Kembali
16
1
2020 Al Maktabah: Jurnal Kajian Ilmu dan Perpustakaan Vol 5 · 2 ISSN 2657-2346

KEBUTUHAN INFORMASI DI TENGAH WABAH PANDEMI COVID 19 SEBUAH PENDEKATAN KEPUSTAKAAN DI IAIN BENGKULU

Institut Agama Islam Negeri Bengkulu

Abstrak

Corona virus19 adalah suatu kelompok virus yang dapat menyebabkan penyakit pada hewan atau manusia Beberapa jenis corona virus diketahui menyebabkan infeksi saluran nafas pada manusia mulai dari batuk pilek hingga vang lebih serius seperti Middle East Respiratory Syndrorme (MERS) dan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS). Kebutuhan informasi adalah suatu kebutuhan data yang telah diolah menjadi vang lebih berguna, lebih berarti dan bermanfat bagi yang menggunakannya. Memahami kebutuhan informasi pemakai memerlukan kerjasama antara pengelola informasi dan pemakai informasi. Memastikan kebutuhan informasi pemakai merupakan suatu fenomena yang rumit bahkan pemakai informasi sendiri sangat merasa kesulitan dalam mengungkapkan dan mengidentifikasi kebutuhan mereka, apalagi ditengah masa sulit pandemi sekarang ini.

Abstract

Corona virus19 is a group of viruses that can cause disease in animals or humans. Several types of coronavirus are known to cause respiratory infections in humans ranging from cold coughs to more serious ones such as Middle East Respiratory Syndrome (MERS) and Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS). Information needs are data needs that have been processed to be more useful, more meaningful and useful for those who use them. Understanding user information needs requires collaboration between information managers and information users. Ensuring user information needs is a complex phenomenon and even users of information themselves find it very difficult to express and identify their needs, especially amid the difficult times of the current pandemic.
Keywords: Information need · Coronavirus 19

Introduction

Wabah pandemi virus corona (COVID-19) menjadi salah satu pandemi paling berbahaya baru-baru ini. Virus ini telah menyebar secara masif di hampir seluruh belahan dunia. Update 25 Oktober 2020, lebih kurang 45 juta penduduk dunia pada saat ini terjangkit, sembuh lebih kurang 298 juta, dan meninggal dunia lebih kurang 1,19 juta. Bahkan Indonesia pada saat ini sudah mencapai angka 410 ribu orang yang sudah terjangkit, sembuh 338 ribu, dan meninggal dunia 13.869 orang. Virus corona (COVID-19) adalah suatu kelompok virus yang dapat menyebabkan penyakit pada hewan atau manusia. Beberapa jenis coronavirus diketahui menyebabkan infeksi saluran napas pada manusia, mulai dari batuk pilek hingga yang lebih serius seperti Middle East Respiratory Syndrome (MERS) dan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS). Coronavirus jenis baru yang ditemukan menyebabkan penyakit COVID-19. Berbagai langkah upaya dan kebijakan telah dilakukan untuk memutus rantai penyebaran virus corona seperti lockdown (karantina wilayah), Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) atau social distancing, hingga work from home bagi seluruh ASN (PNS dan PPPK), pegawai swasta, serta masyarakat umum telah diterapkan di berbagai daerah di Indonesia. Hal ini merupakan bentuk usaha pemerintah untuk mencegah dan memutus rantai penyebaran virus corona. Indonesia sangat terdampak luas di beberapa sektor akibat adanya COVID-19, salah satunya di bidang pendidikan dimana siswa dan mahasiswa diwajibkan belajar di rumah saja. Untuk menjaga kelangsungan proses belajar mengajar dari rumah, pemerintah mengajak seluruh tenaga pendidik seperti guru, dosen, dan pustakawan untuk dapat melayani siswa dan mahasiswa dengan sistem online/elektronik sebagai pilihan yang tepat. Profesi guru saat ini menjadi garda terdepan dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, tidak terlepas juga peran pustakawan yang menjadi penopang kelancaran proses belajar mengajar dari rumah tersebut. Lalu muncul pertanyaan, bagaimana dengan pustakawan sebagai agen informasi dalam melayani pemustaka di situasi saat ini? Apakah mereka dapat menyampaikan dan menginformasikan kepada pemustaka yang berada jauh, serta membagikan informasi yang benar melalui layanan karya cetak sebagai referensi untuk membantu anak-anak dalam mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh guru dan dosen? Informasi adalah data yang diolah menjadi bentuk yang lebih berguna, bermakna, dan bermanfaat bagi penggunanya. Sedangkan data menggambarkan kenyataan sebagai representasi dunia nyata yang mewakili suatu objek tertentu seperti manusia, hewan, peristiwa, konsep, keadaan, dan lain-lain. Dalam konteks ilmu perpustakaan, langkah awal dalam manajemen informasi adalah mengidentifikasi kebutuhan informasi. Kebutuhan dapat diartikan sebagai sesuatu yang harus dimiliki seseorang, sehingga kebutuhan informasi berarti informasi yang diperlukan oleh seseorang.

