Upaya Program Studi Ilmu Perpustakaan dan Informasi Islam IAIN Curup dalam mewujudkan pustakawan profesional dan kompetitif menghadapi era 5.0
Institut Agama Islam Negeri Curup; Institut Agama Islam Negeri Curup; Institut Agama Islam Negeri Curup
Abstrak
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis bagaimana upaya Program Studi Ilmu Perpustakaan dan Informasi Islam IAIN Curup dalam mewujudkan Pustakawan yang Profesional dan kompetitif menghadapi era 5.0. jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Data dikumpulkan dengan tehnik observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Prodi IPII memiliki beberapa kekuatan, seperti kurikulum yang adaptif dengan kemajuan zaman, dosen yang berkompeten dan berdedikasi, serta berbagai program pengembangan kompetensi mahasiswa. Namun, terdapat juga kelemahan yang perlu diperbaiki, seperti integrasi keislaman dalam kurikulum dan penguasaan teknologi informasi oleh semua dosen. Peluang yang dapat dimanfaatkan oleh prodi meliputi kebutuhan pustakawan di Kabupaten Rejang Lebong dan dukungan standar nasional perpustakaan sekolah/madrasah. Tantangan utama yang dihadapi adalah adaptasi terhadap perkembangan teknologi dan memenuhi kebutuhan masyarakat akan informasi di era digital Program Studi Ilmu Perpustakaan dan Informasi Islam IAIN Curup berupaya mewujudkan pustakawan yang profesional dan kompetitif di era 5.0 melalui beberapa strategi berikut: 1) Pengembangan Kurikulum; 2) Peningkatan Kompetensi Dosen dan Mahasiswa; 3) Penanaman Nilai-nilai Karakter; 4) Peningkatan Kualitas Pembelajaran; 5) Pengembangan Jaringan Kerjasama; 6) Peningkatan Publikasi Ilmiah; dan 7) Peningkatan Fasilitas dan Infrastruktur.
Abstract
The purpose of this study is to analyze the efforts of the Islamic Library and Information Science Program (Prodi IPII) at IAIN Curup in creating professional and competitive librarians for the era of 5.0. This research is descriptive and qualitative. Data was collected through observation, interviews, and documentation. The findings show that Prodi IPII has several strengths, such as an adaptive curriculum in line with current advancements, competent and dedicated lecturers, and various student competence development programs. However, there are also weaknesses that need to be addressed, such as integrating Islamic values into the curriculum and ensuring all lecturers are proficient in information technology. Opportunities for the program include the need for librarians in Rejang Lebong Regency and support from national standards for school/madrasah libraries. The main challenges are adapting to technological developments and meeting the public's information needs in the digital era. To achieve professional and competitive librarians in the era of 5.0, the Islamic Library and Information Science Program at IAIN Curup implements several strategies: 1) Curriculum Development, 2) Improving Competence of Lecturers and Students, 3) Instilling Character Values, 4) Enhancing the Quality of Learning, 5) Developing Cooperation Networks, 6) Increasing Scientific Publications, and 7) Improving Facilities and Infrastructure.
Keywords:
Professional Librarians
· Competitive
· Prodi IPII IAIN Curup
· Society 5.0
· Library Education
· Digital Transformation
Introduction
Di era digital yang terus berkembang, perpustakaan dan pustakawan menghadapi tantangan besar untuk tetap relevan dan kompetitif. Era Society 5.0, yang mengintegrasikan manusia dan teknologi, menuntut pustakawan memiliki keterampilan teknis dan kemampuan beradaptasi dengan perubahan cepat dalam teknologi dan sosial. Program Studi Ilmu Perpustakaan dan Informasi Islam (IPII) di IAIN Curup memahami peran penting pustakawan di era ini dan berupaya mengembangkan kurikulum yang tidak hanya menekankan ilmu kepustakawanan tetapi juga mengintegrasikan nilai-nilai Islam dan kemajuan teknologi. Pengembangan kurikulum yang adaptif dan relevan adalah strategi penting dalam menciptakan pustakawan kompetitif di era 5.0. Perpustakaan di era ini tidak hanya berfungsi sebagai penyedia informasi, tetapi juga sebagai pusat pembelajaran interaktif dan kolaboratif. Selain itu, Susanto (2019) menegaskan bahwa peningkatan kompetensi dosen dan mahasiswa melalui pelatihan dan workshop sangat penting untuk menghadapi tantangan era digital. Dosen yang berkompeten akan mampu membimbing mahasiswa dalam mengembangkan keterampilan yang dibutuhkan