PEMANFAATAN MEDIA SOSIAL UNTUK MENUNJANG PEMBELAJARAN PADA MAHASISWA KEPERAWATAN GIGI POLTEKKES KEMENKES JAKARTA 1
Universitas YARSI; Universitas YARSI
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pemanfaatan media sosial dalam pencarian informasi kesehatan oleh mahasiswa Keperawatan Gigi Poltekkes Kemenkes Jakarta 1 untuk menunjang pembelajaran. Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah metode kuantitatif dengan jenis penelitian survei. Populasi berjumlah 81 mahasiswa dengan sampel sebanyak 45 orang yang diambil dengan teknik non-probability sampling yaitu teknik sampling insidental. Hasil penelitian menunjukkan: (1) media sosial yang sering digunakan untuk mencari informasi kesehatan adalah Google+ dengan persentase sebesar 46,6% ; (2) tujuan pencarian informasi kesehatan untuk menunjang materi kuliah yang telah disampaikan oleh dosen di kelas, dan menambah wawasan tentang kesehatan guna keperluan saat bekerja nanti dengan masing-masing persentase sebesar 19,8%; (3) rata-rata responden telah menggunakan media sosial 1-3 tahun atau persentase sebesar 46,7% dengan frekuensi penggunaan tidak menentu atau 84,4%, dan setiap kali menggunakan media sosial durasinya sekitar 30 menit sampai 1 jam atau 40,0%; (4) tempat yang sering digunakan untuk menggunakan media sosial adalah pada saat di rumah dan tempat kuliah dengan masing-masing persentase sebesar 44,4%; (5) alasan menggunakan media sosial untuk mencari informasi kesehatan karena media sosial mempunyai fitur yang beragam dan menarik dengan persentase 23,1%; dan (6) mata kuliah yang sering membuat para mahasiswa mencari informasi kesehatan di media sosial yaitu mikrobiologi, konservasi, media komunikasi dalam keperawatan gigi, dental material, anfisma dan orthodontic
Keywords:
Media sosial
· Informasi kesehatan
· Pembelajaran mahasiswa keperawatan
· Poltekkes Kemenkes Jakarta 1
Introduction
Pencarian terhadap informasi sangat penting karena informasi merupakan kebutuhan setiap manusia yang tidak dapat dipisahkan. Kebutuhan akan informasi seseorang muncul karena adanya suatu dorongan di mana seseorang menyadari bahwa pengetahuan yang ia miliki masih sangatlah kurang (Krikelas, 1983), sehingga ada keinginan untuk memenuhi informasi. Informasi yang dibutuhkan tentunya adalah informasi yang relevan, akurat, dan dapat digunakan untuk membantu menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi. Kebutuhan akan informasi tersebut mengakibatkan adanya pola perilaku setiap pengguna informasi dalam melakukan pencarian informasi. Perilaku informasi (information behaviour) merupakan perilaku manusia berkaitan dengan sumber dan saluran informasi, termasuk perilaku pencarian, dan penggunaan informasi secara aktif dan pasif (Widiyastuti, 2016). Sumber lain juga menyatakan bahwa perilaku informasi adalah suatu kegiatan yang berkaitan dengan tingkah laku seseorang dalam hal menemukan, mencari, dan menjawab setiap informasi yang dibutuhkannya (Kartika & Ulumi, 2012). Berbagai istilah dalam perilaku informasi pun muncul sesuai dengan konteksnya. Perilaku dalam pencarian informasi salah satunya diistilahkan sebagai information searching behavior. Menurut Wilson (2000), perilaku pencarian informasi adalah upaya pencarian informasi yang digunakan oleh pencari informasi ketika berinteraksi dengan sistem informasi. Dalam hal ini pengguna informasi dapat menggunakan era teknologi khususnya internet untuk memenuhi kebutuhan pencarian informasi yang dibutuhkan. Kemudian ada istilah perilaku penemuan informasi (information seeking behaviour) merupakan upaya menemukan informasi dengan tujuan tertentu sebagai akibat