam mengelola koleksi digital di Perpustakaan Kabupaten Bandung. Dengan metode deskriptif kualitatif, penelitian menekankan pentingnya kemahiran teknologi informasi pustakawan dalam mengelola koleksi digital. Hasilnya menunjukkan bahwa manajemen efektif terhadap koleksi digital dapat meningkatkan kepuasan pengunjung dan berpotensi meningkatkan minat kunjung serta minat baca masyarakat3 . Artikel "Peran Pustakawan Dalam Implementasi Konsep Perpustakaan Digital" oleh Nurjannah pada tahun 2016 membahas pentingnya peran pustakawan dalam menerapkan perpustakaan digital. Pustakawan tidak hanya terlibat dalam pengelolaan koleksi digital, tetapi juga membutuhkan pemahaman mendalam tentang konsep perpustakaan digital. Peningkatan terus-menerus dalam keterampilan teknologi menjadi faktor kunci dalam menjalankan peran pustakawan. Artikel ini menekankan peran sentral pustakawan dalam mengatasi tantangan yang muncul dalam menerapkan konsep perpustakaan digital di era teknologi informasi4 . Dalam artikel "Transformasi Layanan Perpustakaan Memasuki Era Society 5.0," oleh Richard Togaranta Ginting, Ni Kadek Febbyola, dan Agus Aditya Wiguna pada tahun 2023 pustakawan dianggap kunci penting dalam menghadapi tantangan perpustakaan digital. Artikel menekankan bahwa pustakawan harus tidak hanya memahami koleksi perpustakaan, tetapi juga berperan sebagai inovator yang kreatif dalam menyajikan layanan. Pusat informasi inovatif di perpustakaan dianggap esensial, dengan peran utama pustakawan dalam pencapaiannya. Akses fleksibel melalui aplikasi seperti iPusnas, iJakarta, SLIMS, dan RBV UT ditekankan sebagai bagian integral dari perpustakaan digital. Untuk tetap relevan di Era Society 5.0, pustakawan diharapkan proaktif dalam mengembangkan layanan yang sejalan dengan perkembangan teknologi, memastikan perpustakaan tetap menjadi sumber informasi yang sangat dibutuhkan dalam masyarakat5 . Berdasarkan ringkasan tiga penelitian sebelumnya, penelitian tersebut menitikberatkan pada peran pustakawan dalam mengelola perpustakaan digital dan meningkatkan relevansi perpustakaan di era digital. Mereka membahas pentingnya kemahiran teknologi informasi pustakawan dan dampak positifnya terhadap kepuasan pemustaka serta minat baca masyarakat. Sementara itu, penelitian dengan judul "Peran Pustakawan UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu dalam Mengelola Perpustakaan Digital di Era Society 5.0" mungkin lebih difokuskan pada kontribusi unik pustakawan UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu dalam menghadapi dinamika era Society 5.0. Penelitian ini kemungkinan mengeksplorasi strategi, inovasi, atau langkah-langkah konkret yang diambil pustakawan dalam konteks khusus tersebut. Fokusnya mungkin lebih mendalam terhadap peran pustakawan sebagai agen perubahan dan inovator dalam mengelola perpustakaan digital, dengan mempertimbangkan konteks dan tantangan spesifik yang dihadapi oleh UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu. Dari tinjauan tiga penelitian sebelumnya, usaha besar telah dilakukan untuk memahami peran pustakawan dalam mengelola perpustakaan digital dan pentingnya keterampilan teknologi informasi. Meskipun demikian, masih ada dua gap penelitian yang perlu dieksplorasi lebih lanjut. Pertama, belum jelas sejauh mana pustakawan di UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu mengatasi kendala dan mengadopsi perubahan di era Society 5.0. