Kembali
16
1
2025 Maktabatun Jurnal Perpustakaan dan Informasi Vol 5 · 1 ISSN 2797-2275

Peran Sejarah Lokal dalam Meningkatkan Literasi Sosial Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Enrekang

Universitas Muhammadiyah Enrekang; Universitas Muhammadiyah Enrekang; Universitas Muhammadiyah Enrekang

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peran sejarah lokal dalam meningkatkan literasi sosial mahasiswa Universitas Muhammadiyah Enrekang. Sejarah lokal dipandang sebagai sumber belajar yang kaya akan nilai-nilai sosial, budaya, dan moral yang dapat memperkuat pemahaman mahasiswa terhadap realitas sosial di lingkungan mereka. Menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan studi dokumentasi terhadap mahasiswa yang terlibat dalam kegiatan pembelajaran dan program kemahasiswaan berbasis sejarah lokal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterlibatan mahasiswa dalam pembelajaran sejarah lokal mendorong tumbuhnya empati, kesadaran sosial, dan sikap partisipatif dalam kehidupan bermasyarakat. Narasi sejarah lokal yang mencerminkan nilai gotong royong, solidaritas, dan perjuangan kolektif berkontribusi dalam membentuk literasi sosial mahasiswa secara lebih kontekstual dan reflektif. Penelitian ini merekomendasikan integrasi sejarah lokal dalam kurikulum serta penguatan kemitraan antara perguruan tinggi dan komunitas lokal sebagai strategi pengembangan pendidikan karakter dan literasi sosial mahasiswa.

Abstract

This study aims to examine the role of local history in enhancing the social literacy of students at Universitas Muhammadiyah Enrekang. Local history is viewed as a rich learning resource containing social, cultural, and moral values that can strengthen students' understanding of the social realities in their environment. Using a descriptive qualitative approach, data were collected through in-depth interviews, participatory observations, and document analysis involving students engaged in learning activities and student programs based on local history. The findings show that student involvement in learning local history fosters the development of empathy, social awareness, and participatory attitudes in community life. Narratives of local history that reflect values such as mutual cooperation, solidarity, and collective struggle contribute to shaping students' social literacy in a more contextual and reflective manner. This study recommends integrating local history into the curriculum and strengthening partnerships between universities and local communities as a strategy for developing students' character education and social literacy.
Keywords: local history · social literacy · higher education

