Kembali
16
1
2019 Al Maktabah: Jurnal Kajian Ilmu dan Perpustakaan Vol 4 · 2 ISSN 2657-2346

PERAN PERPUSTAKAAN DALAM LINTASAN SEJARAH (Studi Analisis Perpustakaan Universitas Al Azhar Kairo)

Institut Agama Islam Negeri Bengkulu

Abstrak

Perpustakaan adalah jantung atau urat nadi bagi lembaga / lembaga / universitas tertentu atau badan hukum lainnya. Legal sekarang, bukan hanya di mana saya menyimpan dan menemukan buku, tetapi lebih dari itu adalah sumber informasi untuk informasi. Berbagai informasi dapat ditemukan di perpustakaan. Jika informasinya ilmiah, informasi terkait dengan sejarah dengan informasi yang populer. Perpustakaan dalam sejarah Islam menempati posisi yang penting. Keberadaannya dapat menemukan sangat sulit untuk dipisahkan dari perkembangan dan kemajuan dalam sains dan peradaban Islam terutama di 8-10 m. Secara hipotesis dapat dijelaskan bahwa jika tidak ada perpustakaan di masa lalu di pasar modal dan ilmu keuangan dan peradaban tidak akan mengalami kemajuannya. Atau setidaknya pengembangan studi akan mengikuti penyelesaian lambat lambat dan berhenti jika tidak ada perpustakaan.

Abstract

The library is the heart or vein for particular agencies / institution / university or body other corporate .Library now , would not only be where i keep and find book , but more than that that is be a source of / place for information. Various information can be found in the library .Of the information is scientific , information related to history to information that is popular. The library in the history of islam occupying a position what is important. Its existence can find it very difficult to separated of the development and of progress in science and the civilization of islam especially in the 8-10 m .Hypothetically can be explained that if it is not there the library in the past in the the capital market and financial science and civilization will not undergo a his progress .Or setidak-tidaknya studies development will follow the completion of painfully slow and tersendat-sendat if it is not there the library.
Keywords: Library · history · al azhar

Introduction

Setiap orang tentunya sudah pernah mendengar dan mengenal tentang perpustakaan. Mungkin saja apa yang dibayangkan mengenai perpustakaan. Mungkin saja apa yang dibayangkan mengenai perpustakaan oleh setiap orang sangat berbeda beda. Namun, intinya tentunya menuju kepada pengertian bahwa perpustakaan berisi informasi ataupun ilmu sehingga perpustakaan akan menjadi tujuan utama jika mereka memerlukan informasi maupun untuk menambah ilmu. Perpustakaan adalah kata yang sudah tidak asing lagi di telinga kita. Namun, pemahaman tentang perpustakaan bagi sebagian masyarakat, tampaknya masih konvensional. Perpustakaan masih dianggap sebagai tempat menyimpan buku, atau gudang buku. Pada hal dengan semakin berkembangnya ilmu, fungsi, dan tugas perpustakaan juga ikut berkembang. Dengan demikian, pemahaman sebagian masyarakat tentang perpustakaan juga ikut berkembang. Tidak diragukan lagi, bahwa perpustakaan merupakan sarana yang sangat penting/vital bagi semua lapisan masyarakat, baik untuk negara maju, negara berkembang bahkan negara miskin sekalipun. Perpustakaan merupakan jantung atau urat nadi bagi suatu instansi/ institusi/universitas/ badan korporasi lainnya. Perpustakaan saat ini, tidak lagi hanya menjadi tempat menyimpan dan mencari buku, tetapi lebih dari itu yaitu menjadi sumber/tempat mencari informasi. Berbagai informasi dapat ditemukan di perpustakaan. Dari informasi yang bersifat ilmiah, informasi yang berkaitan dengan sejarah