Kembali
16
1
2024 Al Maktabah: Jurnal Kajian Ilmu dan Perpustakaan Vol 9 · 2 ISSN 2657-2346

Literasi Penguasaan Media Pembelajaran Berbasis Digital Alumni Program Studi Bahasa Arab IAIN Bengkulu

Universitas Islam Negeri Fatmawati Sukarno Bengkulu; Universitas Islam Negeri Fatmawati Sukarno Bengkulu; Universitas Islam Negeri Fatmawati Sukarno Bengkulu

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji urgensi kebutuhan literasi dalam penguasaan media pembelajaran berbasis digital bagi alumni Program Studi Bahasa Arab IAIN Bengkulu. Literasi digital menjadi keterampilan esensial di tengah perkembangan pesat teknologi informasi dan komunikasi, terutama dalam konteks pendidikan. Metode penelitian ini adalah deskriptif kualitatif, dengan data yang diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar alumni menghadapi kendala dalam memanfaatkan media pembelajaran digital secara optimal, yang disebabkan oleh kurangnya pelatihan literasi digital serta keterbatasan akses terhadap sumber daya teknologi. Oleh karena itu, penguatan literasi digital perlu menjadi prioritas dalam kurikulum pendidikan untuk menghasilkan lulusan yang mampu memanfaatkan teknologi dalam pembelajaran secara efektif. Penguasaan media pembelajaran berbasis digital akan membantu alumni dalam meningkatkan kualitas pengajaran Bahasa Arab di berbagai lembaga pendidikan.

Abstract

This study aims to examine the urgency of literacy needs in mastering digital-based learning media for alumni of the Arabic Language Study Program of IAIN Bengkulu. Digital literacy is an essential skill amidst the rapid development of information and communication technology, especially in the context of education. This research method is descriptive qualitative, with data obtained through in-depth interviews, observations, and documentation studies. The results of the study indicate that most alumni face obstacles in utilizing digital learning media optimally, which is caused by the lack of digital literacy training and limited access to technological resources. Therefore, strengthening digital literacy needs to be a priority in the education curriculum to produce graduates who are able to utilize technology in learning effectively. Mastery of digital-based learning media will help alumni improve the quality of Arabic language teaching in various educational institutions
Keywords: Literasi Digital · Media Pembelajaran · Alumni · Bahasa Arab · IAIN Bengkulu