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi strategi konkret, inovasi, atau langkah-langkah yang diambil oleh pustakawan di institusi tersebut. Kedua, meskipun ada penekanan pada pentingnya keterampilan teknologi informasi, belum jelas bagaimana pemahaman mendalam pustakawan tentang konsep perpustakaan digital memengaruhi efektivitas pengelolaan koleksi digital. Oleh karena itu, penelitian ini akan melihat lebih dalam bagaimana pemahaman konsep perpustakaan digital dapat meningkatkan kualitas layanan perpustakaan. Penelitian ini penting karena melengkapi keterbatasan penelitian sebelumnya yang belum mengeksplorasi strategi dan kontribusi unik pustakawan UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu. Diharapkan penelitian ini memberikan wawasan mendalam tentang bagaimana pustakawan mengatasi kendala khusus dan beradaptasi dengan dinamika era Society 5.0. Dalam konteks yang menuntut perubahan cepat, penelitian ini juga menyoroti peran pustakawan sebagai inovator dan agen perubahan dalam mengelola perpustakaan digital. Dengan demikian, diharapkan penelitian ini memberikan kontribusi yang berharga untuk memahami peran pustakawan dalam era digital dan Society 5.0, terutama dengan fokus pada konteks unik UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu. Peneliti menggunakan teori dari Arora dalam memperluas pemahaman tentang mengelola perpustakaan digital dengan menggunakan 6 komponen yang diperlukan. Komponen yang diperlukan untuk perpustakaan digital dapat secara umum dikelompokkan ke dalam komponenkomponen berikut: Collection Infrastructure, Digital Resource Organization, Access Infrastructure, Computer and Network Infrastructure, IPR dan Digital Rights Management, Digital Library Services, telah digunakan untuk meninjau peran Pustakawan UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu dalam mengelola perpustakaan digital di era Society 5.06 . TINJAUAN PUSTAKA 1. Pustakawan Pustakawan merupakan seseorang yang bekerja di bidang perpustakaan dan informasi, bertanggung jawab untuk mengatur bagaimana pengguna dapat mengakses informasi dengan mengacu pada lembaga induknya. Selain itu, mereka menjaga hak asasi manusia untuk mendapatkan akses ke informasi dan membantu arus informasi berjalan lancar. Pustakawan juga melalui proses yang tidak mudah, yakni melalui pendidikan perpustakaan. Agar benar-benar dapat dianggap sebagai seorang pustakawan, diperlukan kompetensi khusus. Seperti disebutkan dalam Undang-Undang Republik Indonesia No. 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan menyatakan bahwa kompetensi pustakawan didapat melalui pendidikan atau pelatihan kepustakawanan dan mempunyai tugas dan tanggungjawab untuk melaksanakan pengelolaan dan pelayanan perpustakaan7 . 2. Peran Pustakawan Pustakawan memiliki peran untuk mengelola koleksi pustaka dengan tujuan memenuhi kebutuhan para pengguna pustaka dan memberikan arahan tentang cara terbaik memanfaatkan sumber daya pustaka tersebut. Hal ini bertujuan untuk memastikan bahwa sumber daya pustaka dimanfaatkan seefisien mungkin oleh pemustaka. Menurut Keputusan MENPAN No.132/KEP/M.PAN/12/2002, peran pustakawan sebagai profesional sangat penting dalam perpustakaan perguruan tinggi di mana mereka bertanggung jawab untuk mengelola bahan pustaka dan membimbing pengguna dalam penggunaan yang optimal. Dengan kata lain, pustakawan di perguruan tinggi harus memastikan bahwa bahan pustaka tidak hanya disimpan, tetapi juga diatur dan diorganisasi dengan baik sesuai dengan tujuan dan fungsi perpustakaan agar dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh penggunanya. 3. Perpustakaan Digital Perpustakaan digital adalah perpustakaan yang konten digitalnya tersedia untuk pemustaka. Namun, mengakses informasi yang ada diperpustakaan digital tidak mudah karena meminjam buku sama dengan menjadi anggota.Kebijakan masingmasing instansi menentukan bagaimana melihat perpustakaan digital di internet. Beberapa perpustakaan digital menyediakan hanyabeberapa informasi yang tersedia di internet9 . Dalam era saat ini, perpustakaan digital telah menjadi solusi yang sangat praktis bagi individu dalam mencari informasi. Keuntungan utama adalah efisiensi waktu, yang memungkinkan pengguna mengakses berbagai sumber informasi tanpa harus pergi ke perpustakaan fisik, yang juga menjadikan waktu operasional tidak lagi menjadi masalah. Tidak perlu lagi membawa buku fisik, karena sekarang pengguna dapat dengan mudah mengakses koleksi digital melalui laptop atau ponsel mereka, kapan saja dan di mana saja. Perpustakaan digital juga menghadirkan beragam jenis materi, termasuk teks, gambar, animasi, video, dan audio. 