Kembali
16
1
2019 Visi Pustaka: Buletin Jaringan Informasi Antar Perpustakaan Vol 21 · 2 ISSN 2685-7138

ANALISIS SITIRAN TESIS PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR PROGRAM MAGISTER TEKNOLOGI INFORMASI UNTUK PERPUSTAKAAN TAHUN LULUS 2008-2018

Institut Pertanian Bogor; Institut Pertanian Bogor; Institut Pertanian Bogor

Abstrak

Penelitian ini mengkaji perilaku penelitian (research behavior) dari calon lulusan Program Magister Teknologi Informasi untuk Perpustakaan (MTIP), Departemen Ilmu Komputer Institut Pertanian Bogor yang berkaitan dengan komunikasi ilmiah di antara para peneliti. Kajian/ penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola sitiran karya ilmiah mahasiswa S2 MTIP IPB. Tesis mahasiswa MTIP IPB yang di kaji dari lulusan tahun 2008 sampai dengan 2018 berjumlah 66 tesis mahasiswa MTIP IPB. Analisa dilakukan terhadap: jumlah literatur, bahasa, jenis dokumen, dan tingkat keusangan literatur yang disitir. Kajian/penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitis dengan pendekatan kuantitatif melalui metode pengambilan data dokumentasi dan observasi. Analisis data statistik deskriptif menggunakan persentase, modus dan median. Data yang dianalisa adalah daftar pustaka pada setiap tesis calon lulusan MTIP. Jumlah artikel yang disitir selama 10 tahun sebanyak 2 039 judul dengan rata-rata setiap tesis menyitir sebanyak 31 literatur. Bahasa literatur yang disitir terbanyak adalah literatur berbahasa Inggris dengan perbandingan 53% berbahasa Inggris dan 47% berbahasa Indonesia. Jenis literatur yang paling banyak disitir adalah buku yaitu sebesar 37,49%, artikel jurnal sebesar 26,68%, artikel internet (web) sebesar 18,92%, literatur kelabu sebanyak 2,41%, prosiding sebanyak 2,21% dan jenis literatur lain-lain sebanyak 12,29. Sitiran literatur yang memiliki rentang waktu usia 0-10 tahun berjumlah 1445 (70,87%). Pengarang dengan jumlah paling banyak disitir adalah Sulistyo-Basuki yaitu sebanyak 38 sitiran. Paro hidup literatur yang disitir adalah 7 (tujuh) tahun.

Abstract

This study examines research behavior of candidate graduates of the Information Technology Masters Program for the Library (MTIP), Department of Computer Science, Bogor Agricultural University which deals with scientific communication among researchers. This study aims to determine the citation pattern of the scientific work of S2 MTIP IPB students. The thesis of MTIP IPB students examined from 2008 to 2018 totaled 66 theses of MTIP IPB students. Analysis was carried out on: the amount of literature, language, types of documents, and obsolescence of the cited literature. This study uses a descriptive analytical method with a quantitative approach through the method of taking documentation and observation data. Analysis of descriptive statistical data using percentages, mode and median. The data analyzed is the bibliography in each thesis of prospective graduates of MTIP. The number of articles cited for 10 years is 2 039 titles with an average of each citation thesis as much as 31 literature. The most cited literary language is English literature with a ratio of 53% in English and 47% in Indonesian. The most cited types of literature are books, namely 37.49%, journal articles at 26.68%, internet articles (web) at 18.92%, gray literature as much as 2.41%, proceedings as much as 2.21% and types other literature as much as 12.29. Citation of literature which has a time span of 0-10 years is 1445 (70.87%). The author with the most cited number is Sulistyo-Basuki which is 38 citations. The life cycle of the cited literature is 7 (seven) years.