hingga informasi yang bersifat populer. Tentunya pencarian informasi tersebut tergantung jenis perpustakaannya. Umumnya perpustakaan Perguruan Tinggi dan perpustakaan khusus menyediakan informasi yang bersifat Ilmiah atau semi ilmiah dan informasi yang berkaitan dengan sejarah, sedangkan Perpustakaan umum, biasanya menyediakan informasi yang bersifat semiilmiah dan populer, namun banyak pula perpustakaan umum yang menyediakan informasi yang berkaitan dengan sejarah, cerita-cerita fiksi hingga informasi yang bersifat aktual dan faktual. Kini perpustakaan semakin dekat dengan masyarakat, hampir di berbagai pelosok daerah dapat kita jumpai perpustakaan-perpustakaan kecil yang lebih umum dikenal dengan Taman Bacaan. Bahkan saat ini, perpustakaan keliling juga sudah mulai merambah ke tiap-tiap provinsi di Indonesia. Sebelum membahas lebih jauh tentang peranan perpustakaan dalam hal ini yang akan menjadi pembahasan inti adalah sejauhmana peran perpustakaan al Azhar Kairo dalam menyokong kemajuan dan kegemilangan ilmu pengetahuan pada masa Dinasti fathimiyah yang berkuasa di Mesir yang mana pada masa kekuasaan dinasti inilah al azhar terbentuk sebelum menjadi universitas ternama seperti sekarang ini. Pada masa dinasti ini perpustakaan sangat diperhatikan oleh penguasa saat itu sehingga dengan banyaknya koleksi buku atau manuskrip lainnya di perpustakaan dapat mendorong kegemaran membaca pada masyarakat saat itu sehingga banyak terlahir para ulama ulama besar pada masanya. Dan pada masa kejayaaanya juga Mesir dalam hal ini Al azhar juga menjadi kiblat bagi eropa pada saat itu dalam ilmu pengetahuan. Berikut akan dibahas terlebih dahulu tentang definisi dan tugas dari perpustakaan. a. Definisi Perpustakaan Untuk mengetahui lebih jauh tentang perpustakaan, perlu diketahui definisi dari perpustakaan. Perpustakaan berasal dari kata pustaka, yang berarti kitab atau buku. Setelah ditambah awalan per dan akhiran an menjadi perpustakaan yang artinya kumpulan buku-buku yang kini dikenal sebagai koleksi bahan pustaka. Dalam bahasa Inggris dikenal istilah Library yang berasal dari bahasa latin, yaitu liber atau libri yang artinya buku. Dalam Bahasa Belanda disebut bibliothek, Jerman dikenal dengan bibliothek, Perancis disebut bibliotheque, Spanyol dan Portugis dikenal dengan bibliotheca. Perpustakaan adalah sebuah ruangan, bagian sebuah gedung tempat menyimpan buku-buku untuk dibaca, sedangkan menurut Taslimah Yusuf (1996), Perpustakaan adalah tempat menyimpan berbagai jenis bahan bacaan. Di situ masyarakat dapat memanfaatkan bacaannya untuk menambah pengetahuan, mencari informasi atau sekadar mendapatkan hiburan. Berbagai jenis koleksi yang tersedia yaitu berupa buku, majalah, surat kabar, bahan audio visual, rekaman kaset, film. Menurut Random House Dictionary of the English Language, perpustakaan adalah suatu tempat, berupa sebuah ruangan atau gedung yang berisi buku-buku dan bahan-bahan lain untuk bacaan, studi maupun rujukan. Pengertian menurut Encyclopedia Britannica adalah sebagai berikut: sebuah perpustakaan (dari kata liber book) adalah himpunan bahan-bahan tertulis atau tercetak yang diatur dan diorganisasikan untuk tujuan studi dan penelitian atau pembacaan umum atau kedua-duanya, sedangkan menurut Kamus Istilah Perpustakaan dan Dokumentasi yang diterbitkan oleh Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, perpustakaan diartikan sebagai 1. Koleksi buku, majalah, dan bahan kepustakaan lainnya yang disimpan untuk dibaca, dipelajari, dan dibicarakan. 