4. Perpustakaan dan Pustakawan di Era Society 5.0 Peran perpustakaan dan pustakawan sangat krusial dalam era Society 5.0 yang ditandai oleh kemajuan teknologi dan digitalisasi. Perpustakaan harus dapat mengikuti perkembangan teknologi dan menciptakan ekosistem digital yang memenuhi kebutuhan masyarakat digital. Pustakawan juga perlu memiliki keterampilan yang adaptif dan inovatif untuk menghadapi perubahan zaman. Mereka harus menjadi ahli dalam manajemen informasi dan memberikan pelayanan informasi yang berkualitas kepada pengguna. Selain itu, pustakawan harus memanfaatkan sumber daya teknologi untuk memperluas layanan perpustakaan. Di era Society 5.0, perpustakaan digital harus dapat memahami kebutuhan pemustaka sehingga pengguna dapat dengan mudah mengakses informasi yang relevan dan sesuai dengan kebutuhan mereka. Oleh karena itu, perpustakaan dan pustakawan perlu terus berinovasi dan beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan digitalisasi agar dapat memberikan pelayanan informasi yang unggul dan memenuhi kebutuhan masyarakat. 5. Komponen Pengelolaan Perpustakaan Digital Penelitian ini menyoroti peran penting pustakawan dalam mengelola perpustakaan digital, yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas pustakawan dan perpustakaan itu sendiri di era Society 5.0 yang didominasi oleh perkembangan teknologi. Dalam mengelola perpustakaan digital, ada enam komponen yang diperlukan menurut Arora dalam Nitin Kude yakni, sebagai berikut11 : 1. Prasarana Koleksi (Collection Infrastructure): Mengidentifikasi, mengumpulkan, dan merawat koleksi digital yang relevan dan bermanfaat bagi pengguna adalah tanggung jawab pustakawan. Mereka juga harus memastikan bahwa pengguna memiliki akses ke sumber daya terbaru. 2. Organisasi Sumber Daya Digital (Digital Resource Organization): Pustakawan harus memastikan bahwa sumber daya digital tersusun dengan baik dan memiliki metadata yang tepat dan sistematik. Mereka juga harus mengembangkan strategi katalogisasi dan indeksasi yang efektif untuk membuat sumber daya digital lebih mudah dicari dan diakses. 3. Prasarana Akses (Access Infrastructure): Pustakawan harus memastikan bahwa sistem akses perpustakaan digital berjalan dengan baik, yang mencakup antarmuka pengguna, manajemen hak akses, dan layanan otentikasi. Mereka juga harus melacak statistik penggunaan dan memastikan bahwa semua sumber daya tersedia. 4. Prasarana Komputer dan Jaringan (Computer and Network Infrastructure): Pustakawan harus bekerja sama dengan tim IT untuk memastikan bahwa infrastruktur komputer dan jaringan mendukung operasi perpustakaan digital tanpa hambatan. Mereka juga harus memahami teknologi terkini untuk membuat keputusan yang tepat tentang infrastruktur digital. 5. Hak Kekayaan Intelektual dan Manajemen Hak Digital (IPR dan Digital Rights Management): Untuk melindungi dan mematuhi hakhak penulis dan penerbit, pustakawan harus memahami hukum hak cipta dan manajemen hak digital. Selain itu, mereka dapat berkolaborasi dalam perundingan lisensi akses ke sumber daya digital. 6. Layanan Perpustakaan Digital (Digital Library Services): Pustakawan bertanggung jawab untuk menyediakan layanan kepada pengguna perpustakaan digital, seperti pedoman pencarian, bantuan referensi online, pelatihan penggunaan sumber daya digital, dan kegiatan promosi. Mereka harus berfokus pada memenuhi kebutuhan informasi pengguna dalam dunia digital yang terus berubah.

