Kembali
16
1
2018 Al Maktabah: Jurnal Kajian Ilmu dan Perpustakaan Vol 3 · 2 ISSN 2657-2346

PERPUSTAKAAN DESA BERBASIS TEKNOLOGI INFORMASI MELALUI PEMANFAATAN BLOG

Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan Bengkulu

Abstrak

Perpustakaan desa yang melek informasi melalui wob blog. Weblog adalah salah satu bentuk perwujudan perpustakaan desa berbasis teknologi informasi, dan menjadi salah satu cara mudah bagi perpustakaan untuk berbagi informasi dan meningkatkan eksistensi perpustakaan tersebut di tengah-tengah masyarakat informasi yang tidak mengenal batas tempat dan waktu. Disisi lain, weblog ini juga dapat memberikan pelayanan informasi yang lebih baik bagi pengguna perpustakaan, terutama menyangkut berbagai fasilitas dan sumber informasi yang dapat diakses pengguna perpustakaan. Kesempatan bagi pengelola perpustakaan desa untuk menuangkan kreatifitas sebanyakbanyaknya bagi kemajuan perpustakaan desa dan menjadi jembatan bagi warga sebelum benar-benar berkunjung ke perpustakaan desa untuk mengetahui, tertarik, dan akhirnya memutuskan untuk memanfaatkan perpustakaan.

Abstract

Village libraries that are literate through wob blogs. Weblogs are one form of information technology-based village libraries, and become one of the easy ways for libraries to share information and improve the existence of the library in the midst of an information society that knows no boundaries of time and place. On the other hand, this weblog can also provide better information services for library users, especially regarding various facilities and sources of information that can be accessed by library users. The opportunity for village library managers to pour as much creativity as possible for the progress of the village library and become a bridge for residents before actually visiting the village library to find out, be interested, and finally decide to use the library
Keywords: Library · village library

Introduction

Secara umum, masyarakat kita memiliki keakraban dengan teknologi informasi. Maraknya penggunaan smartphone atau telepon pintar, tablet, laptop, komputer, terutama generasi muda menunjukkan bahwa teknologi informasi sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, baik untuk tujuan rekreasi dan kesenangan (misal bermain game), mencari informasi, memastikan suatu tren berita, untuk keperluan bisnis dan pemasaran produk, bahkan untuk pendaftaran sekolah dan kuliah pun tidak lepas dari keterhubungan dengan teknologi informasi, seperti pendaftaran sekolah/kuliah secara online. Apa yang dimaksud dengan teknologi informasi? Menurut pakar perpustakaan Sulistyo-Basuki (1991:87) teknologi informasi adalah teknologi yang digunakan untuk menyimpan, menghasilkan, mengolah, serta menyebarluaskan informasi, baik berupa angka, suara, teks/tulisan, maupun gambar. Teknologi informasi telah berkembang lama di awal abad 20, namun mulai luas dikenal sejak tahun 1970-an ditandai dengan muncul dan maraknya penggunaan telegram, faximile (fax.), E-mail dan Voice Mail. Penerapan teknologi informasi tersebut terasa dalam bidang perdagangan, keuangan, militer, pendidikan, militer, dsb. Berdasarkan dari permasalahan di atas maka yang menjadi rumusan masalah dalam penulisan ini adalah bagaimana Perpustakaan desa berbasis teknologi informasi melalui pemanfaatan blog