Introduction

Seiring dengan perkembangan teknologi, revolusi industri mengalami perkembangan yang pesat. Indikator dari revolusi industri adalah adanya transformasi pembelajaran yang semula didominasi dengan pembelajaran konvensional berubah menjadi pembelajaran digital baik pembelajaran offline maupun pembelajaran online . Diantara keterampilan yang wajib guru memilikinya adalah keterampilan dalam menyampaikan materi. Penyampaian materi membutuhkan alat bantu yang disebut juga dengan media pembelajaran sebagai perantara dalam penyampaian materi agar mudah dan tepat sasaran. Dalam dua tahun ini, sistem pembelajaran di Indonesia mengalami perubahan yang signifikan . Perubahan tersebut berupa proses pembelajaran yang dulunya didominasi dengan pembelajaran luring, sekarang lebih didominasi dengan pembelajaran daring. Pembelajaran daring identik dengan penggunaan media pembelajaran berbasis digital seperti zoom, google meet, e-learning dan berbagai media pembelajaran lain baik online maupun offline, sehingga kemampuan guru dalam penguasaan media pembelajaran digital menjadi syarat yang harus terpenuhi . Berdasarkan data yang telah ditemukan oleh peneliti dari observasi awal dan dokumentasi awal ditemukan bahwa sebagian besar alumni prodi PBA IAIN Bengkulu dari tahun 2017-2020 berprofesi sebagai guru di sebuah lembaga pendidikan baik negeri maupun swasta, sehingga peneliti ingin menganalisa sebaran lulusan prodi PBA IAIN Bengkulu berdasarkan profesionalitas guru dalam penguasaan media pembelajaran berbasis digital. TINJAUAN PUSTAKA 1. Kompetensi Guru Dunia pendidikan mulai disibukkan untuk menyiapkan generasi yang mampu bertahan dalam kompetisi di era industri 4.0, karena institusi maupun lembaga pendidikan dituntut untuk dapat memiliki guru kompetensi yang kuat dan memiliki soft skill, membekali para peserta didik dengan ketrampilan abad 21 (21st Century Skills). Ketrampilan ini adalah ketrampilan peserta didik yang mampu berfikir kritis dan memecahkan masalah, kreatif dan inovatif serta ketrampilan komunikasi dan kolaborasi.Ketrampilan mencari, mengelola dan menyampaikan informasi serta keterampilan menggunakan informasi dan teknologi juga harus dimiliki (Risdianto, 2019).Ketrampilan abad 21 diinternalisasikan dalam dunia pendidikan sebagai pembelajaran abad 21, yaitu pembelajaran yang menerapkan kreativitas, berpikir kritis, kerjasama, keterampilan komunikasi, kemasyarakatan dan keterampilan karakter. Pemanfaatan berbagai aktifitas pembelajaran yang mendukung revolusi industri 4.0 merupakan keharusan dengan model resource sharing yang dapat dilakukan dengan siapapun dan dimanapun, pembelajaran kelas dan lab dengan augmented dan bahan virtual, bersifat interaktif, menantang, serta pembelajaran yang kaya isi bukan sekedar lengkap. Partnership for 21st Century Learning mengembangkan framework pembelajaran di abad 21 yang menuntut peserta didik untuk memiliki keterampilan, pengetahuan dan kemampuan dibidang teknologi, media dan informasi, keterampilan pembelajaran dan inovasi serta keterampilan hidup dan karir. Framework ini juga menjelaskan tentang keterampilan, pengetahuan dan keahlian yang harus dikuasai agar siswa dapat sukses dalam kehidupan dan pekerjaannya (P21, 2008).Kemendikbud merumuskan bahwa paradigma pembelajaran abad 21 menekankan pada kemampuan peserta didik dalam mencari tahu dari berbagai sumber, merumuskan permasalahan, berpikir analitis dan kerjasama serta berkolaborasi dalam menyelesaikan masalah. Adapun penjelasan tentang framework pembelajaran abad 21 sebagai berikut: 1) Kemampuan berfikir kritis dan pemecahan masalah (critical thinking and problem solving) dapat diartikan sebagai kemampuan berfikir secara kritis lateral, dan sistemik, terutama dalam konteks pemecahan masalah; 2) Kemampuan berkomunikasi dan bekerjasama (communication and collaboration skills), mengandung pengertian untuk mampu berkomunikasi dan berkolaborasi secara efektif dengan berbagai pihak; 3) Kemampuan mencipta dan membaharui (creativity and innovation skills), mampu mengembangkan kreativitas yang dimilikinya untuk menghasilkan berbagai terobosan yang inovatif; 4) Literasi teknologi informasi dan komunikasi (information and communications technology