Keywords: Analisis Sitiran · Paro hidup literatur · Keusangan literature

Introduction

Kita saat ini berada pada era “masyarakat berbasis pengetahuan” atau yang dikenal dengan knowledge based society. Masyarakat berbasis pengetahuan atau knowledge based society tersebut merupakan masyarakat yang menyadari kegunaan dan manfaat informasi sehingga aspek kehidupannya dipengaruhi oleh informasi. Masyarakat tersebut memiliki pengetahuan dan kemampuan untuk mengakses dan memanfaatkan informasi serta menjadikan informasi sebagai nilai tambah dalam peningkatan kualitas kehidupan. Menurut Drucker (1994): “Masyarakat berbasis pengetahuan pada umumnya Mempunyai ciri-ciri yaitu: mempunyai kemampuan akademik, berpikir kritis, berorientasi kepada pemecahan masalah, mempunyai kemampuan untuk belajar meninggalkan pemikiran yang lama-lama dan belajar lagi untuk hal-hal yang baru, serta mempunyai keterampilan pengembangan individu dan sosial (termasuk kepercayaan diri, motivasi, komitmen terhadap nilai-nilai moral dan etika, pengertian secara luas akan masyarakat dan dunia)”. Dalam masyarakat berbasis pengetahuan, maka informasi memegang peranan penting. Informasi menjadi suatu kebutuhan pokok selain sandang, pangan dan papan. Informasi menurut KBBI Daring didefinisikan sebagai “pemberitahuan; kabar atau berita tentang sesuatu” (Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, 2016). Di manapun kita berada, dalam situasi apapun, kita tidak bisa terlepas dari informasi. Informasi dapat diperoleh dari berbagai media baik cetak maupun elektronik atau bahkan dari seseorang. Informasi yang ada di sekitar kita, bisa merupakan informasi umum, tetapi bisa juga informasi ilmiah. Informasi yang diperoleh akan bermanfaat untuk menambah ilmu pengetahuan dan wawasan, memudahkan dalam menyelesaikan pekerjaan, dan memecahkan masalah. Terdapat dua jenis sumber informasi yaitu sumber informasi primer dan sumber informasi sekunder. Sumber informasi primer merupakan sumber informasi yang memuat informasi asli yang dapat dituangkan dalam bentuk kata, gambar, ataupun objek lainnya. Informasi yang terkandung dalam informasi primer sering kali tidak mengalami proses penyuntingan, sehingga informasi yang disajikan murni apa adanya. Dengan kata lain, sumber informasi primer merupakan sumber informasi yang tidak dilengkapi oleh penafsiran, evaluasi, analisis, peringkasan, atau berbagai jenis komentar dari penulis. Beberapa yang tergolong dalam sumber informasi primer adalah laporan penelitian, skripsi, tesis dan disertasi. Sedangkan sumber informasi sekunder adalah sumber informasi yang menyajikan penafsiran, analisis, penjelasan, ulasan dari penulis terhadap topik tertentu. Bisa juga dikatakan bahwa sumber informasi sekunder adalah reproduksi dari sumber informasi primer. Tesis yang tergolong sebagai informasi primer ini merupakan sebuah pernyataan atau teori yang dilandasi oleh berbagai macam argumen yang dinyatakan atau ditulis dalam bentuk karangan yang sengaja dibuat sebagai syarat menyelesaikan program pendidikan tingkat strata dua (magister) sehingga penulisnya layak dan berhak mendapatkan gelar sesuai dengan disiplin ilmu yang ditekuninya. Dalam penulisan tesis, penulis biasanya melakukan pengutipan atau menyitir informasi yang ada dalam karya tulis lain. Menyitir berasal dari kata sitir atau kutip, di mana kata kutip menurut KBBI Daring diartikan sebagai “mengambil sedikit atau memungut sedikit” (Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, 2016). Dengan demikian maka menyitir dapat diartikan sebagai mengambil sebagian kalimat dari sebuah sumber informasi. Sedangkan menurut (Wiradi, 2009) “tujuan mengutip adalah menekankan bagian tertentu dari uraian teori atau argumentasi yang dianggap penting atau khas”. Sebagaimana universitas pada umumnya, maka Sekolah Pascasarjana IPB juga memproduksi tesis sebagai syarat kelulusan bagi mahasiswanya. Salah satu program studi yang menghasilkan tesis adalah Program studi Magister Teknologi Informasi untuk Perpustakaan (MTIP) yang merupakan salah satu program studi di bawah Departemen Ilmu Komputer, Fakultas MIPA IPB. Di dalam menulis tesis, tentunya mahasiswa MTIP banyak menyitir atau mengutip berbagai literatur. Untuk mengetahui seberapa banyak sumber kutipan yang digunakan oleh mahasiswa MTIP di dalam menyusun tesisnya, maka kajian ini dilakukan. Referensi yang digunakan oleh mahasiswa MTIP untuk menyusun tesis diduga banyak jumlahnya. Jumlah tersebut berasal dari tahun terbaru sampai tahun terlama. Banyaknya jumlah referensi dari tahun yang bervariasi itu menyebabkan