Discussion

Bagaimana dengan perpustakaan? Secara global sejak tahun 2002, perkembangan teknologi informasi yang berkembang begitu pesat berdampak pada perpustakaan. Terjadi pergeseran paradigma perpustakaan, sebagaimana dikemukakan oleh pakar perpustakaan Amerika (Stueart dan Moran, 2002) yaitu : One Medium One Collection: Multiple Media Waiting for user: Promote Library Service Warehouse: Super Market Dulu, koleksi perpustakaan hanya terbatas pada satu jenis, yakni hanya buku (one collection) tercetak di kertas (one medium). Maka perpustakaan saat ini memiliki koleksi yang menggunakan media beragam (multiple media) seperti koleksi audio, video, microfilm, CD, DVD, file komputer, e-book, internet dan lain-lain. Dulu perpustakaan hanya menunggu pengunjung (waiting for use), kini perpustakaan dituntut aktif mempromosikan koleksi dan jasa layananya kepada para pengguna. Dulu perpustakaan dianggap gudang buku (warehouse), kini perpustakaan layaknya super market yang menyediakan berbagai layanan, kenyamanan, dan kemudahan serta serba otomatis bernuansa teknologi canggih di dalamnya. Pergeseran paradigma tersebut membuat banyak perpustakaan di dunia turut mengubah cara pandangnya terhadap perpustakaan membenahinya, dengan memasukkan teknologi informasi ke dalam perpustakaan, mengikuti tren yang sedang berjalan, dengan tujuan agar: a. mempermudah pekerjaan rutin (bagi pustakawan) Proses pengelolaan buku dari proses akuisisi, pengolahan (entri data dan sebagainya), sirkulasi (peminjaman dan pengembalian bahanbahan pustaka), sistem temu kembali informasi serta pelaporan dapat dilakukan secara cepat, akurat dan praktis dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi informasi. b. menarik pengunjung datang (bagi pemustaka). Kehadiran komputer yang membuat proses terjadi secara otomatis/ elektronis, cepat, terhubung dengan internet dan perangkat lainnya menjadi hal baru yang diharapkan menarik masyarakat memanfaatkan perpustakaan. c. mempermudah masyarakat belajar, mencari informasi, dan terhubung dengan pihak lain (bagi masyarakat umum) Adapun teknologi informasi di perpustakaan diterapkan di perpustakaan dalam hal: a. Seleksi akuisisi koleksi perpustakaan. Penggunaan internet untuk memperoleh informasi katalog buku terbaru dan pemesanan secara online mempermudah kegiatan seleksi akuisisi koleksi perpustakaan b. Pengolahan Bahan Pustaka: inventarisasi, klasifikasi, katalogisasi, weeding, labelling, barcoding, semuanya berjalan secara elektronik, terkomputerisasi, tersistem, dapat selesai diproses lebih cepat. c. Pemeliharaan bahan pustaka: dalam bentuk memindahkan informasi dari media kertas kepada media digital sehingga isi informasinya lestari/awet tidak terpengaruh usia dan tingkat kerusakan kertas sebagai media penyimpannya. d. Manajemen perencanaan perpustakaan dan pelaporan. Masukan saran dan kebutuhan dari pemustaka dapat diketahui dengan memanfaatkan format survei secara elektronik sehingga membantu bidang perencanaan perpustakaan, sekaligus pelaporannya. e. Pelayanan perpustakaan dan promosi gemar membaca• Salah satu upaya untuk mempromosikan perpustakaan adalah dengan memasukkan perpustakaan ke WEB/internet.. Teknologi informasi tumbuh secara bertahap, yang dikenal dengan tahapan berikut: a. WEB 1.0 adalah web generasi awal, dimana tampilannya statis/ tidak bergerak/ read only === pc b. WEB 2.0 adalah web generasi kedua, selain bisa membaca, juga bisa menulis (bisa mengetik secara online), seiring dengan berkembangnya dan bermunculannya blog-blog. === pc+ gadget c. WEB 3.0 adalah web generasi ketiga, bisa READ, WRITE, RATING, CONTRIBUTE (upload, pertukaran informasi), misalnya facebook, Video Streaming, Televisi Streaming, Video tutorial === all electronic networking. Bagaimana kondisi masyarakat kita saat ini? Maraknya penggunaan Facebook misalnya, menunjukkan bahwa tahapan teknologi informasi yang digunakan masyarakat sudah sampai pada