Method

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang berlandaskan pada filosofi postpositivisme, dengan peneliti sebagai instrument pertama didukung oleh instrument lain, dengan pengembangan perangkat pelengkap dalam penelitian ini dilakukan melalui tinjauan literatur dari jurnal, laporan penelitian, dan dokumen pendukung dari sumber resmi. Dalam proses penelitian, teknik purposive sampling digunakan untuk pemilihan informan yang sesuai dengan karakteristik penelitian. Informan dalam penelitian terdiri dari 5 orang informan, 3 orang pustakawan dan 2 orang pemustaka yang aktif dalam penggunaan aplikasi perpustakaan digital. Metode triangulasi digunakan untuk memperoleh data yang komprehensif, teknik pengumpulan data melalui tahap observasi, wawancara mendalam, dan menarik kesimpulan. Dengan begitu data dapat dianalisis melalui cara mengumpulkan data, mengorganisasikan data, menyajikan data, serta menarik kesimpulan12 .

Result & Discussion

Penelitian ini mengulas peran pustakawan dalam mengelola perpustakaan digital dengan melakukan wawancara terhadap pustakawan UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu untuk menilai peran mereka dalam mengelola perpustakaan digital, serta mewawancarai pemustaka yang aktif dalam menggunakan perpustakaan digital. Berikut data pustakawan UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu dan Pemustaka: Tabel 1. Data Pustakawan UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu Nama Jabatan/Pekerj aan Pendidikan Terakhir Dr. Syahril, S.Sos.I.,M.Ag Kepala Perpustakaan S3 Pendidikan Agama Islam Merdansah, MH Pustakawan Ahli Madya S2 Hukum Keluarga Islam Arlan, S.Ipust Pustakawan Ahli Muda S1 Perpustakaan Tri Winda Astuti, S.Ipust Pustakawan Ahli Muda S1 Perpustakaan Yuliana Saputri, S.Pd Pustakawan Ahli Muda S1 Pendidikan Agama Islam Silih Fitriasi, A.Md Pustakawan Penyelia D3 Perpustakaan Yuli Astria, S.Hum Pustakawan Ahli Pertama S1 Perpustakaan Muhammad Yusrizal, S.Ip Pustakawan Ahli Pertama S1 Perpustakaan M. Furqon Adli, S.Ip Pustakawan Ahli Pertama S1 Perpustakaan Sumber: Website UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu (https://library.uinfasbengkulu.ac.id) Namun, dari hasil wawancara yang telah dilakukan dengan jumlah populasi 9 orang pustakawan, penulis telah berhasil mengidentifikasi 3 (tiga) pustakawan yang memenuhi indikator yang telah ditetapkan, yaitu (S) yang memahami peran dan strategi pustkawan dalam berinovasi, (A) pustakawan yang berperan sebagai admin perpustakaan digital, dan (MFA) pustakawan yang menjadi administrator perpustakaan yang mengatur web perpustakaan. Agar hasil tidak bias maka penulis menempatkan 2 (dua) pemustaka yang aktif dalam penggunaan aplikasi perpustakaan digital UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu. Tabel 2. Data Pemustaka Nama Jurusan/ Program Studi Angkatan MT Tadris Bahasa Arab 2023 SWC Hukum Keluarga Islam 2021 Sumber: Admin Pengelola Perpustakaan Digital UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu (https://kubuku.id/download/universitas-fatmawatisukarno-bengkulu/) Perpustakaan UIN Fatmawati Sukarno Bengkuluadalah bagian dari Universitas Islam Negeri Fatmawati Sukarno Bengkulu yang melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi dengan memilih, mengumpulkan, mengolah, merawat, dan menyediakan informasi kepada civitas akademik, termasuk mahasiswa dan dosen. Namun, dengan kemajuan teknologi informasi, perpustakaan UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu dapat memberikan layanan yang lebih baik kepada civitas akademik. Pustakawan sangat penting dalam menyediakan pengguna dengan informasi berkualitas tinggi. Perpustakaan digital telah menjadi salah satu inovasi terkini di bidang ini seiring dengan kemajuan teknologi dan digitalisasi informasi. Perpustakaan UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu sudah dikatakan perpustakaan digital karena sistem dalam pelayanan maupun pengelolaan perpustakaan telah dilakukan secara digital seperti Library Automation System (uinfasbengkulu.ac.id), OPAC, Repository, E-Journal, Book Digital (ELibrary). Dalam memasuki era Society 5.0 ini perpustakaan sudah menggunakan layanan pengecekan turnitin yang dimana penulisan ilmiah tersebut bisa terdeteksi apakah menggunakan bantuan Artificial Intelligence atau tidak. Berdasarkan teori pengelolaan perpustakaan digital oleh Arora dalam Nitin Kude yang terdapat 6 (enam) komponen dalam mengelola perpustakaan digital yaitu: Collection Infrastructure, Digital Resource Organization, Access Infrastructure, Computer and Network Infrastructure, IPR dan Digital Rights Management, Digital Library Services. 1. Collection Infrastructure Prasarana koleksi merujuk pada struktur kerja yang melibatkan pengorganisasian, pemeliharaan, dan pengembangan koleksi digital di perpustakaan dengan tujuan memenuhi kebutuhan informasi pengguna.Untuk mengoptimalkan pengembangan koleksi digital di perpustakaan, penting bagi perpustakaan untuk memiliki fasilitas dan infrastruktur yang memadai. Ini karena pengembangan koleksi dapat mencapai potensinya penuh ketika fasilitas dan infrastruktur di perpustakaan diperbarui untuk tetap relevan dalam kegiatan digitalisasi koleksi. Sarana dan prasarana yang mencakup perangkat elektronik untuk penyimpanan, pengelolaan, dan penyampaian informasi kepada pemustaka harus ditingkatkan agar pemustaka merasa puas13 . Perpustakaan UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu, yang memiliki koleksi tercetak sebanyak 65.000 dan koleksi digital 725, menghadapi kendala pembaharuan koleksi digital selama dua tahun terakhir akibat kurangnya anggaran khusus. Pustakawan perlu berperan aktif dengan mengadvokasi alokasi anggaran, merancang rencana pengembangan koleksi digital, mencari alternatif pembiayaan, dan memastikan pembaruan berkala. Selain itu, perlu meningkatkan edukasi pengguna untuk meningkatkan kesadaran nilai koleksi digital dan mendukung permintaan pemustaka, seperti penambahan kitab-kitab salaf berbahasa Arab dalam format digital. Dengan langkah-langkah ini, pustakawan dapat memastikan keberlanjutan dan relevansi koleksi digital. 2. Digital Resource Organization Organisasi ini melibatkan tim pengelola yang bertanggung jawab dalam pemilihan, pengembangan, dan pemeliharaan koleksi digital yang komprehensif dan sesuai dengan kebutuhan pemustaka. Selain itu, perpustakaan digital perlu terus melakukan inovasi dan beradaptasi dengan kemajuan teknologi dan digitalisasi untuk dapat menyediakan layanan informasi yang berkualitas dan memenuhi tuntutan masyarakat14 . Perpustakaan UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu telah melengkapi perpustakaan digitalnya dengan metadata, termasuk judul, pengarang, penerbit, dan sistem klasifikasi. Ke-3 pustakawan yang bertanggung jawab mengakui bahwa ini sangat mendukung kemudahan akses bagi pemustaka atau pustakawan dalam menemukan materi dalam koleksi digital. Namun, peran pustakawan dalam mengelola perpustakaan digital tidak hanya terbatas pada penyediaan metadata. Pustakawan perlu memastikan keakuratan dan pembaruan metadata, serta berkolaborasi dengan pemustaka untuk memahami kebutuhan spesifik. Selain itu, pustakawan dapat memanfaatkan metadata untuk melacak tren, memberikan rekomendasi personalisasi, dan meningkatkan pengalaman pengguna dalam mengelola perpustakaan digital. 