Kembali
16
1
2024 Visi Pustaka: Buletin Jaringan Informasi Antar Perpustakaan Vol 26 · 1 ISSN 2685-7138

PENILAIAN KESIAPAN PUSTAKAWAN DALAMPENGEMBANGAN SMART LIBRARY KASUS : PUSTAKAWAN DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN PERTANIAN RI

Kementerian Pertanian; Kementerian Pertanian; Kementerian Pertanian

Abstrak

Disrupsi mengubah seluruh aspek kehidupan manusia, tidak terkecuali perpustakaan. Perpustakaan Harus mentransformasikan perpustakaan tradisional menjadi perpustakaan pintar agar tidak ditinggalkan penggunanya. Perpustakaan cerdas adalah “perpustakaan berbasis manusia” yang terdiri dari empat komponen inti, yaitu layanan cerdas, orang cerdas, tempat cerdas, dan tata kelola cerdas. Pustakawan Mempunyai peran penting dalam penerapan perpustakaan pintar. Tujuan dari penelitian ini agar Perpustakaan di Kementerian Pertanian mempunyai rencana untuk mentransformasikan perpustakaannya menjadi perpustakaan cerdas. Oleh karena itu, pengkajian terhadap kesiapan pustakawan di lingkungan Kementerian Pertanian diperlukan untuk memastikan transformasi perpustakaan di Kementerian Pertanian RI melalui pengembangan perpustakaan pintar dapat berjalan dengan baik. Hasil dari pembahasan dan penilaian penelitian ini menunjukkan bahwa dari segi jumlah pustakawan sudah cukup memadai. Namun, diperlukan pelatihan atau peningkatan kapasitas dalam pengelolaan perpustakaan dan teknologi informasi.

Abstract

Disruption has transformed all aspects of human life, including libraries. Libraries must transitionfromtraditional models to smart libraries to remain relevant to their users. A smart library is a "human-centeredlibrary" comprising four core components: smart services, smart people, smart spaces, andsmart governance. Librarians play a crucial role in implementing smart libraries. The purpose of this studyistoassist the Ministry of Agriculture's Library in planning its transformation into a smart library. Therefore, anassessment of librarians' readiness within the Ministry of Agriculture is essential to ensure the successful transformation of the Ministry's library through the development of a smart library. The results of thisstudy's discussion and evaluation reveal that the number of librarians is sufficient. However, trainingor capacity building in library management and information technology is needed.
Keywords: Pemetaan · Kompetensi · Teknologi Informasi · Pustakawan · Pertanian