Introduction

Ilmu pengetahuan sosial memiliki peran penting dalam membentuk individu yang memiliki kepedulian terhadap lingkungan sosial dan budaya (Sari, 2016). Salah satu instrumen penting dalam pembelajaran ilmu sosial adalah sejarah, terutama sejarah lokal yang mengandung nilai-nilai kearifan dan identitas masyarakat setempat (Handoko, 2024). Sejarah lokal merekam dinamika sosial, perjuangan, dan kontribusi masyarakat dalam perjalanan peradaban, yang dapat menjadi sumber pembelajaran kontekstual bagi mahasiswa. Di tengah arus globalisasi dan disrupsi informasi, mahasiswa kerap menghadapi tantangan dalam membangun literasi sosial, yaitu kemampuan memahami realitas sosial, empati terhadap keberagaman, serta kesadaran akan dinamika Masyarakat (Azwar, 2024). Literasi sosial bukan hanya soal mengetahui teori, tetapi juga keterampilan dalam berinteraksi secara sosial, menghargai nilai lokal, serta membangun sikap kritis terhadap fenomena sosial di sekitarnya. Universitas Muhammadiyah Enrekang sebagai institusi pendidikan tinggi yang berakar di daerah dengan kekayaan sejarah dan budaya lokal memiliki tanggung jawab strategis dalam memperkuat literasi sosial mahasiswanya. Integrasi sejarah lokal ke dalam proses pembelajaran maupun kegiatan kemahasiswaan dapat menjadi jembatan antara pengetahuan historis dan realitas sosial kontemporer. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana sejarah lokal dapat dimanfaatkan dalam proses pendidikan untuk meningkatkan literasi sosial mahasiswa Universitas Muhammadiyah Enrekang. Fokus utamanya adalah mengungkap sejauh mana pemahaman dan keterlibatan mahasiswa terhadap narasi sejarah lokal berdampak pada sikap sosial mereka di lingkungan kampus dan masyarakat. Landasan Teoritis Penelitian mengenai integrasi sejarah lokal dalam pembelajaran dan pengaruhnya terhadap pengembangan nilai sosial mahasiswa telah banyak dilakukan oleh para peneliti dari berbagai latar belakang keilmuan, khususnya pendidikan, sejarah, dan ilmu sosial. Kajian-kajian tersebut memberikan dasar teoritis dan empiris bahwa sejarah lokal tidak hanya berfungsi sebagai wahana penguatan identitas budaya, tetapi juga sebagai instrumen pembentukan karakter sosial generasi muda. Penelitian yang dilakukan oleh Salsabila (2023) menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis sejarah lokal mampu meningkatkan kesadaran siswa terhadap nilai-nilai budaya daerah serta memperkuat jati diri mereka sebagai bagian dari masyarakat lokal. Penelitian ini dilakukan pada siswa SMA di Yogyakarta, di mana narasi sejarah lokal seperti kisah perjuangan rakyat lokal, tokoh-tokoh lokal, serta peninggalan sejarah digunakan dalam pembelajaran sejarah. Hasilnya menunjukkan bahwa pemahaman siswa terhadap konsep solidaritas, nasionalisme, dan tanggung jawab sosial meningkat secara signifikan. Senada dengan hal tersebut, Susilo (2024) melakukan studi pada mahasiswa jurusan Pendidikan Sejarah di salah satu perguruan tinggi negeri di Jawa Timur. Penelitian ini menekankan bahwa pendekatan pembelajaran berbasis sejarah lokal tidak hanya memperkaya pemahaman mahasiswa terhadap dinamika sejarah, tetapi juga melatih sensitivitas sosial mereka. Jatmiko menemukan bahwa mahasiswa yang terlibat dalam proyek dokumentasi sejarah lokal, seperti wawancara dengan tokoh masyarakat, penulisan sejarah desa, dan pelacakan jejak budaya, menunjukkan peningkatan empati dan kepedulian terhadap isu-isu sosial, seperti marginalisasi kelompok adat dan pelestarian budaya lokal. Penelitian dari An-Nisa (2022) juga menegaskan pentingnya sejarah lokal dalam membentuk literasi sosial melalui kegiatan pendidikan luar kelas. Dalam konteks program Kuliah Kerja Nyata (KKN), mahasiswa yang ditempatkan di desa-desa yang memiliki warisan sejarah diharuskan untuk menggali narasi lokal sebagai bagian dari tugas sosial. Mereka berinteraksi dengan masyarakat untuk memahami sejarah komunitas, konflik sosial, serta perubahan budaya yang terjadi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa proses interaksi tersebut meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam memahami dinamika sosial, menghargai keberagaman, dan bersikap inklusif dalam menyikapi persoalan masyarakat. Dalam konteks pendidikan tinggi Islam, penelitian oleh Firmansyah (2022) mengangkat integrasi antara sejarah lokal dan nilai-nilai keislaman dalam pembentukan karakter sosial mahasiswa. Penelitian ini menekankan bahwa sejarah lokal yang dikontekstualisasikan dengan nilai-nilai Islam seperti keadilan sosial, tolong-menolong, dan ukhuwah, dapat menjadi pendekatan efektif dalam menginternalisasi nilai moral dan sosial pada mahasiswa. Di beberapa perguruan tinggi Islam, integrasi ini diterapkan melalui mata kuliah AIK (Al-Islam dan Kemuhammadiyahan) yang mengangkat kisah-kisah perjuangan tokoh lokal Muhammadiyah sebagai refleksi nilai sosial. Studi lain yang relevan datang dari Lestari (2022), yang mengkaji keterkaitan antara narasi sejarah lokal dan pembangunan literasi sosial dalam kegiatan ekstrakurikuler mahasiswa. Dalam penelitiannya di sebuah perguruan tinggi swasta di Sumatera Barat, ia menemukan bahwa komunitas mahasiswa yang aktif dalam kegiatan teater sejarah dan penulisan naskah sejarah lokal menunjukkan peningkatan kemampuan dalam berpikir kritis, memahami relasi sosial, serta menunjukkan kepedulian terhadap isu-isu kemasyarakatan, seperti ketimpangan sosial dan konservasi budaya. Dari segi pendekatan literasi sosial, penelitian oleh Riski (2023) memaparkan bahwa literasi sosial merupakan kemampuan untuk memahami konteks sosial, berinteraksi secara etis, serta mengambil peran aktif dalam penyelesaian masalah sosial. Penelitian ini menjadi penting dalam konteks penelitian sejarah lokal karena menunjukkan bahwa literasi sosial tidak semata-mata diperoleh melalui teori atau pembelajaran kognitif, tetapi lebih kuat terbentuk melalui pengalaman kontekstual yang bersentuhan langsung dengan kehidupan masyarakat. Dalam konteks lokal Enrekang, memang belum banyak penelitian yang secara spesifik mengangkat peran sejarah lokal dalam pembentukan literasi sosial mahasiswa. Namun, beberapa laporan kegiatan pengabdian masyarakat dan studi lokal yang dilakukan oleh dosen di Universitas Muhammadiyah Enrekang mengindikasikan bahwa keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan berbasis budaya lokal, seperti pelestarian situs sejarah dan dokumentasi tokoh-tokoh lokal, telah memberikan kontribusi terhadap pembentukan karakter sosial mahasiswa. Ini menunjukkan adanya potensi besar bagi pengembangan pendidikan berbasis sejarah lokal yang kontekstual dan relevan dengan kebutuhan sosial mahasiswa. Dari berbagai kajian terdahulu tersebut, dapat disimpulkan bahwa sejarah lokal memiliki potensi besar sebagai media pembelajaran yang transformatif dalam membangun kesadaran sosial mahasiswa. Keterlibatan aktif mahasiswa dalam narasi sejarah komunitas lokal membuka ruang refleksi, empati, dan tindakan sosial yang bertanggung jawab. Namun demikian, masih diperlukan lebih banyak penelitian kontekstual, terutama di daerah-daerah yang belum banyak terangkat dalam studi ilmiah, seperti Enrekang, agar potensi sejarah lokal sebagai instrumen pembelajaran sosial dapat dimaksimalkan secara akademik dan praktis.