mahasiswa menggunakan referensi dari berbagai tahun. Ada yang menggunakan referensi dari tahun terbaru, namun banyak juga mahasiswa yang menggunakan referensi bertahun lama. Mahasiswa yang menggunakan referensi bertahun lama kemungkinan referensi untuk topik yang ditelitinya memang tidak banyak. Untuk mengetahui variasi dari penggunaan referensi yang disitir oleh mahasiswa MTIP, maka kajian ini dilakukan. Kajian/penelitian ini termasuk kajian bibliometrik yaitu penerapan metode statistika untuk mengkaji publikasi tesis mahasiswa MTIP. Kajian bibliometrik dalam kajian/penelitian ini tergolong pada bibliometrik evaluatif yaitu menghitung penggunaan literatur dan hitungan sitiran (Sulistyo-Basuki, 2002). Kajian/penelitian ini perlu dibatasi agar fokus kepada persoalan mengenai sitiran. Khususnya yang terjadi pada tesis mahasiswa MTIP. Masalah yang dibahas dalam kajian/penelitian ini adalah menganalisis sitiran tesis mahasiswa MTIP. Selain itu kajian ini mempelajari penggunaan referensi, khususnya dari aspek umur atau keusangan referensi. Tesis MTIP yang digunakan dalam kajian ini adalah tesis dari tahun 2008 sampai dengan 2018. Kajian ini bertujuan untuk: 1. Untuk mengetahui seberapa banyak sumber kutipan yang digunakan oleh mahasiswa MTIP di dalam menyusun tesisnya. 2. Untuk mengetahui literatur apa saja yang banyak disitir oleh mahasiswa MTIP. 3. Untuk mengetahui penulis yang paling banyak disitir oleh mahasiswa MTIP. 4. Untuk mengetahui keusangan (paro hidup) literatur yang disitir oleh mahasiswa MTIP. TINJAUAN PUSTAKA Setiap lembaga induk memiliki dokumen atau literatur yang hanya dimiliki organisasi itu sendiri. Salah satunya adalah perguruan tinggi yang menghasilkan dokumen berupa laporan penelitian, makalah, skripsi, tesis dan disertasi. Tesis merupakan produk ilmiah yang dihasilkan dari kegiatan penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa tingkat magister di perguruan tinggi. Pengertian Tesis Pengertian tesis menurut Setiawan (Setiawan, 2014) merupakan: “sebuah karya tulis ilmiah yang dibuat untuk mendapatkan gelar tertentu pada tingkat pendidikan perguruan tinggi. Tesis merupakan salah satu bukti yang menggambarkan tingkat kemampuan seseorang dalam sebuah disiplin ilmu tertentu. Semakin baik kualitas sebuah tesis yang dibuat, maka semakin terbukti pula kemampuan orang yang membuatnya dalam menguasai disiplin ilmu yang ditekuninya” Dalam beberapa publikasi lain tesis didefinisikan sebagai sebuah pernyataan atau teori yang dilandasi berbagai macam argumen dinyatakan ataupun ditulis dalam bentuk karangan, sengaja dibuat untuk bisa menyelesaikan program pendidikan di tingkat pendidikan tertentu sehingga penulisnya layak dan berhak untuk mendapatkan gelar sesuai dengan disiplin ilmu yang ditekuninya. Juga ditemukan definisi tesis sebagai sebuah karya tulis ilmiah yang dibuat untuk mendapatkan gelar tertentu pada tingkat pendidikan perguruan tinggi. Tesis adalah salah satu bukti yang menggambarkan tingkat kemampuan seseorang dalam disiplin ilmu tertentu. Semakin baik kualitas sebuah tesis yang dibuat, maka semakin terbukti kemampuan orang tersebut dalam menguasai disiplin ilmu yang ditekuninya. Ciri tesis dengan tingkat kepercayaan yang teruji adalah (1) tesis hanya terfokus pada salah satu disiplin ilmu saja, (2) tesis disusun dengan berlandaskan pengujian empirik, (3) tesis selalu menggunakan data primer dengan tambahan data sekunder sebagai pendukung dan pembanding, (4) tesis biasanya hanya terfokus pada salah satu isu sentral yang ada di dalam sebuah disiplin ilmu dalam sebuah pendidikan, (5) tesis cenderung dibuat mengikuti jenis program studi yang sedang ditempuh oleh mahasiswa yang menulisnya. Analisis Sitiran Analisis sitiran merupakan salah satu bidang kajian dalam bibliometrika. Analisis ini digunakan untuk menentukan berbagai kepentingan dan atau kebijakan tertentu. Di dalam sebuah tesis selalu terdapat daftar pustaka. Daftar pustaka ini merupakan daftar sitiran atau kutipan dari artikel atau tulisan yang dianggap perlu untuk mendukung karya ilmiah mahasiswa yang bersangkutan. Sitiran adalah bahasa Indonesia dari bahasa Inggris citation. Menurut Indonesian Oxford Living Dictionaries Online(Oxford University Press, 2019)Citation diartikan sebagai kutipan. Sedangkan kutipan menurut KBBI Daring (Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, 2016) memiliki dua arti yaitu (1) pungutan; petikan; nukilan; sitat; dan (2) pengambilalihan satu kalimat atau lebih dari karya tulisan lain untuk tujuan ilustrasi atau memperkokoh argumen dalam tulisan sendiri.Menurut