di dunia kerja. Program Studi IPII IAIN Curup juga menekankan pentingnya nilai-nilai karakter seperti tanggung jawab, kejujuran, dan disiplin dalam membentuk pustakawan yang profesional dan berintegritas tinggi. Untuk mengatasi berbagai kelemahan dan tantangan, Prodi IPII telah mengimplementasikan berbagai strategi, termasuk peningkatan kompetensi pedagogik dosen, pengembangan bahan ajar inovatif, serta memperluas kerjasama dengan berbagai institusi. Upaya-upaya ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas pendidikan dan menghasilkan lulusan yang siap bersaing di era global. Sebagai satu-satunya program studi ilmu perpustakaan di IAIN Curup, Prodi IPII memiliki tanggung jawab besar dalam menyediakan pendidikan yang sesuai dengan tuntutan zaman. Di Kabupaten Rejang Lebong, kebutuhan akan pustakawan profesional sangat mendesak, terutama untuk meningkatkan akreditasi sekolah. Berdasarkan data Dapodik 2022, terdapat 410 sekolah (mulai jenjang pendidikan TK sampai SMA) di Kabupaten Rejang Lebong yang memerlukan pustakawan profesional, mencerminkan tingginya kebutuhan lulusan ilmu perpustakaan tidak hanya di daerah tersebut tetapi juga di seluruh Indonesia. Untuk memenuhi kebutuhan ini, Prodi IPII IAIN Curup berkomitmen untuk menghasilkan pustakawan yang profesional dan kompetitif melalui pengembangan kurikulum adaptif, peningkatan kompetensi dosen dan mahasiswa, serta perluasan jaringan kerjasama. Upaya ini diharapkan dapat menghasilkan pustakawan yang mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan memenuhi kebutuhan masyarakat akan informasi di era digital. Berbagai penelitian terdahulu telah dilakukan untuk memahami tantangan dan peluang dalam pendidikan perpustakaan dan informasi. Misalnya, penelitian oleh Wiwin Arbaini Wahyuningsih dan Mutia mengkaji tantangan, harapan, dan peluang Program Studi Tadris Matematika IAIN Curup dalam mewujudkan guru matematika yang Islami, profesional, dan kompetitif. Berdasarkan analisis SWOT, penelitian ini menyimpulkan bahwa meskipun prodi memiliki kekuatan sebagai satu-satunya program studi matematika di Rejang Lebong, masih terdapat kekurangan seperti rendahnya minat masyarakat dan kurangnya dosen bergelar doktor (Mutia Mutia, 2019). Penelitian lain oleh Moh. Agung Rokhimawan menganalisis kurikulum Program Studi PGMI UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan menemukan bahwa lulusan PGMI memiliki tingkat penyerap yang tinggi di dunia kerja. Namun, penelitian ini juga menyoroti pentingnya penguatan basis keilmuan dan pengembangan bahan ajar untuk meningkatkan kualitas lulusan (Rokhimawan, 2015). Penelitian oleh Endang Sri Budi Herawati et al. menggunakan analisis SWOT untuk mengkaji perencanaan strategis Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) FKIP UNU Cirebon. Penelitian ini menyimpulkan bahwa meskipun keadaan prodi cukup baik, masih terdapat hambatan seperti kurangnya sumber daya manusia (dosen dan tenaga kependidikan), yang perlu diatasi melalui peningkatan mutu akademik dan pelaksanaan kegiatan Tri Dharma Perguruan Tinggi (Endang Sri Budi Herawat. and Rusi Rusmiati Aliyyah, 2020). Di luar konteks pendidikan perpustakaan, penelitian oleh Srivastava et al. di India menggunakan analisis SWOT untuk mengevaluasi pengelolaan sampah kota di Lucknow. Penelitian ini menunjukkan pentingnya partisipasi masyarakat dalam meningkatkan pengelolaan sampah kota dan menekankan bahwa ancaman dapat diubah menjadi peluang melalui strategi yang tepat (P.K. Srivastava et al, 2005). Penelitian oleh Razmjoo dan Nouhi mengevaluasi program bahasa Inggris di sekolah menengah pertama di Iran menggunakan analisis SWOT. Mereka menyimpulkan bahwa program ini menghadapi lebih banyak kelemahan dan ancaman daripada kekuatan dan peluang, dan menawarkan strategi untuk meningkatkan program berdasarkan temuan mereka (Seyyed Ayatollah Razmjoo, 2014). Dalam konteks perpustakaan dan informasi, kajian literatur oleh Srivastava et al. tentang profesionalisme di perpustakaan akademik di Nigeria menunjukkan tantangan yang dihadapi profesional di bidang ini, seperti kurangnya dana untuk pengembangan profesional dan keterbatasan fasilitas internet. Kajian ini menekankan pentingnya mengatasi tantangan ini untuk meningkatkan profesionalisme di bidang perpustakaan dan informasi. Berdasarkan berbagai kajian literatur ini, penelitian di bidang ilmu perpustakaan dan informasi yang dilakukan oleh Prodi IPII IAIN Curup akan lebih menekankan pada tantangan dan peluang dalam menghadapi era Society 5.0. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis upaya yang dilakukan oleh Prodi IPII dalam mengatasi kelemahan, mengantisipasi tantangan, dan memanfaatkan peluang untuk menghasilkan pustakawan yang profesional dan kompetitif di era digital. Dengan komitmen untuk mengembangkan pendidikan yang holistik dan integratif, Prodi IPII IAIN Curup berupaya untuk menghasilkan lulusan yang tidak hanya menguasai ilmu perpustakaan tetapi juga mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan memenuhi kebutuhan masyarakat akan informasi di era Society 5.0. B. TINJAUAN PUSTAKA Pustakawan Profesional dan Kompetitif Pustakawan adalah profesi yang diatur oleh Undang-undang No. 43 Tahun 2007. Pustakawan harus memiliki kompetensi yang diperoleh melalui pendidikan dan pelatihan khusus di bidang kepustakawanan, yang dibuktikan dengan ijazah atau sertifikat. Pustakawan bertanggung jawab untuk melaksanakan pengelolaan dan pelayanan perpustakaan, serta menjadi individu yang hidup dengan segala kegiatan yang berkaitan dengan perpustakaan (Purwono, 2013). Profesi pustakawan sejajar dengan profesi profesional lainnya seperti guru, dosen, dan dokter, yang dituntut untuk memberikan jasa dan pelayanan berkualitas kepada pemustaka, baik melalui peralatan manual maupun digital (Wiji Suwarno, 2010) dan (Putera Mustika, 2017). Profesionalisme Pustakawan Profesionalisme pustakawan tercermin dari tiga elemen utama: pengetahuan, pengalaman, dan keterampilan dalam mengelola pekerjaan di bidang kepustakawanan. Selain itu, pustakawan juga harus menguasai bidang-bidang lain yang mendukung optimalisasi kegiatan perpustakaan, seperti otomasi perpustakaan, penguasaan media sosial, dan organisasi informasi. Ciri-ciri profesionalisme pustakawan meliputi penghormatan terhadap kode etik, pengetahuan mendalam di bidangnya, tingkat kemandirian tinggi, kemampuan berkolaborasi, serta orientasi ke masa depan (Hartono, 2016). Menurut Sumardi (2013), konsep profesionalisme memiliki lima prinsip: afiliasi komunitas, kebutuhan untuk mandiri, keyakinan terhadap peraturan sendiri, dedikasi pada profesi, dan kewajiban sosial. Profesionalisme pustakawan juga mencakup kemampuan untuk terus mengembangkan keahlian dan kinerja yang berkualitas, serta memberikan kontribusi yang lebih besar kepada masyarakat pengguna perpustakaan (Endang Fatmawati, 2016). Kompetitif dan Pengembangan Pustakawan Kompetitif, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), adalah sifat yang berkaitan dengan kompetisi atau persaingan. Pustakawan harus memiliki daya saing untuk terus memperbaiki diri dan meningkatkan kualitas serta nilai tambah mereka. Penguasaan teknologi informasi menjadi krusial bagi pustakawan di era digital ini, terutama dalam konteks otomasi perpustakaan dan kemampuan pengolahan bahan pustaka. Manajemen sumber daya manusia yang baik, terorganisir, dan visioner sangat penting dalam mengelola perpustakaan di era modern. Pustakawan yang kompetitif dan selalu berkembang menjadi kunci keberhasilan perpustakaan dalam memberikan layanan yang berkualitas. Tanpa pustakawan yang kompeten, fasilitas dan infrastruktur yang baik tidak akan cukup untuk membawa kemajuan pada perpustakaan. Pustakawan di Era Society 5.0 Di era Society 5.0, pustakawan perlu memiliki keterampilan khusus untuk mengimbangi perkembangan zaman. Keterampilan yang dibutuhkan termasuk respons cepat terhadap perubahan, kemampuan komunikasi yang baik, pola pikir positif, serta kemampuan networking dengan profesi lain. Selain itu, pustakawan juga harus memiliki jiwa wirausaha untuk mengemas informasi yang dapat memberikan nilai tambah bagi pengguna perpustakaan (Tri Hardiningtyas, 2016). Pustakawan juga perlu memperkaya diri dengan soft skills, yang merupakan perilaku personal dan interpersonal yang penting untuk meningkatkan kinerja di era Society 5.0. Beberapa soft skills yang perlu dikembangkan meliputi: 1. Skill Pendengaran: Kemampuan mendengarkan dan menerima masukan, kritik, dan ide dari pemustaka. Pustakawan harus bijak dalam menghadapi berbagai karakter pemustaka dan mampu menyesuaikan diri dengan saran atau kritik yang disampaikan. 2. Skill Komunikasi: Pustakawan harus memiliki kemampuan komunikasi yang baik, efektif, ramah, dan mampu menjaga hubungan baik dengan pemustaka. Mereka juga harus memiliki pengetahuan yang luas dan keterampilan dalam menyampaikan informasi secara jelas dan dapat dipahami oleh pemustaka. 