2.Tempat, gedung, atau ruangan yang disediakan untuk pemeliharaan dan penggunaan koleksi buku. Perpustakaan (termasuk di dalamnya pusat dokumentasi dan informasi) menurut Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara nomor 132/KEP/M.PAN/12/2002 adalah sebuah unit kerja yang memiliki sumber daya manusia, ruangan khusus dan koleksi bahan pustaka sekurangkurangnya terdiri dari 1.000 judul dari berbagai disiplin ilmu yang sesuai dengan jenis perpustakaan yang bersangkutan dan dikelola menurut sistem tertentu. Oleh karena perkembangan zaman, istilah perpustakaan pun menjadi berkembang, sesuai dengan tugas dan fungsinya. Berdasarkan tugas dan fungsinya saat ini, perpustakaan merupakan tempat menyimpan, mengolah dan mencari informasi, di mana informasi tersebut dapat berbentuk bahan bacaan tercetak (buku, jurnal, referensi, dan bahan pustaka tercetak lainnya) maupun bahan bacaan dalam bentuk elektronik (electronic book, elektronik jurnal, dan bahan bacaan bentuk elektronik lainnya). Di dalam perpustakaan tersebut ada organisasi dan sistem yang mengatur perjalanan bahan pustaka/ informasi mulai dari pengadaan, pengolahan hingga pelayanan dan penyajian kepada pengguna perpustakaan. Dari definisi tersebut, jelas bahwa koleksi bahan pustaka yang ada di perpustakaan digunakan untuk kepentingan pembaca dan berbeda dengan koleksi bahan pustaka yang ada di toko buku. Buku-buku yang ada di toko buku disajikan kepada konsumen untuk dibeli dan pemilik toko buku tersebut akan mendapatkan keuntungan (berorientasi keuntungan atau profit oriented), sedangkan buku-buku yang ada di perpustakaan disajikan kepada pengguna untuk dimanfaatkan demi pencarian ilmu dan informasi, tanpa tujuan menarik keuntungan dari penggunanya (tidak untuk mencari keuntungan atau not for profit orientation). Tidak semua gedung yang berisi buku dapat disebut perpustakaan, tetapi harus ada persyaratan yang harus dipenuhi, yaitu sebagai berikut: • Adanya kumpulan bahan pustaka (buku, majalah, buku rujukan) dalam jumlah tertentu, dalam bentuk tercetak maupun elektronik/ digital. • Bahan pustaka yang ada harus ditata berdasarkan sistem yang berlaku, diolah dan diproses (registrasi, klasifikasi, katalogisasi, dan di data) baik secara manual ataupun dengan cara otomasi. • Bahan pustaka yang telah diolah dan diproses tadi, harus ditempatkan di ruangan tertentu yang kita kenal dengan istilah perpustakaan. • Perputaran/sirkulasi bahan pustaka harus dikelola oleh petugas yang profesional yang mempunyai kemampuan mengelola peredaran bahan pustaka baik secara manual maupun yang sudah terotomasi. • Ada pengguna perpustakaan, yang memanfaatkan koleksi bahan pustaka untuk kepentingan ilmu pengetahuan, penelitian, observasi, dan hal lainnya yang berkaitan dengan belajar dan menimba ilmu. • Perpustakaan merupakan institusi yang menunjang Tridarma perguruan tinggi, bagi universitas ataupun institut, dan merupakan mitra bagi lembaga-lembaga lainnya baik formal maupun informal. Perpustakaan adalah tempat atau deposit ilmu, sumber informasi yang penting yang dapat menguak sejarah masa lalu dan dapat dijadikan dasar menyusun perencanaan dan penelitian untuk masa mendatang. Perpustakaan bersifat universal, artinya siapa pun, usia berapa pun, apa pun pekerjaannya dapat belajar dan mencari informasi di perpustakaan. Perpustakaan ada di mana-mana, di desa-desa maupun di kota dapat dijumpai perpustakaan walaupun dengan jenis, luas, dan kualitas yang berbeda-beda.1 Dewasa ini perpustakaan telah mengalami kemajuan yang cukup pesat. Banyak perpustakaan yang telah menggunakan peralatan modern seperti komputer di dalam