Method

Desain penelitian yang digunakan adalah desain kualitatif deskritlit Memunta Bogdan dan Taylor dalam Moleong, penelitian kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa katabata tertulis atau lisan dari orangorang dan periuku yang dapat damaat. Senada dengan definisi tersebut Kirk dan Miller dalam Moleong mendefinisikan juga penelitian kualitatif adalah tradisi tertentu dalam ilmu pengetahuan social yang secara fundamentai bergantung dari pergamatan pada manusia balk dalam kavasannya maupun dalam peristilahannya. Berdasarkan dua pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa penelitian kuallatti adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami subjek yang akan ditelit, missal prikku, persepsi, motivasi dan tirdakan dalam bentuk katakata dan bahasa dengan memarfaatkan berbagai metode. Adapun pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan deskripti. Menurut Ankurito, pendekatan ini hanya menggunakan “apa adanya” tentang suatu variable, gejala atau keadaan. Pendekatan deskripti mencoba mencari deskripti yang tepat dan cukup dari semua aktivitas, objek dan manusia.* Dalam pendekatan deskripti kuallatti data yang dikumpulkan adalah berupa katakata dan gambar bukan angka-angka.

Result & Discussion

Secara umum pengeritan informasi adalah sekumpulan data atau fakta yang telah diproses dan dikelola sedemikian rupa sehingga menjadi sesuatu yang mudah dimengerti dan barmanfaat bagi penetrmanya. Dari definisi tersebut dapat kita pahami bahwa kata "informasi" memiliki arti yang berbeda dengan kata "data". Data adalah fakta yang masih bersifat metrah atau belum diolah, setelah mengalami proses atau diolah maka data itu bisa menjadi suatu informasi yang bermanfaat.Tidak semua data atau fakta dapat diolah menjadi sebuah informasi bagi penetrmanya. Jika suatu data yang diolah terayata tidak bermanfaat bagi penetrmanya, maka hal tersebut belum bisa disebut sebagai sebuah informasi. Namun secara etimologis istilah informasi berasal dari bahasa latin, yaitu Informa/mem yang aritnya ide, kode, atau garis besar 2 2 . Informasi dapat disajikan dalam beragam bentuk, mulai dari tulisan, gambar, tabel, diagram, audio, video, dan lain sebagainya. Memurat Jogiyanto HM, pengertian informasi adalah hasil dari pengolahan data ke dalam bentuk yang lebih bermambari bagi penetrimanya yang menggambankan kejadian-kejadian yang nyata untuk digunakan dalam pengambilan keputusar 2 2 . Para peneliti berbeda konsep Setidahnya ada tupih fungsi informasi bagi manusia. Adaptun beberapa fungsi informasi adalah sebagai berikut: Menjadi sumber pengetahun baru Pentingnya ketersedaan informasi yang valid ketika didaparkan oleh seseorang dapat menjadi pengetahuan baru dan menambah wawasan di bidang tertentu. Misalnya informasi mengetani can mengutasi masalah kesehatan yang didaparkan dari konten di internet. Mungkin informasi tersebut adalah sesuatu yang umum dan sudah banyak diketahui orang, Namun, mungkin saja ada seseorang yang kelum mengetahui informasi tersebut. Menghapus Ketidakpasitan Minimya informasi tentang sesuatu akan menimbulkan ketidakpasitan. Untuk merıgla­pısı kettö­lık pasitan tersebut maka di­per­tı­ıkan in­formasi lengkap dan valid dari sumber ter­per­caya dan akurat. Sebagai media hiburan Keberad­nan in­formasi juga dapat ber­fungsi sebagai media hiburan bagi mas­yarakat, misalnya in­formasi mengenai objek wiseia di suatu tempat yang disajikan der­igan bahasa dan gam­bar­gan­b­ar yang menarik. Sebagai sumber berita Sebuah in­formasi mengenai hal tertentu bisa dipakai sebagai sumber berita yang disampaikan kepada khalayak. Misalnya in­formasi tentang