Introduction

Disrupsi mengubah seluruh aspek kehidupan manusia. Hal ini telah membawa perubahan besar pada kehidupan masyarakat. Di era ini, informasi merupakan komponen kunci kehidupan ekonomi dan sosial (Rakhmonovich, 2021). Berbagai kemudahan yang dirasakan saat ini, antara lain kemudahan memperoleh informasi melalui komputer, telepon seluler, internet, kemudahan bertransaksi menggunakan kartu kredit (kartu debit), dan kemudahan penarikan uang di ATM, termasuk layanan bagi pengguna perpustakaan, semuanya merupakan dampak positif dari kemajuan teknologi informasi (Andri, 2017). Sebagai penyedia ilmu pengetahuan dan informasi, perpustakaan harus menyesuaikan layanannya agar tetap eksis dan tidak ditinggalkan pemustaka. Pesatnya Perkembangan informasi dan teknologi di bidang perpustakaan memberikan dampak yang signifikan terhadap seluruh aktivitas yang dilakukan oleh perpustakaan. Pemanfaatan komputer diduga telah menggantikan kebutuhan tenaga manusia dalam menjalankan berbagai aktivitas dan tugas yang biasa dilakukan oleh manusia, termasuk pengelola perpustakaan. Hanya saja komputer dapat bekerja lebih cepat dibandingkan manusia dalam setiap aktivitas perpustakaan, seperti pengadaan, pengolahan, pelayanan, penyebaran informasi, dan lain-lain (Masriastri, 2018). Oleh karena itu, perpustakaan perlu melakukan transformasi layanan agar dapat terus berkontribusi dalam menyediakan layanan informasi terkini yang dimiliki perpustakaan yang tidak tersedia di internet. Sejalan dengan hal tersebut Fatmawati (2018) menyatakan bahwa dalam menghadapi revolusi industri 4.0 dan masyarakat 5.0, perpustakaan tidak hanya sekedar “perpustakaan digital”, namun harus bertransformasi menjadi perpustakaan cerdas. Perpustakaan cerdas bukan sekedar koleksi yang serba digital atau perangkat yang canggih, namun perpustakaan cerdas harus didukung oleh pustakawan yang cerdas dalam memberikan layanan sesuai karakter penggunanya. Perpustakaan Cerdas merupakan perpustakaan yang cerdas dan tanggap terhadap kebutuhan dan keinginan penggunanya. Indrajit (2020) mengatakan Smart Library merupakan perpustakaan yang mempunyai panca indera dan dapat merasakan sesuai dengan informasi yang dibutuhkan masyarakat. Penginderaan ini masuk ke otak dan otak memberi perintah pada tubuh untuk bergerak dan ada feedback sebagai responnya dan diproses kembali oleh panca indera. Selain itu, Schöpfel (2018) menjelaskan bahwa perpustakaan cerdas terdiri dari empat dimensi yaitu Smart People, Smart Service, Smart Place, dan Smart Governance. Pusat Perpustakaan dan Literasi Pertanian (PUSTAKA) Kementerian Pertanian merupakan lembaga yang mempunyai tugas pokok mengelola Perpustakaan Pusat Kementerian Pertanian serta sebagai koordinator seluruh perpustakaan yang dikelola oleh lembaga yang berada dibawah Kementerian Pertanian. PUSTAKA saat ini terus berupaya memberikan pelayanan prima kepada pengguna berbasis teknologi informasi. Inovasi layanan yangdikembangkan PUSTAKA adalahsmart library, dimana kedepannya perpustakaan lingkup Kementerian Pertanian akan menuju kesana. Pustakawan Kementerian Pertanian Sebagai agen informasi pertanian harus adaptif dan inovatif dalam memanfaatkan teknologi informasi untuk menghubungkan masyarakat dengan informasi pertanian yang dibutuhkan. Oleh karena itu, untuk mendukung hal tersebut, dilakukan identifikasi profil pustakawan dan pemetaan kapasitas pustakawan di lingkup Kementerian Pertanian untuk mempersiapkan mereka dalam mengantisipasi revolusi industri 4.0dan juga masyarakat 5.0. Hal ini sangat penting untuk dijadikan landasan kedepan dalam membina kapasitas sumber daya manusia pustakawan Kementerian Pertanian Agar menjadi pustakawan cerdas menuju perpustakaan cerdas. Bagaimana pemetaan kapabilitas