dari adanya kebutuhan untuk memenuhi tujuan tertentu. Dalam upaya ini, seseorang dapat saja berinteraksi dengan sistem informasi seperti surat kabar, majalah, perpustakaan, atau yang berbasis komputer (Wilson, 2000). Menurut Wilson (2000) dalam upaya penemuan informasi, seseorang bisa saja berinteraksi dengan sistem informasi manual, seperti surat kabar atau perpustakaan atau dengan sistem berbasis komputer, misalnya world wide web atau internet. Dalam model Wilson (1999), bahwa perilaku penemuan informasi berasal dari kebutuhan akan informasi oleh pengguna, dan respon terhadap kebutuhan tersebut menuntut pada sistem informasi seperti perpustakaan atau database, dan sumber informasi lainnya seperti textbook, handout, dosen, dan yang lainnya. Istilah lainnya adalah perilaku penggunaan informasi (information user behaviour), yang dapat diartikan sebagai beberapa tindakan fisik dan mental yang dilakukan seseorang ketika menggabungkan informasi yang ditemukannya dengan pengetahuan dasar yang dimilikinya (Widiyastuti, 2016). Pengguna sebagai objek utama dalam hal pencarian, penemuan, hingga penggunaan informasi. Salah satu kelompok pengguna yang mempunyai kebutuhan akan informasi adalah seorang mahasiswa. Kajian tentang kebutuhan informasi di kalangan mahasiswa banyak dilakukan, antara lain penelitian yang dilakukan oleh Fitriana Tjiptasari dan Madinatul M. R (2017) yang mengkaji kebutuhan informasi mahasiswa Fakultas Ilmu Pendidikan Perpustakaan Universitas Negeri Yogyakarta. Pada penelitian ini dinyatakan berbagai kebutuhan informasi para mahasiswa terdiri dari aksesibilitas perpustakaan, ketersediaan koleksi perpustakaan yang meliputi penyediaan koleksi buku umum dan referensi, tujuan pemustaka mendatangi perpustakaan, dan jenis informasi di perpustakaan yang dimanfaatkan oleh pemustaka. Kajian lainnya adalah mengenai kebutuhan dan perilaku pencarian informasi pada mahasiswa JIP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang dilakukan oleh Farhan Bukhori dan Tamara Adriani-Salim (2018). Dari penelitian Bukhori & Adriani-Salim (2018) ini dihasilkan bahwa kebutuhan informasi mahasiswa JIP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sebanyak 49 orang membutuhkan informasi untuk mengerjakan tugas yang diberikan oleh dosen. Sedangkan perilaku pencarian informasi mahasiswa JIP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta melalui enam tahapan yaitu starting (memulai), chaining (menemukan), browsing (penelusuran), differentiating (membedakan), monitoring (mengamati), dan extracting (mengidentifikasi). Dari dua kajian tersebut, dapat dilihat bahwa mahasiswa memiliki kebutuhan informasi terkait dengan tugas dan perannya sebagai mahasiswa yaitu untuk pemenuhan proses pembelajaran. Sebagai mahasiswa yang nantinya bekerja di bidang kesehatan, para mahasiswa Program Studi Keperawatan Gigi di Poltekkes Kemenkes Jakarta 1 juga membutuhkan informasi yang terkait kesehatan yang dapat mendukung proses pembelajaran mereka. Salah satu sumber informasi kesehatan dalam hal ini adalah berbagai informasi terkait kesehatan termasuk artikel ilmiah terkait kesehatan yang dapat digunakan para mahasiswa tersebut adalah media sosial, seperti yang disampaikan oleh Rosini & Nurningsih (2018) bahwa media sosial dapat dimanfaatkan untuk mencari informasi kesehatan. Hal ini disebabkan karena media sosial memungkinkan untuk berbagi dan bertukar informasi seperti yang disampaikan oleh Ahlqvist et al (2008) yang menyatakan media sosial sebagai interaksi sosial antara manusia dalam memproduksi, berbagi dan bertukar informasi. Hal ini mencakup gagasan dan berbagai konten dalam