Covid 19 di­ber­bagai daerah In­donesia yang di dapaikan dari media Televisi, Radio dan situs berita online. Untuk sosialisasi kebijakan In­formasi adalah komponen penting dalam ber­komunikasi der­igan pihak lain. Salah satunya adalah untuk menyampaikan suatu kebijakan dari pemer­intah kepada mas­yarakat yang dilakukan der­igan cara sosialisasi. Untuk mem­per­ga­nuhi khalayak Per­nyampaian in­formasi melalui media massa biasanya dilakukan untuk mem­per­ga­nuhi khlayak. Misalnya in­formasi men­genai suatu produk melalui Televisi yang tujuar­nya agar mas­yarakat mengenai dan ter­tarik untuk meng­gun­akar­mya. Men­yatukan pendapat Pada era media sosial (online) se­pent sekaran­g ini san­pat mudah untuk men­yan­paikan pendapat ke man­g pub­lik. Namun tidak semua pendapat ter­sebut sesuai der­igan fakta yang ada. Adanya in­formasi yang valid dari sumber ter­per­caya akan ber­man­faat untuk meni­ai setup pendapat yang dikemuk­akan di man­g pub­lik apa­kah sesuai der­igan in­formasi ter­sebut. Analisis Kebutuhan In­formasi Menurut Kos­wan² urgensi melakukan analisis kel­butuhan in­formasi secara umum adalah sebagai ber­ít­atır: Meningkaikan jumlah per­nakai in­formasi Semakin ber­kem­ban­gnya ilmu pen­ge­ta­huan, teknologi dan industry Meningkaikan spesialisasi bersamaan der­igan meningkat­nya keterkaitan dan ketergantungan an­tara ber­bagai cabang ilmu pen­ge­ta­huan. Ker­jasama an­tar Ne­gara dalam skala besar dalam bidang per­kem­ban­gan ilmu pen­ge­ta­huan, teknologi dan industry Kes­thukan per­nakai in­formasi yang semakin ting­gi dan kom­pre­hen­siv Per­ilaku per­nakai in­formasi yang heterogen (umur pan­gl­at ja­ba­tan, bidang kel­im­uan, pe­ker­ja­an). Dalam kon­tel­ts ilmu per­pus­ti­a­kan, dalam usaha me­lak­ukan man­aje­men in­formasi, lang­kah awayi yang dilakukan adalah identifikasi kebutuhan akan informasi. Devadason menjelaskan tentang pentingnya melakukan identifikasi kebutuhan informasi pengguna sebagai berikut[2]: “Identification of information needs is essential to design of information systems in general and to the provision of effective information service in particular. But it has been found to be a difficult task as it is almost an investigative or detective work. In order to identify information needs one should adopt various methods to gather information on the various factors that influence the information needs. No single methods or tool will see entirely. A careful selection and blending on the user whose need is being studied is necessary.” Dapat di lihat secara umum mengidentifikasi kebutuhan informasi merupakan sesuatu yang esensai didalam menacang sistem informasi dan secara khusus untuk menyedlakan layanan informasi yang elektri. Tetapi merupakan tugas yang suht dalam hal investigasi atau pekerjaan sescorang detektif. Untuk menegrahini kelutuhan informasi sescorang mestlah menggunakan berbagai metoda untuk memperoleh informasi dalam berbagai faktor yang dapat memperagundu kelutuhan informasi. Tidak ada satu metoda pun atau yang dapat memenuhi hal tersebut sama sekali. Sebuah seleksi yang hafahati dan memadukan berbagai teknik yang akan dipilh bergantung kepada pengguna yang memdukan untuk dheliit. Adapun manfaat sesorang memahami kelutuhan informasi pemakai seberarnya untuk mengetahui hal antara lain: a. Siapa pemakai potensisi perpustakaan b. Apa yang mereka pelajari dan teliti c. Sumber informasi dan layanan perpustakaan apa yang mereka butuhkan d. Bagaimana pengetahuan mereka tentang sumber informasi dan layanan yang ada di perpustakaan e. Bagaimana mereka menggunakan sumber informasi dan perpustakaan, dar; f. Bagaimana mereka menjadiikan