3. Skill Hubungan Masyarakat (Humas): Pustakawan perlu membangun jalinan kerja sama atau relasi dengan pemustaka, institusi, dan organisasi lainnya. Kolaborasi antar pustakawan, institusi, dan penyedia bahan pustaka diperlukan untuk meningkatkan kualitas layanan perpustakaan (Wiji Suwarno, 2013). Soft skills ini akan membantu pustakawan untuk lebih profesional di bidang perpustakaan dan menghadapi tantangan perkembangan zaman di era Society 5.0. Kemampuan komunikasi dan keterampilan interpersonal yang baik akan membantu pustakawan dalam melayani pemustaka dan menjaga hubungan yang harmonis dengan berbagai pihak yang terkait dengan operasional perpustakaan. Pustakawan profesional harus mampu menguasai berbagai keterampilan yang dibutuhkan untuk mengelola perpustakaan di era modern. Selain memiliki pengetahuan dan pengalaman di bidang kepustakawanan, mereka juga harus kompetitif dan terus berkembang untuk menghadapi perubahan zaman. Di era Society 5.0, pengembangan soft skills menjadi kunci bagi pustakawan untuk memberikan layanan yang lebih baik kepada pemustaka dan menjaga keberlanjutan perpustakaan sebagai sumber informasi yang relevan dan berkualitas. Dengan menggabungkan profesionalisme dan daya saing, pustakawan dapat berkontribusi secara signifikan dalam meningkatkan kualitas layanan perpustakaan dan memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat.
Method
Penelitian kualitatif, juga dikenal sebagai penelitian naturalistik atau alamiah, berfokus pada analisis fenomena sosial secara mendalam dengan mengandalkan berbagai teknik pendekatan untuk mengonfirmasi kebenaran data (Lexy J. Moleong, 2018). Penelitian ini bertujuan untuk memahami berbagai aspek subjektif dari perilaku objek melalui metode seperti wawancara mendalam dan observasi langsung. Penelitian yang dilakukan di Program Studi Ilmu Perpustakaan dan Informasi Islam, Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah IAIN Curup ini menggunakan data primer dan sekunder. Data primer diperoleh dari wawancara dengan ketua prodi, sekretaris prodi, dan beberapa informan lainnya. Data sekunder mencakup dokumen program studi seperti kebijakan dan dokumen kerjasama (Wiratna Sujarweni, 2019). Penelitian kualitatif ini menempatkan peneliti sebagai instrumen utama, yang bertanggung jawab untuk memperoleh informasi melalui ingatan, catatan, kamera, dan video. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Observasi dilakukan dengan berperan serta secara penuh, sementara wawancara bertujuan untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan dalam analisis data. Dokumentasi diperlukan untuk merinci kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman program studi (Lexy J. Moleong, 2018). Analisis data dalam penelitian ini melibatkan proses pengorganisasian data, sintesa, dan pembuatan kesimpulan. Teknik analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif kualitatif dan analisis SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threats). Analisis SWOT adalah metode perencanaan strategis yang digunakan untuk mengevaluasi faktor internal dan eksternal organisasi, yang bertujuan untuk memaksimalkan kekuatan dan peluang, serta meminimalkan kelemahan dan ancaman (M. R. N. Irawan, 2017). Uji keabsahan data dilakukan dengan uji kredibilitas, yang meliputi perpanjangan pengamatan, peningkatan ketekunan, triangulasi, dan penggunaan bahan referensi. Perpanjangan pengamatan melibatkan pengamatan kembali ke lapangan untuk menguji kredibilitas data. Meningkatkan ketekunan dilakukan melalui pengamatan yang cermat dan berkesinambungan. Triangulasi dilakukan dengan mengecek data dari berbagai sumber dan teknik, serta waktu yang berbeda. Penggunaan bahan referensi melibatkan dukungan bukti berupa rekaman wawancara dan foto-foto untuk memperkuat kredibilitas data yang ditemukan. Secara keseluruhan, penelitian ini menggunakan pendekatan yang sistematis untuk mengumpulkan, menganalisis, dan memvalidasi data dengan tujuan untuk memperoleh pemahaman yang mendalam tentang fenomena yang diteliti. Dengan analisis SWOT, penelitian ini berusaha untuk mengidentifikasi faktor-faktor penting yang dapat mempengaruhi perkembangan organisasi dan menyusun strategi yang efektif untuk memanfaatkan kekuatan dan peluang, sambil mengatasi kelemahan dan ancaman (Alan Sarsby, 2016).