komunitas virtual (Ahlqvist et al., 2008). Sedangkan menurut Antony Mayfield (2008), media sosial adalah media di mana penggunanya dengan mudah dapat berpartisipasi di dalamnya, berbagi dan menciptakan pesan, termasuk blog, jejaring sosial, wiki/ensiklopedia online, forum-forum maya, termasuk virtual worlds (dengan avatar/karakter 3D). Sehingga melalui media sosial memungkinkan seorang pakar kesehatan berbagi informasi tentang kesehatan kepada semua pengguna media sosial, termasuk mahasiswa bidang kesehatan. Penelitian ini dilakukan untuk menjawab pertanyaan penelitian, yaitu: bagaimana para mahasiswa Poltekkes Kemenkes Jakarta 1 memanfaatkan media sosial dalam mencari informasi terkait kesehatan dalam rangka menunjang pembelajaran? Dengan demikian, maka penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran bagaimana pemanfaatan media sosial oleh para mahasiswa dari Program Studi Keperawatan Gigi di Poltekkes Kemenkes Jakarta 1 dalam melakukan pencarian informasi kesehatan guna menunjang pembelajaran
Method
Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah metode kuantitatif dengan jenis penelitian survei. Jenis penelitian ini dipilih karena peneliti menggunakan angket atau kuesioner yang disebarkan kepada para responden sebagai perlakuan dalam pengumpulan data (Sugiyono, 2016). Teknik pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan kuesioner. Daftar pertanyaan pada kuesioner dibuat secara terstruktur dengan bentuk pertanyaan pilihan ganda (multiple choice questions) dan pertanyaan terbuka (open question), serta pertanyaan tertutup. Untuk pertanyaan tertutup menggunakan skala likert dimulai dari sangat tidak setuju, tidak setuju, setuju, sangat setuju. Kemudian diberi skor mulai dari sangat tidak setuju skor 1, tidak setuju skor 2, setuju skor 3, sangat setuju skor 4. Instrumen kuesioner ini digunakan untuk memperoleh data tentang pemanfaatan media sosial dalam pencarian informasi kesehatan oleh mahasiswa keperawatan Poltekkes Kemenkes Jakarta 1 untuk menunjang pembelajaran. Pengumpulan data melalui kuesioner ini dilakukan pada bulan Juli–Agustus tahun 2017. Jumlah mahasiswa Program Studi Keperawatan Gigi Poltekkes Kemenkes Jakarta 1 pada saat penelitian dilaksanakan, yaitu tahun ajaran 2016-2017, terdapat 81 orang mahasiswa yang aktif, sehingga populasi dalam penelitian ini menjadi 81 orang. Dalam pengambilan sampel digunakan teknik non-probability sampling insidental. Menurut Sugiyono (2016), sampling insidental merupakan teknik penentuan sampel berdasarkan kebetulan, yaitu siapa saja yang secara kebetulan/insidental bertemu dengan peneliti dapat digunakan sebagai sampel bila dipandang orang yang kebetulan ditemui cocok sebagai sumber data. Untuk penentuan jumlah besaran sampel, digunakan rumus taro yamane, yaitu: n=N/(N .d²+1). Berdasarkan jumlah populasi 81 orang dengan tingkat kesalahan (d) sebesar 10% dan menggunakan rumus taro yamane, maka jumlah responden sebanyak 44,74 dibulatkan menjadi 45 responden n=N/(N .d²+1) = 81/(81×0,1²+1) = 81/(81×0,01+1) = 81/(0,81+1) = 81/1,81 n = 44,74 n = 45 responden Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode statistik deskriptif. Menurut Sugiyono (2016), pengertian metode statistik deskriptif adalah statistik yang digunakan untuk menganalisis data dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah terkumpul sebagaimana adanya tanpa bermaksud membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum atau generalisasi. Metode deskriptif digunakan penulis untuk menggambarkan hasil penelitian dalam menjawab perumusan masalah mengenai gambaran masing-masing variabel yang diteliti.