Purnomowati “Sitiran dapat muncul dalam teks, catatan kaki, catatan akhir, bibliografi ataupun daftar referensi. Semakin banyak disitir sebuah dokumen, maka semakin berbobot dokumen tersebut”(Purnomowati, 2004). Sedangkan menurut(Hartinah, 2002) analisis sitiran “merupakan penyelidikan melalui data sitiran dari suatu dokumen baik itu dokumen yang disitir maupun yang menyitir. Dalam hal ini terdapat beberapa hal yang diselidiki yaitu pengarang, subyek, dan sumber dokumen lainnya seperti nama jurnal dan tahun terbitnya”. Terdapat dua cara dalam melakukan sitiran yaitu sitiran langsung dan tidak langsung. Sitiran merupakan semua kalimat atau paragraf yang tidak bersumber dari ide, pikiran atau tulisan penulis sebuah karya tulis. Umumnya seorang penulis mengambil pendapat, ide, analisa, argumen atau hasil penelitian penulis lain. Bagian yang diambil inilah yang disebut dengan sitiran. Sitiran dipakai dengan tujuan untuk mendukung argumen atau analisa penulis. Sitiran dapat diambil dari berbagai sumber, dapat berupa teks atau audio visual, berbentuk cetak atau elektronik, baik dokumen yang dipublikasikan maupun yang tidak dipublikasikan. Semua jenis dokumen bisa digunakan sebagai sitiran dan menjadi bagian dalam karya ilmiah penulis, untuk mendukung isi karya penulis. Setiap kali seorang penulis mengambil ide, tulisan, argumen, hasil penelitian dari penulis lain, penulis tersebut harus mencantumkan sumber sitiran dan sumber sitiran tersebut ditulis secara detail dalam daftar pustaka. Berdasarkan cara pengutipannya, sitiran diklasifikasikan menjadi 2 macam yaitu: (1) sitiran langsung; dan (2) sitiran tidak langsung. Sitiran langsung adalah pemakaian sitiran yang dilakukan penulis dengan cara menulis kembali pikiran atau pendapat atau ide atau gagasan orang lain sama persis dengan aslinya. Sedangkan, sitiran tidak langsung adalah pemakaian sitiran yang dilakukan penulis dengan cara mengambil pikiran atau ide atau gagasan atau pendapat orang lain, kemudian menyampaikan dalam karya penulis tersebut dengan kalimatnya sendiri sesuai dengan pemahamannya (American Psychological Association, 2010). Jenis Gaya Penulisan Sitiran Terkait dengan sitiran atau kutipan, beberapa organisasi mengeluarkan gaya atau model sitiran masing-masing yang disesuaikan dengan bidang kajiannya. Beberapa contoh model atau gaya sitiran yang ada adalah: 1. APA Styles. APA sendiri merupakan kependekan dari American Psychological Association, sehingga APA Styles merupakan salah satu bentuk sitiran yang dikeluarkan oleh organisasi APA terutama untuk bidang psikologi dan sosial. 2. MLA Styles. MLA merupakan kependekan dari Modern Language Association. MLA Styles merupakan satu bentuk sitiran yang dikeluarkan oleh MLA untuk sumber‐sumber penelitian. Model MLA ini dirancang sangat sederhana untuk mempermudah penulis dalam penyitiran. 3. Sistem Harvard. Sistem penulisan referensi Harvard membahas format untuk penulisan dan pengorganisasian sitiran dari materi sumber. Dalam sistem penulisan referensi Harvard, kutipan singkat terhadap sumber ditulis dalam kurung di dalam teks dari suatu artikel, dan kutipan lengkapnya dikumpulkan dalam urutan abjad di bawah judul "Referensi", "Daftar Rujukan", atau "Daftar Acuan" di bagian akhir. Kutipan di dalam teks ditempatkan di dalam kurung setelah kalimat atau bagiannya, diikuti tahun penerbitan, seperti (Smith 2005), dan nomor halaman bila diperlukan (Smith 2005, h. 1) atau (Smith 2005:1). Paro Hidup (Half Life) Literatur mempunyai umur hidup. Pada awal literatur diterbitkan maka isi atau konten dari literatur tersebut masih mutakhir (up-to-date). Namun semakin lama umur literatur tersebut maka informasinya akan semakin usang (out-ofdate). Keusangan literatur menurutSri Hartinah yang juga dikutip oleh Saleh dan Sumarni adalah penurunan penggunaan suatu literatur pada periode tertentu karena pada periode–periode tersebut usia dari literatur tersebut lebih tua. Sehingga, literatur tersebut dianggap sebagai literatur yang out of date dan tidak layak lagi digunakan sebagai bahan referensi (Saleh & Sumarni, 2016) (Hartinah S. , 2002). Selanjutnya untuk mengetahui paro hidup literatur di dalam suatu bidang Hartinah mengemukakan perlu dilakukan penghitungan paro hidup yang melewati beberapa tahap yaitu mengurutkan semua referensi yang dipergunakan oleh semua dokumen pada masing-masing bidang mulai dari yang tahun yang terbaru hingga yang terlama atau sebaliknya. Kemudian mencari median dari tahun yang telah diurutkan tersebut menjadi 2 kelompok yang sama yaitu masing-masing 50% (Hartinah, 2002). Jadi paro