literacy), mampu memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk meningkatkan kinerja dan aktivitas sehari-hari; 5) Kemampuan belajar kontekstual (contextual learning skills) , mampu menjalani aktivitas pembelajaran mandiri yang kontekstual sebagai bagian dari pengembangan pribadi, dan 6) Kemampuan informasi dan literasi media, mampu memahami dan menggunakan berbagai media komunikasi untuk menyampaikan beragam gagasan dan melaksanakan aktivitas kolaborasi serta interaksi dengan beragam pihak (Kemendikbud, 2015) . Kompetensi guru terbagi menjadi empat aspek yakni kompetensi pedagogik, kompetensi profesional, kompetensi kepribadian, dan kompetensi sosial . Keempat kompetensi tersebut mutlak harus dimiliki oleh seorang guru atau pendidik. Pada era industri digital 4.0, keempat kompetensi akrab dan sering bersinggungan dengan media pembelajaran berbasis digital, terutama kompetensi pedagogik dan kompetensi profesional . Kompetensi pedagogik yang dimiliki guru berkaitan dengan persiapan guru sebelum pembelajaran dimulai, guru telah membuat desain, merancang model dan strategi pembelajaran, dan juga memilih media pembelajaran yang akan digunakan agar proses pembelajaran menjadi menarik dan menyenangkan. Kompetensi pedagogik dalam era digital memunculkan istilah baru yakni pedagogy cyber yang merupakan pembelajaran di kelas berbasis kecanggihan teknologi digital . Para guru zaman sekarang harus meng-upgrade pengetahuan, kemampuan, dan penguasaan pembelajaran berbasis teknologi digital untuk menjawab tantangan pembelajaran di era 4.0 . Kompetensi profesional berhubungan dengan latar belakang bidang keilmuan yang harus dikuasai oleh guru sesuai dengan kompetensi keilmuan yang diampunya . Guru yang profesional adalah guru yang mampu merespon setiap perkembangan kompetensi keilmuan yang diampunya serta perkembangan pembelajaran yang sesuai dengan perkembangan teknologi industri. Kompetensi profesional menuntut guru untuk terus belajar dan mengembangkan diri dalam kegiatan pengembangan keprofesian berkelanjutan (PKB) . 2. Media Pembelajaran Digital Pembelajaran pada era teknologi industri 4.0 didominasi dengan pembelajaran yang menggunakan media pembelajaran berbasis digital, baik offline maupun online ataupun mix antara keduanya . Pembelajaran dengan menggunakan media pembelajaran digital offline adalah pembelajaran yang menggunakan media pembelajaran tanpa jaringan internet, bisa berupa aplikasi yang berbasis windows, mac, ataupun android. Di antara media pembelajaran offline tersebut dapat berbentuk media audio, visual, maupun audio visual. Sedangkan media pembelajaran digital online adalah pembelajaran yang menggunakan media pembelajaran dengan jaringan internet, misal zoom meeting, google meet, youtube, whatsapp, instagram, e-learning, siakad, dan lain sebagainya. Kedua jenis media pembelajaran digital tersebut sangat membantu membantu dalam efektivitas dan efisiensi proses pembelajaran era 4.0 3. Pembelajaran Era 4.0 Pembelajaran 4.0 merupakan fenomena yang muncul sebagai respon terhadap kebutuhan revolusi industri 4.0, di mana manusia dan teknologi industri dikombinasikan guna mendapatkan solusi, menyelesaikan berbagai masalah, dan memanfaatkan ataupun membuat berbagai inovasi baru yang bisa dipakai untuk menuju pembelajaran yang lebih berkualitas . Salah satu pembelajaran era 4.0 adalah pembelajaran jarak jauh yang pelaksanaannya membutuhkan media pembelajaran berbasis digital dan bersifat online. Pelaksanaan pendidikan jarak jauh juga diatur dalam undangundang RI No. 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi Pasal 31 ayat 1 dinyatakan bahwa pendidikan jarak jauh merupakan proses belajar mengajar yang dilakukan secara jarak jauh melalui penggunaan media komunikasi. Kemudian Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI No. 24 tahun 2012 tentang penyelenggaraan pendidikan jarak jauh (PJJ) pada pendidikan tinggi pasal 2 ayat 1 dan 2 mencakup: berfungsi sebagai bentuk pendidikan peserta didik yang tidak dapat mengikuti pendidikan tatap muka tanpa mengurangi kualitas pendidikan, kemudian pendidikan jarak jauh bertujuan untuk meningkatkan perluasan dan pemerataan akses terhadap pendidikan yang bermutu dan relevan dengan kebutuhan .