melakukan aktivitasnya mulai dari proses pengadaan pendaftaran anggota, pencarian bahan pustaka, peminjaman dan pengembalian buku hingga statistik kegiatan perpustakaan. Semua sistem dapat berjalan baik jika didukung SDM yang handal, yang terusmenerus belajar dan menggali ilmu serta mencermati dan mempelajari perkembangan ilmu di era informasi ini. b. Tugas Perpustakaan Agar tidak ketinggalan zaman, mau tak mau peran perpustakaan harus ditingkatkan, dengan begitu tugas perpustakaan semakin berat juga. Telah diketahui bersama bahwa tugas perpustakaan adalah mengumpulkan, mengolah, memelihara, merawat, melestarikan, mengemas, menyimpan, memberdayakan dan menyajikan koleksi bahan pustaka kepada pemakai. Jadi pada prinsipnya tugas Perpustakaan adalah menyediakan layanan informasi untuk kepentingan masyarakat, baik masyarakat ilmiah (pelajar, mahasiswa, guru, dosen, dan peneliti) maupun masyarakat luas di sekitarnya.2 Seiring dengan perkembangan zaman maka tugas perpustakaan juga semakin luas dan berkembang. Pengelola perpustakaan dituntut untuk lebih jeli melihat kebutuhan masyarakat pengguna perpustakaan. Saat ini, pencarian informasi dapat diakses lewat internet. Oleh karena itu, menjadi tugas perpustakaan untuk menyediakan informasi yang dapat diakses lewat internet, namun harus pula menyediakan peraturan-peraturan yang dapat melindungi kepentingan perpustakaan dan keamanan informasi tersebut. Di samping itu, menjadi tugas perpustakaan juga untuk terus-menerus memperhatikan kemajuan zaman dan kemajuan teknologi agar keinginan masyarakat dalam mengakses informasi dapat terpenuhi. Perpustakaan harus terus mencari jalan agar tetap tanggap secara efektif dan inovatif terhadap lingkungan yang beragam dalam memenuhi harapan pengguna. Ini diperlukan agar perpustakaan dan pustakawannya mampu tetap bertahan hidup (survive) serta berkembang. Perpustakaan harus mampu menjadi jembatan penyedia informasi pada masa lalu, masa kini dan masa depan, di samping itu perpustakaan seyogianya bisa membentuk koneksi, koalisi, dan kemitraan baik secara teknologi maupun, organisasi. Secara garis besarnya tugas perpustakaan adalah sebagai berikut.3 1. Mengumpulkan, menyimpan dan menyediakan informasi dalam bentuk tercetak ataupun dalam bentuk elektronik dan multimedia kepada pemakai. 2. Menyediakan informasi yang dapat diakses lewat internet, namun harus pula menyediakan peraturan-peraturan yang dapat melindungi kepentingan perpustakaan dan keamanan informasi tersebut. 3. Mengumpulkan, menyimpan dan menyediakan informasi dalam bentuk tercetak ataupun dalam bentuk elektronik dan multimedia kepada pemakai. 4. Menyediakan informasi yang dapat diakses lewat internet, namun harus pula menyediakan peraturan-peraturan yang dapat melindungi kepentingan perpustakaan dan keamanan informasi tersebut 5. Terus memperhatikan kemajuan zaman dan kemajuan teknologi agar keinginan masyarakat dalam mengakses informasi dapat terpenuhi. 6. Harus mampu menjadi jembatan penyedia informasi pada masa lalu, masa kini dan masa depan. 7. Perpustakaan harus terus mencari jalan agar tetap tanggap secara efektif dan inovatif terhadap lingkungan yang beragam dalam memenuhi harapan pengguna. 8. Terus memperhatikan kemajuan zaman dan kemajuan teknologi agar keinginan masyarakat dalam mengakses informasi dapat terpenuhi. 9. Harus mampu menjadi jembatan penyedia informasi pada masa lalu, masa kini dan masa depan. 10. Perpustakaan harus terus mencari jalan agar tetap tanggap secara efektif dan inovatif terhadap lingkungan yang beragam dalam memenuhi harapan pengguna.