hidup (half-life) adalah suatu kajian serta tolak ukur yang digunakan sebagai landasan untuk mengindikasikan kekayaan dan kemiskinan informasi serta menunjukkan jangka waktu yang dibutuhkan oleh separuh literatur pada bidang tertentu yang disitir oleh literatur terakhir yang terpublikasikan. Apabila diketahui bahwa seorang peneliti dalam suatu bidang ilmu menggunakan literatur melebihi paro hidup dari keilmuan tersebut maka hal ini mengindikasikan bahwa akses terhadap informasi mutakhir pada bidang ilmu tersebut masih kurang dan juga mengindikasikan bahwa adanya kemiskinan informasi. Selain itu, paro hidup literatur juga dapat digunakan untuk menilai kecepatan pertumbuhan pada suatu bidang ilmu yaitu apabila semakin muda paro hidup pada suatu bidang maka semakin cepat pertumbuhan keilmuannya. Antara satu disiplin ilmu dengan disiplin ilmu lainnya memiliki paro hidup yang berbedabeda. Hal ini juga diungkapkan oleh Hartinah yang menyatakan bahwa berdasarkan hasil penelitian dari luar negeri diketahui bahwa paro hidup untuk beberapa bidang ilmu yaitu Ilmu fisika yaitu 4,6 tahun, Fisiologi 7,2 tahun, Kimia 8,1 tahun, Botani 10 tahun, Matematika 10,5 tahun, Geologi 11,8 tahun, Kedokteran 6,8 tahun, Hukum 12,9 tahun, sementara untuk paro hidup bidang Sosial adalah kurang dari 2 tahun (Hartinah, 2002)(Saleh & Sumarni, 2016). Sebagai contoh yaitu paro hidup bidang ilmu fisiologi yaitu 7,2 tahun. Apabila di dalam suatu dokumen penelitian bidang fisiologi menggunakan referensi yang berusia lebih dari 7,2 tahun maka literatur yang digunakan sudah usang dan menandakan adanya kemiskinan literatur dalam bidang ilmu tersebut. Sebaliknya jika referensi yang digunakan usianya kurang dari 7,2 tahun, maka dapat dikatakan bahwa referensi yang digunakan tersebut masih masuk kategori mutakhir dan mengindikasikan adanya kekayaan informasi pada bidang ilmu tersebut. Selanjutnya Hartinah yang juga dikutip oleh Saleh dan Sumarni menyatakan ada beberapa faktor yang mempengaruhi paro hidup literatur pada suatu bidang yaitu jumlah penggunaan literatur, jumlah penulis pada bidang tersebut, dan jumlah publikasi pada bidang tersebut. Fenomena keusangan literatur merupakan dampak dari perkembangan ilmu pengetahuan, di mana hal ini terjadi karena hanya literatur yang mutakhirlah yang menarik untuk disitir oleh para ilmuwan praktisi sedangkan literatur yang lebih tua digunakan hanya bila mengandung informasi yang cenderung menggabungkan karya terakhir. Oleh sebab itulah para ilmuwan cenderung akan menyitir dokumen yang memiliki tahun terbit yang baru. Namun tidak menutup kemungkinan bahwa para ilmuwan atau peneliti tersebut masih tetap menyitir dokumen tua atau melebihi paro hidup bidang ilmu tersebut (Hartinah, 2002)(Saleh & Sumarni, 2016).

Method

Kajian ini adalah kajian mengenai pemanfaatan literatur oleh mahasiswa MTIP. Kajian ini termasuk dalam Penelitian populasi di mana data yang digunakan dan diolah berasal dari seluruh tesis mahasiswa MTIP yang ada dalam basis data perpustakaan. Data tesis MTIP tersebut dapat diakses melalui repositori perpustakaan IPB. Populasi menurut Sugiyono merupakan “wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek/subyek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti dan dipelajari kemudian ditarik kesimpulan”(Sugiyono, 2014). Sedangkan menurut(Arikunto, 1992) “Populasi merupakan jumlah keseluruhan objek penelitian. Apabila seseorang ingin meneliti secara keseluruhan semua elemen yang berada pada wilayah penelitian”. Data kajian diperoleh dari basis data tesis perpustakaan IPB baik dari basis data OPAC (Online Public Access Catalogue) maupun Repositori IPB. Data yang diambil adalah khusus tesis mahasiswa program studi MTIP-IPB tahun 2008-2018. Data dikumpulkan kemudian diinput ke dalam tabel menggunakan Microsoft Excel. Pengumpulan data dilakukan dengan cara menyalin data tesis (berformat PDF) mahasiswa MTIP daribasis data milik perpustakaanIPB. Kemudian daftar pustaka dari masing-masing tesis dikeluarkan dari dokumen dengan cara diekstrak menggunakan program Adobe Acrobat Pro versi 9.Selanjutnya data literatur yang ada dalam masing-masing daftar pustaka di-input ke dalam instrumen dalam bentuk tabel excel (lihat gambar 1). Dari data yang sudah di-input kemudian ditabulasi. Selanjutnya diolah menggunakan MS-Excel yaitu diantaranya dengan memanfaatkan tabel Pivot. Selanjutnya terhadap hasil pengolahan MS-Excel tersebut dilakukan analisis secara deskriptif. Kajian ini dilaksanakan di Perpustakaan IPBselama enam bulan, sejak bulan Januari sampai dengan bulan Juni tahun 2019.