Method

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data sebagai berikut: 1. Wawancara Wawancara akan dilaksanakan dengan dua jenis yakni wawancara terbuka dan wawancara tertutup. Adapun stakeholder dari wawancara ini dibagi menjadi dua: a. Sumber data primer Sumber data primer dalam wawancara ini adalah alumni Program Studi Pendidikan Bahasa Arab IAIN Bengkulu tahun lulus 2017 sampai 2020 yang bekerja di lembaga pendidikan sebagai guru. b. Sumber data sekunder Sumber data sekunder dalam wawancara ini adalah kepala sekolah tempat dimana alumni bekerja dan siswa-siswa yang menjadi anak didik dari alumni Program Studi Pendidikan Bahasa Arab IAIN Bengkulu tahun lulus 2017 sampai 2020 yang bekerja di lembaga pendidikan sebagai guru. 2. Observasi Observasi akan dilaksanakan oleh peneliti ke beberapa lembaga alumni Program Studi Pendidikan Bahasa Arab IAIN Bengkulu tahun lulus 2017 sampai 2020 yang bekerja di lembaga pendidikan sebagai guru pendidikan tempat alumni. Observasi ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan dan penguasaan alumni dalam bidang media pembelajaran digital. 3. Dokumentasi Dokumentasi berkaitan dengan data-data alumni dari tahun 2017 sampai 2020, data-data pelaksanaan pembelajaran berbasis digital yang telah diselenggarakan oleh lembaga pendidikan antara lain kurikulum, RPP, dan dokumen-dokumen terkait. Penelitian ini menggunakan analisis Miles dan Huberman (1994). Tahap Analisis dan Interpretasi Data Miles dan Huberman (1994) secara umum, terdapat tiga jalur analisis data kualitatif yaitu, reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Reduksi data adalah proses pemilihan, pemusatan perhatian pada penyederhanaan, pengabstrakan dan transformasi data kasar yang muncul dari catatan-catatan tertulis di lapangan. Penyajian data adalah kegiatan ketika sekumpulan informasi disusun, sehingga memberi kemungkinan akan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. Penarikan kesimpulan adalah dimana peneliti terus menarik kesimpulan pada saat di lapangan. Mappiare (2009) kegiatan analisis data secara kualitatif melibatkan penyorotan secara tajam atau cermat, pengkajian, membanding-bandingkan, memeriksa perbedaan dan persamaan, dan menginterpretasikan pola-pola atau tema-tema yang bermakna. Kebermaknaan dalam analisis data kualitatif adalah ditentukan oleh maksud dan tujuan khusus suatu proyek penelitian yang sedang dilakukan. Selama masih tahap pengumpulan data berlangsung, peneliti melakukan reduksi selanjutnya seperti meringkas, mengkode, menemukan tema-tema dan mengelompokkan hasil sesuai dengan fokus penelitian. Hal ini terus dilakukan saat penelitian, sesudah penelitian, dan tahap penyusunan laporan akhir penelitian. Oleh karena itu, reduksi data bertujuan untuk menajamkan, menggolongkan, mengarahkan, memartisi dan membuat temuan di lapangan yang tidak relevan, dan mengorganisir data agar dapat direfleksi, verifikasi, dan pengambilan kesimpulan yang tepat sesuai dengan fokus penelitian. Penyajian data sebagai sekumpulan informasi yang tersusun serta memberi kemungkinan adanya pemaknaan, penarikan kesimpulan (pengambilan keputusan). Peneliti memaparkan hasil temuan di lapangan ibarat seperti “air yang mengalir” tanpa dikelompokkan terlebih dahulu. Ketika melakukan penyajian data, peneliti lebih mudah dalam memahami dan nantinya mengelompokkan data dalam tema/kategori. Penyajian data tidak terpisahkan dari analisis data penelitian kualitatif. Penyajian data bagian dari analisis sebagaimana reduksi data juga bagian dari analisis. Penyajian data dalam penelitian kualitatif pada umumnya yaitu matrik, grafik, bagan, dan teks naratif. Penarikan kesimpulan/verifikasi merupakan akhir dari analisis data penelitian kualitatif. Penarikan kesimpulan dilakukan dengan pemaknaan melalui refleksi data. Hasil paparan data tersebut di refleksikan dengan melengkapi kembali atau menulis ulang catatan lapangan berdasarkan kerjadian nyata di lapangan. Selanjutnya yaitu penarikan kesimpulan/verifikasi dengan menggolong-golongkan ke proses kategorisasi/tema sesuai fokus penelitian .