Method

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif untuk menggambarkan dan menganalisis secara mendalam peran sejarah lokal dalam meningkatkan literasi sosial mahasiswa. Pendekatan ini dipilih karena mampu mengeksplorasi fenomena sosial secara kontekstual dan holistik sesuai dengan pengalaman dan persepsi partisipan. Subjek dalam penelitian ini adalah mahasiswa Universitas Muhammadiyah Enrekang dari berbagai program studi yang pernah terlibat dalam kegiatan akademik atau non-akademik yang berkaitan dengan sejarah lokal, seperti mata kuliah berbasis IPS, kegiatan komunitas sejarah, atau program pengabdian masyarakat bertema budaya dan sejarah. Lokasi penelitian dilakukan di lingkungan kampus Universitas Muhammadiyah Enrekang dan beberapa komunitas atau wilayah yang memiliki relevansi dengan pelestarian sejarah lokal di Kabupaten Enrekang. Data dikumpulkan melalui beberapa teknik, yaitu wawancara mendalam dengan mahasiswa dan dosen pembina kegiatan sejarah lokal, observasi partisipatif terhadap kegiatan pembelajaran atau program berbasis sejarah lokal, serta studi dokumentasi terhadap materi pembelajaran, laporan kegiatan, dan dokumen terkait pelibatan sejarah lokal dalam pembelajaran. Analisis data dilakukan melalui tahapan: reduksi data, yaitu menyaring informasi penting dari hasil wawancara, observasi, dan dokumentasi; penyajian data dalam bentuk narasi deskriptif dan kategorisasi tematik; serta penarikan kesimpulan, yaitu menemukan pola-pola dan makna dari keterlibatan sejarah lokal terhadap pembentukan literasi sosial mahasiswa. Untuk memastikan validitas data, dilakukan teknik triangulasi sumber dan teknik, yaitu membandingkan hasil dari berbagai sumber data dan metode pengumpulan yang berbeda. Selain itu, peneliti juga melakukan member checkkepada informan untuk mengonfirmasi kebenaran hasil interpretasi.