Result & Discussion

Hasil kajian terhadap tesis mahasiswa calon lulusan Program Studi Magister Teknologi Informasi untuk Perpustakaan dapat disampaikan sebagai berikut. Sumber informasi yang dijadikan referensi (pustaka) pada tesis MTIP IPB berjumlah 66 tesis, dengan 2039 daftar pustaka. Tabel di bawah ini menunjukkan jumlah tesis Program Studi MTIP dari tahun 2008 sampai dengan tahun 2018. Tabel 1. Jumlah Tesis Program Studi MTIP No. Tahun Jumlah Tesis Jumlah Sitiran 1 2008 2 58 2 2009 2 40 3 2011 8 252 4 2012 10 377 5 2013 4 135 6 2014 8 180 7 2015 13 417 8 2016 8 272 9 2017 6 181 10 2018 5 126 Jumlah 66 2039 Tabel tersebut memperlihatkan jumlah tesis Program Studi MTIP dari tahun 2008 sampai tahun 2018. Jumlah tesis yang dihasilkan pada tahun 2008 dan 2009 berjumlah sama yaitu masing-masing 2 buah tesis, namun jumlah sitirannya berbeda. Pada tahun 2008 jumlah sitiran sebanyak 58 sedangkan tahun 2009 sebanyak 40 sitiran. Jumlah tesis yang paling banyak terdapat pada tahun 2015 yaitu sebanyak 13 judul dengan 417 sitiran. Pada tahun 2010 tidak ada mahasiswa yang lulus sehingga tidak ada tesis yang diproduksi. Tahun 2011 berjumlah delapan judul dengan sitiran berjumlah 180 sitiran. Tahun 2012 berjumlah sepuluh 10 judul, tahun 2013 berjumlah empat tesis, tahun 2014 berjumlah delapan tesis, tahun 2015 berjumlah tiga belas (13) tesis, tahun 2016 berjumlah delapan tesis, tahun 2017 enam tesis, tahun 2018 berjumlah lima tesis. Tabel 2 di bawah ini menunjukkan bahasa literatur yang disitir oleh tesis mahasiswa MTIP tahun 2008-2018. Dari tabel 2 tersebut terlihat bahwa literatur yang paling banyak disitir adalah literatur yang berbahasa Inggris dengan jumlah 1090 sitiran (53,46 %), sedangkan literatur yang berbahasa Indonesia hanya berjumlah sebanyak 949 literatur sitiran (46,54 %). Tabel 2. Jenis Bahasa yang digunakan Hal ini memperlihatkan bahwa tesis MTIP lebih banyak menggunakan sitiran berbahasa Inggris dibandingkan dengan bahasa Indonesia. Jumlah sitiran terbanyak terdapat pada tahun 2015 yaitu 417 sitiran dengan jumlah sitiran berbahasa Indonesia sebanyak 178 dan berbahasa Inggris berjumlah 239 sitiran. Tabel 3. Jenis Literatur yang Digunakan No. Jenis artikel Jumlah % 1 Artikel Jurnal 543 26.63 2 Buku 764 37.47 3 Artikel Web/Internet 388 19.03 4 Literatur Kelabu 49 2.40 5 Prosiding 45 2.21 8 Lain-lain 250 12.26 Jumlah 2039 100 Tabel 3 menunjukkan jenis literatur yang digunakan pada tesis mahasiswa MTIP tahun 2008-2018. Dari tabel 3 tersebut dapat dilihat bahwa jenis literatur yang paling banyak digunakan pada tesis MTIP adalah buku sebanyak 764 judul (37,47 %), kemudian disusul oleh artikel jurnal sebanyak 543 judul (26,63 %), artikel web sebanyak 388 judul (19,03 %), literatur kelabu sebanyak 49 judul (2,40 %), prosiding sebanyak 45 judul (2,21 %) sedangkan literatur lain-lain sebanyak 250 judul (12,26 %). Literatur lain-lain meliputi kamus, guide, pedoman, handbook, panduan, makalah, artikel koran, report, makalah seminar, artikel bibliographic. Rata-rata jumlah sitiran pada tesis MTIP adalah 31 sitiran per tesis. Literatur yang paling banyak disitir adalah buku sebanyak 764 judul (37,47 %). Jumlah ini termasuk tinggi dibandingkan dengan hasil penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Wiwin Septia Dewi dalam analisis sitiran terhadap tesis mahasiswa magister sain dan manajemen tahun 2010-2013 dan ketersediaan literatur di ruang baca Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga. Di mana dari hasil penelitian tersebut literatur yang paling sering disitir adalah berupa jurnal sedangkan pada peringkat kedua adalah buku. Tabel 4 berikut adalah