Result
Berdasarkan hasil penelitian ini yang mengambil 45 sampel mahasiswa keperawatan gigi di Poltekkes Jakarta 1 memperlihatkan data profil responden sebagai berikut. Dari Gambar 1 tersebut, terlihat mahasiswa yang menjadi responden terbanyak adalah mahasiswa semester 3 dengan jenis kelamin terbanyak adalah wanita. Tidak mengherankan jika wanita lebih dominan karena memang profesi perawat lebih banyak disandang oleh para wanita dibandingkan laki-laki. Sedangkan kelompok usia didominasi oleh kelompok 18-20 tahun. Data ini juga rasional karena usia tersebut memang rata-rata usia untuk menempuh pendidikan tinggi. Gambar 1 Biodata Responden Berdasarkan Kuliah, Jenis Kelamin, Dan Kelompok Usia Sumber: Data Olahan Peneliti, 2017 Gambaran pemanfaatan media sosial pada Mahasiswa Keperawatan Gigi Poltekkes Jakarta 1 berdasarkan jenis dan fitur media sosial yang sering digunakan adalah sebagai berikut: Tabel 1 Media Sosial Yang Sering Digunakan Media sosial Frekuensi Persentase (%) Google+ 21 46,6 Wikipedia 12 26,7 Instagram 8 17,8 Blog 4 8,9 Total 45 100,0 Sumber: Data Olahan Peneliti, 2017 Semua responden atau sebesar 100% mahasiswa keperawatan gigi di Poltekkes Jakarta 1 memiliki akun media sosial, dan pernah menemukan informasi kesehatan di media sosial, serta pernah menggunakan media sosial untuk mencari informasi kesehatan. Jenis media sosial yang sering digunakan untuk mencari informasi kesehatan adalah Google+, Wikipedia, Instagram, Blog. Google+ menduduki peringkat pertama, sebesar 46,6% (Tabel 1). Selain itu, diketahui pula pada saat menggunakan media sosial, terdapat 11 fitur yang pernah digunakan (Tabel 2). Fitur yang paling sering digunakan adalah mengunduh dan mengunggah file (PDF, slide, PowerPoint), sebesar 19.8%, Mengirim dan menerima pesan text (instant message) (17%), Berbagi links pengetahuan (post links) (11,7%). Tabel 2 Fitur Fitur-fitur yang pernah digunakan ketika mencari informasi kesehatan Fitur Frekuensi Persentase (%) Mengunduh dan mengunggah file (PDF, slide, PowerPoint) 27 19.8 Mengirim dan menerima Pesan text (instant message) 17 12,5 Berbagi links pengetahuan (post links) 16 11,7 Membuat kelompok belajar (group) 15 11 Menambah dan mengirim video (share video) 14 10,3 Menambah, edit, mengirim dan menge-tag foto/gambar (share foto) 13 9,5 Melakukan diskusi dengan kelompok (forum diskusi) 11 8,1 Berkomunikasi real-time (chatting) 9 6,6 Membuat acara pertemuan, rapat, belajar (event) 6 4,4 Membuat daftar tugas (to-do-list) 5 3,7 Mengatur kegiatan sehari-hari (Kalender) 3 2,2 Sumber: Data Olahan Peneliti, 2017 Dalam menjalankan perannya sebagai mahasiswa, penggunaan media sosial cukup sering digunakan untuk keperluan kuliah, yaitu sekitar 62% menjawab sering, sisanya sangat sering sebesar 20%, dan 17.8% jarang menggunakan media sosial untuk keperluan kuliah. Jumlah mata kuliah yang sering membuat para responden menggunakan media sosial untuk mencari informasi kesehatan terdapat sekitar 4-6 mata kuliah atau sebesar 37.8% (Tabel 3) dengan mata kuliah terbanyak adalah mikrobilogi sebesar 9,6% (Tabel 4). Tabel 3 Jumlah Mata Kuliah yang Sering Menggunakan Media Sosial Mata kuliah Frekuensi Persentase (%) 1-3 mata kuliah 13 28,9 4-6 mata kuliah 17 37,8 7-9 mata kuliah 8 17,8 10-12 mata kuliah 7 15,6 Total 45 100,0 Sumber: Data Olahan Peneliti, 2017 Tabel 4 Mata Kuliah yang Sering Menggunakan Media Sosial dalam Pencarian Informasi Kesehatan No. Daftar Mata kuliah Frekuensi Persentase (%) 1 Mikrobiologi 