Result & Discussion

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap bagaimana sejarah lokal berperan dalam meningkatkan literasi sosial mahasiswa Universitas Muhammadiyah Enrekang. Berdasarkan hasil wawancara, observasi, dan studi dokumentasi, ditemukan beberapa temuan utama yang menunjukkan bahwa integrasi sejarah lokal dalam kegiatan pendidikan mampu memengaruhi cara berpikir, bersikap, dan bertindak mahasiswa terhadap lingkungannya. Hasil temuan dapat dikelompokkan dalam empat tema utama: (1) Pemahaman mahasiswa terhadap sejarah lokal, (2) Peran kegiatan berbasis sejarah dalam meningkatkan kesadaran sosial, (3) Internalisasi nilai sosial melalui narasi sejarah lokal, dan (4) Tantangan dan peluang dalam pengembangan sejarah lokal sebagai media pendidikan sosial. 1. Pemahaman Mahasiswa terhadap Sejarah Lokal Sebagian besar mahasiswa yang menjadi informan mengungkapkan bahwa sebelum mengikuti kegiatan pembelajaran atau program kampus yang mengangkat sejarah lokal, mereka memiliki pengetahuan yang sangat terbatas tentang sejarah Enrekang. Pengetahuan mereka cenderung bersifat umum dan bersumber dari pelajaran sejarah nasional yang mereka dapatkan di sekolah menengah. Namun, setelah terlibat dalam program pengabdian masyarakat, kuliah lapangan, atau diskusi kelas yang mengangkat sejarah lokal seperti kisah perjuangan masyarakat Massenrempulu, sejarah kerajaan-kerajaan kecil di wilayah Enrekang, serta tokoh-tokoh lokal, mahasiswa mulai menunjukkan ketertarikan dan rasa memiliki terhadap warisan sejarah daerah mereka. Salah satu mahasiswa menyatakan: “Saya baru tahu kalau di Enrekang ada jejak kerajaan tua dan tokoh-tokoh perlawanan lokal yang selama ini tidak banyak dikenal. Rasanya seperti menemukan jati diri saya sendiri sebagai bagian dari sejarah itu. ” Hal ini menunjukkan bahwa pemahaman terhadap sejarah lokal membuka ruang bagi mahasiswa untuk merefleksikan identitas sosial dan budaya mereka. Proses ini merupakan pintu masuk penting dalam pembentukan literasi sosial, karena mahasiswa tidak lagi melihat masyarakat sekitarnya sebagai sesuatu yang asing, tetapi sebagai bagian dari narasi historis yang mereka miliki bersama. 2. Peran Kegiatan Berbasis Sejarah dalam Meningkatkan Kesadaran Sosial Kegiatan-kegiatan berbasis sejarah lokal, baik yang terintegrasi dalam kurikulum maupun yang bersifat ekstrakurikuler, ternyata memainkan peran signifikan dalam membentuk kesadaran sosial mahasiswa. Kegiatan seperti kuliah kerja nyata (KKN) tematik sejarah lokal, seminar budaya, dan pelatihan menulis sejarah lisan memberikan ruang bagi mahasiswa untuk tidak hanya belajar tentang masa lalu, tetapi juga untuk memahami struktur sosial, tradisi, dan dinamika komunitas lokal secara langsung. Observasi peneliti selama salah satu kegiatan diskusi budaya di Desa Bamba Puang menunjukkan bahwa mahasiswa tidak hanya menjadi pendengar pasif, tetapi juga aktif berdialog dengan tokoh adat setempat, mencatat narasi sejarah lisan, dan mendokumentasikannya dalam bentuk tulisan reflektif. Interaksi ini tidak hanya memperluas wawasan mereka, tetapi juga menumbuhkan empati sosial dan kesadaran akan pentingnya keberagaman budaya. Kesadaran sosial yang dimaksud di sini berkaitan erat dengan komponen literasi sosial, yaitu kemampuan untuk memahami realitas sosial, menghargai keragaman, dan menjalin hubungan sosial yang sehat. Melalui keterlibatan langsung dengan sejarah dan masyarakat, mahasiswa belajar untuk melihat realitas sosial dari perspektif yang lebih luas dan berlapis, tidak hitam-putih. 3. Internalisasi Nilai Sosial melalui Narasi Sejarah Lokal Narasi-narasi sejarah lokal yang diangkat dalam proses pembelajaran tidak hanya menyajikan fakta masa lalu, tetapi juga mengandung nilai-nilai sosial seperti gotong royong, perlawanan terhadap ketidakadilan, solidaritas masyarakat, dan semangat kebangsaan. Nilai-nilai ini secara perlahan terinternalisasi dalam cara berpikir dan sikap mahasiswa. Sebagai contoh, salah satu cerita yang paling sering muncul dalam wawancara adalah tentang tokoh lokal yang memimpin perlawanan terhadap penjajahan Belanda, yang dikenal karena semangat kolektif dan keberanian moralnya. Ketika diminta menjelaskan dampak cerita tersebut, salah satu mahasiswa menyatakan: “Cerita itu membuat saya sadar bahwa perjuangan bukan hanya soal senjata, tapi soal nilai. Sekarang saya merasa punya tanggung jawab untuk tidak apatis terhadap masalah sosial di kampus maupun di masyarakat. ” Dari sini terlihat bahwa literasi sosial mahasiswa tidak hanya terbentuk melalui teori sosiologis, tetapi juga melalui pengalaman emosional dan moral yang ditransmisikan lewat kisah sejarah lokal. Ini sejalan dengan teori pembelajaran kontekstual yang menyatakan bahwa nilai dan pemahaman sosial lebih efektif ditanamkan melalui pengalaman yang dekat dengan kehidupan sehari-hari mahasiswa. 4. Tantangan dan Peluang dalam Pengembangan Sejarah Lokal sebagai Media Literasi Sosial Meski temuan penelitian menunjukkan dampak positif, terdapat beberapa tantangan dalam pengembangan sejarah lokal sebagai sarana peningkatan literasi sosial. Pertama, ketersediaan sumber sejarah lokal yang terbatas dan belum terdokumentasi secara sistematis menyulitkan dosen dan mahasiswa untuk mengaksesnya. Banyak informasi sejarah masih bersifat lisan dan hanya diketahui oleh tokoh-tokoh tua di masyarakat. Kedua, belum semua dosen memiliki kompetensi atau minat dalam mengintegrasikan sejarah lokal ke dalam proses pembelajaran. Hal ini mengakibatkan pendekatan terhadap sejarah lokal masih bersifat sporadis dan tergantung pada inisiatif pribadi. Namun demikian, terdapat peluang besar jika sejarah lokal dimasukkan secara terstruktur dalam kurikulum Ilmu Sosial dan dikembangkan melalui kerja sama antara perguruan tinggi dan komunitas lokal. Pengembangan modul sejarah lokal, pelatihan menulis sejarah lisan, serta kolaborasi riset mahasiswa-dosen-tokoh masyarakat dapat menjadi strategi efektif untuk memperkuat peran sejarah lokal dalam pendidikan. Selain itu, teknologi digital juga membuka peluang untuk mendokumentasikan sejarah lokal dalam bentuk yang lebih menarik dan mudah diakses oleh generasi muda, seperti video dokumenter, podcast sejarah, dan peta digital sejarah lokal. Temuan penelitian ini memperkuat argumentasi bahwa sejarah lokal memiliki fungsi strategis dalam pendidikan sosial, khususnya dalam membangun literasi sosial mahasiswa. Proses mengenali, memahami, dan merefleksikan sejarah lokal bukan hanya memperluas wawasan historis, tetapi juga membangun koneksi emosional dan sosial mahasiswa dengan lingkungannya. Literasi sosial yang terbentuk meliputi peningkatan empati sosial, penghargaan terhadap keberagaman, serta sikap kritis terhadap ketimpangan dan isu-isu sosial kontemporer. Temuan ini sejalan dengan konsep literasi sosial menurut Sulthan (2019) yang menekankan pentingnya pengalaman langsung dan keterlibatan emosional dalam memahami dan merespons realitas sosial. Di sisi lain, pendekatan pembelajaran berbasis sejarah lokal mendukung prinsip pedagogi kontekstual yang diyakini lebih efektif dalam pendidikan karakter dan pembentukan kesadaran sosial.