tabel nama pengarang yang literaturnya sering disitir oleh mahasiswa MTIP. Tabel 4. Pengarang yang Sering Disitir No Pengarang Frekuensi % 1. Sulistiyo-Basuki 38 2.95 2 Pendit, Putu Laxman 29 2.25 3 Sugiyono 22 1.71 4 Nielsen J 17 1.32 5 Pressman, Roger S. 12 0.93 6 Seminar, Kudang B 10 0.78 7 Ommerville, S 10 0.78 8 Sutarno NS 10 0.78 9 Rowlwy J 9 0.70 10 Mustafa, B 8 0.62 11 O’Brien JA 8 0.62 12 Saleh AR 8 0.62 13 Fathansyah 7 0.54 14 Jogiyanto, HM 7 0.54 15 Whitten JL 7 0.54 Lainnya 1086 Jumlah 1288 Tabel tersebut memperlihatkan gambaran di mana pengarang yang literaturnya paling sering disitir oleh mahasiswa MTIP adalah SulistiyoBasuki dengan sitiran sebanyak 38 sitiran (2.95%), kemudian di susul oleh Putu Laxman Pendit pada urutan kedua dengan jumlah sitiran sebanyak 29 sitiran (2.25%). Sedangkan di urutan ketiga ditempati oleh Sugiyono dengan sitiran sebanyak 22 sitiran (1.71%), kemudian di uriutan keempat ditempati oleh J. Nielsen dengan sitiran sebanyak 17 sitiran (1.32%), dilanjutkan oleh Roger S. Pressman yang menduduki posisi kelima dengan sitiran sebanyak 12 sitiran (0.93 %). Sementara itu Kudang B. Seminar, S. Ommerville, dan Sutarno NS bersama-sama pada posisi keenam dengan jumlah sitiran sebesar 10 sitiran (0.78%). Posisi berikutnya yaitu posisi ketujuh ditempati oleh Jennifer Rowly dengan sitiran sejumlah 9 sitiran (0.70%). Sedangkan B. Mustafa, JA O’Brien, dan AR Saleh pada posisi kedelapan yaitu dengan sitiran sebanyak 8 sitiran (0.62%), dan pengarang yang paling jarang disitir adalah Fathansyah dan Jogiyanto dengan jumlah sitiran sebanyak 7 sitiran (0.54%). Tabel 5 berikut adalah judul-judul buku yang sering di sitir oleh mahasiswa MTIP di dalam penulisan tesisnya. Tabel 5. Judul Buku yang Sering Disitir oleh Mahasiswa MTIP No Judul Jml 1 Pengantar Ilmu Perpustakaan 17 2 Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 Tentang Perpustakaan 15 3 Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D 14 4 Perpustakaan Digital Dari A Sampai Z 13 5 Software engineering : a practitioner’s approach 11 6 Software engineering 10 7 Kamus Besar Bahasa Indonesia 7 8 Organizing knowledge: an introduction to managing access to information. 6 9 Pengantar Dokumentasi 6 Dari tabel tersebut terlihat bahwa judul buku yang sering di sitir oleh mahasiswa MTIP dalam melengkapi penulisan tesisnya adalah buku yang berjudul “Pengantar Ilmu Perpustakaan” yang disitir oleh sebanyak 17 penyitir. Sedangkan judul buku yang jarang di sitir berjudul “Organizing knowledge: an introduction to managing access to information” dan buku yang berjudul “Pengantar Dokumentasi” yang hanya disitir oleh 6 (enam) penyitir. Keusangan Referensi Keusangan literatur (Obsolescence) adalah penurunan dalam menggunakan literatur atau kelompok literatur pada periode tertentu dikarenakan literatur-literatur tersebut menjadi lebih tua. Menurut Diodato (1994) yang dikutip oleh Purnomowati ada dua cara untuk mengkaji keusangan literatur yaitu secara Synchronous dan Diachronous. Keusangan Synchronous yaitu salah satu jenis keusangan yang mengukur usia kelompok dokumen dengan cara menguji tahun terbit referensi pada dokumen tersebut. Keusangan Synchronous diukur melalui median usia sitiran yang diperoleh dengan cara mengurangi tahun terbit dokumen sumber dengan median tahun terbit dokumen yang terdapat dalam referensi. Keusangan Diachronous adalah salah satu jenis keusangan yang mengukur usia kelompok jenis dokumen melalui suatu pengujian terhadap tahun terbit sitiran yang diterima oleh dokumen. Keusangan Diachronous diukur melalui paro hidup (half life) yang diperoleh dengan cara mengurangi median