web.3.0. Karenanya, masyarakat bukan hanya harus memiliki kemampuan membaca, menulis, tetapi juga melek web/ internet, dengan kebutuhan untuk: berkomunikasi dua arah (Chat Reference è 2 arah ), terhubung secara langsung (Media Streaming è Multiple media), akses tanpa dibatasi wilayah geografis dan berlangsung 24 jam (melalui Web, blog & wiki è Akses tanpa ba- tas), berjejaring melalui sosial media, terhubung dengan basis data dan informasi secara online (melalui OPAC). Penerapan Teknologi Informasi Di Perpustakaan Desa Perpustakaan desa, meski berada di lingkung wilayah terkecil, tetap dapat mengikuti tren penerapan teknologi informasi, agar amanah undangundang untuk menjaring lebih banyak masyarakat yang bisa dicerdaskan dan ditingkatkan kualitas hidupnya melalui proses belajar dan mengembangkan diri melalui ragam pengetahuan yang bertebaran di perpustakaan desa dapat tercapai. Perpustakaan desa bukan hanya menunggu pengunjung datang, tetapi bergerak aktif membujuk dan mendorong masyarakat agar menjadi bagian pemetik manfaat positif perpustakaan desa. Mewujudkan Perpustakaan Desa Berbasis Teknologi Informasi Widodo H. Wijoyo (2009) menganalisis berbagai persoalan yang mungkin muncul sehubungan dengan diterapkan atau akan diterapkannnya teknologi informasi untuk perpustakaan sebagai berikut : • Penggalian dana. Dana ini akan dialokasikan untuk : pengadaan perangkat keras maupun lunak, install, operasional, promosi, perawatan dan kesinambungan operasionalnya. • Kesiapan SDM perpustakaan.Pengelola perpustakaan harus diberi kesempatan untuk untuk meningkatkan kemampuan dan ketrampilan dalam mengusai teknologi informasi yang akan diterapkannya. • Kesiapan pengguna perpustakaan, hal ini berhubungan dengan kesiapan pengguna perpustakaan dalam mengikuti sistem baru layanan perpustakaan • Reorganisasi perpustakaan, hal ini menyangkut penempatan petugas perpustakaan sesuai dengan keahliannya dan kebutuhan perpustakaan. Dengan demikian, secara umum, kita harus dapat menyiapkan komponen utama untuk mewujudkan perpustakaan desa berbasis teknologi yakni: Man, Machine, Money, Support System. 1. MAN atau sumberdaya manusia yang disiapkan adalah yang mampu menjadi operator komputer di satu sisi, dan memiliki kemampuan untuk mengkomunikasikan ide dan gagasan/konsep perpustakaan desa berbasis teknologi informasi kepada atasan secara lisan dan meyakinkan serta mampu berkomunikasi secara tertulis (proposal). 2. MACHINE atau mesin, yang dimaksud adalah unsur teknologi informasi, baik berupa hardware (perangkat keras) dan software (perangkat lunak). 3. MONEY: Anggaran. Terkait anggaran ini, perlu selain pengadaan software dan hardware, keberlangsungan operasional teknologi informasi perlu mempertimbangkan penganggaran untuk: • Berlangganan Wifi • Berlangganan Paket Data • Pelatihan SDM untuk: • Pelatihan instalasi jaringan komputer • Pelatihan Instalasi system SLIMS • Pelatihan penggunaan SLIMS • Pelatihan troubleshooting 4. Support System, atau sistem pendukung perintisan dan keberlangsungan kemajuan perpustakaan desa, berupa kebijakan pemerintah dan perundang-undangan yang menjadi dasar bagi perpustakaan desa untuk bergerak mengembangkan perpustakaannya, bahwa ini merupakan amanah undang-undang dan bukan merupakan dorongan motivasi pribadi pengelola perpustakaan desa. Support system ini perlu difahami agar menjadi dasar hukum bagi pengajuan perencanaan perpustakaan untuk melengkapinya dengan teknologi informasi yang imbasnya dapat menggunakan biaya yang cukup besar dan kontinyu. a. Dukungan Pemerintah Pusat Dan Daerah Pemerintah pusat telah menyiapkan dana pembangunan desa setiap kelurahan dan desa. Beberapa aturan yang melanda siadanya perpustakaan desa/kelurahan yaitu sebagai berikut: 1. Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional: 2. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. 3. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005 -2025. 4. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 30 Tahun 2006 tentang Tata Cara Urusan Pemeritahan Kabupaten/Kota kepada Desa. 5. Keputusan Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah No mor 3 Tahun 2001 tentang PerpustakaanDesa / Kelurahan b. Dukungan Kepala Desa Dan Masyarakat Gebrakan pemerintah Desa yang harus cepat terelisasi yaitu merespon dengan sesegera mungkin Undang-Undang nomor 43 tahun 2007 tentang perpustakaan, bahwa perpustakaan Desa merupakan salah jenis perpustakaan umum yang menjadi kewajiban pemerintah desa. Di sinilahperan Lurah/Desa mensosialisasikan kepadamasyarakatmelalui ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) mengajukan program kerja dalam musyarawah rencana pembangunan (Musrenbang) tingkat Kelurahan/ Desadan selanjutnya diusulkan pada musrembang tingkat Kecamatan tentang pembangunan perpustakaan tingkat. Lurah/ Desa c. Dana Desa Untuk Perpustakaan Membangun perpustakaan desa dengan alokasi dana desa adalah bagian daripada pembangunan masyarakat untuk mewujudkan desa mandiri dan sumber daya manusia yang berkualitas. Sumber Dana Perpustakaan Desa Tidak Terlepas antara pemerintah Desa dengan Lembaga Kemasyarakatan Desa (LPM) melalui musyawarah rencana pembangunan (musrenbang) yang diusulakan oleh Tokoh Masyarakat, Tokoh Agama, Tokoh pemuda yang difasilitasi oleh Pemerintah Desa untuk membangun Perpustakaan Desa d. Konsultasi Kepada Ahli Berkonsultasi dengan pustakawan di perpustakaan kota/kabupaten, perpustakaan provinsi maupun Perpustakaan Nasional yang tentu mengetahui aturan perundangan yang berlaku diharapkan dapat memberikan solusi terhadap permasalahan-permasalahan yang menjadi kendala dalam mengembangkan perpustakaan desa berbasis teknologi informasi. e. Kolaborasi Dengan Sesama Perpustakaan Desa Bercermin dan mengambil pelajaran atau meniru kesuksesan perpustakaan desa lainnya melalui koordinasi dan komunikasi yang baik, diharapkan dapat mengefektifkan langkah-langkah persiapan mengembangkan perpustakaan desa berbasis teknologi informasi. Pilihan Ragam Penerapan Teknologi Informasi Kondisi geografis perpustakaan desa terkadang menjadi kendala keterhubungan dengan teknologi informasi, baik dalam hal stabilisasi kondisi listrik hingga akses terhadap internet. Berikut adalah pilihan ragam penerapan teknologi informasi bagi perpustakaan desa. a. Multimedia Perpustakaan dapat melakukan pengayaan koleksi dengan menambah koleksi multimedia yang mencakup media tercetak dan media digital (foto, buku elektronik, dokumen digital, rekaman suara, video) yang bisa diperoleh secara gratis maupun berbayar. b. Tanpa Koneksi Internet (Offline) i. sistem OPAC (offline) ii. sistem otomasi: sirkulasi dan OPAC iii. koleksi digital c. Dengan Koneksi Internet (Online) i. sistem OPAC (online) ii. koleksi multimedia iii. membuat fanpage di media sosial: rajin menyapa masyarakat iv. membuat web/ blog perpustakaan: perpustakaan di dunia maya Blog Perpustakaan Desa Pemanfaatan blog untuk perpustakaan desa merupakan cerminan dari tahapan tren penggunaan teknologi informasi di perpustakaan pada tahapan library 2.0, dimana teknologi yang digunakan tidak hanya digunakan untuk membaca dan menggunakan aplikasi teknologi informasi yang tersedia, tetapi memacu kreatifitas pengelola perpustakaan untuk keluar dari ruang perpustakaan desa, berpromosi aktif menginformasikan dan mengajak masyarakat memanfaatkan perpustakaan melalui laman WEB/ Webblog/ blog. Surachman (2008) dalam makalahnya memaparkan bahwa Blog merupakan kependekan dari Weblog, berasal dari kata Web dan Log. Dikenalkan pertama kali oleh Jorn Barger pada bulan Desember 2007. Weblog diartikan sebagai sebuah web yang diupdate secara kontinyu atau terus menerus dan memuat berbagai link ke website lain yang dianggap menarik dan memungkinkan orang untuk saling memberi komentar pada setiap halaman web yang ditampilkan. Weblog sudah berkembang sedemikian pesat sebagai media