Conclusion

Penelitian ini menunjukkan bahwa sejarah lokal memainkan peran penting dalam meningkatkan literasi sosial mahasiswa Universitas Muhammadiyah Enrekang. Keterlibatan mahasiswa dalam pembelajaran dan kegiatan berbasis sejarah lokal mendorong mereka untuk memahami nilai-nilai sosial yang hidup di masyarakat, seperti gotong royong, solidaritas, dan perjuangan kolektif. Melalui narasi sejarah lokal, mahasiswa tidak hanya memperoleh pengetahuan historis, tetapi juga mengembangkan empati, kesadaran sosial, serta sikap peduli terhadap permasalahan sosial di lingkungan sekitarnya. Sejarah lokal terbukti mampu membangun identitas sosial mahasiswa dan memperkuat hubungan mereka dengan masyarakat serta budaya lokal. Pembelajaran yang melibatkan interaksi langsung dengan komunitas sejarah, cerita lisan, dan konteks lokal memberikan pengalaman reflektif yang memperkuat literasi sosial mahasiswa, yaitu kemampuan memahami dan merespons realitas sosial dengan cara yang bijaksana, inklusif, dan partisipatif. Sejarah lokal menjadi jembatan antara pengetahuan akademik dan praktik sosial, yang berdampak positif terhadap pembentukan karakter mahasiswa sebagai warga negara yang peduli dan bertanggung jawab.