Discussion

Sejalan Dengan dasar Pemikiran dan pokok permasalahan diatas, maka pada pembahasan ini akan dikemukakan tentang Peranan perpustakaan dalam menunjang masa masa kejayaan dari Dinasti Fathimiyah dan kemajuan ilmu pengetahuan serta peranan perpustakaan sebagi cikal bakal dari terbentuknya universitas Al Azhar Cairo sehingga dapat melahirkan ulama ulama termashur. Perpustakaan dalam sejarah Islam menempati posisi yang penting. Keberadaannya sangat sulit dipisahkan dari perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan dan peradaban Islam terutama pada abad 8-10 M. Secara hipotetis dapat dikemukakan bahwa jika tidak ada perpustakaan di masa tersebut maka ilmu pengetahuan dan peradaban tidak akan mengalami kemajuannya. Atau setidak-tidaknya perkembangan ilmu akan berjalan sangat lambat dan tersendat-sendat jika tidak ada perpustakaan.4 Fungsi perpustakaan dalam sejarah Islam adalah pertama tempat mencari bahan referensi bagi para penuntut ilmu di berbagai tingkat pendidikan kedua bahan kajian para intelektual islam ketiga tempat menyimpan buku dan manuskrip berharga karya ilmuan keempat tempat pertemuan diskusi ilmiah dan debat intelektual kelima simbol kebanggaan khalifah dan penguasa setempat Mesir dan Al Azhar adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan karena Mesir merupakan wadah peradaban besar yang pernah ada dimuka bumi, sedangkan al azhar merupakan wadah pendididkan Islam yang mempunyai sejarah,pergulatan, dan dinamika yang unik dan menarik. Kecemerlangan perpustakaan Islam, menurut Pedersen, terjadi pada kekhalifahan Fathimiyah di Kairo. Pada tahun 1005, Khalifah al-Hakim membangun Dar al-‘Ilm di Kairo. Dinasti Fathimiyah yang menyatakan diri sebagai keturunan putri Rasulullah, Fathimah, membangun Kairo yang sepenuhnya baru di sisi Kairo yang lama, dengan istana yang begitu megah dan sebuah masjid, alAzhar, yang sejak saat itu merupakan pusat Dunia Islam. Mereka mendirikan perpustakaan di istana itu, dan juga di masjid-masjid lain.5 Khalifah al-Hakim mendirikan sebuah akademi yang dilengkapi dengan perpustakaan di bawah tanah istana Fathimiyah. Buku-buku dari seluruh cabang ilmu yang ada pada zaman itu terkoleksi di perpustakaan Dar al-Ilm tersebut. Diriwayatkan bahwa bangunan perpustakaan itu dihiasi dengan karpet di lantai dan dindingnya; dan selain buku, disediakan juga kertas, pena, dan tinta untuk umum. Siapa saja boleh masuk dan lembaga itu didatangi oleh berbagai kelas dalam masyarakat yang ingin membaca, menulis, dan mendapat pegajaran. Peneliti, para asisten dan pesuruh dipekerjakan dengan gaji tetap, dan para ilmuwan pun diberi gaji berstandard tinggi untuk melakukan telaah di lembaga tersebut.6 Menurut K Ajram, pada abad ke-13 perpustakaan Fathimiyah di Kairo memiliki koleksi sebanyak dua judul buku. Perpustakaan di Tripoli juga tak kalah banyak. Secara umum pada abad ke-13 itu telah tersedia sekitar lima juta judul buku: suatu jumlah yang amat banyak untuk ukuran waktu. Hal itu bisa dibandingkan, misalnya, dengan jumlah buku yag tersedia di perpustakaan terbesar Amerika sekarang ini, yaitu New York Public Library tercatat sekitar tujuh juta judul buku.7 Al Azhar merupakan cikal bakal sistem pendidikan tinggi yang reputasinya diakui dunia internasional. Pendidikan islam dari masa kemasa, mulai dari zaman Rasulullah saw, Khulafa al rasyidin samapai terbentuknya Daulah Umayyah dan Daulah Abbasiyah hingga sekarang telah memberikan kontribusi nyata bagi perkembangan dunia, khususnya umat Islam itu sendiri. Salah satunya adalah Daulah Fatimiyah di Mesir.8 