perpustakaan sebagai nilai tambah dalam membantu menyelesalkan tugas dan pekerjaan[3]. Pada saat wabah pandemi covid 19 yang masih menjalele saat ini tentunya dalam pelayanan di civitas akademika IAIN Bengkulu sedikit tergangan, dikarenskan layanan menggunakan daring terlebih layanan di pusati perpustakaan seharusnya didasarkan kepada pemahaman tentang layanan terhadap kelutuhan dan keringinan informasi masyarakat pengguna dengan tetap menjunjung protokol kesehatan yang dikelnarkan oleh WHO dalam menyampaikan informasi kepada pengguna. Pendekatan yang dapat dilakukan untuk mengetahui karakteristik dan periuku pemakai dari suatu jasa perpustakaan secara sistematis adalah dengan kajian pemakai (user studies). Kaj̈an pemakai banyak diperagaruhi ilmu psikologi dan sosiologi 1 1 ilmu psikologi menjelaskan laktor internal manusia melalui perilaku manusia, dalam kaj̈an pemakai didotuskan pada perilaku manusia terhadap informasi. Aspek sosiologi menjelaskan perilaku manusia sebagai anggota masyarakat sangat diperagaruhi oleh kedudukan manusia di antara komunitasnya. Identifikasi Kebutuhan Informasi Di Tengah Pandemi Covid 19 Untuk dapat mengidentifikasi kebutuhan informasi kepada masyarakat temtiah tidak semtiah apa yang kita bayangkan terlebih pada saat pandemi covid 19 yang masih menjadi momok menakutkan bagi setiap manusia di dunia terlebih di Indonesia yang sampai saat ini vakan virus tersebut belum juga ditemukan. Naka sudah menjadi suatu leewajhan bagi kita (Dosen, Guru, ASN, PPK dan Putsakawan) menjadi mediator penyamapain informasi kepada pengguna untuk dapat di akses baik secara tatap muka maupun secara daring (online). Dalam hai identifikasi kebutuhan informasi ini seorang pakar informasi Laloo beliau membagi identifikasi jenis kebutuhan informasi sebagai berikut: Conceptual information Emperical information aprocedural information Policy information Directive information 7 7 Setting dengan waktu akan kebutuhan informasi bagi sesorang untuk dapat memanfaatkan informasi dengan sebaik-balunya, maka akan didapatkan adanya jenis identifikasi informasi tersebut diatas. Devadson seorang ahli informasi menjelaskan ada tujuh langkah dalam memahami kebutuhan informasi antara lain sebagai berikut: Study of subject of interest to the organisation Study of the organisation and its environment Study of the immediate environment Study of the user Formal interview Identification and recording of information needs Analysis and refinement of the identified information needs 8 8 . Setelah adanya identifikasi informasi maka sesorang dapat menerima informasi yang disampalkan untuk dapat diterima sebagai pememukan kebutuhan sesuai dengan apa yang akan dilakukannya. Langkah utama dalam proses mengidentifikasi kebutuhan informasi adalah sebagai berikut: 1. Mengkaji subyeksubyek yang diperlukan pengguna maupun organisasi 2.Mengkaji organisasi dan lingkungannya 3. Mengkaji lingkungan pengguna Mengkaji pengguna Melakukan interview Mengidentifikasi dan mencatat kebutuhan informasi Menganalisa dan memurnikan identifikasi kebutuhan informasi.13 Pendapat di atas menjadi suatu training bagi insan manusia untuk memenuhi kebutuhan informasi yang diperlukannya terlebih dalam masa wabah pandemi covid 19 yang belum berakhir. Hal ini bila kita lihat dari pendapat Devadson tersebut bila diterapkan di civitas akademika IAIN Bengkulu maka dapat dianalogikan sebagai berikut: Kebutuhan informasi dalam bidang pekerjaan di IAIN Bengkulu walaupun dilakukan WFH (Work From Home) Kebutuhan informasi dalam bidang disiplin ilmu sesuai dengan mata kuliah yang diampu Dosen dan minat mahasiswa IAIN Bengkulu serta