Result & Discussion
Hasil penelitian ini didapatkan dari: 1) observasi untuk mengetahui kelemahan, kekuatan, peluang dan ancaman tentang prodi Ilmu Perpustakaan dan Informasi Islam IAIN Curup dalam mewujudkan pustakawan yang profesional dan kompetitif; 2) wawancara dengan Ketua Prodi Ilmu Perpustakaan dan Informasi Islam itu sendiri yang berperan sebagai informan utama, wakil Dekan I Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah, sekretaris prodi Ilmu Perpustakaan dan Informasi Islam, dosen-dosen Ilmu Perpustakaan dan Informasi Islam IAIN Curup, alumni Prodi Ilmu Perpustakaan dan Informasi Islam IAIN Curup, serta 3) dokumentasi berupa Kurikulum Kerangka Kualifikasi Nasional (KKNI) Prodi Ilmu Perpustakaan dan Informasi Islam IAIN Curup Tahun 2022-2023, keterbutuhan dosen-dosen di Prodi Ilmu Perpustakaan dan Informasi Islam IAIN Curup, serta dokumentasi lainnya yang kemudian dianalisis secara deskriptif kualitatif menggunakan SWOT. Penelitian ini menggunakan metode observasi, wawancara, dan dokumentasi untuk menganalisis kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman yang dihadapi oleh Program Studi Ilmu Perpustakaan dan Informasi Islam (IPII) IAIN Curup dalam mencetak pustakawan yang profesional dan kompetitif. Informasi diperoleh melalui wawancara dengan beberapa pihak, termasuk Ketua Program Studi IPII, Wakil Dekan I Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah, serta dosen dan alumni. Selain itu, dokumentasi berupa kurikulum dan data dosen turut dianalisis dengan pendekatan SWOT. Profil Program Studi Ilmu Perpustakaan dan Informasi Islam IAIN Curup Program Studi Ilmu Perpustakaan dan Informasi Islam didirikan pada tahun 2017 dan merupakan bagian dari IAIN Curup. Prodi ini memiliki visi untuk menjadi program studi yang profesional berbasis keislaman yang bersikap moderasi dan mampu bersaing di tingkat nasional dan internasional. Misinya mencakup penyelenggaraan pendidikan berkualitas, pengembangan penelitian, pelaksanaan pengabdian kepada masyarakat, dukungan terhadap perkembangan perguruan tinggi induk, dan kerja sama dengan lembaga terkait. Tata Pamong, Kepemimpinan, Sistem Pengelolaan, dan Sistem Informasi Tata Pamong Tata pamong yang baik merupakan faktor penting dalam menjalankan misi program studi. Sistem tata pamong dipimpin oleh Ketua Program Studi yang didukung oleh sekretaris. Sejak berdiri pada tahun 2017, tata pamong telah mengalami perkembangan, mulai dari koordinasi kegiatan akademik hingga evaluasi kinerja dosen. Kepemimpinan Kepemimpinan di Program Studi Ilmu Perpustakaan dan Informasi Islam menekankan pada keharmonisan antar civitas akademika, koordinasi operasional, serta pemberdayaan sumber daya untuk mencapai visi dan misi. Program studi ini juga aktif dalam kerjasama dengan institusi lain, baik dalam bidang pendidikan maupun nonpendidikan. Sistem Pengelolaan Sistem pengelolaan prodi mencakup pembagian tugas, pengembangan tenaga akademik, serta monitoring dan evaluasi kinerja. Prodi ini bertanggung jawab langsung kepada Wakil Dekan I dan berpedoman pada buku dan kalender akademik. Sistem Informasi Program studi ini menggunakan teknologi informasi sejak awal berdiri dengan sistem yang disebut SITRA (Sistem Informasi Terintegrasi Akademik). Sistem ini memudahkan administrasi akademik, pencatatan data, serta akses informasi oleh dosen dan mahasiswa Mahasiswa dan Lulusan Mahasiswa Penerimaan mahasiswa baru dilakukan melalui beberapa jalur seperti SPAN-PTKIN, UM-PTKIN, dan Mandiri. Meskipun jumlah pendaftar masih rendah, terutama pada tahun 2018 dengan hanya 14 mahasiswa, program studi terus berupaya meningkatkan minat dengan berbagai kegiatan akademik dan non-akademik. Mahasiswa juga aktif dalam kegiatan organisasi dan kolaborasi dengan program studi. Diagram 1 Perkembangan Penerimaan Mahasiswa Baru Prodi IPII dari tahun 2018 s.d 2023 Berdasarkan diagram di