Dinasti Fathimiyah adalah dinasti Syi’ah yang berkuasa dari 909 M (296 H) sampai dengan 1171 M (569 H) wilayah kekuasaan Dinasti fatimiyah meliputi Afrika utara, Mesir dan Suriah. Berdirinya Dinasti Fatimiyah dilatar belakangi oleh lemahnya Dinasti Abbasiyah. Ubaidillah al Mahdi memdirikan Dinasti Fatimiyah yang lepas dari kekuasaan Abbasiyah. Masa kegemilangan dinasti Fatimiyah ditandai dengan pindahnya pusat pemerintahan ke Kairo. Setelah Kairo berdiri dan dilengkapi dengan berbagai sarana termasuk masjid Al Azhar. Yang kemudian dijadikan pusat perguruan tinggi Islam oleh khalifah Fathimiyah al Azziz (975 M 996). Jauhar juga mendirikan Dar al Hikmah di tahun 1005 M. Kemudian Dinasti fatimiyah yang ditopang dengan wilayah pengaruhnya yang luas mampu membangkitkan berbagai kegiatan ilmiah, perdagangan dan keagamaan Semenjak abad ke 10 pada masa Dinasti fathimiyah yang membangun institusi pendidikan yang sekarang dikenal dengan nama Universitas Al Azhar, Mesir menjadi pusat peradaban dan pengembangan ilmu ilmu keislaman. Ribuan tahun sebelum masehi, negara para pharao ini telah menjadi pusat peradaban dunia, disamping peradaban lain seperti Mesopotamia dan Bizantium. Tiap peradaban yang maju, pasti disokong oleh luhurnya ilmu pengetahuan dari manusia yang memiliki peradaban tersebut. Artinya hanya bangsa dengan ilmu pengetahuan yang tinggi akan mampu sampai pada peradan yang mulia. Salah satu fondasi terpenting yang dibangun pada masa Dinasti fatimiyah adalah pembangunan Dar al Hikmah (rumah kebijaksanaan) atau Dar al ‘ilm (rumah ilmu) yang didirikan oleh al Hakim pada tahun 1005 sebagai pusat pembelajaran dan penyebaran ajaran syi’ah ekstrim.10 Perpustakaan Dar al Hikmah di Kairo didirikan oleh al Hakim Biamrillah . Perpustakaan ini dibuka pada tanggal 10 Jumadil akhir tahun 395 H, setelah dilengkapi perabotan dan hiasan. Pada semua pintu dan lorongnya dipasangi tirai. Di perpustakaan tersebut ditempatkan para penanggung jawab, karyawan dan petugas. Di himpun pula buku buku yang belum pernah terhimpun oleh seorang raja pun.11 Perpustakaan itu mempunyai 40 lemari buku salah satu lemari memuat 18.000 buku tentang ilmu ilmitempat tersebut terdapat segala sesuatuu kuno. Semua orang boleh masuk kesitu. Diantara mereka ada yang datang untuk membaca buku, menyalin atau belajar. Ditempat tersebut terdapat segala sesuatu yang diperlukan pengunjung ( tinta, pena, kertas dan tempat tinta). Untuk mengembangkan institusi ini, al Hakim mengeluarkan dana sebesar 257 dinar diantaranya digunakan untuk menyalin berbagai naskah, memperbaiki buku, dan pemeliharaan umum lainya. Gedung ini dibangun berdekatan dengan istana kerajaan yang didalamnya ada perpustakaan dan ruang ruang pertemuan. Kurikulumnya meliputi kajian tentang ilmu ilmu keislaman, astronomi dan kedokteran. Pada masa al Mustanshir, kegagalan atau kemunduran kerajaan yang mengakibatkan berkurangnya harta kekayaan, pada giliranya menyebabkan kemunduran lebih besar dengan banyaknya buku buku yang hilang dari perpustakaan kerajaan. Perpustakaan itu sendiri mulai didirikan pada masa al aziz , ketika itu memiliki kurang lebih 200.000 buku dan 2.400 eksemplar al Qur’an yang dihiasi ornamen ornamen indah. Salah stu koleksi langka perpustakaan ini adalah naskah naskah hasil karya Ibn Muqlah dan ahli ahli kaligrafi lainnya. Diperpustakaan ini pula al aziz menyimpan salinan tulisan tangan untuk buku sejarah karya al thabari. Pengganti al Mustansir membangun kembali sebuah perpustakaan. Ketika satu abad kemudian Shalahuddin al Ayubi menguasai istana kerajaan, perpustakaan