penerapan pembelajaran daring (Online) bagi mahasiswa yang dilakukan Dosen dan pustakawan melalui WFH (Work From Home) Kebutuhan informasi mengenai fasilitas yang tersedia di IAIN Bengkulu, WiFi, serta link tentang kegiatan perkuliahan. Kebutuhan informasi untuk mendukung posisi pada Civitas akademika di IAIN Bengkulu, adanya link siakad, link SWPB, Link Faktor-faktor motivasi pendorong dalam memenuhi kebutuhan informasi untuk membentuk suatu penemuan baru di IAIN Bengkulu Kebutuhan informasi untuk membuat suatu keputusan yang tepat di IAIN Bengkulu dan Kebutuhan informasi untuk mencari ide-ide baru di IAIN Bengkulu Kebutuhan informasi dalam mencari kebenaran tentang sesuatu masalah serta memberikan masukan yang profesional bagi kemajuan IAIN Bengkulu Dengan penjelasan di atas antara teori dan praktik yang menempatkan posisi dimana seseorang dapat melaksanakan kegiatan dalam pemenuhan kebutuhan informasi pada sebuah organisasi agar dapat berjalan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Hal inilah yang dapat menjadi suatu perhatian kita akan kebutuhan informasi yang sangat mempengaruhi dalam menggapai apa yang diinginkan dapat berjalan dengan baik sesuai apa yang menjadi suatu keharusan yang diinginkan oleh setiap insan manusia walaupun dalam kondisi apapun. Kebijakan yang diterapkan di Civitas akademika IAIN Bengkulu tetap melakukan pembelajaran sistem daring (Online) yang diterapkan kepada seluruh mahasiswa baik proses pembelajaran, bimbingan, penelitian maupun KKN yang menjadi kewajiban bagi seluruh civitas akademika sesuai dengan protokol kesehatan yang berlaku. Faktor Yang Mempengaruhi Kebutuhan Informasi DI Tengah Covid 19 Faktor yang paling umum mempengaruhi kebutuhan informasi adalah pekerjaan, termasuk kegiatan penelitian, disiplin ilmu yang diminati, kebiasaan dan lingkungan pekerjaan.14 Menurut pendapat Laloo, kebutuhan informasi adalah sesuatu yang sebenarnya dimiliki seseorang dalam melakukan pekerjaannya penelitian, pendidikan dan juga sebagai hiburan.15 Lain halnya dengan pendapat Devadson, menyatakan bahwa kebutuhan informasi tergantung pada kegiatan pekerjaan, disiplin ilmu, tersedianya berbagai fasilitas, jenjang jabatan individu, faktor motivasi terhadap kebutuhan informasi, kebutuhan untuk mengambil keputusan, kebutuhan untuk mencari gagasan baru, kebutuhan untuk mendapat informasi yang tepat, kebutuhan untuk memberi kontribusi yang professional, dan kebutuhan untuk melakukan penemuan baru.16 Ada lima faktor yang mempengaruhi kebutuhan informasi pemakai antara lain: a. Jenis pekerjaan b. Personalitas yaitu aspek psikologi dari pencari informasi, meliputi ketepatan, ketekunan mencari informasi pencarian secara sistematis, motivasi dan kemauan menerima informasi dari teman, kolega dan atasan c. Waktu, d. Akses yaitu menelusur informasi secara internal (di dalam organisasi) atau eksternal (di luar organisasi) dan e. Sumber daya teknologi yang digunakan untuk mencari informasi.17

Conclusion

Dari penjelasan beberapa pendapat para pakar di atas dapat ditatik suatu kesimpulkan bahwa sumber informasi merupakan segala macam informasi yang bias diavasi, dikendalikan, diolah dan dikelola oleh perpustakaan untuk seluruh pengguna yang ingin memennhi kebutuhanan baik informasi ilmiah maupun non ilmiah sedangkan pengguna informasi adalah mahasiswa, dosen, dokter, pengamat, masyarakat umum dan seluruh pengunjung perpustakaan IAN Bengkulu yang beruijuan untuk memperoleh informasi di targah wabah pandemi covid 19 dengan tetap menerapkan protokol kesehatan agar senantasa kita dalam lindunganNya untuk berikutitas menjalahkan tugas sebagaimana biasanya.