atas, tahun 2019 merupakan jumlah penerimaan mahasiswa terbanyak yaitu 53 orang mahasiswa baru. Kemudian jumlah penerimaan paling sedikit terjadi pada tahun 2021 yaitu 15 orang mahasiswa. Adapun salah satu penyebab rendahnya minat siswa untuk melanjutkan kuliah di Prodi Ilmu Perpustakaan dan Informasi Islam adalah karena kurangnya informasi tentang keberadaan program studi ini di sekolah-sekolah Rejang Lebong, Kepahiang, dan sekitarnya seperti yang disampaikan oleh pengelola perpustakaan di SMAN/MAN Kepahiang dan Kepala Perpustakaan SMAN 1 Rejang Lebong bahwa akibat ketidaktahuan siswa tentang jurusan Ilmu Perpustakaan di IAIN Curup, mereka mengambil jurusan Ilmu Perpustakaan di perguruan tinggi di Bengkulu seperti di UNIB, dan perguruan tinggi lain di luar Bengkulu. Selain itu, banyak juga mahasiswa yang tidak mengetahui prospek masa depan lulusan Prodi Ilmu Perpustakaan dan Informasi Islam itu seperti apa. Lulusan Lulusan Program Studi Ilmu Perpustakaan dan Informasi Islam diharapkan memiliki kompetensi kepustakawanan yang profesional dan kompetitif, serta mampu beradaptasi dengan era informasi yang berkembang pesat. Pendapat dari pihak luar, seperti Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Rejang Lebong, menunjukkan apresiasi terhadap lulusan program studi ini. Lulusan juga diharapkan mampu menjawab tantangan era informasi dan memiliki kemampuan literasi serta High Order Thinking Skills (HOTS). Sumber Daya Manusia Prodi ini memiliki empat dosen PNS dengan kualifikasi S2 ilmu perpustakaan dan dua dosen PNS dengan kualifikasi S2 teknologi informasi. Selain itu, ada 14 dosen non PNS yang berperan dalam mengajar, dengan rasio dosen dan mahasiswa yang cukup baik. Meskipun prodi ini masih kekurangan staff administrasi khusus, dosen-dosen yang ada aktif dalam berbagai kegiatan penelitian, pengabdian masyarakat, dan publikasi ilmiah. Dosen juga terlibat dalam organisasi profesi dan kegiatan seminar ilmiah di tingkat nasional maupun internasional. Secara keseluruhan, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Program Studi Ilmu Perpustakaan dan Informasi Islam IAIN Curup memiliki potensi besar untuk mencetak pustakawan yang profesional dan kompetitif. Namun, tantangan seperti kurangnya informasi tentang prodi ini di kalangan calon mahasiswa dan rendahnya minat pendaftar perlu diatasi untuk mencapai visi dan misi yang telah ditetapkan. Analisis SWOT Prodi Ilmu Perpustakaan dan Informasi Islam dalam Mewujudkan Pustakawan yang Profesional dan Kompetitif Adapun kekuatan dan kelemahan yang dimiliki Prodi Ilmu Perpustakaan dan Informasi Islam dalam mewujudkan pustakawan yang profesional dan kompetitif adalah sebagai berikut: Kekuatan Kelemahan Prodi IPII telah memiliki mata kuliah yang menunjang profesionalitas Muatan kurikulum mata kuliah keilmuan prodi ilmu perpustakaan belum terintegrasi sesuai perkembangan zaman Dosen-dosen Prodi IPII selalu bertanggung jawab dan melaksanakan tugas dengan baik dan ikhlas baik. Belum semua dosen melakukan perkuliahan secara profesional Selama menyampaikan materi, dosen selalu menyampaikan materi dengan sungguhsungguh dan sesuai dengan silabus Belum semua dosen menghubungkan tema yang disampaikan dengan muatan-muatan profesionalitas di era 5.0 Dosen-dosen selalu memberikan keteladanan kepada mahasiswa seperti dalam hal penggunaan teknologi dan profesionalitas dalam perkuliahan Belum semua dosen menguasai TIK dengan baik Dosen-dosen selalu berupaya meningkatkan kompetensi keilmuannya dengan melakukan berbagai kegiatan penelitian dan pengabdian Masih kurangnya minat dosen melakukan kegiatan penelitian, pengabdian dan publikasi ilmiah. Dosen selalu memberikan penilaian hasil evaluasi belajar dan bertindak seobjektif mungkin Belum semua dosen melakukan pengembangan bahan ajar Dosen-dosen selalu menjadi contoh yang baik bagi mahasiswa seperti tidak menghardik, tidak