istana itu masih menyimpan sekitar 100.000 jilid buku, sebagian dari buku buku itu disertai harta rampasan lainnya dibagikan kepada bawahannya.12 Seni penjilidan buku di dunia Islam yang paling pertama dikenal datang dari Mesir sekitar abad ke 8 atau 9. Teknik dan dekorasi yang mereka milikibersanding indah dengan daya tarik seni penjilidan koptik yang lebih dahulu muncul dan yang nyata nyata menjadi patokan keahlian menjilid. Setelah mazhab Mesir dalam seni penjilidan berkembang, teknik menghiasi sampul buku dengan alat dan stempel menjadi teknik yang banyak dipakai oleh para perajin yang menggunakan kulit. Al Azhar pada masa dinasti fatimiyah merupakan lembaga pendidikan yang menjadi corong dan alat untuk propaganda kekuasaan kekhalifahan, sekaligus sebagai atal penyebaran doktrin ajaran syi’ah. Pada masa khalifah al aziz Billah 387 H/ 988M dengan usaha wazirnya Yakub Ibn Killis Al Azhar dijadikan Universitas Islam yang mengajarkan ilmu ilmu agama, ilmu logika dan ilmu umum lainnya. Untuk menunjang kegiatan pendidikan dan pengajaran al azhar dilengkapi dengan asrama untuk fuqaha (dosen, tenaga pendidik) serta semua urusan dan kebutuhan di tanggung oleh khalifah. Al Azhar sebagai lembaga pendidikan tinggi saat itu, telah banyak melahirkan ulama yang tidak diragukan lagi dari aspek keilmuan dan telah banyak menyumbangkan khasanah ilmu pengetahuan terutama keislaman baik dari mesir maupun yang berasl dari daerah lainnya. Al Azhar mempunyai peranan penting dalam perkembangan pendidikan di Eropa. Perubahan orientasi al Azhar menjadi menyusul ambruknya tradisi keilmuan peradaban Islam cukup dinamis. Ini dibuktikan dengan munculnya banyak karya di berbagai disiplin ilmu. Ragam hasil pemikiran tersebut sebagiannya terdokumentasikan hingga kini dalam bentuk buku cetak ataupun digital. Terpeliharanya karya para ulama masa lalu itu tidak terlepas dari fungsi dan keberadaan perpustakaan.13 Setelah al ayyub menaklukan Mesir tahun 1171 M selama hampir satu abad dati tahun 1171-1267 M, al Azhar dikosongkan.semenjak itulah Dinasti Fathimiyah berakhir sehingga al Azhar berubah menjadi universitas sunni ia telah mencapai prestasi yang gemilang dan reputasi sebagai otoritas bidang keagamaan sampai sekarang tetap berlangsung. Perpustakaan-perpustakaan Islam pernah mengalami kejayaan. Kegemilangan yang sama hendak dicapai oleh Muslim masa kini. Kegemaran kaum Muslim belajar secara alamiah menghasilkan budaya baca dan kegiatan pelestarian buku. Koleksi perpustakaan pertama muncul pada periode Umayyah. Beberapa koleksi di perpustakaan itu bahkan masih terjaga hingga sekarang. Kemajuan pengembangan ilmu pengetahuan telah mampu menghadirkan catatan terkait aktivitas kepustakaan dan pengumpulan buku. Selain daripada keberhasilan pembentukan perpustakaan di Mesir pada masa Dinasti Fathimiyah Adalah Khalid bin Yazid (704 M), dikenal sebagai sastrawan sekaligus kolektor buku. Mulanya, tradisi pengumpulan dan kepustakaan itu berawal dari perorangan, lembaga masjid, dan lembaga pendidikan. Institusi paling mononjol soal ini adalah masjid. Khalifah al-Manshur (775 M) disebut-sebut sebagai pendiri cikal bakal perpustakaan. Ia mendirikan biro terjemahan di Baghdad. Pada pemerintahan al-Ma’mun (833 M), inisiatif tersebut disempurnakan dengan pendirian Bayt al-Hikmah yang merupakan perpustakaan pelopor kala itu. Bahkan, lembaga yang berdiri pada 830 M itu, didaulat sebagai lahan sentral pengetahuan dunia Islam. keturunan Bani Umayyah di Kordoba Spanyol mendirikan perpustakaan dengan koleksi buku sebanyak 400 ribu jilid. Geliat penulisan