3. Access Infrastructure Infrastruktur akses dalam perpustakaan digital mencakup berbagai elemen, seperti perangkat keras (hardware), perangkat lunak (software), dan jaringan komputer. Pentingnya infrastruktur dalam menciptakan perpustakaan digital yang bisa diakses dari berbagai lokasi tidak bisa diremehkan. Infrastruktur merupakan elemen kunci dalam merancang perpustakaan digital, dan untuk menjalankannya dengan efektif, perlu didukung oleh tenaga manusia terampil, terutama pustakawan yang bertanggung jawab untuk mengelola organisasi informasi sehingga sistem penyimpanan dan pencarian data dapat berjalan dengan lancar15 . Perpustakaan digital UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu telah berhasil menciptakan sistem yang tersedia 24/7. Pustakawan memiliki peran kunci dalam memastikan kehandalan dan kemudahan penggunaan antarmuka perpustakaan digital. Mereka perlu secara terusmenerus memantau kinerja sistem, memperbaiki kendala teknis, dan mengumpulkan umpan balik pengguna untuk perbaikan lebih lanjut. Pustakawan juga dapat memanfaatkan informasi dari pengguna aktif untuk memahami preferensi dan kebutuhan mereka dalam mengakses koleksi digital. Dengan demikian, pustakawan dapat berperan dalam meningkatkan pengalaman pengguna dengan mengoptimalkan antarmuka dan menyediakan panduan yang jelas. Selain itu, pustakawan dapat merancang program pelatihan untuk memastikan bahwa pengguna dapat memanfaatkan sistem perpustakaan digital dengan maksimal. Dengan fokus pada peran aktif pustakawan, perpustakaan digital dapat terus memberikan layanan yang efisien, responsif, dan mudah digunakan bagi pengguna. 4. Computer and Network Infrastructure Perangkat keras yang digunakan dalam infrastruktur perpustakaan digital mencakup komputer yang berfungsi sebagai server, terutama sebagai web server yang melayani permintaan layanan web page dari pengguna internet. Perangkat lunak yang diperlukan adalah aplikasi yang memungkinkan akses ke koleksi digital perpustakaan. Selain itu, jaringan komputer juga merupakan elemen penting dalam infrastruktur perpustakaan digital, karena jaringan internet memungkinkan perpustakaan digital dapat diakses secara global.16 Perpustakaan UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu menghadapi tantangan perangkat keras, terutama dalam hal kecepatan jaringan yang sering lamban, seperti yang dinyatakan oleh ke3 pustakawan. Dalam mengelola perpustakaan digital, pustakawan memiliki peran utama dalam mengatasi masalah ini. Mereka secara rutin memantau dan melakukan pemeliharaan perangkat keras, bekerja sama dengan departemen IT untuk mengidentifikasi dan memperbaiki masalah teknis, termasuk peningkatan kecepatan jaringan. Pustakawan juga aktif mengumpulkan umpan balik pengguna untuk merancang perbaikan yang diperlukan. Dengan fokus pada peran ini, mereka memastikan perpustakaan digital tetap efisien dan memberikan solusi yang lebih baik bagi pengguna. 5. IPR dan Digital Rights Management Digital Rights Management (DRM) dan hak kekayaan intelektual (IPR) memegang peran kunci dalam pengelolaan perpustakaan digital. DRM adalah teknologi yang digunakan untuk mengamankan hak cipta dan kekayaan intelektual dalam lingkungan digital. Dalam konteks perpustakaan digital, DRM digunakan untuk melindungi hak cipta dan kekayaan intelektual dari materi perpustakaan digital yang tersimpan dan diakses oleh pengguna. Oleh karena itu, perpustakaan digital perlu mematuhi aturan hak cipta dan menerapkan DRM dengan cermat dalam manajemen koleksinya. Mereka harus memastikan bahwa bahan perpustakaan digital yang tersedia untuk pengguna telah dilindungi dengan tepat sesuai dengan hak cipta dan IPR yang berlaku. Pustakawan di Perpustakaan UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu berperan penting dalam memastikan kepatuhan hak cipta dalam perpustakaan digital. Mereka memastikan setiap materi memiliki lisensi dan Hak Kekayaan Intelektual yang sah, bekerja sama dengan penerbit dan pengembang aplikasi. Pustakawan juga menyusun dan memelihara database informasi hak cipta serta memberikan pelatihan kepada pengguna. Dengan peran aktif mereka, pustakawan memastikan pengelolaan hak cipta yang tepat dan kepatuhan hukum dalam penggunaan sumber daya digital. 