pustakawan di lingkungan Kementerian Pertanian RI? Apakah Semuanya sudah siap menerapkan Smart Library di lingkungan Kementerian Pertanian RI? Peningkatan kapasitas apa yang diperlukan agar perpustakaan siap menerapkan Smart Library? Berdasarkan Rumusan masalah tersebut, ada tiga tujuan yang akan dibahas dalam penelitian ini, yaitu(1) memetakan kapabilitas pustakawan, (2) menilai kesiapan pustakawan dalam menerapkan smart perpustakaan, dan(3) mengidentifikasi peningkatan kapasitas yang diperlukan. untuk mendukung perpustakaan cerdas. KAJIAN TEORI 1.Penilaian Penilaian adalah proses pengumpulan data/informasi yang digunakan untuk mengukur ketercapaian suatu tujuan. Sudjana (2014) menyatakan penilaian adalah proses memberikan atau menentukan nilai kepada objek tertentu berdasarkan suatu kriteria tertentu. Menurut Slavin (2011) penilaian adalah suatu pengukuran sejauh mana siswa telah mempelajari tujuan yang ditetapkan bagi mereka. Sedangkan Permendikbud No.23 Tahun 2016, penilaian adalah proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk mengukur pencapaian hasil belajar peserta didik. Menurut Iryanti (2004) menjelaskan penilaian adalah suatu kegiatan pengukuran, kuantitatif, penetapan mutu pengetahuan siswa secara menyeluruh, dan terintegrasi dalam proses pembelajaran, serta menggunakan beragam bentuk. Pengertian penilaian lainnya menurut Uno dan Koni (2012) penilaian sebagai salah satu bentuk penilaian dan komponen dalam evaluasi. Penilaian tidak dapat dipisahkan dari tindakan pengukuran yang bersifat kuantitatif dan penilaian yang bersifat kualitatif. Dengan demikian, penilaian dapat digambarkan sebagai bagian dari evaluasi yang digunakan untuk mengumpulkan data kualitatif dalam bentuk apapun sehingga dapat dilakukan penilaian mengenai tingkat pengetahuan umum siswa. Secara sederhana, penilaian juga dapat diartikan sebagai suatu prosedur pengukuran yang menggunakan pedoman yang telah ditentukan untuk mengumpulkan informasi mengenai karakteristik siswa. Selain itu, penilaian juga dapat membantu dalam mengidentifikasi bidang-bidang kesulitan dan potensi pertumbuhan siswa, serta dalam mengidentifikasi bidang-bidang di mana proses pembelajaran masih kurang. Terakhir, penilaian dapat berfungsi sebagai kontrol bagi pendidik dalam hal seberapa baik proses pembelajaran dan hasilnya digambarkan. 2. Kesiapan Menurut Arikunto (2004), kesiapan adalah suatu kompetensi sehingga seseorang yang mempunyai kompetensi tersebut memiliki kesiapan yang cukup untuk berbuat sesuatu. Hal ini berarti kesiapan adalah suatu keadaan yang dialami seseorang dan orang tersebut telah siap untuk melaksanakan sesuatu. Kesiapan juga berarti suatu kemampuan untuk melaksanakan tugas tertentu sesuai dengan tuntutan situasi yang dihadapi (Mulyasa, 2008). Dalam Hal ini berarti kesiapan merupakan suatu kemampuan yang dimiliki seseorang untuk melakukan sesuatu sesuai dengan situasi kondisi yang ada. Kondisi yang dimiliki seseorang sangat berpengaruh terhadap adanya kesiapan dan respon yang akan diberikan oleh seseorang tersebut. Hal ini sama dengan apa yang diungkapkan Slameto(2010), kesiapan adalah keseluruhan kondisi yang membuatnya siap untuk memberi respon atau jawaban di dalam cara tertentu terhadap suatu situasi. Winkel (2009) mengemukakan bahwa kesiapan mencakup kemampuan untuk menempatkan dirinya dalam keadaan akan memulai suatu gerakan atau rangkaian gerakan. Penyesuaian kondisi pada suatu saat akan berpengaruh atau kecenderungan untuk memberi respon. Penyesuaian kondisi pada suatu saat akan berpengaruh pada kecenderungan untuk memberi respon. Singkatnya bahwa kesiapan merupakan suatu keadaan siap untuk memberikan respon atau jawaban akan sesuatu dengan cara tertentu untuk menjawab atau merespon tergantung oleh situasi yang dihadapinya. Hasil respon atau jawaban tersebut dipengaruhi oleh keadaan yang sedang dialami seseorang tersebut. 