pun meningkat setelah kertas mulai dikenalkan di dunia Islam pada abad ke-8 Masehi. Penggunaan kertas itu kian populer dan memunculkan ragam profesi baru, salah satunya warraq atau panyalur dan penyalin kertas. Pada 987 M, Ibn Nadim, yang tersohor sebagai warraq, menulis sebuah kepustakaan penting dengan karyanya yang berjudul al-Fihrist. Buku itu berisi tentang daftar-daftar buku berikut isinya secara umum. Kesemua buku itu adalah karya yang pernah ia tangani. Selanjutnya, kepustakaan dikembangkan oleh cendekiawan ternama asal Istanbul, Hajj Khalifah. Ia membuat daftar kitab-kitab klasik dilengkapi uraian singkat isinya. Total keluruhannya berjumlah 14.500 judul buku. Sayangnya, buku-buku yang ada sepanjang sejarah kerap menjadi sasaran perusakan, aik oleh bencana alam atau ulah tangan manusia. Sejarah mencatat, tentara Mongol di Bahgdad pernah menghancurkan secara massal karya-karya Muslim saat itu. Pada masa inkuisisi Spanyol, terjadi pemindahan ribuan naskah dari dunia Islam ke perpustakaan personal di Barat. Paling terkenal ialah Perpustakaan Inggris, Bibliotheque Perpustakaan Nasional Perancis. Pada abad ke-20, kondisi perpustakaan dan pustakawan yang agak memprihatinkan mendorong otoritas sejumlah negara mendirikan perpustakaan nasional untuk meninventarisasi koleksikoleksi sarjana Muslim. Seperti yang dilakukan oleh Yordania dan Mesir. Tapi, tetap saja pamor perpustaan tersebut kurang. Bahkan, kalah dengan perpustakaan umum. Di beberapa negara, perpustakaan umum justru lebih diminati, seperti di Turki, Yordania, Pakistan, dan Malaysia.

Conclusion

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa peranan perpustakaan dalam memajukan ilmu pengetahuan dan peradaban sangatlah penting, jika ditilik dari sisi sejarah pedirian dari universitas Al Azhar kairo Al Azhar sebagai lembaga pendidikan tinggi saat itu, telah banyak melahirkan ulama yang tidak diragukan lagi dari aspek keilmuan dan telah banyak menyumbangkan khasanah ilmu pengetahuan terutama keislaman baik dari mesir maupun yang berasal dari daerah lainnya. Namun, hal tersebut tidak lepas pula dari campur tangan pemerintah saat itu yang sangat konsen untuk memajukan ilmu pengetahuan dengan cara menghimpun buku buku sehingga dapat membuka cakrawala bagi masyarakat pada umumnya maka, dari kegemaran membaca inilah terlahir cendikiawan /intelektual muslim. Maka, tidak diragukan lagi bahwa Kejayaan dan masa Kegemilangan yang diraih pada masa dinasti fathimiyah khususnya tidak lepas dari peran perpustakaan pada masa itu Tanpa kehadiran perpustakaan sulit dipastikan akan terjadinya The Golden Age of Islam di tiga abad tersebut. Kehadiran perpustakaan dan menjamurnya para ilmuwan Muslim adalah simbiose mutualistic yang sungguh mengagumkan. Perpustakaan membutuhkan para ilmuwan sebagai aktor di balik kerja ilmiah akademis, dan para ilmuwan pun membutuhkan perpustakaan sebagai bahan telaah pengembangan keilmuannya. Perpusatakaan dalam sejarah Islam tidaklah tunggal melainkan dapat berfungsi sebagai: tempat mencari bahan referensi bagi para penuntut ilmu di berbagai tingkat pendidikan; bahan kajian para intelektual Islam; pusat penyimpanan bukubuku dan manuskrip berharga karya ilmuwan; sebagai tempat pertemuan untuk kepentingan diskusi ilmiah dan debat intelektual, dan menjadi simbol kebanggaan khalifah dan penguasa setempat. Kegemaran kaum Muslim belajar secara alamiah menghasilkan budaya baca dan kegiatan pelestarian buku. Kemajuan pengembangan ilmu pengetahuan telah mampu menghadirkan catatan terkait aktivitas kepustakaan dan pengumpulan buku.