menghina, tidak mencaci dan lain sebagainya Dosen-dosen selalu bersikap ramah, senyum, mengucapkan salam, dan menjalin komunikasi yang baik dengan mahasiswa Dosen-dosen sudah menguasai materi, struktur, konsep dan pola pikir keilmuannya serta telah menguasai standar kompetensi dan kompetensi dasar mata kuliah yang diampuh. Dengan adanya kekuatan dan kelemahan tersebut, maka dapat menjadi peluang bagi mahasiswa dalam mewujudkan pustakawan yang profesional dan kompetitif, sebab mahasiswa adalah calon pustakawan yang dicetak oleh prodi Ilmu Perpustakaan dan Informasi Islam. Dengan adanya kekuatan-kekuatan tersebut maka dapat mengatasi kelemahan-kelemahan yang ada. Untuk mewujudkan pustakawan yang profesional dan kompetitif, Prodi Ilmu Perpustakaan dan Informasi Islam melakukan strategi-strategi baik secara internal maupun eksternal dengan berkoordinasi dengan pemerintah daerah, perpustakaan-perpustakaan sekolah, dinas perpustakaan dan arsip daerah, dinas pendidikan dan kebudayaan, kementerian agama, dan institusi-institusi lainnya. Berikut strategi-strategi yang dilakukan prodi untuk mengatasi kelemahan, mengantisipasi tantangan, dan mewujudkan sebuah peluang Prodi Ilmu Perpustakaan dan Informasi Islam dalam mewujudkan pustakawan yang profesional dan kompetitif dalam menghadapi era 5.0. Upaya Program Studi Ilmu Perpustakaan dan Informasi Islam IAIN Curup Menghadapi Era Society 5.0 Untuk mewujudkan visi dan misi dan tujuannya, pengembangan dan pengelolaan Prodi Ilmu Perpustakaan dan Informasi Islam IAIN Curup bersifat adaptif, kompetitif, berorientasi pada mahasiswa, dan mengacu pada indikator kinerja dengan memperhatikan mutu, otonomi, akuntabilitas, akreditasi, serta evaluasi sesuai dengan kekinian stakeholder internal maupun eksternal. Dengan paradigma adaptasi, struktur kelembagaan, program akademik dan pola pengelolaan Program Studi Ilmu Perpustakaan dan Informasi Islam IAIN Curup secara terus menerus dievaluasi, direvisi, dan disesuaikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta tautan masyarakat dan dunia profesi, agar menjadi lembaga pendidikan tinggi yang responsif dan mampu melahirkan lulusan yang bermutu, profesional, dan dapat diserap oleh lapangan kerja. Dengan paradigma kompetisi, kapasitas berkembang (capasity building) Prodi Ilmu Perpustakaan dan Informasi Islam IAIN Curup secara terus menerus ditingkatkan agar mampu mengoptimalkan kekuatan (strength) meminimalisasi kelemahan (weakness) merespon tantangan (chellenge), mengenal kompetitor (competition), membaca dan menciptakan peluang (opportunity) dan mengembangkan tolak ukur (benchmark) mutu program. Dengan paradigma kolaborasi, pengelolaan Prodi Ilmu Perpustakaan dan Informasi Islam IAIN Curup berbasis pada kerja tim (team work), kebersamaan (togetherness), kerjasama (cooperation), dan kemitraan (partnership) dengan lembaga-lembaga yang relevan di tingkat lokal, nasional, dan internasional. Sejalan dengan paradigma di atas, prodi Ilmu Perpustakaan dan Informasi Islam IAIN Curup dalam jangka waktu 10 tahun ke depan diarahkan pada peningkatan kompetensi pustakawan, penelitian, peningkatan kerjasama dengan lembaga lain, sekolah, dan masyarakat, pelaksanaan akreditasi, penyusunan pedoman akademik, dan peningkatan kemampuan evaluasi diri. Program Studi Ilmu Perpustakaan dan Informasi Islam IAIN Curup berupaya mewujudkan pustakawan yang profesional dan kompetitif di era 5.0 melalui beberapa strategi berikut: 1. Pengembangan Kurikulum: a. Menyusun kurikulum yang terintegrasi dengan nilai-nilai keislaman dan perkembangan teknologi terkini, sehingga relevan dengan kebutuhan era 5.0. b. Mengembangkan bahan ajar yang sesuai dengan perkembangan zaman dan menghubungkannya dengan era 5.0. 