3. Kesiapan Pustakawan Menurut Astika & Sholihah (2018) bahwa kesiapan pustakawan menghadapi era informasi yang semakin luas akan merambah kehidupan, masyarakat perlu mengetahui posisi seperti apa yang seharusnya diterapkan pada era teknologi informasi. Artinya, kesiapan pustakawan dalam menghadapi era teknologi dan disrupsi seperti apa dan memiliki kehandalan apa yang dibutuhkan untuk mengatasi ledakan informasi, tidak hanya sebatas kompetensi saja namun sangat dibutuhkan memiliki kapabilitas dan kemampuan handal. Kesiapan sangat penting untuk memulai suatu pekerjaan, karena dengan memiliki kesiapan, pekerjaan apapun akan dapat teratasi dan dapat dikerjakan dengan lancar serta memperoleh hasil yang baik Kesiapan pustakawan dalam menghadapi tuntutan era revolusi 4.0 dan masyarakat 5.0, pustakawan harus memiliki kompetensi literasi riset, baik dalam kegiatan kolaborasi penelitian, akses data dan publikasi penelitian, pengelolaan hasil penelitian, maupun diseminasi hasil penelitian. Melalui kesiapan kompetensi tersebut, pustakawan akan mampu melakukan transformasi diri dan menghadapi berbagai tantangan di masa mendatang. Sebagai strategi kesiapan pustakawan perlu memperhatikan tiga hal yaitu penguatan pada aspek pengetahuan, konektivitas, dan komunitas dalam pengelolaan dan pelayanan perpustakaan di era revolusi 4.0dan masyarakat 5.0. Tantangan pustakawan di era informasi adalah siap tidak menerima perubahan dan beraktualisasi diri untuk selalu mengikuti perkembangan teknologi informasi, kesiapan untuk bekerja sama dengan sesama profesi serta meningkatkan budaya dan motivasi kerja yang tinggi. 4. Smart Library Smart Library adalah layanan perpustakaan digital yang memberi akses kepada para pelajar untuk meminjam dan membaca buku digital melalui perangkat smartphone iOS / android secara cepat, dimana saja, kapan saja. Sutarsyah(2022)mengungkapkan bahwa smart library adalah perpustakaan yang cerdas dan responsif terhadap kebutuhan dan keinginan pemustaka. Menurut Gandini (2019) smart library adalah perpustakaan yang dapat menawarkan "layanan cerdas"sebagai respons terhadap kebutuhan yang terus berkembang dari para pelanggannya, khususnya generasi digital native, dan teknologi pintar. Mohapatra & Das (2017) menyebutkan bahwa smart library harus menggabungkan empat konsep yang setidaknya relevan dengan kebutuhan saat ini agar dapat dianggap sebagai perpustakaan modern, sebagai berikut: (1) perpustakaan harus menjadi sebuah tempat/zona yang nyaman bagi pengguna; (2) perpustakaan yg mengusung “smart library” harus melakukan open data repository bagi pengguna, agar pengguna dapat memanfaatkan data yang ada di repository untuk berbagai keperluan; (3) perpustakaan harus menjadi taman bermain teknologi/elektronik, yang artinya perpustakaan harus mendesain dirinya agar selaras dengan kemajuan zaman; (4) perpustakaan harus selaras dengan lingkungan alam sekitar dan perkotaan dimana perpustakaan berdiri. Smart library berarti sebuah perpustakaan yang akan diproyeksikan bukan hanya untuk generasi sekarang, akan tetapi generasi yang akan datang. Smart library menggabungkan fungsi sistem perpustakaan dan e-learning berbasis pengetahuan, yang mana pada akhirnya akan menciptakan sumber daya yang kreatif. Dengan beberapa kemajuan antarmuka yang ada di perpustakaan, pengguna dapat memanfaatkannya secara kolektif sekaligus mampu meningkatkan kemandirian dan pemikiran logisnya(Mohapatra & Das, 2017). Berikut ini merupakan gabungan empat konsep smart library sebagai perpustakaan modern(Gambar 1). Gambar 1 Konsep dasar smart library sebagai modern library