Result & Discussion

Pembelajaran di era industri 4.0 sekarang ini lebih didominasi oleh pembelajaran yang menggunakan media pembelajaran digital. Penguasaan media pembelajaran berbasis digital bagi para alumni pendidikan bahasa arab sangat penting dalam penyampaian materi pembelajaran. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti diperoleh hasil bahwa alumni bahasa arab yang dapat menguasai media pembelajaran digital Zoom sebesar 52%, dan sebanyak 48% alumni bahasa arab kurang menguasai media pembelajaran Zoom. Mengenai hal itu peneliti melakukan wawancara dengan alumni, dari hasil yang didapat diketahui bahwa sebagian besar alumni dapat menguasai media Zoom. Akan tetapi, sebagian dari alumni yang kurang menguasai media Zoom tidak dapat memahami secara mendalam hanya dapat memahami secara umum saja dalam penggunaan media tersebut. Berbeda pula, penguasaan media pembelajaran digital online alumni bahasa arab melalui Google Meet. Adapun presentase tingkat penguasaan media pembelajaran Google Meet sebanyak 42% yang menguasai Google Meet, sedangkan pada tingkat kurang menguasai sebesar 30% dan untuk tingkat yang tidak menguasai sebesar 28%. Dalam penggunaan media Google Meet tidak jauh beda dengan penggunaan media Zoom, banyak dari alumni yang dapat menguasai media tersebut, akan tetapi ada pula alumni yang kurang dan tidak menguasai media Google Meet dalam proses pelaksanaan pembelajaran. Penguasaan media pembelajaran digital online melalui WhatsApp tingkat kurang menguasainya lebih rendah dibandingkan tingkat yang menguasai ini dibuktikan dengan hasil presentase bahwa alumni yang kurang menguasai 8% sedangkan alumni yang menguasai sebesar 92%. Dengan media WhatsApp ini para alumni dapat memberikan materi serta tugas sekolah secara mudah. karena dalam penggunaan media whatsapp lebih mudah dan lebih praktis selain itu media whatsapp lebih mudah di akses daripada media digital lain nya. Maka dari itu dapat disimpulkan bahwa kemampuan alumni bahasa arab dalam penguasaan media pembelajaran melalui WhatsApp lebih dominan alumni yang menguasai daripada alumni yang kurang menguasai. Penguasaan media Google Classroom dapat di lihat dari tingkat presentase kemampuan alumni, yang tidak menguasai lebih banyak daripada yang kurang meguasai dan tidak menguasai dalam Media Google Classroom. Karena tingkat alumni yang menguasai dan kurang menguasai samasama sebesar 30% sedangkan yang tidak menguasai sebanyak 40%. Dari persentase tersebut dapat kita simpulkan bahwa penguasaan media Google Classroom pada alumni bahasa arab sangat rendah. Media pembelajaran berbasis digital melalui youtube, alumni Bahasa Arab yang kurang menguasai dengan presentase sebanyak 8%. Sedangkan sebesar 92% alumni dapat menguasai media youtube. Media Youtube ini sangat membantu alumni dalam proses pembelajaran dimana para alumni dapat memberikan materi penjelasan pembelajaran melalui link youtube yang tersedia kepada para siswa. Sehingga materi yang diberikan dapat tersampaikan dengan baik. Selain penguasaan media pembelajaran berbasis digital online seperti Zoom, Google Meet, WhatsApp, Google Classroom, dan Youtube ada pula penguasaan media pembelajaran berbasis digital offline yaitu melalui Powerpoint dan Macro Media Flash. Kemampuan alumni bahasa arab dalam penguasaan media pembelajaran PowerPoint sebanyak 26% kurang menguasai sedangkan alumni yang menguasai sebanyak 74%. Berbeda dengan presentase penguasaan media pembelajaran melalui Macro Media Flash dimana alumni yang tidak menguasai media tersebut sebanyak 80% sedangkan alumni yang kurang menguasai 14% dan alumni yang menguasai hanya 6%. Dari presentase kemampuan dalam penguasaan media digital offline tersebut dapat disimpulkan bahwa alumni lebih menguasai media PowerPoint dibandingkan dengan Macro Media Flash. Hal ini disebabkan karena kurangnya pemahaman alumni dalam mengoperasikan Macro Media Flash. Berdasarkan penguasaan media berbasis digital yang digunakan pada saat pembelajaran daring dapat disimpulkan bahwa sebagian besar alumni bahasa arab yang sudah berprofesi menjadi guru lebih menguasai media WhatsApp dan Youtube. Dimana hal ini dibuktikan dari hasil presentase yang diperoleh bahwa 92% alumni bahasa arab dapat menguasai kedua media tersebut dibandingkan dengan media yang lainnya. Dan begitu juga dengan penguasaan media digital yang dilakukan secara offline, alumni lebih menguasai media PowerPoint daripada media Macro Media Flash sesuai dengan hasil penelitian yang telah dipaparkan di atas.