17 9,6 2 Konservasi (penambalan gigi), 15 8,5 3 Media komunikasi dalam keperawatan gigi 14 7,9 4 Dental material 12 6,8 5 Preventive dentistry 12 6,8 6 Anfisma 11 6,2 7 Orthodontic (pemasangan kawat gigi) 10 5,6 8 Pengendalian infeksi silang 9 5 9 Dental morfologi 8 4,5 10 PKG 8 4,5 11 Anatomi gigi 7 3,9 12 Konsep Dasar PAKGM 7 3,9 13 Pertolongan pertama dalam keperawatan gigi 7 3,9 14 Etika keperawatan gigi 6 3,4 15 Kebutuhan Dasar Manusia 6 3,4 16 Pelayanan asuhan gigi dan mulut 6 3,4 17 Anatomi dan fisiologi 5 2,8 18 Child management 5 2,8 19 Epidemiologi 5 2,8 20 Farmakologi 5 2,8 21 Asuransi kesehatan 2 1,1 Sumber: Data Olahan Peneliti, 2017 Dari 100% yang memiliki akun media sosial, responden bertujuan untuk menunjang atau menambah materi kuliah yang telah disampaikan oleh dosen di kelas dan untuk menambah wawasan tentang kesehatan dan menunjang materi kuliah (Tabel 5). Sedangkan alasan terbesar para responden menggunakan media sosial adalah fiturnya beragam dan menarik (23.1%), dan banyak memuat informasi kesehatan terbaru (20%). Selain itu dapat dilihat pada Tabel 6. Tabel 5 Tujuan Penggunaan Media Sosial No Tujuan Frekuensi Persentase (%) 1 Menunjang/menambah materi kuliah yang telah disampaikan oleh dosen di kelas 19 19,8 2 Menambah wawasan/pengetahuan tentang kesehatan guna keperluan saat bekerja nanti 19 19,8 3 Meng-update wawasan/pengetahuan saya tentang kesehatan untuk keperluan praktik kesehatan di kelas/kuliah 16 16,6 No Tujuan Frekuensi Persentase (%) 4 Sekedar mengetahui informasi kesehatan yang terkini/terbaru 16 16,6 5 Membuat tugas kuliah 13 13,5 6 Mengembangkan hobi/minat terhadap informasi kesehatan bidang tertentu 8 8,3 7 Membuat tugas akhir 5 5,2 Sumber: Data Olahan Peneliti, 2017 Tabel 6 Alasan Penggunaan Media Sosial dalam Mencari Informasi Kesehatan No Alasan Frekuensi Persentase (%) 1 Fiturnya beragam dan menarik 18 23,1 2 Banyak memuat informasi kesehatan terbaru 16 20 3 Keterbukaan dalam berkomunikasi 13 16,6 4 Kemudahan dalam penggunaanya 12 15,4 5 Keamanan dan privasi terjaga 7 9 6 Mudah mencari informasi kesehatan 6 7,7 7 Mayoritas teman menggunakannya 4 5 8 Mudah untuk berbagi informasi kesehatan (share link, forward) 2 2,6 Sumber: Data Olahan Peneliti, 2017 Dalam penggunaan media sosial, diketahui bahwa para mahasiswa Keperawatan Gigi Poltekkes Kemenkes Jakarta 1 telah menggunakan media sosial selama 1-3 tahun, atau sebesar 46.7% (Gambar 2). Sedangkan waktu yang dihabiskan untuk mencari informasi kesehatan di media sosial rata-rata setiap harinya, para responden menjawab “tidak menentu”, sebesar 84.4%. Sisanya sebesar 15.6% menggunakan media sosial setiap hari. Pada saat menggunakan media sosial, rata-rata mahasiswa menghabiskan waktu sekitar 30 menit - 1 jam (Gambar 2). Gambar 2 Tahun dan Durasi Penggunaan Media Sosial Sumber: Data Olahan Peneliti, 2017 Dari Tabel 7 dapat diketahui bahwa kebanyakan para responden menggunakan media sosial dalam pencarian informasi kesehatan pada saat berada di rumah dan tempat kuliah, terlihat dari 20 responden menggunakan media sosial untuk pencarian informasi kesehatan pada saat di rumah dan tempat kuliah masing-masing 44,4%. Tabel 7 Lokasi Penggunaan Media Sosial Tempat Frekuensi Persentase (%) Kuliah 20 44,4 Rumah 20 44,4 Di mana saja 2 4,4 Aktivitas luar 1 2,2 Di mana saja saat waktu luang 1 2,2 Tidak menentu 1 2,2 Total 45 100 Sumber: Data Olahan Peneliti, 2017 Dari hasil penelitian terlihat bahwa terdapat empat media sosial yang