sharing, informasi, diskusi, curhat dan bertukar ilmu pengetahuan antara para Blogger (sebutan bagi para pemilik blog). Isi blog sendiri berkembang sedemikian cepat sehingga tidak hanya berbentuk teks, tapi sudah dapat berupa gambar, multimedia (video), share files atau dokumen dalam berbagai format, serta informasiinformasi popular dan ilmiah. Sebenarnya awal kemunculannya, blog merupakan media yang sangat personal seperti halnya diary online, hanya seiring perkembangan maka blog sudah bukan merupakan rahasia lagi bahkan cenderung dibuat untuk dibaca oleh orang lain. Sehingga tak heran, bahwa blog menjadi pilihan berbagai orang untuk memberikan informasi kepada orang lain melalui media web. (Surachman, 2008) Dulu sebelum internet dan teknologi web belum semaju sekarang ini. Untuk membuat sebuah halaman web agar dapat dilihat oleh orang lain membutuhkan banyak sekali resources. Terutama sumber daya yang mampu menguasai bahasa pemrograman web. Namun saat ini, membuat web adalah perkara mudah dan dapat dilakukan oleh setiap orang. Orang sudah tidak lagi dituntut untuk menguasai program atau bahasa pemrograman tertentu yang itu membutuhkan waktu lama untuk mempelajarinya. Nah, tentu ini juga membawa dampak positif bagi perpustakaan sebagai information dan knowledge center bagi masyarakat. Perpustakaan sekarang lebih mudah untuk berbagi informasi dengan pengguna atau masyarakat umum, hanya cukup dengan memanfaatkan fasilitas blog atau weblog yang tersedia di internet. Nah, sebetulnya kemampuan atau modal apa yang perlu dimiliki untuk dapat membuat sebuah web blog? Ada beberapa modal dasar yang harus dimiliki, yakni: 1. Kemampuan untuk mengakses internet melalui Browser (seperti internet explorer, opera, mozilla firefox, dan thunderbird), termasuk tentunya koneksi internet. 2. E-mail Address untuk keperluan pendaftaran 3. Mendaftar melalui penyedia layanan blog seperti Blogger.com; Wordpress.com atau Multiply.com 4. Sedikit kemampuan untuk memahami bahasa inggris 5. Kreatifitas dan kemauan untuk belajar. Karenanya tidak perlu menjadi seorang programmer untuk membuat sebuah blog itu. Bagi perpustakaan, paling tidak ada beberapa keuntungan dalam membuat weblog terutama dengan cukup mendaftar ke penyedia layanan blog, yakni: 1. Gratis alias tidak perlu membayar atau membayar orang untuk membuatkan sebuah halaman web bagi perpustakaan 2. Hosting gratis, tidak perlu membayar 3. Tidak perlu belajar pemrograman, karena program untuk pembuatan blog sudah disediakan oleh penyedia layanan dan sangat user friendly 4. Perpustakaan dapat memberikan informasi kepada pengguna secepat mungkin 5. Adanya interaksi antara perpustakaan dan pengguna perpustakaan melalui web blog. 6. Weblog akan memberikan kesempatan kepada orang untuk lebih mengetahui seluk beluk perpustakaan desa Sifat internet adalah menghubungkan kita dengan dunia global. Hal ini menjadikan perpustakaan desa tidak hanya dikenal oleh warga lokal/ setempat tetapi juga oleh warga dunia dimanapun berada selama 24 jam penuh selama terkoneksi dengan jaringan internet. Hal ini menjadi kesempatan bagi pengelola perpustakaan desa untuk menuangkan kreatifitas sebanyak-banyaknya bagi kemajuan perpustakaan desa di satu sisi, dan menjadi jembatan bagi warga sebelum benarbenar berkunjung ke perpustakaan desa untuk mengetahui, tertarik, dan akhirnya memutuskan untuk memanfaatkan perpustakaan

Conclusion

Dengan demikian, Weblog adalah salah satu bentuk perwujudan perpustakaan desa berbasis teknologi informasi, dan menjadi salah satu cara mudah bagi perpustakaan untuk berbagi informasi dan meningkatkan eksistensi perpustakaan tersebut di tengah-tengah masyarakat informasi yang tidak mengenal batas tempat dan waktu. Disisi lain, weblog ini juga dapat memberikan pelayanan informasi yang lebih baik bagi pengguna perpustakaan, terutama menyangkut berbagai fasilitas dan sumber informasi yang dapat diakses pengguna perpustakaan.