Conclusion

Pengusaan Media Pembelajaran digital online alumni PBA IAIN Bengkulu sebagai berikut: 1. Menguasai media pembelajaran digital Zoom sebesar 52%, dan sebanyak 48% alumni bahasa arab kurang menguasai media pembelajaran Zoom. 2. Menguasai media pembelajaran Google Meet sebanyak 42% yang menguasai Google Meet, sedangkan pada tingkat kurang menguasai sebesar 30% dan untuk tingkat yang tidak menguasai sebesar 28%. 3. Penguasaan media pembelajaran digital online melalui WhatsApp tingkat kurang menguasainya lebih rendah dibandingkan tingkat yang menguasai ini dibuktikan dengan hasil presentase bahwa alumni yang kurang menguasai 8% sedangkan alumni yang menguasai sebesar 92%. 4. Menguasai dan kurang menguasai sama-sama sebesar 30% sedangkan yang tidak menguasai sebanyak 40%. 5. Kurang menguasai dengan presentase sebanyak 8%. Sedangkan sebesar 92% alumni dapat menguasai media youtube. Pengusaan Media Pembelajaran digital offline alumni PBA IAIN Bengkulu sebagai berikut: 1. Penguasaan media pembelajaran PowerPoint sebanyak 26% kurang menguasai sedangkan alumni yang menguasai sebanyak 74%. 2. Penguasaan media pembelajaran melalui Macro Media Flash dimana alumni yang tidak menguasai media tersebut sebanyak 80% sedangkan alumni yang kurang menguasai 14% dan alumni yang menguasai hanya 6%. Dari kesimpulan di atas, ada beberapa saran yang perlu diperhatikan oleh program studi PBA UIN Fatmawati Sukarno untuk mengadakan pelatihan baik online maupun offline, diantaranya sebagai berikut: 1. Pelatihan Online: a. Workshop Literasi Digital Dasar: Mengadakan pelatihan tentang dasar-dasar penggunaan media digital, meliputi pembuatan konten pembelajaran berbasis video, infografis, dan presentasi interaktif yang relevan dengan pembelajaran Bahasa Arab. b. Penggunaan Platform E-Learning: Memberikan pelatihan penggunaan platform pembelajaran daring seperti Google Classroom, Moodle, atau Learning Management System (LMS) lainnya yang mendukung pembelajaran jarak jauh. c. Pemanfaatan Aplikasi Interaktif: Mengajarkan penggunaan aplikasi digital interaktif seperti Kahoot, Quizizz, dan aplikasi video conference untuk meningkatkan keterlibatan siswa dalam pembelajaran. d. Webinar dan Kelas Online Rutin: Menyelenggarakan webinar rutin yang menghadirkan pakar di bidang teknologi pembelajaran digital untuk berbagi pengalaman dan teknik-teknik terbaru. 2. Pelatihan Offline: a. Workshop Tatap Muka: Mengadakan pelatihan langsung yang mencakup penggunaan perangkat keras (misalnya, proyektor interaktif, tablet grafis) dan perangkat lunak (misalnya, perangkat lunak editing video dan desain). b. Simulasi Pembelajaran Berbasis Digital: Mengadakan sesi simulasi pengajaran dengan menggunakan media pembelajaran digital yang diikuti oleh peserta, sehingga mereka dapat mempraktikkan keterampilan yang telah dipelajari. c. Kursus Pengembangan Modul Digital: Memberikan pelatihan khusus dalam menyusun modul pembelajaran berbasis digital dengan pendekatan interaktif dan menarik bagi siswa. d. Kolaborasi dan Diskusi Grup: Mendorong kegiatan kolaborasi antar-alumni melalui diskusi kelompok untuk berbagi praktik terbaik, tantangan, dan solusi dalam penggunaan media pembelajaran berbasis digital. e. Dengan kombinasi pelatihan online dan offline, alumni diharapkan dapat meningkatkan keterampilan literasi digital mereka, mendukung efektivitas pengajaran, dan mengintegrasikan teknologi ke dalam metode pembelajaran Bahasa Arab yang lebih inovatif.