sering digunakan oleh para responden, yaitu Google+, Wikipedia, Instagram, dan Blog. Berdasarkan pendapat Sindang (2013) yang diperkuat oleh Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Republik Indonesia Nomor 83 Tahun 2012 tentang Pedoman Pemanfaatan Media Sosial Instansi Pemerintah (Menpan, 2012: 13), keempat media sosial tersebut masuk ke dalam kateori jenis media sosial: (1) Google+ dan Instagram masuk ke dalam kategori situs jejaring sosial yang yang menghimpun anggotanya berdasarkan kesamaan tertentu; seperti kesamaan minat, hobi, sekolah, asal-usul, dan profesi (Menpan, 2012); (2) Wikipedia masuk ke dalam kelompok wiki merupakan situs yang memungkinkan para pesertanya berkolaborasi menciptakan sebuah karya (Menpan, 2012) dan dapat menambahkan untuk mengedit informasi yang ada, dan dapat dikatakan bertindak sebagai dokumen komunal atau database informasi terminologi umum (Sindang, 2013); (3) blog merupakan situs yang mempublikasikan informasi, pemikiran, renungan, gagasan, pengalaman, atau produk dan layanan seseorang atau suatu lembaga (Menpan, 2012) dan lebih dikenal dengan personal diary dalam jaringan (online). Walaupun personal, akan tetapi bisa dibaca oleh pengguna umum (Sindang, 2013). Hasil penelitian ini juga berbeda dengan hasil riset (Pew Research Center, 2021) yang menunjukan bahwa Youtube, Facebook, dan Instagram merupakan 3 media sosial terbanyak yang digunakan selama 5 tahun terakhir (2018-2021). Sedangkan untuk fitur yang pernah digunakan pada media sosial pada saat melakukan pencarian informasi kesehatan, dari 11 fitur yang ada pada media sosial, semuanya pernah digunakan. Tiga Fitur yang paling sering digunakan adalah “Mengunduh dan mengunggah file (PDF, slide, powerpoint)” sebesar 19.8%, “Mengirim dan menerima Pesan text (instant message) (17%), “Berbagi links pengetahuan (post links)” (11,7%). Selebihnya “Membuat kelompok belajar (group)”, “menambah dan mengirim video (share video)”, “menambah, edit, mengirim dan menge-tag foto/gambar (share foto)”, “melakukan diskusi dengan kelompok (forum diskusi)”, “berkomunikasi real-time (chatting)”, “membuat acara pertemuan, rapat, belajar (event)”, “membuat daftar tugas (to-do-list)”, “mengatur kegiatan sehari-hari (kalender)”. Hal ini sesuai dengan pendapat Asman (2014) yang menyampaikan bahwa peranan media sosial bagi masyarakat, antara lain: (1) sebagai sarana diskusi dengan jangkauan yang luas; (2) media untuk bertukar informasi; (3) sebagai sarana berkomunikasi; (4) mempererat pertemanan dengan teman kuliah; (5) mendapat banyak informasi terbaru; (6) menambah wawasan; (7) tempat pembelajaran online; dan (8) mendengarkan dan belajar. Dalam menunjang proses pembelajaran, terdapat 1-12 mata kuliah yang menurut para responden seringkali membuat para responden melakukan pencarian informasi kesehatan menggunakan media sosial. Namun, ketika ditanyakan lebih lanjut mengenai nama mata kuliahnya, terdata ada 21 mata kuliah. Para responden mempunyai kebutuhan informasi untuk memenuhi tugasnya sebagai mahasiswa. Hal ini menjadi salah satu faktor pendorong adanya kebutuhan informasi, seperti yang disampaikan oleh Pannen (1990) yang mengatakan bahwa faktor yang paling umum mempengaruhi kebutuhan informasi adalah pekerjaan, termasuk kegiatan profesi, disiplin ilmu yang diminati, kebiasaan, dan lingkungan pekerjaan. Hal ini sependapat dengan Sulistyo-Basuki (2004) yang menyampaikan kebutuhan informasi salah satunya ditentukan oleh: latar