Method

Penilaian kesiapan pustakawan dalam mengembangkan Smart Library menggunakan analisis deskriptif. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan survei online google form yang telah dilakukan pada bulan Oktober 2022. Penelitian ini lebih memilih menggunakan populasi dibandingkan sampel karena seluruh perpustakaan dan pustakawan di Kementan berada di bawah kendali dan pengawasan PUSTAKA. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pustakawan di lingkungan Kementerian Pertanian yang berjumlah 156 responden. Terdapat empat kelompok pertanyaan dalam penilaian ini, yaitu (1) profil demografi responden, (2) kemampuan responden mengenai pengelolaan perpustakaan, (3) kebutuhan pelatihan, dan (4) tingkat kapasitas pengetahuan responden. Selanjutnya Data Yang terkumpul dianalisis secara deskriptif. Penilaian kesiapan pustakawan dilakukan dengan cara membandingkan kemampuan pustakawan dengan standar kemampuan yang diperlukan untuk menerapkan smart perpustakaan. Hasil analisis ini digunakan untuk menilai apakah pustakawan yang ada di Kementerian Pertanian siap menerapkan perpustakaan cerdas.

Result & Discussion

Pustakawan di Kementerian Pertanian Indonesia saat ini berjumlah 156 orangyangtersebar di seluruh Indonesia dari Sabangsampai Merauke. Hasil analisis data menunjukkan bahwa 63%responden memiliki gelar sarjana atau lebih tinggi. Selain Itu, kebutuhan pelatihan atau peningkatan kapasitas pustakawan terbagi dalam enam kategori: data analis; desain Grafis; komunikasi/promosi; pemasaran digital; pemrograman; dan pembuatan konten. Apalagi dilihat dari kapasitas pengetahuan pustakawan untuk masing-masing kebutuhan kapasitasnya menunjukkan tingkatan yang berbeda-beda. Rata-rata kemampuan pustakawan pertanian berada pada level 2. Artinya memiliki keterampilan dasar untuk mendukung pengembangan perpustakaan cerdas. 1. Demografi Responden Pusat Perpustakaan dan Diseminasi Teknologi Pertanian (PUSTAKA) merupakan perpustakaan khusus di lingkungan Kementerian Pertanian. PUSTAKA sebagai satuan kerja eselon 2 pada Sekretariat Jenderal Kementerian Pertanian membina perpustakaan dan sumber daya manusia perpustakaan di lingkup Kementerian Pertanian. Gambar 2 menyajikan sebaran Pustakawan tiap provinsi di Indonesia. Gambar 2. Profil Pustakawan Selanjutnya, tabel 1 menyajikan profil demografi responden secara rinci. Berdasarkan hasil identifikasi profil pustakawan, ternyata 54,5% atau 85 orang perempuan mendominasi sumber daya manusia pengelola perpustakaan di lingkup Kementerian Pertanian. Sedangkan laki-laki sebanyak 45,5% atau 71 orang (Gambar 3). Sedangkan berdasarkan status kepegawaian, tabel 1 menunjukkan PNS sebanyak 124 orang (79,49%), CPNS sebanyak 18 orang (11,54%), dan CPNS sebanyak 14 orang (8,97%) dan honorer sebanyak 14 orang (8,97%). Dari segi usia, sebanyak 98 atau 62,82% pustakawan berusia di atas 40 tahun. Sedangkan pustakawannya berjumlah 45 orang atau sekitar 28,85%berusia diatas 50 tahun. Mengenai Jenjang Pendidikan, hasil analisis menunjukkan bahwa lebih dari separuh jenjang pendidikan sumber daya manusia perpustakaan adalah D4/S1 Yaitu 82 orang (52,56%), D3 sebanyak 41 orang(26,28%), S2 sebanyak 20 orang (12,82%). Masing-masing kategori pendidikan tersebar di setiap jenjang kecuali pada jenjangD2yang tidak ada (0) (Gambar 6). Selainitu, berdasarkan jenjang jabatan, terdapat 42pustakawan (26,92%) yang merupakanpengelola perpustakaan (bukan pustakawan). Selain itu, terdapat 46 (29,49%) pustakawanpada jabatan menengah, 29 (18,59%) pustakawan pada jabatan rendah, dan 13 (8,33%) pustakawan pada jabatan tinggi. Tabel 1. Profil demografi responden No Kriteria Jumlah Percentase n=156 1 Jenis kelamin Laki-laki 71 45.51% Perempuan 85 54.49% 2 Umur <=30 tahun 22 14.10% 30 - 40 years old 36 23.08% 41 – 50 years old 53 33.97% > 50 years old 45 28.85% 3 Status kepegawaian ANS 124 79.49% Calon ASN 18 11.54% Honorer 14 8.97% 4 Level pendidikan SMA 9 5.77% Diploma 42 26.92% Sarjana 82 52.56% Master 20 12.82% Doktor 3 1.92% 5 Tingkat jabatan fungsional Pengelola perpustakaan 42 26.92% Calon pustakawan 26 16.67% Pustakawan tingkat rendah 29 18.59% Pustakawan tingkat menengah 46 29.49% Pustakawan tingkat tinggi 13 8.33% 2. Kapasitas dan Kompetensi Pustakawan Tujuh pengetahuan yang harus diimplementasikan di perpustakaan cerdas seperti yangditunjukkan pada gambar 2. Gambar 3. Tujuh pengetahuan bagi pustakawan untuk mengimplementasikan Smart Library Tujuh pengetahuan dasar tersebut adalah sebagai