6. Digital Library Services Layanan yang berbasis pada teknologi informasi dalam pelaksanaannya memerlukan kecakapan teknis dan pengetahuan dalam bidang teknologi informasi. Selain kemampuan tersebut, tersedia pula infrastruktur dan peralatan pendukung, termasuk perangkat keras dan perangkat lunak komputer. Seluruh infrastruktur pendukung ini berfungsi sebagai alat untuk mengakses data dan informasi melalui sistem intranet (server lokal) atau internet (server web)18 . Pustakawan di Perpustakaan UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu mengelola dengan efisien layanan tambahan dalam perpustakaan digital, seperti peminjaman dan penelusuran, yang berbasis pada OPAC. Mereka berperan dalam memastikan pengguna mendapatkan akses yang optimal dengan mengelola peminjaman digital, meningkatkan fitur pencarian, dan memelihara OPAC. Upaya promosi pustakawan berhasil meningkatkan penggunaan sumber daya digital, menunjukkan peran aktif mereka dalam memberikan layanan bermutu dan meningkatkan partisipasi pengguna. Pustakawan juga terlibat dalam pengembangan layanan berdasarkan umpan balik pengguna, menjadikan perpustakaan digital lebih efektif dan relevan bagi pengguna. Penulis telah berhasil menyelesaikan proses wawancara dan secara pribadi mengamati peran dari Pustakawan UIN Fatmawati Sukrano Bengkulu sesuai dengan kerangka teori yang telah ditentukan serta pandangan dari pengguna. Hasil penelitian menyoroti peran krusial pustakawan dalam mengelola perpustakaan digital di UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu. Pustakawan berhasil mengatasi kendala perangkat keras dan kepatuhan hak cipta, sementara layanan tambahan seperti peminjaman dan penelusuran melalui OPAC dikelola efisien. Promosi yang berhasil meningkatkan penggunaan sumber daya digital menunjukkan peran aktif pustakawan dalam interaksi langsung dengan pengguna. Temuan ini mencerminkan dedikasi pustakawan dalam memenuhi kebutuhan pengguna dan menanggapi tantangan teknologi dan hukum. Refleksi hasil penelitian menggarisbawahi dedikasi pustakawan dan implikasi penelitian, termasuk dorongan untuk peningkatan dukungan anggaran dan pelatihan pustakawan dalam manajemen teknologi. Penelitian ini memberikan makna penting dalam pemahaman pengelolaan perpustakaan digital di institusi pendidikan, dengan mempertimbangkan aspek-aspek yang perlu diperhatikan. Diskusi hubungan antarhasil menunjukkan bahwa efisiensi layanan dan promosi saling mendukung, sementara kendala perangkat keras dan kepatuhan hak cipta memiliki keterkaitan yang perlu diatasi dengan peningkatan teknologi. Secara keseluruhan, penelitian ini menjadi landasan untuk perbaikan dan pengembangan lebih lanjut dalam pengelolaan perpustakaan digital di institusi sejenis.

Conclusion

Pustakawan di UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu harus mempertahankan keseimbangan antara kemampuan teknis dan pemahaman mendalam dalam mengelola perpustakaan digital. Meskipun perpustakaan telah berhasil mengadopsi teknologi informasi secara efektif, hanya 3 dari 9 pustakawan yang memahami teknologi. Oleh karena itu, adaptasi pustakawan terhadap perubahan era saat ini menjadi kunci. Penulis menekankan peran kunci pustakawan dalam mengelola, melestarikan, dan menyediakan informasi bagi pengguna, untuk membantu pemustaka menemukan informasi dengan mudah dan cepat. Keterbatasan penelitian mencakup fokus pada satu institusi, UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu, yang dapat membatasi generalisasi hasil. Metode penelitian yang berfokus pada pustakawan mungkin tidak sepenuhnya mencerminkan pandangan pengguna perpustakaan. Kurangnya detail mengenai pemahaman teknis pustakawan juga dapat membatasi interpretasi. Kesadaran terhadap keterbatasan ini menjadi penting sebagai panggilan untuk penelitian lebih lanjut dengan pendekatan yang lebih luas.