belakang, motivasi, orientasi profesional, dan karakteristik masing masing pemakai. Setelah munculnya kebutuhan informasi dalam rangka memenuhi tugasnya sebagai mahasiswa, memicu terjadinya perilaku pencarian informasi, yaitu upaya yang dilakukan oleh seseorang untuk memenuhi kebutuhannya (Krikelas, 1983). Sebagai mahasiswa yang mempunyai kebutuhan untuk memenuhi tugasnya sebagai mahasiswa, yaitu proses pembelajaran, maka tidak heran tujuan pencarian informasi kesehatan di media sosial sangat relevan dengan okupasi tersebut, yaitu: “menunjang/menambah materi kuliah yang telah disampaikan oleh dosen di kelas”, “meng-update wawasan/pengetahuan saya tentang kesehatan untuk keperluan praktik kesehatan di kelas/kuliah”, “membuat tugas kuliah”, dan “membuat tugas akhir”. Media sosial yang banyak memberikan ragam manfaat bagi para penggunanya, membuat para mahasiswa pun memberikan alasan mengapa mereka menggunakan media sosial, yaitu: “fiturnya beragam dan menarik”, “banyak memuat informasi kesehatan terbaru”, “keterbukaan dalam berkomunikasi”, “kemudahan dalam penggunaanya”, “keamanan dan privasi terjaga” “mudah mencari informasi kesehatan”, “mayoritas teman menggunakannya”, “mudah untuk berbagi informasi kesehatan (share link, forward)”. Hal ini sesuai dengan fungsi atau peran media sosial dan alasan semakin bertambahnya para penggunanya, yaitu media sosial berfungsi sebagai tempat berkumpul dan bertemu oleh masyarakat saat ini dalam dunia maya. Bermacam-macam kegiatan yang dapat dilakukan oleh orang di media sosial ini, selain menjaga hubungan relasi juga dapat dijadikan sebagai tempat berbisnis (Asman et al., 2014). Lebih lanjut, Asman menyampaikan bahwa peran media sosial mendukung hasil penelitian ini yaitu: (1) sebagai sarana diskusi dengan jangkauan yang luas; (2) media untuk bertukar informasi; (3) sebagai sarana hiburan; (4) sebagai sarana berkomunikasi; (5) mempererat pertemanan dengan teman kuliah; (6) menjalin silaturahmi yang sudah lama putus; (7) mendapat banyak informasi terbaru; (8) menambah wawasan; (9) tempat pembelajaran online; dan (10) mendengarkan dan belajar. Penelitian ini menunjukan bahwa hampir setiap hari para responden menggunakan media sosial setiap hari untuk mencari informasi kesehatan meskipun lebih banyak responden yang menyatakan penggunan media sosial “tidak menentu” dengan durasi setiap kali menggunakan adalah 0.5 - 1 jam. Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan Pew Research Center (2021) yang menunjukan bahwa penggunaan media sosial lebih banyak yang “setiap hari” dibandingkan dengan yang “mingguan” atau yang “jarang menggunakan”
Conclusion
Media sosial merupakan istilah yang mengacu pada bentuk media yang melibatkan partisipasi interaktif (Manning, 2014) yang penggunaannya terus meningkat secara global setiap tahunnya termasuk di Indonesia. Dengan peningkatan penggunaan dan fasilitas yang diberikan media sosial semakin beragam, maka media sosial menjadi salah satu media favorit bagi setiap orang untuk melakukan berbagai kegiatan yang bersifat partisipatif interaktif, termasuk berbagi informasi yang terkait kesehatan, baik informasi ilmiah maupun populer. Tidak mengherankan jika media sosial dapat dimanfaatkan untuk pencarian informasi kesehatan, seperti yang dilakukan oleh para responden. Dalam pemenuhan berbagai kebutuhan informasi sebagai mahasiswa, maka pencarian informasi kesehatan yang dilakukan pada media sosial oleh para responden digunakan untuk menunjang pembelajarannya.