2. Peningkatan Kompetensi Dosen dan Mahasiswa: a. Mengadakan pelatihan dan workshop bagi dosen tentang penggunaan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) serta penulisan bahan ajar. b. Memberikan kesempatan kepada dosen untuk melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi serta mengikuti pelatihan, seminar nasional, dan internasional. Pada tahun 2023, ada satu orang dosen yang mengikuti pendidikan doktoral S3 di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, begitu juga pada tahun 2024 ini pun ada satu lagi dosen yang akan menempuh pendidikan doktoral di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. c. Melibatkan mahasiswa dalam kegiatan penelitian dan pengabdian masyarakat, serta mendorong partisipasi dalam berbagai kegiatan mahasiswa dan kompetisi. Hal ini pun sudah dilakukan dalam rentang waktu 4 (empat) tahun terakhir ini. 3. Penanaman Nilai-nilai Karakter: a. Menanamkan nilai-nilai karakter kepada mahasiswa seperti tanggung jawab, keikhlasan, kemandirian, kejujuran, dan disiplin. b. Memberikan keteladanan kepada mahasiswa dalam sikap dan perilaku sehari-hari. 4. Peningkatan Kualitas Pembelajaran: a. Menerapkan metode pembelajaran yang aktif, interaktif, menyenangkan, holistik, integratif, saintifik, kontekstual, tematik, efektif, kolaboratif, dan berpusat pada mahasiswa (Student Centered Learning). b. Menciptakan suasana perkuliahan yang penuh kehangatan dan menyenangkan. 5. Pengembangan Jaringan Kerjasama: a. Memperluas jaringan kerjasama dengan pemerintah daerah, sekolahsekolah, lembaga pendidikan, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Agama, dan institusi-institusi lainnya. b. Melakukan program pertukaran mahasiswa dan dosen dengan institusi lain untuk mengembangkan pengetahuan dan keterampilan. Hal ini sudah dilakukan dengan mengundang dosen tamu untuk memberikan perkuliahan di program studi ilmu perpustakaan dan informasi Islam IAIN Curup. Sebagai contoh, dosen UIN Batusangkar pernah menjadi dosen tamu di prodi ilmu perpustakaan IAIN Curup. Kemudian dosen Universitas Lancang Kuning Riau, dosen UIN Maliki Malang, dosen UIN Jakarta, dan dosen perguruan tinggi lainnya. Begitu juga dosen IAIN Curup juga menjadi dosen tamu pada perguruan tinggi lain yang ada program studi ilmu perpustakaannya. 6. Peningkatan Publikasi Ilmiah: a. Meningkatkan kemampuan publikasi ilmiah dosen dengan mengikuti workshop penulisan artikel internasional. b. Mendorong dosen untuk aktif dalam penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, serta mempublikasikan hasilnya. 7. Peningkatan Fasilitas dan Infrastruktur: a. Menyediakan fasilitas berbasis internet dan teknologi informasi untuk mendukung kegiatan pembelajaran dan penelitian. b. Memanfaatkan platform e-library untuk memudahkan akses informasi bagi dosen dan mahasiswa. Dengan menerapkan strategi-strategi tersebut, Program Studi Ilmu Perpustakaan dan Informasi Islam IAIN Curup berupaya untuk menghasilkan pustakawan yang profesional, islami, dan kompetitif di era 5.0, serta mampu bersaing di tingkat nasional dan internasional.
Conclusion
Program Studi Ilmu Perpustakaan dan Informasi Islam (Prodi IPII) IAIN Curup telah melakukan berbagai upaya untuk mewujudkan pustakawan yang profesional dan kompetitif dalam menghadapi era 5.0. Melalui penelitian deskriptif kualitatif, ditemukan bahwa prodi ini memiliki beberapa kekuatan, seperti kurikulum yang adaptif dengan kemajuan zaman, dosen yang kompeten dan berdedikasi, serta berbagai program pengembangan kompetensi mahasiswa. Namun, prodi ini juga memiliki kelemahan yang perlu diperbaiki, seperti integrasi nilai-nilai keislaman dalam kurikulum dan penguasaan teknologi informasi oleh semua dosen. Peluang yang dapat dimanfaatkan oleh Prodi IPII meliputi tingginya kebutuhan pustakawan di Kabupaten Rejang Lebong serta dukungan dari standar nasional perpustakaan sekolah/madrasah. Di sisi lain, tantangan utama yang dihadapi meliputi adaptasi terhadap perkembangan teknologi dan pemenuhan kebutuhan informasi masyarakat di era digital.