tahun terbit dokumen yang menyitir dokumen sumber dengan tahun terbit dokumen sumber (Purnomowati, 2004). Usia paro hidup atau dalam bahasa Inggris disebut half-life yang berarti waktu saat setengah dari seluruh literatur suatu disiplin ilmu yang digunakan secara terus menerus sejak diterbitkan pertama kali Tabel 6 di bawah ini menggambarkan rata-rata keusangan referensi yang digunakan oleh calon lulusan MTIP dalam menyusun tesisnya. Rata-rata referensi yang memiliki keusangan paling kecil adalah semua referensi yang disitir oleh mahasiswa MTIP pada tahun 2008 yaitu dengan rata-rata 4 tahun, sedangkan yang memiliki ratarata keusangan panjang adalah seluruh referensi yang disitir oleh calon lulusan MTIP tahun 2012, 2014, 2015, dan 2016 yaitu rata-rata 7 tahun. Tabel 6. Keusangan Referensi No Tahun Tahun referensi Rata-rata Keusangan Referensi (tahun) Temuda (Tahun) Tertua (Tahun) 1 2008 0-5 14 4 2 2009 0-5 21 6 3 2011 0-5 37 5 4 2012 0-5 53 7 5 2013 0-5 26 5 6 2014 0-5 29 7 7 2015 0-5 60 7 8 2016 0-5 49 7 9 2017 0-5 28 6 10 2018 0-5 33 5 Referensi terbaru (0-5 tahun) yang merupakan referensi mayoritas yang banyak digunakan oleh penulis yaitu sebesar 44,49 %. Semakin tua umur dari sebuah referensi maka semakin jarang digunakan. Referensi yang berumur 6-10 tahun digunakan sebesar 29,29 %; 11-15 tahun digunakan sebesar 14,55 %; 16-20 tahun digunakan sebesar 6,01 %; 21-25 tahun digunakan sebesar 3,03 %; 26-30 tahun digunakan sebesar 1,44 %; 31-35 tahun digunakan sebesar 0,50 %; 36-40 tahun digunakan sebesar 0,30 %; 41-45, 46-50 dan 56-60 tahun adalah sama yaitu digunakan sebesar 0,10 % sedangkan yang paling rendah adalah 51-55 tahun digunakan sebesar 0,05 %. Tabel 7 berikut di bawah ini merupakan rincian penggunaan referensi menurut umurnya. Tabel 7. Penggunaan Referensi Sesuai Umur

Conclusion

Dari hasil kajian Analisis Sitiran Tesis Pascasarjana Institut Pertanian Bogor Program Magister Teknologi Informasi untuk Perpustakaan MTIP IPB Tahun 2008-2018 dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut: 1. Kajian dilakukan terhadap 66 tesis mahasiswa calon lulusan MTIP dengan jumlah total informasi yang dikutip atau disitir oleh mahasiswa MTIP adalah sebanyak 2039 sitiran. 2. Kajian dilakukan meliputi jumlah literatur, bahasa, jenis dokumen, dan tingkat keusangan literatur yang disitir. 3. Hasil analisis menunjukkan bahwa jumlah artikel yang disitir oleh mahasiswa calon lulusan MTIP yang lulus tahun 2008 -2018 sebanyak 2039 judul, namun tiap-tiap tahun berbeda-beda jumlah lulusan mahasiswanya seperti di tahun 2008 dan 2009 hanya terdapat masing-masing dua tesis saja sedangkan yang paling banyak adalah di tahun 2015 yaitu sebanyak 13 tesis. Rata-rata setiap tesis menyitir sebanyak 31 literatur. 4. Bahasa literatur yang paling banyak disitir adalah literatur berbahasa Inggris dengan perbandingan 53% literatur berbahasa Inggris dan 47% literatur berbahasa Indonesia. 5. Jenis literatur yang paling banyak disitir adalah buku yaitu sebesar 37,49%, artikel jurnal sebesar 26,68%, sumber informasi web (artikel berbasis internet) sebesar 18,92%, literatur kelabu sebanyak 2,41%, prosiding sebanyak 2,21% dan lain-lain sebanyak 12,29. Literatur yang disitir yang memiliki rentang waktu usia 0-10 sejumlah 1445 literatur (70,87%). 6. Pengarang dengan jumlah paling banyak disitir adalah Sulistyo-Basuki dengan jumlah sitiran sebanyak 38 sitiran. 7. Judul buku yang sering disitir oleh mahasiswa MTIP adalah “Pengantar Ilmu Perpustakaan” yaitu sebanyak 17 penyitir. 8. Rata-rata paro hidup literatur yang disitir pada sumber data tersebut paling sedikit 4 tahun dan paling panjang 7 tahun.