berikut: 1. Memahami konsep Smart Library 2. Mengelola data katalog 3. Mengelola repositori 4. Mengelola konten lokal 5. Memahami pengelolaan hak data 6. Layanan luring 7. Layanan daring Selanjutnya identifikasi kapasitas dan kompetensi pustakawan dinilai berdasarkan kriteria tersebut. Selain itu kami juga mengumpulkan kompetensi lain yang dapat mendukung penerapan smart perpustakaan. Tingkat kompetensinya ada lima, mulai dari “level 1” yang berarti tidak tahu sama sekali hingga skor “5” yang berarti ahli dalam bidang tersebut. Gambar 4 menunjukkan bahwa secara umum kompetensi pustakawan di lingkungan Kementerian Pertanian Baru Mencapai tingkat dasar yaitu mengoperasikan Microsoft office sebanyak 142 orang (91%), membuat laporan kerja perpustakaan sebanyak 117 orang(75%), dan menyusun rencana kerja perpustakaan 92 orang (59%). Gambar 4. Kompetensi Pustakawan Berdasarkan data tersebut, kompetensi pustakawan secara umum masih perlu ditingkatkan khususnya di bidang teknologi informasi berbasis internet untuk menunjang kinerja pustakawan dan pengelola perpustakaan dalam melayani penggunanya. Sehingga ketika implementasi smart library diterapkan ke depan, pustakawan di lingkup Kementerian Pertanian akan lebih siap menghadapi masa tersebut. Selain itu, tingkat kemampuan pustakawan dalam mengelola perpustakaan, analisis data, desain grafis, pemasaran perpustakaan, dan pembuatan konten digital sebagian besar masih berada pada level 2, sedangkan kemampuan mengelola inlislite, repositori, dan layanan online dan offline mayoritas berada pada level 2. berada pada level 3. Data ini menunjukkan bahwa kompetensi pustakawan dalam pengelolaan perpustakaan masih perlu ditingkatkan terutama untuk mendukung smart perpustakaan. Kemampuan analisis data dan penerapan lainnya oleh SDM perpustakaan disajikan pada Gambar 5. Gambar 5. Tingkat kemampuan pustakawan/pengelola perpustakaan dalam pengelolaan perpustakaan 3. Pengembangan Kapasitas Berdasarkan hasil kompetensi dan kapasitas Pustakawan Kementerian Pertanian Serta Dibandingkan dengan kemampuan yang diperlukan untuk mengimplementasikan Smart Library, diperlukan beberapa pelatihan dan peningkatan kapasitas. Beberapa pelatihan perlu dilakukan untuk mengimplementasikan smart library seperti terlihat pada tabel 2. Tabel 2. Persyaratan pengembangan kapasitas No Kemampuan Topik Pelatihan 1 Memahami konsep Perpustakaan Cerdas Sebuah konsep Perpustakaan Cerdas 2 Mengelola data katalog Pelatihan lanjutan dalam Mengelola data katalog menggunakan INLIS-LITE 3 Mengelola repositori Pelatihan lanjutan dalam Mengelola Repositori menggunakan DSpace 4 Mengelola konten lokal Pelatihan lanjutan dalam Mengelola konten lokal menggunakan DSpace dan digitalisasi konten 5 Memahami manajemen hak data (DRM) Sebuah konsep dan implementasi DRM 6 Layanan luring Keramahan pada layanan di lokasi Perpustakaan 7 Layanan daring Aturan dan etika layanan Perpustakaan online 4. Status terkini penerapan Smart Library di Perpustakaan Kementerian Pertanian Pengembangan konsep smart library di lingkup perpustakaan Kementerian Pertanian telah dimulai pada awal tahun 2022. Status penerapan smart library di perpustakaan lingkup Kementan saat ini adalah sebagai berikut: 1. Menyusun master plan Smart Library. Dokumen ini membahas kondisi saat ini, kondisi yang diharapkan, analisis kesenjangan, dan peta jalan penerapan Smart Library pada tahun 2022 – 2024 2. Memetakan dan menilai kondisi terkini pustakawan serta perpustakaan yang dikelola oleh lembaga di bawah Kementerian Pertanian dalam penerapan Smart Library. 3. Prototype aplikasi Android bernama Agri KECE (Agricultural Knowledge Center), sebagai platform layanan Smart Library

Conclusion

Berdasarkan hasil identifikasi pustakawan melalui sensus terhadap 156(seratus lima puluh enam) orang menunjukkan bahwa lebih dari separuh(68,27%) pustakawan di lingkungan Kementerian Pertanian memerlukan serangkaian peningkatan kapasitas untuk mendukung pengembangan perpustakaan. perpustakaan cerdas. Kemampuan Pustakawan yang terkait dengan teknologi informasi seperti analisis data, desain grafis, promosi perpustakaan, dan pembuatan konten digital berada pada level 1 dan 2. Hal ini merupakan salah satu tugasTimPengelola Pustakawan untuk fokuspadapengembangan pustakawan. Selainitujugadiharapkan kedepannya pengembanganpustakawan dan pengelola perpustakaandibuat kelas berdasarkan tingkat kemampuan dari hasil penelitian ini, sehingga nantinya dapat diukur kemampuan Pustakawan.